In The Time
.
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Yong Junhyung
Genre : YAOI/Shonen-ai/Fantasi
Pairing : YunJae, (Slight) JunJae
Note : Cerita ini terinspirasi dari salah satu film Korea. Namun saya lupa judulnya. Ini adalah FF dengan genre Fantasy pertama saya. Semoga kalian semua menyukainya.
Warning : Cerita pasaran, alur lamban, typo(s)bertebaran, bahasa tak sesuai EYD, judul yang tidak selaras dengan isi cerita
Chap : 3 (tiga)
.
.
.
Jaa, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^
.
.
DOUZO
.
.
::
::
In The Time
::
::
Last chap
Junhyung hanya menatap datar pada Youngwoong, dan tanpa menjawab apapun, segera ia pergi dari tempat itu. Dan saat ia melewati Jaejoong kecil, pandangan mata mereka bertemu. Hanya sekian detik pandangan keduanya bertemu, sebelum akhirnya Junhyung memutuskan kontak itu dan melangkah pergi menjauh.
Youngwoong hanya bisa menahan emosinya saat melihat kejadian itu. Tidak, ia tak akan membiarkan takdir bergulir diantara dirinya dan Junhyung.
"Aku datang kesini untuk mengubah semuanya, tak akan kubiarkan takdir mengalir diantara kita." gumam Youngwoong pelan sambil menatap sendu kearah Junhyung yang semakin menjauh dari pandangannya.
.
.
.
Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi nyaring dalam SMA Shinki. Segera setelahnya, terdengar derap langkah kaki para siswa yang berebut keluar kelas. Semuanya ingin keluar terlebih dahulu dari kelas masing-masing, karena sudah merasa penat seharian berada dalam kelas.
Disalah satu kelas, tepatnya kelas XI 4, nampak semua murid tengah membereskan buku masing-masing dan bersiap untuk pulang kerumah. Disalah satu deret bangku, nampak Jaejoong kecil yang juga tengah membereskan buku pelajarannya. Ia terlihat begitu sibuk dengan kegiatannya, sampai-sampai tak menyadari jika seorang namja dengan mata musangnya yang tajam, tengah memandangnya secara intens.
"Yeoppo!" gumam namja itu sambil menaikkan sedikit kacamata baca yang bertengger diwajahnya. Senyum manis segera tercetak diwajahnya sambil terus memperhatikan tingkah laku Jaejoong kecil.
BRAKKK
"Joongie~"
Suara gebrakan dipintu dan dibarengi dengan suara teriakan kencang membuat Jaejoong kecil tersentak kaget, hampir saja ia menjatuhkan buku yang akan dimasukkannya ke dalam tas. Semua siswa yang kebetulan masih berada dikelaspun dibuat kaget karena gebrakan barusan.
Tap
Tap
Tap
Tanpa menghiraukan tatapan kesal yang dilayangkan siswa kelas XI 4 itu, orang itupun terus melanjutkan langkahnya mendekat kearah Jaejoong kecil. "Joongie, kajja kita pulang!" teriak orang itu lagi sambil kini menarik-narik seifuku Jaejoong kecil.
"Junsu-ie, bisakah kau tidak berteriak? Telingaku berdengung karena suara berisikmu itu!" jawab Jaejoong kecil sambil menatap sebal pada Junsu-sang pelaku teriakan kencang itu. "Dan lihatlah, semua orang memandang kesal kepadamu!" lanjutnya sambil menatap sebal kearah Junsu.
Junsupun mengangkat wajahnya sambil bergumam, "Hehe, mianhaeyo yoreobeun~" ucapnya dan memasang senyum diwajahnya.
"Ya sudah, kajja pulang." ajak Jaejoong kecil dan perlahan bangkit dari duduknya. Junsupun mulai menyusul Jaejoong kecil yang sudah berjalan duluan.
"Ah Joongie, bagaimana kalau kita mampir di kedai ramyun dekat stasiun? Aku ingin sekali makan ramyun~" kata Junsu sambil berjalan menyebelahi Jaejoong kecil.
"Umm, terserah kau saja." jawab Jaejoong kecil sambil terus berjalan keluar kelas.
Sementara keduanya terus berjalan keluar kelas, namja mata musang yang sedari tadi mengamati Jaejoong kecilpun mulai membereskan peralatan sekolahnya, merapikannya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah semua buku masuk kedalam tas, perlahan iapun bangkit dari kursinya dan keluar dari dalam kelas.
Ditempat lain, Youngwoong tengah berjalan tergesa menuju kelas XI 4 tempat Jaejoong kecil belajar, ia berlari tergesa sampai-sampai tak menghiraukan beberapa orang yang tertabrak olehnya. Ia lupa, jika setelah kejadian tadi pagi, takdir antara dirinya dan Junhyung segera dimulai. Dan ia harus bisa menghentikan itu semua untuk memperbaiki kehidupannya dimasa mendatang.
Youngwoong terus berjalan dan berbelok tepat diujung koridor, tepat di ruang ketiga setelah koridor itulah kelas XI 4. Iapun semakin cepat melangkahkan kakinya menuju kelas itu, dan sesampainya ia didepan pintu, segera ia berbelok, namun-
Brakkk
Srett
"Ouch!"
Teriakan segera terdengar darinya saat akan memasuki kelas, oh, lihatlah apa yang terjadi. Saat hendak masuk kedalam, ternyata dari arah dalam ada orang yang akan keluar kelas, dan kontan saja Youngwoong yang tak menyadari ada orang itu akan keluar, malah tertubruk dan menyebabkan dirinya kehilangan keseimbangan. Untung saja orang itu cepat menangkap tubuh Youngwoong, hingga Youngwoong tak sampai terjatuh.
"Gwencanha?" tanya orang itu masih setia menggenggam tangan Youngwoong.
Youngwoongpun mendongak perlahan saat mendengar suara itu, dan matanya membulat sempurna saat melihat siapa orang itu.
"Kau-"
::
::
In The Time
::
::
Jaejoong kecil dan Junsu kini tengah berjalan melintas dilorong sekolah menuju pintu belakang sekolah mereka, karena tadi Junsu mengajak untuk makan ramyun dekat stasiun, maka dari itu mereka memilih lewat pintu belakang sekolah yang jaraknya lebih dekat dengan stasiun itu.
Nampak keduanya yang tengah bercerita sepanjang perjalanan. Sesekali nampak keduanya tertawa saat menemukan hal-hal lucu disekitarnya.
"Dan kau tahu Joongie, setelah kejadian itu Ilhoon tak berani lagi pergi sendirian ke kamar mandi. Ia benar-benar percaya kalau kamar mandi sekolah kita ada penunggunya. Euy kyang kyang~"
Junsu terus saja bercerita tentang pengalaman lucu yang ia alami bersama teman-teman sekelasnya. Memang Junsu dan Jaejoong kecil berada dikelas yang berbeda.
Jaejoong kecilpun hanya tersenyum kecil menanggapi ocehan sahabatnya ini. Merekapun terus bercerita sepanjang perjalanan, hingga akhirnya Jaejoong menghentikan langkahnya saat matanya menatap sosok namja yang tengah berjalan pelan kearahnya.
"Junhyung." lirihnya kecil hampir tak terdengar.
Junsu yang melihat Jaejoong kecil berhentipun seketika ikut menghentikan langkahnya, "Eh, Joongie waeyo? Kenapa berhenti?" tanya Junsu sambil menatap bingung kearah Jaejoong kecil.
Jaejoong kecil hanya diam tak menjawab, namun matanya terus menatap kearah Junhyung yang sudah berjalan semakin dekat kearahnya.
"Joongie-" panggil Junsu lagi dan kini sambil mengibaskan tangannya didepan wajah Jaejoong kecil.
Deg
Jantung Jaejoong kecil berdetak kencang kala matanya bertemu pandang dengan mata Junhyung. Ya, tadi saat Junsu memanggil nama Jaejoong kecil, Junhyung mendengarnya dan segera mendongak. Ia baru saja keluar dari ruang music, dan sekarang ia hendak pergi ke kantin untuk membeli minuman sebelum pulang ke rumah.
Jaejoong kecil masih setia berdiam ditempatnya, dan matanya masih terus menatap ke arah Junhyung. Junhyungpun demikian, ia juga terus berjalan dan matanya terus menatap ke arah Jaejoong kecil.
Tap
Tap
Tap
Perlahan langkah Junhyungpun semakin mendekat kearah Jaejoong kecil, seiring dengan langkah Junhyung yang semakin mendekat ke arahnya, jantung Jaejoong kecilpun juga berdegak kencang. Semakin lama jarak keduanya kian dekat, merekapun tetap saling menatap satu sama lain. Kini Junhyung tinggal selangkah lagi melewati akan melewati Jaejoong kecil, namun-
"Junhyung-ssi!"
Tap
Junhyung menghentikan langkahnya tepat setelah Jaejoong kecil memanggil namanya. Iapun berhenti tepat disebelah Jaejoong kecil.
"Junhyung-ssi." panggil Jaejoong kecil lagi dan kini membalik tubuhnya agar menghadap kearah Junhyung. Junhyungpun demikian, ia memutar badannya agar bisa berhadapan dengan Jaejoong.
"Nde?" tanya Junhyung sambil menatap Jaejoong kecil.
Jaejoong kecil segera menunduk saat dilihatnya Junhyung yang menatap kearahnya, entah kenapa pipinya terasa panas saat Junhyung menatapnya seperti itu. "E..emm, i..itu-" gugup Jaejoong kecil tak tahu harus memulai dari mana. Iapun merutuki kegugupannya itu.
"So..soal tadi pagi-"
"Gwencanha. Kebetulan aku berada disana dan melihat Sungjae akan memukulmu." jawab Junhyung cepat memotong ucapan Jaejoong kecil. Dengan wajah yang datar tanpa ekspresi berarti di dalamnya.
"E..eh? A..ania. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih. Gomawo sudah menolongku." jawab Jaejoong kecil kini sudah berani mendongakkan wajahnya guna menatap Junhyung.
"Ne. Cheonma." jawab Junhyung singkat.
"Emm, kalau kau tak keberatan, bagaimana kalau aku traktir kau makan ramyun siang ini. Anggap saja sebagai ucapan terimakasihku karena sudah menolongku tadi." kata Jaejoong kecil lagi dan menatap penuh harap pada Junhyung. Entahlah, ide ini muncul begitu saja diotaknya.
Junhyungpun sejenak berfikir saat mendengar ajakan Jaejoong kecil, dan iapun segera menganggukkan kepala menyutujui ajakan Jaejoong kecil. Kebetulan ia belum makan siang, jadi ia menyutujui ajakan Jaejoong kecil itu.
Jaejoong segera memekik girang saat melihat anggukan Junhyung itu, iapun tersenyum cerah guna mengekspresiakan kegembiraannya karena Junhyung menyutujui ajakannya.
"Kajja kalau begitu." kata Jaejoong kecil lagi dan mulai melangkahkan kakinya. Junhyungpun menghendikkan bahunya sekejap sebelum akhirnya mengikuti langkah Jaejoong kecil.
Namun sepertinya ada hal yang dilupakan oleh Jaejoong kecil? Ah iya, ia melupakan keberadaan sahabatnya yang kini tengah melongo menatap kepergian Jaejoong kecil.
Junsu, yang memang tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Junhyung dan Jaejoong kecil, sedari tadi hanya diam mendengarkan keduanya berbicara. Dan ia semakin membelalakkan matanya tak percaya saat Jaejoong kecil melangkah pergi meninggalkan dirinya sendiri disana.
"MWOYA!"
::
::
In The Time
::
::
Disaat yang bersamaan, nampak Youngwoong yang tengah berjalan sedikit tergesa dilorong kelas. Nampak kalau dirinya tengah mencari sesuatu karena kepalanya yang tak berhenti menengok kesana-kemari. Raut wajahnyapun sedikit mengeras saat tak menemukan apa yang dicarinya.
Sementara tak jauh dibelakangnya, nampak seorang namja culun yang juga ikut berjalan tergesa mengikuti setiap langkah Youngwoong. Yah, nampaknya namja ini adalah namja yang tadi tak sengaja ditabrak Youngwoong saat hendak masuk ke dalam kelas Jaejoong kecil.
"Yah, apa benar kau melihatnya berjalan kearah sini!" teriak Youngwoong setelah sekian lama berjalan, dan iapun sedikit berteriak karena tak berhasil menemukan apa yang dicarinya.
Namja itupun hanya mengangguk sekilas dan menaikkan kaca mata yang melorot dari hidungnya. "Ne, aku melihatnya berjalan kemari bersama Junsu-ssi." jawab namja itu sambil menatap Youngwoong.
Yah, ternyata yang sedang dicari oleh Youngwoong adalah keberadaan Jaejoong kecil. Ia bertekad harus menemukan Jaejoong kecil sebelum Jaejoong kecil bertemu terlebih dahulu dengan Junhyung dan mulai mejalankan takdir mereka.
"Tapi aku tak menemukan mereka dimanapun!" kesal Youngwoong dan tanpa sadar berteriak kencang dan menyebabkan beberapa siswa kebetulan belum pulang dan berada disekitar mereka menoleh kearahnya.
"Apa mungkin ia lewat pintu belakang?" gumam namja itu lagi nampak seperti berfikir, dengan telunjuk yang ditaruh di pelipisnya.
"Ah, benar juga." pekik Youngwoong dan segera setelahnya kembali berjalan cepat menuju pintu belakang sekolah, dan berharap kalau ia belum terlambat. Namja culun itupun kembali mengikuti langkah Youngwoong yang berjalan sangat tergesa-gesa dihadapannya.
Sementara itu, Jaejoong kecil kini tengah menormalkan detak jantungnya yang entah kenapa sekarang malah berdetak sangat kencang. Iapun tak berani menatap Junhyung yang kini sudah berjalan tepat disampingnya. Nampaknya Jaejoong kecil benar-benar melupakan keberadaan Junsu yang sekarang entah berada dimana. Ternyata jatuh cinta membuat Jaejoong kecil melupakan segalanya.
"Emm, Jaejoong-ssi-"
"Panggil saja Jaejoong." kata Jaejoong kecil cepat memotong perkataan Junhyung.
"Ah, ne. Jaejoong-ah, apa namja tadi itu adalah temanmu?" tanya Junhyung sambil menatap Jaejoong kecil sekilas.
Jaejoong kecil segera mengerutkan keningnya bingung akan ucapan Junhyung, "Nde?"
"Namja yang bersamamu tadi, apa ia temanmu?" tanya Junhyung lagi memperjelas keadaan.
Jaejoong kecilpun semakin tak mengerti dengan ucapan Junhyung, iapun semakin mengerutkan keningnya, namun tiba-tiba-
"OMO! Junsu!" teriaknya kencang saat menyadari perkataan Junhyung itu. Iapun panik saat tak menemukan sahabatnya itu disebelahnya.
"Omo, oteokhae, oteokhae!" ucapnya panik sambil berjalan mondar-mandir.
"Kau bisa menelponnya!" kata Junhyung dan sukses membuat Jaejoong kecil menghentikan langkahnya.
"Ah, benar juga!" ucap Jaejoong kecil dan setelahnya iapun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Junsu.
Junhyung diam-diam mengulum senyum saat melihat kepanikan Jaejoong kecil tadi. Entahlah, namun dimatanya tingkah Jaejoong kecil itu sungguh lucu.
"Junsu~ mianhae. Eodiseoyo?" tanya Jaejoong kecil setelah sambungan telponnya tersambung. "Jinja? Ah, jeongmal mianhaeyo~" kata Jaejoong kecil lagi sambil memasang wajah bersalah yang tentu saja tak akan bisa dilihat oleh Junsu.
"Ne, besok aku akan mentraktirmu sebagai ganti hari ini. Annyeong~" kata Jaejoong kecil lagi dan mengakhiri panggilannya.
"Bagaimana?" tanya Junhyung setelah Jaejoong kecil mengakhiri panggilannya pada Junsu.
"Ah, nde. Ia sudah pulang. Ah, kenapa aku bisa melupakannya ya." gumam Jaejoong kecil lagi sambil memasukkan ponselnya kedalam kantung jasnya. "Kka, kita jalan lagi." lanjut Jaejoong kecil dan mulai berjalan kembali menuju pintu belakang.
Youngwoong masih berjalan tergesa menuju pintu belakang SMA Shinki, iapun semakin mengencangkan langkahnya saat dirinya sudah semakin dekat dengan pintu belakang itu. Namja culun yang sedari tadi mengikutinyapun, ikut mempercepat langkahnya saat dilihatnya Youngwoong sedikit berlari.
"Ah, itu dia!" teriak Youngwoong kencang saat melihat sosok Jaejoong kecil di dekat pintu belakang, dan segera saja ia berjalan lebih cepat menuju tempat Jaejoong kecil berada.
"Joongie!" teriak Youngwoong berusaha membuat Jaejoong kecil menyadari kehadirannya, namun ia harus menelan kekecewaan saat Jaejoong kecil tak merespon ucannya dan malah asik berbicara dengan Junhyung.
Sementara Youngwoong tengah sibuk mengejar Jaejoong kecil, namja culun yang sedari tadi mengikuti Youngwoongpun segera menghentikan langkahnya saat melihat Jaejoong kecil yang tengah berjalan bersama dengan Junhyung. Entah kenapa, namun raut wajah namja itupun segera berubah.
Ditatapnya tubuh Jaejoong kecil yang berada jauh didepannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan saat matanya menangkap senyum manis yang diberikan Jaejoong kecil pada Junhyung, segera ia memalingkan wajahnya dari pemandangan itu. Disentuhnya dadanya yang bergemuruh kencang sambil menutup perlahan matanya yang terbingkai kaca mata. Dan iapun segera melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu, sebelum hatinya kembali berdenyut sakit melihat keakraban antara Jaejoong kecil dan Junhyung itu.
::
::
In The Time
::
::
Jaejoong kecil tengah tertawa riang bersama Junhyung, yah, entah kenapa suasana canggung yang tadinya tercipta diantara keduanya, perlahan terkikis dan digantikan dengan suasana nyaman. Walaupun hanya saling mengenal nama satu sama lain saat pelajaran music berlangsung, namun keduanya seperti sudah saling mengenal lama, jika melihat keakraban yang terjadi sekarang.
"Jadi, kau sudah belajar memainkan gitar sejak kelas 1 SD?" tanya Jaejoong kecil saat mendengar cerita Junhyung tentang kegemarannya bermain gitar sejak kecil.
"Ne, sejak kecil aku memang sudah sangat tertarik dengan gitar. Dan aku bermimpi ingin bisa bermain gitar dipanggung megah." jawab Junhyung sambil tersenyum dan entah disadarinya atau tidak, senyumnya itu membuat Jaejoong kecil merona merah.
"A..ah begitu. Umm, semoga kau bisa mencapai impianmu!" kata Jaejoong kecil tulus mendoakan Junhyung. Junhyung hanya tersenyum dan menoleh pelan kearah Jaejoong kecil.
"Joongie!"
"Eh? Sepertinya ada yang memanggilku." kata Jaejoong kecil saat samar-samar ia mendengar ada yang memanggil namanya.
"Nde? Siapa ya-"
"Joongie!"
"OMO!"
Jaejoong kecil segera berteriak kaget karena tiba-tiba tedengar suara teriakan yang memanggil namanya. Segera ditolehkannya wajahnya keasal suara dan menemukan Youngwoong yang tengah berjalan cepat kearahnya.
"Hyung~" panggil Jaejoong kecil bertepatan dengan Youngwoong yang sampai disebelahnya.
"Joongie!" panggil Youngwoong lagi sambil menormalkan nafasnya yang terengah-engah. "Kajja kita pulang!" lanjut Youngwoong lagi setelah nafasnya kembali teratur.
"Anio hyung. Aku akan pergi dengan Junhyung. Jadi hyung duluan saja pulangnya." jawab Jaejoong kecil sambil tersenyum kearah Youngwoong.
Youngwoong menggeleng pelan, "Anio, kau harus pulang sekarang. Imo sudah menunggumu!" jawab Youngwoong bersikeras agar Jaejoong kecil ikut pulang dengannya. Iapun sedikit menaikkan intonasinya saat tanpa sengaja matanya menatap kearah Junhyung.
"Yah hyung, aku hanya akan makan ramyun dengan Junhyung! Kau ini kenapa sih!" geram Jaejoong kecil merasa aneh dengan kelakuan Youngwoong.
"Anio, kau harus pulang denganku!" dan tak akan kubiarkan kau bersama dengan Junhyung, lanjut Youngwoong dalam hati. Iapun segera menarik tangan Jaejoong kecil dan menyeretnya paksa.
"Yah hyung, lepaskan! Apa yang kau lakukan! Lepaskan hyung!" Jaejoong kecilpun memberontak dalam genggaman Youngwoong, namun tenaganya kalah dengan tenaga Youngwoong yang tengah marah.
"Dan kau, jangan pernah untuk mendekati Jaejoong lagi!" tunjuk Youngwoong pada Junhyung sebelum benar-benar pergi dan tetap menyeret paksa Jaejoong kecil.
Junhyung hanya menatap datar kearah Youngwoong, sebelum akhirnya menghendikkan bahunya dan memutar badannya guna berjalan berlawanan arah dengan Youngwoong.
"Dasar aneh!"
::
::
In The Time
::
::
Brakkk
Suara bantingan keras pintu terdengar saat Youngwoong dan Jaejoong kecil masuk ke dalam rumah. Jaejoong kecil dengan kasar membuka pintu rumahnya dan dengan langkah menghentak ia segera meluncur masuk ke dalam kamarnya.
"Waeyo? Apa yang terjadi?" tanya eomma Jaejoong pada Youngwoong saat mendengar anaknya datang sambil membanting pintu rumah.
Youngwoongpun tersenyum kecut sebelum menjawab pertanyaan eommanya itu. "Ania, eopseoyo imo. Mungkin Joongie hanya tengah kesal." jawab Youngwoong sambil duduk menyebelahi sang eomma.
"Ah, anak itu." gumam eomma Jaejoong sambil geleng-geleng kepala. "Kka, kau makan sianglah dulu. Imo akan menyiapkannya sekarang."
"Ne."
"Sekalian ajak Jaejoong, ia juga belum makan siang bukan." lanjut eomma Jaejoong sambil beranjak dari duduknya menuju ruang makan.
Sepeninggal sang eomma, Youngwoongpun menghela nafas sejenak. Ia tahu, ia sudah keterlaluan tadi saat menyeret paksa Jaejoong kecil, namun ia sungguh-sungguh ingin menjauhkan Jaejoong kecil dari Junhyung, agar nasibnya dimasa depan bisa berubah. Iapun sempat berfikir apa cara yang ditempuhnya sudah benar atau malah tambah menyakiti dirinya? Namun kembali saat dirinya mengingat bagaimana Junhyung yang menghianatinya dimasa mendtang terljntas diotaknya, dan menyebabkan dirinya kembalk membulatkan tekadnya.
"Ania, ania. Kau tak boleh lemah! Kau harus yakin dan fokus. Ya, ini sudah benar. Jalan ini yang memang harus kau ambil." gumam Youngwoong sambil memejamkan matanya.
"Kau harus yakin!" ucapnya lagi dan perlahan membuka matanya. Ditatapnya sebentar pintu kamar Jaejoong kecil dari arah bawah, sebelum akhirnya bangkit dan mulai berjalan pelan ke arah kamar Jaejoong kecil.
Tok
Tok
Tok
Youngwoong mengetuk pelan pintu kamar Jaejoong kecil, berniat mengajaknya untuk makan siang bersama, namun Jaejoong kecil sama sekali tak merespon, dan tetap berdiam diri di dalam kamarnya.
"Joongie, kajja makan siang. Imo sudah membuatkan makan siang." teriak Youngwoong dari luar berharap Jaejoong kecil akan merespon.
"Joongie." panggil Youngwoong lagi karena Jaejoong kecil sama sekali tak menyahut panggilannya.
"Baiklah, aku minta maaf soal yang tadi. Aku tak ada maksud lain. Aku hanya ingin supaya kau tak merasa sakit dikemudian hari." kata Youngwoong lagi masih berusaha membuat Jaejoong kecil agar mau merespond ucapannya.
"Jaejoongie!"
"..."
Tok
Tok
Tok
"Buka pintunya atau ku dobrak!" teriak Youngwoong kencang sedikit merasa kesal atas sikap Jaejoong kecil itu.
"Jaejoo-"
Ceklekk
"Aku masih marah padamu! Dan jangan harap aku mau memaafkanmu." kata Jaejoong kecil setelah membuka pintu kamarnya. Dan tanpa mengatakan apapun lagi, Jaejoong kecil segera keluar dari kamarnya dengan wajah yang datar dan sebelumnya menabrakkan tubuhnya pada Youngwoong tanda dirinya masih kesal dengan perbuatan Youngwoong padanya.
"Haah, nampaknya ia benar-benar marah." gumam Youngwoong sambil menatap tubuh Jaejoong kecil yang semakin jauh dari pandangannya.
::
::
In The Time
::
::
Malam menjelang, kini eomma Jaejoong tengah menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Youngwoong yang baru saja selesai mandi, segera ikut membantu sang eomma menyiapkan makanan. Iapun kini tengah memotong sayuran dengan apron merah bermotif polkadot yang terpasang ditubuhnya.
"Kau bisa memasak juga rupanya." kata eomma Jaejoong saat melihat Youngwoong yang dengan cekatan memotong bahan-bahan makanan.
Youngwoong tersenyum sekilas sebelum menjawab, "Ne. Aku sudah terbiasa memasak sendiri saat di Amerika." jawabnya dan menatap pelan ke arah sang eomma.
"Hah, harusnya aku juga mengajari Jaejoong cara memasak, supaya suatu saat nanti jika aku tak ada, ia bisa mengurus dirinya sendiri." kata eomma Jaejoong sambil menerawang jauh dan tanpa sadar mengusap pelan perutnya.
Youngwoongpun melihat pergerakan tangan sang eomma, dan segera ia sadar apa yang tengah dialami oleh sang eomma. "Aigoo, apa yang imo bicarakan! Sudahlah, tak usah membahasnya lagi." jawab Youngwoong cepat saat mendengat perkataan eommanya itu. Sedikit perasaan sesak dirasakannya saat mendengar perkataan sang eomma.
"Aku hanya ingin agar ia bisa mandiri, dan bisa bertanggung jawab!" jawab eomma Jaejoong lagi dan tersenyum penuh arti menatap Youngwoong.
"Aku pulang~"
"Ah, itu samchon. Kau lanjutkan sebentar ne, imo akan menyiapkan air hangat untuk samchon terlebih dahulu." kata eomma Jaejoong dan setelahnya iapun segera berjalan dengan senyum yang mengembang diwajanya.
Youngwoong hanya menatap sang eomma dengan senyum kecil mengembang diwajahnya, ia sangat tahu apa yang membuat eommanya itu terlihat sangat bahagia seperti ini.
"Eomma terlihat sangat bahagia. Tapi Tuhan sangat tak adil karena tak membiarkanmu menikmati kebahagiaan itu lebih lama, dan tak membiarkanmu melihat pertumbuhan putra kecilmu nanti." lirih Youngwoong sambil terus menatap kedua orang tuanya yang masih berada di ruang tamu.
Bisa ia lihat kini sang eomma tengah membisikkan sesuatu kepada sang appa, dan detik berikutnya sang appa terlihat sedikit kaget, namun itu tak berlangsung lama, karena setelahnya, sang appa sudah tersenyum girang sambil menatap sang istri dan mengecup sayang kening istrinya. Dan tak lupa sambil mengusap sayang perut sang istri.
"Nikmatilah waktu kalian sekarang ini. Aku sangat mencintai kalian. Eomma, appa, saranghae."
::
::
In The Time
::
::
Suara kicauan burung terdengar nyaring dipagi hari yang sangat cerah ini. Sinar matahari yang bersinar terangpun menambah cerah suasana pagi kali ini. Sinar mataharipun tak lupa masuk melalui celah jendela kamar Jaejoong kecil, dan membuat Jaejoong kecil menggeliat pelan dari tidurnya, terganggu akibat sinar matahari yang menyilaukan matanya.
"Eungh." lenguhan terdengar darinya dan perlahan iapun membuka matanya. Iapun segera menggerakkan badannya yang terasa sedikit kaku lalu perlahan bangkit dari tempat tidurnya.
Ceklekkk
Pintu kamar Jaejoong kecil tiba-tiba terbuka dan menampakkan Youngwoong yang tengah mengenakan apron merah dibadannya. "Kau sudah bangun?" tanya Youngwoong saat melihat Jaejoong kecil sudah bangun dari tidurnya. Ia yang tadinya berniat membangunkan Jaejoong kecil segera mengurungkan niatnya saat melihat Jaejoong kecil yang sudah bangun.
"Hemm." gumam Jaejoong kecil tak menjawab pertanyaan Youngwoong dan malah mencebirkan bibirnya lalu beranjak turun dari kasur. Rupanya Jaejoong kecil masih merasa marah dengan Youngwoong atas kejadian kemarin.
Youngwoong hanya mengangkat bahunya acuh saat mendapat respond seperti itu. Biarlah, nanti pasti Jaejoong kecil akan mau memaafkannya dirinya dengan sendirinya.
"Setelah mandi segeralah turun untuk sarapan bersama. Aku dan imo sudah membuat sarapan kesukaanmu." kata Youngwoong lagi saat dilihatnya Jaejoong kecil yang mengambil handuk dan bersiap masuk ke kamar mandi.
Blammm
Dan suara debaman keras dari pintulah yang menjawab pertanyaan Youngwoong, setelah sebelumnya Jaejoong kecil menutup pintu kamar mandi yang tak bersalah itu dengan sedikit kasar.
"Ck, dasar bocah!" umpat Youngwoong merasa kesal juga dengan tingkah Jaejoong kecil itu.
.
.
.
Setelah menyelesaikan acara sarapannya, kini Jaejoong kecil tengah bersiap untuk berangkat sekolah. Bisa kita lihat kini ia yang sudah siap dengan seifukunya, dan setelah merapikan sedikit penampilannya ia bergegas keluar dari kamar dan bersiap berangkat sekolah.
"Eomma, appa, aku berangkat." teriak Jaejoong kecil sambil menjalan mendekat kearah bumonimnya.
"Ne, hati-hati dijalan."
"Ne."
"Samchon, imo, aku juga berangkat. Aku ingin mengantar Jaejoong." kata Youngwoong dan segera mendapat tatapan tak suka dari Jaejoong kecil.
"Yah, aku bukan anak kecil. Untuk apa aku diantar!" kesal Jaejoong kecil dan tak sadar meninggikan intonasi suaranya.
"Jaejoong-ah, jangan begitu. Biarkan Youngwoong mengantarmu. Biarkanlah ia menikmati waktunya selama berada di Korea." kata appa Jaejoong sambil menatap lembut sang anak.
"Tapi-"
"Sudahlah Joongie, apa salahnya Youngwoong mengantarmu." kata eomma Jaejoong mencoba menenangkan sang putra.
Jaejoong kecilpun mendecak sebal, sebelum akhirnya menjawab, "Terserah kalian. Aku berangkat!" jawab Jaejoong kecil akhirnya dan setelahnya segera berjalan keluar rumah.
"Samchon, imo, aku pergi."
Dan Youngwoongpun segera pergi menyusul Jaejoong kecil setelah sebelumnya berpamitan pada bumonimnya.
::
::
In The Time
::
::
Jaejoong kecil mempercepat langkahnya kala didengarnya suara Youngwoong yang terus memanggil namanya. Iapun sengaja mempercepat langkahnya agar Youngwoong tak bisa mengejar dirinya. Namun seberapapun berusahanya ia untuk menghindari Youngwoong, tetap saja Youngwoong bisa menyusulnya dan bahkan kini Youngwoong sudah berada tepat disebelahnya dan bersiap untuk menghentikan langkahnya.
"Yah, berhenti sebentar!" teriak Youngwoong sambil menahan lengan Jaejoong kecil yang terlihat sedikit kesal.
"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" balas Jaejoong sambil berteriak pula sambil terus berusaha melepaskan genggaman Youngwoong dari lengannya.
"Yah, aku hanya ingin bicara sebentar." jawab Youngwoong mulai menurunkan intonasi suaranya.
"Ck, mau bicara apa lagi kau!"
"Maafkan sikapku kemarin. Aku tak bermaksud begitu." kata Youngwoong akhirnya dan perlahan melepaskan genggamannya dari lengan Jaejoong kecil.
Jaejoong kecil yang merasa pagangan Youngwoong terlepas, akhirnya kembali melangkahkan kakinya menjauh dari Youngwoong.
"Aisa, anak itu!" geram Youngwoong karna lagi-lagi Jaejoong kecil menjauhinya.
"Jaejoongie dengarkan aku sebentar. Jaejoongie-"
"..."
"Jaejoongie!"
"..."
"Jaejoo-"
"Apa lagi!" jawab Jaejoong kecil ketus sambil membalikkan badannya menatap Youngwoong. Ditekuknya wajahnya masam menunjukkan kalau dirinya masih kesal.
"Kau ini! Aku hanya ingin minta maaf." jawab Youngwoong sambil tersenyum berharap Jaejoong kecil akan memaafkan dirinya.
"Kau serius meminta maaf?"
"Tentu."
"Baiklah, aku akan memaafkanmu, tapi jangan lagi berbuat seperti kemarin." kata Jaejoong kecil sambil menatap serius kearah Youngwoong.
"Ne, asal kau mau kembali bersikap seperti biasa kepadaku." jawab Youngwoong masih mempertahankan senyum diwajahnya.
"Yaksoke?" kata Jaejoong kecil lagi sambil menyodorkan jari kelingkinganya guna membuat yubikiri (pinky promise) dengan Youngwoong.
Youngwoong tersenyum kecil sebelum menjawab, "Yaksok!" jawabnya dan kemudian mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Jaejoong kecil.
"Kajja, jangan sampai kau terlambat!" ajak Youngwoong lagi dan setelahnya merekapun kembali berjalan pelan menuju SMA Shinki.
::
::
In The Time
::
::
Sepuluh menit berjalan kaki, akhirnya merekapun tiba di SMA Shinki, segera setelahnya Jaejoong kecil masuk ke dalam sekolah dan tak lupa sebelumnya melambaikan tangannya kearah Youngwoong sambil tersenyum cerah. Ah, sepertinya mereka sudah berbaikan aniya.
Youngwoongpun membalas lambaian tangan Jaejoong kecil sambil tersenyum manis pula, sampai tubuh Jaejoong kecil menghilang ditengah kerumunan siswa yang baru masuk, barulah Youngwoong menurunkan tangannya dan menghela nafas sejenak.
"Dia benar-benar menawan!"
"OMO!"
Jantung Youngwoong nyaris saja copot saat tiba-tiba disebelahnya sudah berdiri seorang namja culun dengan kaca mata baca yang bertengger manis dihididung mancungnya. Dengan kancing seifuku yang dikaitkan hingga kancing teratas, benar-benar membuat namja ini terlihat sangat culun. Belum lagi rambutnya yang disisir rapi dan diberi gel rambut.
"Kau membuat jantungku nyaris berhenti berdetak pabo!" geram Youngwoong kesal sambil mendeathglare namja culun itu. Ternyata namja culun ini adalah namja culun yang kemarin tak sengaja ditabrak oleh Youngwoong. Namja culun itu hanya tersenyum miring sambil mengusap belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Ck!" kesal Youngwoong lagi saat melihat ekspresi namja culun itu. "Apa yang kau katakan tadi? Siapa yang kau katakan menawan?" tanya Youngwoong saat teringat akan ucapan namja culun itu tadi.
Namja culun itu segera mengalihkan pandangannya menatap Youngwoong, iapun tersenyum kecil sebelum menjawab, "Jaejoong. Kim Jaejoong. Ia, benar-benar menawan aniya?" tanyanya pada Youngwoong sambil tersenyum manis.
Deg
Jantung Youngwoong segera bereaksi saat namja culun itu tanpa sadar sudah memujinya, iapun menikkan sebelah alisnya meminta penjelasan lebih lanjut.
"Jaejoong, dia namja yang mengagumkan." jawab namja culun itu sambil menerawang menatap langit biru diatas kepalanya. Senyum manis segera tercetak diwajahnya. Ah, nampaknya namja ini-
"Kau menyukai Jaejoong?" tanya Youngwoong setelah paham dengan apa yang dirmaksud namja culun dihadapannya ini.
"Nde?"
"Kau, apa kau menyukai Kim Jaejoong?" ulang Youngwoong sambil menatap kedalam mata musang namja culun itu.
"..."
"..."
"Ne." jawab pasti namja culun itu sambil mengangguk mantap dan tersenyum cerah, setelah sebelumnya keduanya terdiam cukup lama.
Youngwoong cukup kaget saat mendengar kenyataan itu, pasalnya dulu saat dirinya duduk di bangku SMA, namja culun dihadapannya ini sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan kepada dirinya. Dan walaupun mereka berada dalam satu kelas, namun keduanya sangat jarang berbincang.
Tik
Sebuah ide segera melintas diotak Youngwoong. Iapun segera tersenyum ah, lebih tepatnya menyeringai saat mendapatkan ide tersebut.
"Kau-" tunjuk Youngwoong pada namja culun itu, "Harus membantuku! Hanya kau yang bisa membantuku!" lanjutnya tersenyum cerah dan dengan suara yang penuh semangat. Tak lupa kilat semangat yang terlihat jelas dikedua mata bulatnya.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Konnichiwa minna san~~
Chap 3 datang. Bagaimana, bagaimana? Hahaha...
Ada yang tau siapa namja culun itu? Heheee, dan apa rencana yang akan dilakukan Youngwoong? Hoohoo
Apa masih ada diantara kalian yang kebingungan dengan jalan cerita ini? Kalau ada silahkan ditanyakan, dan saya akan berusaha menjawabnya ^^
Terimakasih bagi kalian yang kemarin sudah review, follow dan favorit cerita ini. Dan special thanks bagi yang uda review di chap sebelumnya :
iyta tan | Vic89 | Uchiha Tachi'4'Sora | gwansim84 | gyuiji | Dark Liliy | littlecupcake noona | shanzec | YunHolic | Guest | FiAndYJ | rinayunjaerina | fuwaliyaah | Byunchannie26 | Youleebitha | MaxMin | reviewer | SimviR | Elzha luv changminnie | xena hwang | ShinJiWoo920202 | Dhea Kim | Jung Jaehyun | merry jung
Ini balasan review kalian :
iyta tan : gomawo. Emm,, Yunho kapan nongol yah? Haha, ditunggu saja.
Vic89 : iya, saya juga mau bisa kembali ke masa lalu. Kelihatannya seru. Haha, iya, Yunho belom muncul, tapi~~~ hehe, ngelakuin apa yah? Yang pasti Jaejoong dewasa akan menjauhkan dirinya dengan Junhyung.
Uchiha Tachi'4'Sora : setuju! Junhyung memang keren sekali~~ Yay! Yunho mana ya? Hemmmm~~
gwansim84 : ne, hwaiting Woongie~~
gyuiji : iya tentu saja ini FF YunJae ^^
Dark liliy : iya sabar yah.. Belum saatnya Yunho muncul..wah jinja? Tapi saya kurang tau drama itu.. Tapi tenang saja, pada akhirnya Jaejoong tetap akan bersama Yunho~~
littlecupcake noona : iya mereka saling terhubung dan Jaejoong pergi ke masa lalu untuk mengubah nasibnya.
shanzec : iya, tujuannya memang seperti itu.
YunHolic : bukan masih tabu, hanya saja karena mereka masih pelajar SMA makanya rambut pirang masih dilarang. Hah, perawan(?) hahaha
Guest : emm, ya bisa dibilang seperti itu. Endingnya? Hemm, ya ditunggu aja ne, nanti ga surprise lagi kalau saya membocorkannya disini.
FiAndYJ : Jaejoong kecil memang suka sama Junhyung, dan Yunho sebentar lagi akan nongol~~
rinayunjaerina : gomawo, iya, saya juga yakin(?) kapan ya mereka bertemu? Hehe.. Ne ini dilanjut.
fuwaliyaah : haha, iya. Berarti kamu keponakanku. Kenalin aku istrinya Dongwoon #digampar. Ups, mian, aku salah memberi marganya, yang benar adalah Yook Sungjae, dan ia adalah magnae dari BToB ^^ kapan mereka pacaran? Ditunggu saja ne~~
Byunchannie26 : iya, dia mau ngubah supaya takdir dia dan Junhyung ga terjadi. Yunho tentu ada, ditunggu aja~~
Youleebitha : ne gomawo. Yunho masih sembunyi, keekee, ne ini next chapnya~
MaxMin : haha, annyeong~ ne, review lagi ne.
reviewer : Yunhonya masih saya umpetin~
SimviR : haha, memang biasanya Jaejoong dipanggil apa(?) iyah, dia itu cool~ ada, mereka terhubung di masa lalu.. Ne, hwaiting~
Elzha luv changminnie : ne, ini dilanjut~
xena hwang : emm, sepertinya iya. Soalnya saya lupa sama judul filmnya. Hehe, ne hidup cupu~(?)
ShinJiWoo920202 : iyah, dia suka Junhyung dari SMA. ne, ini dilanjut.
Dhea Kim : kapan ya mereka bertemu? Hemm~~
Jung Jaehyun : iya ini terinspirasi dari film. Tapi saya lupa judulnya, mungkin memang itu judulnya. Ceritanya sedikit saya ubah-ubah dibeberapa part.
merry jung : mana yah? Hahaha, masih saya kantongin XP Junsu dan Changmin sudah ada ne dichap sebelumnya, kalo Yunho dan Yoochun, diusahakan secepatnya menyusul~
Gomawo sudah review di chap kemaren, dan untuk chap ini jangan lupa untuk memberikan kembali sepatah dua patah kata untuk saya ne~~
Review wasurenaide ^^
.
Denpasar, 7 Maret 2014
