Si Rambung Kuning menghela napas, akhirnya. "-… aaf." Lirih sekali suaranya. Ia menarik tombak dan mensejajarkan dengan tubuhnya.
"Aku Luhan."
Mermaid Tears
Kim Minseok Xi Luhan
Disc : Inspired by mermaid tales, a pirate movie (Pirate of The Caribbean : On A Stranger Tides), and Xiumin 'under the sea' cuteness at EXO's Showtime episode 5.
A Fanfiction by Frozen Deer
.
Chapter 3 : Mermaid Attack—serangan duyung.
.
.
.
.
.
Hanya selang beberapa menit yang lalu aku mendengar lirihan kata 'maaf' keluar dari mulut Si Rambut Kuning—setelah dia menyebutkan namanya mungkin aku harus mengganti julukan Rambut Kuning kepadanya. Luhan, ya Si Rambut Kuning, dia orang aneh dan dunia juga sepertinya setuju. Tapi kadar keanehannya makin lama kian menipis dengan secara kasar dan konyolnya dia menodongkan sebuah tombak keleherku dan secara tiba-tiba menyuarakan namanya. Aneh.
Dan suasana jadi semakin canggung. Luhan duduk lumayan jauh dariku sedang mengasah tombak dan pisau dipangkuannya. Sementara aku, aku hanya duduk diatas pasir dengan terang-terangan memperhatikan Luhan dari kejauhan. Mungkin aku juga orang aneh seperti Luhan dan dunia setuju akan hal itu. Kami sama-sama tidak ada niatan untuk memecah keheningan, hanya ombaklah yang memecahnya sesekali sisanya tidak sama sekali.
Luhan berhenti mengasah tombak dan meletakkannya diatas pasir. Ia menyimpan sebuah pisau yang dibuatnya untuk mengasah kedalam saku celananya. Kemudian ia berdiri, melangkah mendekatiku dengan tatapan yang tak terbaca, lalu duduk selonjor disampingku.
"Hei." Hanya itu yang bisa kulontarkan. Agak menyesal karena rasanya semakin canggung.
Angin kian berhembus membuatku kedinginan. Dan Luhan kelihatan biasa-biasa saja menatap fenomena matahari tenggelam di ufuk barat. Wajahnya terlihat mempesona dengan bantuan sinar jingga matahari yang mulai meredup.
"… Hei, Minseok. Maaf kalau aku terlalu kasar kepadamu." Aku tersenyum. Lucu juga melihat Luhan dalam keadaan seperti ini. Ia tidak terlalu memohon tapi dia ikhlas mengutarakan maafnya. Netra hazel-nya menutup menampakkan wajah tidur yang tampan milik Luhan. Lagi, aku tersenyum.
"Iya, tidak apa-apa. Maaf juga aku terlalu banyak bicara dan mengganggu."
"Aku tahu tipemu adalah orang cerewet." Masih matanya menutup. "Dan bagian mengganggu itu perlu digaris bawahi karena itu fakta teraktual yang seharian ini aku dapat setelah tiga minggu aku menemukanmu tak sadarkan diri disini."
"Maksudmu, aku sudah tiga minggu disini dan baru sadar sekarang?"
Luhan membuka netra hazel-nya menatapku tanpa arti penting lewat tatapan hazelnut itu. Luhan mengangguk sekali lalu menatap sinar jingga sang raja siang yang mulai hilang. "Ya, begitulah. Dan jangan tanya aku tentang sekocimu!"
Aku tertawa. Luhan bisa juga seperti itu. Bisa-bisanya dia mengingat kejadian aku menanyainya sekoci tadi pagi setelah baru siuman.
"Oh ya, Luhan." Luhan menoleh menunjukkan ekspresi seolah-olah mengatakan 'iya' lewat air mukanya. "Apa kau tahu Ai To Zetsubō?—maksudku kabar terbarunya."
Dahi Luhan berkerut seolah ada yang salah dengan pertanyaanku barusan. "Kenapa?" Luhan bertanya.
Aku bersiap menceritakan kronologis cerita bagaimana aku bisa sampai disini padahal aku seorang perompak yang harusnya ada diatas kapal, berlayar, dan senantiasa takluk pada kapten kapalnya. Tapi Luhan buruan menginterupsiku. "Kau tidak bisa kesana." Aku menatapnya penasaran. "Kenapa?" tanyaku.
Luhan menghela napas panjang. "Pokoknya tidak bisa. Tidak boleh. Itu terlalu berbahaya. Beruntungnya kau terkena badai laut dan tersesat disini daripada ke Ai To Zetsubō dan berakhir mati tenggelam didasar laut dengan selangkangan yang sakit—diperkosa mermaid maksudnya. Kau tahu, perairan itu tidak aman."
Aku hanya diam. Ada benarnya juga perkataan Luhan barusan. Aku masih beruntung, masih bisa hidup walau dipulau entah berantah daripada mati dalam keadaan yang Luhan utarakan barusan. Lebih baik aku terkena badai laut seperti tiga minggu yang lalu. Tapi darimana Luhan tahu aku mengalami kejadian badai laut diperjalananku menuju Ai To Zetsubō. Setahuku hanya aku yang tahu ada kejadian badai menimpaku.
"Oya, Minseok." Luhan menoleh.
"Hm," iris huzel-nya menatap pelipis kiriku. "Pelipismu kenapa?"
Refleks aku menyentuh permukaan kulit pada pelipis kiriku. Ada luka gores yang cukup dalam tapi samar-samar. "Ini luka gores akibat tergores koral. Kerjaan awak lain yang iseng, mungkin."
Mungkin mataku yang salah atau apa, tapi Luhan terus menerus memerhatikan pelipis kiriku. Matanya tidak bisa putus dari luka gores meskipun selalu diputusnya dengan paksa. Tatapannya seakan berbicara kalau Luhan tidak asing dengan luka ini.
Tapi siapa peduli.
.
Dewi malam keluar dari peraduannya. Luhan sudah berganti posisi menjadi duduk berjauhan denganku sembari menguliti beberapa bilah kayu, sepertinya ia bersiap membuat api unggun untuk malam ini. Dan aku hanya dipersilahkan duduk ditempat semula, tidak berbuat apa-apa.
Hembusan angin malam bersemilir membuat tubuhku sedikit menggigil. Pasalnya aku selalu mengenakan rompi atau kain untuk menghangatkan diri di atas tiang pemantau kapal atau di dalam kamar tiap malam. Dan sekarang hanya ada kemeja putih yang terdapat lubang robekan dimana-mana yang membalut tubuhku. Bohong aku aku bilang tidak kedinginan. Anehnya, Luhan santai-santai saja padahal faktanya ia tengah bertelanjang dada.
Aku mendengar bunyi kecipak air nan ringan. Rasanya sesuatu di diriku memintaku untuk pergi ke tempat lain yang lebih jauh dari perairan. Tapi aku tidak menaatinya, dan tetap duduk diam sembari mengayunkan kaki riang seolah tidak ada apa-apa.
Sekali lagi aku mendengar bunyi kecipak air tapi lebih keras. Membuat Luhan menoleh dan menatap waspada. "Minseok, berpindahlah." Titah Luhan. Aku menurut. Dan segera berpindah dengan perlahan.
Sreet!
Sesuatu bertekstur kenyal dan berlendir seperti ular membelit kakiku. Bentuknya seperti ular hanya saja tidak berkepala dan tumpul serta berwarna krem kulit. Aku tidak tahu apa itu, yang jelas benda itu menarikku menuju perairan.
"Argh! Luhan tolong!" suaraku tidak bisa lebih tinggi. Terlalu lembut dan lirih, mungkin karena terlalu panik. Dan kepanikanku mulai menjadi melihat seekor putri duyung berada tiga meter jauhnya diatas permukaan air. Tangannya terangkat dan mengeluarkan benda panjang nan aneh yang melilit kakiku.
"Tolong!" aku berteriak sekali lagi. Bulir-bulir keringat mengucur deras membanjiri tubuhku. Makluk itu mendesis, memperlihatkan taring-taringnya yang tajam. Sedikit lagi aku sudah menyentuh perairan.
Crashh!
Luhan memotong benda aneh itu dengan sebilah pisau. Terdengar jeritan pilu dan makluk itu menghilang di perairan. Luhan membantuku berdiri dan berjalan menjauh dari perairan. Napas nya tidak teratur. Pisau berlumur darah ada ditangan kirinya. Setelah berjalan sebentar, ia mendudukkanku ditepi hutan. Selang beberapa lama menghilang, Luhan kembali dengan sebotol alkohol dan selembar kain putih.
Luhan duduk berjongkok dihadapanku sembari dengan telaten membersihkan luka-luka di kakiku akibat peristiwa penyerangan putri duyung tadi. Aku menahan perih tatkala Luhan menyiramkan cairan alkohol diatas permukaan kulitku yang terbuka. Luhan yang peka mencoba memperlembut gerakannya, mencoba mengurangi efek perih nya alkohol. Tidak lama kemudian dengan gesitnya Luhan membalut selembar kain guna menutupi luka nya agar tidak terjadi infeksi.
"Kau mau tahu kenapa kau tidak bisa—dan tidak boleh—ke Ai To Zetsubō," Luhan menggantungkan kalimatnya. Netra kami bertemu.
"Karena hal seperti ini bisa jadi tanpa kau duga sekalipun. Terlalu banyak duyung yang menjaga teluk itu. Bahaya sekali, Minseok."
Netra Luhan tampak berkilau. Aku tidak tahu dia sepeduli itu kepadaku setelah seharian dia benar-benar pria sedatar tembok. Tapi aku tidak peduli. Aku lebih memilih untuk mendekat dan memeluknya. Luhan menyembunyikan wajahnya diceruk leherku. Terpaan napasnya yang hangat menerpa permukaan kulit membuatku sedikit geli.
.
Sinar matahari pagi menyilaukan mataku. Aku terbangun di dalam hutan dengan pelukan hangat kain besar yang menyelimuti tubuhku. Suasana sangat rimbun dan sejuk, khas daerah dataran tinggi, tapi ini bukanlah dataran tinggi, ini cuma karya tipuan yang telah Tuhan ciptakan di alam semesta-Nya.
Sebelahku kosong. Tidak ada Luhan disisiku. Aku berdiri meregangkan otot-otot tubuhku sejenak kemudian melangkah keluar hutan. Lanskap sebuah pantai pertama kali menyambutku. Kemudian burung-burung yang bermigrasi terbang diatas langit. Tetap tidak ada Luhan disini, kupikir bakal ada Luhan diluar hutan.
Aku memutuskan untuk mencari Luhan keliling pulau. Walau terbesit Luhan sedang berenang di laut sana, aku menepis ide untuk mencarinya ke laut juga. Karena peristiwa tadi malam, sekaligus larangan Luhan agar tidak dekat-dekat dahulu dengan perairan. Sebenarnya mudah untuk mencari Luhan disekitar pulau mengingat pulau ini berbentuk lingkaran, tapi juga susah mengingat Luhan itu pria misterius yang awalnya bersikap sedatar tembok kemudian bersikap sehalus sutera. Tapi siapa peduli. Yang penting Luhan sudah baik kepadaku.
Setelah berjalan sekian lamanya, aku menemukan sebuah daun hijau raksasa dari hutan yang roboh dan seakan-akan menghalangi sesuatu dari bagian pulau ini. Daun itu seperti menyembunyikan sesuatu.
"Luhan?" aku berbisik.
Aku mulai mendekat dengan daun itu. Daun yang bertekstur keras dan kering. Perlahan aku menyibaknya, mendapati pemandangan yang tidak ada duga. Seorang duyung dengan warna ekor aqua. Postur tubuhnya tidak jauh-jauh dari Luhan; tinggi, kurus, ceking.
Makluk itu berbalik. Dan sungguh, aku bahkan lupa cara nya bernapas.
"Lu-luhan?"
.
.
TBC
.
.
.
Alohaaaa /lambai/
Wehh, kelamaan nunggu ya? Aduh Puput rlly sorry nih /apasih/?
Gantung lagi? Hehe … maaf kalau masih tidak memuaskan dan masih membuat readersdeul lumutan nungguin fanfiction ini. Tenang kok, masih ada lima atau kalau bisa tiga chapter lagi lalu Mermaid Tears sudah kelar. Yeeee ….
Karena saya sungguh malaaaaaaaaaaaaaaaasssss untuk membalas reviews, maka maafkann sayaaa TTATT
