Our Fate
.
Jeon Jungkook
Kim Taehyung
Park Jimin
Min Yoongi
.
Chapter 3
.
Setelah mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Jungkook, Taehyung akhirnya bisa menarik satu kesimpulan. Jeon Jungkook hanya sekedar orang aneh.
.
Begin!
.
"Baiklah, kita akan menunggu sampai ia kembali," ujar Namjoon.
Diluar dugaan, setelah satu staf menceritakan bahwa Jungkook tiba-tiba saja pergi keluar saat latihan akan dimulai, Namjoon malah menanggapi santai. Tanpa menunjukkan perasaan kesal atau pun diremehkan. padahal, menurut Taehyung, satu-satu nya hal yang dibenci sutradara easy going ini adalah artis yang tidak bertanggung jawab atau tidak disiplin dalam waktu.
"Jangan terlalu dipikirkan. Jungkook pasti akan kembali," ucap Namjoon setelah melihat ekspresi bingung Taehyung.
"Aku sama sekali tidak memikirkan Jungkook," sahut Taehyung, "Aku hanya heran melihatmu hyung, kau kan paling tidak suka.."
"Ya. Jungkook mungkin pengecualian." Namjoon langsung memotong ucapan Taehyung, "Saat aku memilih Jungkook sebagai pemain, aku sudah siap dengan kespontanannya yang khas itu. Mungkin sedikit merepotkan, tapi tidak terlalu buruk."
Taehyung terdiam mendengar jawaban Namjoon.
Akhirnya, setelah menunggu satu jam, pemuda yang ditunggu-tunggu pun muncul. Masih dengan ekspresi yang sama. Kosong, tanpa emosi. Ia langsung menundukkan kepala di depan Namjoon dan Taehyung. "Maaf," ucapnya pelan.
"Hahaha, tidak apa-apa," Namjoon justru tersenyum. "Oke, latihan akan kita mulai sekarang."
Taehyung hanya mengerutkan kening, ia merasa tidak seharusnya Jungkook diperlakukan seistimewa itu, apalagi melihat keterlambatannya yang tanpa alasan. Ia melayangkan pandangannya pada Jungkook, Taehyung cukup terkejut melihat rambut dan dahi pemuda itu basah oleh keringat, seperti baru saja melakukan maraton. Mungkin karena ekspresi wajahnya yang tak berubah membuat Taehyung cukup lama menyadarinya.
"Adegan pertama dimulai ketika Taejoon menyadari bahwa ponsel yang ada di tangannya adalah milik Junghyun. Oke, Jungkook, tukarlah ponselmu dengan Taehyung," ujar Namjoon. "Kita akan mulai dari scene yang dilakukan Taehyun sendirian."
Taehyung sudah bersiap di tengah ruangan. Sementara itu, Jungkook yang menunggu giliran berakting berdiri di samping Namjoon yang duduk di kursinya sibuk memberi perintah kepada pada kru.
"Kamera satu, close up!"
"Taehyung, siap! Tiga... dua... satu..., action!"
Taehyung yang berperan sebagai Taejoon langsung menatap ponsel dengan gantungan bulan sabit ditangannya dalam diam. Tanpa sengaja, ia melihat layar ponsel tersebut, dan begitu kagetnya ia saat melihat gambar-gambar yang ada di sana. Matanya langsung meleba. Kekagetan itu bukan akting semata. Bukan sebagai Taejoon, namun Taehyung sendirilah yang benar-benar dibuat terkejut. Beberapa foto di ponsel itu silih berganti, ada bunga, awan, anjing maupun kucing di jalanan, mainan berbentuk matahari serta bintang, dan juga japchae!
Ia teringat kembali pertanyaan Jungkook saat di ruang ganti tadi. "Mengapa Taejoon bisa tahu lebih dulu bahwa pemilik ponsel ini pasti Junghyun? Padahal, Junghyun tidak menyadari apa pun." Sontak saja Taehyung melayangkan pandangannya pada Jungkook yang berdiri di belakang sang kamerawan dan Namjoon. Taehyung terkesiap karena Jungkook sedang menatapnya penuh arti sambil mengembangkan senyum tipis nya. Taehyung langsung mengerti maksud senyuman pemuda itu sekaligus apa yang diinginkannya.
"Oke, cut!" suara Namjoon terdengar puas. "Bagus sekali, Taehyung-ah. Akting kagetmu tampak nyata, seakan-akan kau syok menyadari ponsel itu milik Junghyun."
Taehyung tak merespon pujian tersebut. Ia lebih memilih melihat Jungkook. Perasaan kesal bercampur kagum memenuhi hatinya.
"Kau sudah menyadari kemampuannya?" tanya Namjoon tiba-tiba yang membuat Taehyung tersentak.
"Apa Namjoon hyung sudah tahu apa yang dilakukannya tadi?"
Namjoon menggeleng. "Aku selalu tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Jungkook. Tapi, yang kutahu pasti , Jungkook sangatlah serius dalam berakting. Ia pasti telah menunjukkan sesuatu padamu yang akhirnya menyeretmu untuk mengikuti aktingnya."
Setelah mendengar ucapan Namjoon, perasaan kesalnya semakin menjadi, ia merasa telah dimanipulasi oleh Jungkook. Dan, yang lebih parahnya lagi itu terjadi di sebuah scene yang hanya dilakukannya seorang diri. Tapi, Taehyung harus mengakui bahwa ia kalah pada kepekaan Jungkook dalam berakting.
"Hyung, aku akan mengikuti aktingnya," ujar Taehyung kemudian.
Wajah Namjoon berseri-seri mendengarnya. "Aku benar-benar tidak salah mempertemukan kalian dalam drama ini! Oh iya, diluar sikap anehnya, kemampuan Jungkook benar-benar membuat orang terkesan. Aku jadi heran, bagaimana bisa kakekmu tidak memasukkannya ke kelas A dan amalh memasukkannya ke kelas terakhir."
Taehyung benar-benar kaget. "Ia masuk ke kelas E?"
"Kau tidak tahu?" Namjoon justru terlihat heran, "Jungkook bahkan merupakan juru kunci di angkatan kelas satu. Ia menempati ranking keseratus, ranking terendah di sekolahmu."
Taehyung menautkan kedua alisnya. Ia sama sekali tak bisa mempercayainya. Ia tidak percaya kakeknya yang terkenal lihai menemukan potensi luar biasa seseorang, justru memasukkan Jungkook ke kelas E dengan ranking terakhir pula.
Lima menit kemudian, terdengar suara AD dari pojok ruangan, "Baiklah, kita akan memulai adegan di mana Taejoon dan Junghyun mengobrol lewat telepon dan memutuskan untuk bertemu." Ia mempersilahkan Taehyun dan Jungkook berdiri di tengah ruangan. "Jungkook-ssi, tolong berdiri membelakangi Taehyung. Menolehlah setelah ia memanggil namamu, tunjukkan perasaan bahagia saat berjumpa dengan orang yang paling ingin ditemui."
"Oke, siap!"
Taehyung berperan sebagai Taejoon memandang punggung Jungkook. Perasaanya bercampur aduk, antara berdebar dan juga antusias.
"Action!"
Taejoon menempelkan ponsel ke telinganya. Terdengar nada sambung beberapa saat, lalu terdengarlah suara Junghyun di seberang. "Halo?"
"Junghyun," Taejoon memanggil namanya. Tubuh Junghyun langsung menegang. Saat menyadari suara itu begitu dekat, ia sontak menoleh ke belakang dengan gerakan cepat. Mata Junghyun melebar. Ia tertegun saat menatap Taejoon yang berdiri di hadapannya. Dan tiba-tiba, tanpa bisa ditahan, satu per satu tetesan air mata mengalir di pipinya. Sebuah senyuman hangat perlahan-lahan mengembang di bibir Junghyung.
Taejoon pun mendekati Junghyun yang masih membatu di tempatnya. Taejoon memandang Junghyun selama beberapa saat, menggambarkan perasaan rindu, sebelum akhirnya tersenyum sambil meletakkan ponsel birunya yang tertukar di tangan Junghyun. "Aku pulang," ucapnya lembut.
Junghyun memandang ponsel yang ada ditangannya, lantas kembali menatap Taejoon, menunjukkan senyuman di antara tangis harunya yang masih tersisa. Tanpa sepatah kata pun, perasaan yang ditunjukkan Junghyun melalui ekspresi wajahnya, seolah-olah bisa dirasakan semua orang.
Taehyung tersentak, sama sekali tidak menyangka pemuda tersebut bisa berakting seperti itu. Tidak ada lagi Jeon Jungkook yang tanpa emosi. Yang ada di hadapannya sekarang adalah Junghyun, pemuda lembut yang punya tatapan mata hangat dan teduh.
Suasana begitu hening di dalam studio. Semua kru seolah terhipnotis oleh sepasang manusia itu.
.
.
.
"Jungkook."
Panggilan itu langsung membuat Jungkook yang sedang mengunyah Pocky menoleh. Ia memandang Taehyung yang berdiri di hadapannya.
"Apa tadi kau pergi untuk mengumpulkan foto-foto yang kamu jadikan screen saver ponsel Junghyun?" tanya Taehyung.
Jungkook langsung menganggukan kepalanya sekali.
"Mengapa kau melakukannya?"
"Taejoon bukan hanya mengira-ngira, tapi ia begitu yakin bahwa ponsel itu milik Junghyun," jawab Jungkook sambil menggigit sebatang Pocky rasa stroberi di tangannya. "Kalau hanya dari gantungan bulan sabit saja, harusnya Junghyun juga menyadarinya. Karena itu, aku merasa ada ciri khas lain yang membuat Taejoon yakin siapa pemilik ponsel itu." Jungkook mengambil sebatang Pocky lagi sebelum melanjutkan bicara, "Untuk memberikan kesan dramatis, yang ada dipikiranku Taejoon mungkin menemukan hal yang disukai Junghyun melalui foto-foto itu. Karena normalnya orang memotret hal yang mereka sukai, kan?"
Deg! Taehyung tersentak oleh perkataan Jungkook. Jungkook seolah melihat kekurangan dalam jalan cerita itu dan berusaha merombaknya. Cara berpikirnya tidak bisa Taehyun tebak. Ia melakukan improvisasi tanpa pikir panjang. Walau hanya satu scene, ia begitu detail melihat kekurangannya. Bahkan dengan idenya itu, ia bisa membuat drama ini menjadi lebih menarik dan realistis.
.
.
.
Keesokan paginya, Taehyung datang ke sekolah atas panggilan kakeknya. Ia menyempatkan diri terlebih dahulu menemui Jimin dan Yoongi.
"Taehyung, kudengar kau berpasangan dengan Jungkook di drama, ya?" tanya Jimin begitu mereka bertemu.
Yoongi kontan menimpali, "Pasti akan menjadi drama yang bagus!"
"Apa kalian mengenalnya?" Taehyung balik bertanya.
"Tentu saja," keduanya otomatis mengangguk. "Kurasa semua orang di sekolah ini mengenal Jungkook." lanjut Yoongi.
"Bukannya dia itu aneh?" Taehyung mendengus pelan.
Jimin dan Yoongi tersenyum penuh arti. "Mungkin itulah kesan pertamanya. Tapi, Jungkook itu berhati mulia. Ia selalu peduli kepada sekitarnya," ucap Yoongi.
"Hah?" Taehyung menatap Yoongi sambil menautkan alisnya.
Yoongi bisa melihat keraguan di wajah Taehyung hanya bisa tersenyum. "Jungkook punya caranya sendiri." Kata-kata Yoongi membuatnya tertegun.
"Jungkook!" suara ceria Jimin membuat Taehyung menoleh. Jungkook, orang yang sedang mereka bicarakan lewat dengan sekotak Pocky di tangannya.
"Selamat pagi, Jimin sunbae, Yoongi sunbae,..." ia terdiam sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada Taehyung, "Taehyung sunbae." Sapaan Jungkook benar-benar tidak menunjukkan rasa antusias.
Jimin melihat Pocky yang dimakan Jungkook, "Makananmu masih tidak berubah, ya? Mau sampai kapan?"
"Sampai bosan," Jungkook menjawab singkat. Setelah itu hening. Hanya terdengar suara gigitan Pocky. "Kalau begitu, aku permisi sunbaenim." Jungkook menbungkukkan badannya kemudian berjalan melewati ketiga senior nya itu.
"Sampai jumpa," ujar Jimin dan Yoongi. Taehyung sedari tadi hanya melipat tangannya dan memperhatikan Jungkook yang melewati mereka.
.
.
.
"Jadi..," tanpa salam pembuka, Taehyung sudah duduk di depan meja kakeknya. "Ada apa kakek memanggilku?"
Kakeknya hari ini memakai kostum kura-kura berwarna hijau. Ia tersenyum lebar, "Bagaimana kesanmu terhadap Jeon Jungkook?"
"Mengapa kakek tiba-tiba bertanya tentang itu?" tanyanya curiga. Selama ini kakeknya tidak pernah peduli pada lawan mainnya.
Kakeknya itu tertawa, "Karena, ini pertama kali kakek melihat seorang murid dari kelas E menjadi pemeran utama dan bersanding dengan cucu kebanggan kakek, terlebih lagi ia berada di ranking akhir."
"Bukannya kakek sendiri yang memasukkannya ke kelas E?" tanya Taehyung.
Tanpa diduga, kakeknya itu menggelengkan kepalanya. "Jeon Jungkook sendiri yang menginginkan masuk ke kelas E."
"Apa?" Taehyung tidak bisa menutupi rasa kagetnya.
Kakeknya itu tertawa melihat ekspresi Taehyung. "Pertama kali melihat Jungkook mengikuti tes masuk, kakek sudah memutuskan akan memasukkannya ke kelas A. Saat kakek bertanya 'Kau mau masuk kelas apa?' ia tanpa ragu menjawab, 'Kelas E, dengan ranking seratus.' Bahkan dia menentukan rankingnya sendiri."
Taehyung menyadari ada hal yang ganjil. Ia memandang kakeknya itu, "Mengapa Kakek menuruti permintaannya? Kakek jelas tahu kemampuan yang ia miliki."
Kakek nya itu mendesah pelan. "Seandainya kakek tidak mendengar alasan nya, kakek mungkin akan memaksanya masuk kelas A."
"Alasan?"
"Ia menyukai sekolah ini. Tapi, satu-satunya hal yang ia benci adalah kelas berdasar ranking dan ia sendiri memutuskan untuk berada di kelas E." Kakeknya itu tersenyum, beliau tidak mungkin lupa dengan perkataan Jungkook. "Ia mengatakan, 'Masuk kelas terendah atau menjadi siswa dengan ranking terakhir sama sekali bukan hal yang buruk. Bahkan, pahlawan baru menang di akhir cerita.' Bagaimana? Ucapannya mengejutkan, kan?"
Kakeknya melanjutkan bicara, "Di profilnya, Jeon Jungkook menulis, ia benci dengan kata berhenti di tempat. Dari sana kakek bisa tahu bahwa itulah alasan ia tidak berniat berada di kelas A." Beliau tersenyum melihat sorot mata cucunya yang kelihatan terkejut. "Daripada mempertahankan apa yang sudah dicapai, Jeon Jungkook lebih memilih untuk berjuang dari kelas terendah."
Taehyung menghela napas. Sama sekali tak bisa mengikuti ataupun menerima penjelasan kakeknya barusan. Baginya, semua itu tidak masuk akal. Setelah mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang Jungkook, Taehyung akhirnya bisa menarik satu kesimpulan. Jeon Jungkook hanya sekedar orang aneh.
Tanpa Taehyung sadari, kakeknya itu ternyata terus memperhatikannya yang jelas sekali menunjukkan ekspresi tak peduli. Beliau lalu memamerkan senyuman khas misteriusnya. "Saran yang kakek katakan beberapa hari lalu, jangan sampai kau lupakan, oke?"
.
To Be Continued!
.
.
Hai! Hello! Annyeong!
Yak, chapter 3 selesaaii!
Aku tau ini masih pendekk T.T Semoga chapter depan bisa lebih panjang muehehe. Makasih banyak yang udah nge-review. Kalian semua penyemangat terbaik! Jjang! Yang udah baca terima kasih jugaa.
Yak, sifat Jungkook nya udah mulai kebuka kaann. Chapter depan bakal lebih seru lagi nih!
See you!
