Berita 30 tahun silam..

Kabar mengejutkan datang dari keluarga bangsawan Namikaze. Putra mereka, Namikaze Naruto dikabarkan menghilang dari rumah tepat saat hari pernikahannya. Tidak ada yang tahu dimana keberadaan pemuda manis berusia 18 tahun itu. Terakhir kali terlihat, Naruto memakai baju gaun pengantin miliknya.

Calon suami korban, Sabaku Gaara juga tidak tahu soal keberadaan sang calon istri. Naruto seperti hilang ditelan bumi. Bahkan, Inuzuka Kiba (19 tahun) sahabat korban pun juga tak tahu keberadaan sang sahabat.

.

.

.

We Are Too Different

Pairing : Sasunaru

Genre : Romance/Fantasy

Rating : T

Warning : OOCness, Typo(s), Sho-ai

Masashi Kishimoto(c)

THE CORPSE BRIDE 2005(c)

.

.

.

Sasuke's POV

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku disini. Yang jelas, rasanya terasa lama aku disini. Bersama dengan makhluk aneh yang bahkan aku sendiri juga tidak mengerti kenapa bisa aku berada ditengah-tengah makhluk zombie itu. " aku harus pergi..tapi bagaimana?" Tanya ku, pada diri ku sendiri. Ayo berpikir Sasuke! Gunakan otak jenius mu ini! Ku mohon!

" ini sulit..ini sulit...sial" umpat ku, kesal.

Bagaimana bisa otak ku lemot disaat aku benar-benar membutuhkan ide, hah? Khhhh—ini menyebalkan.

" Sasu—Teme"

Itu..

Suara cempreng itu adalah milik hantu tak bergender yang mengaku adalah istri ku. Dia sudah pulang rupanya. "ne, teme" seperti biasa, Naruto menembus pintu kamar mereka dan melayang mendekati ku yang sedang berdiri di depan jendela besar kamar kami. Naruto memeluk manja tubuh tinggi ku. "ne, teme.. kau lapar tidak? Aku membuatkan sup tomat untuk mu,lho" katanya. Aku menghempaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggang ku.

"lepaskan!" bentak ku.

.

.

.

Normal POV

" lepaskan!" bentak Sasuke.

Naruto melepaskan pelukannya dan berdiri tepat disamping Sasuke. "aku kan hanya khawatir karena kau belum makan seharian" kata Naruto, kemudian sosok nya menghilang dan meninggalkan Sasuke yang tetap diam pada posisinya.

.

.

.

Sedangkan di dunia manusia, para butler keluarga Uchiha pun sibuk mencari keberadaan putra bungsu pasangan FugaMiko itu. Sosok tegap berwajah tampan itu seperti hilang ditelan bumi. Tak ada jejak yang tertinggal. Mengetahui putra bungsu nya menghilang, Fugaku jatuh sakit dan membuat Mikoto khawatir dengan keadaan sang suami.

" bagaimana?" Mikoto yang sedang duduk di ruang tamu pun segera beranjak ketika melihat putra sulungnya sudah kembali dari pencarian sang adik. Itachi hanya diam dan berlalu meninggalkan sang ibu dengan wajah yang kecewa. Tak perlu mengatakannya, Mikoto sangat tahu apa yang terjadi dengan putra sulungnya.

"Itachi..Itachi..bagaimana? bagaimana, apa Sasuke sudah—" Kyuubi menghentikan ucapannya, ketika Itachi berlalu mendahuluinya dan segera masuk ke dalam kamar mereka. Kamar mereka yang tidak jauh dari ruang tamu membuat Kyuubi bisa langsung melihat keadaan ibu mertuanya. Mikoto terlihat sedih. Sepertinya ia sudah tidak memiliki harapan lagi untuk putra bungsunya kembali ke rumah.

" mama" suara si kecil Hana membuyarkan lamunan wanita bersurai merah layaknya cabai habanero itu. " ada apa, Hana-chan?" Tanya Kyuubi, sifat Tsundere nya benar-benar berubah jika saja di depan putri semata wayangnya, Uchiha Hana. "ada apa dengan papa? Kenapa papa diam caja?" Tanya balita bersurai raven itu. Kyuubi mengangkat tubuh kecil Hana dan mengecup singkat kening si kecil. "tidak ada.. ayo, kita tidur" ajak Kyuubi, mengingat jika hari sudah semakin malam.

.

.

Dunia Hantu..

" ku dengar kau memanggil ku, ya? Ada apa?" Tanya Naruto, baru saja tiba di kamar miliknya dan juga Sasuke. Pemuda Uchiha itu tersenyum dan menarik pergelangan tangan Naruto untuk duduk disampingnya. Naruto pun mendudukan dirinya disamping Sasuke yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.

"kita suami istri, kan?" Tanya Sasuke,seraya menyentuh lembut tangan Naruto. Rona merah terlihat jelas di wajah pucat Naruto. "l..lalu?" Tanya Naruto, berusaha keras menyembunyikan rasa malunya. Sasuke menahan tawa, ketika melihat tingkah Naruto. "kita belum pernah menghabiskan waktu bersama" kata Sasuke, menyentuh lembut surai pirang pucat milik Naruto. Begitu halus dan lembut, Sasuke sedikit aneh, kenapa bisa rambut Naruto masih terasa selembut rambut anak-anak? Apa nama shampoo yang dipakai oleh para hantu, sih? Pikir Sasuke.

Sasuke sempat terpesona dengan kelembutan rambut pirang milik Naruto. " Teme, apa yang kau lakukan? Kau menjambak rambut ku!" Protes Naruto, menggembungkan pipinya pertanda kesal pada sang suami. " kenapa? Kau tidak akan merasakan sakit kan, meskipun aku menyakiti mu berkali-kali? Kau ini kan hantu, mana mungkin merasakan sakit" sahut Sasuke.

Naruto terdiam, tak menyahut. Biasanya ia akan menyahuti ucapan Sasuke yang sering membuatnya kesal. Tapi, kali ini ia tidak merasa kesal. Sasuke menghentikan aksinya menjambak rambut Naruto, ketika merasakan atmosfir yang berbeda dari biasanya. "oi, dobe" sapa Sasuke. " apa?" Tanya Naruto. "mati itu seperti apa?" Tanya Sasuke, menyimpang dari pertanyaan yang hendak ia tanyakan pada Naruto.

"mati itu tidak enak.. kau tidak bisa bersama dengan orang yang kau cintai, impian mu terenggut paksa dari mu, itulah rasanya mati" jawab Naruto. Sasuke terdiam, dalam hati ia bertanya-tanya perihal impian sosok pirang disampingnya itu. "kau punya impian, teme?" Tanya Naruto. "entahlah, sejak kecil, impian ku sudah menjadi impian ayah ku. Apa yang ayah impikan itulah impian ku" jawab Sasuke, sedih mengingat sang ayah dan juga keluarganya di rumah.

"begitukah?" Tanya Naruto.

"bagaimana dengan mu, apa impian besar mu?" Tanya Sasuke, berbalik bertanya pada Naruto. Naruto menoleh ke arah Sasuke. "setiap orang punya impian masing-masing,Sasuke" Naruto berkata. "impian ku sejak kecil itu hanya menikah.. aku ingin menikah dan hidup bersama keluarga ku..melahirkan putra yang lucu, dan melayani suami ku sepulang bekerja" Lanjut nya.

"kau..kau kan laki-laki, mana mungkin melahirkan" sahut Sasuke, hampir saja tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Naruto. "kau tidak mengerti.. sejak kecil aku memang terlahir berbeda dari anak laki-laki biasanya.. mungkin kau mengira aku tidak normal, well, aku memang tidak normal, dan tidak akan pernah menjadi normal" ujar Naruto.

" jika tak ada yang ingin kau sampaikan lagi, lebih baik kau tidur... besok para tetua hantu akan kesini" Naruto beranjak dari duduknya dan melayang pergi menjauhi Sasuke.

.

.

.

Skip time..

Berita menggemparkan terjadi di dunia manusia. Ditemukan mayat seorang pemuda menggantung di atas pohon besar. Itu adalah mayat Rock Lee, pemuda supel dan ceria itu meninggal dunia tanpa ada yang tahu apa motif kematiannya. Butler yang bekerja untuk keluarga Uchiha itu memang sering terlihat melamun akhir-akhir ini. Apalagi, berita pernikahan kekasihnya Haruno Sakura beredar hangat di masyarakat.

Mungkin itulah yang membuat dirinya patah hati dan lebih memilih mati dibandingkan harus melihat kekasihnya menikah dengan orang lain. Pemuda yatim piatu itu pun segera dimakam kan, dengan dihadiri kerabat-kerabat terdekat, termasuk Sakura yang sempat tak sadarkan diri mengetahui kematian kekasihnya. Dunia ini terasa tak adil bagi gadis bersurai bubble gum itu.

Untuk kekasih ku, Sakura..

Maaf, aku tidak bisa menepati janji ku pada mu, Sakura. Kau mungkin akan menyebut ku pembohong dan pecundang setelah mengetahui apa yang terjadi. Kau tahu? Ini sulit bagi ku. Kau tahu bagaimana kondisi ku kan? Aku hanya seorang butler dan kau adalah gadis terpelajar dan tidak lah pantas jika kau bersanding dengan ku. Ibu mu benar, aku hanya akan membuat mu menderita jika kau hidup bersama ku. Aku hanya seorang yatim piatu, aku bukan apa-apa tanpa bibi Mikoto dan paman Fugaku yang membolehkan aku untuk tinggal dan bekerja di mansion besar ini. Bibi Mikoto sudah sangat membantu ku, Sakura. Tidak mungkin kalau bibi harus membantu ku untuk bersama mu. Tetaplah tersenyum, bunga musim semi ku! Kau harus bahagia walaupun aku tak lagi bersama mu.

Dengan cinta

Lee

Sakura memeluk erat tubuh Kyuubi yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya sendiri. Ia merasa sedih dan menyalahkan dirinya atas kematian pemuda itu. Kyuubi dan Ino berusaha untuk menghibur gadis yang lebih muda 1 tahun dari mereka. Betapa mirisnya perjalanan cinta gadis Haruno itu. Lagi-lagi ia harus menelan cemooh dari masyarakat yang iri dengan dirinya.

.

.

.

Dunia hantu..

Kembali lagi ke dunia hantu, terlihat Naruto dan Sasuke yang sedang berdiri menghadap para tetua hantu yang bersiap mengadili mereka. Tetua hantu itu menatap tajam keduanya. "Naru-hime..anda tahu apa kesalahan yang anda perbuat?" Tanya sang pemimpin hantu, dengan suara tegas nan menusuk. Para maid dan butler tak ada yang berani membela mereka. Naruto menganggukan kepalanya. "Pernikahan akan berakhir, dimana salah satu diantara kalian mati.. dan anda, Naru-hime!—" pemimpin hantu itu menjeda kalimatnya dan menatap tajam ke arah Naruto.

" kematian adalah salah satu dari bagian anda.. tentu saja saat ini anda bukan lagi istri dari Uchiha Sasuke yang notabene adalah seorang manusia yang masih hidup! Itu sungguh menyusahkan kami dan melanggar aturan dunia hantu" lanjut sang pemimpin. Mendengar penjelasan sang pemimpin hantu, hati Sasuke terasa senang karena ia bisa kembali ke alam manusia dan melanjutkan hidupnya dengan damai.

" tapi—" ucapan gantung terdengar dari salah satu dewan tetua hantu yang juga ikut mengadili Naruto. " pernikahan bisa dilanjutkan jika kalian mengulangi pernikahan kalian di dunia hantu, dengan begitu, kalian akan menjadi sepasang pengantin dan menjadi mate abadi hingga kiamat tiba" lanjutnya.

Naruto dan Sasuke saling berpandangan. Membuat semua yang ada di ruangan tersebut berpendapat jika keduanya bersungguh-sungguh untuk hidup berdampingan selamanya. " Tapi, Uchiha Sasuke harus mati dan baru lah kalian bisa menjadi pasangan hingga hari akhir" ujar sang pemimpin.

Sebuah ide muncul di kepala Sasuke. Ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Mungkin nantinya ia akan membuat hati sang blonde terluka. Namun, tentu saja ia tetap tidak peduli. " aku bersedia mati untuknya" dusta Sasuke.

Naruto terkejut mendengar perkataan Sasuke. Para tetua pun mengangguk dan menghilang menjadi abu bersamaan angin yang berhembus melalui pintu yang terbuka lebar. Ruangan pun menjadi gelap dan hanya ada mereka berdua di sana. " kau yakin?" Tanya Naruto. "hn, begitulah" sahut Sasuke. Naruto bersorak senang dan melompat kesana-kemari. Melupakan Sasuke yang juga berada bersama dirinya. "oh, aku lupa" Naruto menarik tangan Sasuke dan mengajak pemuda tampan itu untuk berlari bersama dirinya.

.

.

Sekarang, disinilah mereka berdua berada. Disebuah hutan dimana pertama kalinya Sasuke menginjakan kakinya dan bertemu dengan Naruto. Sasuke menyeringai dan merutuki kebodohan Naruto. "aku senang...ku senang...lalalalalalalala ͂" Naruto terus menari, dibawah sinar rembulan. " ku senang.. dan aku senang—"Naruto terus bersenandung..

BRUUKK..

Senandung dibibir mungil Naruto terhenti ketika kaki kanannya yang hanya tinggal tulang terperosok ke dalam tanah dan membuat tulang tersebut patah kemudian membuat si hantu manis itu terjatuh ke tanah. " aww" ringis Naruto. Tanpa malu-malu, Naruto bangun dan mengambil tulang kakinya yang patah dan merekatkan kembali pada tempat semula. Kemudian, ia kembali menari dan mengitari tubuh tegap Sasuke.

Sasuke pun menangkap tubuh Naruto dan mendudukan pemuda bertubuh mungil itu dipangkuannya. " aku janji akan memperkenalkan mu pada keluarga ku, tapi kau harus menunggu ku di sini!" ujar Sasuke. Naruto memiringkan kepalanya, sehingga wajahnya terlihat menggemaskan dan hampir membuat Sasuke mimisan di tempat. " janji, sukehh!" Naruto mengacungkan kelingkingnya yang hanya tinggal tulang.

Sasuke tersenyum tanpa sadar. "janji.. aku akan segera kembali" kata Sasuke. Naruto tersenyum dan turun dari pangkuan Sasuke. Hantu bergaun pengantin itu pun mendudukan dirinya di atas batang pohon tua dan membiarkan Sasuke berlari menjauhi dirinya. "aku mencintai mu, Sasuke" ucap Naruto.

.

.

.

Sasuke terus berlari memasuki kawasan Kota. Harapannya saat ini adalah rumah, ia hanya ingin pulang dan segera bebas dari tawanan Naruto. Ia harus minta bantuan, supaya ia tidak terlalu lama terjebak bersama hantu pemuda berwajah manis dan abnormal itu. Sasuke mempercepat larinya, hingga ia tak sengaja menabrak seseorang sampai terjatuh. Sasuke terkejut ketika mengetahui bahwa Sakura lah yang ia tabrak.

" Sakura"

" Sasuke-san"

Keduanya saling memanggil nama satu sama lain. Tanpa aba-aba, Sasuke segera memeluk tubuh ramping Sakura. Gadis bubble gum itu terkejut bukan main. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. " S..Sasuke-san" Sakura berusaha melepaskan diri dari pelukan Sasuke. " ohh, syukurlah.. Sakura uhh, aku harap ini benar-benar kau. Dan, hey, kenapa kau ada diluar malam-malam begini?" Tanya Sasuke, sepertinya tinggal bersama Naruto telah membuat dirinya berubah total dan lepas kendali dari sifatnya yang pendiam dan jaim itu.

"ceritanya sangat panjang, Sasuke-san" jawab Sakura.

" apa maksud mu?" Tanya Sasuke, tidak mengerti dengan ucapan Sakura.

"sejak kau pergi, suasana di keluarga kita semakin kacau.. ayah ibu ku yang semakin gila harta meminta diri ku untuk menikahi saudagar-saudagar kaya lainnya.. sementara itu, keluarga Uchiha begitu berduka saat mengetahui hilangnya diri mu.. terutama paman Fugaku" jelas Sakura.

Sasuke membulatkan matanya ketika mendengar kabar bahwa sang ayah sangat mengkhawatirkan dirinya. Sulit dipercaya, karena selama ini ayahnya hanya memikirkan impiannya terhadap sang anak tanpa pernah memikirkan kedua putranya sama sekali. Ini membuat Sasuke sedih, karena telah membuat ayahnya jatuh sakit akibat ulahnya. " kau selama ini kemana saja, Sasuke-san?" Tanya Sakura.

"aku..sebaiknya ku ceritakan pada mu setelah kita tiba di mansion" sahut Sasuke.

.

.

.

.

Beberapa Hari Kemudian..

Naruto masih setia menunggu Sasuke di tempat dimana ia dan Sasuke bertemu untuk pertama kalinya. Ia masih memegang janjinya, untuk menunggu Sasuke di tempat tersebut. Dengan wajah polosnya, Naruto memperhatikan sekitar lingkungan ia berada. Teringat dimana Sasuke meminta dirinya untuk menanti kepulangannya. Malam ini, tetap saja Sasuke tidak kembali untuk menemui dirinya yang sudah beberapa hari lamanya menanti sang bungsu Uchiha itu.

"huhuhu—"

Naruto mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri ketika mendengar suara tangisan pilu seseorang. Naruto yakin, ia mendengar suara tangisan itu. Karena suara itu terdengar begitu keras seiring angin berhembus. Tatapannya terhenti pada sosok pemuda berambut mangkuk tengah duduk di atas batu besar sedang menangis tersedu-sedu. Yakinlah dirinya, bahwa sosok itu bukanlah bangsa manusia. Melainkan sosok yang sudah mati, sama seperti dirinya.

Karena kasihan, hantu polo situ pun melayang mendekati sosok pemuda tersebut. " hey" sapa Naruto. Sosok itu pun mendongakan kepalanya, dan sedikit terkejut ketika melihat Naruto. " tidak apa-apa, aku juga hantu! Sama seperti mu" Naruto menghibur sosok tersebut. Tanpa basa-basi Naruto pun mendudukan dirinya disamping pemuda itu. " kenapa kau menangis?" Tanya Naruto. Sosok itu pun menghentikan tangisannya, dan menoleh ke arah Naruto. "kekasih ku, dia akan menikah dengan orang lain.. dia akan menikahi seorang saudagar kaya" jawab pemuda itu.

"lalu, kenapa kau menangis? Kenapa kau tidak berusaha menahannya?" lagi, Naruto bertanya.

"orang tuanya tidak merestui hubungan kami.. mungkin, aku terlalu pengecut lari dari kenyataan dengan bunuh diri seperti ini. Tapi, aku benar-benar sangat menyesal dan aku masih sangat mencintainya.. nona hantu yang cantik, katakan pada ku, apa jalan yang ku tempuh itu salah?" si rambut mangkuk menggenggam jari-jemari Naruto. " jika kau mencintainya, lakukanlah hal yang menurut mu benar! Terkadang, seseorang yang jatuh cinta memang melakukan hal yang bodoh. Aku juga seperti itu.. orang yang ku cintai menyukai orang lain dan aku terus memaksanya untuk mencintai ku. Aku juga masih sering bertanya-tanya, apakah aku masih bisa merasakan patah hati, sekalipun jantung ku sudah berhenti berdetak? Tak ku temui jawabannya" Naruto menoleh ke arah lain, berusaha keras menutupi rasa kesedihannya.

" sekarang apa yang akan kau lakukan?" Tanya Naruto.

" aku ingin mengunjungi kekasih ku" jawab si pemuda mangkuk itu. " oh, iya.. nama mu siapa?" Tanya Naruto(lagi). " nama ku Lee, nama mu?" Lee balik bertanya. " Naruto, heheheh" senyum lima jari terlihat di wajah manis Naruto.

.

.

.

Taman belakang Mansion Uchiha..

" aku tidak berbohong pada mu! Mungkin ini sulit dimengerti, awalnya pun aku juga merasa begitu.. tapi percayalah Sakura, aku tidak berbohong" Sasuke berusaha meyakinkan Sakura. Gadis bersurai merah jambu itu terdiam, dan berusaha mencerna perkataan pemuda tampan dihadapannya itu. Ia juga masih terlalu bingung untuk mengerti keadaan semua ini. Keluarganya yang berencana membatalkan pernikahan dirinya dengan Orochimaru, saudagar kaya raya yang memiliki wajah yang begitu menakutkan, setelah mengetahui kepulangan Sasuke.

Dirinya yang masih dirundung duka cita, saat mengetahui kekasihnya, Lee tewas bunuh diri. Uchiha Sasuke yang notabene adalah calon suaminya yang meminta dirinya untuk membantu sang Uchiha menyelesaikan masalah abnormal yang sedang menimpa putra FugaMiko itu. Sial, bahkan rasanya Sakura ingin sekali lompat ke jurang saja jika begini caranya. " aku tidak tahu.. tapi, aku selalu mempercayai mu, Sasuke-kun" kata Sakura. Gadis itu memperhatikan kedua tangannya yang sedang digenggam erat oleh si bungsu Uchiha.

"ku mohon bantu aku.. aku menyukai mu, aku bersedia menikah dengan mu" oke, Sasuke mulai OOC saat ini. " a..aku" jantung Sakura berdegup kencang saat Sasuke memiringkan kepalanya dan hendak mendekatkan bibirnya ke bibir Sakura.

Namun, sesuatu di luar nalar terjadi..

" hentikan!" suara cempreng menghentikan kegiatan Sasuke. Sakura yang tadinya merasa berada di dekat Sasuke, sekarang merasa horror ketika melihat sosok pirang berwajah manis sedang berada tepat di tengah-tengah kedua nya. Sosok itu menyilangkan tangan ke dada, sambil menatap kesal ke arah Sasuke. " dasar buaya!" Naruto mencubit gemas bibir Sasuke yang sedikit monyong karena hendak mencium Sakura. "kau membuat ku menunggu 3 hari lamanya, hanya karena ini? Menyebalkan" Naruto merasa dibohongi oleh Sasuke.

"d..dia siapa?" Tanya Sakura, ketakutan melihat sosok Naruto yang hampir tak utuh lagi.

"aku? Aku istrinya" kata Naruto, menoleh ke arah Sakura.

"dan si buaya ini—kehhhh, kau benar-benar menyebalkan!" gerutu Naruto.

Buaagghh..

Sasuke yang merasa kesal pun akhirnya mendorong Naruto hingga hantu manis itu terjatuh ke tanah. Sakura terkejut ketika melihat Sasuke begitu kasar pada sosok mungil berparas manis itu. Naruto terdiam, masih tak percaya dengan apa yang Sasuke lakukan padanya. " kau..aku tidak pernah mau menikah dengan makhluk seperti diri mu! Kita berbeda, kau sudah mati, dan aku masih hidup! PERGILAH!" bentak Sasuke.

Naruto menundukan kepalanya dan melihat ke arah jari manisnya yang tinggal tengkoraknya saja. Ini menyakitkan, sangat menyakitkan. Ia pun bangkit dari posisinya dan pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura tanpa menoleh.

.

.

.

Sesampainya di istana hantu, Naruto langsung masuk ke kamar dan menangis. Ia tak percaya bahwa Sasuke akan berperilaku kasar padanya. Apa salahnya? Ia memang hanya seorang hantu. Tapi, tapi, kenapa ia masih bisa merasakan sakit yang sama seperti saat dimana ia hidup. Kenapa? Bahkan, keadilan tidak pernah berpihak padanya sampai ia mati.

Kejam..

Ini sangat kejam. Namun, kenapa Naruto masih belum bisa melupakan Sasuke? Juga, kenapa Naruto bisa jatuh cinta meskipun baru bertemu dengan pemuda itu? Apa nasibnya memang selalu seperti ini?

Sementara itu..

Para maid dan butler merasa kasihan ketika melihat sosok yang selalu ceria itu bersedih di dalam kamar besar miliknya. Mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh Naruto, meskipun mereka sama-sama sudah mati. Naruto adalah seorang pemuda yang berhak hidup(mati) bahagia. Tapi, kenapa nasibnya selalu seperti ini?

" kita harus menolongnya" seorang maid bersurai indigo memulai pembicaraan. Para hantu menoleh ke arah sosok hantu cantik pemalu itu. Tak biasanya, Hinata mau memulai untuk berbicara seperti itu. " Naru-hime pantas untuk bahagia" kini, sosok hantu bercepol dua ikut menambahi. Ia adalah sahabat dari Hinata. "benarkan Irie-chan?" Tenten bertanya pada sosok kecil bersurai coklat dengan iris lavender tanpa pupil. Dia adalah buah hatinya bersama hantu laki-laki yang tak lain dan tak bukan Hyuga Neji, kakak sepupu Hinata.

"tapi, bagaimana bisa? Kita kan hanya hantu" sahut hantu anak kecil, bernama Konohamaru.

"ya..kita hanya hantu..apa yang bisa kita lakukan" sahutan para hantu pun terdengar.

"HENTIKAN" seru Obito, yang sedari tadi diam.

Para hantu pun diam, dan menatap tak percaya pada sosok hantu bersurai raven itu. Sosok yang mereka kenal baik dan ceria itu terlihat tegas dan dingin, bahkan, ada yang tidak percaya bahwa itu adalah Obito. "Naru-hime sudah membantu kita dan kita harus membantunya! Dia, adalah orang yang pantas untuk bahagia! Kakashi dan aku akan pergi menemui tuan Sasuke. Kalian, jagalah Naru-hime" Obito berkata.

.

.

.

" aku serius, bu!" Sakura berusaha meyakinkan sang ibu. Mebuki masih tertawa tanpa henti. Ya, sejak Sakura bercerita mengenai Sasuke yang menikahi seorang hantu. Mebuki menganggap bahwa itu hanya akal-akalan Sakura saja untuk menolak dinikahkan dengan Sasuke. "hahahaha...kau tak perlu berbohong, sayang" tawa Mebuki. Sakura kesal melihat tingkah aneh sang ibu. " mau dia menikah dengan hantu,setan, jin, sekalipun aku akan tetap menikahkan diri mu dengannya" lanjut Mebuki.

Ruang tamu keluarga Haruno, terlihat ibu dan anak yang sedang bercerita. Namun, sepertinya hanya anaknya sajalah yang berbicara, sementara sang ibu terus tertawa, seolah putri nya sedang ber-stand up comedy dengan jenakanya. Lihatlah, bahkan Sakura terlihat begitu menyesal telah dilahirkan oleh sosok Haruno Mebuki.

" AKU BENCI IBU" Sakura beranjak dari duduknya, dan segera berlari menuju kamarnya. Mebuki menghentikan tawanya dan memandang putri tunggalnya yang berlari meninggalkan dirinya. "hahahahaha.. menikah dengan hantu" Mebuki melanjutkan tawanya.

"kau percaya itu?" tiba-tiba terdengar suara tepat disamping kanannya.

"tentu saja tidak" jawab Mebuki, dan menoleh ke arah kanan.

Ia hendak tertawa, namun ia terlalu terkejut untuk melanjutkan tawanya. Sosok pucat berambut mangkuk berada tepat di sampingnya. Rasanya ia ingin berlari, namun kakinya terasa dipaku di tempat sehingga menyulitkan dirinya untuk berlari.

"kau harus percaya, ibu mertua" kata Lee.

"HUWWWAAAHHHHHHH" teriak Mebuki.

.

.

.

Mansion Uchiha

Entah sudah berapa kalinya Sasuke tersenyum. Sejak kejadian di malam itu, ia merasa bebas dari Naruto. Ia sudah tak perlu lagi merasa khawatir untuk tinggal selamanya di dunia hantu. Di atas balkon kamarnya, Sasuke bisa melihat istana besar milik Naruto. Istana itu terlihat menyeramkan meskipun dilihat dari jarak sejauh ini. Sasuke menghentikan senyumnya ketika ia mengingat kejadian dimana ia mendorong Naruto dan berkata kasar pada sosok polos itu.

Pikirannya melayang, memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh si blonde di istana itu. Serasa seperti ribuan anak panah yang menikam jantungnya ketika tak sengaja matanya bertemu pandang ke sebuah jendela besar yang ia yakini adalah jendela kamar ia dan Naruto. Entah apa yang membuat dirinya merasa yakin jika itu adalah kamar sang blonde. " apa aku telah menyakitinya?" Tanya nya entah pada siapa.

"tentu saja kau menyakitinya! Jangan kira karena dia hantu sudah tidak bisa merasakan sakit, kau bisa menyakiti dirinya semau mu"

Sasuke yakin itu bukan suara nya atau pun suara Itachi. ia hafal betul suara baritone itu. Suara milik pamannya yang sudah mendiang 10 tahun yang lalu. Ia menoleh ke samping kirinya, dimana ia melihat sosok Obito sedang menatap datar istana tua dimana Naruto tinggal. "dia sakit, tuan Sasuke" kini suara pria dewasa lainnya terdengar jelas dari arah kirinya.

Sasuke hampir saja melompat saat melihat sosok Kakashi yang sedang berpose santai membelakangi dirinya. "k..kenapa kalian ada disini?" Tanya Sasuke. Pikirannya saat ini adalah, dimana Kakashi dan Obito menyeret dirinya untuk kembali ke istana itu. Sasuke pun menatap horror ke arah sang paman.

"kami tidak akan menyeret mu kesana, tenang saja!" seru Kakashi.

"kami hanya ingin memberitahu mu sesuatu yang harus kau ketahui, keponakan ku" sambung Obito.

Iris Onyx Sasuke membola begitu mendengar Obito memanggil dirinya dengan sebutan 'keponakan ku'.

"kau mengingat ku?" Tanya Sasuke.

Obito tertawa pelan dan mengusap lembut surai raven Naruto. "tentu saja.. bagaimana bisa aku lupa keponakan kesayangan ku, hm?" Obito menghentikan tawanya dan bersikap selayaknya dirinya ketika masih hidup. " 10 tahun yang lalu, saat Naru-hime membawa ku ke istana besar miliknya.. aku masih ingat saat itu, saat dimana para hantu memandang jijik ke arah ku yang berjalan menenteng kepala.. Naru-hime dengan senang hati mengajak ku tinggal bersamanya.. aku sangat bahagia ketika ia yang begitu baik pada ku.. namun, kejadian membuat diri ku terkejut, ketika aku merindukan masa lalu ku.. aku meminta izin padanya untuk membolehkan diri ku pergi ke mansion Uchiha untuk menjenguk keluarga ku. Naru-hime marah besar pada ku dan seluruh hantu yang tinggal di istana itu.. setelah Kakashi memberitahukan diri ku, barulah aku paham bahwa Naru-hime tidak suka siapapun di antara kami mengingat masa lalu kami semasa hidup, karena—"

"masa lalu Naru-hime terlalu menyakitkan untuk diingat" lanjut Kakashi.

"kalian mencoba membuat ku untuk kembali kesana dengan cerita seperti itu?" Tanya Sasuke.

Kakashi tersenyum dan mencabut pedang yang menembus dadanya. "tidak.. karena aku yakin kau akan kembali kesana atas kemauan mu sendiri" kata kakashi, seraya menyerahkan pedang miliknya ke arah Sasuke. "dan percayalah, bahwa apa yang kau rasakan di dunia manusia itu palsu!" Obito menyentuh pelan bahu Sasuke.

" aku tidak percaya" Sasuke menghempas tangan Obito dari bahunya. " kau akan membuktikanya sendiri" Ujar Obito.

Kemudian kedua hantu itu pun pergi meninggalkan Sasuke seorang diri dengan sebuah katana di tangannya.

.

.

.

Setelah didatangi oleh hantu Obito dan Kakashi, Sasuke pun segera pergi meninggalkan mansion Uchiha dan berlari menuju rumah keluarga Haruno. Ia ingin bertemu dengan Sakura dan ingin bertanya pada gadis merah jambu itu perihal perasaan yang ia rasakan saat ini. Tak peduli dengan tetangga sang Haruno yang memperhatikan dirinya dengan bola mata yang membesar, akibat sosoknya yang berlari hanya memakai piyama tidur dan juga sandal rumah bermotif tomat kesukaannya.

Ia mempercepat langkahnya dan ia pun tiba di halam asri milik keluarga Haruno. Dari jarak yang lumayan dekat, Sasuke bisa melihat suami-istri Haruno sedang berbincang-bincang di teras rumah di sore hari. Pemuda itu pun mengurungkan niatnya untuk menemui Kisazhi dan Mebuki, ia malah berlari ke samping rumah keluarga Haruno dan bersembunyi di semak berry rimbun yang tak jauh dari teras rumah keluarga Haruno.

"sedikit lagi, sayangku" ujar Mebuki.

"kau benar.. selanjutnya kita kuasai harta clan terhormat di kota kecil ini" sahut Kisazhi.

" kita tendang si tua Fugaku yang mulai sakit-sakitan itu.. lalu kita bunuh keluarga yang masuh tersisa" lanjut Kisazhi.

Sontak saja Sasuke terkejut mendengar pembicaraan suami-istri itu. "kau sudah dengar bukan?" seseorang bertanya padanya. Sasuke hampir saja berteriak kaget, saat melihat Sakura yang sudah berjongkok disampingnya. "itu sebabnya aku tidak mau menikah dengan mu" lanjut Sakura.

"sekarang pergilah.. karena kalau ayah dan ibu tahu, kau bisa dibunuh" pinta Sakura.

"tapi, bagaimana dengan mu, hah?" Tanya Sasuke, memelankan suaranya.

"kau tenang saja.. paman dan bibi sudah terlalu baik pada ku, aku tidak mungkin membuatnya menderita. Pergilah, Sasuke!" pinta Sakura.

.

.

.

*Ruang Bawah Tanah*

Sekembalinya ke mansion Uchiha. Sasuke menghibur dirinya di ruang bawah tanah seperti yang biasa ia lakukan ketika sedang galau. Pemuda itu mendudukan dirinya di bawah rak buku besar dimana buku-buku yang sudah tak terpakai disimpan. Ruangan itu adalah ruang bekas sang kakek semasa hidup, yang sering digunakan untuk bekerja.

Disana, Sasuke bisa menemukan perlatan kerja yang pernah digunakan oleh mendiang kakeknya. Pemuda itu menenggelamkan kepalanya ke dalam pangkuannya. Ia sungguh tak mengerti kenapa hal serumit ini bisa terjadi padanya. Ketika ia mendongakan kepalanya, tanpa terasa kepalanya menyenggol sebuah buku besar yang diletakan di dalam rak tersebut hingga rak itu terjatuh ke mengenai kepalanya sebelum pada akhirnya terjatuh ke dalam pangkuannya. "aww" ringisnya, seraya mengelus lembut kepalanya yang terasa sakit.

"buku sialan" rutuk Sasuke, seraya melempar buku tersebut ke arah lemari kaca besar hingga pecah. Buku itu pun terbuka bersamaan banyak nya foto-foto seseorang yang begitu familiar dengannya. Ia pun berjalan mendekati pecahan kaca tersebut untuk meneliti lebih jelas foto tersebut.

"N..Naruto"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N

Nee, terimakasih atas sambutannya.. aku jadi terharu, eheheheheh.. hmm, banyak yang Tanya soal ending. Eheheh, Ai juga gak ngerti mau ending yang seperti apa. Ai sih mau nya Happy Ending, berhubung sama cerita aslinya yang Sad Ending itu. Kalo Happy Ending, Ai masih Wishy-Washy nih, soalnya banyak banget alur happy ending yang sering muncul di otak dalam bentuk lain,. Tapi, kalo sad ending, tinggal si naru nya pasrah terus abis itu ngerelain Sasu married sama Saku. Tapi, pasti Readers kecewa. Kasih Ai saran,ne.. Please *PuppyEyesNoJutsu* #hoeekk *ReadersMuntahBerjamaah*

To All My Fav Senpai!

BIG THANKS..!

Amour-chan,Yuichi-senpai,Chika-senpai,FayRin Setsuna-senpai,IrmaSepti-senpai,YunRan-senpai,Himawari Wia-senpai,Heiwajiwa-senpai,Nona Shion,Uzumakinamikaze-senpai, ,Fatayahn-senpai. Dan senpai-senpai lainnya yang udah mau kasih Ai saran, kalau perlu, ne.. Saran yang lebih banyak ya, biar Ai bisa sukses jadi Author seperti kalian(

.

.

.

REVIEW(Please:D)