Our Fate

.

Jeon Jungkook

Kim Taehyung

Park Jimin

.

Chapter 5

.

Kali ini, Jungkook benar-benar takjub. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Taehyung bisa tahu tentang hal yang sama sekali tak pernah ia katakan pada siapa pun. Lebih dari itu, Taehyung bahkan begitu memahaminya. Perasaan Jungkook tidak hanya dipenuhi oleh rasa haru, ia juga mulai merasakan sebuah debaran saat Taehyung menyentuh wajahnya.

.

Begin!

.

"Selamat sore, Jeon Jungkook-ssi." Pak Kepala sekolah yang hari ini berpakaian seperti profesor berhidung super besar yang ada di kartun Astro Boy, tiba-tiba memanggil Jungkook tepat saat bel pulang sekolah berbunyi. "Silahkan duduk."

Jungkook membungkukkan kepala sopan, lalu duduk di depannya.

Kepala sekolah berdehem sekali. "Jungkook-ssi, ada tawaran untukmu, menjadi model di music video salah satu penyanyi muda yang...," Beliau lalu berhenti sejenak untuk membaca tulisan dalam kertas yang ada di atas mejanya. "Sekarang sepertinya cukup populer. Namanya Kim Yugyeom. Apakah kau mengenalnya?"

Jungkook mengangguk sekali. Dulu saat ia masih SMP, ia dan Yugyeom pernah bekerja sama sebagai sepasang model di sebuah majalah remaja.

"Bagus!" Jungkook mengangguk lagi dengan sopan.

Pak Kepala sekolah lalu diam, menatap Jungkook tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Ia terkaget-kaget karena Jungkook yang ia tatap balas menatapnya tanpa rasa takut atau sungkan seperti orang lain, yang biasanya merasa segan untuk bertatapan lama-lama dengannya. Keheningan yang begitu lama pun sama sekali tidak mempengaruhi Jungkook.

Pak Kepala sekolah tidak bisa lagi menahan tawanya. Sejak awal bertemu, Jeon Jungkook memang menunjukkan sesuatu yang berbeda, yang bagi kebanyakan orang, perbedaan itu pasti dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Wajah yang benar-benar irit ekspresi memang sudah menjadi ciri khasnya. Karena itu, saat ia berakting, tidak mengherankan bila semua orang terkejut. Ia seolah-olah memiliki dua kepribadian. Begitu mengesankan.

Masih jelas diingatannya, Jungkook merupakan satu-satunya siswa di sekolahnya yang sama sekali tidak pernah menunjukkan ekspresi kaget saat melihat dandannya yang aneh. Bukan hanya tidak kaget, Jungkook bahkan tidak menunjukkan ekspresi yang berarti, seolah menganggap semua itu bukan sesuatu yang aneh.

"Jungkook-ssi, aku ingin kau tahu sesuatu. Pada kenyataannya, diperlukan alasan untuk menyukai sesuatu. Tanpa alasan, perasaan suka itu berarti hanya sesuatu yang semu, dangkal, dan...," Beliau menggantung ucapannya sejenak, lalu tersenyum dengan sangat licik, "Sama sekali tidak menarik."

Jungkook sedikit memiringkan kepala mengamati ekspresi wajah Kepala sekolah nya itu sambil berpikir keras, namun ia tetap tidak bisa menangkap maksudnya.

Kepala sekolah tiba-tiba berbicara, "Oh iya, kau sudah boleh keluar." Sepertinya memang tidak ada niat untuk menunggu tanggapannya. Jungkook yang diusir secara halus pun akhirnya bergegas, meski ia masih penasaran pada ucapan sang kepala sekolah. Tanpa sepengetahuan Jungkook, Pak Kepala sekolah ternyata masih sempat tersenyum kecil ketika memperhatikan pemuda itu.

.

.

.

Syuting 'Our Fate' episode tujuh di mulai hari ini. Tapi, Jungkook masih belum keliatan batang hidungnya. Padahal, seharusnya ia sudah berada di studio sekitar tiga puluh menit lalu. Sang manajer pun hanya bisa meminta maaf pada para kru, yang sepertinya juga tidak terlalu kaget lagi. Jungkook yang terkesan tidak bertanggung jawab itu tetap tak membuat para kru marah padanya. Alasannya, bukan karena ia di istimewakan, namun itu semua berkat usaha keras pemuda itu dalam berakting. Jungkook selalu menunjukkan keseriusannya, sampai-sampai bila ia benar-benar sudah berubah menjadi karakter yang dimainkannya, Jungkook biasanya cuma melakukan satu kali take atau bahkan melakukan improvisasi tak terduga di depan kamera.

Taehyung yang memiliki jadwal syuting sebelum Jungkook sudah berada di sana sekitar satu jam yang lalu. Hanya tinggal beberapa adegan yang memerlukan mereka berdua syuting dalam satu scene untuk episode ini. Bolak-balik ia melihat jam tangannya, Jungkook sudah terlambat lebih dari empat puluh lima menit. Terkadang, Taehyung juga merasa kasihan pada manajernya Jungkook yang cuma bisa pasrah pada tingkah aneh anak asuhnya yang sering kabur atau menghilang tiba-tiba.

"Maaf aku datang terlambat." Sebuah suara terdengar di depan pintu studio. Pemuda itu menundukkan kepala pada setiap kru yang langsung menanggapinya dengan senyum sumringah.

"Mengapa kamu datang telat?" seorang kamerawan langsung bertanya kepada Jungkook. Nadanya terdengar sangat penasaran. Entah karena apa, para kru lain pun sepertinya terlihat antusias dan ikut-ikutan menunggu jawaban Jungkook.

Taehyung yang juga berada di sana pun hanya memandang wajah-wajah di sekitarnya dalam ekspresi heran. Bagaimana tidak heran? Sepertinya para kru terlihat begitu senang, meski Jungkook jelas-jelas terlambat! Ditambah lagi, semua orang langsung berkumpul di sekitar pemuda itu dan menanyakan alasan keterlambatannya dengan wajah penuh semangat. Aneh sekali.

"Hari ini...," Jungkook mengawali ucapannya. Orang-orang semakin mendekat, memasang telinga baik-baik. Seperti menunggu sebuah keputusan penting. "Aku dikejar-kejar oleh hantu bermulut robek di taman yang aku lewati. Jadi, aku bersembunyi dulu sampai ia pergi dan mencari korban lain."

"Hahaha..." Tawa dan tepuk tangan yang sangat meriah memenuhi studio.

"Padahal, ini masih pagi, tapi kau sudah bertemu hantu!"

"Hebat sekali!"

Walaupun orang-orang menjadikannya candaan, dan tertawa penuh kenikmatan, namun Jungkook tetap memasang wajah datar sambil terus mengunyah stik Pocky di tangannya.

"Mungkin, hantu itu tertarik pada makanan yang kubawa," ucapnya dengan nada yang begitu tenang dan serius. Seolah-olah, baru saja mengungkapkan sebuah fenomena gaib di sebuah acara berita.

Tawa pun kembali meledak, bahkan beberapa staf produksi sampai menepuk-nepuk perutnya karena kebanyakan tertawa. Meski Jungkook terlihat bagaikan robot, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya sering kali membuat orang terbahak. Pemuda itu seperti memiliki sifat alami yang unik tetapi sekaligus menjadikannya sosok yang begitu berkarakter. Para staf pun jadi sering terhibur olehnya. Apa lagi, kebaikan Jungkook sanggup membuat mereka jatuh hati. Terkadang, bisa saja ia diam-diam membantu membawakan barang bila melihat staf perlengkapan sedang sibuk. Kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin tidak begitu terlihat, namun bila diperhatikan lagi, biasanya hal-hal seperti itu justru tidak akan repot-repot dilakukan oleh seorang artis.

Taehyung yang sedari tadi cuma jadi penonton di tengah keramaian, memilih untuk pindah ke tempat yang jauh lebih sepi. Entah mengapa, ia jadi merasa sedikit kesal pada dirinya sendiri. "Bodoh sekali! Untuk apa tadi aku sempat mencemaskan dia. Toh, ia sudah biasa datang terlambat."

Saat ia masih sibuk bicara pada dirinya sendiri, Taehyung tak menyadari bahwa Jungkook ternyata sudah berdiri tepat di belakangnya, memperhatikan punggung laki-laki itu dalam diam.

"Taehyung," panggil Jungkook sambil mengunyah Pocky nya.

Taehyung sedikit tersentak. Tapi, tak langsung menoleh saat mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya. Ia justru menghela napas panjang sebelum akhirnya berbalik.

"Ap..." ucapan Taehyung mendadak terputus karena tiba-tiba saja sesuatu yang manis memenuhi mulutnya. Laki-laki itu sontak tersedak, dan langsung menarik keluar stik rasa coklat tersebut dari mulutnya.

"Apa yang kau lakukan?!" Taehyung membentak Jungkook. Apa yang dilakukan Jungkook barusan benar-benar membuatnya terkejut. Apalagi, sekarang ia jadi berdebar-debar sendiri saat mengetahui bahwa Jungkook sengaja menyuapinya. Perasaan gugup yang susah dikendalikan memang terkadang membuat laki-laki yang biasanya cool itu bingung harus berbuat apa, dan akhirnya tanpa sadar malah membuatnya menjadi seorang pemarah.

"Taehyung hyung kelihatan tidak bersemangat," jawab Jungkook tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Ia bahkan tak merasa terganggu saat Taehyung jelas-jelas membentaknya. "Kupikir, Pocky bisa membantumu."

"Hah?" Taehyung sempat tertegun. Perkatan Jungkook memang aneh dan kadang sulit untuk dipahami. Apa ia melakukan ini untuk menghiburku? Laki-laki itu kemudian serius menatap Jungkook, mempelajari ekspresi wajahnya. Tanpa sadar, Taehyung tak bisa lagi menahan senyum. "Aku baik-baik saja," gumamnya sambil menyentuh kepala Jungkook perlahan-lahan. "Habiskan makananmu sebelum kita syuting."

Jungkook berhenti mengunyah. Meski ia tidak tahu apa penyebabnya, namun sentuhan hangat di atas kepalanya tiba-tiba saja membuat hatinya terasa begitu nyaman. Dan, tanpa diduga-duga, Jungkook tiba-tiba saja tersenyum. Senyum hangat yang jarang sekali diperlihatkan Jungkook pada orang lain.

Deg! Sedetik setelah ia melihat ekspresi manis yang diperlihatkan Jungkook padanya, jantung Taehyung berdetak begitu cepat.

Mengapa aku jadi sering berdebar-debar? Aneh. Ada apa dengan diriku? Taehyung jadi terkejut sendiri pada apa yang baru saja terlintas di pikirannya. Ia pun sontak menggeleng keras. Tidak! Tidak! Tidak mungkin aku mengalami perasaan seperti ini lagi!

.

.

.

"Hahaha." Suara tawa yang begitu panjang dan memekakkan telinga terdengar di seberang.

"Apa-apaan reaksimu itu?" Taehyung terlihat kesal pada seseorang yang baru saja ia telepon.

"Karena ini benar-benar kabar yang menakjubkan." Jimin masih terlihat tak percaya setelah mendengar semua keluh kesah Taehyung tentang Jungkook. "Jadi, apa sekarang kau siap mendengar apa pendapatku?"

Taehyung malas-malasan menjawab, "Ya. Jadi, apa pendapatmu?"

"Tentu saja berarti kau menyukainya, kan?"

Taehyung langsung menahan napas. Ia terpaku di tempat. Tak sanggup untuk menanggapi ucapan entang yang baru saja diungkapkan sahabatnya.

"Hei, Taehyung-ah, kau masih hidup, kan?" Jimin kembali tertawa. Ada nada heran dalam kalimatnya. "Mengapa setiap kali kau jatuh cinta, selalu aku yang harus menyadarkanmu? Benar-benar orang yang tidak peka dan tidak jujur pada perasaannya sendiri. Dari dulu sampai sekarang, tetap tidak berubah."

Taehyung tersentak. Terkadang, ia masih bisa merasa aneh dengan sahabatnya yang sangat easy going itu. Dengan santai Jimin bisa saja mengungkit kembali kisah cinta segitiga antara Jimin, Yoongi, dan juga dirinya dulu. Tapi mau tidak mau, Taehyung jadi merasa bersyukur. Jimin adalah orang yang berpikiran terbuka dan membuat orang nyaman berada di sekitarnya.

"Aku sendiri heran melihatmu, Jimin-ah. Mengapa kau bisa seringan itu mengatakan hal-hal seperti ini?"

"Taehyung, kau benar-benar lemah dalam masalah percintaan." Jimin langsung menyimpulkan, "Yang rumit justru jalan pikiranmu. Menyukai seseorang itu bukan tindakan kriminal. Kalau kau menyukainya, jangan cuma diam saja."

Taehyung terdiam. Merenungkan setiap perkataan Jimin selama beberapa saat. Kali ini rasanya berbeda dengan dulu. Ketika ia dan Jimin berusaha untuk merebut perhatian Yoongi, Taehyung tidak pernah merasa susah untuk berkomunikasi karena mudah baginya mengetahui apa yang ada di pikiran Yoongi.

Namun, tanpa Taehyung sadari, perlahan-lahan semua telah berubah seiring berjalannya waktu. Sekarang, rasanya tiada hari tanpa memikirkan Jungkook. Pemuda yang jarang sekali mengekspresikan perasaan, selalu terlihat tanpa emosi. Pemuda aneh, tapi juga sangat tulus dan sanggup menarik perhatiannya. Gara-gara pemuda itu juga, Taehyung sadar bahwa perasaan suka pada cinta pertamanya benar-benar sudah menjadi masa lalu, yang hanya cukup untuk dikenang.

Namun, sebagai gantinya, sekarang perasaan dan pikiran Taehyung telah dikuasai oleh pemuda itu sepenuhnya. Perasaan yang tumbuh entah sejak kapan, dan ternyata semakin tak tertahankan. Sayangnya, ia tak bisa mengelak lagi. Taehyung harus mengakui, ia sudah jatuh cinta kepada pemuda yang bernama Jeon Jungkook.

.

.

.

"Selamat pagi," Taehyung membalas sapaan para kru di studio. Ia masih belum melihat sosok Jungkook di sana. Tidak begitu mengherankan lagi, karena memang hampir setiap hari pemuda itu datang terlambat. Kalau memikirkan tindakan Jungkook yang sering nekat dan ceroboh, sekarang Taehyung jadi tidak bisa tenang.

"Selamat pagi, Taehyung hyung." Tiba-tiba saja, Jungkook sudah berdiri di hadapannya. Menyapa tanpa ekspresi, tak lupa ditemani sekotak Pocky di tangan.

"Tumben sekali kau datang tepat waktu dan..." Taehyung berhenti sejenak untuk memperhatikan pakaiannya. "Tidak berantakan seperti biasanya."

"Hyung bilang, kalau aku terlambat, itu bisa merepotkan Taehyung hyung dan semua orang. Aku jadi berangkat pagi-pagi dengan penuh persiapan."

"Hah?" Taehyung otomatis menghela napas berat. Ia mengeluh dalam hati, Sekarang ia malah semakin salah paham.

"Eh?" tiba-tiba saja Taehyung mengerutkan kening. Ia sontak mengalihkan pikirannya saat melihat plastik yang dibawa Jungkook. Meski tidak begitu kelihatan, tapi ia jelas melihat tumpukan baju kotor di dalam situ.

"Kau bilang berangkat dengan penuh persiapan, apa itu maksudnya? Kau melakukan sesuatu sampai harus berganti baju?"

"Aku tadi bertemu kelompok sirkus..."

"Hentikan." Taehyung memotong ucapan Jungkook dengan nada memerintah. "Tidak perlu membuat alasan yang aneh. Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi, aku sudah pernah bilang kan, jangan memaksakan dirimu."

Jungkook langsung menundukkan kepalanya. Merasa bersalah karena membohongi Taehyung yang benar-benar mengkhawatirkannya. "Aku tidak bisa membiarkan anak kecil itu menangis," gumamnya lirih.

Taehyung langsung tersenyum tipis, sedikit terkesima. Akhirnya, ia merasa Jungkook mulai bisa terbuka kepadanya. Meski cuma sedikit, tapi ia sekarang tahu, Jungkook pasti baru saja menolong seseorang saat dalam perjalanan menuju ke sini.

"Aku mengerti," Taehyung dengan lembut menyentuh kepala Jungkook. Hanya sesaat, tetapi Jungkook bisa merasakan kehangatan yang menjalar di atas kepalanya.

"Apa kau tidak bosan makan makanan seperti ini terus?" Taehyung mengalihkan pembicaraan saat melihat kotak Pocky. Meski banyak orang yang sudah menyerah untuk memperingatkan kebiasaan makan Jungkook yang tidak sehat, tapi Taehyung tidak bisa membiarkan pemuda itu begitu saja.

"Walaupun kau pernah bilang tidak suka makan, tapi kebiasaanmu ini bisa merusak tubuhmu sendiri."

"Taehyung seperti Ibu," Jungkook spontan berkomentar. Ia lalu mengambil kembali sebatang Pocky dan menggigitnya tanpa menyadari perasaan terguncang laki-laki yang masih bisa memasang wajah cool di depannya itu.

Sekarang posisiku malah jadi Ibu? Batin Taehyung miris.

"Jungkook, bagaimanapun bencinya kau pada makanan berat, tapi itu semua sangat berguna..."

"Aku bukannya benci," sela Jungkook, namun suaranya terdengar ragu. "Aku hanya tidak suka makan di meja."

"Apa maksudmu tidak suka makan di me...?" Mendadak saja Taehyung berhenti bertanya. Dulu, saat ia membaca profil Jungkook yang diberikan kakeknya, ia seperti diingatkan lagi oleh sesuatu yang mungkin berhubungan dengan masalah ini.

Taehyung kembali menatap Jungkook. "Apa kau tinggal sendirian?" tanyanya, berusaha meyakinkan bahwa informasi yang didapatkannya itu tidak salah.

Jungkook langsung mengangguk. "Iya, Ayah dan Ibu tinggal di luar negeri sejak aku masuk SMP."

"Jadi, kau sudah tinggal sendirian sejak empat tahun lalu?"

Meski Jungkook sebenarnya sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Taehyung, ia tetap menganggukan kepalanya sebagai jawaban sambil terus menggigit stik Pocky.

Setelah mendapat kepastian itu, Taehyung tidak bisa mengenyahkan apa yang sejak tadi sudah ada di pikirannya. Entah mengapa, rasanya ia bisa mengetahui alasan Jungkook tidak suka makan. Kedengarannya mungkin aneh, tapi Taehyung bisa memahami perasaan Jungkook.

"Masih ada waktu." Taehyung melihat jam di tangannya, lalu detik berikutnya, tiba-tiba saja ia sudah memegang salu satu pergelangan tangan Jungkook. "Ikut aku sekarang."

"Ke mana?" Jungkook masih tak bergerak dari tempatnya.

"Kau harus menemaniku makan."

Setelah perkataan Taehyung yang terdengar seperti perintah komandan, laki-laki itu langsung menyeret Jungkook keluar dari dalam studio menuju kafetaria di lantai bawah.

.

.

.

"Mengapa diam saja? Ayo, dimakan." Perintah Taehyung begitu mereka selesai memesan makanan, dan duduk di salah satu meja. Tanpa bertanya pada Jungkook, Taehyung langsung memesan dua paket menu lengkap untuk mereka berdua.

Jungkook yang hanya bisa bengong, akhirnya pasrah saja. "Selamat makan," ucapnya sambil mengatupkan kedua tangan, lalu mengambil sumpit yang ada di depannya.

Taehyung cukup terkejut. Meski Jungkook tidak pernah makan di meja makan, pemuda itu tidak lupa untuk mengucapkan selamat makan. Bahkan, ia bisa memegang sumpitnya dengan baik.

"Aku sudah lama tidak makan seperti ini." untuk pertama kali Jungkook membuka suara. Setelah suapan pertama, tiba-tiba tetesan air mata mengalir di pipinya. Ia sendiri kaget. Tapi, cepat-cepat Jungkook menghapus air matanya, berusaha jangan sampai Taehyung melihatnya menangis.

Tapi, gerakannya langsung tertahan. Taehyung ternyata sudah lebih dulu memegang tangannya. Dengan berhati-hati, ia menyentuh wajah Jungkook, menggantikan Jungkook menghapus air matanya.

Jungkook yang tidak biasa menunjukkan perasaan pada orang lain pun buru-buru menghindari tatapan mata Taehyung. Ia merasa sangat kikuk. "Maaf."

"Aku tahu. Kau tidak suka makan di meja seorang diri. Karena itu kau lebih memilih untuk tidak makan sama sekali." Taehyung bukan hanya menebak. Ia seperti mengetahui dengan jelas perasaan Jungkook.

Kali ini, Jungkook benar-benar takjub. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Taehyung bisa tahu tentang hal yang sama sekali tak pernah ia katakan pada siapa pun. Lebih dari itu, Taehyung bahkan begitu memahaminya. Perasaan Jungkook tidak hanya dipenuhi oleh rasa haru, ia juga mulai merasakan sebuah debaran saat Taehyung menyentuh wajahnya.

"Makan seorang diri memang tidak menyenangkan." Perkataan Taehyung membuyarkan pikirannya.

Begitu lama Jungkook terdiam, sebelum ia menganggukan kepalanya. "Ya. Hyung benar."

"Karena itu aku akan selalu menemanimu."

Perkataan tersebut sontak membuat Jungkook berhenti mengunyah makanannya. Ia tertegun saat menatap kedua mata Taehyung. Benar-benar tidak menyangka pada apa yang baru saja Taehyung ucapkan padanya. "Apa maksudmu, hyung?"

"Seperti apa yang kubilang," Taehyung sepenuhnya memandang Jungkook yang terlihat bingung. "Sesibuk apa pun, waktu makan, aku akan menemanimu."

"Tapi, kita kan tidak bisa bertemu setiap hari. Beberapa hari lagi, jadwal syuting kita bersama juga akan berakhir. Kita pasti akan jarang bertemu."

"Kau lupa ya kalau aku senior di sekolahmua? Saat berada di sekolah, aku juga akan menemanimu."

"Tapi..." Jungkook kehabisan kata-kata. Ia benar-benar merasa Taehyung sudah terlalu baik kepadanya. Meski tidak bisa dipungkiri, ia bahagia. Namun, tetap saja Jungkook merasa tidak pantas untuk mendapatkan perhatian sebesar itu dari Taehyung. "Mengapa hyung mau melakukan sejauh ini untukku?"

Taehyung tak langsung menjawab. Ia justru tersenyum tipis. Lelaki berambut ungu pucat itu pun kadang masih tak percaya dengan sikapnya sendiri. Padahal, ia sendiri yang sudah memutuskan untuk tidak mau berurusan dengan Jungkook, tapi ternyata, sekarang semuanya justru terbalik seratus delapan puluh derajat.

"Kalau menurutmu sendiri mengapa?" akhirnya, Taehyung malah balik bertanya.

Tanpa pikir panjang, Jungkook otomatis menjawab, "Karena Taehyung hyung orang yang baik."

"Hahaha..." Taehyung hanya bisa tertawa sarkastis berusaha menutupi perasaan kesalnya. "Aku hanya baik kepadamu," gumamnya pelan.

Jungkook yang tidak jelas mendengar suara Taehyung langsung mengerutkan kening. "Hyung, barusan bilang apa?"

"Bukan apa-apa." Taehyung buru-buru mengalihkan pembicaraan, lalu berkata dengan nada memerintah, "Ayo, lanjutkan makananmu. Kau harus menghabiskan semuanya!"

.

To Be Continued!

.

.

Hai! Hello! Annyeong!

Udah nyampe chapter 5 aja nih itu artinya...fanfic ini akan segera berakhir T.T

Gimana? Gimana? Makin kesini makin seru kan? Atau engga? Ehehe. Makasih yang udah membaca fanfic yang tidak seberapa ini. Dan yang comment, you're the real MVP! Love you so much! Aku tahu fanfic ini masih banyak kurang nya jadi, terima kasih banyak yang udah nunjukkin dimana kesalahan ku, aku akan memperbaikinya, jangan lupa tunjukkin kesalahanku lagi ya kalau ada salah, jangan sungkan, okay? Kay? Kay? Sekali lagi LOVE YOU!

See you braddah and sistah/ditimpukkin/