Our Fate

.

Jeon Jungkook

Kim Taehyung

Kim Namjoon

.

Chapter 2

.

Taehyung pun tanpa sadar menghela napas panjang. Menjalin hubungan baik dengan lawan main yang biasanya dapat dengan mudah ia lakukan ternyata terlihat begitu sulit sekarang.

.

Begin!

.

Hari ini, idola top berambut ungu pucat itu telah berada di gedung salah satu stasiun TV, tempat ia melakukan syuting drama nya kali ini. Begitu sampai di studio satu, Sutradara Kim Namjoon dan para kru langsung meyambut penuh semangat.

"Hai Taehyung, bagaimana cerita drama 'Our Fate' ini menurutmu?" Namjoon bertanya dengan nada menggebu-gebu.

Sebaliknya, Taehyung malah menjawab pertanyaan itu kasual, "Bagus. Kisah percintaan yang manis dan ringan, Namjoon-ssi."

"Hahaha. Sikap dinginmu benar-benar bawaan dari lahir, ya? Jangan kaku begitu, panggil aku Namjoon hyung saja." Namjoon tertawa kencang. Meski memiliki wajah sangar, tapi nada suara yang ramah dan sikapnya yang santai bisa membuat orang-orang nyaman berada di sampingnya.

Taehyung melayangkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. "Baiklah, hyung. Artis utamanya sudah datang?"

"Maksudmu Jungkook? Ia sudah ada di ruang ganti. Ini pertama kalinya kalian bekerja sama, kan?"

Taehyung menganggukan kepalanya, "Aku belum pernah bertemu dengannya."

Tanpa disangka-sangka, Namjoon langsung terkikik setelah mendengar jawabannya, "Kalau begitu, lebih baik kau berkenalan dulu dengan Jungkook," tukasnya penuh semangat, "Chemistry kalian berdua sebagai teman masa kecil yang akhirnya menjadi sepasang kekasih harus usdah terbangun mulai detik ini."

Taehyung menganggukkan kepalanya sekali lagi, "Aku akan ke ruang ganti sekarang," ucapnya datar.

Tepat saat ia melewati Namjoon, ia melihat sutradara itu tersenyum penuh arti sehingga tanpa sadar membuat Taehyung sedikit mengerutkan kening.

Sesampainya di ruang ganti yang didominasi warna putih dengan beberapa kursi dan satu meja panjang yang diletakkan di tengah-tengah, Taehyung langsung saja melihat seorang pemuda yang sedang duduk di salah satu kursinya. Pemuda itu tak menyadari kedatangannya dan tetap menundukkan kepala, terlihat serius menulis di atas meja.

Setelah Taehyung menutup pintu, pemuda itu tiba-tiba menghentikan kesibukannya. Pelan-pelan, ia mengangkat kepala, menatap mata Taehyung yang berwarna abu-abu. Suasana yang semenjak tadi dalam keadaan hening sekarang semakin mencekam, sebab keduanya hanya bertatapan mata tanpa bicara sepatah kata pun. Dan, setelah beberapa detik berlalu, akhirnya pemuda itu berdiri dari kursi dengan gerakan lamban dan ekspresi yang begitu kosong.

"Selamat pagi Taehyung hyung. Namaku Jeon Jungkook," ucapnya disertai intonasi lambat seperti orang yang baru saja bangun tidur. Terlihat bagai manusia yang sama sekali tidak memiliki tenaga ataupun energi.

Taehyung menahan diri untuk tidak merasa terkejut melihat pemuda bernama Jungkook ini. Kesan pertamanya benar-benar aneh. Berbeda dengan Taehyung yang dingin dan tenang, Jungkook kelihatan lebih seperti tidak memiliki ekspresi wajah. Kosong. Hampa. Tanpa emosi.

Diperhatikannya pemuda ini masih memakai seragam sekolahnya. Taehyung langsung mengetahui bahwa Jungkook pasti bukan berasal dari kelas A seperti Jimin, Yoongi, ataupun dirinya. Karena kelas A memilki perbedaan cukup mencolok dibanding kelas B sampai E. Sebuah pin berlambang A Class, yang merupakan aksesoris khusus bagi para siswa kelas khusus tersebut selalu disematkan di lengan seragam mereka. Dan, Jungkook tidak memilki itu.

Tapi, tidak bisa dipungkiri, pemuda ini memiliki wajah yangs sangat manis. Ia mempunyai mata berwarna coklat. Rambut hitamnya terlihat begitu cocok dengan kulitnya dan membuatnya terlihat semakin manis.

Tanpa memperdulikan Taehyung yang masih berdiri terpaku di depannya, Jungkook kembali duduk sambil mengunyah Pocky yang senantiasa menemaninya di mana pun.

Tak tak tak. Suasana sunyi senyap. Tak ada suara yang terdengar, kecuali bunyi gigitan Pocky yang dimakan oleh Jungkook.

Taehyung benar-benar dibuat bingung menghadapi situasi seperti ini. Selama ini orang lainlah yang berusaha untuk mencari topik pembicaraan dan selalu mengajaknya berbicara lebih dulu. Jadi, Taehyung tidak perlu repot-repot untuk bertanya karena ia hanya akan menjawab atau menanggapi omongan mereka. Namun sekarang, posisinya ternyata berbeda. Pemuda di depannya ini sama sekali tidak peduli. Bahkan, setelah perkenalan yang sangat singkat tersebut, ia kembali sibuk menulis sambil mengunyah makanannya seorang diri.

Setelah berpikir beberapa saat, Taehyung akhirnya memilih untuk duduk di depan pemuda itu. Mengingat kembali perintah Namjoon hyung tadi, bagaimanapun juga ia harus bisa menjalin hubungan baik dengan Jungkook demi kelancaran drama ini. Meski kenyataannya, Taehyung sama sekali tak menyangka bahwa ia harus mendapatkan lawan main yang seperti ini.

"Jeon Jungkook-ssi." Untuk pertama kalin Taehyung memanggil namanya.

Pemuda yang dipanggil langsung balik menatapnya. "Aku tidak suka dipanggil seperti itu. Kaku sekali. Hyung juga begitu, kan?" tanya Jungkook. Intonasinya tetap sama.

Taehyung sekali lagi harus dikagetkan oleh ucapan pemuda itu. Jungkook sama sekali tak berbasa-basi dengan Taehyung meski ini adalah pertemuan pertama mereka, apalagi ia lebih senior daripada Jungkook. Mau tak mau, Taehyung jadi sedikit bingung menghadapi sikap Jungkook yang menurutnya berbeda dari kebanyakan orang.

"Ya. Kau bisa memanggilku Taehyung hyung saja."

Jungkook mengangguk sekali. Lagi-lagi gerakannya seperti orang yang tidak memiliki niat hidup.

Taehyung sungguh heran, Jungkook seolah-olah memiliki dunianya sendiri. Atmosfer yang ada di sekitar Jungkook terasa begitu berbeda.

"Hyung.. ," Jungkook memanggilnya.

"Ada apa?" tanya Taehyung.

"Makanan apa yang kau sukai?"

"Hah?" Taehyung sama sekali tidak menyangka obrolan mereka sekarang malah menuju kearah yang sama sekali tidak jelas. Tapi, ia tetap bersedia menjawab, "Japchae."

"Hmm.." Jungkook hanya menganggukkan kepala sekali, lalu kembali sibuk menulis diatas kertas-kertas di mejanya.

Suasana kembali hening. Taehyung pun tanpa sadar menghela napas panjang. Menjalin hubungan baik dengan lawan main yang biasanya dapat dengan mudah ia lakukan ternyata terlihat begitu sulit sekarang.

"Jungkook-ah..," memanggil nama pemuda itu tiba-tiba saja ia merasakan sebuah perasaan aneh menyerangnya. "Kalau kau, makanan apa yang kau sukai?"

Jungkook hanya memandang Taehyung sekilas lalu kembali menulis. "Tidak ada. Karena aku tidak suka makan."

Taehyung nyaris saja menyerah, benar-benar tidak bisa mengikuti pikiran pemuda satu ini. "Kau tidak suka makan? Tapi kau sepertinya menyukai Pocky."

"Aku bukannya suka. Ini hanya karena gampang dimakan dan tidak merepotkan."

"Apa maksudmu?"

"Aku punya kebiasaan hanya makan satu jenis makanan saja dalam jangka waktu yang lama."

"Hanya itu?" Taehyung mengerutkan kening tak habis pikir. "Jadi kau tidak makan nasi atau makanan berat lainnya?"

Jungkook menggeleng dengan ekspresi yang nyaris tak pernah berubah. "Makanan berat itu merepotkan. Tidak praktis. Harus di meja makan dan tidak bisa dibawa kemana-mana." Ia lalu membuka tas disampingnya, mengambil satu kotak Pocky baru.

Taehyung pun sontak memicingkan mata, tanpa sengaja melihat isi tas yang cukup besar itu penuh dengan kotak-kotak makanan ringan, mungkin lebih dari dua pulu buah.

"Selama ini kau hanya makan itu seumur hidupmu?"

"Tidak juga, tahun lalu selama setahun aku makan snack jagung. Aku baru makan Pocky sejak tahun ini." Taehyung kembali terdiam mendengar jawaban pemuda ini.

"Permisi Kim Taehyung-ssi, Jeon Jungkook-ssi." Seorang asisten sutradara atau sering disebut assistant director (AD) memasuki ruangan. "Ini ponsel yang akan kalian gunakan untuk drama kali ini. Kita akan mulai scene satu sepuluh menit lagi, ya?" Ia lalu menyerahkan dua buah ponsel berwarna biru kepada Taehyung dan Jungkook. Kedua ponsel itu memilki bentuk yang sama persis, dengan tali gantungan berbentuk bulan sabit.

"Taehyung-ssi akan berperan sebagai Taejoon dan Jungkook-ssi akan berperan sebagai Junghyun. Kalian adalah sahabat sewaktu kecil. Keduanya berpisah ketika berumur tujuh tahun, lalu sepuluh tahun kemudian kalian bertemu lagi. Di sini, kalian sama –sama masih menyimpan gantungan bulan sabit yang kalian beli bersama sewaktu kecil. Secara kebetulan, kalian juga memiliki ponsel dengan warna yang sama." Suara si AD semakin terdengar semangat. "Singkatnya, takdir yang mempertemukan kembali Taejoon dan Junghyun adalah dua ponsel yang tanpa sengaja tertukar. Setelah menyadari hal tersebut, akhirnya kalian memutuskan bertemu. Tapi, bahkan sebelum Taejoon bertemu dengan pemilik ponsel yang tertukar itu, ia sudah mengetahui jelas bahwa pemiliknya adalah Junghyun. Sebaliknya, Junghyun sama sekali tidak menyadari apa pun sampai Taejoon sendiri yang mengatakannya. Jadi, Taehyung-ssi, Jungkook-ssi, tolong sampaikan pada penonton sebuah pertemuan manis yang mengharukan, ya."

Setelah selesai menjelaskan, AD itu secepat kilat keluar dari ruangan, sepertinya cukup sibuk mengurus berbagai hal lain untuk drama ini.

Ruangan kembali hening. Taehyung dan Jungkook sama-sama memandang ponsel di tangan mereka dalam diam.

Jungkook terlebih dulu membuka-buka ponsel tersebut, lalu menatap Taehyung. "Mengapa Taejoon bisa tahu lebih dulu bahwa pemilik ponsel ini pasti Junghyun?" tanyanya datar."Padahal, Junghyun tidak menyadari apa pun."

Taehyung menatapnya sekilas, "Karena petunjuknya Cuma ponsel yang tertukar, jadi kurasa mungkin karena gantungan bulan sabit ini. Waktu kecil, Taejoon yang membelinya untuk Junghyun, jadi ia pasti lebih mengetahuinya."

"Begitu, ya?" Jungkook kembali terdiam dan sibuk dengan kegiatannya menulis. Namun, mendadak saja gerakan tangan pemuda itu terhenti. Mengerjapkan mata beberapa kali, seolah-olah baru menyadari sesuatu. Jungkook tiba-tiba berdiri dari kursi. "Aku harus pergi," serunya. Ia langsung beranjak sambil membawa ponsel yang digunakan untuk syuting drama ini. "Aku titip barang-barangku."

Taehyung benar-benar dibuat bingung dengan tingkah laku pemuda itu, namun ia tidak mau membuang waktu untuk repot-repot mengurus masalah yang jelas sama sekali bukan urusannya. Kalau pemuda itu terlambat saat latihan nanti itu memang salahnya sendiri.

Tidak sengaja, Taehyung melihat buku diatas meja yang ternyata naskah drama milik Jungkook. "Apa-apaan ini?" Taehyung tak bisa menutupi rasa tekejut sekaligus heran saat melihat coretan-coretan kecil disana. Ia pikir Jungkook sibuk menandai atau mempelajari naskah drama tersebut, namun naskah itu terisi dengan berbagai coretan dan gambar khas anak TK. Ada bunga, bintang, awan, matahari, anjing, kucing, dan gambaran tidak jelas lainnya.

Taehyung akhirnya cuma bisa diam mematung, tidak tahu apa lagi yang bisa ia lakukan untuk mengikuti ritme pemuda itu.

.

To Be Continued!

.

.

Hai! Hello! Annyeong!

Tadaaa~ Chapter 2 cleared!

Ciieee di chapter pertama pada nanyain kakeknya Taehyung xD

Di chapter kedua ini penjelasan tentang sifat Jungkook yang super duper aneh. Maaf ya kalau karakter Jungkook berubah dari biasanya, ini demi kelancaran fanfict ini huahaha. Sifat Jungkook bakal pelan-pelan terkuak. Makasih banyak yang udah review di chapter sebelumnya, kalian the best lah muah muah. Makasih juga yang sudah menyempatkan diri untuk membaca fanfict ini. Maaf ya Sherry baru bisa nulis segini, untuk kedepannya bakal Sherry usahain lebih panjang.

Demi kenyamanan dan ketentraman bangsa /plak/ kalian bisa manggil aku Sherry. Kalau author, thor apalagi author-nim aku belum sanggup dipanggil begituaan.

Hidup Taekook!

See you!