Sasuke's POV

Hari ini terasa sepi sekali, aku bertanya-tanya dimana para maid dan butler berada. Tapi rupanya, tak ada satu pun yang melintas. Aku heran, kenapa mereka tidak kelihatan? Karena biasanya, satu dua hantu pun pasti berlalu lalang. Bahkan, Kakashi-san dan paman Obito pun pasti akan meramaikan suasana istana ini. Ah, mengingat paman Obito yang sedang bermasalah dengan kepalanya, pasti Kakashi-san kesepian ditinggal rival abadinya itu.

"Sasuke, sedang apa di sana?"

Aku menghentikan langkah ku saat mendengar suara cempreng milik si dobe. Aku berbalik badan dan menemukan si dobe sedang melayang mendekati diri ku. "dimana yang lain?" Tanya ku. Naruto tersenyum lima jari, "mereka sedang berkunjung ke rumah kerabat manusia mereka" jawab nya. Aku tertegun mendengar jawabannya itu. Tumben sekali ia berbaik hati membolehkan para pelayan mengunjungi sanak keluarga mereka yang masih hidup.

"Inikan purnama ke-14, jadi gerbang pemisah antara dunia manusia dan dunia orang mati terbuka dan membuat siapapun yang sudah mati bisa bebas ke alam manusia.." jawab Naruto.

Ya, aku pernah mendengar legenda, dimana para arwah akan berkunjung ke dunia manusia ketika gerbang pemisah alam mereka mulai menipis. Tapi, mereka hanya bisa sebentar saja di sana. Tidak bisa berlama-lama, karena itulah ketentuannya. Di dunia hantu juga ada hokum, seperti di dunia manusia. Ah, rasanya mati atau pun hidup sama saja bagi ku. Sama-sama harus menaati peraturan.

Tidak seketat dunia manusia memang. Disini, keadilan benar-benar adil. Tidak ada suap-suapan, tikus-tikus berdasi yang menyuap hakim. Hahaha, lupakan saja hal itu. Disini tidak akan pernah ada.

"apa kau tidak mau berkunjung ke atas (dunia manusia) dan menemui kekasih mu—"

"hentikan, Naruto!" sela ku.

Naruto menghentikan ucapannya, dan terkejut akan sikap ku. "maaf" ucapnya.

.

.

.

We Are Too Different

SasuNaru

Masashi Kishimoto©

Inspirated By THE CORPSE BRIDE Tim Burton©

.

.

.

Naruto's POV

"maaf" ucap ku.

Lama kami saling diam. Aku yang diam karena rasa bersalah ku, dan Sasuke yang diam entah karena apa. Aku menundukan kepalaku, dan merasakan bahwa Sasuke sedang menatap intens diri ku. Dia sudah mati, dan sama seperti ku. Kami sama, tak ada yang berbeda. Aku dan Sasuke, apa mungkin masih bisa bersama?

Aku merindukannya..

Sangat, aku merindukannya lebih dari apapun. Sikapnya beberapa hari yang lalu, membuat ku bingung dan bertanya-tanya sampai saat ini. Apa yang Sasuke inginkan? Apa yang Sasuke lakukan, telah membuat ku kembali memikirkan dirinya. Huh? Kembali? Ku pikir, memang aku selalu memikirkannya. Merindukannya, karena ku rasa tiada hari tanpa merindukannya.

Sosok Sasuke seolah membuat ku kembali merasakan apa itu cinta. Apa mungkin Sasuke cinta pertama ku? Cinta pertama di dunia kematian ku? Tapi, kenapa cinta datang terlambat? Tidak, bukan cinta yang datang terlambat! Tapi waktu yang telah menentukan. Sasuke, aku mencintai apapun yang ada dalam diri mu.

Kebaikan mu..

Bahkan kejelekan mu..

Karena aku mencintai mu tanpa syarat. Dan harapan ku saat ini, adalah dimana kau juga bisa mencintai ku seperti aku mencintai mu. Tak ada perasaan menyesal, karena aku telah mencintai mu. Tapi, pernikahan ku? Kenapa ini datang di saat aku telah berusaha mendapatkan apa yang tidak ku dapatkan semasa hidup?

Siapa yang harus ku pilih?

"Ini bukan salah mu" ujar Sasuke, setelah beberapa lama kami terdiam.

.

.

.

Normal POV

"ini bukan salah mu" Sasuke akhirnya menyahut, setelah beberapa menit ia terdiam. Naruto mendongakan kepalanya. Angin menerpa lembut tiara bunga di kepalanya, ia tersenyum manis ke arah Sasuke, meskipun bahkan wajahnya sudah tidak bisa dikatakan utuh lagi. Tapi, biar begitu Naruto masih terlihat manis dimata Sasuke.

"baiklah, aku permisi dulu Sasuke!" Pamit Naruto.

Kemudian, pemuda pirang itu berbalik badan dan melayang menjauhi Sasuke. "tunggu, Naruto!" seru Sasuke. Naruto menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan. "selamat atas pernikahan mu!" ucap Sasuke, tulus. Naruto menoleh ke arah Sasuke dan tersenyum dengan terpaksa pada sang Uchiha. "terimakasih, Sasuke" ujar Naruto.

Wajah Naruto terlihat sedih, karena Sasuke tidak berusaha mengejarnya dan menghapus bulir-bulir bening yang membasahi pipi bulatnya. Tak jauh beda, Sasuke pun merasa bahwa ada sesuatu yang hangat menetes di wajahnya. "apa hantu juga bisa menangis?" Tanya Sasuke, entah pada siapa.

.

.

.

Kakashi tersenyum simpul saat pujaan hatinya, Iruka, mengajak dirinya untuk menemani pria berparas manis itu untuk ke pasar hantu. Ada untungnya jika Obito pergi berhari-hari, karena tidak ada satu pun yang mengganggu acara kencannya dengan Iruka. Ia sungguh bersyukur dengan keadaan Obito saat ini. Kapan-kapan ia akan menemui anjing kudisan itu dan membelikan satu kilo daging untuk si anjing yang telah berbaik hati menabrak Obito, hingga menyebabkan kepala si empunya copot dan tak bisa tersambung lagi.

'yang lama ya, Obito' doa Kakashi dalam hati. Tidak elit sekali, bagaimana bisa ia mendoakan sahabatnya seperti itu?

"yang ini bagaimana, Kakashi-san?" Tanya Iruka, menghiraukan tontonan para hantu wanita yang mengerumuni Kakashi yang notabene adalah hantu yang err—tampan itu. Lihatlah, betapa bahagianya hantu-hantu wanita itu saat Kakashi melemparkan senyum ke arah mereka. "bagus" jawab Kakashi, saat Iruka meminta komentar dirinya mengenai sebuah syal yang akan diberikan Iruka untuk hadiah pernikahan Naruto dan Gaara.

"huumm, aku juga ingin Naru-chan memakai ini" Tiba-tiba saja minat Iruka berpaling ke sebuah gaun berwarna orange yang digantung di sebuah etalase. Kakashi yang tiba-tiba ditarik oleh Iruka pun akhirnya terpaksa mengikuti sang pujaan hati mendekati etalase tersebut. "astaga" gumam Kakashi, sedikit menutup matanya saat tak sengaja bertemu pandang dengan gaun berwarna norak itu.

"err—Kakashi?" Iruka sedikit merasa bersalah melihat Kakashi menutupi kedua matanya yang keluar asap, akibat alergi warna cerah yang menimpa dirinya, sejak beberapa tahun yang lalu. "lebih baik tidak ku usah ku beli saja" ujara Iruka, membatalkan niatnya untuk membeli gaun.

Grebb..

Iruka terkejut ketika kedua tangan Kakashi memegang tangannya dan menghimpit dirinya ke tembok. Ia menelan ludah saat melihat wajah datar tanpa ekpresi milik pemuda bermarga Hatake tersebut. "Jika kau ingin membelinya sebagai tanda kasih mu pada Naruto, belilah! Jangan hiraukan mata ku!" seru Kakashi, dengan segala kesemean yang ada pada dirinya.

.

.

.

Obito yang melihat Kakashi yang menghimpit Iruka ke tembok dari luar toko, berdecak kesal. Ia mengira bahwa Kakashi, hendak memain curang dan memulai start tanpa dirinya. Kepalanya yang sudah kembali menyatu dengan lehernya, membuat dirinya semakin pede untuk melakukan pendekatan dini dengan Iruka. Lihat, bahkan kini Obito memakai syal untuk menutupi jahitan-jahitan tak terbentuk akibat operasi yang dilakukan oleh ayahnya.

"sial, awas saja si mesum itu!" kata Obito.

"jadi, kau benar Obito ya?"

Obito berbalik badan, untuk melihat sosok yang baru saja bertanya seraya menepuk pelan bahunya. Kepala Obito nyaris copot, saat melihat hantu bagaikan ulat hijau di pucuk daun teh mengerling nakal ke arahnya. "A..ASTAGA" pekik Obito.

"ahhh, senang bisa bertemu lagi dengan mu, tampan!" sosok hijau itu menoel pelan dagu Obito, dan tak lupa senyum jenaka miliknya. 'tuhan, aku dosa apa' Obito membatin miris, menangisi nasibnya.

.

.

.

.

Dunia Manusia...

Sakura berlari kencang dengan derai air mata membasahi wajah cantiknya. Gadis itu sengaja kabur dari rumah tanpa membawa apapun dari rumahnya. Ia kabur, karena ulah kedua orang tuanya yang hendak menikahkan diri dengan seorang pria ber-istri 4 yang ingin menjadikan dirinya istri kelimanya. Demi harta, orang tua Sakura hanya tidak mau melihat putri mereka hidup susah seperti mereka.

Mereka hanya mau Sakura hidup bergelimang harta, tanpa hutang sana-sini untuk diwariskan kepada keturunan mereka. Jelas, kalau mati itu turunkanlah warisan harta, jangan turunkah hutang! Err—ku rasa hutang juga termasuk warisan.

Kedua kakinya membawa dirinya memasuki sebuah hutan dimana Sasuke bertemu Naruto untuk pertama kalinya. Hutan itu terlihat gelap, dan lebat, meskipun disiang hari. Sakura terus melangkahkan kakinya, hingga ia mendengar suara tawa laki-laki tak jauh darinya. 5 orang laki-laki bertubuh gempal, membawa senjata tajam sambil menikmati arak mereka.

Mereka yang menyadari kehadiran Sakura pun segera membuang arak mereka, dan terfokus pada Sakura yang ketakutan melihat mereka. 5 laki-laki itu langsung mengejar Sakura ketika Sakura berlari. Gadis bersurai merah jambu itu panic dan tidak tahu harus berbuat apa, ketika jalan yang ia pakai untuk melarikan diri stuck di sebuah jurang yang begitu dalam.

"mau lari kemana cantik? Lebih baik bermain dengan kami" kata salah satu dari mereka.

Sakura semakin mundur, ketika dua laki-laki lainnya mendekati dirinya. "tidak!lebih baik aku mati daripada harus melayani nafsu bejat kalian!" kata Sakura. Tanpa berpikir panjang, Sakura pun melompat ke dasar jurang mengakhiri hidupnya. Untuk dirinya, hidup pun juga percuma jika kedua pilihan yang ada hanya akan menjadikan dirinya bagaikan seorang wanita jalang.

Jika tadinya ia tidak kabur dari rumah, Sakura pasti harus menikah dengan laki-laki berbadan subur dengan 4 orang istri dan genap 5 jika Sakura bersedia menikah dengannya. Atau ia bertahan hidup, dan menyerahkan kesuciannya pada kelima laki-laki berengsek itu. Jadi, lebih baik ia bertemu dengan kematiannya daripada hidup menderita seperti itu.

Sakura menatap sendu ke arah jasadnya yang bersimpah darah. Air mata menetes membasahi wajahnya, rasanya ia ingin berteriak keras mencibir nasib malangnya. "SAKURA KAU MENYEDIHKAN" teriak Sakura, frustasi.

.

.

.

"jelaskan pada ku kenapa kau memilih mati?" Tanya Naruto, ketika mendapati Sakura keluyuran tanpa arah di lembah kematian, tempat dimana Sasuke juga mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama. "aku tidak mau hidup dengan pilihan di dunia, Naruto" jawab Sakura, seraya mengadahkan kepalanya ke langit. Ia merasa ringan sekarang, beban yang ia emban sudah tidak ia rasakan lagi setelah ia mati.

Naruto merasaha kasihan dengan gadis itu. Akibat, harta dan tahta yang dicari oleh kedua orang tuanya, Sakura harus berakhir tragis seperti ini. Sebenarnya, kisah hidup sang Haruno juga tak jauh beda dengan kehidupan Naruto dulu. Hanya saja, sedikit berbeda karena Naruto di bunuh. "aku mengerti" sahut Naruto, bagian belakang tiara miliknya bergoyang terkena angin yang menerpa lembut tubuhnya.

Sakura menoleh ke arah hantu, yang tampak jauh lebih muda darinya. Hantu itu tengah tersenyum padanya, dan membuat Sakura menjadi ingin melindungi Naruto seperti kakak yang melindungi adiknya. "kau jauh lebih tragis dari hidup ku, Naruto" kata Sakura. Naruto menggeleng pelan, "kita sama-sama tragis. Berakhir dengang kematian kita sendiri, itu sangat tragis, Sakura" imbuh nya.

"kau benar.. apa mungkin aku terlalu bodoh untuk memilih kebahagian ku sendiri? Ohh, maksud ku aku memilih mati karena aku ingin bahagia dan mengejar kebahagian ku.. maksud ku, aduhh.. bagaimana ya—" rona merah di wajah pucat Sakura begitu kentara dan membuat Naruto mau tidak mau tersenyum geli melihatnya.

"ingin bersama Lee kan?" tebak Naruto.

"i..itu" Sakura tampak gugup..

"Lee juga sering cerita jika kau adalah satu-satunya orang yang membuat hidupnya bahagia" Naruto mulai bercerita.

.

.

.

2 hari kemudian..

Kebahagian di istana pun kembali hadir, ketika Lee dan Sakura sepakat untuk menikah. Setelah 2 hari mereka bertemu, mereka pun akhirnya menikah secara hokum hantu dan persyaratan-persyaratan di dunia hantu. Sakura memakai gaun pengantin berwarna putih, sementara Lee memakai tuxedo hitam.

Mereka begitu bahagia saat mereka pun menjadi sepasang mate di keabadian. Sakura tersenyum ketika Lee menatap wajahnya. Dengan ragu-ragu, Lee memiringkan kepalanya (berniat mencium Sakura). Jika saja Sakura punya jantung, mungkin itu akan berdetak kencang ketika melihat wajah Lee begitu dekat dengannya.

Belum lagi teriakan 'cium' membahana di ruangan tersebut. Lee tidak mencium Sakura, melainkan membisiki sebuah kalimat di telinga Sakura. "aku mencintai mu, Sakura-chan" ucap nya. "aku juga" ucap Sakura. Hampir saja menangis, mengingat mereka yang akhirnya bisa kembali bersama.

Mereka pun saling berpandangan dan melihat buket bunga yang dipegang oleh Sakura. "hitungan ketiga" kata Lee.

"satu.." Lee mulai menghitung

"dua" dilanjutkan oleh Sakura

"TIGA" mereka berteriak bersama, buket itu pun melayang dan menjadi bahan rebutan para hantu jomblo yang belum menikah.

Grebb..

Buket pun jatuh ke tangan Naruto. Ia tersipu malu saat para hantu diam, dan memandang ke arahnya. Ada apa? Tentu saja, karena selain Naruto yang memegang buket tersebut, ada sosok bertubuh tegap yang juga memegang buket bunga itu. Dengan posisinya yang berada di belakang Naruto, seolah menjaga sang blonde agar tak ada satu pun yang berani melukainya.

Naruto memberanikan diri menoleh ke arah sosok tersebut. Dengan gerakan lambat ia bisa melihat sosok tinggi itu dari ujung ekor matanya. "S..Sasuke" Naruto tampak gugup.

"sepertinya aku juga akan menyusul kalian" kata Sasuke, berdusta.

Naruto menundukan kepalanya, kecewa mendengar ucapan Naruto. Lagi-lagi sesak kembali ia rasakan di dadanya. "kenapa kau menangis? Berbahagialah!" Sasuke menghapus air mata Naruto dari pipi bulat sang blonde.

Grepp..

Tanpa ragu lagi, Naruto langsung menubruk tubuh Sasuke. Membuat sang empunya sedikit goyah, dan memegangi pinggang ramping Naruto agar si blonde tidak terjatuh. "aku..aku mencintai mu, Sasuke! Aku sangat mencintai mu, tidak ada yang lain!"

Sasuke melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang blonde. "aku tidak mau Sasuke menikah dengan hantu lain.. aku tidak mau, tidak rela, hiks" akhirnya pemuda manis itu menangis juga di pelukan Sasuke. Pemuda Uchiha itu pun segera memeluk Naruto, dan membuat si Blonde menangis di dada bidang si Raven.

"aku cinta teme! Cinta sekali! Meskipun mencoba move on tetap saja tidak bisa.. aku tidak bisa.. aku cinta teme.. Cuma teme, hiks"

Para tamu yang hadir pun tanpa sadar menitikan air mata mendengar dan melihat pengakuan Naruto. Pemuda itu tampak lemah dan tidak seperti biasanya, tegar dan selalu tersenyum bahagia. "Naruto, dengar!" Sasuke memisahkan jarak dengan Naruto, dan memegang bahu si hantu manis itu. "aku juga mencintai mu, tapi kau bukan milik ku" ucap Sasuke.

Naruto mengelap air matanya kasar, seperti seorang anak kecil yang habis menangis. Sasuke tersenyum miris melihatnya, kembali di rengkuhnya tubuh mungil itu. "mungkin suatu saat nanti Naruto atau mungkin—"

"SEKARANG"

Para hadirin pun menoleh ke arah tangga, dimana sosok Gaara melayang menuruni anak tangga. Para maid dan butler sedikit bingung melihat sikapnya itu. "sekarang kalian bisa bersama!" seru Gaara, dengan senyuman charming nya. Naruto menatap tak percaya ke arah Gaara. Pemuda bersurai merah bata itu pun mengacak pelan surai blonde Naruto.

"aku mencintai mu, tapi bukan aku yang kau butuhkan! Kebahagian mu telah terenggut oleh kakak ku, dan aku tidak mau menjadi orang kedua yang merenggut kebahagian mu.. hey, manis, hidup bahagialah untuk ku" ujar Gaara panjang lebar.

"dan kau tampan, ku kutuk kau jadi jelek jika kau melukai dirinya!" Gaara mengerling jenaka ke arah Sasuke, dan membuat si raven mual mendadak.

"kau boleh membunuhku atau kirim aku ke neraka jika itu terjadi" sahut Sasuke.

"teme!" Naruto menatap kesal Sasuke yang seenaknya saja berbicara. "aku tidak mau pisah dari mu!" lanjut Naruto, manja.

"memangnya kau pikir aku mau" sahut Sasuke.

Kakashi yang melihat dorama-dorama sabun yang dimainkan oleh pair SasuNaru pun memutar kepala bosan. Apa semua Uchiha segombal itu? Cih, bahkan Kakashi berani menebak usia Sasuke masih belum 25 tahunan. Rasanya, Uchiha gombal memang sudah bawaan sejak masih bayi. Ia melirik ke arah Obito, yang menangis dengan wajah konyolnya tak lupa ingus yang keluar dari hidungnya.

"hiks, srruutttttt...akhirnya..srutttttttt...Sasuke-chan mendapatkan kebahagiannya juga..sruttttt" Obito dengan seenaknya saja menjadikan jubah Kakashi sebagai lap untuk mengelap hingusnya. "iyyuuhh" Kakashi berkata lebay.

"Aku tenang sekarang, Naruto" Ucap Gaara.

Para hantu kebingungan mendengar ucapan Gaara. Apa maksud pemuda itu?

"aku sudah tidak punya janji lagi untuk membuat mu bahagia, karena kau sudah bahagia" lanjutnya.

"apa maksud mu, Gaara?kenapa kau berkata seperti kau hendak naik ke sana(akhirat)" Naruto berkata cemas. Gaara menyentuh lembut bahu Naruto. "aku memang akan ke sana, Naruto" ujar Gaara. "tapi, Gaara, kau kan bisa tinggal disini atau mungkin—"

"sssttt" Gaara menutup bibir Naruto dengan jari telunjuknya.

"aku akan kesana, menyusul keluarga ku" kata Gaara.

Gaara pun berbalik badan dan melayang menuju balkon. Para hantu melihat apa yang akan dilakukan oleh pemuda tampan itu. Naruto hendak mengejar Gaara, namun Sasuke menghalanginya dan menggelengkan kepalanya, untuk tidak menghalangi apa yang sudah Gaara pilih. "lepas,Sasuke!" pinta Naruto. "itu pilihan hidupnya, Naruto" Sasuke berkata sambil tersenyum, dan membuat Naruto mengangguk pelan.

Gaara menutup matanya dan mendongakan kepalanya ke atas langit. "selamat berbahagia, Naruto" gumamnya. Tak berlangsung lama, tubuh Gaara pun berubah menjadi sinar putih kecil seperti kunang-kunang yang berterbangan di malam hari. Naruto berlari menuju balkon sambil berteriak histeris melihat Gaara pergi. "GAARA" teriaknya..

Semua hantu menangis, bahkan hantu-hantu lain yang berada jauh dari pesta pun juga menitikan air mata saat melihat cahaya-cahaya putih berterbangan di antara mereka. Itu adalah suatu tanda, dimana seorang roh yang pergi dengan hati ikhlas dan bahagia. Cahaya-cahaya itu berputar mengelilingi tubuh Naruto dan para hantu. Sasuke melayang mendekati Naruto dan menyentuh lembut sosok Naruto yang bersimpuh menangis kepergian Gaara.

"dia sudah bahagia, Naruto" ujar Sasuke.

"kau benar, Sasuke! Gaara sudah bahagia, dan dia sudah kembali berkumpul dengan keluarganya.. dan aku, juga sudah bahagia karena aku bisa bersama mu, hiks" Naruto memeluk Sasuke, dan membuat iris onyx hitam Sasuke membulat. "kita juga bahagia, Naruto! Selamanya" Sasuke menutup mata dan membalas pelukan sang blonde.

.

.

.

Skip Time, (pernikahan Sasunaru)

"kau tampak cantik, Naruto" puji Sakura, tulus. "kak Sakura juga cantik waktu itu" balas Naruto, mengingat pernikahan Sakura dengan Lee sebulan yang lalu. Sakura pun menggandeng pergelangan tangan Naruto dan keluar dari kamar, dimana sang blonde di rias olehnya. Tak lama, Lee datang menyambut mereka.

Lee bertugas mengantar Naruto sampai ke altar dan menemui calon mate nya. Lee pun menggantikan Sakura mendampingi Naruto. Sesampainya di sana, para hantu pun bertepuk tangan menyambut kedatangan tuan putri mereka. "NARU-HIME" teriak para hantu. Naruto tersenyum, dan melanjutkan langkahnya hingga tiba di depan altar, dimana ada Sasuke dan seorang pendeta yang akan menikahkan mereka.

"kalian sudah siap?" Tanya si pendeta hantu itu.

Keduanya mengangguk pelan. Mereka memandang sang pendeta yang tengah berdoa di atas cangkir berisi lilin yang menyala. Tak berapa lama, pendeta tersebut pun meniup lilin itu dan meletakan kembali ke atas meja altar. Kemudian berjalan mendekati Naruto dan Sasuke dengan lilin yang masih menyala. "sir Uchiha Sasuke, dengan lilin ini, apa kau bersedia menerima Princess Naruto Namikaze sebagai mate keabadian mu? Bersumpah untuk bersamanya? Menjanga nya, menerima kekurangan dan kelebihannya melingkupi hidup mu, mengarungi hidup abadi bersama selamanya?" Tanya sang pendeta mendekatkan lilin tersebut ke arah Sasuke yang juga memegang secangkir lilin di tangannya. "ya, aku bersedia.. dengan lilin ini aku bersumpah, menerima Princess Naruto Namikaze sebagai mate keabadian ku.. bersumpah bersamanya sepanjang hidup ku, menjaganya dengan kedua tangan ku, menerima dan kekurangannya tanpa bersyarat melingkupi hidup ku, dan mengarungi hidup abadi bersamanya selamanya" jawab Sasuke, mantap! Ia tak percaya bahwa dengan mudahnya ia bisa mengucapkan sumpah tersebut.

Sasuke pun meniup lilin tersebut dan kekuatan sihir pun bermain, karena tiba-tiba saja lilin itu menghilang dengan sendirinya. "Princess Naruto Namikaze, dengan lilin ini, apa kau bersedia menikahi sir Sasuke Uchiha sebagai mate keabadian mu? Bersumpah untuk bersamanya? Merawat nya? Menerima kekurangan atau pun kelebihannya melingkupi hidup mu, mengarungi hidup abadi bersama selamanya?"

"Ya, aku bersedia" jawab Naruto. Sang pendeta pun meminta Naruto meniup lilin yang ia bawa. Kemudian, mereka pun akhirnya resmi menjadi sepasang mate di keabadian mereka. Tanpa ragu, Naruto menubruk tubuh Sasuke dan membuat sang Uchiha menyeringai bagaikan serigala. Para tamu yang menyadari senyum Sasuke pasti akan bergidik ngeri saat itu juga.

Tapi?

Ku kira hanya beberapa orang saja yang menyadari senyum itu. Yang lain mengira senyum Sasuke adalah senyum charming seorang pangeran di negeri dongeng. Kakashi contohnya, ia langsung saja menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Dengan sangat beringas Sasuke mencium bibir Naruto, dan membuat sang pendeta yang terabaikan berdehem pelan. "ekhem, lanjutkan di tempat yang lebih privasi lagi, mr. And Mrs. Uchiha" canda nya.

Naruto memiringkan kepalanya tidak mengerti. Namun ia terkejut saat tiba-tiba saja Sasuke menggendongnya dan melangkah tergesa-gesa meninggalkan para tamu. "mereka ingin apa?" Tanya Konohamaru, polos. "mencetak anak" jawab Obito santai, yang berhasil dihadiahi jitakan maut dari Kakashi tepat di kepalanya. "kau!" Obito melotot kesal.

"guru Iruka, memangnya anak itu bisa dicetak ya? Wah, canggih sekali! Seperti mesin foto copy saja" Udon (sahabat Konohamaru) berteriak lantang, dengan ingus beler di hidungnya.

"EH" pekik para hantu dewasa.

"hiks, cucu ku sudah dewasa" tangisan Madara terdengar begitu lebay, dan membuat sahabat hantunya, Hashirama Senju bergidik ngeri melihatnya.

.

.

.

6 jam kemudian..

Sehabis melakukan (you know what i mean?) Naruto pun tertidur pulas akibat rasa lelah yang melandanya. Sementara itu, Sasuke malah asyik menciumi wajah manis Naruto tanpa ada penolakan dari sang blonde. Ingatannya kembali saat 6 jam sebelum itu terjadi. Saat Sasuke merebahkan tubuh Naruto ke atas kasur, dan membuat sang blonde bertanya, apa yang akan mereka lakukan.

Dengan tidak elitnya, Sasuke menjawab ia akan memperkosa Naruto dan membuat sang blonde melahirkan seratus miniature-miniatur Sasuke versi mini. Dan membuat Naruto mencubit pinggangnya, sambil berkata: "itu kebanyakan, memangnya aku mesin foto copy apa" dengan raut wajah kesal yang unyu.

Sasuke membelai penuh kasih perut datar Naruto. Berharap suatu kehidupan abadi terdapat di sana setelah beberapa hari, minggu, atau pun bulan mereka melakukan ini. Dengan lembut Sasuke mengecup kening Naruto dan berbisik pelan di telinga sang blonde. "aku mencintai mu, Naruto Uchiha" ucapnya.

.

.

.

1 tahun kemudian..

Naruto melahirkan seorang anak laki-laki setahun yang lalu. Karena mereka bukan manusia, jadi tentu saja pertumbuhan mereka juga cukup berbeda dengan manusia. Naruto pun juga tidak perlu merasakan sakit saat melahirkan putra pertama mereka, karena notabene nya dia adalah hantu. Hanya saja, Naruto jadi sering merasa lelah dan tertidur di malam hari dan terbangun tepat di siang hari, seperti manusia.

Namun, bukan berarti Naruto tidak pernah menikmati jam malam para hantu. Karena biasanya Naruto punya waktu sendiri untuk mengatur jam tidurnya. Putranya baru berusia satu tahun, tapi sudah seperti anak berusia 4 tahun. Jangan tanyakan bagaimana, putra mereka cenderung aktif dan suka sekali berlarian di dalam istana. Tertawa cekikikan seperti yang di ajarkan oleh neneknya, yah siapa lagi kalau bukan Nyonya Kushina Uzumaki yang terhormat itu.

Menma Uchiha namanya, rambutnya raven mata nya berwarna biru seperti Naruto. Wajahnya tampan dan imut seperti ayahnya dan juga ibunya tentu saja. Kulitnya sepucat ayahnya, dan tatapan tajam seperti Sasuke. Hanya saja Menma senang sekali bergaul seperti Naruto. "Menma, pakai baju mu dulu, sayang!" Naruto sedikit kepayahan, berjalan dengan perutnya yang besar itu.

Yah, salahkan saja Sasuke yang berniat ingin mempunyai 100 anak sekaligus. Dan membuat dirinya rutin ber-olahraga bersama sang istri mate tercintanya. "awas saja si teme itu, akan ku hajar dia habis-habisan" kesal Naruto. Baru beberapa menit mengejar Menma saja, rasanya seperti habis lari marathon.

Grebb..

"memangnya kau bisa? Jika aku mati, memangnya siapa yang akan membuat mu mendesah, hn?"

Naruto merasakan seseorang menjilat lehernya sensual. Si pirang berusaha menahan desahannya, "kau memang sudah mati, baka teme" sahut Naruto, kesal.

"yahh.. kau benar" Sasuke pun menggigit leher Naruto, seraya mengusap lembut perut besar sang istri. "engghhnnn" Naruto menahan desahannya. " j..jangan di sini, engghhnn.. teme" pinta Naruto. Namun, Sasuke tidak mempedulikannya dan tetap berusaha memberikan tanda di leher sang blonde.

"PAPA, MAMA, CEDANG APA?" Tanya seorang anak kecil yang tiba-tiba saja datang.

"ehh, M..Menma" Naruto segera mendorong Sasuke dan membuat si empunya tubuh mendesah kesal. "Papa kau gigit mama?" Tanya Menma, polos. "papa sedang membersihkan kotoran" jawab Sasuke, asal. "kan kotolan bica dibelcihkan pake cabun" Menma sepertinya sedang memberi saran.

Sasuke menepuk pelan dahinya, dan Naruto sweatdropped. Astaga, bahkan mereka lupa fakta bahwa Menma memang memiliki IQ di atas rata-rata anak seusianya. Naruto merutuki kebodohannya dan kemesuman Sasuke yang sudah bisa dikatakan akut. Naruto hanya berharap semoga, putra mereka tidak tumbuh menjadi pria mesum seperti papanya yang memang sejak bayi berotak mesum.

.

.

.

"papa, apa Menma boleh melakukan cepelti yang papa lakukan tadi?" Tanya Menma, dihadapan ketiga kakeknya(Obito,Kakashi, dan Iruka) dan juga kakek buyutnya (Madara). Para pria dewasa memang sedang berkumpul di ruang keluarga saat ini. Ke-4 pria dewasa itu saling berpandangan dan kemudian memandang si kecil Menma yang sedang menatap penuh harap Sasuke.

Sasuke mengernyitkan dahinya, tidak mengerti apa maksud putra sulungnya itu. Calon kakak itu pun menepuk pelan dahi mungilnya, "capek deh" ucapnya.

"memangnya Menma mau melakukan apa pada mama?" Tanya Iruka.

"iya, Menma-chan mau melakukan apa?" Tanya Madara.

"membelcihkan lehel mama dali kuman.." jawab Menma, polos.

Sasuke membulatkan matanya lebar-lebar. Astaga, fix! Dia harus menghentikan ucapan polos putranya sebelum...

"menggigit lehel mama, kan kacihan mama kalo di celang(serang) kuman" lanjutnya.

Para pria dewasa pun memandang horror ke arah Sasuke. "a..astaga" gumam Iruka, saking terkejutnya. "Sasuke!" Madara dengan suara dingin nan datarnya memanggil nama cucunya. Sasuke pun berusaha menutupi salah tingkahnya di depan sang kakek. Jika dalam mode Uchiha nya, Madara ataupun Obito memang terlihat cool dan gentleman di mata siapapun.

"Kau memang sudah dewasa, nak!" ucap Madara, penuh rasa bangga.

Para pria dewasa(minus Madara) pun cengok mendengar ucapan si kakek buyut itu. Oalah, apa-apaan ucapannya tadi..

"tapi lain kali, lakukan di tempat privasi atau setidaknya jangan di depan Menma" lanjutnya,

'Nasihat sesat' batin Kakashi.

'M..Madara-san, a..aku tidak menyangka' Iruka menatap tak percaya sosok yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.

'ayah ku hebat' Ini adalah pujian Obito yang ia begitu bangga dengan ayahnya. Hebat darimana? Dasar mesum..

.

.

.

OWARI