Our Fate
.
Jeon Jungkook
Kim Taehyung
Kim Namjoon
.
Chapter 4
.
Suara debaran jantung Taehyung tiba-tiba berjalan bergitu cepat. Debaran kali ini terasa jauh lebih keras dan begitu menyesakkan. Taehyung mendadak teringat kembali berbagai kejadian yang sudah ia alami bersama Jungkook. Semua tingkah laku dan ucapannya yang sering membuat orang bingung. Namun, Taehyung sekarang sudah memiliki jawaban atas semua rasa penasaran tersebut.
.
Begin!
.
Sudah lebih dari sebulan Taehyung bertemu dengan Jungkook di lokasi syuting hampir setiap hari. Dan, selama itu pula ia masih tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran pemuda itu. Setiap hari ada saja hal yang membuat orang-orang di sekitar Jungkook memandangnya penuh tanya. Ia pernah datang ke lokasi syuting dengan dengan rambut berantakan, ia juga pernah datang terlambat dengan lutut yang terluka, baju kotor terkena tanah, dan berbagai macam tingkah lain yang seharusnya tidak ditunjukkan oleh artis sepertinya. Setiap kali ditanya, jawaban Jungkook selalu tidak masuk akal. Seperti, ia baru diculik alien ditengah jalan, membantu Ultraman bertempur atau diajak berwisata oleh makhluk halus ke dunia mereka. Kru di lokasi syuting pun mulai memaklumi tingkah aneh Jungkook dan justru menjadikannya hiburan.
Tapi, Taehyung justru bingung bagaimana cara menghadapi Jungkook yang selalu membuatnya tak habis pikir. Taehyung semakin kesal dengan fakta bahwa jika di sekitar Jungkook, ia tidak bisa bersikap seperti dirinya yang biasa. Berhadapan dengan Jungkook, sifatnya perlahan-lahan berubah tanpa bisa dikendalikan.
Hari ini untuk kesekian kali Taehyung menghela napas. Seperti biasa, Jungkook terlambat datang ke studio, kurang lebih satu jam. Namjoon tetap tidak marah dan justru tertawa bergitu mendengar alasannya terlambat. Tanpa ekspresi dan tidak lupa sekotak Pocky di tangan, Jungkook berkata bahwa ia baru saja bertemu rombongan turis asing dari negara Slovakia dan mengantarkan mereka jalan-jalan keliling Seoul.
'Mana ada orang bodoh yang mau percaya omongannya itu?' Taehyung mengeluh dalam hati.
.
.
.
Masih ada waktu tiga puluh menit untuk beristirahat sebelum proses syuting kembali dimulai. Taehyung berjalan seorang diri menuju kamar mandi pria. Tapi, langkahnya terhenti di depan pintu. Ia mendengar suara ribut dari dalam. Taehyung kaget begitu mendapati Jungkook dengan segerombolan orang di dalam sana.
"Jangan ikut campur! Kami tidak ada urusan dengan mu!" seseorang diantara mereka yang rambutnya berwarna coklat membentak Jungkook dengan sangat keras. Sepertinya ia adalah pemimpin dari gerombolan yang berjumlah empat orang itu.
Mereka berempat lalu mendengus, tak mempedulikan Jungkook yang berdiri di depan mereka. Pemuda berambut coklat dan tiga teman lainnya kembali menoleh pada orang yang sejak tadi terpojok di samping wastafel.
"Minghao!" bentak salah satu diantara mereka. Pemuda yang duduk terpojok itu hanya bisa menunduk, tubuhnya bergetar ketakutan. "Kau itu Cuma artis cadangan! Bagaimana bisa kau mengambil peran Jeonghan di saat ia tidak ada!" Salah satu teman si rambut coklat mencercanya.
"Tolong maafkan aku..." ia menutupi wajahnya, tak sekalipun berani memandang mereka.
"Tidak ada maaf!" Jeonghan, pemuda yang berambut coklat, mengangkat salah satu tangannya untuk menampar Minghao.
Byuur! Bersamaan dengan suara guyuran air, gerakan tangan Jeonghan terhenti di udara. Suasana mendadak sepi. Bahkan, Taehyung yang masih berada di depan pintu pun tak bisa menutupi kekagetannya.
"Apa-apaan kau!" Jeonghan dan teman-temannya yang sudah basah kuyup langsung berbalik menatap Jungkook berang. Wajar jika mereka marah sebab Jungkook lah yang baru saja menyiram mereka berempat dengan seember air ditangannya.
"Aku hanya ingin membantu membersihkan sifat buruk kalian," tukas Jungkook tanpa rasa bersalah.
Jeonghan langsung naik pitam, ia mengepalkan tangan untuk memukul Jungkook. "Berani-berani nya..." Belum selesai ia berbicara, Jungkook sudah mengambil satu ember baru yang berisi air yang ada disampingnya.
"Hentikan!" Jeonghan dan ketiga anak buahnya sontak mundur beberapa langkah. Berusaha menghindari Jungkook yang ingin menyiram mereka lagi.
Byuur! Jeritan mereka mendadak terhenti. Semua mata membelalak lebar. Jungkook memang menyiram seember air, namun bukan diarahkan kepada Jeonghan dan ketiga temannya, tetapi malah kepada dirinya sendiri! Ia bahkan terlihat jauh lebih basah kuyup dibanding mereka.
"A..Apa yang kau lakukan?" Jeonghan tergagap.
"Karena aku sudah berbuat buruk kepada kalian, aku juga harus membersihkan diriku." Jungkook lalu meletakkan ember kosong tersebut, kemudian menatap wajah-wajah bingung di depannya tanpa ekspresi. Tiba-tiba Jungkook melebarkan kedua tangannya. "Sekarang kita sama-sama basah, mau berpelukan?"
Mereka semua termasuk Taehyung hanya bisa ternganga. Bingung. Heran.
"Dia sudah gila. Lebih baik kita pergi saja," ucap salah satu anak buah Jeonghan. Hanya dalam hitungan detik, mereka semua sudah lari tunggang-langgang keluar dari kamar mandi.
Bruk! Jeonghan yang terburu-buru tanpa sengaja menabrak seorang laki-laki berambut ungu pucat yang memang sejak tadi berada di depan situ.
"Kim Taehyung." Keempat pemuda itu langsung tertegun.
Ketakutan terlihat diwajah Jeonghan ketika ia melihat tatapan Taehyung yang dingin menusuk. Tak butuh waktu lama, ia dan teman-temannya langsung kabur dari situ tanpa berani menoleh lagi. Lari mereka cepat sekali, persis seperti tahanan yang dikejar-kejar polisi karena bari saja nekat kabur dari penjara.
"Ma..Maaf dan te..terima kasih," suara Minghao yang masih bergetar terdengar dari dalam kamar mandi.
Jungkook tak membalas ucapannya. Ia justru sibuk mengambil sesuatu dari dalam saku celana seragamnya sendiri, kemudian berjongkok di depan Minghao yang meneteskan air mata. Pelan-pelan menyentuh tangan kanan pemuda itu, dan meletakkan sebungkus permen di telapak tangannya. Minghao hanya bisa tertegun. Ia mendongakkan kepala, menatap Jungkook dengan pandangan tak mengerti.
"Karena menangis menghabiskan banyak energi, kau perlu makan makanan manis untuk mengembalikan energimu."
Taehyung yang sedari awal melihat hampir seluruh kejadian tersebut masih tak bisa melepaskan pandangannya. Dari kejauhan, ia melihat Jungkook tersenyum kepada Minghao. Senyum hangat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Senyuman yang membuat Jungkook terlihat jauh lebih manis. "Ternyata ia bisa menunjukkan ekspresi seperti itu."
Deg! Taehyung tiba-tiba tersentak. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha untuk mengembalikan kesadaran atas debaran yang mendadak dirasakannya. Taehyung segera memutuskan untuk kembali ke studio. Seiring langkah kakinya, Taehyung justru semakin tidak bisa berhenti untuk memikirkan hal-hal yang dilakukan pemuda bernama Jeon Jungkook itu.
"Tapi Jungkook adalah pemuda yang berhati mulia. Ia selalu peduli dengan keadaan sekitarnya."
"Jungkook punya caranya sendiri."
Ia teringat ucapan Yoongi beberapa minggu lalu. Dan sekarang, Taehyung mengerti apa maksud dari ucapan tersebut.
Langkah kakinya terhenti seketika. Kali ini Taehyung menunjukkan ekspresi syok. "Karena pandangan mata kita terbatas, biasanya kita cuma melihat apa yang ada di depan kita. Tapi, jangan pernah berhenti untuk melihat." Perkataan kakeknya itu tiba-tiba saja terngiang di kepalanya.
"Saran itu..., apa jangan-jangan tentang Jungkook?"
"Taehyung!" suara dibelakangnya langsung membuat Taehyung tersentak. "Mengapa kau berdiri di sini? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Namjoon menepuk bahunya pelan.
"Kadang, apa hyung tidak merasa aneh dengan tingkah laku Jeon Jungkook?" ia spontan mengucapkan kata-kata yang meruntuhkan seluruh ketidakpeduliannya selama ini.
Bukannya menjawab pertanyaan tersebut, Namjoon malah tertawa sangat keras. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Jungkook adalah penyebab utama kegelisahan seorang idola bernama Kim Taehyung. "Tak kusangka pemuda dingin sepertimu bisa memikirkannya sampai sejauh itu."
"Bu...Bukan maksudku ikut campur."
"Iya, iya. Tidak perlu gugup begitu. Rasa penasaranmu itu beralasan. Begitu juga depan apa yang dilakukan Jungkook. Meski terkesan serampangan dan tidak bisa dimengerti, tapi semua yang dilakukan Jungkook pasti ada alasannya." Begitu melihat pandangan penuh tanya Taehyung, Namjoon melanjutkan perkataannya. "Pertama kali aku bertemu Jungkook saat audisi, ia datang mengenakan baju training."
"Hah?" Taehyung mengerutkan keningnya.
"Ketika aku bertanya apa alasannya, Jungkook menjawab ia baru saja bertemu dengan tukang sulap yang mengubah bajunya seperti itu. Meski awalnya aku juga mengira dia aneh, tapi begitu melihatnya berakting, aku tidak perlu berpikir dua kali untuk memilihnya. Apalagi, saat aku alasan sebenarnya ia memakai baju itu, aku jadi harus mengakui Jungkook adalah anak yang sangat baik."
"Memang apa alasannya?"
"Seorang staf dari MTV sempat melihat Jungkook memakai baju yang manis untuk audisi. Tapi, tanpa sengaja Jungkook melihat seorang model menangis karena menumpahkan minuman ke bajunya sendiri. Sialnya, ia tidak punya baju ganti saat pemotretan akan segera dimulai," Namjoon lalu terkekeh seraya menatap Taehyung penuh arti, "Padahal ia sendiri masih harus mengikuti audisi, tapi tanpa pikir panjang, tiba-tiba ia memberikan baju yang dipakainya. Dan, sebagai ganti, manajer si model memberikan baju training cadangan dari staf."
"Ia benar-benar bodoh." Taehyung bergumam pelan. Antara bingung dan juga takjub. Di dunia entertainment, membantu orang apalagi yang tidak dikenal dengan mengorbankan diri sendiri bukanlah sesuatu yang wajar. Mungkin Taehyung berpikiran sempit, tapi itulah kenyataan yang ia temui selama berada di dunia ini. Selain Jimin dan Yoongi, ia sama sekali tak pernah bertemu orang yang begitu tulus seperti Jungkook, apalagi sampai mengorbankan diri sendiri.
"Jungkook! Apa yang terjadi?" Namjoon terlihat syok. "Mengapa kau bisa basah kuyup begitu?"
Taehyung tidak ikut berkomentar. Ia hanya diam memperhatikan pemuda yang sekarang sudah berdiri di sampingnya.
"Saat perjalanan menuju kesini, ada peri-peri yang mengajakku bermain air di Planet Pururimpa, karena keasyikan tanpa sadar bajuku basah semua."
Namjoon tertawa mendengarnya. "Baiklah sekarang kau ganti banju dulu, ya."
Taehyung yang jelas tahu penyebab insiden di kamar mandi sungguh tak bisa berkata-kata. Entah mengapa ia merasa sangat jengkel. Tiba-tiba ia mencekal pergelangan tangan Jungkook. "Namjoon hyung, aku akan mengantarnya ke ruang ganti," tukas Taehyung dingin. Berusaha menutupi kemarahannya.
Taehyung menyeret pemuda itu untuk mengikutinya. Namjoon yang belum beranjak dari tempatnya tertawa pelan. "Anak muda zaman sekarang memang penuh semangat."
.
.
.
"Cepat ganti pakaianmu." Itu kalimat pertama Taehyung setelah sampai di depan ruang ganti.
Jungkook otomatis mengangguk karena ucapan Taehyung barusan terdengar seperti titah raja yang harus segera dilaksanakan. Blam! Pemuda itu menutup pintu ruangan dari dalam.
Taehyung mendengus pelan seraya bersandar pada tembok dibelakangnya. Ia benar-benar bingung pada sikapnya sendiri. Padahal, baru sebulan Taehyung mengenal pemuda itu, tapi ia jadi semakin peduli padanya. Dan, yang lebih mencengangkan, keputusan awal Taehyung untuk menjaga jarak dengan pemuda itu ternyata tidak sekuat yang ia duga. Sedikit demi sedikit, entah bagaimana pemuda itu bisa menarik Taehyung sampai akhirnya ia tak sanggup untuk melepaskan pandangan lagi.
Setelah menunggu beberapa menit, Jungkook akhirnya keluar dari ruang ganti.
"Terima kasih, hyung." ucapnya begitu melihat Taehyung yang masih berdiri di depan situ.
Taehyung tidak menanggapinya. Ia melayangkan pandangan pada rambut Jungkook yang masih basah. "Di dalam tidak ada handuk? Kau bisa masuk angin."
Jungkook hanya menggelengkan kepalanya.
"Ikut aku," Taehyung memerintahnya tanpa memberi kesempatan Jungkook untuk menjawab. Rasanya, laki-laki yang biasanya dingin itu terlihat semakin menyeramkan sekarang.
Begitu sampai di ruang tunggu, Taehyung langsung menyuruh Jungkook untuk duduk di salah satu kursi. Dengan sigap, ia mengambil handuk yang ada di dalam tasnya. Ia membuka lipatan handuk tersebut dan meletakannya di atas kepala Jungkook. "Gerakanmu terlalu lambat, jika kau yang mengeringkan rambutmu sendiri, bisa-bisa rambutmu tidak akan kering sampai nanti malam," Taehyung berkata datar seraya mengusap rambut hitam Jungkook dengan hati-hati.
"Terima kasih."
Keduanya lalu terdiam. Jungkook mungkin tidak menyadari, Taehyung yang kelihatan sibuk mengeringkan rambutnya ternyata merasa gugup dan berdebar. Taehyung sendiri tidak menyangka dengan apa yang ia perbuat sekarang. Membantu mengeringkan rambut seseorang sama sekali belum pernah ia lakukan sebelumnya, apalagi ia sendiri yang menawarkan bantuan tersebut. Aku pasti sudah gila, rutuknya dalam hati.
Gerakan tangan Taehyung terhenti sesaat. Ia mendadak mengingat sesuatu. "Mengapa tadi kau tidak memberi tahu alasan yang sebenarnya?"
"Masalah apa?"
"Jangan pura-pura," Taehyung menjawab ketus. "Aku tadi tidak sengaja melihat apa yang kau lakukan di kamar mandi." Setelah merasa rambut Jungkook sudah cukup kering, Taehyung langsung menyingkirkan handuk dari atas kepala pemuda itu dan duduk disampingnya.
"Mengapa orang-orang selalu bertanya alasanku melakukan sesuatu? Aku melakukan sesuatu karena aku suka dan memang ingin melakukannya." Jungkook menatap mata Taehyung tanpa ekspresi.
Taehyung membatu. Meski Jungkook menunjukkan wajah tanpa ekspresinya yang biasa, tapi ia bisa merasakan ekspresi sedih yang berusaha Jungkook tutupi. Kali ini Taehyung benar-benar bisa melihatnya dengan jelas.
"Maaf." Kata-kata itu keluar spontan dari bibir Taehyung.
"Eh?" Jungkook justru tersentak. Ia menunjukkan ekspresi kaget yang belum pernah Taehyung lihat sebelumnya, "Mengapa hyung minta maaf?"
Taehyung membalas tatapan mata coklat tersebut dengan serius, sebelum menjawab, "Barusan kau kelihatan sedih. Aku jadi merasa kau tidak suka aku menanyakan hal itu."
Mendengar jawaban Taehyung, Jungkook terkesiap. Sudah lama ia tidak bertemu seseorang yang bisa dengan jelas memahami apa yang dirasakannya. Jungkook sama sekali tak menyangka bahwa Taehyung yang baru saja dikenalnya ini bisa mengerti perasaannya meski ia tak mengatakan apa pun.
"Terima kasih," ujar Jungkook seraya tersenyum hangat.
Suara debaran jantung Taehyung tiba-tiba berjalan bergitu cepat. Debaran kali ini terasa jauh lebih keras dan begitu menyesakkan. Taehyung mendadak teringat kembali berbagai kejadian yang sudah ia alami bersama Jungkook. Semua tingkah laku dan ucapannya yang sering membuat orang bingung. Namun, Taehyung sekarang sudah memiliki jawaban atas semua rasa penasaran tersebut.
"Jungkook, apa pun yang kau lakukan, jangan pernah memaksakan diri." Taehyung menatap Jungkook dengan ekspresi serius.
Jungkook mengerjapkan mata beberapa kali, ia masih diliputi perasaan takjub saat Taehyung menyentuh kepalanya dengan begitu lembut. "Apa maksudmu? Aku tidak pernah memaksakan diri."
"Apa yang kau lakukan di kamar mandi tadi hanya salah satu contoh. Kau jelas memaksakan diri. Karena itu aku..." Ia tak menyelesaikan kalimatnya dan malah beranjak dari kursi. Melayangkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari sesuatu. Tatapannya kemudian tertuju pada sebuah tas besar yang berada di sofa. Tanpa permisi, Taehyung langsung membuka tas yang penuh dengan Pocky tersebut.
"Hyung, apa yang kau lakukan? Itu tasku." Jungkook yang baru sadar, ikut beranjak dan menghampirinya. Taehyung tak mempedulikannya. Ia tersenyum tipis begitu memegang sebuah ponsel yang berada di tangan kanannya. Langsung saja laki-laki berambut ungu pucat itu menekan-nekan tombol nomor yang ada di ponsel tersebut. Setelah terdengar nada dering ponselnya sendiri, ia tersenyum puas.
"Aku sudah menyimpan nomorku di ponselmu." Taehyung mengembalikan ponsel Jungkook. Ia bahkan meletakkan ponsel tersebut di atas telapak tangan Jungkook dengan wajah innocent. "Kalau kau membutuhkan sesuatu, hubungi aku."
Jungkook yang bingung dengan sikap Taehyung hanya menatapnya datar. "Untuk apa? Sungguh merepotkan," tukasnya singkat. Ia lalu mengambil satu kotak Pocky baru dari dalam tasnya.
Taehyung sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Jungkook. Taehyung mulai memahami setiap kata yang keluar dari mulut Jungkook melalui sudut pandang yang berbeda.
"Kau tidak mau merepotkan aku. Itu maksudmu," tukas Taehyung tanpa ragu. Ia lalu mengembangkan senyum hangat.
Jungkook berhenti mengunyah makanannya. Detak jantungnya berhenti sedetik. Ia terkesima, sama sekali tidak menyangka Taehyung bisa begitu mengerti dirinya. Padahal, orang tuanya pun masih sering bingung pada sikapnya yang sering mereka anggap aneh.
"Taehyung hyung adalah orang yang sangat baik," ujar Jungkook spontan, "Hangat dan penuh perhatian."
"Ka..kau salah, Jungkook!" Taehyung gelagapan, wajahnya seketika memerah karena malu. Selama ini tidak ada satu orang pun, apalagi orang yang baru ia kenal berkata begitu kepadanya.
"Aku tidak mungkin salah. Kalau hyung bukan orang yang baik, lantas kenapa hyung sampai mau merepotkan dirimu sendiri untuk membantuku?" Pertanyaan Jungkook yang terdengar begitu polos langsung menyentak Taehyung.
"Itu...," Taehyung bingung menjawab. Tanpa bisa ditahan jantungnya kembali berdebar saat mata Jungkook tetap tak beralih darinya. Ia berusaha keras berpikir, sampai akhirnya ia mendapat sebuah ide, yang sama sekali bukan kata hatinya yang sebenarnya. "Itu karena kau selalu datang terlambat. Gara-gara kau, jadwal syuting kita jadi berantakan. Aku hanya melakukannya karena itu. Makanya, jangan salah paham."
"Oh, benar juga," Jungkook manggut-manggut. Ia percaya begitu saja. "Maaf kalau aku selalu merepotkan." Ia berdiri lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Taehyung tak mengira reaksi seperti ini yang ditunjukkan Jungkook. Perasaanya jadi tidak enak sendiri, "Sudah hentikan. Kau tidak perlu minta maaf. Maksudku bukan..."
"Taehyung, Jungkook." Suara di depan pintu memutus ucapan Taehyung. "Kebetulan kalian berdua sudah di sini. Segera bersiap, ya. Syuting akan dimulai lagi."
Taehyung serta Jungkook menganggukkan kepala seraya beranjak dari sofa. Jungkook tidak terlalu memikirkan percakapan mereka berdua barusan, sebaliknya, Taehyung justru tak bisa berhenti memikirkannya. Ia diam-diam melihat Jungkook yang sudah berjalan di depannya, namun ekspresi laki-laki itu sama sekali tak terbaca.
.
To Be Continued!
.
.
Hai! Hello! Annyeong!
End of chapter 4!
Udah mulai ngerti kan sama sifat Jungkook. Jungkook yang baik hati, tidak sombong, rajin menabung miliknya TaeTae. Karena semua yang kita lakukan pasti ada alasannya kan? Wkwk. Aku pinjem Jeonghan sama Minghao yaa, sebentar aja kok.
Aku minta maaf ya kalau masih banyak typooo T.T makasih banyak yang udah ngingetin ugh love you mwah mwah. Jangan sungkan-sungkan ngasih kritik dan saran sama ngingetin kalau ada typo, karena aku butuh ituu hehehe.
Ps:aku bener-bener minta maaf karena telat update huhu T.T
