Disclaimer
Grand Chase, All related logo and characters are trademark of KOG studio.
Refference : D-Gray-man by Hoshino Katsura
.
-:-:-:-Mythical Detective – Loose Soul Cases-:-:-:-
Case 8 : Trapped Soul
.
(Written in Rufus' POV)
Hari itu keluargaku berencana untuk liburan. Ibu mengajakku untuk ikut serta, namun aku menolak dengan alasan belajar. Ujian akhir semester akan segera tiba, dan sebagai murid teladan sudah menjadi kewajiban bagiku untuk mempertahankan prestasi.
"Ujianmu kan masih sebulan lagi, sekali-kali luangkanlah waktu bersama kami." Pinta ibu selagi aku membaca buku sejarah setebal tiga sentimeter yang kupinjam dari perpustakaan sekolah.
"Persiapan yang lebih matang akan lebih baik." Gumamku merespon tanpa mengalihkan pandangan dari kalimat yang kubaca. Kudengar desahan pelan ibu menghela nafas. Kalau aku sudah berkata demikian, dia pasti menyerah untuk membujukku.
"Hee, menyibukkan diri dengan sekolah lagi?" Kali ini kudengar Lass mengomentari sikapku. Aku menutup buku kemudian memutar kursi agar dapat bertatap muka dengan bocah berambut putih silver itu.
"Kau sendiri?" Balasku bertanya. Ia menyeringai.
"Mau kapanpun aku belajar hasilnya akan sama saja." Jawabnya sedikit sombong.
Kuakui dia memang jenius dari lahir, dan orangtua kami membanggakannya. Sebenarnya 'kami' bukanlah kata yang tepat. Aku hanya punya ayah yang bahkan tidak pernah memperhatikanku sedikitpun. Orang yang sekarang kupanggil ibu bukanlah ibu kandungku. Dia adalah wanita yang dipilih ayah untuk menggantikan posisi ibu yang sudah meninggal, dan dari wanita itulah Lass hadir dalam keluarga ini. Dengan kata lain, dia adik tiriku.
"Sudah kuduga kau akan berkata begitu." Aku balas menyeringai.
"Oh ayolah. Kau itu sudah sepintar aku dengan porsi belajar seperti itu. Sesekali kau perlu mendinginkan sirkuit otakmu sebelum overheat." Bujuknya dengan nada sarkasme.
"Pergilah sendiri Lass. Aku sibuk." Aku kembali melanjutkan acara membacaku. Aku bisa mendengarnya mendengus kesal.
"Kalau begitu, berjanjilah kau akan mengajakku ke Pudding's Burger sepulang dari Alcubra nanti!" Teriaknya.
"Terserah padamu saja." Jawabku acuh.
"Oke, kau yang bayar ya~"
"Hmm... Apa?! Oi Lass!" Teriakku sementara ia sudah lari sambil tertawa meninggalkan kamarku.
Meski terkadang sikapnya menyebalkan, tapi aku lebih senang menghabiskan waktu dengannya daripada ayah, ibu, maupun teman-teman sekolah. Dialah satu-satunya harta yang kumiliki saat ini.
.
Waktu pun berlalu. Hari ini adalah hari keempatku sendiri di rumah. Sesekali ibu dan Lass menghubungiku lewat telepon maupun email, mengirimkan foto-foto yang diambil di sana atau hanya sekedar menanyakan keadaanku. Untuk sesaat aku merasa iri ketika melihat foto mereka bertiga tengah bermain di pantai dengan senyuman, namun aku tidak boleh luluh, tujuanku kedepan adalah hal yang lebih penting daripada hal kecil seperti ini. Cara pandang inilah yang akan kusesali selamanya.
Pagi hari kelima, kulihat rumah masih sangat sepi. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh, padahal menurut jadwal seharusnya pesawat sudah mendarat dua jam yang lalu. Apa penundaan? Segera ku cek ponselku. Tidak ada pesan,telepon maupun email, berarti pesawat berangkat sesuai jadwal. Kalaupun ada perubahan Lass atau ibu pasti akan memberi kabar, jadi kuputuskan untuk menunggu saja dengan sabar. Kuambil sebutir telur, sosis, mustard dan mayonaise dari dalam kulkas kemudian menyiapkan penggorengan dan memanaskan mentega diatasnya. Setelah itu kurekahkan telur dan sosis yang sudah kusayat dengan pisau keatas minyak panas. Aku sudah terbiasa menggantikan tugas ibu sebelum ayah menikahi wanita itu, karena itu memasak bukanlah hal yang sulit bagiku. Sematangnya sarapan yang kubuat aku duduk di ruang tengah menikmatinya sambil menonton televisi. Ketika memindah-pindah saluran aku terhenti pada sebuah acara berita yang meliput jatuhnya sebuah pesawat yang berangkat dari Alcubra menuju Elia sekitar pukul tiga pagi tadi. Aku terus mengikutinya hingga apa yang kutakutkan menjadi kenyataan. Nama ketiga anggota keluargaku tercatat dalam daftar korban meninggal.
Aku tidak dapat bergerak. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Rasa panik menyelimutiku. Semua terjadi begitu cepat. Sesaat mereka meninggalkanku untuk beberapa hari, sesaat kemudian pergi meninggalkanku untuk selamanya. Piring yang masih berisi setengah porsi jatuh dan pecah ketika aku berdiri dan bergegas pergi menuju rumah sakit yang disebutkan dalam berita tersebut.
"Dimana mereka?!" Tanyaku setengah berteriak pada resepsionis rumah sakit yang terlihat kaget.
"Maaf, pasien mana yang anda cari?" Tanyanya tenang.
"Wilde.." Wanita itu cepat-cepat membuka daftar pasien kemudian menunjukkanku arah menuju ruang mayat.
Tanpa berkata apa-apa lagi aku berlari meninggalkannya. Sesampainya aku di ruangan itu banyak sekali orang yang kuasumsikan keluarga para korban hanyut dalam suasana duka. Aku pun.. hanya bisa mematung dengan perasaan tidak jelas ketika melihat jasad ayah, ibu dan juga Lass yang terbujur kaku di atas kasur dorong.
.
Dua minggu berlalu sejak aku ditinggalkan mereka. Sekarang aku benar-benar sendiri, melakukan segalanya sendiri, bekerja paruh waktu sepulang sekolah untuk menopang hidupku sendiri. Aku tidak pernah berbicara kepada siapapun jika bukan karena sesuatu yang penting. Teman-teman sekelasku sering berusaha memberiku semangat, tapi itu sia-sia. Satu per satu mereka meninggalkanku, tidak pernah ada lagi yang mengajakku bicara. Mereka sudah menyerah.
"Aku pulang." Sunyi. Tidak ada jawaban.
Aku teringat lagi akan mereka. Kenapa aku masih belum bisa melupakan mereka? Kenapa ini tidak semudah saat mereka masih ada? Apakah ini arti dari kalimat 'sesuatu yang berharga baru akan kau sadari ketika kau sudah kehilangannya' yang pernah kubaca dalam buku? Tak kusadari tiba-tiba saja kedua pipiku basah. Air darimana?
.
Pukul delapan malam, aku sudah menyelesaikan semua tugas yang harus dikumpulkan besok. Masih ada waktu sebelum jam tidur tiba, apa yang harus kulakukan? Kuambil jaket dan syal yang tergantung di lemari depan kemudian pergi meninggalkan rumah. Aku berjalan ditengah keramaian kota menuju ke area pemakaman, tak lupa membeli beberapa barang untuk mereka. Ya, mereka yang kumaksudkan adalah keluargaku. Selama ini aku sering menghabiskan waktu bersama sesuai keinginan mereka, di tempat ini. Orang-orang sekitar menganggapku mengalami gangguan jiwa karena itu, tapi aku tidak peduli.
"Ayah.. Ibu.."
". . . ." Sunyi.
"Yo, Lass.."
". . . ." Sunyi.
"Bagaimana keadaan kalian?" Kuletakkan rangkaian bunga didepan nisan ayah dan ibu.
". . . ." Sunyi.
"Aku di sini baik-baik saja."
". . . ." Sunyi.
"Oh ya, Ini Pudding's Burger kesukaanmu. Sudah lama kau tidak merasakannya kan?" Kuletakkan sebungkus burger hangat yang baru saja kubeli didepan batu nisan milik Lass.
". . . ." Sunyi.
Aku memakan burger yang satu lagi di sampingnya, kemudian... Aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Karena itu aku berpamitan pulang, tapi..
"Selamat sore.." Seseorang bertubuh besar dengan pakaian acak seperti gelandangan, membawa tongkat kayu dan mengenakan topeng putih bergaris merah menghalangi jalanku.
"Selamat sore." Jawabku datar.
"Tak kusangka masih ada pengunjung malam-malam begini." Katanya lagi. Aku hanya diam.
"Siapa yang kau kunjungi, nak?" Tanyanya lagi dengan ramah.
"Bukan urusanmu." Jawabku lagi dengan dingin.
"Ckckck.. tidak baik menjawab seperti itu. Aku kan bertanya baik-baik." Protesnya. Aku diam, aku teringat ketika ayah menghajarku karena bersikap seperti ini saat pertama kali dikenalkan pada ibu baruku.
"Keluargaku." Akhirnya menjawab.
"Semua?" Aku mengangguk kecil.
"Kasihan.. Kau pasti kesepian." Dia mengusap kepalaku. Ah, betapa kurindu ketika ibu melakukannya padaku.
"Jangan menangis. Bagaimana kalau kuhidupkan mereka kembali agar kau tidak kesepian lagi?" Hah? Menghidupkan kembali?
"Kau bisa melakukannya?" Tanyaku penuh harap.
"Ya tentu." Jawabnya percaya diri.
Aku tahu, menghidupkan yang sudah mati itu tidak mungkin. Apakah dia hanya membual? Tapi orang ini tampaknya begitu yakin kalau dia bisa melakukannya. Bagaimana? Haruskah kuterima atau tidak?
"Bagaimana, nak?"
". . . . Tolong hidupkan keluargaku lagi.. Hanya Lass saja sudah cukup, aku tidak mau meminta yang berlebihan." Jawabku dengan yakin. Demi bisa melihat mereka kembali, biarpun melanggar hukum kehidupan sekalipun.. akan kulakukan!
"Hohoho.. baiklah.. tapi pertama-tama kau harus mengeluarkan tubuhnya dari dalam sana."
Aku mengangguk mengerti. Segera kuambil cangkul terdekat yang bisa kutemukan untuk menggali.. menggali.. dan menggali.. Setelah beberapa meter dalamnya dan otot-otot di tubuhku sakit aku mendengar suara kayu yang terketuk oleh besi. Dengan tangan kugali sisa tanah yang menutupi peti kayu berwarna putih yang digunakan sebagai tempat tidur abadi bagi adikku itu. Belum sempat aku membukanya orang tadi menahanku. Dia mengarahkan tongkat kayunya ke arah peti dan asap berwarna hitam keunguan muncul menyelimutiku dan peti di bawahku.
"Sekarang kau bayangkan dia, kau bayangkan sosoknya, suaranya, segala tentangnya." Aku melakukan seperti yang diperintahkannya. Semakin ku mengingatnya dadaku semakin sesak rasanya.
"Kau ingin bertemu dengannya kan? Panggil dia!" Perintahnya.
"Lass..." Gumamku.
"LEBIH KERAS!"
"LAAAAASSS!" Teriakku kencang hingga menggema di area pemakaman tersebut. Tiba-tiba sebuah bola pijar putih turun dari langit dengan sangat cepat memasuki peti. Apa itu? Apakah itu roh Lass?
"Nah sekarang bukalah dan bangunkan dia." Kata orang itu. Aku mengangguk lalu dengan susah payah membuka tutup peti yang cukup berat itu ke samping. Aku benar-benar takjub, tubuh Lass masih utuh, tidak ada tanda-tanda adanya kerusakan pada jasadnya padahal seingatku sebagian tubuhnya hangus terbakar dalam kecelakaan tempo hari.
"Lass.. Lass... bangun.." Aku mengguncangkan tubuhnya pelan. Ia membuka mata, menatapku dengan mata azurenya yang kusam tak bercahaya.
"Ka-kak? Kaukah itu?" Tanyanya dengan ekspresi datar. Aku mengangguk sambil membantunya keluar dari dalam lubang.
"Tempat ini.. gelap sekali.. ini bukan Highland.." Gumamnya sambil melihat sekitar.
"Highland? Kau bicara apa?" Tanyaku bingung.
"Kalau kakak di sini berarti ini.. Ernas?" Tanyanya setelah mengobservasi lingkungan sekitar.
"Ya, ini Ernas.. Lass, aku senang kau kembali." Spontan aku memeluknya namun tiba-tiba dia mendorongku sangat kuat hingga aku terjengkang beberapa meter ke belakang.
"Kenapa kau lakukan ini?" Ia menatapku dengan pandangan kosong.
"Apa gunanya aku hidup kembali bila aku tak dapat merasakan apapun?" Tambahnya dengan nada tinggi, namun tanpa nada dan emosi.
"A-aku.. ugh.." Tiba-tiba kepalaku terasa sakit luar biasa hingga aku harus menggunakan tanganku untuk menahannya. Tubuhku serasa seperti terbakar.. tercabik cabik oleh pisau yang tajam.
"Fufufu... Jiwa anak ini sudah menjadi milikku." Kudengar orang itu bicara.
Setelah rasa sakit itu mereda aku membuka mata kembali. Kulihat kedua tanganku dengan tatapan tak percaya. Warna kulitku memudar, sangat pucat seperti mayat. Kuraba telingaku juga tumbuh meruncing.
"Apa yang terjadi padaku?" Tanyaku setengah panik akan perubahan fisik yang mencolok pada diriku.
"Apa aku belum memberitahumu? Oh, sepertinya belum ya?" Orang itu tersenyum licik.
"Itu ganjarannya jika kau membangkitkan kembali seseorang yang telah mati!" Tambahnya.
Ternyata benar, aku telah dijebak. Dia mempermainkan perasaanku. Dia.. Dia hanya memanfaatkanku untuk melakukan ritual necromancy itu. Betapa bodohnya aku. Ia menunduk, menjajarkan kepalanya setinggi kepala Lass.
"Sekarang perintah pertamaku padamu.. BUNUH.. DIA..!"
Lass diberi sebuah pedang berwarna merah dengan model yang aneh dan menakutkan. Ia berjalan mendekatiku sambil menarik keluar pedang itu dari sarungnya. Aku hanya diam menatap seorang yang dulu begitu dekat kini menjadi jiwa terperangkap, karena diriku yang egois. Aku tersadar dari lamunanku setelah ia berhenti dihadapanku lalu mengangkat pedangnya tinggi.
"Kakak.. Lari!" Rintihnya sebelum kemudian menyayunkan pedang kearahku.
Aku dapat menghindarinya kemudian berlari secepatnya menuju pintu keluar. Tapi Lass lebih cepat dariku. Entah sejak kapan dia sudah berada di depanku lengkap dengan pedang yang siap ditarik keluar kapan saja. Karena aku berlari terlalu kencang, aku mengalami sedikit masalah untuk mengurangi kecepatan dan..
"UAAAARGH!"
Untuk sesaat rasanya seperti tersengat, tapi sesaat kemudian rasanya sakit luar biasa. Aku tidak bisa merasakan lengan kiriku. Merah.. semuanya merah.. tubuh, juga sekitarku dan Lass. Kulihat potongan lengan tergeletak di tanah, dengan tatapan horor aku sadar bahwa itu adalah lenganku. Aku jatuh berlutut sambil masih terus menggenggam pangkal lenganku yang tak mau berhenti mengeluarkan darah sementara Lass sudah siap menghunuskan pedangnya padaku. Aku tidak punya kekuatan untuk melawan, jika memang hidupku akan berakhir di sini maka..
"FIREBIRD SPLASH!" Ribuan kalelawar berterbangan mengusik Lass dan orang itu. Mereka sibuk menyingkirkan kalelawar yang mengerubungi mereka dari berbagai arah. Tiba-tiba saja seorang wanita muncul entah kapan dan darimana membuat bola-bola hitam dan bersamaan melemparnya ke Lass hingga ia terpental jauh dariku.
"Asmodian.." Gumam orang itu kemudian melarikan diri bersama Lass.
"Tunggu! Cih.. dia kabur lagi.." Decih wanita itu kesal kemudian mengarahkan pandangannya padaku. Warna kulit semu ungu, rambut pink, tanduk dan tiga duri tumbuh di kepalanya dan.. apa-apaan pakaiannya yang super terbuka itu?!
"Newborn.." Panggilnya. "Kau ikut denganku." Perintahnya padaku.
.
"Ini dimana?" Tanyaku ketika kami berjalan di sebuah kota yang gelap dan berlangit merah. Perasaanku tidak nyaman karena setiap orang bertanduk yang berpapasan dengan kami melihat, memperhatikan dan berbisik dengan yang lain.
"Elyos. Tempat kami para pengantar jiwa atau lebih dikenal dengan pencabut nyawa di duniamu tinggal." Jawab wanita itu santai sambil melayang menuju tempat yang tidak kuketahui. Sebuah kastil yang megah dan menyeramkan berdiri kokoh dan aku harus mengikutinya ke dalam sana.
"Ley, siapa yang kau bawa itu?" Tanya seorang bertanduk lainnya dengan rambut berwarna ungu anggur, bermata sama dan.. berpakaian yang juga terbuka. Mungkin memang budaya mereka ya?
"Oh, Dia korban lainnya. Necromancer Lich melakukannya lagi."
"Cih! Bedebah itu." Mata ungu tajamnya menganalisaku dari ujung kaki hingga ujung kepala, kemudian pada panggal lengan yang sedaritadi masih kupegangi. Cukup lama dia menatapku dengan tatapan maut sebelum kemudian menepuk pundakku dan berbisik.
"Aku melihat potensi dan ambisi dalam dirimu. Kalau kau mau, aku punya tawaran yang menarik. Temui aku diluar setelah kau selesai bertemu Demon Lord." Kemudian dia berjalan melewatiku begitu saja.
Pembicaraan yang membosankan. Seorang yang disebut-sebut sebagai Demon Lord itu hanya melemparkan simpatinya lalu menawariku untuk tinggal di tempat aneh ini. Ugh.. aku tidak butuh. Yang kuinginkan hanya hidupku dan keluargaku kembali. Mahluk tadi membuatku penasaran, dia bilang aku memiliki potensi.. potensi untuk apa? Disinilah aku, berdiri di luar kastil dengan balutan perban di pangkal lengan kiriku.
"Heh.. Sudah kuduga kau pasti akan datang." Ujar seseorang dari balik bayangan batu besar. Oh ternyata dia.
"Ikut denganku." Perintahnya sambil berjalan mendahuluiku. Kami berjalan kembali menuju kota, uh.. betapa aku benci tatapan orang-orang itu padaku.
"Namamu?" Aku tersentak dari pikiranku ketika mendengar suaranya.
"Rufus.. Wilde.." Gumamku merespon.
"Rufus... Pertama kuucapkan selamat atas keberhasilanmu berubah menjadi demon, anak terkutuk." Tambahnya dengan nada datar dan tajam. Aku hanya diam. Demon.. itu berarti aku sekarang adalah iblis. Jika aku iblis maka.. aku tidak bisa bertemu kembali dengan mereka. Dan bagaimana dengan Lass? Necromancer itu menculik jiwanya.
"Siapapun yang kau bangkitkan, apa kau mau membebaskannya?" Tanyanya tiba-tiba. Membebaskan?
"Apa itu bisa?" Tanyaku penuh harapan.
"Heh, itu adalah tawaran yang tadi mau kuberikan padamu. Tapi pertama-tama.." Dia berhenti. Aku mendongak untuk melihat sebuah toko kecil dengan etalase yang memajang.. potongan tubuh?!
"Apa yang mau kau lakukan padaku?" Tanyaku panik. Dia berhenti ketika memegang kenop pintu kemudian berbalik menatapku.
"Mencarikanmu lengan baru." Oh.. tadinya kupikir dia mau memutilasi dan menjualku di sini.
Kami memasuki toko tersebut. Seorang pria tua berjenggot putih (dan bertanduk juga pastinya) menyambut kami.
"Hoo.. Jadi kau demon yang baru lahir semalam dan kehilangan lenganmu oleh serangan anak buah necromancer itu. Aku akan memberi sedikit keringanan padamu kalau begitu." Kata pria itu kemudian mengambil sebuah kotak berisi lengan yang memiliki garis pola aneh terukir di atasnya.
"Aku akan memasangkan ini padamu, tapi sebelumnya kau harus tahu kalau benda ini akan mengkonsumsi jiwa manusiamu hingga nanti kau akan menjadi sepenuhnya demon. Jika kau sudah menjadi demon seutuhnya kau tidak akan bisa lagi membuka jalan menuju Highland." Jelasnya panjang lebar.
"Aku tidak peduli. Asalkan aku bisa membebaskan adikku dari penyihir itu."
Pria itu mengangguk lalu mengajakku ke ruang dalam. Ia menyuruhku untuk membuka perban dan meletakkan pangkal lenganku ke atas meja sementara ia mengambil sebuah batu berwarna biru muda yang menyala. Kemudian dipasangkannya lengan palsu tadi ke lenganku dan meletakkan batu berpendar di ukiran bulat yang ada di punggung tangan palsu tersebut. Batu itu bersinar semakin terang dan mulai meleleh mengisi alur-alur ukiran yang ada hingga mencapai perpotongan antar lengan. Rasanya terbakar. Api berwarna biru berkobar di lenganku. Aku berusaha menahan teriakanku hingga akhirnya api tersebut padam, menyisakan ornamen biru unik di lengan baruku. Aku mencoba menyentuhnya, lentur seperti lengan sungguhan. Kucoba menggerakkannya, masih sedikit kaku. Aku tidak bisa benar-benar merasakan sentuhan dengan lengan ini, tapi setidaknya lebih baik daripada tidak memiliki lengan.
Sejak hari itu, aku tinggal beberapa bulan di Elyos untuk mengasah kemampuanku. Dari seluruh senjata yang ditawarkannya aku memilih sepasang pistol dan sebuah belati. Prestasiku yang jauh diatas rata-rata membuatku terkenal sebagai hunter dan suatu hari Demon Lord mempercayakan sepasang pistol paling berbahaya kepadaku. Mereka menyebutnya 'Judgement', salah satu senjata yang dapat memusnahkan jiwa. Mereka bilang selain 'Judgement' masih ada dua lagi yaitu 'Seal', sebuah kubus yang sekarang berada di tangan demon pengatur dimensi ruang dan waktu, dan terakhir 'Infernal', sebuah pedang yang sampai sekarang belum bertuan. Aku pun segera kembali ke Ernas untuk memulai pencarian terhadap penyihir itu.
Beruntungnya penampilanku tidak seperti demon-demon Asmodian itu sehingga aku dapat dengan mudah berbaur dengan manusia. Ternyata banyak hal telah terlewatkan sejak kejadian itu. Orang-orang mengira aku dimangsa oleh hewan buas setelah menemukan potongan lengan di pemakaman yang dekat dengan hutan itu. Itu artinya keuntungan bagiku untuk lebih leluasa bergerak kapan saja tanpa ada yang mengenaliku. Aku mencari informasi tentang keberadaannya selama bertahun-tahun tapi hasilnya nihil. Suatu hari aku berpikir, kalau pun aku berhasil membebaskan adikku aku tidak akan bisa bertemu kembali dengannya yang pasti kembali ke Highland, sementara aku? Sudah seratus tahun berlalu tapi aku bahkan masih terlihat seperti seorang berumur tujuhbelas tahun. Kira-kira berapa lama masa hidup seorang demon? Aku pun mulai mencari cara agar dapat membuka jalan pengampunan selagi terus mencari keberadaan penyihir itu. Saat itulah aku bertemu dengan seorang pastur muda berambut pirang panjang dan berkacamata. Dia memberitahuku untuk menolong jiwa-jiwa tersesat agar dapat berpulang ke dunia atas, dari situ aku dapat mengumpulkan 'fragment of soul' yang mereka tinggalkan untuk ditukarkan tiket masuk ke dunia atas.
Seratus tahun lagi telah berlalu. Pastur yang dulu menjadi teman baikku itu sudah mendahuluiku ke dunia atas. Fragment of soul yang kukumpulkan masih kurang dari cukup. Aku juga belum menemukan keberadaan penyihir itu dan jiwa-jiwa yang diculiknya. Namun akhir-akhir ini aku mulai merasakan gejala penolakan terhadap benda-benda berbau religius. Perjalananku masih panjang. Umurku masih panjang. Tapi kurasa tubuh ini sudah.. tak sanggup lagi. Apakah aku masih bisa bertahan sampai saat itu tiba?
.
Author : Satu chapter penuh flashback kehidupan Rufus.. dan debut kehadiran Ley dalam fanfic ini~
Ley : Akhirnya.. yak, Re:reviewnya please~
Lime : Untuk Eureka Cross.. sankyu.. dan kata-kata indah apa yang kau maksud? O.o
Rin : Untuk Demonic Twilight Aggressor.. wah, hallo salam kenal.. ^^
Zero : Kurotori Rei.. aku di sini.. *angkat tangan*
Lass : Yo! Omatase.. :)
Rufus : Aku dari awal sudah tahu kalau Lass adikku, AkaneMiyuki.. Cuma dia saja yang gak sadar.. =_=
Lass : Huh? Kau bilang sesuatu?
Rufus : Lupakan..
Rin : Untuk Ester.. Author bilang gak bisa janji kapan akan update, kerjaan kantor menumpuk..
Lass : Kuakui kemarin itu cukup berdarah tapi.. yang kau makan itu sedikit menjijikkan Dere Dere 02.. =_=
Jin : Shirokawa Hazuki.. aku merindukanmu.. T.T
Rin : Untuk mikicnc.. soal itu masih "rahasia".. no spoiling~ dan selamat bergabung di FFn~ ^_
Author : Sebelum penutupan author punya berita duka bagi player, reader, dan semua pecinta Grand Chase. Pada tanggal 10 Maret 2014 Megaxus Indonesia dengan berat hati menyampaikan bahwa layanan game online Grand Chase Indonesia akan diberhentikan. Huhuhu.. Ru masih belum bisa merelakan Rufus dan Lass yang sudah Ru besarkan sepenuh hati untuk berpulang ke KGC... T^T
All : *sweatdrop*
Lass : Sudah abaikan dia..
Rufus : Last eps : Suffering Soul.
