Sasuke's POV

Kau tahu apa yang ku lakukan sekarang? Ya, kau benar. Mengejar impian ku, impian yang diam-diam selalu ku idamkan. Aku menginginkan kebahagian, hidup bersama orang yang ku cintai dan juga sangat mencintai ku. Aku harus mengejarnya, mendapatkan sosok blonde yang sering meng-claim dirinya adalah istri ku. Dobe pirang ku, pemuda manis yang membuat diri ku jatuh ke dalam pesonanya yang tak berujung. Kau harus ku hukum dobe.

Tak ada yang boleh mendapatkan cinta si dobe selain aku. Hahaha, ya hanya aku. Tidak yang lain, bagaimana pun caranya aku harus mendapatkanya, menjadikan Naruto sebagai miliku. Aku tidak peduli jika nantinya perbedaan alam antara kita menjadi penghalang. Mati saja orang-orang yang mencoba menghalanginya. Atau musnah saja kalau bisa.

Aku berlari memasuki hutan kematian dimana aku bertemu Naruto untuk pertama kalinya. Jangan panggil aku Sasuke kalau aku terlalu takut untuk menjemputnya di hutan ini. Eh, siapa yang takut? Kau kira aku takut, tentu saja tidak. Ku atur nafas ku yang terengah-engah akibat terlalu lama berlari. Perlahan, aku melangkah mendekati batang pohon tua saat aku dan Naruto bertemu.

Aku hanya berharap Naruto menunggu ku tepat disana, tepat saat aku membohongi dirinya. Brengsek bukan? Ya, aku memang pria brengsek yang telah menyakiti pemuda manis seperti dirinya. Aku jahat? Terserah, aku memang jahat. Laki-laki mana yang meminta orang yang mencintainya untuk pergi dan kembali saat orang itu memutuskan untuk berhenti mencintainya, huh? Ku rasa hanya aku seorang.

" tuan Sasuke, ternyata benar anda"

Aku menoleh saat mendengar suara seseorang yang begitu familiar bagi ku. Aku membalikan tubuhku, dan menemukan Lee (mantan butler ku) berdiri tegap di hadapan ku. Kapan Lee meninggal? Kenapa sosoknya bisa lebih pucat dari ku? "hahaha, tuan Sasuke aku memang Lee, dan aku sudah meninggal beberapa minggu yang lalu" kata nya, berusaha meyakinkan diri ku.

End OF SASUKE's POV

.

.

.

We Are Too Different

SASUNARU

MASASHI KISHIMOTO(C)

THE CORPSE BRIDE 2005(c)

.

.

.

"Naru-hime sudah jarang terlihat, bahkan di istana saja juga dia tidak pernah pulang.. kami khawatir dengan keadaannya" Lee terlihat begitu sedih ketika menceritakan mengenai Naruto pada Sasuke. Sang bungsu Uchiha tercekat mendengar ucapan mendiang sang butler. Kenapa bisa seperti ini? Kenapa disaat ia menyadari perasaannya Naruto malah menghilang? Apa ini sebuah karma?

"kapan?" Tanya Sasuke.

"maksud, tuan?" Lee balik bertanya.

"maksud ku, sejak kapan ia tidak pulang?" Sasuke mengulangi pertanyaannya. Lee menarik nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sasuke. "sejak ia membawa tuan ke alam manusia.. dan sejak itu pula, Naru-hime tidak juga pulang" jawab Lee. Sasuke terdiam, berusaha mencari tahu keberadaan sang blonde. "kami takut jika Naru-hime sudah pergi ke akhirat.. ya, meskipun semua hantu memang harus pulang ke sana, tapi tidak saat ini" kata Lee, tampak raut gelisah di wajah pucatnya.

"aku juga tidak mau hal itu terjadi" sahut Sasuke, dengan suara yang terdengar parau. "apa tuan Sasuke juga mencintai Naru-hime?" Tanya Lee. "a..ano, maksud ku, apa tuan Sasuke sudah—lupakan saja" ujar Lee.

"aku mencintainya" ujar Sasuke.

"A..apa?" Tanya Lee, tidak percaya.

"aku mencintainya, ya, aku mencintai putri bodoh itu" Sasuke mengulangi kalimatnya. "aku harap tuan tidak berbohong" imbuh Lee. "aku tidak berbohong" protes Sasuke. Lee diam, dan terus memperhatikan mantan majikannya. Mencari kebenaran di mata onyx putra bungsu Uchiha Fugaku itu. "untuk saat ini tuan Sasuke harus berjuang sendiri, karena kami tidak bisa membantu" ujar Lee.

"maaf, tapi memang kami tidak bisa membantu"

Sasuke terkejut ketika para hantu yang bersembunyi muncul dan berjalan mendekat ke arahnya dan Lee. "tapi kami tahu solusinya" lanjut para hantu.

"ya.. kami akan memberitahu mu, tuan Sasuke"

"tuan Sasuke dan Naru-hime pantas untuk bahagia"

"kami percaya.. tuan Sasuke tidak berbohong"

.

.

.

Sementara itu..

"kenapa kau jarang mengunjungi ku?" Tanya seorang wanita paruh baya bersurai merah panjang kepada seorang pemuda pirang di sampingnya. Keduanya kini sedang berada di atas pohon besar sambil berbincang-bincang. Kushina Uzumaki, atau Kushina Namikaze, atau bisa kita simpulkan ibu kandung dari Naruto Namikaze. Kedua hantu itu tampak asyik mengayunkan kedua kaki mereka, hingga angin menerpa lembut gaun putih keduanya.

"maaf bu, Naru tidak sempat" jawab Naruto. Kushina menggelengkan kepalanya pelan, ia pun tersenyum lembut seraya mencubit pipi tembam putra nya yang manis itu. "kau takut bertemu ayah mu kan?" Tanya Kushina, seolah dapat membaca pikiran putra bungsunya. "kau tenang saja.. akhir-akhir ini ia jarang sekali keluar, mungkin ia sedang dicambuk di alam baka" Lanjut Kushina.

"hahaha, kau tahu? Bahkan, kakek Jiraya saja selalu berakhir encok ketika para malaikat berkali-kali mencambuki dirinya.. kau jangan jadi seorang yang mesum seperti dia, Naruto" Tawa Kushina. Naruto tersenyum miris melihat sang ibu tertawa. Perlahan, tawa Kushina berhenti ketika melihat putranya yang tampak tidak seperti biasanya. Kalau biasanya, Naruto bahkan tertawa keras ketika Kushina menceritakan kawan-kawannya yang tersiksa oleh siksa yang mereka terima.

Seperti, Danzou misalnya. Mantan Hakim itu selalu ditampar berkali-kali akibat dirinya yang selalu menerima uang suapan semasa hidup. Atau bahkan, Mei Terumi. Seorang penyanyi opera yang suka mengumbar-umbar body nya itu, biasanya Mei selalu bernyanyi sepanjang malam dan menemani mereka berdua mengobrol hingga subuh. Ah, mungkin saja Mei sedang berkencan dengan salah satu tengkorak di alam sana. Atau mungkin ia sedang disiksa oleh para malaikat, siapa yang tahu kan.

"kau kenapa?" Tanya Kushina.

"tidak.. aku tidak apa-apa, bu" dusta Naruto.

"hey, aku ibu mu! Kau pikir aku tidak tahu banyak tentang mu, hm? Jangan seolah kau baru mengenal ku, nak" sahut sang ibu.

Grebb..

Kushina lantas saja terkejut ketika melihat Naruto yang tiba-tiba saja memeluk dirinya. Ada apa dengan putranya?

"IBU" Naruto menenggelamkan kepalanya ke pelukan sang ibu. Kushina membalas pelukan putra bungsunya dan mengusap lembut surai blonde Naruto. "siapa yang menyakiti mu, hah?" Tanya Kushina. "aku tidak tersakiti bu.. aku malah yang menyakiti seseorang. Aku tahu bagaimana rasanya orang yang ku sayangi diambil oleh orang lain, tapi aku malah mengambil milik orang lain bu, huhuhu" tangis Naruto.

"kau tidak mengambilnya, Naruto" hibur Kushina.

"tapi..tapi aku mengambilnya, bu" Naruto mengelap air matanya dengan tiara miliknya.

Kushina mencubit hidung bangir Naruto. Dia masih gemas dengan sosok putranya itu, mungkin. "kau hanya berjuang Naru! Wanita mana yang kau cintai, hm?" Tanya Kushina.

"Sasuke itu laki-laki" jawab Naruto.

"kau tahu? Sasuke itu adalah laki— APA, LAKI-LAKI?"

Naruto menutup kedua telinganya ketika sang ibu berteriak keras. Entahlah, ia hanya berdoa semoga telinganya masih bisa berfungsi untuk mendengar. "jadi, kau HOMO?" Tanya Kushina. "i..iya"jawab Naruto, takut-takut. Kushina tersenyum, ia pun memeluk kembali putra bungsunya itu. "jadilah istri yang baik, Naruto!" pesan sang ibu.

.

.

.

Skip Time..

7 hari lamanya Sasuke tinggal di alam hantu hanya untuk menunggu sang dobe. Tapi, selama ini Naruto juga tidak pulang dan membuat para maid dan butler khawatir. Ini memang salahnya, dan Sasuke cukup menyadari hal itu. Naruto yang begitu mencintainya, dan dirinya yang selalu menghiraukan perasaan sang blonde semaunya. Apa seperti ini rasanya menanti seseorang? Rasanya, ia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Naruto.

Cinta memang tak ada logika kan?

Heh, berhenti bicara logika! Hanya orang idiot saja lah yang menyamakan cinta dan logika. Padahal faktanya, cinta itu tak bisa di ukur dengan logika. Ada-ada saja, munafik sekali orang itu. Memangnya mereka tahu apa artinya logika? Pasti jawabannya pikiran, kan? Duh, kasihan sekali orang bodoh sok prodigy itu. Apa kau merasakannya, Sasuke? I bet, kau sudah merasakannya. Mencintai seseorang tanpa mengukurnya dengan pikiran. Hahahah, bahkan ilmuwan fisika saja juga tidak pernah bisa mengukur cinta.

Bicara cinta? Tidak akan pernah ada habisnya.

Uchiha memang diberkati oleh wajah tampan dan juga otak yang cerdas. Tapi, wait! Cerdas? Hah, bahkan aku tak yakin kalau kali ini Sasuke masih terlihat seperti orang cerdas. Masih bertanya-tanya dimana keberadaan Naruto. Tentu saja dia khawatir, mengingat Naruto nya sudah 2 minggu lebih tidak pulang ke istana nya. Aduh, hime, pulang lah!

.

.

.

Lagi, kita setting latar belakang, tempat, dan waktu. Anggap saja kalian sedang menonton film horror kesukaan kalian. Asal, jangan kalian samakan saja dengan film horror berbau porno yang sering merusak mata-mata polos kalian! Duh, dari judulnya saja sudah bikin merinding. Layaknya tempat uji nyali live. Dimana makhluk-makhluk astral berada. Dimana kalian bisa memotret nuansa horror, dikala orps-orps bisa berubah menjadi makhluk astral yang tidak diketahui eksistansi nya. Anggap saja begitu!

Kushina mengusap lembut surai blonde Naruto yang sedang menidurkan kepalanya dipangkuan sang ibu. Dengan penuh kasih sayang, ia menatap putra bungsunya itu. Masih teringat di kepalanya, saat pertama kali Naruto lahir. Sungguh, ia begitu bahagia ketika mimpinya mempunyai anak laki-laki terwujud. Juga yang menyakiti hatinya, melihat putranya yang bahkan sampai mati saja masih juga tidak bisa tenang. Sakit? Tentu saja, dia seorang ibu, bung!

Angin semilir menerpa wajah pucatnya. Ia tidak perlu tidur, karena dia bukan lagi manusia. Dia sudah mati, tanpa disuruh tidur saja, jasadnya juga sudah tidur di dalam peti mati. "apa kau yakin tidak mau pulang?" Tanya Kushina. Naruto menggelengkan kepalanya pelan, Kushina menarik nafas pelan. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia yakin ini masalah yang berat.

"kau harus pulang, nak! Kau tidak bisa lari dari kenyataan terus" bujuk Kushina.

"aku pulang kemana, bu? Aku sudah tidak tahu harus kemana lagi. Tak ada yang menunggu ku" kata Naruto, terlihat sudah putus asa dengan jalan takdirnya.

"ibu, apa bahagia itu mahal?" Tanya Naruto.

Ia menatap sang ibu penuh Tanya. Kushina tersenyum dan mengusap lembut kening Naruto, seperti yang ia lakukan saat anak-anaknya masih kanak-kanak. "tidak, tapi bukan berarti mudah kau dapatkan! Kau harus berjuang. Jika kau bisa melihat pelangi setelah hujan, kau juga bisa melihat kebahagian setelah duka" jawab Kushina.

"begitu ya" gumam Naruto.

"kita memang Cuma hantu Naruto! Tapi kita berhak untuk bahagia" ujar Kushina.

"pekalah, nak! Masih ada yang mencintai mu" lanjut nya.

"peka?" beo Naruto.

"kau hantu, ingat? Hantu bisa membaca pikiran manusia, kau bukan lagi manusia. Kau bisa melakukan sesuatu yang dulu tak bisa kau lakukan. Pulanglah, seseorang menunggu mu disana"

.

.

.

Naruto's POV

Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dada ku masih terasa sesak sejak aku mamutuskan untuk membiarkan Sasuke memilih kebahagian yang ia impikan. Ku katakan pada diri ku sendiri, untuk berhenti memikirkannya, tapi itu bergerak lebih cepat dan aku tidak bisa menghentikannya. Aku hanya mayat, aku punya impian, dan aku tahu bagaimana rasanya impian ku terenggut dari ku. Tapi aku begitu kejam merenggut seseorang dari orang yang ia cintai hanya untuk bahagia ku saja.

Kini, aku hanya menyendiri sambil duduk di atas batu cadas besar di tepi sungai. Lewat rembulan aku bisa bercermin seperti ini. Aku bahkan sempat lupa bahwa rembulan itu begitu cantik dengan sinarnya. Aku jadi iri, berpikir bahwa aku adalah rembulan, apakah Sasuke akan menerima ku? Sayangnya aku hanya sosok yang tidak jelas tinggal dimana.

"ternyata benar kau"

Aku menoleh, dan sempat terkejut melihat sosok pemuda tampan melayang mendekati batu cadas dimana aku berada. Iris sapphire ku membola sempurna, ketika sosok familiar itu malah tersenyum ramah pada ku. "Ga..Gaara-kun" aku terbata-bata menyebutkan namanya. Gaara? Sudah mati? Kapan?

"aku mencari mu begitu lama sekali" Gaara mendudukan dirinya disamping ku. "sejak kapan?" Tanya ku. "sejak kau menghilang" jawab Gaara, masih dengan suara khas nya. Aku tertawa miris mendengarnya. Apa aku melawatkan sosok yang dulu mencintai ku? Ya, aku melewatkan sosok tampan itu. "maaf" lirih Gaara. Aku memiringkan kepala ku, tidak mengerti dengan ucapan maafnya.

"untuk apa?" Tanya ku.

.

.

.

.

Normal POV

"untuk apa?" Tanya Naruto, sambil memiringkan kepalanya. Gaara menoleh dan menatap iris sapphire Naruto. "jika aku menceritakannya, apa kau akan memaafkan ku, Naru?" Tanya Gaara. "tentu saja, Gaara-kun! Tapi soal apa? Aku tidak tahu, ku mohon ceritakan!" pinta Naruto. Gaara mengadahkan kepalanya ke atas langit, mencoba mengingat kenangan buruk yang menimpa dirinya.

Flashback On

"rasanya hari ini aku merindukan Naruto" Gaara berguman pelan, dibalik kertas laporan miliknya. Terdengar ia menghela nafas entah untuk yang keberapa. Kenapa? Kenapa ayahnya sangat suka membuat dirinya sibuk seperti ini? Bahkan ketika hari pernikahannya akan berlangsung sehari ia juga masih harus berkutat dengan kertas-kertas laporan dan juga rapat dengan para dewan kerajaan. Ia pusing sekali, ia membutuhkan hiburan, dan juga Naruto disini.

Diam-diam Gaara kabur dari ruangannya. Dengan kuda kesayangannya ia pergi ke Konoha untuk menemui Naruto. Setelah berjalan selama 4 jam dengan kudanya bernama 'Mookie', Gaara pun akhirnya sampai di pintu gerbang mansion besar Namikaze. Para penjaga segera memberi jalan untuk dirinya memasuki halaman mansion. Para maid dan butler membungkuk hormat padanya.

"ah, Gaara-san" seorang ketua pelayan menyapa ramah dirinya.

"Temujin-san, dimana Naruto?" Tanya Gaara.

"Naru-sama ada di kamarnya. Silahkan masuk, biar kami yang mengurus kuda anda" ujar Temujin.

.

.

.

.

Sesampai di kamar Naruto, Gaara menyipitkan matanya saat tak melihat sosok pirang yang begitu ia rindukan. Secarik kertas menyapa pandangan sang calon Raja. Pangeran negeri Suna itu sedikit curiga ketika membaca pesan singkat itu. Dengan terburu-buru Gaara menyusul Naruto, berharap tidak terjadi sesuatu padanya. Gaara sangat hafal betul tulisan itu, tulisan milik kakak kembarnya yang sangat tergila-gila pada calon istrinya.

Setibanya di taman, angin semilir menerpa wajah tampannya. Sepi, tak ada satu pun yang terlihat. Ia terus berjalan, hingga ia bisa melihat Naruto yang memeluk erat tubuh tinggi di depannya. "Gaara-kun" Naruto masih tidak menyadari sosok tersebut bukanlah calon suaminya.

"merindukan ku, hime?" sosok itu pun berbalik badan dan menunjukan wajah aslinya.

"Sa..Sasori-san" Naruto mundur selangkah.

"hallo, manis" Sasori mendekati Naruto, Naruto yang melihat tanda bahaya pun segera berlari menjauhi Sasori.

Gaara bisa melihat Naruto yang terjatuh dan hendak membantunya. Namun, tiba-tiba saja Sasori datang dengan sebilah pisau di tangannya. Sontak saja Gaara terkejut, baru saja ia memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya, Sasori sudah mendekati tubuh Naruto.

"kau tahu sayang? Aku mencintai mu, tapi kenapa kau menolak ku dan memilih adik ku, hm?" Tanya Sasori.

"tidak..ku mohon, pergi! Hiks..ku mohon" pinta Naruto.

Melihat wajah manis Naruto yang semakin ketakutan, membuat sisi gelap di tubuh Sasori muncul. Dengan beringasnya ia menusuk perut Naruto dengan pisau dapur yang selalu ia bawa kemana-mana. "aarrgghh.." Pekik Naruto. Darah keluar dari bibir mungilnya. "S..Sasori-san..khhhhhheehhh" Naruto mencoba menahan rasa sakit di perutnya.

"N..Naruto" Sasori terkejut ketika menyadari bahwa ia telah melukai Naruto dengan pisau dapur miliknya. "Bicaralah! Ku mohon, Naruto!" Sasori mengguncang tubuh Naruto. Namun, Naruto sudah tak bernyawa karena terlalu banyak darah yang berkurang dari tubuhnya. Terlebih, rasa sakit yang tidak bisa ia tahan terlalu lama tanpa pertolongan.

"Naruto, ku mohon! Bangunlah!" pinta Sasori.

Darah Naruto mengotori bajunya, namun Sasori tidak peduli akan hal itu. "jika aku tak bisa memiliki mu, tak ada satu pun yang boleh memiliki diri mu" sebuah seringai setan muncul di wajah tampan Sasori. "HAHAHAHAHAHAH" Sasori tertawa. "lebih baik beginikan, Naru-hime?" Sasori segera menggendong tubuh Naruto dan membawanya masuk ke dalam hutan.

Gaara yang sedari tadi mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi, akhirnya keluar dari persembunyiannya dan menghadang Sasori yang menggendong tubuh Naruto. "Gaara" Sasori tersentak, dan tak tahu harus berbuat apa. "kenapa kau melakukannya lagi, kak?" Tanya Gaara. Sasori terdiam, tidak menjawan. "jawab aku! Kenapa kau membunuh orang lagi?" Gaara mendekat ke arah Sasori dan menarik kasar kerah kemeja Sasori.

"aku mencintai nya.. aku mencintai Naruto" kata Sasori.

"tapi tidak begini caranya, kau melukai hatinya dan juga fisiknya! Bahkan kau membunuhnya, kan!" seru Gaara.

"kau juga harus mati, kak!" Gaara mengeluarkan pistol miliknya dari saku celana. Ia merutuk, kenapa ia baru ingat bahwa ia juga memegang senjata. Tanpa perasaan Gaara menembak kening Sasori. Saat itu juga Sasori limbung ke tanah. Gaara pun membuang Sasori ke jurang dan membawa tubuh Naruto yang sudah tak bernyawa semakin masuk ke dalam hutan.

Dengan peralatan seadanya ia mengubur orang yang ia cintai. Ia sungguh mencintai Naruto, dan menyesal tidak berbuat apa-apa saat saudaranya membunuh calon istrinya. Ia hendak membunuh Sasori saat itu, namun dilain pihak Sasori adalah saudaranya dan hanya Sasori yang Gaara punya sebelum ia memiliki Naruto. Gaara menyayangi Sasori, tapi ia juga mencintai Naruto. Pilihan yang sulit baginya.

Flashback OFF

.

.

.

"aku sangat kehilangan diri mu, dan membuat ku gila, Naruto!" kata Gaara, begitu menyelesaikan ceritanya. "aku tidak marah pada mu.. tidak pernah, Gaara kun" sahut Naruto. "sejak saat itu aku mulai gemar melakukan tindak asusila dan membuat diri ku di hokum mati, hime" Gaara menceritakan setelah kematian sang blonde. Naruto menutup mulutnya yang terbuka, saat terkejut mendengar cerita lanjutan setelah kematian dirinya.

"aku menyewa wanita malam, kemudian ku bunuh secara keji agar aku bisa membalaskan kematian mu, Naruto! Tapi itu yang membuat ku menjadi psikopat seperti Sasori. Bahkan ketika mati, harapan ku adalah bertemu dengan mu. Akan tetapi aku merasa malu untuk menemui mu" lanjut Gaara.

Naruto memeluk tubuh Gaara, menghibur sang merah bata untuk menghentikan rasa penyesalannya. "kau melindungi saudara mu, dan aku tidak marah pada mu" kata Naruto. "aku bangga pada mu" sambung Naruto.

.

.

.

Sementara itu..

Uchiha Sasuke segera bangkit dari posisinya, dan terus memperhatikan tubuh pucatnya. Beginikah yang Naruto rasakan? Sasuke merasakan tubuhnya begitu ringan. Tak ada perubahan darinya, hanya saja kulitnya semakin terlihat pucat dan mata onyx nya semakin terlihat semakin hitam. Sasuke berjalan santai menjauhi sosok mayat yang terbujur kaku dengan darah membasahi tubuh proposional itu.

Tak dipedulikan akan jadi apa mayat itu, Sasuke malah terus berjalan dengan tangan di kantong. Menghiraukan bisik-bisik para hantu wanita yang terpesona akan ketampanannya.

"tuan, sepertinya anda hantu baru" sapa hantu berdada besar, dengan surai redhead miliknya.

"ya, baru saja mati! Itu jasad ku" Sasuke menunjuk sosok mayat yang sedari tadi berada tak jauh dari posisi mereka.

"ahh, leher ku pegal sekali" dengan OOCnya Sasuke memutar kepalanya 360 derajat seperti burung hantu. "tuan, aku ada di depan mu" Hantu bernama Mei itu berkata lagi. "hahah, iya" tawa canggung terdengar dari bibir Sasuke. "sepertinya bocah ini masih belum bisa memutar kepalanya kembali" seorang wanita berusia 45 tahun bersurai merah melayang mendekati mereka.

"wahh, kau tampan juga bocah!" keluarlah sosok wanita bersurai pirang kecoklatan yang juga mendekati dirinya.

"siapa nama mu?" si hantu rambut merah bertanya.

"Sasuke" jawabnya singkat.

"Sasuke" beo si rambut merah.

"hey, kau kenapa Kushina?" Tanya si hantu berambut pirang.

"tidak, hanya saja pernah mendengar nama itu, Karura" sahut Kushina, dalam hati ia mengingat-ingat, kapan ia mendengar nama tersebut.

"kau mirip sekali dengan dokter Madara, nak!" celetuk Mei.

"A..apa? kau mengenal Madara?" Tanya Sasuke, kepo.

"ya, tentu saja! Dokter tampan itu, hahaha aku kan mengenalnya" jawab Mei.

"bagaimana ia tidak mengenal Madara? Kalau saja ia selalu berpura-pura sakit hanya untuk bertemu dengan pak dokter?" bisik Karura pada Kushina. Namun, ku rasa itu bukanlah bisikan, melainkan sindiran keras, karena Mei dan Sasuke juga mendengarnya.

"ya, aku sampai bosan mengantarnya kesana" sindir Kushina.

"hey!" protes Mei.

"sekarang kau mau kemana, bocah?" Tanya Karura, terlalu jutek.

.

.

.

Mansion Namikaze

Naruto pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke mansion Namikaze bersama Gaara. Para maid dan butler menyambut Naruto dengan gembira, juga bertanya-tanya siapa pemuda yang berjalan disamping Naruto. Mereka tidak suka Naruto bersama pemuda lain kecuali Sasuke. Dengan terburu-buru, para maid berjalan hanya menyapa Naruto dan menatap tak suka pada Gaara.

"Naru-hime"

Iruka melayang mendekati Naruto dan Gaara. Dengan penuh kerinduan keduanya saling berpelukan. Membuat kedua pria (Kakashi dan Obito) menatap iri pada Naruto. Mereka juga mau dipeluk Iruka rupanya. "dia Gaara, calon suami ku"

Obito dan Kakashi sontak saja terkejut dan mereka saling berpandangan, secepat itukah Naruto melupakan Sasuke?

"aku menyesal telah menyarankan anak itu untuk bunuh diri" sesal Obito.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N

Hiii.. Readers!

Ai kembali..

Hehehehehh..

Untuk di chapter ini dan selanjutnya Ai kasih sedikit konflik, biar perjuangan Sasuke nya terasa. Habis menurut Ai, kalo gak dikasih konflik, rasanya Sasuke gampang banget dapetin kepercayaan Naruto, sementara Naruto mau dapetin Sasuke aja harus berjuang dulu. Gomen, kalo kurang setuju. Ne, thanks juga buat reviewnya yah. Dan soal lambat update nya, gomen juga, Pssttt, Ai lagi dalam rencana buat bikin new Fic setelah fic ini selesai. Heheheh..

So, see ya next!

.

.

.

REVIEW?