Disclaimer
Grand Chase, All related logo and characters are trademark of KOG studio.
Refference : Black Rock Shooter by Shinobu Yoshioka

.

-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 7 : Contrast Soul

.

Perlahan cahaya terang tak terbendung menyilaukan mata. Samar-samar terlihat siluet sesuatu yang panjang seperti tongkat melewati area pandangnya. Terkadang ada suara yang tidak jelas memasuki telinganya. Setelah terbiasa dengan cahaya yang masuk ia mendapati langit-langit ruangan bercat putih dan sebuah lampu neon yang menyala terang.

"Oh, kau sudah sadar."

Ia mengalihkan pandangannya ke samping, dimana seorang gadis berambut pink panjang yang dibiarkan terurai duduk sambil membawa saputangan di tangannya. Sang detektif berusaha bangun dengan susah payah, menggunakan satu tangan untuk membantunya duduk dan satu lagi memegangi kepalanya. Masih pening meski tidak separah semalam. Sepertinya karena saputangan lembab yang baru saja jatuh dari kepalanya.

"Dimana ini?" Tanyanya pada gadis itu.

"Kau jangan kemana-mana dulu, aku panggil suster Lime kemari." Gadis itu tidak menjawab pertanyaan sang detektif tapi meletakkan saputangannya di samping baskom kecil di atas meja kemudian berlari keluar ruangan. Tak lama kemudian suster Lime dan gadis tadi kembali ke dalam ruangan tersebut.

"Akhirnya kau sadar juga." Ujar sang suster memulai pembicaraan.

"Apa yang terjadi semalam?"

"Lebih tepatnya dua hari yang lalu, setelah sedikit aksi exorsisme kau pingsan di depan rumah klienmu yang berambut merah itu." Dua hari yang lalu, berarti dia tidak sadar selama dua hari?! Ia berusaha berdiri kali ini, namun kakinya tak mau menuruti. Dipaksakan kedua kakinya untuk menumpu berat badannya. Tidak bisa, ia jatuh kembali ke kasur yang didiaminya sejak dua hari yang lalu.

"Hei hei, tidak usah memaksakan diri. Kau butuh waktu untuk menstabilkan fisik dan rohmu. Tinggallah beberapa hari di sini." Karena tak punya pilihan lain ia pun menyetujuinya.

.

"Namaku Cleo, salam kenal." Gadis berambut pink tadi memperkenalkan diri. Disampingnya seorang lelaki berambut putih kebiruan turut memperkenalkan diri.

"Namaku Var." Lalu lelaki paling ujung dengan rambut cokelat karamel yang paling akhir.

"Aku Gerard."

Cleo menjelaskan kalau sekarang mereka berada di rumah penampungan anak-anak berkelainan mental. Penghuni rumah yang tak jauh dari kapel ini masing-masing memiliki kemampuan aneh ataupun hanya sekedar gangguan mental seperti phobia dan semacamnya. Terasingkan dari dunia, Vatikan memberikan sebuah mansion bagi mereka untuk tinggal bahkan memberikan fasilitas terapi. Var mengatakan bahwa dirinya adalah esper, manusia yang memiliki kekuatan pikiran melebihi manusia biasa. Ia dapat menggerakan benda tanpa menyentuhnya. Kemudian Gerard, ia punya kekuatan yang sanggup menandingi kekuatan 20 ekor kuda. Dulu ia tidak bisa mengontrol kekuatannya sehingga berakhir dengan menghancurkan setiap benda yang disentuhnya. Ia tetap tinggal meski terapinya sudah selesai. Ia ingin mengabdikan diri untuk membantu Cleo, pengasuh dan terapist di rumah ini untuk mengobati anak-anak yang lain. Selesai memperkenalkan diri mereka balik bertanya pada pemuda berambut cokelat itu.

"Rufus." Jawabnya singkat.

"Kudengar dari Suster Lime kau ahli dalam urusan supranatural? Sepertinya keren, maukah kau ceritakan pada kami sepenggal saja pengalamanmu?" Pinta Gerard.

Baru membuka mulutnya suara teriakan dari ruangan lain menginterupsi. Cleo, Gerard dan Var segera berlari keluar, meninggalkan sang detektif sendiri bertanya-tanya apa yang terjadi. Tak berselang lama kemudian Gerald dan Var kembali bersama seorang gadis berambut putih dikuncir melingkar dan mengenakan dress serba putih.

"Maaf soal interupsi tadi." Var membelai kepala gadis kecil yang masih terlihat sedih. "Cleo sedang mengurus mereka sekarang."

Sekilas menatapnya, Rufus merasakan sedikit aura jahat dari gadis itu. Mereka bercakap-cakap dengan santai. Sesuai permintan Gerald, Rufus menceritakan sedikit kisahnya tentang roh pengelana yang memakai kacamata kuning setiap saat bahkan saat gelap sekalipun, kakek berperawakan 20 tahunan yang mengaku berusia enam abad (meski tingkah lakunya tidak menunjukkan selayaknya orang tua), dan seorang manusia serigala yang tinggal di hutan. Rin yang mendengarkannya juga terlihat senang. Ah, mungkin tadi itu hanya perasaannya saja.

Keesokan harinya Rin dengan rajin datang mengantarkan makanan untuk sang detektif. Ia sebenarnya memiliki tujuan lain, yaitu mendengar kisah supranatural dari pemuda berambut cokelat itu. Rufus tidak suka membicarakan sesuatu yang tidak perlu, tapi ia menceritakannya juga. Rambut putih seputih salju, berkilau seperti perak, mengingatkannya pada adik yang sudah lama direnggut darinya. Saat ia bercerita pada gadis ini, ia merasa seperti sedang bercerita pada Lass saat mereka masih kecil dulu. Jauh sebelum insiden itu terjadi. Sebelum semuanya berakhir seperti sekarang. Setelah gadis itu pergi ia mengepalkan tangan, bertekad untuk cepat pulih dan merebut kembali keluarga terakhirnya dari necromancer itu.

Dua hari kemudian ia sudah dapat berdiri dan berjalan dengan benar. Ia pun keluar meninggalkan kamar yang didiaminya hanya untuk sekedar berjalan-jalan keluar. Sepanjang koridor ia disambut dengan pemandangan anak-anak tak lazim. Ada dari mereka yang menutupi wajah dengan surai rambut hitamnya, ada yang menatapnya dingin, ada yang hidup dengan banyak tulang tajam mencuat dari bagian-bagian tubuhnya, ada juga yang bermain di kolam dengan kulit bersisik dan jari tangan berselaput. Beberapa bermain seperti anak-anak normal kemudian salah satu dari mereka memetik jari dan bola api muncul di itu tidak bisa dibilang normal, mereka bermain lempar bola api! Serius.. tempat macam apa ini? Penghuninya abnormal semua.

Tiba-tiba seorang gadis berambut putih diikat ponytail dengan pakaian berupa celana pendek dan tanktop berwarna hitam datang dan menghancurkan bola api yang sedang digunakan untuk bermain. Tentu saja anak-anak itu marah luar biasa. Mereka dengan brutalnya bergulat selayaknya preman gang di kota-kota besar. Gadis itu menang, mengalahkan lima orang anak pengguna api sendirian. Dan yang lebih mengejutkan, gadis itu adalah Rin. Cleo dan Var datang sedikit terlambat, Cleo menolong kelima anak itu sementara Var memarahi Rin. Ia tak peduli, dengan tampang datar ia meninggalkan Var yang masih mengomel dan meneriakinya. Rufus lagi-lagi merasakan aura jahat ketika Rin berjalan melewatinya. Aura itu terasa lebih kuat dari sebelumnya.

"Kau melihat semuanya ya?" Tanya Var yang sudah berada di samping sang detektif.

.

"Jadi begini, Rin memiliki dua kepribadian." Kata Cleo memulai pembicaraan. Anak-anak yang tadi sudah beristirahat dikamar masing-masing. Kini hanya ada Cleo, Var dan Rufus di ruang tengah.

"Kami menyebutnya dengan Light Rin dan Dark Rin. Light Rin adalah pribadi yang anggun, lembut, rajin, ramah.. tipikal anak-anak yang baik. Sedangkan Dark Rin sebaliknya, berbanding 180 derajat dengan Light Rin. Kasar, suka menyakiti orang lain."

"Yah, itu sebabnya anak-anak sering membullynya jika ada kesempatan, saat Light Rin yang sedang mengoperasikan raganya." Tambah Var.

"Cara mengenalinya pun semudah namanya. Light Rin selalu menggunakan pakaian terang terutama putih, sedangkan Dark Rin menggunakan pakaian gelap terutama hitam." Lanjut Cleo. "Dan yang bisa mengembalikan Light Rin ketika Dark Rin sedang menguasai hanya suster Lime."

'Lime.. dia pasti tahu sesuatu..'

"Sebaiknya kau berhati-hati jika bertemu dengan Dark Rin."

"Baiklah aku mengerti, terimakasih peringatannya." Ia merasa kalau ia harus tinggal sedikit lebih lama untuk mengurus masalah ini. Ia yakin bukan masalah psikologis yang dialami anak itu. Ada faktor lain yang masih berbayang.

.

..Bunuh!..

"Jangan.."

..Mereka menyakitimu, menyingkirkanmu, bunuh mereka!..

"Tidak.."

..Dunia tidak membutuhkan mahluk rendah seperti mereka!..

"TIDAK!"

Rin terbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal-sengal. Keringat membasahi tubuh dan gaun tidurnya. Mimpi itu lagi. Mimpi yang hampir selalu datang menemuinya sejak setahun yang lalu. Pendaran cahaya hitam dan putih menemuinya bergantian setiap malam. Hitam selalu membujuknya pada jalan yang gelap namun penuh dengan kepuasan pribadi. Hasrat ingin dihormati, ingin dihargai, ingin menjadi yang berkuasa. Putih selalu membujuknya pada jalan yang terang penuh harmoni. Putih tidak pernah menjanjikannya apapun namun kehadirannya membuat Rin merasa nyaman dan aman. Ia tak mengerti kenapa mimpi itu terus datang dan pergi Mungkin.. mungkin saja tuan detektif itu tahu apa arti dari mimpi yang menghantuinya selama ini. Ia harus menanyakannya.

.

"Tuan detektif?!" Rin terkejut mendapati Rufus baru saja keluar dari kamarnya, padahal ia sudah membawakan sarapan kemari.

"Hm?" Responnya datar. Melihat nampan yang dibawa, ia mengerti kenapa gadis itu datang untuk kesekian kalinya.

"Aku sudah sembuh." Tambahnya, kemudian mengambil nampan dari tangan Rin dan bersama-sama menuju ruang makan. Rin sedikit menggerutu karena ia tidak dapat mendengar cerita lagi tapi di sisi lain ia senang karena tamunya ini sudah sehat kembali.

Suasana ruang makan tidak berbeda jauh dengan atmosfer yang menyelimuti setiap harinya. Heboh, anak-anak bermain dengan kekuatannya. Ada yang usil melempar tulang sisa hingga menancap di dinding ruangan, ada yang menggunakan telekinesis untuk melempari anak lain dengan kue, ada pula yang iseng menyulut piringnya dengan api seperti koki masakan chinese. Mereka berhenti ketika menyadari kehadiran Rin dan Rufus di dalam ruangan. Semua mata tertuju pada mereka, terutama Rin.

"Awas gadis monster datang!" Kata salah seorang dari mereka. Rufus mengenalinya sebagai anak yang kemarin dihajar oleh Dark Rin hingga babak belur. Sekarang pun tubuhnya masih diselimuti oleh perban. Anak yang lain ada yang ikut mencemooh, ada pula yang berbisik satu sama lain. Sepertinya beberapa dari mereka takut akan menjadi korban keganasannya.

"Anak-anak semuanya dengar!" Mereka mengalihkan pandangan ke sumber suara yaitu Cleo yang berbicara dari balik mejanya.

"Kita kedatangan tamu." Cleo menatap Rufus. "Detektif Supranatural, Rufus Wilde dari Elia. Kuharap kalian dapat menjaga sikap selama beliau di sini." Jelasnya singkat kemudian aktifitas dilanjutkan seperti biasa. Mereka yang tertarik meninggalkan piringnya dan mulai mengerumuni sang detektif.

"Kakak.. ceritakan pada kami."

"Ya, ceritakan pengalaman mistis yang menarik."

"Yang menyeramkan saja." Mereka saling berebut bersahut-sahutan menambah riuh ruang makan yang besar itu.

"T-tuan detektif akan bercerita setelah kalian semua selesai makan." Ujar Rin keras-keras. Anak-anak yang ribut langsung diam dibuatnya.

"Kau tidak usah ikut-ikut monster." Salah satu anak memprovokasi, yang lain pun ikut mendukung hingga membuat Rin mundur ketakutan.

"Dia benar." Suara baritone menyita seluruh perhatian mereka. "Kalian selesaikan dulu makannya." Lanjutnya kemudian meletakkan nampan yang dibawanya di meja yang diduduki Cleo dan yang lain. Anak-anak yang tadi mengerumuninya segera kembali ke meja masing-masing.

"Kau hebat juga menghadapi anak-anak." Puji Var yang duduk di seberng meja. Rufus menatapnya sekilas kemudian kembali melanjutkan makannya.

"Aku sebenarnya tidak suka anak-anak." Ujarnya datar. "Tapi aku lebih tidak suka tempat yang berisik." Ia melahap sepotong daging dari piringnya.

..Darkness will once again rise upon this world..

"Rin?" Tanyanya terkejut.

"Ya, aku yakin kau juga merasakan aura hitam itu." Lanjut Rufus sambil menyilangkan kaki. Lime membuka mulut.. kemudian menutupnya kembali. Ia beranjak mengambil sebuah alkitab dari lemari lalu ditaruhnya di meja.

"Aku tidak akan membaca benda itu."

"Aku tak menyuruhmu untuk membacanya." Lime duduk kemudian membukanya pada bagian pertama, membuka halaman demi halaman mencari sesuatu.

"Kau tahu kan dewi yang menjaga dunia ini?" Tanyanya pada Rufus.

"Ernasis, Lisnar dan Armenian, kan." Jawabnya datar.

"Masih ada satu lagi... Agnecia." Rufus mengernyitkan dahi.

"Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya."

"Memang, karena keberadaannya dihapuskan dari semua kitab, terkecuali kitab Clarie." Ia membalikkan kitab tersebut agar sang detektif dapat melihatnya. Gambar ilustrasi seorang dewi berambut putih.

"Dulu, dunia ini hampir dikuasai oleh kekuatan kegelapan. Dewi Agnecia mengorbankan diri demi menyegel mahluk yang menjadi sumber kekuatan jahat didalam tubuhnya. Karena itu ia harus mengalami reinkarnasi selamanya demi menjaga segel tersebut." Lime menutup kitabnya.

"Aku merasa bahwa dialah reinkarnasi pada abad ini." Lanjutnya sambil mengembalikan kitab ke tempatnya.

"Dan tingkah lakunya yang kadang bertolak belakang itu, kurasa segelnya mulai melemah." Rufus mengangguk setuju.

"Aku pun merasakan hawa jahat darinya, terutama saat Dark Rin memengang kendali."

Lime menjelaskan bagaimana dan apa yang dapat mereka lakukan untuk sekarang. Kasus ini melibatkan tiga roh dalam satu tubuh. Sejauh ini tidak ada pergerakan yang berbahaya, tapi tidak menjamin hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, jadi mereka akan mengawasi.

.

Sekembalinya dari kapel sang detektif disambut dengan sekumpulan anak yang mengerumuni di balik pintu dengan wajah cemberut. Ah! Ia baru mengingatnya.. Tadi kan ia berjanji akan bercerita pada mereka seusai sarapan.

Beberapa hari berlalu, anak-anak masih suka mendesak sang detektif menceritakan tentang hal-hal gaib yang pernah ditanganinya. Rufus sendiri masih tetap mengawasi perkembangan Rin dan tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, namun ia merasa semakin lama frekuensi kemunculan Dark Rin semakin bertambah. Ini pertanda yang tidak baik. Sedangkan dari sisi Rin sendiri, frekuensi hadirnya si hitam dan mimpi buruknya semakin sering. Ia ingin segera menanyakannya, tapi anak-anak lain itu selalu saja memblokir jalan baginya untuk mendekati sang detektif.

'Aduh, kapan aku bisa tanya nih?' Batin Rin dari balik pintu ruang bermain.

..When the sun tainted black..
..Make sure that you don't pick the wrong way..

Rin membulatkan tekad. Dia harus menanyakannya hari ini juga Ia berjalan setengah berlari menuju ruang tengah dimana anak-anak lain sering meminta cerita. Digesernya pintu kayu besar itu, namun ruangan tersebut kosong. Ia kemudian menuju ruang bermain, tapi dia tidak ada di sana. Hanya ada anak-anak yang menatapnya datar dari posisi mereka masing-masing. Ia menyusuri lorong. Samar-samar terdengar suara anak-anak lain dan alunan cerita.

..Dunia baru telah tercipta..
..Dengan keempat dewi sebagai pelindungnya..
..Ernasis, dewi perang dan keberanian..
..Lisnar, dewi cinta dan semangat..
..Armenian, dewi kebijaksanaan dan harmoni..
..Agnecia, dewi kehidupan dan kesucian..

Tapi suara ini kan suara wanita.

..Mereka menjelajahi Aernas untuk menyaksikan perkembangannya..
..Ernasis, Lisnar dan Armenian pergi menuju Archemedia..
..Sementara Agnecia pergi menuju timur..

Suster Lime? Bukan..

..Agnecia menghadapi kekuatan jahat yang sangat besar..
..Ia mengorbankan keabadiannya demi menyelamatkan dunia..

Rin berhenti di tepi taman bermain dimana anak-anak yang lain bermain. Ia tidak dapat menemukan sang detektif maupun suara seorang misterius yang tadi. Hanya puluhan pasang mata tertuju padanya.

"Uhm.. Adakah dari kalian yang melihat tuan detektif?" Tanyanya pada siapa saja.

"Ini pasti karena ulahmu kan? Kakak Rufus jadi tidak mau bercerita lagi." Ujar seorang dari mereka.

"Benar, itu pasti karena kau! Aku sering melihatmu memaksanya bercerita untukmu." Tambah seorang yang lain.

"Huh?" Rin kebingungan. "Tapi aku tidak pernah memaksanya, bahkan beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya." Lanjutnya membela diri.

Anak-anak itu mendekatinya dengan tatapan tajam. Ia tahu dan siap apa yang akan terjadi selanjutnya. Bullying. Pukulan, jambakan, tendangan semua mendarat padanya.

'Kenapa?' Ia meringkuk melindungi kepalanya.

'Kenapa nasibku selalu seperti ini?' Air mata mengalir dari sudut matanya,menahan sakit.

'Aku sudah muak.'

Tiba-tiba langit menjadi gelap. Burung gagak mengepakkan sayapnya. Berkicau nyaring membawa pesan kematian. Matahari tertutup dalam bayangan bulan, menyisakan lingkaran haloo disekitarnya.

.

"Waktunya telah tiba. Lass.." Seorang dengan topeng menakutkan menatap langit dengan seringainya. Seorang anak kecil berambut silver pendek dan berkulit pucat nan kotor menatap pemanggilnya dengan tatapan mata azure buramnya yang kosong. Begitu juga dengan seorang lagi yang sedikit lebih tua berambut silver-lavender panjang, berkulit pucat dan bermata azure buram menatap mereka dari ambang pintu.

.

"Yah mendung, padahal aku yakin beberapa saat yang lalu cerah." Gumam seorang elf berambut orange jabrik lengkap dengan peralatan yang biasa digunakannya untuk mencari sayur dan buah di hutan.

.

Di sebuah pemakaman terdengar deringan telepon. Seseorang menghentikan suara berisik tersebut dengan menjawab panggilan tersebut.

"Ya?"

"Nona Edel, meeting dimulai setengah jam lagi."

"Aku kembali sekarang." Pip. Wanita berambut silver-lavender itu melihat makam yang dikunjunginya sekali lagi sebelum kembali pada pekerjaannya yang padat.

'Amy.. Sampai jumpa lain waktu..'

.

". . . ." Pemuda berambut kelabu berdiri diatas atap sebuah gedung. Ia terlihat sedang memandang langit dari balik shades kuningnya.

'Pertanda buruk.' Batinnya.

.

"Merah. Sebaiknya kita pulang sekarang. Hari mulai mendung." Ajak seorang pemuda berambut hitam jabrik yang segera melipat majalah yang dibacanya setelah melihat keluar jendela.

"Ck.. Namaku Elesis, pak tua!" Omel gadis sekolahan berambut merah yang segera memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

"Aku pulang dulu, cepat sembuh ya!" Ia melambaikan tangan pada seorang anak lelaki berambut merah api yang masih berbaring diatas kasur rumah sakit.

"Ya! Terimakasih sudah mengajariku pelajaran hari ini!" Sahut lelaki itu penuh semangat. Setelah pintu tertutup ia mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Mendung...

.

Lime yang sedang menjemur pakaian menatap langit gelap dengan perasaan yang tidak menyenangkan. Ia segera berlari menuju rumah perawatan tempat Rin berada. Hal yang sama dirasakan oleh Var dan Rufus yang sekarang berada di kota. Mereka juga segera kembali, meninggalkan Cleo yang masih berbelanja.

.

Anak-anak yang membully Rin menjauh dengan wajah takut ketika sepasang mata tosca menatap mereka dengan aura membunuh. Kulit yang tadinya berwarna coklat tan berubah menjadi kelabu. Samar-samar terlihat adanya sepasang sayap di punggungnya. Satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna putih. Ia berjalan mendekati salah satu anak dengan seringai menakutkan. Anak tersebut berjalan mundur hingga terjatuh karena tersandung brick mainan.

"M-mon..."Belum selesai anak itu bicara yang terlihat selanjutnya adalah bercak darah dan kepala manusia satu meter terpisah dari tubuhnya. Anak-anak yang lainnya lari berhamburan mencari tempat untuk bersembunyi. Beberapa anak yang kurang cepat dan para pyrokinesis yang berusaha melawan pun menemui nasib yang sama di tangan Rin.

Di tengah kekacauan yang terjadi Gerald terpaku sejenak melihat pemandangan horor dihadapannya. Tak lama setelahnya ia memerintahkan semua anak untuk pergi dari rumah tersebut. Ia mengevakuasi setiap kamar hingga Rin tiba-tiba saja hadir menghadangnya. Dengan kekuatan 20 ekor kuda sekali kena mungkin dapat membunuh gadis itu, tapi ia tidak boleh melakukannya. Dia di sini bukan untuk menghabisi nyawa tapi untuk menyelamatkan mereka yang tersingkir.

"Rin! Sadarlah! Jangan mau dikendalikan oleh sisi jahatmu!" Teriak Gerald yang masih menggedong seorang anak berambut hitam panjang menutupi seluruh wajahnya.

"Rin?" Sosok blasteran antara malaikat dan dewa kematian itu tertawa sinis.

"Namaku Malfoy. Camkan itu." Ia melaju ke arah Gerard, namun dengan cepat Gerard meloloskan diri dengan membuat lubang di dinding. Setelah mendarat dengan selamat, ia disambut dengan kedatangan suster Lime, Rufus dan Var. Mereka melihat ke arah lubang yang baru saja tercipta dengan Dark Rin atau Malfoy berdiri angkuh menatap mereka dari lantai dua.

"Sial, kita terlambat." Rutuk sang detektif.

"Var, Gerard.. tolong kalian evakuasi semua anak ke kapel!" Seru Lime di tengah kepanikan. Kedua orang yang dimaksud segera melaksanakan. Gerard menggedong sedangkan Var menggunakan telekinesisnya, sebanyak mungkin anak dibawah umur lalu berlari menuju kapel, sementara anak-anak yang lain harus berlari.

"Tak ada tempat bagi kalian untuk lari."

"Tidak akan kubiarkan! NEMESIS!" Malfoy melompat jauh untuk menghadang anak-anak itu, namun tersambar kilat yang dipanggil oleh suster Lime hingga jatuh tersungkur di tanah.

"MENGGANGGU!" Geramnya marah sambil berbalik menyerang Lime.

"Soul Shackles.." Dengan berbisik dan menancapkan belati merah ke tanah, dentingan rantai besi beraura merah muncul dari dalam tanah mengekang pergerakan malfoy.

"Jaga sikapmu, Malfoy." Ujar Rufus yang kini berdiri dihadapannya, masih membawa nether blade di tangan kirinya.

"Heh, berani kau memerintahku demon kelas rendah." Hardiknya kasar.

"Aku tidak segan mengeliminasi keberadaanmu jika kau melawan." Rufus menodongkan pistol yang dibawa tangan kanannya ke wajah Malfoy. "Aku memerintahkanmu untuk kembalikan tubuh itu pada pemiliknya."

Mahluk itu tersenyum sinis. "Kau lama sekali." Ujarnya tidak nyambung.

"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Rufus sambil menarik sedikit pelatuknya.

"SAMPAI KAPAN KAU MEMBUATKU MENUNGGU?" Teriaknya lagi.

"JAWAB AKU!" Gertak Rufus yang mulai jengkel.

Sesaat kemudian ledakan hebat terjadi diantara mereka. Asap tebal menyelimuti tanah lapang tersebut. Lime yang menutup matanya agar tak terkena debu ledakan mulai membuka matanya, mendapati sang detektif tengah menahan serangan sebuah pedang dengan belatinya. Perlahan sosok anak berusia 13 tahunan terlihat seiring memudarnya asap debu yang menghalangi pandangan. Rambut putih yang berantakan, mata biru laut kusam, kulit yang super pucat dan wajah tanpa ekspresi.. seperti mayat hidup.. itulah yang bisa dideskripsikan olehnya. Sang detektif sempat terkejut akan kehadiran pihak ketiga. Ia segera menepis pedang anak itu, melompati serangan yang datang ke arah kakinya, merunduk ketika hendak ditebas cepat ke tubuhnya, kemudian backflip menjauh. Anak itu tak langsung mengejar lawannya namun berbalik dan mematahkan semua rantai yang mengikat Malfoy ke tanah.

"Che! Kurang ajar.. bukannya cepat membantu, kau malah menontonku dari kejauhan." Serunya entah kepada siapa.

"Hoho, padahal aku ingin melihat seberapa besar kekuatan yang sudah kau bangkitkan sejauh ini, Malfoy." Suara ini, terdengar familiar di telinga Rufus.

Sesosok mahluk besar berpakaian acak lengkap dengan penutup kepala dan tongkat sihirnya muncul dari bayang-bayang pohon. Topeng putih setengah wajah yang dikenakannya membuat ingatan Rufus akan hari itu diukir kembali dalam benaknya. Mulai dari kecelakaan yang merenggut keluarganya, kontrak dengan necromancer, rasa terbakar ketika tubuhnya mulai berubah menjadi iblis, hingga ketika ia kehilangan lengan kirinya di tangan adiknya sendiri.

"Hm.. Sepertinya kita ada reuni kecil di sini, ne Rufus?" Kata mahluk itu sembari menepuk pundak anak berambut putih yang menatap lurus ke depan tengan pandangan kosong.

Lime menatap anak itu sesaat, kemudian bertanya pada sang detektif. "Kau mengenal mereka?"

"Mahluk itulah yang bertanggung jawab atas perubahan wujudku menjadi iblis. Lalu.. anak itu.." Ia menggantungkan kata-katanya sebentar.

"Dia adikku, Lass."

.

Author : Yosh! Akhirnya sempat juga updet~ Setelah sebulan didera dengan setumpuk tugas di tempat kerja.. ^o^

Lime : Dan ini debut kehadiran Rin juga Lass di fanfic ini..

Rin : Hai! Aku di sini berumur 9 tahun loh.. :D

Azin : Gak ada yang tanya.. *digampar kipas*

Author : Saatnya re:review...

Amy : *peace* awainotsubasa-san.. Amy hanya mengikuti naskah buatan author.. :3

Ley : Benar itu, oi author! Kenapa putri Crimson River yang cantik ini belum muncul, ha?!

Dio : "Cantik"? PD amat.. =3= *kabur dikejar bastion*

Amy : Karakter yang sudah lewat ada yang akan muncul kembali menjelang akhir nanti. Yah, tergantung gimana naskah author sih.. oh ya, itu masih lumayan 1 tahun 1 chapie daripada ni author mau nulis aja gak jadi jadi..

OC : *angguk setuju*

Amy : lalu untuk Eureka-Cross.. Tidak ada yang membangkitkanku. Aku hanyalah roh yang terdampar karena meninggal dengan tidak tenang.

Lime : Oracle itu skill satu bar milikku, melempar bola cahaya dengan salib didalamnya. Lebih lengkap silahkan baca wiki. Untuk efek stunning hanya modifikasi author.

Author : Untuk AkaneMiyuki.. Terimakasih sudah sabar menunggu.. ^^

Lass : Hoo.. YamiRei28 ternyata menunggu kehadiranku.. *smirk* oh, Satsuki Kobayakawa juga..

Author : Kau punya banyak penggemar Lass.. *thumbs up*

Allen : Wha? UHUK! *kaget + keselek dango*

Jin : Doubt? Gak kenal.. =w=a ..ngomong-ngomong kenapa kau di sini lagi? *menatap Allen*

Allen : Eto.. Aku tersesat.. hehe..

Edel : Ehm.. Dere Dere 02-san kami tidak punya hubungan apa-apa di sini..

Rufus : Benar.. *setuju dengan nada datar*

Ronan : Untuk Kazuhiko Naru.. Bukannya ngefans sih, tapi kan jarang-jarang bisa lihat artis dari jarak sedekat itu..

Jin : Ohisashiburi Shirokawa Hazuki.. Sudah lama tidak terlihat. Eh, jangan pegang-pegang sakit tau.. T_T

Amy : Waduh, ini fict bikin boros tisu ya.. Ingat! 1 tisu 1 pohon loh..

Ryan : *deathglare para penebang pohon*

Ronan : Aku merasa ada hal yang buruk akan datang. *kabur*

Rin : Untuk Mikicnc.. akan diusahakan.. ^^

Lass : Next Eps : Trapped Soul :)