Ghoul

Story by: gengie as Z

Musim panas ini ia begitu tak menyangka akan dibuang di tempat terpencil seperti ini. mungkin kata dibuang begitu kasar terdengar tapi baginya itu masih belum cukup menggambarkan keadaannya saat ini. Menggerutu disepanjang jalan lenggang itu sehingga suaranya terdengar dua kali lebih nyaring dari biasanya.

"Aisshh, appa!" umpatnya tertahan karena teringat kejadian yang begitu menyebalkan dikepalanya. Disini ia sekarang, disebuah tempat terpencil dengan hutan yang mengelilingi rumah penduduknya. Pohon pinus yang menjulang tinggi hingga menutupi sinar matahari yang terik, membuat kota kecil tersebut terlihat mendung ditengah musim panas.

Kakinya yang pendek melangkah kearah camp yang akan ia tempati nantinya. Liburan musim panasnya kandas tergantikan dengan terlantar ditempat ini, camp musim panas, yang ia rasa dua kali lebih melelahkan dibanding belajar dikelas matematika selama dua jam setiap harinya. Hah~ kini ia menjadi merasa begitu berlebihan.

oOo

Kota itu begitu asri untuk dipandang. Mungkin berada di kota ini tidak terlalu buruk untuknya. Lelaki berumur 17 tahun lebih itu sudah bisa kembali ceria saat melihat camp yang akan ia tempati. Camp itu terbagi menjadi beberapa lokasi dan terlihat seperti rumah pada umumnya dengan 3 kamar di dalamnya. Dan ia tahu ada empat orang lainnya yang bernasib sama sepertinya.

Ia meletakkan barang bawaannya yang tidak banyak disamping ranjang yang akan ia tempati. Sebelumnya ia sudah berdiskusi dengan teman sekamarnya dalam pemilihan tempat tidur. Ia memang sedikit cerewet akan hal ini, sebab ia tidak akan bisa tidur jika tidak disamping jendela. Oleh karena itulah ia sedikit kelelahan karena harus menata ulang kamar tersebut.

Ia tak bisa hidup dengan angin. Entahlah, terdengar konyol memang, tapi kulitnya begitu sensitive terhadap rasa gerah dan anehnya ia tak bisa berlama-lama berada pada ruangan yang ber-AC, hanya hembusan angin yang bisa membuatnya merasa nyaman. Kini ia terduduk, bersiap untuk membongkar barangnya dan menatanya di daerah kamar miliknya.

Cklek

"Apa kau tidak lelah?"

Ia memutar kepalanya, disana lelaki tinggi itu masuk setelah menutup kembali pintu kamar mereka. Oh Sehun, teman sekamarnya mulai saat ini.

"Ini." ia tersenyum saat mengambil gelas yang disodorkan Sehun padanya. Salivanya terteguk saat melihat betapa menggiurkannya es jeruk yang ada ditangannya saat ini, oh, ia benar-benar kehausan.

"Ah, terima kasih Sehun-ssi."

"Hyung, tidak usah seformal itu." Sehun menyela, merasa tak nyaman dengan panggilannya tadi. Kini Sehun duduk diatas kasurnya yang berseberangan dengan kasur miliknya, menyilangkan kedua kakinya dan memperhatikannya dengan serius. Kalau dilihat seperti ini, tak salah jika ia terkejut saat mengetahui jika Sehun adalah yang termuda diantara mereka berlima. Wajah pemuda itu tak terlihat seperti umurnya yang baru memasuki usia 16 tahun.

"Ne, ne, Sehun-ie." Balasnya sambil tersenyum.

"Eum, Kyungsoo hyung, kenapa bisa sampai ke Borneo?" Tanya Sehun menghentikan aktifitasnya. Dan sekejap wajahnya merengut lucu ketika mengingat alasannya berada ditempat ini.

"Ini semua karena appaku. Karena takut aku sendirian dirumah, jadi aku disuruh ikut camp musim panas di kota ini." ia tak sadar mengeluh, geli dan kesal karena ke-over protektifan appanya yang menyebalkan. Demi tuhan, ia sudah 17 tahun dan juga seorang namja.

"He? Aku tidak mengerti hyung?"

"Appa dan eomma akan berlibur ke eropa berdua, karena tak ingin aku sendirian di rumah serta tak ingin mengganggu waktu mereka berdua akhirnya secara diam-diam mereka mendaftarkanku ke sekolah ini. Menyebalkan." Lanjutnya dengan nada tak menyenangkan.

Sehun tersenyum menanggapi gerutuan lelaki itu.

.

.

Rumah ini juga menyediakan fasilitas yang lengkap didalamnya. Seperti peralatan dapur, tv, dan sofa panjang diruang santai. Ia kini duduk dengan semua penghuni sambil menonton tv. Seperti yang ia katakan sebelumnya ia tinggal dengan empat pemuda lain yang kini tengah tegang menonton pertandingan bola.

"GOALLL!" itu suara Chanyeol, lelaki tertinggi diantara mereka yang childishnya minta ampun. Lihat saja betapa hypernya pemuda itu. Kini ia tengah melompat-lompat diatas sofa dengan tangan yang mengepal keudara dan membuat member lainnya terganggu oleh ulahnya.

"Yah! Yeol-ie berhenti melakukan itu!" delikan tajam pria disampingnya cukup membuat Canyeol berhenti sejenak sebelum kembali melompat-lompat bagai katak yang bertemu hujan. Tak ada efeknya menegur lelaki yang selalu bersemangat itu. Setidaknya itu yang ia pelajari selama dua hari ini.

Baekhyun, nama pria yang menegur Chanyeol itu berdiri dengan raut kesal. Ia berjalan kearah Chanyeol yang berada disudut lain sofa. Menarik telinga pria itu yang kini tengah meringis akan tindakan Baekhyun. Mereka berdua memang sudah akrab sejak lama karena merupakan murid dari kota yang sama. Ajaibnya lagi kedua orang tua merekalah yang sengaja memasukkan mereka bersamaan di camp musim panas ini karena tak tahan dengan ulah kekanakkan mereka. Dan Kyungsoo tertawa saat mendengar cerita itu tadi malam.

Sehun yang ada disamping Chanyeol tertawa terbahak-bahak melihat wajah lelaki tinggi itu. Telinganya yang lebar semakin bertambah lebar akibat jeweran Baekhyun yang kuatnya minta ampun. Telinga itu memerah dan Chanyeol berteriak protes pada lelaki yang lebih pendek darinya.

"Makanya jangan ribut!" ucap Baekhyun membela diri. Walau sebenarnya ia tahu jika lelaki itu merasa bersalah karena perbuatannya. Hampir saja Chanyeol melayangkan tinjunya kearah Baekhyun kalau saja Xiumin tidak segera melerai mereka.

Lelaki tertua diantara mereka berlima itu tak terlihat sesuai umurnya. Bahkan dengan wajah kekanakkannya itu sempat menipunya saat pertama kali bertemu, sungguh awalnya ia mengira lelaki itulah yang termuda diantara mereka.

"YAK! Kalian diamlah!" ucapnya dengan suara melengking. Hal itu sukses membuat Baekhyun dan Chanyeol terdiam. Secara bersamaan melipat kedua tangan didepan dada sebagai bentuk pertahanan sebelum mencibir satu sama lain dan berbalik memunggungi.

Setidaknya itu lebih baik ketimbang mereka yang baku hantam. Tak tau saja mereka jika tingkah mereka itu terlihat lucu. Kyungsoo tersenyum, ia menarik Xiumin untuk membawanya kedapur.

"Hyung, bantu aku membuat minuman segar." Xiumin mengangguk, mungkin berusaha untuk menjauhi kedua orang itu yang sejak pertama sudah terlalu sering membuatnya marah. Ia menggeleng membayangkan kedua orang tua anak tersebut, tak heran jika mereka diasingkan seperti ini.

"Mereka lucu." Kyungsoo tertawa pelan, bibirnya melengkung menunjukkan senyum geli. Xiumin mengangguk mengiyakan walau nyatanya wajahnya masih menunjukkan wajah kesal.

"Yeah, Kyung. Tapi kamu bakal nggak habis pikir saat kita kembali kesana mereka akan berbaikan seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Dan itu hanya membuat diriku sendiri yang terlihat memikirkan perkelahian mereka berdua. Sungguh bodoh." Gerutu Xiumin. Jelas saja lelaki itu merasa seperti itu, bagaimanapun ia merupakan orang tertua diantara mereka dan secara tak langsung ia seperti bertanggung jawab atas penghuni lainnya. Wajar saja jika Xiumin khawatir dengan duo ribut itu.

Kyungsoo tersenyum sambil mengelus punggung lelaki manis itu. Ia menyodorkan segelas jus jeruk yang baru ia tuang tadi. Xiumin tersenyum, sedikit merasa sudah lebih baik sebelum mereka kembali ke sofa dengan minuman yang dibawa Kyungsoo.

"Benarkah Baek?"

"Sungguhan Yeol, katanya ada cerita seperti itu disini."

Kyungsoo dan Xiumin mengerutkan keningnya dengan tingkah dua orang itu. Benar saja kata Xiumin, mereka bahkan sudah berbaikan tak kurang dari satu hari. Duduk berdekatan dengan wajah serius, Sehun yang ada didekat merekapun juga terlihat serius mendengarkan. Mereka bahkan sudah tak menggubris pertandingan bola yang mereka ributkan dari tadi.

Xiumin menatap Kyungsoo seakan berkata 'apa kubilang, mereka bahkan sudah seperti anjing dan kucing yang bersaudara kandung'. Kyungsoo mengangguk sebelum tertawa bersama dengan lelaki manis itu. Tawa mereka sukses membuat tiga orang disana menghentikan pembicaraannya.

"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Xiumin sambil menjatuhkan dirinya disofa samping Baekhyun. Sedangkan Kyungsoo meletakkan minuman yang ia bawa dan langsung disambar oleh ketiga orang itu.

"Baekhyun-hyung bercerita tentang hantu." Ucapan santai Sehun itu cukup membuat Kyungsoo terdiam membeku. Sumpah demi apa ia paling membenci cerita seperti itu. Daripada nanti malam ia tak bisa tidur, lebih baik ia menghindari pembicaraan itu dengan melangkahkan kakinya ke kamar dengan tenang. Samar-samar ia mendengar suara Baekhyun sebelum menutup pintu kamarnya.

"Serigala siluman itu benar ada Yeol-ie~"

.

.

.

TBC

A/N:

Masih belum ada KaiSoo moment :D

Dan saya update secepat yang saya bisa walau ini masih pendek dan nggak jelas.