Disclaimer
Grand Chase, All related logo and characters are trademark of KOG studio.
Refference : The Conjuring

.

-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 6 : Empty Soul [part 3]

.

"Aku pulang!" Ujar Jin dari teras rumah.

"Jin.. ara, kenapa kau tidak bilang kalau temanmu berkunjung? Ibu kan belum mempersiapkan segala sesuatu." Kata wanita paruh baya dari mulut dapur.

"Tidak apa-apa tante, saya hanya sebentar saja koq." Balas Elesis sopan.

"Tapi tetap saja, kau kan tamu." Lanjut wanita itu.

Kemudian Jin kembali ke kamarnya lebih dahulu selagi Elesis berada di dapur dengan ibu temannya. Ia duduk di samping meja sambil membantu mengupas sayuran.

"Tante.. tujuan saya kemari ingin memberitahukan sesuatu." Wanita itu terus mengaduk masakan di pancinya.

"Apa itu nak, Elesis?"

.

"Jinny." Panggil boneka Amy dari tempat kesayangannya di atas kusen jendela ketika Jin membuka pintu kamar.

"Hai Amy.. Aku pulang." Jin tersenyum padanya. Boneka itu memalingkan wajahnya dari jendela dengan aura yang menyesakkan. Lelaki itu sendiri merasakan hawa yang tidak enak. Satu hal yang terbesit di pikirannya, sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Siapa gadis itu, Jinny?"

.

Sendok sup yang dipakainya untuk mengaduk kari terselip dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi KLANG! Memecahkan keheningan diantara mereka. Sesaat hanya bunyi didihan kari yang mendominasi ruangan kecil itu.

"Boneka itu.. dihantui?"

"Ya, Kami pulang selarut ini karena berkonsultasi dengan seorang paranormal. Lebih tepatnya seorang yang mempelajari aktivitas supernatural dari mahluk yang tak kasat mata." Tambah Elesis menjelaskan.

"Tak heran dia berlaku aneh dan memiliki luka yang tidak bisa dijelaskan asal usulnya. Jin.. kenapa tak kau ceritakan semuanya padaku?" Air mata terurai dari sudut mata wanita tersebut.

"Saya sudah memberinya alamat. Untuk sekarang..." Keduanya terkejut ketika mendengar suara yang luar biasa gaduh di lantai atas disusul dengan teriakan dan barang-barang jatuh atau pecah. Wanita itu hendak ikut menengok keadaan anaknya namun Elesis memintanya tinggal untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi, juga untuk membukakan pintu bagi pemuda dan temannya yang akan datang nanti.

.

"Katakan padaku, Jinny. Siapa gadis itu?!" Perintah Amy dengan nada berat penuh amarah. Benda-benda disekitarnya bergerak-gerak seperti sedang gempa hebat. Alat-alat tulis melayang dengan ujung tajam mengarah pada lelaki dihadapannya.

"Dia temanku. Dia bilang ingin bertemu dan berkenalan denganmu." Jawab Jin senormal mungkin, namun sepertinya boneka ini tak peduli.

"PEMBOHONG!" Teriaknya sembari memerintahkan pulpen dan pensil yang terasah tajam disekelilingnya melesat ke arah Jin dengan hentakan jari. Jin yang seorang martial artist langsung menghindarinya dengan berguling ke samping lalu mengambil kursi untuk dijadikan tameng. Beberapa pulpen menancap dalam di kursi tersebut, beberapa yang lolos menggores bahu dan betisnya hingga berdarah.

"JIN!" Elesis memanggil dari luar. Engsel pintu kamar itu diputarnya berkali-kali namun tak kunjung terbuka. Ia pun menggedor pintunya sekeras mungkin.

"PERGI KAU!" Sahut sang boneka dari dalam ruangan.

"AMY! BUKA PINTUNYA!" Teriaknya lagi kali ini ditujukan langsung pada sang diva.

"TIDAK AKAN! AKU TAK AKAN MEMBIARKANMU MEREBUT JIN DARIKU!"

Sementara itu ketukan keras terdengar dari luar rumah. Ibu Jin yang sudah diberitahu akan kedatangan sang paranormal segera membukakan pintu. Dihadapannya berdiri seorang pemuda berkulit pucat, berambut cokelat ikal dan gadis yang tingginya hanya sebahu pemuda disampingnya, berambut hijau limau, mengenakan pakaian biarawati serta buku kitab tebal di tangannya.

"Ada yang bisa kubantu?" Tanya wanita itu tak yakin.

"Kami datang atas permintaan Jin dan Elesis, apa mereka ada?" Tanya pemuda itu datar.

"Anda paranormalnya? Mari, silahkan masuk." Wanita itu membukakan pintu bagi mereka. Baru saja menginjakkan kaki ke dalam aura berat itu terasa sangat kuat. Teriakan Elesis dari atas pun menjelaskan bahwa sesuatu yang ditakutkannya benar terjadi, tanpa berpikir panjang mereka bergegas menuju lantai dua.

"Elesis." Gadis yang merasa dipanggil namanya menoleh ke arah sang detektif dan suster yang tengah berlari menghampirinya.

"Dia menguncinya dari dalam." Jelasnya singkat.

Dengan satu gerakan tangan, pistol ditariknya dari balik coat. Ia menembak engsel pintunya hingga lepas lalu mendobrak pintu kamar tersebut. Pemandangan mengerikan terpampang dihadapan mereka, Jin duduk di lantai, kepala menunduk, kedua tangannya terpaku di dinding oleh gunting dan kuas, darah berlumuran di lantai dan sekujur tubuhnya. Inisiatif Rufus menembaki boneka yang melayang dikelilingi oleh alat tulis di langit-langit ruangan hingga jatuh sementara Elesis mencabut benda-benda yang menancap pada tubuh Jin, ibu Jin mengambil kain terdekat untuk menekan luka di kedua tangan anaknya.

"Beraninya kalian.." Rintih boneka yang bentuknya sudah tak karuan itu. Ia berdiri kembali dan perlahan berjalan mendekati mereka, disaat yang sama Rufus kembali menembakinya dengan serentetan peluru. Kapas-kapas putih berhamburan keluar, sebagian ternoda merah karena mendarat diatas bercak darah di lantai. Komponen elektronik didalamnya juga hancur berantakan, menimbulkan suara seperti speaker tua yang sudah rusak. Aura keunguan yang menyelimuti boneka tersebut mulai terlihat memanjang menuju langit-langit ruangan. Diatas sana sosok gadis berambut pink dikuncir twin ponytail terlihat marah, terutama kepada orang-orang yang menyerobot masuk ke daerahnya.

"Akhirnya kau menunjukkan sosok aslimu." Kata sang detektif, sorot matanya masih sama, merah bertemu hazel. Amy mengangkat benda disekelilingnya sekali lagi, namun gerakannya tiba-tiba berhenti. Ia merasa seperti berada dalam sebuah kotak yang memutuskan ikatan aura terhadap benda yang diangkatnya.. Dari sudut matanya ia melihat bahwa suster berambut limau itu sedang membaca sesuatu dari buku tebal di tangannya.

"Kalian!" Aura ungu disekitarnya menguat dan menghancurkan barrier suci yang membelengunya.

"Jangan coba-coba, ORACLE!" Bola pijar dengan simbol salib ditengahnya memancarkan energi seperti medan magnet kuat yang tak mengizinkannya untuk bergerak barang seujung jaripun.

Hal yang sama dirasakan oleh sang detektif, tubuhnya terasa lebih berat berkali lipat hingga memaksanya untuk menumpu dirinya dengan bantuan benda terdekat. Pening, apapun yang dilihatnya mulai tidak fokus. Tubuh dan rohnya tak sanggup menerima energi putih sebanyak ini, tapi ia tetap bertahan. Selama misi hidupnya belum selesai ia tidak akan membiarkan dirinya berakhir di sini. Suster Lime mengetahui hal ini, dalam hati ia meminta maaf tidak memperingatkannya terlebih dahulu.

'Lakukan yang terbaik, meskipun itu berarti aku juga akan terkena dampaknya..'

"A-my.. P-Plie.." Mata gadis itu terbelalak mendengar namanya, dengan marga aslinya dipanggil. Ia menoleh pada lelaki yang sempat disakitinya, masih di tempatnya semula. Luka-luka di tubuhnya sudah terbalut perban dengan rapi meski darah masih merembes mewarnai putih perban dengan merah.

"Masih.. ingatkah.. kau.. padaku..?" Tanyanya.

"Ayo.. kita.. bermain.. bersama.. sama lagi.." Sekumpulan memori berputar ulang di benak gadis itu. Hari itu, sore itu, ketika anak laki-laki seumurannya dengan rambut merah api mengulurkan tangannya.

'Hei, Namaku Jin. Kulihat sedaritadi kau sendirian, ayo main sama-sama!'

Sebuah liontin dikeluarkannya dari saku celana, terbuka dengan foto mereka didalamnya. Gembok dan kunci diletakkannya di lantai sebagai bukti bahwa ia tidak membuka benda berharga milik sang gadis secara paksa. Raut wajah yang tadinya penuh dendam meluluh. Ia tak lagi memberontak sehingga suster Lime perlahan melepaskan ikatan sucinya dari Amy. Hal pertama yang dilakukannya sesaat setelah ia kembali bebas adalah.. berlari dan memeluk lelaki berambut merah itu, sementara Jin yang tidak dapat melihat roh tidak merasakan atau melakukan apapun.

Lime mendekati mereka. Ia menutup mata Jin dengan telapak tangannya kemudian memanjatkan doa. Setelah ia menarik kembali tangannya, kedua mata topaz menemukan sosok gadis tersebut dihadapannya, menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Ia tersenyum sembari mengusap kepala gadis itu perlahan dengan tangan yang berbalut perban. Untuk menggerakkannya sedikit saja sakit sekali apalagi dulang berkali-kali, tapi demi gadis itu ia menahan semuanya.

"Sudah, jangan menangis lagi. Aku tidak apa-apa koq." Katanya menenangkan. "Yang penting sekarang kau harus pulang, tempatmu tidak di sini lagi."

"Tapi.. Tapi kemana? Aku tidak mau pulang ke rumah itu lagi." Ia menolak mentah-mentah.

"Ke tempat yang indah, Amy. Dimana kau bebas menjadi dirimu sendiri, bebas bermain kemanapun , juga bebas melakukan apapun yang kau suka" Jelas Lime meyakinkan. Melihat ke arah lain, sang detektif menganggukkan kepalanya tanda mendukung pernyataan suster tadi. Kemudian Amy memandang lelaki didepannya, bukkankah itu berarti ia harus berpisah dengannya lagi? Bagaimana jika ia melupakannya lagi? Bagaimana jika.. jika mereka tidak dapat bertemu lagi?

"Kalau kau khawatir tidak memiliki teman, kau dapat berkenalan dengan teman kami di atas sana, kepala labu." Tambah Elesis. Amy berbalik pada gadis itu lalu berteriak dengan gigi runcing ala komik dan percikan api keluar dari dalam mulutnya.

"Siapa yang kau sebut kepala labu, hah?!" Elesis mempertahankan pokerface'nya. Amy menghela nafas.

"Baiklah aku akan meninggalkan dunia ini. Tapi janji.. temui aku ketika kalian datang ke tempat itu. Ya?" Elesis mengangguk, Jin menjawab ya, Lime tersenyum dan menganggukkan kepala.

Amy pun tersenyum, senyum tulus penuh kebahagiaan yang sudah lama meninggalkan wajahnya. Perlahan sosoknya menghilang menjadi butiran cahaya yang terbang keluar melalui jendela, tinggi menuju angkasa. Lime membisikkan selamat jalan sembari memandang bintang di atas sana yang diyakini salah satunya adalah sang diva. Tak berapa lama kemudian ambulance datang menjemput Jin menuju rumah sakit terdekat, ditemani oleh ibunya dan Elesis. Ia tak sadarkan diri karena jumlah darah yang keluar terlalu banyak, namun tangan kanannya tetap menggengam erat liontin kenangan satu-satunya yang ia miliki sekarang.

Ia kembali mengadahkan tangannya. Fragmen api biru berkumpul di telapak tangannya kemudian menghilang, berpindah menempati lilin dalam ruangannya yang belum menyala.

'Tunggu sebentar lagi. Aku pasti akan menjemputmu, Lass.' Batinnya sebelum merobohkan diri di dinding samping rumah Jin.

.

~OMAKE~

Ia membuka matanya di sebuah tempat yang serba putih, langit biru, tanaman dan bunga-bunga yang indah. Lebih terkejutnya ia melihat lantai yang ia pijak adalah awan dan ia tidak jatuh. Di depan ada sebuah gerbang emas yang dijaga oleh dua orang dan seorang lagi tengah berbincang dengan salah satu dari mereka yang berambut biru indigo. Kakinya bergerak menghampiri. Semakin dekat. Mereka menyadari kehadirannya dengan berbalik menghadapnya.

"Um.." Ia tak tahu harus bicara apa. Atas apa yang selama ini diperbuatnya, bukankah ia tidak pantas berada di tempat seindah ini?

"Woah! Amy Aruha yang terkenal itu." Seru pemuda berambut indigo tadi. Amy agak bingung, mereka mengenalnya?

"Misimu sukses, Zero. Dia berhasil datang kemari." Puji pemuda itu pada seorang bernama Zero, Ia yakin orang yang dimaksudnya adalah pemuda yang mengenakan penutup mata warna kuning itu.

"Ya, semua karena bantuan Rufus, Jin, Lime dan Elesis." Woa? Dia bahkan mengenal Jin dan orang-orang itu.

"Kalian kenal Jin dan Elesis?" Tanya Amy penasaran. Zero mengangguk.

"Aku mengawasi kalian, dari awal hingga akhir kejadian." Jelasnya singkat. Amy sama sekali tak menyadarinya, padahal ia terus menatap jendela sampai Jin pulang.

"Kalau Elesis... Eto.." Pemuda indigo itu bingung memilih kata yang akan diucapkannya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Cinta pertama dan terakhirnya.." Lanjut Zero blak-blakan.

"WAA! ZERO!" Wajah pemuda itu merah padam. Tangannya terus menerus diayunkan didepan wajah Zero yang tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Amy tertawa melihatnya. Bahkan di dunia setelah kematian ada orang-orang unik seperti mereka.

"Maaf.. haha.. Kau yang menjaga gerbang ini kan? Aku Amy Plie.. bukan Aruha.. Salam kenal." Sapanya memperkenalkan diri.

"Oh, dimanakah sopan santunku?!" Pemuda indigo tadi menarik tangannya kembali.

"Namaku Ronan.. Ronan Erudon." Ia memperkenalkan diri.

"Zero." Pemuda yang satu lagi juga memperkenalkan diri.

Ronan membukakan pintu bagi mereka. Zero, membawa dokumennya sekaligus mengantar Amy ke tempat pengakuan untuk membersihkan sisa dosa yang masih melekat padanya.

.

Amy : Huee.. Maafkan daku Jinny~ TAT

Jin : Amy.. ini kan cuma akting.. *lap saus tomat yang dipakai buat efek darah*

Author : Ini pertama kalinya Ru bikin sepanjang ini untuk Jin & Amy.. aye! Re:review please~ XD

Elesis : Untuk Eureka-Cross.. aku yakin kau tahu siapa itu.. :3

Jin : Untuk Satsuki Kobayakawa.. Ouf.. hati-hati, aku takut nanti Amy pinjam kapaknya Yuno.

Allen : Yuno itu siapa? *makan dango dengan lahap*

Jin : Itu loh yang di Mi**ai Ni**i.

Lass : Sejak kapan kau doyan nonton koleksi animenya author?

Rufus : Tsk, kau dari fandom mana?! *tunjuk-tunjuk Allen* Pulang sana!

Allen : Hikz.. *pulang bersama dangonya* :'(

Rufus : Untuk Shige-nii... aku tak akan memberitahumu.. =o=

Amy : Skandal apa ya?

Zero : Untuk AkaneMiyuki.. sebenarnya inspirasi utamanya adalah Detective Loki Ragnarok..

Elesis : Terimakasih sudah mampir mereview, minna-san. :)

Author : Yosh, bagi yang merasa per chapternya pendek. Sebenarnya dari awal pembuatan rencananya akan dibuat satu case per-chapter, berhubung Ru nulisnya lamban (karena ada kerjaan lain dan main gamenya juga #ga da yang tanya) jadi per-case dibagi menjadi 2 sampai 3 chapter.. kalau reader lebih memilih sekali panjang, Ru akan membuat demikian mulai case 7.. (_ _)

Lime : Next Eps : Contrast Soul