Sasuke's POV

"Naruto" aku terkejut begitu melihat foto hitam putih yang menggambarkan seorang bertubuh mungil memakai gaun dan tiara bunga-bunga di kepalanya. Sosok mungil bersurai blonde itu tampak cantik dengan senyum lima jari di wajahnya. Aku sangat ingat persis wajah si 'dobe' itu. Meskipun dalam bentuk hampir tak utuh, Naruto memang masih terlihat manis seperti semasa ia hidup.

Kenapa bisa foto-foto ini ada di ruangan mendiang kakek ku? Apa hubungan mereka berdua? Aku membuka halaman demi halaman di buku tebal yang hampir usang. Selembar halaman Koran yang di tempel menyambut kedua mata onyx ku.

Konoha, 24/07/19XX/

Hilangnya Putra Bangsawan Namikaze

Minggu ini kabar mengejutkan hadir dari keluarga bangsawan Namikaze. Putra bungsu pangeran Minato dikabarkan menghilang dari mansion megah Namikaze. Naruto Namikaze (18tahun) adalah calon istri dari bangsawan asal Suna, Gaara Sabaku. Tak ada yang tahu dimana keberadaan sosok manis itu. Pihak istana segera mengerahkan para angkatan bersenjata untuk menemukan pangeran Naruto.

"menghilang" gumam ku, setelah membaca lembar halaman Koran berwarna kecoklatan. Khas Koran-koran tempo dulu.

Sang Putra Mahkota Hilang Tanpa Jejak

Pihak Kerajaan di rundung duka. Pasalnya, putra bungsu Namikaze menghilang sejak 2 hari yang lalu, tepat saat hari pernikahannya. Pihak kepolisian pun angkat tangan karena tak berhasil menemukan sosok mungil itu. Putri Deidara dan Putri Karin syok mendengar berita menghilangnya adik bungsu mereka. (konoha, 27/07/19XX)

" Naruto menghilang, tidak! Dia tidak menghilang" aku kesal ketika membaca laporan tersebut. Dengan perasaan kesal, aku pun terus membuka halaman demi halaman. Hingga sebuah laporan pasien jatuh ke lantai. Aku mengernyitkan dahi ku. Aku memang ingat, bahwa dulu kakek ku adalah seorang dokter dari keluarga bangsawan Uchiha. Menurut cerita yang ku dengar, kakek ku adalah seorang dokter yang hebat.

Name : Naruto Namikaze

Date : 10 oct 19XX

Age : 17 years Old

Height : 160 cm

Weight: 45 kg.

Results report:

A rare disease of unknown about the cure. Prince suffered from a rare disease, prince has two reproductive organs. Where only a few people have it. Have not found causes it. However 25% chance of getting pregnant. If the egg is fertilized By sperm.

Iris onyx ku terbelalak lebar, ketika membaca hasil laporan itu. Hasil laporan milik Naruto saat menjadi pasien kakek ku. Jika dilihat dari tahunnya, ini terjadi saat 31 tahun silam yang lalu. Naruto adalah seorang hermaphrodite. Tidak, bukannya hanya hewan saja yang memiliki dua alat reproduksi? Setahu ku, jarang sekali ada manusia yang menderita hal ini. Meskipun sedikit dari 100 orang kemungkinan memiliki kejadian langka ini. Dan, aku tahu bahwa Naruto adalah yang termasuk. "surat" aku menemukan secarik kertas yang juga di tempel kan di salah satu halaman oleh kakek ku.

To : Madara Uchiha.

From : Naruto Namikaze

Yang terhormat, Madara-san..

Saya sangat sedih mendengar hasil laporan yang anda berikan. Saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya berharap anda bisa membantu saya mengobati penyakit kelainan yang saya miliki. Tolong rahasiakan hal ini agar pihak kerajaan tidak mengetahuinya.

Salam hormat

Naruto Namikaze

"siapa disana?"

Sasuke tersentak kaget saat mendengar suara seseorang bertanya. Ia pun menoleh ke arah pintu dimana sang ibu berjalan sambil membawa sebuah lentera yang menyala. Mikoto menghela nafas lega saat mendapati putra nya lah yang berada di ruang kerja mendiang sang ayah mertua. "Sasuke, sedang apa disini?" Tanya Mikoto, berjalan mendekati putra bungsunya.

Mikoto menutup mulutnya saat mendapati Sasuke menemukan sebuah berkas yang selama ini disimpan oleh Madara tanpa seorang pun yang tahu. "Sasuke—"

"ibu, siapa itu Naruto?"

.

.

.

.

We Are Too Different

Pairing : SasuNaru

Rating : T

Genre: Romance/Fantasy

Warning : Sho-ai, OOCness, Typo(s)

Inspirated By THE CORPSE BRIDE 2005 (c)

MASASHI KISHIMOTO(c)

StoryBy: KAINARU AIKO 2014(c)

.

.

.

.

Sasuke berlari menuju hutan dimana letak istana Naruto berada. Ia harus menemui Naruto, dan meminta maaf kepada sang blonde. Malam hari tak terasa dingin walau pun Sasuke hanya menggunakan kaos berwarna biru navy dengan celana kain panjang berwarna hitam. Pemuda tampan itu terus berlari memasuki hutan terlarang itu.

" jika itu yang terjadi, aku tidak bisa melarang mu. Yang harus kau lakukan sekarang adalah meminta maaf padanya"

Ucapan sang ibu terngiang di kepalanya. Ibunya benar, Sasuke harus meminta maaf pada Naruto atas kata-kata kasarnya tempo hari. Katana di tangan kanannya siap menebas semak belukar yang menghalangi langkahnya. Katana yang diberikan oleh Kakashi memang selalu ia simpan di dalam kamarnya. Sinar terang sang rembulan sepertinya mengerti akan kegelisahan Sasuke, dengan sinarnya ia menunutun sang raven untuk menyelesaikan missi-nya.

"maafkan aku Naruto" Sasuke terus bergumam. Ia hanya berharap Naruto bersedia memaafkan dirinya. Nafas Sasuke terengah-engah saat dirinya tiba di gerbang istana Naruto. Ia kelelahan dengan keringat yang terus mengucur membasahi tubuhnya. "berhenti disana!" seru tengkorak yang menjaga pintu gerbang istana tersebut. Sasuke menghentikan langkahnya. Apalagi ini? Ia sudah jauh-jauh datang dan harus menghentikan langkahnya hanya karena 3 tengkorak hidup meminta dirinya untuk berhenti.

"apa mau mu, tuan Sasuke?" Tanya salah satu dari tengkorak itu.

"menemui istri ku, tentu saja" jawab Sasuke, dengan nada bosan.

"setelah apa yang anda lakukan padanya? Pantaskan anda menyebut diri anda sebagai istri Naru-hime" cibir ketiga tengkorak itu. Mereka menertawakan Sasuke, dan membuat putra bungsu Uchiha Fugaku itu kesal. Tanpa ba-bi-bu lagi, Sasuke melempar pedang miliknya ke arah ke-3 tengkorak penjaga itu. Dan membuat salah satu tengkorak hancur lalu membuat angin menghilangkan serpihan tulang itu. Melihat salah satu kawannya hancur, kedua tengkorak itu pun segera berlari menjauhi Sasuke. Terlalu takut untuk menetap dan melawan sang Uchiha.

.

.

.

Sasuke memasuki istana Naruto. Ruangan itu gelap dan tidak terlihat seperti biasanya. Ia merasa heran dan bertanya-tanya sesuatu yang terjadi di istana tua itu. Kedua kakinya pun menuntun dirinya untuk lebih memasuki ruangan besar tersebut. Saat memasuki ruang utama, pendengarannya pun disambut oleh suara permainan piano seseorang. "mungkinkah, Naruto..." Sasuke mempercepat langkahnya.

Dan benar saja, Sasuke dapat melihat Naruto sedang duduk memainkan piano nya seorang diri. Sinar rembulan yang terang benderang itu mampu menyinari tubuh Naruto. "hey" sapa Sasuke.

Naruto's POV

Aku menekan lembut tuts-tuts piano tua milik ku. Ku mainkan beberapa lagu mellow yang melambangkan perasaan ku saat ini. Aku tahu, bahwa Sasuke datang dan menyapa ku. Aku terdiam dan tidak menyahut. Entahlah, aku masih kecewa dengan apa yang ia lakukan pada ku beberapa hari yang lalu. Apa kalian bertanya dimana para maid dan butler hantu ku? Ya, aku akan memberitahu kalian meskipun kalian tidak bertanya.

Mereka sedang pergi mengunjungi keluarga mereka. Aku sadar, aku tidak boleh bersikap egois pada mereka. Melarang mereka untuk mengingat masa lalu mereka, hanya akan membuat mereka sedih. Dan aku tidak mau mereka sedih hanya karena aku seorang. Saat ini, Sasuke mendudukan dirinya disamping ku. Aku tidak tahu pasti kenapa ia datang ke sini, tapi aku yakin ada sesuatu yang penting hingga membuat dirinya datang kembali.

"hey" dia menyapa ku lagi.

Aku tetap diam dan terus memainkan nada-nada yang aku sendiri tak tahu siapa pengarangnya. "aku tahu aku salah.. tapi, aku minta maaf" Sasuke berkata.

Diam..

Aku hanya bingung apa yang harus ku katakan padanya. Jika ditanya apa kau sakit? Aku akan mengangguk iya, meskipun aku sendiri sudah mati. Dan normalnya, orang yang sudah mati tidak akan pernah merasakan sakit. "Well, mungkin kau tidak akan memaafkan ku.. tapi—"

Aku menoleh ke arahnya dan menghentikan permainan piano ku. Menatap tanpa ekpresi padanya. Ia diam dan ku lihat jelas wajah bersalahnya itu. Sasuke menghela nafas dan menekan tuts-tuts piano ku.

JREENNNGGGGG..

Aku terkejut ketika Sasuke menekan keras tuts piano milik ku tanpa beraturan. Wajahnya terlihat marah, tapi aku tahu ia sedang menahan rasa kesalnya. "BISAKAH KAU BERHNETI BERPURA-PURA BERSIKAP TAK PEDULI SEPERTI ITU, NARUTO" Bentaknya.

.

.

.

NORMAL POV

Naruto menundukan kepalanya saat lagi-lagi Sasuke memarahi dirinya. Terdengar Sasuke sedang menghela nafas. Ia tahu ini salah, memarahi Naruto saat sang blonde sedang kecewa padanya, hanya akan membuat Naruto semakin sedih dan kecewa pada dirinya. "aku tahu aku salah, dan kau berhak untuk marah" ujar Sasuke, dengan nada lembut. "bukan aku yang berhak untuk marah" lirih Naruto. "aku tahu, aku sudah membuat mu kecewa" Sasuke menyentuh pergelangan tangan Naruto.

"kau tahu Sasuke? Terkadang aku sering bertanya-tanya, apa perasaan ku saja atau memang ini sangat menyakitkan? Aku sudah mati Sasuke.. aku hanya hantu, impian ku sudah terenggut dari ku..menikah, memiliki keluarga, dan hidup bahagia.. itu saja, kenapa sulit sekali mencapainya" Naruto beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati altar. Disana terdapat lilin yang menyala, menerangi ruangan tersebut. Entah, siapa yang dengan berbaik hatinya menyalakan lilin di ruangan itu.

"bahkan saat aku mengadahkan tangan ku di atas api, tak akan pernah ku rasakan sakitnya.." Naruto mengadahkan tangannya di atas lilin yang menyala. Membuat Sasuke panic setengah mati. "tapi kenapa—" Naruto menjeda kalimatnya.

"kenapa saat kau pergi dengan wanita itu terasa sakit di sini? Kenapa? Apa hatiku masih bisa merasakan sakit sekalipun sudah berhenti berdetak? Ini sudah berhenti, tapi kenapa sakit? Kenapa, Sasu" Lanjut Naruto, seraya meremas dadanya yang begitu sesak. "Naruto" Sasuke berjalan mendekati Naruto dan memeluk tubuh mungil sang blonde.

"hiks" isak tangis terdengar dari bibir mungil Naruto.

Flashback ON

"apa tidak bisa disembukan?" Tanya Naruto, kepada seorang dokter terhebat di kota nya. Sebut saja Madara, ia adalah dokter yang menangani penyakit aneh yang di deritanya. Madara menggelengkan kepalanya. "tidak bisa, Naru-sama" jawab Madara. Keduanya kini sedang berada di ruang bahwa tanah, dimana ruang kerja Madara berada. "tapi, apa Naru benar-benar bisa hamil?" Tanya Naruto, polos.

Madara tertawa pelan dan mengusap lembut surai pirang Naruto. " tentu saja tidak, apa kau tahu bagaimana janin bisa terbentuk? Jika—" Madara menghentikan kalimatnya saat menyadari Naruto yang sangat polos. Ia tidak tega jika harus meracuni pikiran polos Naruto dengan kata-katanya. "yang penting, jarang pernah—ekhem—berhubungan badan dengan sesama laki-laki" ujar Madara, mengingatkan pasien mudanya itu.

"tapi, Madara-san janji jangan bilang ini pada pihak kerajaan ya" kata Naruto.

.

.

.

*Skiptime*

Senyum mengembang diwajah Minato saat membaca selembar kertas yang dibawakan oleh seorang butler kepadanya. "panggil putra ku untuk menemui ku di ruang kerja" titah Minato. Butler itu pun menganggukan kepalanya dan segera pamit meninggalkan sang majikan. "suami ku, apa ini tidak berlebihan?" Tanya Kushina. Minato menggelengkan kepalanya, " tentu tidak.. Sabaku-san pasti akan senang mendengar hal ini" jawab Minato.

"tapi, Naru-chan masih muda. Dan belum cukup umur untuk menikah, kalau pun harus, setidaknya dengan seorang gadis, suamiku" kata Kushina.

"Naruto itu sama seperti seorang gadis.. lihatlah, istriku! Bahkan putra kita juga bisa diperlakukan seperti seorang gadis mengingat dirinya yang hermaphrodite itu" ujar Minato, asal. Kushina menatap sedih suaminya yang begitu gila akan kekuasaan. "fisik Naruto laki-laki! Tidak kah kau sadar itu, Minato?" Tanya Kushina, setengah berteriak.

"pernikahan sesame jenis itu diizinkan, Kushina! Kau hanya perlu diam, dan nikmati hasilnya!" seru Minato.

"aku lebih baik pergi daripada harus melihat putra ku menikah dengan laki-laki Sabaku itu" Kushina pun beranjak pergi dari ruangan tersebut.

.

.

.

Kota Suna..

Sudah tak bisa dipungkiri jika putra mahkota dari raja Suna memiliki keterbelakangan mental. Pemuda yang sebentar lagi akan naik tahta sebagai raja pengganti sang ayah itu menyukai anak-anak kecil dan melampiaskan mereka sebagai budak nafsu sang pangeran. Tidak hanya itu, tanpa sepengetahuan masyarakat negeri Suna,pangeran akan menyewa wanita-wanita malam untuk menghabiskan waktunya. Tak ada yang tahu, karena tak ada satu pun wanita itu yang bisa keluar selamat dari menara dimana sang pangeran menghabiskan waktunya dibandingkan di istana. Yang mereka tahu hanya, sosok mayat wanita yang mati dengan begitu mengenaskan ditemukan di hutan perbatasan.

Tak ada yang bisa menuduh salah satu dari pangeran, karena mereka tidak mempunyai bukti yang akurat. Apalagi, wajah kedua pangeran yang notabene kembar itu adalah satu hal yang membuat nyali mereka menciut. Takut jika ternyata mereka malah menuduh pangeran yang tidak bersalah sama sekali.

"kau akan menikahi pemuda itu, pangeran" sang Raja memberikan sebuah foto seorang pemuda berwajah manis memakai gaun yang mengembang pada bagian bawahnya.

"seorang wanita?" Tanya Gaara.

"sayangnya dia adalah seorang pemuda, apa kau menolaknya?" Tanya sang ayah.

"tentu tidak, ayah" jawabnya, dengan senyum mengembang di wajahnya.

.

.

.

.

Mansion Namikaze

Berita menggemparkan terjadi. Putri Kushina ditemukan tewas di kamarnya dengan luka sayatan di urat nadinya. Naruto dan kedua kakaknya merasa terpukul mengetahui ibu mereka tewas bunuh diri. Tak ada yang tahu apa penyebab Kushina bunuh diri. Wanita berusia 45 tahun itu pergi tanpa meninggalkan pesan, kecuali sebuah buku momentum, dimana buku tebal itu berisi foto-foto perkembangan putra bungsunya, Naruto.

"kau kah yang bernama Naruto?"

Naruto yang sedang menangis seorang diri di taman istana pun terkejut saat mendapati seorang pemuda tampan dengan tattoo kanji ai di dahinya. Pemuda bersurai merah bata itu mendudukan dirinya disamping Naruto dan mengusap lembut surai blonde Naruto. Mendapati sikap lembut dari orang yang tidak ia kenal, membuat Naruto menggeser takut tubuhnya menjauhi pemuda itu.

"hey, it's okay! Kau baik-baik saja, Naru-hime" ujar Gaara.

"kakak siapa?" Tanya Naruto.

" aku Sabaku Gaara.. calon suami mu" jawab Gaara.

"mendekatlah" pinta Gaara.

.

.

.

Kota Suna..

Setelah mengetahui rencana ayahnya dan juga raja Suna. Naruto pun mau tak mau menuruti permintaan sang ayah. Terlebih, ia pun juga pasrah saat dimana tak ada satu pun seorang gadis menyukainya. Malahan, para gadis membenci dirinya karena iri dengan wajah manisnya. Maka dari itu Naruto selalu terlihat sendirian jika kedua kakaknya sedang belajar di asrama khusus putri bangsawan.

Ternyata Gaara memiliki saudara kembar bernama Sasori. Wajah mereka hampir sama, hanya saja Gaara memiliki tanda khusus (lingkar mata panda) di kedua matanya. Gaara memperlakukan Naruto dengan sangat baik. Dirinya yang segera dinobatkan sebagai seorang raja, membuat Gaara lebih sering bergulat dengan pekerjaannya dibandingkan menghabiskan waktunya dengan sang calon istri. Itulah sebabnya Naruto sering merasa kesepian ketika Gaara sedang pergi.

"Naru-hime"

Naruto menoleh dan mendapati calon kakak iparnya yang berjalan mendekatinya. Si pirang pun menghentikan kegiatan menyirami bunga-bunga di taman dan menyempatkan diri mengobrol dengan Sasori. "wah, bunga-bunga disini terlihat indah" puji Sasori. Naruto tersenyum ketika Sasori memuji bunga-bunga miliknya. Jarang sekali ada seseorang yang memuji dirinya, bahkan calon suaminya pun tak pernah memuji dirinya.

"apa Gaara sibuk lagi?" Tanya Sasori.

"iya.. Gaara-kun harus menghadiri pertemuan dengan rekan kerja, ayah" jawab Naruto, sedikit risih ketika Sasori memperhatikan dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Naruto, apa kau sungguh menyukai adik ku?" Tanya Sasori, seraya menggenggam jari-jemari Naruto. Pemuda Blonde itu pun menundukan kepalanya dan berusaha melepaskan diri dari Sasori.

"bahkan jika ada seseorang yang tulus mencintai mu?" Tanya nya lagi.

"ano, aku tidak mengerti apa yang—" Naruto hampir saja menangis saat Sasori hendak mencium lehernya.

"NARUTO"

Naruto segera berlari dan berlindung di balik tubuh sang calon suami. " a..aku takut" bisik Naruto lemah. "tidak apa-apa" hibur Gaara.

"kau sudah pulang, adik?" Tanya Sasori.

"ya, terimakasih sudah menjaga Naruto! Ayah ingin berbicara dengan mu, pergilah dan temui dia" Gaara segera melenggang pergi sambil menggandeng pergelangan tangan Naruto.

.

.

.

Pavilion milik GaaNaru..

Gaara mengobati luka di jari Naruto yang terkena duri saat menghindari Sasori. Duri yang menyusup ke dalam jari Naruto, sedikit sulit diambil. Dengan penuh kesabaran Gaara mengambil duri panjang itu. Darah mengalir ketika duri tersebut berhasil dikeluarkan dari jari Naruto. Sang Blonde Manahan rasa sakit, ketika Gaara membasuh luka Naruto dengan alcohol. "aku harap kau tidak terlalu dekat dengan kakak ku" ujar Gaara, membuka pembicaraan diantara mereka.

Naruto mengangguk lemah, dan mencoba menghentikan Gaara yang sedang mengobati lukanya. "hentikan, Gaara-kun! Ini sakit" kata Naruto. Gaara tersenyum dan mengusap lembut pipi gembil Naruto. "tidak apa.. besok, aku tidak kemana-mana! Dan kau harus menemani ku di sini seharian" ujar Gaara.

"dan soal kakak ku, jangan terlalu dekat dengannya" lanjut sang pangeran.

.

.

.

.

Malam Hari..

Ini adalah malam pertama dimana Naruto bisa bersama Gaara sejak mereka tiba di Suna. Kali ini, Gaara menyempatkan diri untuk menemani calon istrinya dan meninggalkan pekerjaannya di ruang kerja miliknya. Naruto sedikit canggung, mengingat bahwa di kamar ini hanya ada dirinya dan Gaara. Jika Gaara hendak meminta dirinya untuk melakukan hubungan this and that Naruto benar-benar belum siap.

Kriieett..

Pintu kamar mandi pun terbuka. Memunculkan sosok Gaara yang begitu tampan dengan sehelai handuk yang melingkar di lehernya. Aroma mint menyambut penciuman Naruto. Calon suaminya terlihat begitu gagah mala mini. Namun, pikiran macam-macam kembali hadir di pikiran Naruto. Melihat Naruto yang salah tingkah, Gaara pun tersenyum simpul dan berjalan mendekati sosok mungil dengan kimono tidur berwarna putih itu.

"kita tidak akan melakukannya sebelum resmi menikah, kau tenang saja!" hibur Gaara.

"a..ano.. a..aku m..minta maaf" Ucap Naruto gugup.

Gaara bersimpuh di bawah Naruto yang sedang mendudukan dirinya di tepi ranjang. Lembut, Gaara menyentuh ujung bibir merah delima milik Naruto. "kenapa minta maaf, hm?" Tanya Gaara, lucu sendiri melihat sikap Naruto.

"k..kata Matsuri-san.. Gaara-kun s..sudah tidak sabar lagi m..menunggu—"

"ssstt, jangan dilanjutkan" Gaara benar-benar malu saat mendengar penjelasan Naruto. Ucapan polos Naruto membuat Gaara berniat hendak memarahi sepupunya, Matsuri habis-habisan.

.

.

.

.

Sehari sebelum pernikahan Naruto..

Tinggal sehari lagi Naruto hendak dinikahkan oleh Gaara. Kini, dirinya sedang berada di mansion Namikaze dan mencoba gaun pengantin yang dibelikan Gaara untuk dirinya. Gaun itu terlihat sederhana, namun terlihat begitu indah dikala Naruto memakainya. Berkali-kali ia memutar tubuhnya hanya karena ia terlalu bahagia dengan memakai gaun pemberian calon suaminya.

Impiannya untuk menikah dan memiliki keluarga akan segera terlaksana. Ia mendudukan tubuhnya di depan meja rias miliknya. Ia tersenyum ketika mengingat ketidaksabarannya untuk segera memiliki keluarga bahagia. Jika saja kami-sama memberikan dirinya seorang anak, ia akan menjadi seorang ibu yang terbaik seperti mendiang sang ibu, Kushina.

Iris sapphire nya membesar seketika menemukan secarik kertas di meja riasnya.

Temui aku di taman

Naruto mengernyitkan dahinya, menerka-nerka siapa yang memberikan pesan itu padanya. Tak ada rasa curiga, Naruto pun segera pergi ke taman untuk menemui seseorang yang telah memberikan pesan tersebut padanya.

.

.

.

Naruto sama sekali tidak menyadari jika hari ini adalah hari terakhir dirinya merasakan indahnya hidup. Ia tersenyum ketika melihat sosok seorang pemuda yang ia anggap adalah calon suaminya sedang berdiri di perbatasan taman istana dan hutan terlarang. "Gaara-kun" dengan perasaan bahagia Naruto memeluk tubuh tinggi tegap sosok tersebut.

"merindukan ku, hime?" sosok itu pun berbalik badan dan menunjukan wajah aslinya.

"Sa..Sasori-san" Naruto mundur selangkah.

"hallo, manis" Sasori mendekati Naruto, Naruto yang melihat tanda bahaya pun segera berlari menjauhi Sasori.

Ia yang sedang panic pun lupa jalan mana yang harus ia ambil untuk kembali ke istana. Terlebih, gaunnya yang panjang menyulitkan dirinya untuk berlari. Sedangkan dibelakang sana, Sasori sedang mengejar dirinya.

Kemalangan berpihak pada Naruto, akar pohon membuat kakinya tersandung dan jatuh. kakinya tidak bisa bergerak sama sekali, sementara Sasori semaki mendekat ke arahnya. Dengan seringai setan Sasori mendekati tubuh mungil itu. Tubuh Naruto bergetar hebat, dan sudah tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

"kau tahu sayang? Aku mencintai mu, tapi kenapa kau menolak ku dan memilih adik ku, hm?" Tanya Sasori.

"tidak..ku mohon, pergi! Hiks..ku mohon" pinta Naruto.

Melihat wajah manis Naruto yang semakin ketakutan, membuat sisi gelap di tubuh Sasori muncul. Dengan beringasnya ia menusuk perut Naruto dengan pisau dapur yang selalu ia bawa kemana-mana. "aarrgghh.." Pekik Naruto. Darah keluar dari bibir mungilnya. "S..Sasori-san..khhhhhheehhh" Naruto mencoba menahan rasa sakit di perutnya.

"N..Naruto" Sasori terkejut ketika menyadari bahwa ia telah melukai Naruto dengan pisau dapur miliknya. "Bicaralah! Ku mohon, Naruto!" Sasori mengguncang tubuh Naruto. Namun, Naruto sudah tak bernyawa karena terlalu banyak darah yang berkurang dari tubuhnya. Terlebih, rasa sakit yang tidak bisa ia tahan terlalu lama tanpa pertolongan.

"Naruto, ku mohon! Bangunlah!" pinta Sasori.

Darah Naruto mengotori bajunya, namun Sasori tidak peduli akan hal itu. "jika aku tak bisa memiliki mu, tak ada satu pun yang boleh memiliki diri mu" sebuah seringai setan muncul di wajah tampan Sasori. "HAHAHAHAHAHAH" Sasori tertawa. "lebih baik beginikan, Naru-hime?" Sasori segera menggendong tubuh Naruto dan membawanya masuk ke dalam hutan.

Flashback OFF

.

.

.

.

"jadi, karena itu kau mati?" Tanya Sasuke, ketika Naruto mengakhiri ceritanya. Naruto menganggukan kepalanya. Ia terus memperhatikan foto dirinya yang ia berikan kepada Madara beberapa hari sebelum kematiannya. "Madara-san sudah menganggap ku sebagai putra nya, maka dari itu ia selalu menyimpan foto ku di dalam ruang kerjanya.." ujar Naruto.

"lalu, apa para Namikaze tahu atas kematian mu?" lagi, Sasuke bertanya.

"tidak, tak ada satu pun yang tahu kematian ku! Saat terakhir ku tahu, para Namikaze menghilang satu persatu. Ayah ku meninggal dunia menyusul ibu ku saat mengetahui aku menghilang dan tidak ditemukan" jawab Naruto.

"dan istana besar ini, adalah mansion Namikaze yang sudah tidak dihuni lagi! Aku pun juga tidak tahu dimana kedua kakak ku berada.. aku merindukan mereka" lirih Naruto.

Sasuke mengusap lembut surai blonde Naruto. " aku janji akan bersama mu" janji Sasuke. Naruto tersenyum getir ketika mendengar janji yang Sasuke berikan padanya. Ia pun menarik Sasuke dan membawanya terbang entah kemana. Sasuke bergidik ngeri saat melihat ke bawah, jujur saja, ia ketakutan sekarang.

"k..kita ingin kemana, Naruto?" Tanya Sasuke.

Naruto hanya diam tidak menjawab pertanyaan Sasuke. Entahlah, sepertinya ia memang tidak ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda raven itu.

.

.

.

Sementara itu..

Kakashi dan Obito yang melihat Naruto membawa Sasuke terbang entah kemana. Cuma bisa tersenyum dan berharap semoga Naruto bahagia dengan jalan yang ia ambil. "habis ini kita kemana?" Tanya Obito. "mencari Iruka-koi, ne" usul Kakashi. Obito memonyongkan bibirnya. "kau ini pede sekali memanggil namanya dengan tambahan 'koi'" cibir Obito.

"tentu saja, dia kan sebentar lagi akan menjadi mate ku" ujar Kakashi.

"hey, enak sekali bicara mu itu!" Imbuh Obito, tidak suka dengan ucapan Kakashi.

"Iruka itu milik ku" lanjut Obito.

"hey, kepala buntung! Sejak kapan dia menerima cinta mu? Melihat mu pertama kali saja dia langsung kabur" kakashi tak mau kalah mencibir sahabatnya.

"baiklah-baiklah, kita lihat saja nanti" Kata Obito.

.

.

.

.

Sasuke mengernyitkan dahinya saat Naruto yang ternyata membawa dirinya pulang ke mansion Uchiha. Tampak, disana ada Fugaku, Mikoto, Sakura, Itachi dan juga istrinya, Kyuubi. Mereka semua tampak berkumpul dan membuat Sasuke bingung dengan sikap keluarganya dan juga calon istrinya. Naruto dan Sasuke masuk melalui jendela besar, dan membuat ke-4 nya terkejut bukan main.

" S..Sasuke" Kyuubi bersembunyi dibalik tubuh tegap suaminya.

Beda lagi dengan Mikoto dan Fugaku yang tersenyum ramah pada Naruto. Kedua nya seperti sudah mengenal satu sama lain dengan pemuda manis itu. "Naru-chan, aku sudah mendengar berita kematian mu dari istri ku dan juga putra ku" Fugaku berkata ramah, dan membuat kedua putranya dan juga menantunya memandang heran ke arahnya. Kenapa ayah mereka bisa bersikap ramah seperti itu?

"ayah mengenalnya?" Tanya Itachi, memutuskan untuk membuka suara. "dia adalah pasien mendiang ayah ku, dan sudah ku anggap sebagai adik ku sendiri" jelas Fugaku. Sasuke terdiam, bingung hendak mengatakan apa. Kenapa keluarganya, terutama ayah dan ibunya terlihat santai saja saat melihat Naruto yang notabene sudah meninggal? Mereka memang keluarga yang aneh.

"ne, Fuga-nii dan Miko-nee akhirnya menikah? Dan memiliki anak-anak yang tampan ya" puji Naruto, begitu tulus. "dan..kenapa wajah wanita itu mirip dengan Dei-nee? Tapi, hanya saja rambutnya yang berbeda" Naruto terkejut saat melihat Kyuubi. "dia memang putri dari kakak mu, Naru"jawab Mikoto. Naruto tertawa pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "dobe, kau mengenal ayah dan ibu?" Tanya Sasuke, sadar dari rasa terkejutnya. Naruto menoleh ke arah Sasuke yang berdiri di belakangnya. " tentu saja, teme" jawab Naruto. "aku tidak tahu harus berkata apa.. tapi, BAGAIMANA INI BISA TERJADI" Teriak Sasuke, frustasi.

"kau tidak perlu tahu, Sasuke! Kau hanya perlu menjalani semua ini" Naruto tersenyum ke arah Sasuke. Dengan lembut Naruto menarik pergelangan tangan Sasuke dan berjalan menuju Sakura yang sedari tadi diam. "maaf telah menyusahkan kalian" ucap Naruto. "Naruto, apa yang—" Naruto menggelengkan kepalanya pelan. "kau tahu, teme? Mungkin kau benar, aku tidak pantas untuk mu. Dengan begitu kau tak perlu berbohong lagi untuk tinggal bersama ku." Naruto menghentikan langkahnya dan menyentuh lembut bahu Sasuke.

"Aku tidak berbohong, Naruto! Aku tidak sama sekali—"

"aku mencintai mu, Sasuke! Tapi aku sadar kau bukan milik ku" ucap Naruto, memotong penjelasan Sasuke. Sasuke terus memperhatikan Naruto, ia membulatkan matanya ketika melihat Naruto melepaskan cincin emas putih yang tak sengaja Sasuke pasangkan padanya. Ia tersenyum tulus dan memberikan cincin tersebut ke tangan Sasuke.

Naruto melempar pandangannya ke arah Sakura. "jaga Sasu baik-baik, nona pink! Marahi dia jika dia nakal"

Sakura mendongakan kepalanya, terkejut mendengar Naruto yang berbicara padanya. "t..tapi—" Sakura tidak tahu harus berkata apa. Jantungnya berdegup kencang saat tiba-tiba saja Naruto sudah berada dihadapannya persis. "kau lebih pantas bersamanya dibandingkan aku" ucap Naruto.

Naruto pun segera melayang mendekati jendela besar di ruangan itu tanpa menolehkan kepalanya ke arah Sasuke. Ia mencoba mengikhlaskan kembali impiannya, mencoba menjadi roh yang baik dan yang seharusnya roh lakukan. Sekalipun bisa bersama tanpa cinta, itu tidak lah indah untuk ke depannya. Naruto sadar, ia hanya akan menjadi beban untuk Sasuke. Pemuda itu layak untuk mendapatkan seorang istri yang baik. Tidak seperti dirinya yang entah bisa di sebut apa. Mayat atau roh, dia sendiri pun juga tidak tahu.

Naruto tersenyum ke arah sang bulan yang bersinar terang. Air mata menetes di pipi chubby-nya. Hidup (mati) dalam kenyataan yang menyakitkan lebih baik daripada hidup dalam kebohongan yang indah. "kau harus bahagia, Sasuke" lirih Naruto.

Cahaya putih menyinari tubuh Naruto. Sang blonde pun menutup matanya dan membiarkan cahaya itu menyelimuti tubuhnya. Kemudian, keajaiban terjadi. Tubuh Naruto menghilang bersamaan dengan cahaya-cahaya kecil yang berterbangan layaknya kunang-kunang di malam hari. Begitu indah, sama indahnya dengan hati suci yang dimiliki oleh sang blonde.

"dia adik ibu ku, adik yang selalu ibu cari sudah meninggal" ujar Kyuubi. Itachi membawa sang istri ke dalam pelukannya. Mikoto dan Fugaku saling berpelukan, tidak percaya meskipun nyata bahwa Naruto yang mereka kira menghilang sudah meninggal 30 tahun yang lalu.

Brukk..

Kegiataan mereka terhenti saat mendengar suara debuman keras yang berasal dari tubuh Sasuke yang jatuh ke lantai. Wajahnya terlihat depresi dengan cincin yang masih tergenggam erat di tangannya. "SASUKE" mereka semua pun segera menolong Sasuke, dan Itachi pun membantu Sasuke untuk berdiri.

"A..Aku memang tidak pernah mencintainya.. hahahahahaha..." tawa Sasuke.

Seluruh keluarganya pun terkejut dengan apa yang terjadi pada si bungsu. Para maid dan butler merasa kasihan ketika mereka melihat tuan muda mereka seperti orang gila ketika sampai di rumah. "Aku tidak mencintainya..kakak, aku tidak mencintainya" ujar Sasuke. "tidak, Sasuke" Mikoto menangis histeris melihat putra bungsunya menjadi seperti itu.

"tapi, tapi kenapa ketika melihatnya pergi disini terasa begitu sakit? Kenapa, kak? Kenapa?" Sasuke berteriak sambil menggoncang bahu sang kakak.

"Kau mencintainya, Sasuke"

Hening..

Suasana hening saat Sakura kembali bersuara. Gadis merah jambu itu berjalan mendekati Sasuke dan menyentuh tangan Sasuke yang menggenggam erat cincin tersebut. "kau mencintainya, Sasuke.. aku tahu itu" kata Sakura. "apa yang kau katakan? Aku menyukai mu dan kita akan segera menikah" kata Sasuke, seraya menatap Sakura. Sakura menggeleng lemah, "aku pernah merasakan bagaimana kehilangan orang yang ku cintai.. disini—" Sakura menjeda ucapannya seraya menyentuh dada Sasuke.

"sakit dan sesak saat orang yang kita cintai pergi" lanjutnya, sambil tersenyum.

"Sakura benar, kau mencintainya, Sasuke" Mikoto bersimpuh di bawah putranya yang kini sedang duduk di atas sofa. Sasuke terdiam, ia menimbang-nimbang apa yang dikatakan oleh ibunya dan juga calon istrinya. "kalian benar, aku mencintainya" lirih Sasuke.

"tapi, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan! Untuk bersamanya aku juga harus mati" lanjutnya.

"jika aku jadi kau, itulah yang aku lakukan!" kata Itachi, menyumbangkan suaranya. "bahagia itu adalah saat dimana kita bersama orang kita cintai dan juga mencintai kita.. naruto mencintai mu, ia mencoba merelakan mu meskipun hatinya harus belajar untuk merelakan mu" lanjut Itachi.

"Pergilah Sasuke" ujar Sakura.

"ya, kejar kebahagian mu, Sasuke" Seru Mikoto dan Fugaku bersamaan.

"kau layak mendapatkannya" Itachi berkata.

"karena kau memang layak dicintai" Kyuubi menutup support ke-4 orang itu.

.

.

.

.

TBC

OMAKE..

"siapa itu Naruto, bu?" Tanya Sasuke.

Mikoto tersenyum dan mengusap lembut surai raven putra bungsunya. "dia adalah pasien kakek mu, dan dia adalah pemuda yang manis juga baik hati.. memang aneh, karena sikap dan sifatnya yang seperti perempuan.. bahkan, kau akan terkejut jika kau melihatnya tidak bisa membedakan kalau sebenarnya dia itu laki-laki. Tapi, ia menghilang 30 tahun yang lalu, hingga sekarang tidak ditemukan" jelas Mikoto.

"dia tidak menghilang, bu" protes Sasuke.

Mikoto menatap bingung putranya, kemudian dengan lembut ia mengusap lagi surai raven Sasuke. "apa yang kau katakan, nak?" Tanya Mikoto. "Princess, tidak, Prince Naru meninggal dunia! Dia tidak menghilang" seru Sasuke. "bagaimana kau tahu?" Tanya Mikoto, penasaran. "ibu, aku bertemu dengannya di hutan kematian! Naruto sudah menjadi arwah bergaun pengantin, bu! Dia sudah mati, dan aku...aku..aarrggghh" Sasuke menjambak surai ravennya.

"hey?" Mikoto mencoba menghentikan aksi gila putranya.

"AKU MENIKAH DENGANNYA, BU! TERSERAH JIKA IBU MENGANGGAP KU GILA, TAPI AKU SERIUS! AKU TIDAK BOHONG" Teriak Sasuke, OOC.

.

.

.

TBC

.

.

.

a/n

huhuhu, maaf ya kalau chapter ini gak sesuai harapan kalian. Atau kurang nyambunglah. Tapi, Ai sudah berjuang supaya update kilat buat para readers. Gomen, ne!

(balas review)

Heiwajiwa Shizaya: Boleh juga idenya, senpai! Heheheh

Ciput: Dilanjutkan, hehehe

Irmasepti11: Ok, makasih senpai atas reviewnya. Kalau itu siap dilanjutkan ya, senpai

UchikazeRei: huumm, ya, senpai! Kasihan kalau Saku nya jadi tokoh antagonis terus. Sekali-kali jadi tokoh heroic juga dong, hihihi

Nona Shion: Sasu memang seme yang kejam, ne! Hehehe, thanks dukungannya, senpai

7D: sudah terjawab rasa penasaran mu, senpai

Clein Cassie: Next, sudah terjawab, ne.. ah, eto,, iya! Fic ini inspirasi dari film the corpse bride 2005. Itu lho yang pengisi suaranya Johnny Depp sama Helena Bonham Carter.

Fatahyn: Next, lanjut sudah terjawab rasa penasarannya.

Fayrin-senpai: hehehe, tidak apa-apa, senpai

Inez Arimasen: ya, gitu deh.. M-preg, heheheheh.

(kalo ada saran dan pertanyaan silahkan PM, ne.. biar Ai bisa lebih mudah menjelaskan, hehehehe)

.

.

.

Review