Naruto memandang sendu ke arah katak besar yang kini berada tepat disampingnya. Katak itu seolah mengerti apa yang ia rasakan. Tapi, itu hanya seekor katak. Tentu saja tidak bisa menjawab apa yang Naruto katakan, ia hanya bisa bersuara layak seekor katak besar, dengan suara besar yang khas. "kau juga merindukannya kan, Gamabunta?" Tanya Naruto, sang katak mengeluarkan suara besar dari tenggorokannya. "tapi kita tidak bisa memaksanya untuk ke sini" ujar Naruto.

"Naru-Hime"

Lee melayang mendekati Naruto yang sedang duduk di balkon kamarnya. "maaf, lancang" kata Lee, menyadari kesalahannya yang memang sedikit lancang memasuki kamar pribadi Naruto. Pemuda bersurai blonde itu tersenyum, seolah mengatakan 'tidak masalah' pada pemuda berambut mangkuk tersebut. "aku ingin berbicara sesuatu tentang—"

"Naruto"

Lee menghentikan kalimatnya saat mendengar suara bass milik Gaara. Ia sedikit kesal dengan kedatangan pemuda bersurai merah bata itu. Apa-apaan dia itu, berani sekali memotong pembicaraannya dengan Naruto, menyebalkan. "aku ingin berbicara dengan mu" kata Gaara, seolah memerintahkan Lee untuk meninggalkan mereka berdua.

"saya permisi dulu, ayo Gamabunta" Lee mengajak katak besar itu untuk segera pergi dari kamar Naruto. Gamabunta menuruti perintah Lee, katak itu segera melompat mengikuti langkah Lee keluar kamar. Naruto hendak meminta Lee supaya jangan pergi, tapi sepertinya Lee benar-benar sedikit aneh dan tidak seperti biasanya.

Bahkan para maid dan butler lainnya, sedikit menjadi pendiam sejak kedatangan Gaara. Mereka hanya bekerja, sebagaimana seorang pelayan. Selebihnya, mereka lebih memilih diam dan membungkuk hormat di depan Gaara dan Naruto selaku seorang bangsawan. Naruto merasa aneh, ia sedikit canggung dengan keadaan seperti itu. Biasanya Maid dan Butler akan berlaku ramah pada tamu yang dibawa oleh Naruto. Bahkan mereka sering menyambut ramah hantu-hantu baru yang di ajak Naruto untuk tinggal di mansion besar tersebut.

Saat Naruto membawa Sasuke, bahkan mereka juga terlihat sangat bahagia sekali. Tapi ketika Naruto datang bersama Gaara, dan mengatakan ingin menikahi Gaara, mereka jadi berubah dan tidak ramah pada Gaara. "bagaimana dengan pernikahan kita?" Tanya Gaara, merangkum wajah manis Naruto. Pemuda manis itu menggelengkan kepalanya pelan, dan berbalik badan hanya untuk mencoba berpikir akan perasaannya.

.

.

.

We Are Too Different

SasuNaru

Masashi Kishimoto©

Inspirated By THE CORPSE BRIDE 2005 Tim Burton©

.

.

.

Sementara Naruto galau akan perasaannya, di lain tempat Sasuke sedang duduk diam di sebuah rumah hiburan dan menyaksikan lautan-lautan hantu yang sedang berpesta. Ia hanya diam, dan tidak berminat untuk meladeni para hantu wanita yang mengajak dirinya untuk berdansa. Lagipula, ia juga tidak bisa berdansa. Kalau pun bisa, siapa juga yang mau berdansa dengan hantu-hantu ganjen itu? Naruto masih lebih baik.

Kushina mengernyitkan dahinya saat melihat Sasuke yang gelisah. Ia hantu yang sudah berpuluh-puluh tahun mati, ia juga sudah termasuk hantu senior, pastinya. Kushina sudah pasti bisa membaca pikiran manusia bahkan sesama hantu. Ia bukan tipikal wanita yang bisa dibohongi semasa hidup.

"aku sebenarnya pernah mendengar nama yang sama dengan mu" kata Kushina.

Sasuke menoleh, ia sudah paham bagaimana bisa Kushina sudah berada tepat di sampingnya. "hanya nama yang sama, nyonya" sahut Sasuke, seadanya. Wanita itu tersenyum dan kemudian berpindah tempat hingga ia berada tepat di hadapan Sasuke. "mungkin.. karena Sasuke adalah seorang manusia, dan tidak mungkin dengan bodohnya ia memilih mati sementara di atas sana (dunia manusia) masih banyak wanita-wanita sexy yang sangat mudah ia dapatkan" ujar Kushina.

"dan mungkin hanya putra ku yang bodoh, lebih memilih mencintai manusia tak tahu diri itu" lanjutnya.

Iris malam Sasuke sontak saja membola. Apa yang dimaksud Kushina, sangat mirip dengan keadaannya dan juga si dobe pirangnya itu.

"sebenarnya aku tidak mau putra ku menjadi seorang YAOI—" Kushina menjeda kalimatnya.

"tapi dari lahir putra ku memang berbeda dari anak-anak lainnya" lanjutnya

Sasuke diam, dan terus memperhatikan Kushina yang sibuk membaca. Pikirannya saat ini hanya Naruto dan Naruto, bagaimana menemukan pemuda itu dan mengajaknya untuk menikah, lalu hidup(mati) bahagia bersama, sampai tuhan meminta mereka untuk kembali ke hadapannya. Dosa? Biarlah, setidaknya Sasuke tidak sendirian mendekam di penjara Neraka, karena mungkin saja ia bisa menyeret Naruto bersama dengannya, dan hidup bahagia dalam siksaan malaikat-malaikat yang gemar sekali menyiksa manusia yang berlumur dosa.

"namun tidak masalah selama itu bersama mu" bisik Kushina, tepat di telinga Sasuke.

.

.

.

"Kakashi, bagaimana ini?" Tanya Obito, ia baru saja mendapatkan laporan dari Lee yang memang dengan sengaja menawarkan dirinya sebagai mata-mata. Kakashi berpikir sejenak, memikirkan bagaimana cara agar Naruto bisa bersama Sasuke kembali. Karena kedua pria tampan ini yakin (sangat yakin malah) kalau Naruto bisa hidup bahagia bersama Sasuke. "entahlah" sahutnya.

"bagaimana jika kita mencari tuan Sasuke?" usul Iruka, yang sedari tadi diam. Kakashi manggut-manggut, tidak, bukan soal usul dari pria bernama Iruka itu. Tapi—kau tahu kan jawabannya? :D Obito sedikit kesal melihat tingkah Kakashi. Bagaimana bisa pria itu masih memiliki kesempatan untuk terkesima? 'dasar Homo' batin Obito, seolah ia tidak menyadari akan ketertarikannya yang tak jauh beda dengan Kakashi.

"kau juga" dengan wajah malas Kakashi menyahut.

"cih" decih Obito.

"uumm..a..ano, b..bagaimana dengan usul ku?" Tanya Iruka, sedikit protes karena sedari tadi tak ada satu pun yang mendengarnya.

"baiklah, kita akan coba" ujar Kakashi, sok keren.

.

.

.

Di dunia manusia, para keluarga Uchiha sedang berduka atas kematian tragis putra bungsu mereka. Mikoto sempat pingsan ketika mengetahui putranya ditemukan tewas mengenaskan di bawah jurang. Fugaku pun tak jauh beda, rasanya ia menyesal sudah membuat putra bungsunya tertekan dengan asuhannya yang ia akui sedikit tiran. Suasana duka dikediaman Uchiha, membuat siapapun menyesali kepergian putra mereka yang masih terlalu muda.

Pemuda tampan, pintar, dan kaya, siapapun tidak akan pernah menolak pesona pemuda itu. Kini, harapan para ibu-ibu untuk menikahkan putra mereka dengan salah satu Uchiha pun harus kandas begitu saja. Kematian sang bungsu Uchiha, sangat mereka sayangkan. Sayang, jika pemuda tampan itu harus tewas sebelum menikah dan berumah tangga.

.

.

.

Sasuke's POV

Lagi-lagi aku berjalan entah menuju kemana. Aku tidak tahu harus apa lagi, sekarang. Aku hanya ingin bertemu Naruto, tapi Kushina-san mengatakan jika putranya sudah kembali ke mansion seminggu yang lalu. Aku kembali menemui Naruto, dan mengatakan aku ingin menjadi suaminya. Pasti Naruto akan bertanya-tanya, apa yang terjadi pada ku.

Atau bahkan ia akan mengira ku gila. Tak masalah, karena dia lah yang membuat ku gila. Gila akan dirinya, Namikaze Naruto, hantu manis yang membuat diri ku menyimpang? Hahaha, mungkin saja. Tapi, percayalah, aku mencintainya, sangat.

Aku sudah mati sekarang, ku pilih kematian ku hanya untuk bisa bersamanya. Menghapus perbedaan diantara kami, itu saja. Tidak ada niat lainnya.

"Sasuke"

Teriakan familiar terdengar di telinga ku. Aku menoleh dan mendapati mendiang kakek ku melayang ke arah ku. Aku menyipitkan mata ku, berharap jika ia benar-benar kakek ku. Ia tersenyum ke arah ku. "jadi benar kau sudah mati?" Tanya nya. Aku mengangguk pelan, ia mengusap pelan surai raven ku. "kau sudah tinggi sekarang, bahkan kau sudah melebihi ku" katanya, bangga.

"tapi kenapa kau jadi dingin begini?" Tanya nya, heran.

"dulu bahkan kau sangat manja pada ku" lanjutnya, mulai mengenang masa lalu.

"kakek sedang apa disini?" Tanya Ku. Sepertinya aku sudah mulai kesal, ketika kakek hendak menceritakan masa lalu ku saat masih kecil.

"Kushina-san bilang kau berjalan ke arah sini, aku hanya ingin menemui cucu ku" kata Kakek. Aku mengangguk pelan, rasanya sedikit canggung ketika aku bisa menemui kakek ku lagi.

END OF SASUKE's POV

.

.

.

.

ALAM MANUSIA

"jadi, Naru-hime akan menikah dengan hantu lain?" Tanya Sakura, sedikit terkejut ketika mendengar curhatan Lee mengenai kehidupan para hantu di dunia bawah. Lee menggaruk pelan rambut mangkuknya, ia sendiri juga bingung hendak berbuat apa. "tuan Sasuke juga belum ditemukan" Lee, benar-benar sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Sakura memasang pose berpikir, ia harus mencari cara. Cara agar Sasuke dan Naruto bisa bersama-sama. "hm, bagaimana ya? Aku juga tidak tahu, aku hanya bisa berdoa semoga mereka bisa bersama, Lee" kata Sakura. Lee tersenyum dan seolah ia baru saja mendapatkan ide, "ah, iya kau benar! Kita memang harus berdoa" sahut Lee.

Sakura tertawa melihat tingkah Lee, suasana taman saat ini begitu sepi dan hanya terdengar suara burung hantu di sela-sela pembicaraan mereka. "aku merindukan mu, Lee"

Lee menghentikan tawanya, dan menatap iris emerald Sakura. "bukan hanya kau.. aku juga merindukan mu" sahut Lee, Lee mendongakan kepalanya ke langit. Berharap menemukan jalan pintas agar mereka bisa bersatu dan hidup bahagia selamanya. "terlalu banyak perbedaan Sakura" ujar Lee, dengan wajah yang terkesan serius.

Sakura diam, dan menundukan kepalanya dalam-dalam. Mungkinkah ia dan Lee tidak bisa bersama? Bahkan, jika ia mati? Dimana keadilan untuk nya?

"dengar cantik! Kau bisa hidup bahagia, dan bahagialah untuk ku" Lee menyentuh lembut wajah Sakura.

Sakura memegang tangan Lee yang menyentuh lembut wajahnya. "bagaimana aku bisa bahagia? Ketika kebahagian ku adalah bersama mu, Lee"

.

.

.

.

Tempat Praktek Madara (dunia Hantu)

Para hantu wanita berdecak kesal, ketika dokter tampan langganan mereka tutup sebelum waktunya? Padahal, mereka kan ingin bertemu dokter tampan itu, dan menyaksikan wajah tampan Madara yang sedang serius. Ughhh, bahkan tak jarang para hantu wanita rela antri berdesak-desakan hanya untuk mengagumi wajah tampan itu. Ahhh, belum lagi melihat sosok pemuda tampan yang berada di klinik pak dokter itu, siapa sih yang bisa tahan? Para hantu melambaikan tangannya, tak kuat melihat ketampanan kedua hantu itu.

Sasuke merinding sendiri melihat hantu berbagai macam bentuk berteriak ala Fans Girl di depan klinik sang kakek. Yah, kakeknya masih terlihat tampan, mengingat kematiannya yang saat itu baru berusia 50 tahunan. Namun, biar begitu, wajah madara tetap awet muda seperti masih berusia 35 tahunan. Ya, salahkan saja gen cowok-cowok Uchiha yang memang pada dasarnya ganteng. Duh, gak nahan deh.

"dasar wanita" umpat Madara. Sasuke benar-benar menyesal sudah diciptakan jadi orang ganteng pembawa sial. Dulu saja sewaktu hidup, Sasuke pernah dikejar-kejar banyak gadis hanya untuk mendapatkan tanda tangannya, sekarang? Sudah mati saja juga masih saja punya banyak fans. Kapan sih ini berakhir?

"bagaimana kabar Itachi?" Tanya Madara. "dia sudah menikah dan punya anak" jawab Sasuke ala kadarnya. Madara ber-'oh' saja mendengar jawaban Sasuke. "aku sudah dengar tentang cerita mu dari Kushina-san" kata Madara.

"ibu-ibu cerewet itu cerita apa saja pada kakek?" Tanya Sasuke, mulai kepo.

Madara mengaduk –entah kopi, entah teh—yang ia masukan ke dalam cangkir, memakai jari telunjuknya yang hanya tinggal tulangnya saja. (at least, hanya jari telunjuk nya saja yang tinggal tulang). "semuanya, kau yang menyukai putranya dan putranya yang menyukai mu" jawab Madara, kemudian menyeruput minuman aneh itu.

Sasuke gemetar saat melihat air berwarna kehitaman keluar dari sela-sela rongga yang terdapat di dada sang kakek. "kenapa?" Tanya Madara, heran. Sasuke menggeleng pelan, dan memperhatikan cangkir yang sedari tadi ia genggam, tanpa ada niat untuk mencicipinya. "kau sudah mantap kan? Ya sudah kembali saja ke istana itu" ujar sang kakek.

"tapi dia tidak disana, kek" sahut Sasuke.

Madara terkekeh geli, dan mengusap penuh kasih surai raven cucunya. Sudah lama sekali ia merindukan cucuc-cucunya, bahkan di akhir hayatnya saja, ia tidak bisa bertemu dengan Sasuke karena para medis rumah sakit melarang anak-anak masuk ke ruangannya. Sasuke membiarkan kakek nya mengusap surai raven miliknya. "darimana kau tahu? cepatlah kau kesana sebelum—"

"AYAH...AYAH...AYAH..KEPALA KU TIDAK BISA TERSAMBUNG LAGI" teriakan frustasi dan bantingan pintu terdengar, membuat Madara menghentikan ucapannya.

Sasuke sweatdropped mendapati paman Obito dengan sikap tak elitnya menangis, meraung-raung, meratapi nasib kepalanya. "anjing kampung itu menabrak ku lagi, yah!" adu Obito, menyalahkan seekor anjin yang tidak berdosa. 'apa itu memang paman ku?' Sasuke bertanya dalam hati, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

"huh, letakan disana! Aku akan segera mengoperasikan diri mu" kata Madara.

.

.

.

.

Mansion Naruto..

Semua maid dan butler hantu berkumpul di aula. Naruto duduk di atas singgasana nya, dengan senyum merekah di bibir pucatnya. "dengar.." Naruto mulai membuka suara. Para maid dan Butler memperhatikan dengan serius sosok mungil itu.

Disamping Naruto ada Gaara yang dengan berpenampilan gagah, dan membuat siapapun akan berdecak kagum melihatnya. Mereka memang mengakuinya, tapi bagi mereka, tetap saja Uchiha Sasuke-sama lah yang paling gagah, tampan, dan keren. Terlebih, lebih cocok Sasuke yang bersanding dengan Naruto saat ini.

"Kalian sudah tahu siapa pemuda ini kan?" Tanya Naruto,seraya menoleh ke arah Gaara dan tersenyum manis.

Para maid dan butler tidak suka melihatnya. "ya,kami mengenal pemuda itu" sahut mereka.

"dia adalah calon suami ku semasa hidup" Naruto berkata.

"Dan kami akan menikah secara hokum dunia hantu" Gaara melanjutkan ucapan Naruto. Keduanya saling berpandangan dan tersenyum.

.

.

.

Lee tersenyum bahagia saat pada akhirnya ia berhasil menemukan keberadaan Sasuke. Roh pemuda rambut mangkuk itu pun segera melayang mendekati Sasuke yang sedang duduk di bawah pohon. "Lee" Sasuke, menoleh ke arah mantan butler nya itu. "tuan, anda harus segera kembali ke istana.. saya mohon, tuan!" pinta Lee.

Sasuke memasang pose berpikir, apa maksud pemuda mangkuk ini? "untuk apa?" Tanya Sasuke, seakan ia sudah lelah dengan nasibnya sendiri. "Naru-hime sudah kembali, dan harus ke sana untuk menghentikan pernikahannya dengan hantu lain" ujar Lee.

Sontak saja Sasuke terkejut, dan tak rela mendengar hal itu terjadi. "baiklah.. ayo kita kesana!" seru Sasuke. Lee lagi-lagi tak kuasa mengucapkan rasa syukurnya, ketika berhasil meyakinkan Sasuke untuk kembali ke istana Naruto.

Sementara itu, para maid dan butler berdoa agar Kakashi, Obito, maupun Lee bisa membawa Sasuke kembali, dan menghentikan acara pernikahan tersebut. "aku berharap tuan Sasuke berhasil membatalkannya" Tenten mulai berharap. "ya, itu pasti!" Hinata menyahut, percaya jika Sasuke bisa membuat Naruto bahagia. "aku yakin, pasti tuan Sasuke kembali" kini giliran Konohamaru berkata.

Tampaknya, ia optimis sekali jika menyangkut kebahagian Sasuke dan Naruto. "kita harus membantu tuan Sasuke, ya, kita harus membantunya" seru Neji.

.

.

.

.

Skip Time

Iris sapphire Naruto membesar ketika melihat sosok bertubuh tegap berdiri tepat di depan pintu. Suasana pun hening tanpa ada yang meminta. Sasuke berdiri di depan pintu kayu besar dan di belakangnya ada Lee yang begitu setia mendukung kebahagian sang tuan muda. Naruto menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

Pernikahannya dengan Gaara yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi, sepertinya harus tertunda akibat kedatangan Sasuke. "S..Sasuke" dengan terbata-bata Naruto menyebutkan nama Sasuke.

"Naruto" Sasuke melayang mendekati hantu berwajah manis itu. Para pelayan hanya bisa memperhatikan interaksi keduanya, yang terlihat seperti drama. Tanpa aba-aba, Sasuke langsung membawa Naruto ke dalam pelukannya. Gaara mendengus pelan, melihat seorang pemuda yang begitu lancang memeluk calon istrinya. "hey, apa-apaan kau" Protes Gaara, seraya menarik Naruto ke dalam pelukannya.

"apa maksud mu? Dia itu istri ku!" seru Sasuke, dengan penuh percaya diri.

Keterkejutan Naruto semakin bertambah. Ada apa dengan Sasuke? Dan lagi, kenapa wajah Sasuke menjadi semakin pucat. Naruto terus bertanya-tanya, apa yang terjadi selama ia pergi. "Apa? Hahaha, jangan bercanda, nak! Naruto calon istri ku, kami akan menikah beberapa hari lagi" ucap Gaara, bangga.

Sasuke melempar pandangannya ke arah Naruto, mencari kebenaran akan ucapan Gaara dari mulut Naruto. "kami akan menikah, Sasuke" kata Naruto, terdengar lirih. Sasuke menyadari kalimat yang meluncur dari bibir mungi Naruto. "kau bercanda kan?" Tanya Sasuke.

"kau bercanda ya? Aku rela mati hanya untuk bisa bersama mu, menghapus perbedaan di antara kita.. lalu.. apa kau bersungguh sungguh akan menikah dengannya?" Tanya Sasuke.

Naruto menggelengkan kepalanya pelan. Sasuke tersenyum miris. Ia melayang mendekati Konohamaru. "hey, anak kecil.. katakan APRIL MOOP sekarang juga!" seru Sasuke, tampak frustasi. "itu bukan bohongan, tuan Sasuke" kata Konohamaru, sedikit ketakutan. "Kenapa semuanya jadi berbohong seperti ini" ujar Sasuke, semakin tidak terkendali.

Pandangannya pun bertemu dengan dengan seorang balita bernama Hyuga Irie, anak dari pasangan Neji dan Tenten. "hey, kau satu-satunya anak kecil disini, pasti kau tidak bohong kan?" Tanya Sasuke, kemudian Irie menangis keras, ketakutan melihat wajah frustasi Sasuke.

"CUKUP SASUKE!" seru Naruto.

Sasuke menoleh ke arah Naruto. Si pirang pun melayang mendekati dirinya, dan menyentuh pelan pipinya. "aku akan menikah" ucap Naruto, dengan nada pelan.

"maafkan aku Sasuke" lanjutnya.

Kemudian, Naruto dan Gaara pun melayang pergi meninggalkan para pelayan dan juga Sasuke yang mematung di tempat. Sasuke hanya memandangi kepergian mereka. "maaf tuan Sasuke!" ucap Konohamaru. "ini bukan salah mu" sahut Sasuke.

.

.

.

Gaara merasa kesal ketika lagi-lagi Naruto menghiraukan dirinya. Dalam diamnya, seolah Naruto mengatakan bahwa saat ini ia hanya mau sendiri tanpa siapapun. Dipaksa bicara pun percuma, Naruto bukanlah orang yang suka dipaksa untuk bicara. Gaara yakin Naruto mencintai dirinya, dan akan memilihnya secara pasti. Lagipula, siapa pemuda berambut model pantat ayam itu? Pede sekali mengatakan bahwa ia adalah suami nya Naruto.

Naruto tampak enggan masuk ke dalam kamarnya, dan malah berdiam diri di atas balkon. Memandangi rembulan, seperti yang ia lakukan ketika sedang galau. Memikirkan perasaan yang tidak menentu. Gaara atau Sasuke, dua pemuda itu sama-sama menjanjikan kebahagiaan untuk dirinya. Apa ia mencintai Gaara? Hingga saat ini pun ia belum tahu jawabannya.

Kehilangan Sasuke bahkan lebih sakit ketika dirinya harus berpisah dari Gaara. Tapi, apa mungkin perasaannya saat ini nyata? Ia hanya tidak mau tersakiti lagi, dan ia pun juga tidak mau memaksa siapapun. Bayangan wajah kecewa dan frustasi Sasuke kembali menghantui pikirannya. jadi, siapa yang jahat disini? Takdirkah? Entahlah, sepertinya Naruto bingung untuk memastikannya.

Naruto tahu, Gaara sudah pergi meninggalkan kamarnya. Si blonde pun akhirnya masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Memejamkan matanya yang tiba-tiba terasa berat untuk pertama kalinya. "nyamannya" gumam seseorang yang berada disampingnya.

Naruto membuka matanya, dan terkejut saat mendapati Sasuke sedang merebahkan tubuhnya disampingnya. "apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto, kesal. Sasuke menggedikan bahunya, pertanda ia sendiri pun juga tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. "kau pernah bilang jika ini adalah kamar ku.. jadi, seharusnya yang bertanya itu aku" kata Sasuke.

"kamar mu? Kamar mu di rumah mu tahu" oceh Naruto. "tapi ini juga rumah ku. Tepatnya rumah kedua ku" ujar Sasuke, terus terang. Naruto menghela nafas panjang, baiklah! Ia mengalah saja sekarang. "aku numpang dulu ya" izin Naruto, seraya memiringkan tubuhnya ke kiri. Sasuke ikut memiringkan tubuhnya ke kiri dan memeluk pinggang ramping Naruto.

"Sasuke—"

"biarkan seperti ini. Ku mohon! Karena setelah menikah nanti aku yakin aku sudah tidak bisa memeluk mu sesuka hati ku" ucap Sasuke.

Naruto akhirnya pun membiarkan Sasuke memeluknya. Menikmati waktu terindah bagi keduanya. Karena mereka tahu, ketika mereka terbangun. Hal ini tidak akan pernah terulang lagi. Berharap jika seseorang menghentikan waktu untuk mereka, agar mereka bisa menikmati waktu bersama. "Sasuke" Naruto memanggil Sasuke.

"hm?" sahut Sasuke.

"ku kira kau sudah tidur" ujar Naruto, mengira bahwa Sasuke sudah terlelap. Sasuke tersenyum dan mengecup surai blonde Naruto. "bagaimana aku bisa tidur? Jika di pagi hari aku harus melepaskan mu?" Tanya Sasuke.

"aku ingin menikmati hal ini, Naruto" Sasuke menenggelamkan kepalanya pada perpotongan bahu Naruto.

Tanpa mereka sadari, seseorang terus memperhatikan mereka dengan tampang wajah cemburu di balik pintu. "sial" umpat orang itu.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N

Hii, Ai Back again! Well, bagaimana ceritanya? Aneh ya? Please, maafkan aku readers oh, ada yang pernah nonton film animasi aslinya kan? Hehehe, pastinya dong. Kalo ada yang mengira Sasu dan Naru gak akan bisa bersama.. huweehhhhh,, jangan dong! Mereka pasti bersama. Aku kan bukan Om Burton yang jahat gak bikin Em menyatu sama Victor.. dan soal Naruto yang nantinya having a baby. Huwwoohh, aku masih kurang begitu ngerti sama Fic M-Preg. Tapi, aku suka kok kalo ada yang Mpreg. Abis mereka itu.. So bittersweet!

(psstt, Btw soal Review thanks buat semuanyaaaaa:*)

REVIEW?