Baju kusut, wajah pucat pasi serta badannya yang bergetar ketakutan cukup untuk membuat teman-temannya terkejut atas kedatangan Kyungsoo. Kyungsoo tau jika keadaannya sungguh tak bisa dikatakan baik-baik saja, terlebih ia jatuh lemas tak dapat menahan beban tubuhnya saat rasa lega menyapanya ketika bertemu dengan mereka.
"A..apa yang terjadi padamu?" Xiumin yang pertama kali bersuara saat berhasil mengendalikan keterkejutannya. Kyungsoo terdiam, bingung dengan kejadian yang baru saja ia alami. Ia hanya menggeleng tak berarti saat matanya tanpa sadar melihat bagian lain danau itu. Tak ada apa-apa disana, tapi cukup untuk Kyungsoo memutar memori otaknya dan tubuhnya kembali bergetar tanpa sebab.
Ia berjalan dipapah Sehun menuju tempat istirahat untuk mendapat perawatan. Kyungsoo jelas tau jika percikan noda darah disekitar tangan dan bajunya cukup untuk membuat orang-orang salah paham. Ia sungguh hanya lemas dan shock. Ia memilih menulikan telinganya dari pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang bergerombol disekitarnya ingin tahu. Suara bising itu cukup membuat kepalanya berkunang-kunang.
Ia menatap Chanyeol berharap pria tinggi itu mau membantunya untuk mengusir orang-orang yang berkumpul di tenda. Tapi sepertinya pria itu cukup tak peka karena tengah diliput kekhawatiran akan dirinya. Dan ia berterima kasih saat Baekhyun yang berada disamping sahabatnya tersenyum padanya sebelum mengeluarkan lengkingan suara yang menyuruh orang-orang tak berguna itu pergi.
Kyungsoo menaikkan tangannya untuk menutup kedua matanya, rasanya begitu lelah saat Xiumin tengah mengusap tangannya yang lain. Ia bergumam tak jelas, otaknya melambat akan rasa terkejut yang belum saja hilang.
"Hyung kau baik-baik saja?" suara Sehun disampingnya menyadarkannya jika teman-teman serumahnya itu belum juga beranjak pergi dan masih menatapnya khawatir. Ia tersenyum mencairkan keadaan disekitarnya.
"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya perlu istirahat." Ia tahu jika teman-temannya itu paham akan usiran halus yang ia selipkan dalam kata-katanya. Perlahan mereka pergi setelah Xiumin menaikkan selimutnya hingga dada.
Ya benar. Ia butuh ketenangan untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi padanya. Maupun istirahat untuk merilekskan otot-ototnya yang tegang. Tanpa sadar kesadarannya mulai menipis akan lelah yang melingkupi tubuhnya. Ia ingat akan mata merah itu sebelum ia terlelap dalam mimpi yang lain.
oOo
Kyungsoo bersyukur akan kejadian dua hari yang lalu para pengurus camp mengijinkannya untuk tidak mengikuti kegiatan. Ia cukup menggunakan dengan baik waktu istirahat yang ia dapatkan. Kejadian saat itu mungkin memang belum hilang dari ingatannya tapi rasa takutnya tengah beralih menjadi rasa penasaran yang luar biasa.
Bagaimana mungkin ada seorang lelaki dengan keadaan yang menyedihkan seperti itu tinggal di hutan? Itulah yang terlintas dikepalanya saat ia tengah merenung disisi jendela kamarnya dan Sehun. Rindang pohon pinus yang ada di belakang rumah itu sekejap mengingatkannya akan pria aneh tersebut.
Suara benda jatuh dibelakangnya mengagetkannya akan sesuatu. ia terkejut menemukan seekor kucing dengan bulu lebat yang kini mengotori tempat tidur Sehun dengan kakinya yang penuh lumpur. Mata merah kucing itu menatapnya dalam, yang baru ia sadari jika warna seperti itu jarang dimiliki oleh kucing biasanya.
Ia bangkit berniat mengusir kucing itu. Gerakan matanya yang tajam selalu mengekori setiap pergerakannya. Kucing itu bergerak siaga, membungkukkan tubuhnya dengan kuku-kunya yang menancap pada permukaan bedcover. Ia berhenti bergerak saat melihat kucing itu menampilkan taringnya dan menggeram kearahnya.
"Hey, pergilah…" ucapnya pelan dengan tangan yang mengusir lemah. Terlalu takut membayangkan jika kucing itu akan melompat kearahnya dan mencakar wajahnya. Ia bergidik sendiri setelah membayangkan hal itu.
Seakan tau jika ia tengah ragu dan takut, kucing itu perlahan tenang. Matanya yang merah membulat tertarik akan kehadiran Kyungsoo. Dengan perlahan kucing itu bergerak dengan anggun kearahnya. Berhenti untuk mengendus sesuatu sebelum kembali berjalan menuju kakinya.
Ia terkejut saat melihat manjanya kucing itu yang tengah menggeram mengelilingi kakinya. Berputar-putar berharap Kyungsoo mau memegang bulunya yang halus.
"Lihat betapa kotornya kau manis." Kyungsoo mengangkat tubuh kucing itu tak ingin tubuhnya yang penuh lumpur mengotori celana jinsnya. Lidah kucing hitam itu menjulur keluar seakan tengah mengeluarkan aegyo yang imut. Kyungsoo tak tahan untuk mengacak bulu-bulu kepalanya.
Ia akhirnya memilih untuk pergi ke kamar mandi. Sedikit air dan sabun pasti akan cukup untuk membersihkan tubuh sang kucing.
.
.
Kyungsoo keluar kamarnya dengan handuk yang menggantung dilehernya. Satu pelajaran yang ia dapatkan adalah betapa repotnya memandikan kucing. Ia menghela napas saat melihat kucing itu tengah meminum susu yang ia berikan.
Ia memilih untuk berjongkok memperhatikan kucing hitam yang bahkan tak terusik dengan kehadirannya. Ia mengelus puncak kepala kucing itu yang hanya dihadiahi geraman tak suka. Kyungsoo terkekeh.
"Dasar seenaknya sendiri. Hey setelah selesai kau harus pergi dari sini, arra?" Kyungsoo berdiri tak terlalu ambil pusing jika kucing itu tak mengerti. Ia melangkah ke kamarnya, badannya letih dan cuaca yang lembab membuatnya mengantuk. Belum lagi beberapa malam ini ia tak pernah bisa tidur dengan nyenyak, tak heran jika Sehun mengatakan matanya memerah pagi ini. Ia menyamankan tubuhnya di atas ranjangnya sebelum jatuh terlelap dengan begitu pulasnya.
.
.
Kucing itu bergerak anggun, matanya bergerak-gerak penasaran sebelum terkunci pada sosok yang tengah berbaring di tempat tidur. Ia melompat dan duduk didepan Kyungsoo yang terlelap. Wajahnya tak sedikitpun bergerak dengan mata merah yang membulat tertarik.
Ia maju mengendus permukaan wajah Kyungsoo membuat Kyungsoo mengerutkan alisnya merasa terusik.
Saat tangan kecil berbulu itu terangkat seakan berusaha menggapai wajah Kyungsoo dan dalam hitungan detik berubah menjadi tangan dengan lima jari layaknya manusia. Tak ada lagi sosok kucing hitam dengan mata merah disana. Tergantikan oleh seorang pria dengan kulit tan eksotis yang bertelanjang dada. Mata merahnya bergerak tertarik akan lelaki yang tengah tertidur.
Ia membuka selimut Kyungsoo sebelum berbaring disamping lelaki itu. Tangannya bermain seakan berusaha menghapal setiap lekuk wajah Kyungsoo. Rambut coklat itu terkulai lemas mengikuti sang pemilik yang mengikuti gravitasi.
Ia mendekat untuk mempersempit jaraknya, tangan kanannya perlahan bergerak memeluk tubuh mungil itu untuk merapat pada tubuhnya. Ia tersenyum, menawan.
"Hey, terima kasih telah membuatku kembali merasakan perasaan menjadi manusia." Ucapnya dengan tangan yang menjauhkan helai poni Kyungsoo yang menghalangi pandangannya untuk menatap lelaki itu lebih jelas. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. bergelung dalam selimut dengan memperhatikan lelaki yang tengah tertidur. Semakin lama ia mengantuk juga, matanya memberat saat rasa berbeda itu menyusup jantungnya. Selama hidupnya ia tak pernah merasa senyaman dan seaman ini.
"Kuharap kau mau menjadi teman pertamaku." gumamnya sebelum ikut terjerat alam bawah sadarnya.
.
.
Ghoul
Story by: Gengie as Z
TBC
A/N:
Updatenya lama sekali ya? Ahaha, entah mengapa saya sedang malas menulis ff belakangan ini. mungkin karena sedang bad mood dengan berbagai ujian dikampus dan nilai yang tidak terlalu memuaskan.
Dan ini pendek. Maafkan saya readers dan terima kasih untuk para reviewers.
