PS : Untuk Kuroyuki Lalala, saya telah mendapatkan wangsit untuk mengabulkan request-mu! :D. Terimakasih atas sarannya, awalnya saya bingung, mau punya hal istimewa seperti apa matanya si Seiryuuto ini. Tapi, sambil membanding-bandingkannya dengan emperor eye, akhirnya saya nemu juga yang pas buat dia gara-gara gambar kamu dan seringainya Akashi di 230Q! XD. Kapan-kapan kita ngobrol lagi, Hahaha~ :Dv
Oh tidak...
Foto tersebut menyebutkan tanggal pada 8 tahun yang lalu. Ya, itu adalah buku harian Ayahnya. Orang yang sangat dihormatinya, orang yang sangat dihargainya, orang yang sangat dibanggakannya. Tapi di lain sisi, ini juga menyangkut Ibunya. Orang yang sangat dirindukannya, orang yang sangat disayanginya, orang yang sangat dicintainya...
Seiryuuto tak berani menengok ke bawah. Ia tak sanggup untuk memandang buku hitam yang telah terjatuh di dekat kakinya. Apa yang harus ia lakukan? Membacanya, namun merusak kepercayaan sang Ayah yang telah diberikan kepadanya? Atau meletakkan kembali buku tersebut, namun ia tak akan dapat mengetahui segala yang telah terjadi pada Ibunya di masa lalu?
"Tuhan... apa yang harus aku lakukan?"
Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Winter Heart © Mizuno Yozora
Rated : T +
Warning : AU, BL, YAOI, MxM, M-PREG, OOC SEKALI!, TYPO(s), OC!AkaKuro's Child
.
:: Chapter 3 ::
"Buku Harian Berdarah Milik Ayah"
.
.
Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya menjadi kekanak-kanakan.
Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya menjadi manja.
Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya merengek.
Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya... menangis...
Ini semua kuakukan demi Otou-sama...
Penuh dengan warna putih. Seluruh siswa SD Teikou tengah menggunakan baju dokter yang sungguh manis. Stetoscope menggantung lucu di leher mereka. Mereka semua berlarian keluar dari kelas dengan raut wajah gembira. Teriakan-teriakan ceria dari anak-anak SD tersebut segera menggema dalam beberapa detik saja. Dan Kuroko memberikan apresiasi dengan senyuman lembutnya, karena ia begitu senang ketika melihat SD Teiko dibanjiri oleh para calon dokter yang masih imut-imut.
Kuroko dan Midorima kini tengah duduk bersama di kursi panjang yang terletak di pinggir lobi. Keduanya terlihat bersenda gurau dengan tawa yang menyelingi setiap cerita yang terlontar. Yah, sebenarnya hanya Kuroko yang tertawa kecil setiap cerita tentang kehidupan mereka di masa SMA kembali diungkap oleh Midorima. Sedangkan pemuda berkaca mata tersebut hanya memberikan senyum tipisnya yang menawan.
Saat ini sudah menunjukkan pukul 11.30, tepatnya jam istirahat bagi seluruh siswa SD Teikou. Maka dari itu, untuk menunggu jam istirahat usai, Kuroko dan Midorima memilih untuk saling bercengkrama sejenak. Meski Midorima harus mati-matian untuk membuang rasa tsundere yang ada pada dirinya. Semua ini demi sahabatnya, Kuroko Tetsuya.
"Kau ingat ketika kita berlima menginap di Villa saat musim panas di Okinawa?" Midorima memulai percakapannya kembali bersama Kuroko. Pemuda dengan kulit seputih susu itu meletakkan jari telunjuknya pada bibir mungilnya, ekspresi wajahnya tetap datar sembari memandang ke atas. Sungguh pose yang imut.
"Oh, yang kalian memaksaku untuk berenang itu?"
Midorima lagi-lagi tersenyum. Meski ia tidak begitu cocok dengan Kuroko ketika SMA, namun ia merasa begitu bertanggung jawab kepada sosok yang sangat dicintai Akashi tersebut. Akashi adalah orang yang paling dekat dengannya di Kiseki no Sedai, sehingga Midorima juga merasa jika Kuroko merupakan orang yang patut ia lindungi.
"Ya, dan kau tenggelam-nanodayo." Midorima tertawa kecil sembari menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Hal yang sangat jarang terjadi pada shooter mengerikan dari Kiseki no Sedai tersebut.
.
Kise tengah membopong tubuh mungil Kuroko dalam gendongan brydal-nya. Wajahnya menunjukkan sebuah kepanikkan yang luar biasa berlebihannya. Tapi tak salah juga sih, karena pemuda berambut biru muda itu tengah tak sadarkan diri akibat tenggelam di kolam yang berada di villa yang Akashi sewakan untuk mereka.
Sebenarnya, seharusnya Akashi juga ikut. Namun karena sebuah pertandingan shogi yang diadakan secara dadakan, Akashi terpaksa mendahulukan keprofesionalannya ketimbang berkumpul dengan semua teman-temannya.
Mereka berlima yang terdiri atas Kuroko,Midorima, Kise, Aomine, dan Murasakibara akhirnya memutuskan untuk tetap menginap sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada Akashi. Dan Akashi menyetujui hal tersebut.
Villa yang disewakan Akashi sungguh besar dan mewah. Fasilitasnya serba ada dan bahkan memiliki onsen sendiri. Meski begitu, mereka berlima pastinya akan memilih untuk berenang di kolam air tawar saja, mengingat jika saat ini merupakan musim panas.
Awalnya Kuroko hanya merendamkan kakinya hingga lutut di dalam kolam renang. Ia tak ingin berenang. Dan tentu saja karena alasannya karena ia tidak bisa berenang.
Tapi...
Bukan Kiseki no Sedai namanya jika isinya adalah orang-orang yang tidak usil. Kise, Aomine, dan Murasakibara segera naik ke atas kolam. Mereka berencana untuk melempar pemuda paling imut di antara mereka itu ke dalam kolam. Sedangkan Midorima hanya bisa menghela nafas dan mengikuti mereka untuk naik ke atas kolam dengan wajah dinginnya.
Namun, pemuda bersurai hijau itu lebih memilih untuk duduk di pinggir kolam dan mengelus-elus lucky item miliknya untuk hari ini. Yaitu sebuah gelang yang terbuat dari tulang. Entah tulang dari apa...
Tanpa Kuroko sadari, Tiba-tiba saja Aomine telah mengangkat kakinya untuk keluar dari dalam kolam. Sedangkan Kise sudah mengangkat tangan Kuroko, dan Murasakibara mengangkat punggungnya.
Yeah, Kuroko merasa berbaring di udara, sebelum ketiga pemuda dengan rambut warna-warni itu melemparkannya langsung ke tengah kolam. Semoga kalian ingat jika Kiseki no Sedai dijuluki sebagai 'monster' karena kekuatan mereka.
'BYURR!'
Mereka bertiga berhasil melempar Kuroko ke dalam kolam renang sedalam 2,5 meter. Kuning-biru-ungu itu tertawa terbahak-bahak lantaran melihat ekspresi Kuroko yang biasanya datar tersebut berubah menjadi ekspresi panik. Begitu sosok biru muda itu di lemparkan ke dalam kolam... ia tak menunjukkan rupanya lagi untuk menyembul keluar dari air...
Ingat. Kolam tersebut sedalam 2,5 meter. Sedangkan tinggi kuroko?
...168 cm...
"Kita salah kolam-ssu..."
"Ya, kau benar, Kise."
"Bagaimana ini, Kise-chin? Mine-chin?"
Parah. Tiga makhluk tak tahu dosa itu malah terbengong sendiri.
Villa yang disewakan oleh Akashi itu memiliki kolam yang sangat luas. Kedalamannya juga berbeda-beda. Setiap kedalaman yang berbeda, maka akan terdapat sekat yang terbuat dari kaca sebagai pemisah.
Karena mereka berempat memutuskan untuk berenang di dalam kolam setinggi 2,5 meter, akhirnya Kuroko memilihn untuk ikut bergabung di sana juga walaupun ia tidak memiliki niatan untuk berenang.
Seharusnya Kise, Aomine dan Murasakibara melemparkan Kuroko ke dalam kolam sedalam 1 meter. Hanya saja...mereka lupa...
"KUROKOCCHI!"
Kise menyadari jika ada yang tidak beres dengan kuroko. Ia segera melompat ke dalam kolam, dan menyelamatkan orang yang sesungguhnya ia cintai tersebut. Kise melihat Kuroko yang memejamkan matanya dengan lemas sembari membiarkan berat tubuhnya semakin tertarik ke dasar. Kise merentangkan tangannya, dan berhasil menarik kerah dari baju lengan pendek yang Kuroko gunakan.
Begitu Kuroko berada dalam genggamannya, Kise segera membawanya naik ke atas. Wajahnya terlihat sangat panik dan raut bersalah ketara jelas dari wajahnya. "Kurokocchi, bangun! Bagaimana ini-ssu?"
Midorima bangun dari duduknya. Ia segera mengambil Kuroko dari gendongan Kise. Dengan perlahan ia membaringkan Kuroko di lantai pinggir kolam, lalu menekan-nekan perut dan dada Kuroko dengan telaten. Midorima juga menunjukkan raut paniknya. Kuroko adalah kekasih Akashi. Bisa mampus dirinya jika Kuroko sampai kenapa-kenapa.
Dan berkat jerih payah Midorima, akhirnya Kuroko terbatuk-batuk dan mengeluarkan banyak air dari dalam mulutnya. Namun pemuda mungil tersebut belum juga sadarkan diri. Midorima mengusap keringatnya dengan cepat. Ia segera bangkit dan menarik tangan Murasakibara untuk menemaninya ke suatu tempat.
"Murasakibara, temani aku untuk memanggil pemilik villa. Aomine, kau segera panggilkan dokter. Dan kau, Kise-." Midorima menyempatkan diri untuk mendelik tajam ke arah Kise yang seketika gemetar ketakutan.
-Tak ada Akashi, Midorimapun jadi-
"-bawa Kuroko ke kamar, dan gantikan bajunya-nodayo!"
"Haa? Kenapa aku-ssu?"
Merasa jika Midorima tengah berdiri di depan sebuah bayangan Akashi yang sedang menggenggam gunting merah kesayangannya, Kise bergidik. Bayangan tersebut terlihat begitu mengerikan dengan seringai kejam sang kapten yang berada di belakang Midorima.
"B-Baik! Aku yang gantikan-ssu!"
.
Kise mondar-mandir seperti orang gila. Dirinya tengah gugup setengah mati. Huh, jika ia menggantikan pakaian Kuroko... artinya ia akan menatap tubuh polos pemuda mungil tersebut, kan? Kise merasa ragu akan hal tersebut.
Tapi, ketika ia menatap wajah Kuroko yang semakin lama semakin memucat karena dingin, ia seolah tak memiliki pilihan lain. Ia harus segera menghangatkan tubuh rapuh Kuroko!
Eh? Wajahnya malah memerah sendiri lantarna pikirannya yang terkesan ambigu tersebut. "Mou-ssu! Aku harus segera mengganti pakaiannya yang basah!" Kise menjerit sembari menutupi kedua kupingnya dengan kedua telapak tangan.
Setelah berheboh ria, akhirnya Kise mengambil beberapa pakaian kering dari dalam koper Kuroko, lalu pemuda pirang tersebut segera duduk di pinggiran kasur dengan hati was-was.
Perlahan, Kise membuka satu persatu kancing baju yang dikenakan Kuroko. Kise menggigit bibir bawahnya, hatinya ini memang tak bisa di ajak kompromi. Jantungnya pun begitu. Detumannya terasa begitu keras dan menyakitkan bagi Kise.
Terbuka. Akhirnya baju tersebut telah terbuka dengan sempurna. Kise sedikit mengangkat punggung Kuroko untuk membantunya melepaskan baju yang pemuda biru langit itu kenakan. Dan akhirnya baju tersebut benar-benar terlepas dari tubuh bagian atas Kuroko.
Namun, rasa was-was Kise mendadak lenyap. Rasa itu sekarang tergantikan dengan sebuah rasa keterkejutan yang begitu ketara.
Terdapat luka bekas jahitan yang membentang dari dada kanan Kuroko hingga turun ke atas perut dengan posisi miring.
Kise meringis. Ia membayangkan darimana Kuroko mendapatkan luka sedemikian besar tersebut. Tangan besarnya itu meraba luka Kuroko dengan lembut. Dan tatapan matanya menjadi sendu seketika. Lukanya cukup lebar, bisa dipastikan jika tubuh bagian depan Kuroko telah mendapatkan luka menganga lebar sewaktu dulu. Tapi, Kise tak tahu hal apa yang telah menyebabkan luka tersebut.
Akhirnya Kise dapat serius, dan segera menggantikan baju Kuroko dengan gerakan handal. Tak ada pikiran macam-macam lagi dalam benaknya. Yang ada hanyalah, mengapa luka jahitan tersebut bisa berada di atas tubuh Kuroko?
Begitu Kise selesai menggantikan baju Kuroko –dan pemuda pirang tersebut hendak memasukkan baju basah pemuda berkulit pucat ke dalam mesin cuci, tiba-tiba saja Aomine segera membuka pintu kamar Kuroko dan membawa seorang dokter untuk memeriksa keadaan kekasih dari Akashi tersebut.
"Dia sahabat saya, Dok. Tolong segera periksa dia." pinta Aomine yang segera naik ke tempat tidur queen size itu dan menggenggam tangan mungil Kuroko yang terlihat begitu pucat.
Sang dokter tersenyum lembut dan segera melaksanakan apa yang diminta oleh Aomine barusan. Sedangkan Kise hanya bisa tersenyum sederhana sebelum melanjutkan tujuannya untuk ke kamar mandi dan memasukkan baju basah Kuroko ke dalam mesin cuci.
.
Kuroko mendengus. Wajahnya kini sedikit memiliki semburat merah. Tentu saja ia malu. Sudah tenggelam dan ketahuan tidak bisa berenang, digantikan pakaian oleh Kise, dan nasehat dari dokter untuk memperbanyak olahraga, itu semua sudah mampu membuat Kuroko malu berat.
Midorima tertawa lagi. Tidak terbahak-bahak, hanya seadanya saja. Lagipula, seluruh pikirannya kini tertuju pada Kuroko yang benar-benar amnesia hanya dengan keberadaan Akashi dan segala yang behubungan dengannya.
Kuroko tidak sepenuhnya amnesia. Ia hanya melupakan eksistensi seorang Akashi Seijuuro dalam hidupnya. Tentu saja hal ini disebabkan oleh sebuah peristiwa yang memukul jiwanya. Peristiwa yang mampu membuatnya trauma berkepanjangan. Yang Midorima sedihkan adalah, mengapa Kuroko juga melupakan Seiryuuto? Padahal dulu, pemuda dengan manik mata aquamarine itu benar-benar keukeuh untuk memperjuangkan hak hidupnya.
"Kuroko..." Midorima tersenyum perih sendiri. Akashi, Seiryuuto, dan Kuroko benar-benar dipermainkan oleh takdir.
"KURO-CHIN!"
Seseorang dengan tinggi yang berlebihan dan helaian surai berwarna ungu lembut itu menerjang Kuroko yang tengah terduduk. Pemuda tinggi tersebut benar-benar memeluk Kuroko erat. Pemuda itu juga menciumi pucuk kepala Kuroko dengan tampang polos. Seperti anak kecil yang tengah menciumi adiknya.
"M-Murasakibara-kun?" Kuroko menengadah menatap sosok tersebut yang terngah tersenyum manis kepadanya.
"Halo, Kuro-chin~" bukannya menghiraukan ekspresi terkejut Kuroko, pemuda tinggi tersebut malah mengacak-ngacak rambut Kuroko.
Midorima menghembuskan nafas. Ia membenarkan letak kacamatanya yang sempat merosot, lalu memisahkan pelukan maut Murasakibara dari Kuroko. Midorima segera menatap tajam sang center dari Kiseki no Sedai tersebut.
Murasakibara menatap Midorima dengan bingung, Kurokopun begitu. Akhirnya pemuda bermata hijau itu menjelaskan keadaannya. "Aku memesankan beberapa makanan kecil untuk siswa kelas 3-A. Maka dari itu, Murasakibara ada di sini untuk mengantarkannya."
Kuroko dapat melihat dua orang laki-laki yang masing-masing tangannya membawa plastik putih besar yang berisi banyak kotak. Kuroko jadi paham mengenai alasan mengapa Murasakibara ada di sini sekarang.
"Baiklah, Kuro-chin~ urusanku di sini sudah selesai. Nanti setelah pulang mengajar, sempatkan mampir ke tempatku, ya? Aku sudah membuatkan banyak cup cake vanilla kesukaan Kuro-chin!"
Kuroko tersenyum tipis. Ia mengangguk dan menengadahkan kepalanya untuk menatap Murasakibara yang jauh lebih tinggi darinya. "Aku mengerti, Murasakibara-kun."
Murasakibara mengecup dahi Kuroko dengan kilat, lalu berlari meninggalkan Kuroko dan Midorima yang melotot melihat aksi Murasakibara barusan. "Sa-chin juga akan kesana nanti!" pemuda bermanik ungu itu menyempatkan untuk menjerit sebelum ia benar-benar hilang dari belokkan yang membawanya ke gerbang depan.
Kuroko menertawai kelakuan Murasakibara yang tak pernah berubah. Sedangkan Midorima memijat-mijat pangkal hidungnya sendiri. Ia bersyukur bahwa Akashi tidak berada di sini.
Ngomong-ngomong soal Akashi, Midorima ingat jika ketika dirinya dan Kuroko tengah bersenda gurau, ada sebuah getaran pada ponselnya yang menandakan masuknya sebuah pesan. Midorima segera merogoh kantung jas putihnya, dan membuka ponsel hijau dengan gantungan berbentuk buah semangka sebagai lucky item-nya untuk hari ini.
Dan benar saja firasatnya, Akashi yag mengirimkan pesan tersebut padanya.
Form : Akashi Seijuuro
To : Midorima Shintaro
"Shintaro, setelah kau selesai menjaga Tetsuya, segera datang ke rumahku.
Aku berada di ruang kerja. Ini penting.
Kutunggu kedatanganmu."
Midorima mengangkat satu alisnya pertanda bingung. "Apa yang terjadi-nodayo?"
.
Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
.
Seiryuuto masih bingung. Tubuhnya masih saja bergetar. Entah apa yang terjadi sehingga foto mengerikan tersebut berada di ruang kerja Ayahnya, terlebih lagi foto tersebut merupakan karya dari Ayahnya sendiri. Banyak hal yang terjadi, dan Seiryuuto kebingungan.
Ia mengambil buku hitam tersebut, membersihkan beberapa debu yang tertinggal, lalu menatap lekat-lekat benda kotak yang menyimpan berbagai macam misteri dalam hidupnya. Buku itu... buku harian Ayahnya. Tapi ia tidak berani membacanya.
Rasa penasaran memang menghantui kepalanya. Puluhan tanda tanya jug membentang dalam pikirannya. Namun tetap saja, rasa hormatnya terhadap sang Ayah lebih besar ketimbang yang lainnya. Dan buku harian merupakan sebuah privasi seseorang. Seiryuuto tak akan sembarangan membaca hak orang lain yang bukan haknya.
Bulir keringat dingin menuruni wajahnya yang setampan Akashi. Gerak-gerik matanya terlihat gusar dengan segala pilihan yang keduanya akan memojokkan dirinya. Baca atau tidak? Seiryuuto benar-benar bingung harus memilih yang mana.
Dan tanpa diinginkannya, sebuah ingatan di masa lalu membuatnya teringat akan perjuangan Ayahnya untuk membesarkannya hingga sekarang...
Ia ingat betul bahwa beberapa proyek perusahaan Ayahnya telah gagal lantaran Akashi lebih memilih untuk menjaga Seiryuuto di Rumah Sakit. Ia ingat betul betapa banyaknya uang yang dikeluarkan Ayahnya hanya untuk melakukan beragai macam perawatan pada tubuhnya yang lemah. Ia ingat betul ketika tubuh Ayahnya tengah deman tinggi, tetapi Akashi tetap setia membacakan ensiklopedia sebelum tidur hanya untuknya.
Saat itu, Akashi mendapat berita dari pelayannya bahwa Seiryuuto sedang berada di ruang UGD Rumah Sakit. Seketika itu juga Akashi segera menghentikkan rapat di kantornya dan segera berangkat menuju rumah sakit. Ia ingat betul betapa pedulinya sang Ayah hingga rela meninggalkan mobilnya di tengah jalan dan berlari diguyur derasnya hujan ketika terjebak macet.
Dan ia sangat mengingat... ketika Akashi tidak pernah tidur selama seminggu penuh untuk menjaga Seiryuuto yang harus menjalani operasi secara bertahap...
Ayahnya tidak pernah mau jika ia menangis...
'Sayang, hentikan tangisanmu. Otou-san di sini, bersamamu.'
Dan itulah batas seorang Akashi Seiryuuto. Ia belajar menjadi seorang anak yang lebih dewasa dan juga menghormati orang tuanya. Apa yang kurang dari sosok Ayah seperti Akashi? Apa yang kurang darinya untuk tidak dihormati?
Sejak itu juga, Seiryuuto memanggil Akashi dengan sebutan 'Otou-sama'.
Merasa jika hal tersebut sudah lebih dari cukup untuk meyakinkannya, Seiryuuto menyelipkan foto tersebut dalam buku hitam Akashi, lalu meletakkannya kembali ke dalam rak.
Anak kebanggaan Akashi itu memutuskan untuk tidak membacanya.
"Lebih baik aku segera kembali."
Seiryuuto memutar tubuhnya sebelum ia mendengar ada langkah kaki yang mendekat. Sial! Seandainya saja ia tidak terlalu lama berfikir. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Ia berharap menemukan celah untuk kabur atau bersembunyi sementara tanpa ketahuan. Dan matanya menatap jika pintu yang menghubungkan ruang kerja Akashi dengan balkon ternyata memang tidak terkunci dari awal.
Jadi, Akashi tidak akan curiga jika ia menemukan bahwa pintu tersebut dalam keadaan tidak terkunci.
Seiryuuto berlari ke arah balkon, menarik gagang pintunya dan menutup pintu tersebut secara perlahan. Anak bermanik merah-biru itu mencoba untuk tidak menimbulkan bunyi berisik. Begitu ia berada di depan pagar pembatas balkon, Seiryuuto menatap ke bawah. Jarak antara lantai dua dengan dasar lantai satu memang terlampau jauh. Namun, Seiryuuto malah menutup hidungnya dan melompat ke bawah-
-ke kolam kotak yang telah dirancang oleh Ibunya sendiri.
'BYURR!'
.
Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
.
Akashi berjalan menaiki anak tangga dengan terburu-buru. Kancing kemeja coklat yang ia kenakan telah lepas dua kancing teratas. Rambutnya berantakkan dan agak basah karena keringat. Di tangan kanannya, tersampir sebuah jas abu-abu yang senada dengan celana dasar yang kini tengah ia gunakan. Wajahnya terlihat tidak tenang. Seperti memiliki hal yang mengganggu pikirannya.
Haizaki Shougo. Pemuda itu baru saja menemuinya. Ia kembali dengan segala kisah kelam yang Akashi coba untuk tutupi. Sumpah demi apapun, kehadiran pemuda yang lebih tua 3 tahun darinya itu sungguh terasa menyebalkan. Walau sebenarnya Haizaki bisa disebut sebagai kakak iparnya, Akashi tak akan sudi.
Dirinya dan Haizaki baru saja melakukan sedikit permainan 'I see – I shoot'yang menyebabkan ruang kerja Akashi berantakkan. Tapi bukan hal itu yang ia khawatirkan. Ia khawatir lantaran para pelayan mengatakkan bahwa Seiryuuto sudah pulang sedari tadi. Kenapa ia khawatir? Karena ia was-was jika anak semata wayangnya itu pergi ke ruang kerjanya.
"Seiryuuto!"
'Cekrek'
Akashi membuka pintu ruang kerjanya. Semuanya rapi seperti semula. Bekas-bekas pecahan kaca, taplak meja yang melayang, buku-buku yang berhamburan, tinta pulpen yang meluber, karpet-karpet yang terlipat, serta beberapa kekacauan lain, kini telah rapi bagaikan tak pernah menjadi saksi bisu atas 'I see – I shoot' yang Akashi lakukan.
Oh God! Apa anaknya baru saja kemari? Tapi di mana ia sekarang? Akashi tidak menemukan sosok miniaturnya tersebut di lantai bawah. Maka dari itu ia mencoba untuk mencarinya di atas. Salah satunya ruang kerja miliknya sendiri.
Meski berbagai macam pikiran mulai memasuki otak cerdasnya, tetapi Akashi lebih memilih untuk mengambil sisi positif. Ia tak ingin berfikiran yang macam-macam tentang anak kesayangannya.
Walaupun pada kenyataannya Seiryuuto memang baru saja keluar dari ruang kerjanya.
Akashi bergerak menuju meja kerja, begitu membuka laci paling bawah, ia menemukan kotak yang terbuat dari alumunium bertabur intan. Ya, kotak tersebut sungguh cantik, namun tidak untuk apa yang berada di dalamnya.
"Hhh... terkadang, memiliki anak yang terlalu jenius merupakan hal yang sulit tersendiri..."
Akashi menghela nafas. Seiryuuto benar-benar kemari. Kenapa? Karena ia tidak bisa menemukan pistol yang biasanya tergeletak sembarangan, maka para pelayannya akan segera mengembalikan pistol tersebut ke dalam kotak. Namun, jika memang dari awal tidak ada, berarti ada yang mengambilnya.
Kenapa ia yakin jika itu adalah Seiryuuto? Karena jika itu adalah salah satu pelayannya, maka akashi tak akan segan-segan untuk mengambil chainsaw dan memutilasi tubuh pelayan tersebut hingga menjadi potongan kecil-kecil.
Itu pistol kesayangannya! Pistol dari Kuroko Tetsuya!
Seiryuuto benar-benar bukan anak berusia 7 tahun biasa. Bahkan pemikiran anak tersebut diakui Akashi telah melampaui pemikiran mutlaknya sendiri.
Anak itu sangat mengerikan. Tapi itu semua terjadi karena ia merupakan darah daging Akashi.
Benar, kan?
Akashi beranjak mendekati rak bukunya. Semua buku yang merupakan catatan kesehariannya setiap hari. Akashi sudah di-didik oleh Ayahnya untuk menjadi orang yang terjadwal, disiplin, dan bertanggung jawab. Maka dari itu, Akashi sudah dilatih untuk menulis sebuah buku harian sedari TK.
Tak semuanya hal-hal penting. Mengingat jika dulu Akashi bukanlah anak 'baik-baik'. Beberapa yang dicatat olehnya hanyalah sebuah masalah sepele ataupun masalah pribadi. Seperti anak perempuan memang, tapi bakat Akashi dalam bidang tulis menulis memang patut di acungi jempol.
Sayangnya, tulisannya sewaktu muda lebih terasa mencekam untuk ukuran sebuah buku harian.
Dari semua buku harian yang ia sampul berwarna merah, ada satu buku spesial yang ia sampul berwarna hitam. Mengapa hitam? Karena buku tersebut merupakan buku pertama yang bertorehkan nama Kuroko Tetsuya di dalamnya. Meski pemuda tersebut memiliki fisik yang cenderung berwarna biru muda, tetapi Akashi lebih memilih hitam yang di ambil dari arti namanya.
Senyum Akashi berkembang. Ia menarik buku yang letaknya paling pojok bawah kanan tersebut. Melihat dari debunya yang berkurang, Akashi dapat memastikan jika Seiryuuto telah mengetahui keberadaan buku sakral tersebut.
Kedua tangan besar Akashi mulai membuka lembar demi lembar buku tersebut. Lagi-lagi pemuda tampan itu tidak bisa menahan senyumnya. Sungguh, ia benar-benar bangga terhadap Seiryuuto. Putranya tersebut benar-benar memiliki sisi loyalitas yang tinggi. Terbukti dari tindakannya yang memilih untuk tidak membaca buku tersebut.
Bagaimana Akashi bisa mengetahuinya?
Begitu buku tersebut terbuka, bau amis darah langsung menyambut indera penciuman. Jangan heran karenanya. Meskipun buku tersebut telah ada sejak 8 tahun yang lalu, Akashi dengan gilanya selalu memberikan luka sayatan pada jari-jarinya –setiap sebulan dua kali- untuk membasahi lembar demi lembar buku tersebut. Tak heran jika anyirnya darah masih begitu terasa menusuk hidung. Siapapun yang membacanya pasti merinding.
Tapi, setiap apapun yang Akashi lakukan pastilah memiliki alasan. Ia melakukan itu semua karena cepat atau lambat, Seiryuuto pasti akan menemukan buku yang sengaja ia ekspos terang-terangan itu. Ia ingin menguji setingkat apa dewasanya yang dimiliki sang anak. Dan hasilnya sungguh mengejutkan.
Seiryuuto sudah sangat pintar untuk menimang-nimang di antara pilihan yang sulit.
Buku harian Akashi selalu memiliki lembar yang tipis. Sehingga jika dilipat, maka lipatannya tak akan ketara saking tipisnya. Akashi memanfaatkan hal tersebut dan melipat semua kertas di bukunya. Lalu, ia akan selalu meneteskan darahnya sendiri pada buku tersebut. Ritual gila itu sudah ia lakukan selama 7 tahun lamanya. Dan semua itu hanya untuk mengetes Seiryuuto.
Kertas tersebut memang tipis, tapi bersifat tidak menyerap air. Sehingga darah yang menetes akan mengering bagaikan cat amis yang melapisinya.
Dengan kata lain, siapapun yang membaca buku tersebut, pasti akan membuka lipatan itu untuk melihat tulisannya, bukan? Maka secara otomatis, darah-darah kering tersebut akan retak dan mengelupas dari kertas itu. Sehingga Akashi dapat mengetahui jika ada yang membaca bukunya atau tidak.
"Hm, aku jadi mengingat salah satu kejadian yang aku tulis di sini..." Akashi bergumam rendah sembari menatap sebuah foto Kuroko yang hancur lebur di tangannya.
.
"KAU PUAS SEKARANG, HAH?!"
Akashi Seijuuro, berteriak keras dengan jambakan rambut yang ikut menyertai gema suaranya. Wajahnya benar-benar terlihat frustasi. Kini ia hanya menggunakan kemeja biru muda yang lengannya ia gulung hingga siku. Jas abu-abunya sudah terlempar entah kemana.
Kuroko Tetsuya hanya bisa memandang takut-takut kepada sosok pemuda merah tua yang mengamuk di hadapannya. Melampiaskan segala yang menumpuk dalam hatinya. Dan itu semua dibebankan pada dirinya.
"A-Akashi-kun... aku ti-"
"AKU MUAK DENGANMU, KAU TAHU?!"
Sebuah gebrakan meja yang terdengar sangat keras telah menghentikan ucapan sekaligus memperkecil nyali kuroko untuk berusaha menghibur keturunan keluarga Akashi tersebut.
Nafas Akashi sungguh berat, keringat mengalir deras dari ujung pelipisnya, matanya menatap bengis ke arah Kuroko, kepalan tangannya bergetar, menahan agar tidak langsung menghabisi pemuda dengan surai biru muda yang lembut.
"Aka-"
"Bagaimana bisa... BAGAIMANA BISA, KUROKO?!"
'BRUK'
"Ugh..."
Kuroko merasa jika ia tidak bisa merasakan rahangnya lagi. Cengkraman Akashi begitu kasar dan keras. Baru saja Akashi menghantamkan kepalanya ke tembok. Keras sekali. Sungguh, rasa sakitnya mulai menjalar dan menyiksa kepala Kuroko. Darah segar mulai turun untuk meramaikan pelipis kanannya.
Mata Akashi benar-benar buas. Ia tengah berada dalam posisi emosi tingkat tinggi. Semua ini karena pemuda biru muda yang ketakutan menatapnya. Semua itu karena pemuda biru muda yang merebut segala miliknya. Semua itu karena Kuroko... yang membuatnya terlihat bodoh di hadapan seluruh keluarga besarnya.
"Dengarkan aku... Akash-"
"AKU MEMBENCIMU, KUROKO!" Akashi menghantamkan kepala Kuroko ke tembok untuk sekali lagi. Kuroko benar-benar merasa jika tulang tengkoraknya mungkin saja hancur. Kini hidungnya juga telah mengeluarkan darah. Hantaman Akashi telah berhasil memecahkan beberapa pembuluh darah dalam tubuhnya.
"Kau..." Akashi mendesis tajam. "Bagaimana bisa kau menjadi anak angkat Okaa-sama?"
Kuroko bungkam. Ia tidak ingin membahas permasalahan ini lagi. Sudah cukup, Kuroko tidak menginginkan semua kekayaan keluarga Akashi. Yang ia inginkan hanyalah kasih sayang dari sebuah keluarga yang benar-benar Kuroko rindukan. Hidup bertahun-tahun dalam lingkup panti asuhan, membuatnya tak mengenal langsung apa arti orang tua yang sesungguhnya. Dan ia sangat ingin merasakannya.
Sampai saat itu, ibu Akashi datang ke panti asuhan yang membesarkan Kuroko. Ketika itu, wanita cantik tersebut menghendaki seorang anak berumur 17 yang bisa di andalkan dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Dan pemilik panti asuhan memilih Kuroko sebagai jawaban atas keinginan ibunda Akashi.
Tanpa di duga-duga, begitu ia masuk ke dalam lingkup keluarga Akashi, ibunda Akashi langsung saja mengumumkan jika Kuroko-lah yang akan mewarisi segala jenis kekayaan keluarga Akashi yang telah ditinggalkan oleh mendiang Ayahanda Akashi yang telah meninggal.
Tentu saja Kuroko terkejut bukan main. Apa ini? Mengapa tiba-tiba saja dirinya menjadi seorang pengurus kekayaan keluarga Akashi? Entah benar atau tidak, Kuroko hanya merasa dimanfaatkan saja. Ia tidak benar-benar dianggap sebagai seorang anak. Ia hanya di anggap sebagai penjalan perusahaan keluarga Akashi yang sempat di bekukan selama 3 bulan lantaran belum ada yang sanggup memegangnya kembali.
Sejak saat itulah Akashi membenci Kuroko. Ia membenci Kuroko yang mendapatkan segala yang ia miliki. Ketika dulu, Akashi bukanlah seorang pria dengan wibawa tinggi dan memiliki intelektual tingkat dewa. Melainkan seorang remaja angkuh yang hobinya mempermainkan banyak orang. Untuk bagian yang itu, Kuroko merasa jika Akashi memang pantas untuk di gantikan, namun ia berharap agar itu bukan dirinya.
Belum sempat Kuroko memikirkan hal tersebut lebih jauh, sebuah gunting telah menancap tepat di samping matanya. Membuat kelopak mata bagian bawahnya mengeluarkan darah kembali. Sepertinya Akashi benar-benar menyukai darahnya...
Merasa jika dirinya dalam bahaya, Kuroko segera bangkit untuk berlari menjauh dari Akashi. Sedangkan Akashi kembali mengambil gunting merah yang sempat melukai Kuroko itu, dan membawanya ikut serta dalam pencarian Kuroko.
Kuroko berniat berlari keluar kelas. Kuroko dan Akashi berbicara dalam ruang kelas Kuroko yang lebih dulu sepi ketimbang kelas Akashi. Sehingga pemuda berjulukan 'emperor' itu lebih memilih untuk berbicara dalam kelas Kuroko.
Sedikit lagi pemuda biru muda itu akan menggapai kenop pintu, sayangnya kedua kakinya di tarik kasar oleh Akashi. Kuroko jatuh terserembab dengan keadaan bibir yang robek akibat menghantam lantai. Untuk yang kesekian kalinya, Kuroko meringis. Kini kedua matanya telah berkaca-kaca, tak sanggup menahan rasa sakitnya.
Sang emperor menyeringai kejam. Ia menarik Kuroko untuk menjauh dari pintu, sebelum si pemuda biru muda menarik kaki meja belajar yang tak jauh darinya, dan menghantamkannya tepat ke tulang kering Akashi. "ARRGH!"
Akashi meringis memegangi kaki kanannya yang terasa sakit. Kuroko mencoba untuk memanfaatkan celah yang ada untuk berlari dari pemuda gila bersurai merah tersebut. Hanya saja, pening yang melandanya itu membuat dirinya tak mampu berbuat lebih banyak.
Tubuhnya yang mencoba untuk berdiri itu terjatuh dengan suara keras. Kuroko benar-benar tak sanggup lagi. Darah yang banyak mengucur dari tubuhnya membuat penglihatannya buram. Kuroko mulai merayap, berharap jika ia bisa menemukan seseorang untuk bisa membantunya untuk lepas dari masalah mengerikan ini.
"Hoo~ mau lari kemana, Tetsuya sayang?"
Kuroko membeku. Akashi telah berdiri di belakangnya. Sangat mengerikan tatkala mendengar suara rendah pemilik mata heterokrom tersebut dari dekat. Kuroko memberanikan diri untuk menatap ke belakang, dan benar saja... Akashi benar-benar menatapnya dengan tajam serta tepat sasaran.
Kuroko memutar tubuhnya untuk duduk. Mengindari wajahnya yang sudah babak belur dari lantai. Sementara Akashi terus bersingut untuk maju, Kuroko terus memundurkan tubuhnya dengan perasaan gelisah. Ketakutan serta kesakitan yang berpadu menjadi satu bukanlah hal yang bagus. Hingga akhirnya...
...Kuroko terpojok oleh tembok yang dengan sialnya berada di belakangnya. Ekspresi ketakutan semakin terlihat dengan respon tubuhnya yang gemetar hebat. Di depannya, Akashi telah berdiri angkuh dengan sebuah gunting merah yang berada di tangan kirinya. Ia berjalan mendekati Kuroko dengan perlahan. Seringai keji penuh dengan kemenangan kini terpatri di wajahnya yang tampan.
"Kenapa, Tetsuya? Takut?"
Sang Kaisar berambut merah itu menarik kedua pergelangan kaki Kuroko kuat-kuat, membuatnya terpelanting dan terlentang di atas lantai. Jerit kesakitan ia lontarkan tatkala kepalanya terantuk keras ke lantai. Namun sayang, Akashi tak memperdulikannya sama sekali. Akashi justru bersingut untuk menindih tubuh yang lebih kecil darinya itu.
"Kuizinkan kau untuk duduk di tahta yang sama sepertiku, Tetsuya-" Akashi kembali menyeringai sembari melepaskan dasi abu-abunya dengan perlahan. "-tapi kau harus membayarnya~" dan kini dasi tersebut telah Akashi ikatkan dengan kencang pada kedua pergelangan tangan Kuroko yang ia tarik ke atas.
Air mata kini menggenang pada pelupuk mata biru muda Kuroko. "A-Apa yang kau inginkan dariku, Akashi-kun?"
Tatapan mata Akashi berubah menjadi pandangan posesif dalam sepersekian detik. Ia segera memajukan wajahnya pada wajah Kuroko yang berkeringat dingin. Wajahnya menampilan senyum meremehkan yang semakin membuat sosok di bawahnya itu gemetar ketakutan. "Segalanya yang ada padamu, Tetsuya!"
Dan Akashi segera mengaitkan bibirnya dengan bibir mungil Kuroko dengan kasar.
.
Akashi terkekeh sendiri. Ia ingat betul betapa dirinya menikmati saat-saat memiliki Tetsunya-nya sepenuhnya. Itu merupakan pengalaman pertama mereka masing-masing. Meskipun sikap mereka ketika di SMA begitu berbeda, namun kejadian itu merupakan awal dari segala cerita yang tercipta saat ini.
Entahlah. Akashi bingung, untuk merasa bersyukur atau malah menyesal.
Tapi satu yang ia tahu... ia terperangkap dalam zona jatuh cinta pada Kuroko tetsuya.
"Meski sulit, jika anak itu adalah Seiryuuto, aku rasa tidak apa-apa..." gumamnya sembari menunjukkan senyum tulus. Ia merogoh sebuah cutter merah dari dalam celana dasarnya, dan berniat untuk kembali menyayat jemarinya dan meneteskan darah tersebut ke lembaran buku sakral miliknya.
'Crash!' Seunyum tulus Akashi berubah menjadi seringai tatkala tiga jemari tangan kirinya telah mengeluarkan darah yang cukup banyak. Dan dalam hitungan detik, Akashi membawa lidahnya untuk menjilati darah yang mengalir deras hingga mengotori lantai.
Sementara jemari tangan kirinya sibuk meneteskan darah pada lembaran buku yang diiringi dengan jilatan-jilatan Akashi, tangan kanan pemuda bersurai merah itu merogoh i-phone nya dan segera mengirim pesan kepada seseorang. Midorima Shintaro.
.
Akashi Seijuuro X Kuroko Tetsuya
.
Seiryuuto menyembulkan wajahnya dari dalam air. Wuh, untung saja ia pandai berenang seperti Akashi. Sehingga kolam dengan kedalam 2 meter tersebut bukanlah masalah besar bagi Seiryuuto.
Bocah berkulit pucat tersebut mengambil nafas banyak-banyak. Tak dapat dipungkiri jika tadi Seiryuuto merasa sedikit ketakutan. Namun ia bisa melewati ide gilanya tersebut dengan lancar. Iangatkan ia untuk mengucapkan terimakasih kepada Kuroko di sekolah nanti. Berkat desainnya, rumah megah tersebut memiliki sebuah kolam yang menjadi tempat persembunyian Seiryuuto.
Ia mencium bau khas kaporit yang bercampur bau amis. Bocah itu memperhatikan air di sekitarnya, dan ia mendapati bahwa banyak darah yang telah mengelilinginya. Seiryuuto sadar, jika ia tengah berada dalam air yang terdapat banyak darah seseorang.
Seiryuuto merasa bahwa dirinya tidak mengalami luka apapun. Ia berani menyimpulkan bahwa itu bukanlah darahnya. Air kaporit yang berwarna kehijauan, menjadikan darah tersebut sulit untuk terlarut dalam air. Sehingga warna kemerahan masih nampak jelas di bawah sorotan matahari.
Ada orang yang juga baru saja terjatuh dari tempat yang sama dengan Seiryuuto.
Dingin mulai menusuk tubuhnya. Hei, kalian ingat bukan, jika saat ini tengah musim dingin? Berada di dalam kolam luar rumah bukanlah suatu hal yang bagus. Dengan bibir yang sedikit gemetar, bocah dengan helaian merah tua itu segera keluar dari dalam kolam. Jersey Tim Basket SD Teikou yang berwarna putih-hitam kini telah berubah menjadi merah-hitam. Sial, mungkin karena darah tersebut.
Begitu ia naik ke atas, jejak kaki berdarah yang memanjang hingga keluar gerbang telah menarik perhatiannya. "Jejak kaki siapa?" tanyanya pada diri sendiri.
Kini tubuhnya basah kuyup. Ia bingung sendiri bagaimana caranya untuk kembali ke dalam rumah tanpa ketahuan sang Ayah. Huh, seharusnya ia lebih memikirkan hal-hal yang memiliki resiko tinggi terlebih dahulu.
Seiryuuto merutuki kebodohannya.
"Eh, Seiryuuto-sama?" seorang wanita tua dengan guratan keriput yang jelas berjalan menghampiri Seiryuuto. Wanita tersebut menggunakan pita berwarna merah sebagai dasi untuk seragamnya. Itu menandakan jika wanita tersebut merupakan seorang kepala pelayan.
Good! Pelayan tersebut merupakan pelayan kepercayaan Akashi dan juga Seiryuuto. Karena wanita tersebut sudah mengabdi pada keluarga mereka sejak Akashi masih SD, sehingga Seiryuuto juga merasa percaya pada wanita lansia itu.
"Baa-chan!" Seiryuuto senang bukan main. Kini ia bisa segera berganti baju dan mengikuti jejak kaki yng mencurigakan tersebut.
Wanita tua itu telah berada di depan Seiryuuto. Bocah kecil tersebut berbisik padanya untuk segera megambilkan pakaian serta perlengkapan musim dinginnya di dalam kamar, lalu segera berikan kepadanya dengan di bungkus plastik hitam. Sehingga jika Akashi bertanya, wanita itu bisa berkata jika itu hanyalah sampah yang perlu di buang.
"Ingat ya, Baa-chan. Saat dimasukkan ke dalam plastik, bajunya jangan dalam keadaan terlipat. Acak-acak saja. Agar plastiknya terlihat lebih gembung."
"Hai', Seiryuuto-sama."
Dengan berlalunya wanita tua tersebut, Seiryuuto segera berlari menuju kamar mandi yang terletak di pos satpam yang menjaga rumahnya, lalu segera membasuh diri di sana.
.
Seiryuuto sudah memakai pakaian kering kembali. Kini ia menggunakan baju lengan panjang berwarna merah tua yang dilapisi dengan sweater putih. Lehernya terbelit syal berwarna hitam dan sarung tangan dengan warna yang sama. Sepatunya berwarna merah dengan kaus kaki setinggi betis berwarna putih. Celana jeans hitam yang membaluti kakinya juga sudah mampu memberikan kehangatan pada Seiryuuto.
Seiryuuto hendak segera berlari untuk menemukan orang yang telah meninggalkan jejak kaki tersebut, jika saja wanita tua itu tak memanggilnya kembali.
"Seiryuuto-sama..."
Bocah itu menghentikan langkahnya. Ia menolehkan wajahnya dengan cepat, membuat helai merahnya itu mengikuti gerakannya. "Ada apa, Baa-chan?"
Seiryuuto belum siap, namun sebuah skateboard telah terlempar ke arahnya. Untung saja gerak reflek Seiryuuto dalam bermain basket sangat bagus. Jadi, ia tidak perlu merasakan sakitnya skateboard hitam-merah yang menghantam keningnya.
"Bawa itu. Saya yakin jika itu akan berguna." ucap wanita itu dengan senyum kecil ala seorang yang sudah renta.
Seiryuuto benar-benar senang. Ia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis. Senyum yang jarang ia tunjukkan kepada siapapun kecuali Kuroko, Akashi, dan Kiseki no Sedai.
"Arigatou, Baa-chan!" Seiryuuto menjeritkan rasa terimakasihnya seiring dengan tubuhnya yang meluncur jauh lebih cepat ke arah gerbang dengan sebuah skteboard miliknya. Seiryuuto memiliki hobi lain selain bermain basket dan belajar. Yaitu adalah skateboard.
"Maafkan saya, Seijuuro-sama..." wanita tua itu berkata setelah kepergian Seiryuuto. Air mata mulai turun untuk menganak sungai pada pipinya yang sudah memiliki kerutan. "Saya telah membimbing Seiryuuto-sama untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya..."
.
.
T.B.C
.
.
Preview Chapter 4 : "Haemolacria – Penyebab Seiryuuto tidak ingin menangis."
Seiryuuto berhasil. Ia telah berhasil menembak Haizaki tepat dibagian pergelangan kaki kirinya. Kini pemuda tersebut tak akan bisa lari kemana-mana.
"ARRGHH!"
Haizaki mengerang kesakitan. Apa yang terjadi? Bukankah dirinya sudah cukup kuat dan cepat untuk mengelabui Seiryuuto? Tapi kenapa bocah tersebut masih bisa membaca gerakannya, bahkan bisa menembakkan peluru tersebut begitu tepat mengenai sasaran?
"Hei! K*parat! Apa yang kau lakukan? Apakah itu Emperor Eye yang sama seperti mata Ayahmu?"
Seiryuuto tak bergeming. Wajahnya menunduk dengan begitu dalam. Juntaian helai crimson menutupi paras wajahnya yang tampan. Tangan kirinya menutupi mata kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap setia memegangi pistol perak yang masih mengeluarkan reaksi asap atas tembakannya pada kaki Haizaki.
"Seperti katamu tadi... aku bukan anak kecil. Aku ini monster..."
Seiryuuto segera tertawa mengerikan. Membahana dan memberikan kesan ketakutan srta terror yang luar biasa berat. Tetesan-tetesan darah mulai berjatuhan dan menubruk lantai tempat Seiryuuto menunduk. Tempat Seiryuuto berpijak perlahan dibanjiri oleh tetesan darah kental yang merah pekat.
"Seperti katamu tadi... aku memang sudah lupa bagaimana rasanya menjadi seorang anak kecil...hiks..."
Untuk kali ini, Seiryuuto menangis. Ya, ia menangis setelah sekian tahun. Mulanya ia terisak pelan. Namun lama kelamaan menjadi semakin keras. Suara tangis tersebut begitu pilu dan sedih. Namun, dalam sekejap saja suara tangis tersebut berubah menjadi gema tawa Seiryuuto yang mengerikan.
"Aku perkenalkan padamu, ini bukanlah Emperor Eye-" perlahan, Seiryuuto mengangkat wajahnya yang sudah berlumuran darah kental. Seiryuuto menggerakan tangan kirinya untuk berhenti menutupi mata kirinya. Dan hal yang terjadi berikutnya adalah, kedua mata Haizaki yang membulat sempurna penuh keterkejutan.
"-tapi ini adalah Chain Eye!" mata kiri Seiryuuto telah berubah menjadi emas dengan lelehan air mata darah yang membasahi sweater putihnya...
.
.
Author's note :
Halo Minna-san! Akhirnya saya bisa kembali update untuk chapter yang selanjutnya. Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan dan jelek banget, habisnya saya merasa frustasi akibat Try Out Fisika yang soalnya uhh... mudah! T_T
Entahlah, saya susah sekali untuk berdamai dengan pelajaran yang berjudul 'FISIKA' tersebut.
Maka, mungkin saya jadi agak terbawa suasana ketika melanjutkan cerita ini. )
Hehe, saya minta maaf ya, Minna-san~
Dan maaf juga saya belum bisa bales review lewat PM sekarang, karena kuota modem saya yang ngajak ribut. Mungkin saya baru bisa membalasnya besok. Terima kasih atas partisipasi kalian semua yang telah mereview serta membaca cerita aneh nan berbelit-belit kepunyaan saya ini. Saya senang sekali. :*
Oke, sampai jumpa minggu depan! :D
RnR~
