Anak yang sangat-sangat persis dengan Akashi itu menyudahi acara minumnya sebentar. Setelah itu, ia menatap lurus-lurus ke arah Kise, selaku yang mengajukan pertanyaan. "Tapi, terkadang aku tidak suka melihatnya mengingat sesuatu, jika caranya ia deja vu secara mendadak."
Kise membelalakkan matanya. "Kenapa begitu-ssu?!" Kise berseru heboh.
Helaan nafas meluncur bebas dari bibir mungil Seiryuuto. "Karena... ia akan berkata jika Otou-sama, selalu ingin membunuhku..."
Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Winter Heart © Mizuno Yozora
Rated : T (Form Now)
Warning : AU, BL, YAOI, MxM, M-PREG, OOC, TYPO(s), OC!AkaKuro's Child
.
:: Chapter 2 ::
"Gambar Ibu dan Diary Ayah"
.
.
.
Entah apa yang kau lakukan untuk mendidik putra tunggalmu ini, Akashicchi. Tapi dia benar-benar seorang anak yang kuat, dewasa, dan jenius. Persis sepertimu. Aku sangat bersyukur atas hal ini.
Ryuucchi adalah seorang anak yang tak tahu apa-apa. Dan dengan kejam sekejam-kejamnya, takdir menjadikannya sebagai tumbal atas kesalahan kita –para orang dewasa.
Aku berharap yang terbaik baginya. Bagi keponakanku. Aku sudah menganggapnya sebagai keponakanku sendiri. Maka dari itu, aku sangat bangga karena bisa menjadi pamannya.
Paman dari buah hatimu. Buah hatimu bersama Kurokocchi. Sosok yang dulu pernah kucintai. Yang telah resmi menjadi milikmu dan juga Ryuucchi.
Yah, paling tidak... aku tetap bisa membantu untuk menjaganya sebagai seorang sahabat. Iya, kan?
_Kise Ryouta to Akashi Seijuuro_
Pada pagi hari di musim dingin yang tak menurunkan salju, dua pasang insan tengah menahan nafas mereka bersama-sama. Tercekat. Keduanya tetap menampilkan raut wajah yang normal, hanya saja hembusan nafas mereka seolah berhenti karena ucapan seorang bocah kecil berumur 7 tahun. Si pemuda gelap masih tetap bisa mengontrol detak jantungnya yang sesaat telah berdetak di luar ambang normal. Aomine bersyukur karena ia duduk di samping Seiryuuto. Sedangkan si pemilik rambut pirang mulai mengeluarkan keringat dingin dari pelipisnya. Mengapa? Karena posisinya yang kini tengah ditatap lurus-lurus oleh keturunan Akashi Seijuuro itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.
Seiryuuto memejamkan matanya sesaat –dan kesempatan itu dipergunakan Kise untuk mengambil nafas yang banyak-, lalu ia meletakkan tangannya di atas meja. Ia membuat telapak tangan kanannya yang mungil itu menyanggah kepalanya. Anak itu membuka permata merah-biru yang menghiasi tahta matanya hanya untuk memandang keluar jendela. Dapat terlihat jika salju-salju mulai mencair dan membasahi jalanan. Boneka-boneka salju yang terdapat di depan beberapa rumah juga telah meleleh dan meninggalkan bekas tumpukan salju tanpa bentuk.
"Hhh... aku tak tahu banyak mengenai kisah masa lalu Otou-sama, Okaa-sama, atau kalian semua." Seiryuuto menyempatkan diri untuk membuang nafasnya. Entah sudah yang keberapa kali Seiryuuto melakukannya untuk hari ini. "Tapi, satu yang aku ketahui adalah... bagaimanapun sikap Otou-sama kepadaku dulu, aku akan tetap mencintainya yang sekarang. Beliau adalah Ayah yang sangat hebat di mataku. Aku sangat menghormati Otou-sama."
Mau tak mau, Aomine menghela nafas lega. Sungguh, suaranya sangat besar terdengar. Bagaikan ia telah melepas beban puluhan kilo yang menggantung di punggungnya. Dan dalam satu kedipan mata, pria berseragam polisi itu segera merengkuh Seiryuuto dalam rangkulannya yang hangat. Tangan kanannya yang bebas, ia gunakan untuk mengacak-ngacak rambut sang Kapten Tim Basket SD Teikou. "Kau tahu? Menurutku, model rambutmu ini jauh lebih mirip dengan Tetsu. Aku jadi suka mengacak-acaknya." ucap Aomine dengan setengah jujur dan setengah untuk mencairkan suasana.
Mata Kise berkaca-kaca. Bukan, bukan air mata comical yang kerap kali ia keluarkan di tengah-tengah candaan. Tapi lebih mengarah ke air mata yang mengekspresikan perasaannya kini. Lega, bahagia, sedih, dan haru. Semuanya bercampur menjadi satu dan merangsang keluarnya butiran bening yang memberontak untuk segera turun dari pelupuk matanya.
'Akashicchi benar-benar telah berubah menjadi lebih baik-ssu.'
ketika Kise mengusap kedua matanya yang berair, pemandangan yang kini ia lihat adalah Aomine yang semakin ganas mengacak-ngacak rambut Seiryuuto, dan Seiryuuto yang semakin gencar untuk menyingkirkan telapak tangan besar Aomine dari kepalanya. Secara reflek alamiah, Kise tertawa. Tertawa bahagia yang terdengar sangat tulus. Siapapun yang mendengarnya, pasti akan tahu jika Kise teramat sangat bahagia dengan keadaan yang menyelimutinya sekarang ini.
"Ahahaha! Ahominecchi, hentikan-ssu! Kau membuat Ryuucchi emosi."
"Berhenti memanggilku Ahominecchi, Kise!" sekejap, ketiga orang itu langsung tertawa bersama lagi.
.
Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
.
Bocah itu turun dari sebuah mobil mewah hitam metalic yang dikemudikan oleh Aomine. Setelah sempat untuk memeluk kedua pamannya itu –tentu saja ini semua terjadi karena rengekan Kise-, Seiryuuto segera membuka pintu mobil dan turun di depan rumahnya. Ah, atau lebih tepatnya Istana. Istana keluarga Akashi.
"Woah!" Kise berkedip kagum. "Sudah 10 bulan aku tidak kemari, sepertinya rumah ini banyak mengalami perubahan, ya?" dan selanjutnya Kise menertawakan perkataannya sendiri. Lucu menurutnya, maka dari itu ia tertawa. Menertawakan opininya yang ternyata memang fakta.
Aomine tersenyum kecil, sembari menatap rumah megah milik Akashi Seijuuro itu dari balik jendela berlapis kaca film. "Itu desain dari 'penguasa' sang Emperor sendiri. Bagus, kan? Kami membantunya berbenah sekitar 5 bulan yang lalu."
Pemuda pirang itu paham betul apa maksud dari bahasa yang Aomine gunakan. Penguasa? Oh, ayolah, hanya seorang Kuroko Tetsuya yang mampu membuat duo Akashi kita ini bertekuk lutut. Tentu saja dengan segala kehormatan yang mereka miliki.
Kise menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan perkataan Aomine sesaat yang lalu. Dan kembali mata kuning cerahnya itu menelusuri halaman luar dari pemilik rumah. Benar-benar interior yang indah dan klasik, namun terasa sangat khas dan tentu saja elegant.
Dulunya, rumah keluarga Akashi benar-benar hampa. Tetap megah dan indah memang, namun sentuhan gaya kelas atasnya tidak terlalu dipertimbangkan bagi Akashi. Mengingat jika makluk bersurai merah tersebut memang jarang menempati rumahnya semenjak kesibukkannya menjadi seorang CEO Akashi Corp sekaligus Mahasiswa di Universitas Tokyo. Dan juga, Kuroko merupakan asisten pribadinya ketika dulu. Sehingga Akashi akan selalu betah untuk berada di kantor meskipun pekerjaan tetap menumpuk segunung. Asal bersama Kuroko-nya tercinta, apa yang tidak?
Namun, semenjak tragedi mengenaskan yang terjadi pada Kuroko 7 tahun silam, pria dengan mata heterokrom merah-emas itu menjadi lebih sering berada di rumah hanya untuk merawat putra semata wayangnya hingga sekarang. Sesibuk apapun dirinya, sebanyak apapun pekerjaannya, ia akan tetap pulang ke rumah dan meluangkan waktunya bagi Seiryuuto tersayang. Sebanyak apapun yang ia bisa.
Dan rumah itu berubah sekitar 5 bulan yang lalu. Ketika Kuroko memberi tugas kepada anak didiknya untuk menggambar rumah.
.
Kuroko tersenyum manis. Gambaran siswa-siswinya ini benar-benar menggelitik perutnya. Sangat lucu, dan terkesan khas anak-anak. Warna-warna yang digunakan untuk mewarnai rumah-rumah tersebut juga sangat terang dan cerah. Sungguh, Kuroko mungkin akan sakit mata jika saja seluruh rumah yang ada di dunia ini memiliki warna seperti gambar anak-anak yang ada di atas mejanya. Tapi, Kuroko tetap menyunggingkan senyum tulusnya karena merasa tersentuh dengan imajinasi para anak didiknya.
Tepat saat ia berhenti pada satu gambar yang berbeda. Gambar yang sangat-sangat berbeda. Gambar ini terkesan memiliki garis yang lebih halus serta teratur, warna yang lebih lembut, dan juga arsitektur yang menawan. Tanpa disadarinya, tangan pemuda bersurai biru muda itu gemetar. Memandang mahakarya seorang anak SD kelas 3 yang bahkan mengalahkan desain rumah buatannya sendiri.
"Maaf, Tetsuya-sensei. Aku tidak berbakat untuk menggambar rumah."
Kuroko terlonjak kaget. Biasanya ia yang akan mengagetkan banyak orang dengan hawa kehadirannya yang sangat tipis –menurut sebagaian orang- . Namun kini? Malah ia yang dikejutkan oleh seorang bocah kecil berambut merah dengan iris merah-biru yang tajam.
"Ryuu-kun? Sejak kapan kau berdiri di sampingku?" Kuroko bertanya dengan nada datar namun lembut seperti biasanya.
Akashi Seiryuuto, yang kini tengah bersedekap tangan sembari menyender ke tembok -yang berada di samping kursi Kuroko- itu memejamkan kedua matanya dan menunduk, lalu menjawab pertanyaan wali kelasnya. "Sejak tanganmu itu gemetaran, Sensei. Maaf, karena gambarku sejelek itu."
Kuroko buru-buru menggelengkan kepalanya. "Iie-iie, Ryuu-kun. Gambar rumahmu ini sangat bagus. Aku sangat menyukainya." Kuroko berujar dengan mempertahankan nada datarnya. Ia segera bangkit berdiri untuk menatap salah satu siswa kesayangannya itu.
"Rumah? Ah, sekali lagi maafkan aku, Sensei. Itu bukan rumah."
Entah kenapa, segala perkataan yang terlontar dari mulut sang bocah Akashi ini benar-benar membuat dirinya terkejut berulang kali. "Apa maksudmu?"
Seiryuuto berdiri tegap dan meninggalkan posisinya yang tadi bersender ke tembok. Ia melepas sedekap tangannya, lalu kedua matanya kini menatap guru yang lebih tinggi darinya dengan pandangan lembut. "Imajinasiku ini tergolong jelek, jadi aku tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk rumah yang indah." jeda sesaat ketika Seiryuuto memasukkan kedua tangan dalam kantung celana dasar hitamnya. "Jadi, kuputuskan untuk menggambar bangunan-bangunan ala bangsa Roma yang kulihat di ensiklopedia minggu lalu."
"E-ensiklopedia?" Kuroko tergagap. Anak sekecil dirinya... sudah menyukai ensiklopedia?
"Ya, Otou-sama yang memberikannya padaku. Dulu, aku selalu dibacakan buku ensiklopedia yang sangat tebal oleh beliau sebelum aku tidur." akhir kalimat Seiryuuto telah mampu membuat pemuda bersurai biru muda itu merinding dengan wajah datar. Selain karena ungkapan kata 'beliau' yang digunakan Seiryuuto seolah ia begitu menghormati ayahnya, Kuroko juga merinding karena hobi ayah yang sangat Seiryuuto banggakan itu cukup mengerikan untuk ukuran seorang anak kecil.
'Dongeng sebelum tidur... digantikan ensiklopedia?' Kuroko membatin.
Setelah tersadar dari shock sesaatnya, Kuroko tersenyum. Ia berbalik dan menarik pintu laci kecil yang berada di bawah meja guru di kelas 3-A. Selembar kertas f4 dengan lukisan sebuah rumah yang begitu anggun dan tenang. Khas seorang Kuroko Tetsuya.
"Ryuu-kun, kemari sebentar." Kuroko menggerakan tangannya untuk membuat gestur yang berkata jika ia ingin Seiryuuto mendekat. Dengan senang hati, bocah imut dan tampan di saat yang bersamaan itu melangkahkan kakinya untuk mendekati sang 'Ibu'.
Begitu sampai di samping Kuroko, Seiryuuto sedikit terlonjak saat kakinya tak lagi menapak pada tanah. Guru bersurai biru muda itu mengangkatnya. Membawanya dalam pangkuan hangat seorang Kuroko Tetsuya. Walau sempat kebingungan, tapi ia mencoba mengenyahkan rasa terkejut yang tadi sempat melandanya.
Kedua tangan Kuroko terjulur, membentang lurus di samping kepala Seiryuuto. Dengan begitu, Kuroko dapat dengan mudah untuk mengekspos gambarannya terhadap siswa kebanggannya. "Bagaimana gambaranku, Ryuu-kun?" tanya Kuroko sembari tersenyum lembut. Walau ia yakin 100% bahwa Seiryuuto tak akan bisa melihatnya
Bola mata heterokrom Seiryuuto membulat sempurna. Terkejut akan gambaran rumah yang membuatnya terpaku sesaat. Rumah gambaran Kuroko benar-benar terlihat... ah! Pokoknya sangat indah! Seiryuuto bahkan lupa untuk mengedipkan permata merah dan birunya itu untuk beberapa waktu."Ini, Sensei yang membuatnya?"
Rumah tersebut merupakan rumah yang luas. Memang hanya memiliki dua lantai, namun ukurannya sangat besar. Atapnya berwarna biru muda lembut berpadu dengan tembok putih pucat. Ada banyak jendela-jendela besar dengan tralis besi yang cantik di dalamnya. Pada kanan dan kiri rumah, terdapat pohon cemara kecil yang rimbun.
Di depan rumah, kolam dengan ukuran yang sama panjang dengan rumah tersebut membentang. Untuk menyebranginya, terdapat sebuah jembatan putih pucat dengan berbagai macam profil unik yang sangat rumit. Di depan jembatan, sudah terpasang dua buah kolam kecil dengan air mancur 3 tingkat.
Dan ini yang membuatnya indah, terdapat sebuah taman bunga yang cukup luas, yang mengitari rumah tersebut seperti huruf 'n'. Bunga tersebut semuanya berwarna merah. Ya, semua bunga yang di tanam di sana adalah mawar merah.
Dan rumah tersebut terlindungi oleh sebuah gerbang tinggi nan kokoh dengan besi berlapis cat abu-abu.
"Iya, Ryuu-kun. Dan aku sangat menyukai semua warnanya." ujar Kuroko lembut. "Biru muda untuk warnaku, dan putih untuk vanilla shake!"
"Huh?" Seiryuuto sweatdrop. 'Pantas saja aku sangat menyukai hal-hal yang berbau vanilla. Terlebih vanilla shake' anak kecil itu membatin horror.
Seiryuuto memejamkan kedua permata merah-birunya sesaat. Lalu kembali melontarkan pertanyaan "Lalu, warna merah ini, warna untuk apa?"
Tiba-tiba, senyum Kuroko luntur. Berganti menjadi raut nanar yang terlihat sedih. Ia membawa tangan kanannya untuk mengelus-elus rambut Seiryuuto yang lembut. "Entahlah, Ryuu-kun. Aku merasa seperti sangat merindukan warna merah." Kuroko memberi jeda sejenak untuk bisa menarik nafas sesaat. "Dan lagi, aku merasa pernah tinggal di sini. Aku juga merasa jika aku ingin mengubah rumah yang dulu aku tinggali menjadi seperti yang kugambar ini. Tapi... entahlah. Aku juga tidak paham betul, bagaimana ingatan itu melintas dalam kepalaku."
Senyum kecil Seiryuuto mengembang. Ia menggenggam tangan Kuroko yang tengah mengelus-elus kepalanya, hingga membuat gerakan itu terhenti. Lalu, ia menarik tangan tersebut menuju dada kirinya. Tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang. Posisi Kuroko kini berubah seolah ia tengah memeluk Seiryuuto dari belakang dengan satu tangan.
"Simpan baik-baik ingatan itu, Sensei. Jangan dilupakan."
Kuroko memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. Bingung dengan jantung anak itu yang tiba-tiba berdegup kencang, serta bingung dengan perkataan yang baru saja dikatakannya.
"Yosh!" Seiryuuto turun dari pangkuan Kuroko, lalu berjalan ke sampingnya. Ia menunjukan senyum senang dengan eksistensi yang besar. "Sensei, boleh gambaran itu untukku?"
"Eh?"
.
Ternyata, rumah yang Kuroko gambar merupakan rumah keluarga Akashi. Yang sedikit ia rombak dengan pemikirannya dulu, karena rumah tersebut sudah jarang terurus.
.
Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
.
Seiryuuto memasuki rumahnya dengan wajah lesu. Fisiknya yang lemah, membuatnya sedikit kelelahan setelah pertandingan melawan SMP terbaik yang dimiliki Hokkaido tersebut. Memang dari 4 quarter yang ada, bocah bersurai scarlet itu hanya bermain di quarter awal dan quarter akhir, sebagai pembuka dan penutup, mengingat jika ia tak memiliki kekuatan fisik sebagus Ayahnya.
Tetapi, walau hanya bermain di awal dan akhir di semua pertandingan, tetap saja Seiryuuto sangat-sangat ditakuti oleh seluruh lawannya. Itu membuatnya jengah. Lawan-lawannya itu akan mencoba untuk menghentikan permainan jeniusnya, namun mereka malah nampak bodoh di mata merah-birunya. Tentu saja mustahil untuk menghentikannya dengan cara yang biasa.
Sepertinya, jiwa Raja –neraka- yang dimiliki Akashi telah menurun dengan sempurna pada Seiryuuto.
Setelah ia melepaskan sepatu dan jaket timnya, ia berjalan menuju dapur dengan niatan melepaskan dahaga. Begitu sampai di tempat yang ia tuju, beberapa pelayan sudah berada di sana. Mereka menunduk sopan yang hanya di balas dengan lengosan tak peduli dari Seiryuuto. Sekarang ini, ia membutuhkan air putih untuk membasahi kerongkongannya.
"S-Seiryuuto-sama,"
Sampai seorang pelayan perempuan memanggilnya, menjadikan Seiryuuto harus berbalik badan dan menatap dingin sang pelayan. Sudah dibilang, kan? Jika Seiryuuto hanya bisa bersikap hangat kepada Akashi Seijuuro, Kuroko Tetsuya, serta Kiseki no Sedai.
Tatapan dingin nan menusuk milik Seiryuuto seolah membuat pemberitahuan jika ia tengah menunggu perkataan selanjutnya dari pelayan tersebut. "Aku harap, perkataanmu itu penting." anak dengan kulit sepucat ibunya itu berkata dengan nada menusuk.
Sang pelayan sedikit gemetaran, namun ia tetap mencoba untuk menyampaikan sebuah berita yang baru saja terjadi sebelum Seiryuuto sampai di rumah. "S-Seijuuro-sama... tadi ia sudah pulang ke rumah..."
Seiryuuto menaikan satu alisnya dengan bosan. "Lalu?"
Si pelayan itu menarik dan menghembuskan nafasnya pelan-pelan. Seolah tengah menenangkan pacuan detak jantungnya sendiri. "hhh... Seijuuro-sama membawa seorang tamu kemari. Dan mereka berbincang-bincang dalam ruang kerja Seijuuro-sama. Awalnya kami mengira bahwa itu adalah teman lama Seijuuro-sama, namun..."
Seiryuuto benar-benar tak tahan lagi. Ia segera melompat tinggi dan menarik kerah pelayannya tersebut. Melompat bukanlah hal sulit bagi Seiryuuto, mengingat jika ia selalu melompat saat melakukan dunk.
"Cepat. Lanjutkan." Seiryuuto menegaskan kalimatnya dengan nada perintah.
"N-Namun... S-Seijuuro-sama berteriak k-keras...tak lama setelahnya. Sei-Seijuuro-sama meneriakkan nama Haizaki Shougo... lalu-"
Dengan tiba-tiba dan tanpa peringatan apapun, Seiryuuto mendorong keras si pelayan hingga terserembab ke lantai. Kaki-kaki mungilnya itu segera berlari dan membawanya ke lantai dua, tempat di mana ruang kerja Ayahnya berada.
Jantungnya berpacu cepat, dahinya mulai berpeluh seiring langkahnya yang semakin cepat. Ayahnya jarang menunjukkan emosinya dengan cara berteriak. Sungguh, Seiryuuto benar-benar khawatir. Terlebih lagi, orang yang terakhir kali bersama ayahnya adalah... Haizaki Shougo-
-yang belakangan ini ia ketahui sebagai kakak angkat Ibunya di panti asuhan.
"OTOU-SAMA!" Seiryuuto mendobrak masuk. Kenyataannya ruangan tersebut telah kosong dan tak menunjukkan seorangpun yang masih berada di sana. Namun, dapat dipastikan jika telah ada banyak hal yang baru saja terjadi di dalam ruang kerja tersebut. Buktinya adalah, ruangan tersebut sangat berantakkan. Dan sang Ayah tak akan melakukannya dengan sengaja.
Bocah bersurai merah terang itu menelusuri seluruh penjuru ruangan, berharap jika ia menemukan sesuatu. Yang ditemukan olehnya hanyalah sebuah pistol perak dengan ukiran simbol berbentuk menyerupai salib namun dengan lengkungan di atasnya,dua buah lonceng kecil yang juga berwarna perak menggantung cantik di bagian bawahnya, serta ukiran kecil nama 'Akashi Seijuuro' pada pelatuknya yang lumayan besar. Seiryuuto terkejut, lantaran sang Ayah menyimpan benda seperti itu dalam ruang kerjanya.
"Ini bukan salib... ini simbol ankh! Simbol... iblis..."
Seiryuuto mendesis pelan. Ia menukikkan pandangannya yang kini menajam pada pistol yang masih panas dalam genggamannya itu. Pistol ini pasti baru saja digunakan. Kedua tangan mungil Seiryuuto melepas selongsong peluru yang ada pada pistol, dan mendapati bahwa sekitar 3 peluru telah hilang. Dengan cepat, kedua iris heterokrom miliknya menilisik ruangan kerja ayahnya yang selalu tertutup itu.
Dapat dilihatnya dua buah peluru perak yang menancap tepat pada tembok, membuat retakkan-retakkan tak terelakkan yang membekas di sana. Saat matanya masih mencari keberadaan peluru yang lain, bocah Akashi itu mendapati jika tirai biru muda yang ada di ruang kerja ayahnya itu berkibar-kibar. Padahal, jika ayahnya tidak berada di dalam ruang kerja, ruangan tersebut akan selalu tertutup rapat.
Seiryuuto berlari menuju ke arah jendela, lalu menyibak tirai tersebut. Ternyata, sebuah peluru telah menembus kaca dan membuat beberapa sisinya pecah berkeping-keping.
"Otou-sama..." Seiryuuto melirih khawatir. Ia takut jika terjadi sesuatu dengan Ayahnya. Memutuskan jika menjelajahi ruangan ini akan memakan waktu sia-sia, Seiryuuto segera membereskan ruang kerja Ayahnya yang terlanjur berantakkan
.
Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
.
Siswa-Siswi kelas 3A kini tengah memakai jas putih dengan stetoscop yang menggantung di leher mereka. Senyum-senyum bangga mulai terpatri di wajah anak-anak kecil yang senang karena dapat memakai pakaian dokter di usia yang muda. Tak heran jika seorang Kuroko Tetsuya kini tengah memotret suasana gembira anak-anak didiknya. Ia sangat senang karena bisa melihat wajah bahagia dari anak-anak yang sangat Kuroko sayangi itu.
"Kau bersemangat sekali-nodayo."
Kuroko menoleh pada seorang pria tampan dengan kaca mata yang menghiasi wajahnya. Matanya yang hijau bening itu memandang ke arah Kuroko dengan lembut. Meski gestur wajahnya tetap kaku seolah-olah tak peduli.
"Midorima-kun?" Kuroko menyahut dengan senyum senang. Ia sangat bahagia karena Midorima Shintarou, sahabatnya semasa SMA itulah yang menjadi Dokter Penanggung Jawab atas kelas 3A.
SD Teikou memang menyelenggarakan sarana pendidikan berupa 'Dokter Cilik'. Dimana 3 kali dalam sebulan, mereka akan di-didik dengan baik tentang bagaimana caranya menjadi dokter yang benar. Tak hanya Dokter, pendidikan berupa 'Polisi Cilik' juga diberlakukan di SD Teikou, dan Aomine Daiki-lah yang menjadi Polisi Penanggung Jawab atas kelas 3A. Hanya saja, sekarang bukan jadwal untuk pendidikan Polisi Cilik.
Midorima tampak gagah dengan setelan jas putih panjang yang menyelimuti kemeja hijaunya. Stetoscop juga terpasang pada lehernya yang kokoh. Ia menyunggingkan senyum kecil, bersyukur karena sahabat sekaligus istri dari Akashi itu baik-baik saja hingga sekarang. "Siswa-siswi kelas 3A merupakan anak-anak yang cerdas, Kuroko." Midorima mengungkapkan pujian terhadap siswa kelas 3A yang merupakan anak didik Kuroko. "Tapi bukan berarti aku senang-nodayo!" tambahnya cepat-cepat sebelum Kuroko menunjukkan senyum bangganya.
Pemuda bersurai biru muda itu tertawa kecil. Ia menutupi wajahnya dengan tangan kanan, mencoba meutupi tawanya yang merupakan reaksi atas ketsundere ran si Dokter ternama. Sedangkan Midorima memandanginya tak terima.
Namun pandangan Midorima berubah menjadi iba dalam sepersekian detik. Luka di telapak tangan Kuroko... sebuah luka dengan bentuk melingkar seperti bekas luka tusuk. Dengan bekas pinggiran yang tak mau menghilang, dengan guratan jahitan yang ketara. Midorima menutup matanya erat-erat, meremas penglihatannya dari luka yang membuka kisah kelam.
Midora kembali mempertunjukkan eksistensi kedua iris hijaunya, lalu memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan sebelum Kuroko menyadari perubahan sikapnya. "Tapi, aku tak bisa mengungkirinya. Sangat mudah bagiku untuk mengajari beberapa teori yang tergolong sulit bagi anak seusia mereka, tapi mereka mudah mengerti."
Perkataan Midorima telah berhasil memancing senyum menawan dari Istri Akashi Seijuuro. Pemuda dengan permata aquamarine yang sangat dikagumi Akashi dan Seiryuuto itu membuat pandangannya jatuh pada sekumpulan anak-anak yang tengah menyusun perban dalam rak P3K. "Mereka semua memang siswa-siswi kebanggaanku, Midorima-kun. Tapi, masih ada satu siswa lagi yang paling jenius di antara mereka semua..."
Lagi-lagi Midorima tersenyum. Pria tersebut kini lebih sering tersenyum dibandingkan di masa SMA-nya. Pemuda bersurai hijau yang sewarna dengan matanya itu sangat mengetahui jika Seiryuuto adalah anak yag kuroko maksud. "Memangnya siapa lagi-nodayo?" Midorima berdusta, berlagak jika ia tak mengetahui isi otak sang kepala biru muda.
Kuroko membawa kakinya untuk melangkah menuju meja guru yang berada di kelas 3A. Lalu, kedua tangan pucatnya itu mengambil sebuah foto yang berisikan gambar seluruh siswa-siswi kelas 3A dan juga dirinya. Setlh mengambilnya, Kuroko kembali melangkah ke samping Midorima yang sedari tadi memperhatikannya dengan tatapan datar.
Di foto tersebut, terdapat tiga baris siswa yang berjejer rapih. Di baris terdepan, semua siswa laki-laki berjongkok dengan Kuroko yang berdiri di antara mereka. Di baris tengah, sisi kanan Kuroko berisi kursi yang diduduki oleh siswi perempuan, sedangkan sisi kirinya berisi kursi yang diduduki oleh siswa laki-laki. Dan di barisan akhir, semua siswi perempuan berdiri di depan papan tulis hitam.
"Dia-" Kuroko menyentuhkan ujung jari telunjuknya yang lentik pada seorang bocah kecil berambut scarlet, yang memiliki posisi berfoto paling berbeda sendiri. Yaitu dirinya yang berdiri di depan Kuroko, lalu sang wali kelasnya itu memeluk lehernya dari belakang dengan hangat. Si bocah berambut merah itu tersenyum lembut. "-Akashi Seiryuuto."
Midorima memperhatikan duplikat Akashi Seijuuro itu dengan seksama. 'Benar-benar persis dengan Akashi semasa SMA-nodayo.' komentar Midorima dalam hati.
"Kuroko, kenapa posisi Seiryu- Akashi berbeda sendiri dari temannya yang lain-nodayo?" Midorima merutuki lidahnya yang terpeleset. Hampir saja ia memanggil nama kecil Seiryuuto. Padahal, setahu Kuroko mereka berdua belum pernah bertemu sama sekali. Jika saya ia benar-benar terpeleset tadi, akan seperti apa pertanyaan Kuroko yang nantinya akan terlontar padanya?
"Oh, foto tersebut adalah permintaan seluruh siswa 3A, untuk merayakan prestasi Ryuu-kun yang menjadi juara umum. Jadi, posisi Seiryuuto menjadi lebih istimewa."
Mendengar penuturan dari Kuroko, Midorima sedikit menghela nafas lega. 'Paling tidak, kau masih selalu menyayanginya, meski kau tak menyadari siapa dia sebenarnya...'
.
Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
.
Kegiatan Seiryuuto sedari sudah terhenti. Kini ruang kerja ayahnya itu telah bersih dan kembali seperti semula. Namun sekarang ini, Seiryuuto masih terpaku pada sebuah buku hitam yang aneh. Dalam ruang kerja Ayahnya, terdapat sebuah rak buku berukuran sedang yang semuanya berisi buku dengan tebal sekitar 6cm dan bersampul merah. Tetapi kenapa satu buku yang berada di bawah paling pojok kanan rak itu bersampul hitam sendiri?
Penasaran, Seiryuuto membuka buku tersebut dengan cepat, sehingga menjatuhkan selembar foto di kaki mungilnya. Mengetahui jika ada yang terjatuh, Seiryuuto menghela nafas malas lalu memungut foto dengan lembar yang sudah lusuh tersebut-
-hanya untuk kembali menjatuhkan benda di bawah kakinya. Kali ini, buku hitamnya yang terjatuh.
Wajahnya ketakutan. Kedua mata ganda warna milik Seiryuuto benar-benar membulat sempurna, seolah lama kelamaan akan keluar dari tempatnya. Tubuhnya menggigil, tangannya gemetaran, peluh dingin dengan tiba-tiba saja membanjiri tubuhnya. "O-Okaa-sama?"
Foto tersebut, menampilkan sosok pemuda bersurai biru muda dengan senyuman yang manis. Wajahnya sungguh imut untuk ukuran seorang laki-laki. Tubuhnya yang tergolong kecil itu terbaluti kemeja biru muda yang di lapisi jas abu-abu dengan emblem SMA Teikou pada dada kanannya. Kerahnya sudah terikat rapi oleh sebuah dasi abu-abu dengan garis biru muda yang membentang vertikal.
Namun yang membuat Seiryuuto ketakutan adalah, tanda silang hitam yang terdapat pada wajah si pemuda manis, banyaknya bekas darah kering yang berceceran di atas foto tersebut, dan juga robekan-robekan silet yang luar biasa banyaknya. Seolah-olah orang yang mengedit foto tersebut menjadi sedemikian seram sangat-sangat ingin membunuh si pemuda berambut biru muda.
Dengan tangan gemetar, Seiryuuto membalik foto tersebut dan ia kembali terkejut lagi untuk yang kesekian kalinya.
My Diary
10 Juli XXXX
"I want to kill you, Kuroko Tetsuya!"
By. Akashi Seijuuro
Oh tidak...
Foto tersebut menyebutkan tanggal pada 8 tahun yang lalu. Ya, itu adalah buku harian Ayahnya. Orang yang sangat dihormatinya, orang yang sangat dihargainya, orang yang sangat dibanggakannya. Tapi di lain sisi, ini juga menyangkut Ibunya. Orang yang sangat dirindukannya, orang yang sangat disayanginya, orang yang sangat dicintainya...
Seiryuuto tak berani menengok ke bawah. Ia tak sanggup untuk memandang buku hitam yang telah terjatuh di dekat kakinya. Apa yang harus ia lakukan? Membacanya, namun merusak kepercayaan sang Ayah yang telah diberikan kepadanya? Atau meletakkan kembali buku tersebut, namun ia tak akan dapat mengetahui segala yang telah terjadi pada Ibunya di masa lalu?
"Tuhan... apa yang harus aku lakukan?"
.
.
T.B.C
Haduh, akhirnya saya bisa update kembali, Minna-san :)
Saya sungguh minta maaf jika chapter ini sangat mengecewakan
Hayo, gimana? Lebih baik Ryuu-chan ngebaca buku hariannya Akashi atau gak, ya? :D
Terus, apa yang terjadi sama si Akashi dan Haizaki? kita tengok chapter selanjutnya aja, ya? XD
.
.
Preview Chapter 3 : "Buku Harian Berdarah Milik Ayah."
Kuroko terpojok oleh tembok yang dengan sialnya berada di belakangnya. Ekspresi ketakutan semakin terlihat dengan respon tubuhnya yang gemetar hebat. Di depannya, Akashi telah berdiri angkuh dengan sebuah gunting merah yang berada di tangan kirinya. Ia berjalan mendekati Kuroko dengan perlahan. Seringai keji penuh dengan kemenangan kini terpatri di wajahnya yang tampan.
"Kenapa, Tetsuya? Takut?"
Sang Kaisar berambut merah itu menarik kedua pergelangan kaki Kuroko kuat-kuat, membuatnya terpelanting dan terlentang di atas lantai. Jerit kesakitan ia lontarkan tatkala kepalanya terantuk keras ke lantai. Namun sayang, Akashi memperdulikannya sama sekali. Akashi justru bersingut untuk menindih tubuh yang lebih kecil darinya itu.
"Kuizinkan kau untuk duduk di tahta yang sama sepertiku, Tetsuya-" Akashi kembali menyeringai sembari melepaskan dasi abu-abunya menggunakan tangan kanannya dengan perlahan. "-tapi kau harus membayarnya~" dan kini dasi tersebut telah Akashi ikatkan dengan kencang pada kedua pergelangan tangan Kuroko yang ia tarik ke atas.
Air mata kini menggenang pada pelupuk mata biru muda Kuroko. "A-Apa yang kau inginkan dariku, Akashi-kun?"
Tatapan mata Akashi berubah menjadi pandangan posesif dalam sepersekian detik. Ia segera memajukan wajahnya pada wajah Kuroko yang berkeringat dingin. Wajahnya menampilan senyum meremehkan yang semakin membuat sosok di bawahnya itu gemetar ketakutan. "Segalanya yang ada padamu, Tetsuya!"
Dan Akashi segera mengaitkan bibirnya dengan bibir mungil Kuroko dengan kasar.
.
Aih, apa besok bakal naik rated? Sepertinya tidak, hehe (: #Ditendang
Apapun yang bakal dipilih Seiryuuto nanti, adegan di atas bakalan tetep ada. Hanya saja, mungkin pembawaan alurnya agak berbeda XD.
Baiklah, minggu depan kita akan menantikan Seiryuuto yang akan membaca buku harian Akashi atau tidak (:
See you, Minna-san! :D
