Ghoul
Story by: Gengie as Z
Kyungsoo terdiam, wajahnya menyiratkan betapa serius ia mendengarkan penjelasan instruktur yang ada didepan rombongan. Sesekali ia mengangguk paham saat penjelasan tersebut dapat diterima oleh otaknya.
Hari ini merupakan hari pertamanya mengikuti kegiatan camp, awalnya ia cukup malas-malasan saat bangun tadi pagi, tapi sepertinya ia perlu menepis pemikiran sempitnya itu. Tak salah jika tadi saat akan berangkat ia mendengar betapa antusiasnya Baekhyun dan Canyeol untuk mengikuti kegiatan ini, jika nyatanya ini memang mengasyikkan.
Berbekal ransel yang ia isi makanan dan minuman yang ia siapkan di dapur saat bangun tadi, juga beberapa obat-obatan yang diberikan oleh Xiumin, ia berangkat lebih siang dari penghuni lainnya. Kaos hijau lengan pendek yang ia kenakan cukup membuatnya merasa tidak terlalu kepanasaan saat menjelajah hutan. Belum lagi rindang pohon pinus yang bagai payung hidup melindunginya dari sengatan matahari musim panas yang sungguh tak bersahabat dengan kulit.
Ia berpencar saat instruktur mempersilahkan mereka untuk menjelajahi hutan yang sudah diberi batas. Diujung sana ia melihat betapa riangnya Baekhyun dan Chanyeol yang sudah berlari memasuki hutan lebih dalam. Sesekali ia tersenyum saat duo ribut itu saling menyikut satu sama lain. Sedangkan Sehun mengekor tepat dibelakang Xiumin bagai anak ayam.
Kini ia bingung untuk mengajak siapa lagi untuk menemaninya berjelajah. Tertarik dengan sebuah pohon yang tumbang diujung sana membuatnya memulai langkah pertamanya. Ia terdiam mengamati kambium yang ada pada pohon tersebut, berusaha mengingat apa yang instrukturnya katakan tentang menghitung umur pohon.
Tangannya terulur mengikuti garis lingkaran yang tercetak pada pohon. Itu merupakan annual ring atau lingkaran pohon yang ada dalam batang pohon yang berkambium. Seingatnya tadi instrukturnya berkata jika semakin banyak pola lingkarannya maka semakin tua umur pohon tersebut.
Sepoi angin menghentikannya berpikir, ia mendongak merasakan sejuk yang merambat kepori-pori kulitnya. Kakinya melangkah menaiki bagian batang pohon yang tumbang, berjalan mengikuti serat yang terukir pada batang besar itu. Kedua tangannya terentang untuk menyeimbangkan tubuhnya. Ia tertegun saat menemukan ia sudah berada diatas tebing yang curam. Bukannya takut ia malah tersenyum puas dengan penemuannya itu.
Ia duduk diatas batang itu sambil mengamati bagian hutan yang ada di bawahnya, hijau nan rindang sebelum matanya menemukan danau jernih yang berkilauan akibat memantulkan sinar matahari. Hingga tiba-tiba ia terkejut saat sekilas matanya menemukan sesuatu yang seakan mengamatinya dari bawah sana, sesuatu dengan warna merah menyala. Ia berusaha memfokuskan penglihatannya sebelum Sehun meneriakinya dari ujung sana.
"Kyungsoo-hyung! Apa yang kau lakukan? Cepat kemari, disana berbahaya!"
.
.
"Apa kau tidak takut?"
Itu suara Sehun yang sejak tadi menanyakan hal yang sama. Ia menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak, itu menyenangkan Sehun-ah, rasanya sangat bebas saat ada disana." Kyungsoo tak pernah seceria itu saat berbicara membuat Sehun tersenyum disampingnya.
"Tapi tingginya melebihi 6 meter." Xiumin berucap tak percaya dan hanya dibalas anggukan oleh Kyungsoo.
Kini mereka tengah menuruni tebing yang tadi mereka datangi. Sehun mengatakan padanya jika mereka akan beristirahat di dekat danau yang Kyungsoo lihat tadi.
Chanyeol dengan suara beratnya menarik tangan Baekhyun untuk menerobos rombongan terdepan saat kilau air danau terlihat oleh matanya. Mereka seperti anak kecil saat lelaki tinggi itu dengan sengaja mencipratkan air danau kemuka Baekhyun. Perempatan urat sudah muncul dikepala Xiumin saat mereka mulai beradu argumen.
Bagaimana jika nantinya mereka jatuh ke danau? Dengan kesal lelaki manis itu berjalan mendatangi kedua remaja kekanakkan itu. Hal itu sukses membuat Sehun dan Kyungsoo tertawa saat melihat Xiumin yang mengomel bagai ibu mereka.
"Hyung ayo kita ambil roti disana." Sehun menarik tangannya, menuntunnya untuk mengambil cemilan yang sudah disiapkan oleh pengurus camp. Bekal yang ia bawa tadi sudah ia makan saat ada di tebing dan saat berjalan turun ia sudah merasa kelaparan lagi.
"Hai manis~" Kyungsoo dan Sehun mengerutkan keningnya saat suara itu ada dibelakang mereka. Mereka membalik tubuh setelah menerima roti yang diberikan pengurus. Astaga itu Hyunjae dan kedua temannya yang saat upacara tadi malam mengganggu Kyungsoo.
"Apa?" ucapnya ketus, sedangkan Sehun yang ada disampingnya diam mengamati keadaan.
"Galak sekali, ayo makan bersama kami disana." Hyunjae, lelaki urakan itu menunjuk sisi hutan yang sepi sedangkan dua temannya mendorong Sehun yang ada disampingnya untuk menyingkir. Kelakuan mereka cukup untuk membuat Sehun marah, dengan kasar ia berusaha mendekati Kyungsoo lagi sebelum dihadang oleh dua pengawal Hyunjae.
"Hey anak kecil, jangan mengganggu." Sehun menggeram tak terima, sedangkan Kyungsoo sudah ditarik paksa oleh lelaki berandal itu. Mau tak mau ia jadi ikut emosi menghadapi ketiga lelaki itu. Dengan gerakan cepat ia menarik tangan yang menggenggamnya sebelum memutar tangan itu kebelakang punggung Hyunjae. Jangan dikira karena badannya kecil ia dianggap lemah.
Perbuatan Kyungsoo itu cukup untuk menghasilkan ringisan kesakitan dari Hyunjae. Dengan kasar ia mendorong tubuh pria itu hingga tersungkur ditanah. Ia tersenyum miring saat melihat hyunjae yang memegang lengan tangannya yang ngilu.
"Hyunjae-ssi, tolong jangan ganggu aku." Kyungsoo berlalu saat melihat dua orang yang menghalau Sehun tadi mendekati bos mereka yang ia permalukan. Dengan anggun ia menarik tangan Sehun menjauh dari tempat itu dan melambaikan tangannya pada Chanyeol yang ada didekat danau dengan teman-temannya.
"Waa hyung kau hebat!" Sehun berucap riang sambil mengelus kepala Kyungsoo dengan tak sopan. Sebelum Kyungsoo menendangnya ia sudah melepaskan genggaman tangan mereka dan berlari menjauh. Hal itu sukses membuat Kyungsoo merengut.
.
.
Pada akhirnya Kyungsoo lebih memilih untuk menyendiri daripada makan rotinya bersama Sehun yang menyebalkan. Ia berjalan berlawanan arah dengan Sehun yang berlari menuju Xiumin yang tiduran di bawah pohon.
Ia terus berjalan hingga berada cukup jauh dari rombongan. Pohon besar yang ada didekat danau sana membuat matanya berbinar. Dengan langkah cepat ia berjalan mendekat sebelum menjatuhkan tubuhnya untuk beristirahat di bawah pohon rindang tersebut.
Baru saja ia ingin membuka bungkus rotinya suara ringisan dibelakangnya berhasil mengusiknya. Dengan rasa ingin tahu yang besar ia kembali berdiri dan masuk kehutan yang ada dibelakangnya.
Ia terkejut, sungguh sangat terkejut saat melihat seorang lelaki yang kaki kanannya tertimpa pohon yang besar. Ia meringis merasakan betapa sakitnya saat tulang kakinya ditekan hingga remuk seperti itu.
Lelaki itu bertelanjang dada dengan tubuh yang kotor tertempel tanah. Rambutnya berantakan dan hanya menggunakan celana jins lusuh selutut. Kaki kanannya yang tertimpa pohon yang tumbang mengeluarkan darah yang sebagian sudah mengering ditanah.
Dengan tergopoh-gopoh ia berlari mendekat, tapi belum sampai 5 meter dari pria malang tersebut, pria itu sudah menggeram kearahnya dengan wajah beringas. Sedetik ia mundur kebelakang sebelum suara ringisan ditengah geraman itu menyentuh hatinya. Dengan perlahan ia kembali mendekati pria yang terluka itu tanpa menghiraukan suaranya yang semakin terdengar mengancam.
"Hey, tenanglah, aku akan membantumu." Suaranya ia buat selembut mungkin agar lelaki itu tenang. Ia bahkan sudah tak berpikir jernih untuk meminta bantuan temn-temannya yang ada diseberang danau.
Grrr.
Suara geraman itu melemah. Mata kelam pria itu menatap Kyungsoo tajam seakan mengancamnya untuk tak lebih dekat dari jarak mereka saat ini.
Tapi Kyungsoo tak perduli, ia berjongkok tak jauh dari pria itu dan ia terkejut saat tangan pria itu terangkat seakan berusaha mencakarnya. Ia terjungkal jatuh kebelakang dengan jantung yang berdetak tak karuan.
Berusaha mengatur napasnya sebelum kembali medekati pria yang terlihat semakin gelisah karena kehadirannya. Ia terkejut saat pria itu mengendus ke udara sebelum menatap tajam roti yang ia remas ditangannya. Tangannya bergetar saat memberikan roti itu.
Dengan secepat kilat roti digenggamannya sudah ditarik paksa. Ia sempat merasakan betapa kasar dan tajamnya kuku lelaki itu. Tapi setidaknya lelaki itu sudah cukup tenang untuk membuatnya menolong kakinya yang terluka.
Ia berdiri mencari batang kayu yang sepertinya patahan dari pohon itu. Ia tancapkan batang itu ditanah dekat kaki lelaki tiu sebelum menariknya turun bagai pengungkit. Ia memejamkan matanya untuk menyalurkan seluruh kekuatan yang ia punya.
Matanya sekilas melirik lelaki itu yang tengah menyantap rotinya dengan rakus hingga tak menyisakan plastik rotinya. Ia tertegun merasa kasihan dengan lelaki itu.
Hingga ia tak sadar, celah kecil yang berhasil ia ciptakan antara tanah dan batang kayu sudah cukup membuat pria itu melesat membebaskan kakinya. Pria itu meringis sebelum menerjang Kyungsoo hingga jatuh ditanah yang kotor. Ia memejamkan matanya kaget sekaligus meredam sakit yang menghantam punggungnya. Ia menunggu cukup lama sebelum merasakan terpaan napas hangat dipermukaan kulit wajahnya.
Kyungsoo membelalak kaget dengan mata yang membesar. Lelaki itu tengah mengendus setiap permukaan wajahnya sebelum menatap matanya lama. Ia shock hingga lupa berteriak ataupun melakukan perlawanan apapun. Hingga pria itu menggeram tepat diwajahnya sebelum melesat pergi masuk kedalam hutan.
Menyisakan Kyungsoo yang terdiam dengan wajah pucat dan jantung yang berdetak nyaring, bingung dengan peristiwa yang baru saja ia alami.
.
.
TBC
A/N:
Hyunjae itu original character ya
