Tittle :Cheesy Life
Cast :Do Kyungsoo, Kim Jongin/Kai
Warning and Disclaimer :
Cerita murni milik saya yang terinspirasi dari beberapa soal ujian sekolah sosiologi. Seluruh pemain adalah milik dirinya masing-masing, keluarga dan Tuhan.
And no-NC for this chap.
Menulis NC adalah hal yang melelahkan untuk segala yang pernah kutulis. Dan chap ini masih dalam rate-M mengingat kontennya juga tidak mendidik untuk anak kecil serta percayalah aku punya definisi lain dari rate-M.
Semoga saja cerita ini di chapter kedua mulai kelihatan jelas dan tak ada yang bertanya 'apakah seperti itu akhirnya'. Cerita ini akan selesai jika di bagan penjelasannya sudah kucantumkan 'complete'
Sudah cuap-cuapnya. Silahkan baca dan review.
Second Life Start Here
Apakah kau tahu bagaimana terbangun dari kematian dan mendapatkan kehidupan yang 180 derajat berbeda dari kehidupanmu?
Mungkin itu terdengar konyol, absurd, gila dan apapun kata makian yang mungkin terlontar dari mulut-mulut tak tahu adab. Tapi, ada seorang manusia yang melewati proses sakitnya kematian dan kembali terlahir dengan nama yang sama tapi kehidupan yang berbeda.
Pria biasa yang hidup dalam pedih kehidupan dan kembali harus mengulang karena tragedy di kehidupan sebelumnya.
Pria yang menyadari cinta itu nyata dan harus menerima pahitnya ketika kekasihnya menjadikannya taruhan.
Pria yang meninggal di pelukan sang kekasih dan menyadari betapa bodohnya dirinya, betapa keras kepalanya dirinya, betapa tuli dan butanya dia akan cinta sang kekasih.
Mungkin, banyak orang yang menginginkan untuk kembali hidup dan memperbaiki semuanya. Namun Do Kyungsoo, menyesali hidupnya yang terlahir kembali sebagai seorang prostitusi.
Kyungsoo berjalan lunglai menuju kamarnya dalam sebuah bangunan mewah. Namun bangunan ini bukanlah miliknya, ia hanya salah satu dari sekian banyak pria dan wanita cantik yang mendiaminya. Sebuah bangunan yang menjadi tempat peristirahatannya setelah melayani para pelanggannya.
"Kau sudah pulang, soo?" tanya Baekhyun yang sedang mengeringkan rambutnya didepan cermin rias.
Kyungsoo menghempaskan tubuhnya yang terasa sangat sakit di bawah. Ia melirik Baekhyun yang bernasib sama dengannya. "Bagaimana dengan malammu Baek? Chanyeol sudah datang?"
Kyungsoo mengenali Baekhyun sudah lama, bukan hanya semenjak menjadi teman sekamar di rumah prostitusi ini. Tetapi, Baekhyun merupakan teman di kehidupan sebelumnya. Kyungsoo mengingat seluruh hidupnya sebelum terlahir kembali.
Tangan mulus itu meletakkan hairdyer dan tertunduk lesu. "Dia tidak datang." Ucapnya lesu. "Dia takkan datang, Soo. Hanya aku yang merasa bahwa Yeolli mempunyai perasaan padaku."
Kyungsoo bangkit dan memeluk Baekhyun dari belakang. Menatap bayangan mereka dari cermin 3 arah. "Jika ia mencintaimu, ia akan membelimu Baek. Membebaskanmu dari tempat terkutuk ini." sahutnya sembari meletakkan kepalanya di pundak Baekhyun. "Kalau kau percaya padanya, maka tunggulah."
Baekhyun mengangguk dan menjauhkan diri dari Kyungsoo. "Mandilah Soo, tubuhmu benar-benar bau seks."
Kyungsoo tertawa dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Melepaskan pakaiannya dan menatap semua bekas yang ditinggalkan pelanggannya semalam. Ia sadar bahwa air matanya turun tanpa henti dan tidak berniat sama sekali untuk menyekanya.
"Jongin-ah, aku merindukanmu." Ujarnya lirih, kedua lengannya merengkuh tubuhnya sendiri. "Tolong aku."
Cheesy Life
"Kyungsoo, bisa kau menerima pelanggan malam ini?" tanya Jessica yang tiba-tiba mampir ke kamarnya dan mengganggu tidur cantiknya.
"Tidakkah kau lihat aku terkapar?" tanya Kyungsoo retoris.
"Akan kuatur pertemuanmu untuk malam lusa." Balasnya tanpa peduli dan beralih pada Baekhyun yang membaca majalah di ranjangnya. "Baekhyun, seharusnya kau bersiap-siap bukan? Kau punya janji dengan Oh Sehun."
"Sebentar lagi, noona." Jawab Baekhyun terdengar sangat malas. Dan wanita itu pergi meninggalkan mereka.
Kepala Kyungsoo terangkat ketika nama yang dikenali di sebut. Menghiraukan rasa sakit dan letih di sekujur tubuhnya, ia bangkit dan menatap Baekhyun yang mulai merias wajahnya. "Apa kau tak apa-apa?" tanya Kyungsoo khawatir. "Bukankah kau juga baru melayani pria hidung belang semalam, dan siang ini kau sudah mau pergi lagi?"
"Sehun hanya menyuruhku untuk pura-pura menjadi teman kencannya. Ia ingin membuat cemburu sesorang." Sahutnya, tangannya masih sibuk untuk merias wajahnya. "Lagi pula, hanya kau yang bisa menolak atau menerima seorang pelanggan." Ucapan Baekhyun membuat Kyungsoo bungkam. Memanglah dirinya seorang prostitusi yang mempunyai kuasa cukup besar mengingat ialah primadona di rumah ini.
"Soo, kau baik baik saja? Apa ucapanku menyinggungmu?"
Kyungsoo menggeleng, "Tidak, hanya saja jika mereka tidak mengancamku dengan Tao. Mungkin saja aku tak berada disini." Balasnya setengah berbohong, mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Baekhyun berbalik dan menatap prihatin sahabatnya itu. ia harus menahan air matanya agar tak melunturi eyeliner-nya baru terpasang sebelah. "Kau pasti bisa mencari jalan keluar, Soo-ya."
Kyungsoo bangkit. "Perbaiki riasanmu Baek, aku akan keluar mencari udara segar." Ia segera mengambil mantelnya dan berjalan keluar dari rumah bejat ini. Tidak memperdulikan teriakan Jessica, ia terus melangkah. Hanya satu tempat yang bisa ia kunjungi sekarang. Apartemen kecilnya.
Baru saja ia ingin memasuki gedung apartemen itu, sosok Tao berjalan keluar dengan riang. "Hyung," panggilnya yang langsung berlari dan bergelayut manja di lengannya. "Kau mau menemaniku? Aku kelaparan dan tak ada makanan di dalam."
"Baiklah, kita belanja." Sahut Kyungsoo dan menarik adiknya menuju halte bis terdekat.
"Kita jalan kaki saja bagaimana? Aku ingin menikmati udaranya." Pinta Tao dengan manjanya. Kyungsoo hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah kaki Tao. Mereka terdiam cukup lama dan pecah ketika Tao terus melirik leher Kyungsoo. "Apa hyung bekerja semalam?"
Kyungsoo berhenti dan mengikuti arah pandangan adiknya. Cepat-cepat ia mengangkat kerah mantelnya, mencoba menutup bekas kemerahan yang masih terlihat sangat jelas. "Jangan kau khawatir. Ayo!" ia menarik Tao dan kembali berjalan menuju supermarket yang sudah dekat.
Tanpa disangka-sangka Tao kembali mengeratkan pelukannya di lengan Kyungsoo dan tertunduk lesu. "Hyung, tunggulah aku. Aku akan belajar sungguh-sungguh dan mengeluarkan hyung dari sana." Tekad Tao menyentuh hati Kyungsoo. Ia menyeka air matanya yang menumpuk sebelum jatuh dengan tangannya yang bebas. Ia tidak menjawabnya dan menyeret Tao lagi.
Seperti lupa dengan suasana yang sebelumnya tercipta, Tao dengan semangat mengoceh tentang harinya dan mendorong troly-nya yang mulai penuh dengan segala macam makanan. "Sayangnya, ia mempunyai buta warna parsial. Jadi, dia…hyung?"
Tao terhenti ketika ia menyadari Kyungsoo tertinggal jauh di belakang. Berdiri di belakang seorang pria dengan tangan terjulur mencoba meraih pria itu. ia mendekati kakaknya dan tanpa sengaja menabrak troly pria tersebut.
"Maafkan aku." Seru Tao kaget ketika pemuda tampan itu menoleh dengan tatapan dinginnya. "Aku tidak sengaja." Ia hanya bergumam dan beralih pada sosok Kyungsoo yang menutup mulutnya dengan mata berair. "Hyung, kau mengenalnya?"
Pemuda itu menatap intens Kyungsoo dan melembutkan pandangannya. Entah apa yang dipikirkan olehnya, pria itu menurunkan tangan Kyungsoo yang menutupi wajahnya. "Apa aku mengenalmu?"
Suara itu membuat seluruh kenangan kembali berputar seperti film pendek di kepala Kyungsoo. Ia mengangguk kaku dan menarik Tao menjauh darinya. Kim Jongin berdiri seperti terakhir kali ia melihatnya, hanya saja bukan wajah yang dialiri air mata dan sedikit bercak darahnya.
Kyungsoo kembali tersentak ketika sebuah tangan menariknya dan berakhir di sebuah pelukan. Ia menjauhkan diri dan menunggu Jongin untuk berbicara. "Katakan apa aku mengenalmu? Kenapa kau menangis dihadapanku?"
"Aku tidak mengenalmu," dustanya, terbukti dengan suaranya yang terbata-bata dan serak. "Mataku hanya kelilipan debu."
Jongin mengeratkan genggamannya. "Sepertinya kau memang mengenalku, meskipun aku tak mengingatmu. Dan kau sangat payah dalam berbohong. Siapa kau?"
"Maaf tuan." Suara Tao menginterupsi kedua insan yang melupakan kehadirannya. Ia sangat khawatir dengan keadaan kakaknya yang tidak biasanya menangis di hadapan orang asing. "Lepaskan hyung-ku dan biarkan kami pergi."
Kyungsoo mendesah kecewa ketika tangan Jongin melepaskan genggamannya. Hal itu tidak luput dari pengamatan Jongin serta Tao. "Siapa aku?"
"Kim…Jong…in." meski ragu, Kyungsoo mengucapkannya dengan penuh rasa rindu. "Kim Jongin. Kim Jongin. Kim Jongin. Jonginnie."
Jongin harus melepas troly-nya ketika tubuh Kyungsoo terhempas dalam pelukannya dan menangis tersedu-sedu. Ia harus merelakan jaket mahalnya ternodai air mata orang tak dikenal yang mengetahui namanya. Tapi perasaan aneh yang familiar membuatnya tanpa pikir panjang membalas pelukan pria ini dan mencoba menenangkannya. Melupakan keberadaan Tao yang terpaku.
Cukup lama, Tao dan Jongin membiarkan diri mereka menjadi bahan tontonan dan pembicaraan pengunjung supermarket. Jongin ingin sekali menghempas tubuh Kyungsoo yang kini perlahan tenang. Namun tiba-tiba isak tangis itu berhenti dan seluruh bobot tubuh Kyungsoo bertumpu padanya.
"YAK!" jongin menepuk pundak Kyungsoo mencoba memanggil pria dalam pelukanya sebelum tubuh itu merosot kelantai dan ia menyadari bahwa pria itu telah pingsan. "YAK! IREOHNA!"
"HYUNG!"
Jongin terus menepuk pipi Kyungsoo dan menyandarkan kepala itu di pundaknya. "YAK! Kakakmu pingsan!" paniknya.
"YAK! AKU JUGA TAHU!" sahut Tao tak kalah panic.
"MAKSUDKU DIMANA RUMAHMU?"
Cheesy Life
Tao dan Jongin hanya terdiam sembari menyesap coklat panas di tangan mereka. Banyak pertanyaan berkecamuk di kepala Jongin namun satu kalimat yang dikeluarkan Tao sebelumnya berhasil menahannya lebih lama di apartemen kecil ini.
"Mengapa banyak bercak kemerahan disekitar leher hyungmu?" tanya Jongin mencoba mengeluarkan satu persatu rasa penasarannya.
Bahu Tao tersentak. "Aku tak tahu,"
"Apa kau akan terus menjawab 'Tak tahu' untuk selamanya" Jongin sudah merasa kesal melihat Tao yang tidak menjawab satu pertanyaan pun, bagaimana juga kakaknya telah mempermalukannya dengan meneriaki namanya sembari menangis.
"Kapan anda pulang?"
Jongin menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap Tao tanpa jengah. Baru saja ia akan membalas perkataan pria dihadapannya. Suara isak tangis berasal dari sebuah kamar menghentikannya. Mereka segera beranjak dan memasuki kamar.
Kyungsoo duduk di tepi ranjang dengan wajah yang tertutupi tangan kecilnya. Ia mencoba meredam suaranya agar Tao tak menyadarinya tapi sayangnya suaranya tetap keras. Ia segera menghapus air matanya ketika sepasang kaki mendekatinya.
"Apa aku mengganggumu…Tao?" ucapannya terbata ketika ia menyadari bahwa sepasang kaki itu bukanlah milik adiknya.
Jongin berlutut dan menghapus air mata yang tertinggal. Ia merasakan sesuatu di dadanya berdenyut sakit dan cepat ketika melihat sosok dihadapannya terlihat ringkih dan tak berdaya. "kau baik?"
Suara selembut beledu membuat air mata kembali lolos dan memaksa Kyungsoo menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan raungan memalukan. Ia ingin memeluk sosok dihadapannya namun ia ingat bahwa Jongin sama sekali tidak mengingatnya. Dengan tangan gemetar, Kyungsoo menjauhkan tangan Jongin dari wajahnya dan beringsut pergi. Ia kembali terhenti ketika menyadari ekspresi sedih adiknya yang berdiri diambang pintu.
"Bisa kau menjelaskan apa yang terjadi hyung?" pinta Tao, lemah.
Kyungsoo menguatkan hatinya untuk berbalik dan membungkuk hormat pada Jongin. "Maafkan sikapku sebelum ini," ujarnya parau, masih membungkuk. "Saya sepertinya salah mengenali anda."
Jongin mendekat dan menarik Kyungsoo agar menatap matanya. "Jika kau salah mengenaliku," entah mengapa Jongin merasa marah dengan penjelasan itu. "Bagaimana kau menjelaskan namaku? Kau memanggilku dengan nama yang benar dan terkesan mengenalku."
"A..ak..aku," Kyungsoo tidak bisa merasakan kakinya dan juga suaranya ketika kembali menatap mata itu. seluruh emosi membuncah di dadanya hingga terasa sakit. jika ia bisa memilih, ia memilih untuk tidak mengulang hidupnya dengan seluruh memori ini. "Aku..aku…" ia kembali terisak dan melepaskan tangannya dari cengkraman Jongin yang melemah. "ku…kumohon…tinggalkan aku."
Mata Jongin dan Tao hanya terfokus pada Kyungsoo yang perlahan menuju sudut ruangan, terduduk dan menyembunyikan kepalanya. Suara isak tangisnya kembali menggema di ruangan itu dan menyanyat hati siapapun yang mendengarnya.
Tao berjalan mendekati Jongin dan menariknya keluar tanpa perlawanan. "Aku harap anda bisa mengerti, sepertinya anda membuka luka lama hyungku" ujarnya datar dan menutup pintu. Ia kembali ke kamar itu, namun tak bisa melakukan apapun kecuali menatap hyung-nya menangis.
Cheesy Life
"Mengapa matamu bengkak, Soo-ya?" tanya Baekhyun prihatin. "Dan kemana saja kau selama dua hari? Jessica terus mengomel karena kau tidak kunjung kembali."
"Aku pulang ke rumah, Baek." Balasnya singkat, menghempas tubuhnya keranjang miliknya. "Aku lelah."
"Tidurlah, aku akan bilang pada Jessica kalau kau sudah kembali."
"Hmm,"
Baru saja, rasanya ia memasuki alam mimpi. Beberapa suara kembali mengusik dirinya. Baekhyun sedang berteriak menghadang sesuatu untuk memasuki ruangan mereka. ia berjalan dan membuka pintu.
"LIhat, dia sudah bangun." Ucap Jessica penuh kemenangan kea rah Baekhyun. "Ada yang ingin kubicarakan padamu?" Belum sempat Kyungsoo bertanya, wanita itu sudah memulai pembicaraan mereka. "Kemas barang-barangmu. Seseorang telah membelimu, siang ini ia akan mengambilmu."
Wanita itu pergi meninggalkan Baekhyun dan Kyungsoo yang terpaku. Banyak prostitusi lain yang melempar pandangan prihatin padanya. Sebuah rahasia umum bahwa mereka lebih memilih menjadi prostitusi biasa dibanding hak milik perseorangan.
Dengan lunglai Baekhyun membantu Kyungsoo memasukkan baju-baju. Mereka tak berbicara satu katapun dan hanya diisi isak pelan dari Kyungsoo. Ia membenci dirinya yang selalu tergores oleh tinta nasib. Kapan ia akan menggores tintanya sendiri?
Kyungsoo tak berniat tampil menarik untuk dilihat oleh pembeli. Ia hanya memakai kemeja putih dengan jeans hitam. Rambutnya acak-acakkan dan jangan lupakan mata besarnya yang terlihat semakin besar karena bengkak. Ia turun ditemani Baekhyun yang menggeret kopernya menuju ruang VIP yang masih kosong.
"Jaga dirimu, Soo." Pesan Baekhyun sebelum berbalik dan pergi.
Kyungsoo hanya mengangguk dan menunggu pembeli dengan wajah suram. Mantel bulu digenggamnya erat, mencoba menahan air mata yang kembali menuruni pipinya. Dadanya terasa berat, bagaikan ditenggelamkan dalam ruang hampa. Ia hanya bisa merutuki nasibnya yang terus menderita dan tak mampu melakukan apapun. Bahkan sebuah pergolakan tak mampu ia lakukan.
"Apa kau akan terus menangis, eoh?" Suara itu membuat Kyungsoo terlonjak dan menatap pria yang berada disampingnya. Air mata yang ia coba tahan mati-matian, akhirnya kembali turun. "Matamu bengkak. Apa kau tak berhenti menangis sejak kemarin, hmm?" tangan Jongin terjulur dan menghapus air mata di pipinya.
"Kenapa kau disini?" ucapnya, tak lebih dari sekedar bisikan.
"Aku yang membelimu," balas Jongin terlihat tidak senang dengan kalimat yang diucapkannya. "Ayo pergi."
Ia membiarkan dirinya di tuntun oleh Jongin keluar dari rumah itu. Sekarang, ia merasa lebih dipermainkan oleh takdir. Apakah ia akan menjadi mainan murahan Jongin lagi? Membiarkan dirinya disentuh Jongin dan menyadari ia hanya budak yang diselamatkan karena taruhan bodoh mereka?
"Kyungie," panggilan Jongin membuat Kyungsoo menoleh sangat cepat. Bisa saja ia mematahkan kepalanya karena itu. "Maaf kalau kau tak menyukai panggilanku, tapi kau sangat manis di panggil seperti itu, terlebih lagi jika kau tak menangis."
Kyungsoo kini menikmati belaian tangan Jongin. "Menjadi mainannya, bukanlah hal buruk jika aku bersamanya." Sesalnya. "Aku mencintaimu, Kim Jongin."
Cheesy Life
Jongin tak benar-benar membelinya, ia menyelamatkan Kyungsoo. Ia membuat Kyungsoo tak harus melanjutkan pekerjaan kotor itu, membiarkannya pulang kerumah bersama adiknya, mencarikan pekerjaan yang lebih layak untuknya dan selalu berkunjung jika ia memiliki waktu.
"Kau baik-baik saja, Kyungie?" tanya Jongin disuatu petang akhir minggu yang cukup tenang. Ia kembali berkunjung ke apartemen kecil itu.
Kyungsoo hanya menggeleng lemah, tidak menghiraukan pandangannya yang mengabur serta kepalanya yang berteriak pusing. Ia terus mengaduk supnya. Jongin menghampirinya dan mengecek suhu tubuh pria mungil itu.
"Ya tuhan, Kyungie. Kau sangat panas." Seru Jongin yang langsung mematikan kompor, tidak peduli dengan aksi protes Kyungsoo dan menulis note sebelum menggotong Kyungsoo keluar apartemen menuju mobilnya.
"Jongin, kita akan kemana?" tanya Kyungsoo lemah. Ia menutup matanya dan membiarkan Jongin memasangkan sabuk pengaman.
"Rumah sakit! Kau pikir akan kemana lagi?" balas Jongin sinis.
"Apa kau marah?" Jongin tidak menjawabnya. "Jongin?"
"Bisakah kau diam? Aku menyetir." Umpatnya. "Aish, kenapa kau tak memberitahu kalau kau sakit eoh? Apa kau masih bekerja kemarin? Aku tahu kau perlu menyekolahkan Tao, tapi apa kau perlu memaksakan dirimu? Apa kau tuli? Kenapa kau tidak menjawabku?"
Kyungsoo menghela napas kesal. "Bukankah kau menyuruhku diam? Dan bagaimana aku menjawab jika kau terus memberondongku dengan pertanyaan." Balasnya ditengah rintihan kecil. "Jongin, badanku seluruhnya sakit."
"Aish, setelah ini kau tak perlu bekerja." Ungkapnya. "Biar aku yang mengurusmu, seluruh kebutuhanmu dan Tao."
"Tapi?"
"Tidak ada tapi tapian." Geram Jongin yang membopong Kyungsoo keluar dari mobil. Kyungsoo membuka sedikit matanya dan menyadari mereka telah tiba di rumah sakit. "Tugasmu hanya mengurus rumah dan menungguku pulang."
Kyungsoo terkekeh. "Aku terdengar seperti istrimu kalau seperti itu?" ia bisa merasakan Jongin menegang dan pelan-pelan meletakkannya di ranjang.
Seorang dokter mendekat dan mulai menempelkan ujung stetoskop dingin ke kulit Kyungsoo, memeriksa pupil mata dan lidahnya. "Sepertinya hanya flu biasa," ujarnya. Kyungsoo melihat tag name-nya yang bernama Jongdae. "Akan kuberi resep biasa saja."
Jongin membantu Kyungsoo turun dan berjalan menuju meja kerja. Kyungsoo sendiri merasa aneh ketika ia tak perlu menunggu gilirannya seperti di rumah sakit selama ini. Namun pertanyaannya segera terjawab. "Sebaiknya kau memeriksa darahnya juga hyung?"
"Jongin, kau jangan berlebihan." Jongdae melirik pria itu dari gerakan tangannya.
"Kau harus melakukannya, hyung." Desaknya, ia akan kembali berbicara ketika ponselnya bordering. "Harus!" ia menunjuk Jongdae dengan jarinya dan keluar dari ruangan.
Jongdae meluruskan punggung dan menghela napas selagi menatap Kyungsoo. Ia mengangkat gagang telponnya dan memanggil seorang perawat. "Anak itu sangatlah pemaksa," Kyungsoo hanya mengangguk kecil, ia tidak begitu mengenal Jongin tapi sudah jatuh dalam jerat cinta pria itu.
"Ada noda di wajahku?" tanya Kyungsoo ketika Jongdae tak berkedip memandangnya. Ia mengusap wajahnya dan seketika memundurkan dirinya saat dokter itu mencondongkan wajahnya dengan ekspresi sedih.
"Hidupmu pasti berat," ujarnya simpati. Kyungsoo menatapnya tak mengerti. "Sudah berapa kali kau mengulang hidupmu?" kali ini mereka sama-sama terpaku.
"Anda mengetahuinya?"
Jongdae menyandarkan tubuhnya dan menghela napasnya. "Ini pertama kalinya," Kyungsoo tak menjawab, "Kau terlahir kembali dengan semua ingatan?"
"Bagaimana?"
Dia tertawa yang terkesan sedih. "Hanya kutukan kecil yang diturunkan oleh keluarga, sama sepertimu. Hanya aku tak terlahir dengan semua ingatan itu." jelasnya.
"Bisa kau…?"
Jongdae mengangguk dan mengurut tengkuknya lelah. "Sebutan untuk beberapa orang seperti dirimu adalah Immortal Jumper, tenang saja kau bukan satu-satunya di dunia." Sahutnya seperti mengerti pikiran Kyungsoo. "Kau memang meninggal tapi tidak dengan ingatanmu. Jika kau bertanya adakah obatnya? Tak ada yang tahu." Ia kembali menyela Kyungsoo yang kini terlihat takut. "Kau hanya harus bertahan dengan seluruh kehidupanmu."
Ketukan di pintu membuat Jongdae menghentikan pembicaraan ini serta memaksa Kyungsoo untuk tidak bertanya lebih lanjut. Seorang suster dan Jongin masuk bersamaan. Jongdae menerima seluruh peralatan yang disodorkan oleh suster tersebut sementara Jongin kembali duduk disamping Kyungsoo.
"Kau terlihat sangat pucat. Kau lelah atau takut jarum suntik eoh?" godanya, Kyungsoo hanya bisa tersenyum kecil, tak terlalu bersemangat setelah mengetahui rahasianya.
Cheesy Life
Seminggu telah berlalu, keadaan Kyungsoo semakin memburuk. Kini Tao sedang menyuapi kakaknya dengan bubur yang bisa dikatakan layak dimakan untuk pasien. "Kau tak pergi?" Tao menggeleng, "Bagaimana dengan sekolahmu, eoh?"
"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sendirian, hyung?" balas Tao yang sepertinya berniat membuat Kyungsoo mati tersedak dilihat dari caranya menyuapi. "Kau sakit."
"Aku hanya flu,"
"Yang tak kunjung sembuh dari seminggu yang lalu. Yeah, aku percaya." Makinya tanpa peduli raut kesal Kyungsoo. "Sebaiknya hyung cepat sembuh sehingga aku bisa meninggalkan hyung dengan tenang. Dan," kalimat Tao terhenti dengan denting bel yang berbunyi buas. "Apa mereka berniat merusak belnya?"
Tao bangkit dan membuka pintu. Ia dikejutkan dengan dua sosok yang sangat kontras. Kim Jongin dengan mata merah, sembab dan jangan lupakan bengkak, terpaku dengan tangan yang mencoba menarik lengan pria lainnya untuk pergi. Sedangkan pria lainnya, berdiri dengan rahang mengeras.
"Kau siapa?"
"Aku Kim Jongdae, teman Jongin juga dokter yang memeriksa Kyungsoo beberapa hari yang lalu." jelasnya, "Boleh aku masuk?" Tao segera membukakan pintu lebar dan menyingkir dari pintu. Ia hanya bisa memandang aneh pada dua orang tersebut. Jongin berusaha menarik Jongdae keluar tanpa suara.
"Kumohon, hyung." Ujar Jongin dengan suara serak.
Jongdae menyentak tangannya dan membiarkan Jongin terhuyung hingga menabrak dinding. "Ini bukanlah sesuatu yang bisa disembunyikan, Jongin." Balasnya terdengar frustasi, ia menoleh pada Tao yang menutup pintu pelan. "Setidaknya kau pikirkan pria yang hidup bersama Kyungsoo?"
Jongin menoleh ke arah Tao dan merosot lemas ke lantai. Jondae sendiri segera masuk ke dalam dan melihat keadaan Kyungsoo.
"Jongdae-ssi," sapa Kyungsoo mencoba bangun dari tidurnya. Jongdae segera menghampiri Kyungsoo dan menahannya untuk tetap terbaring. Ia menyadari keberadaan Jongin yang kini memandangnya dari ambang pintu, terlihat sangat kacau. "Ada apa?"
"Maaf," ujar Jongdae terlihat sangat menyesal. "Ini tentang hasil darahmu. Maaf, jika kau akan kembali mengulang,"
Tenggorokan Kyungsoo tercekat, ia mengerti arti ucapan Jongdae yang hanya bisa di dengarnya. "Apa secepat itu?" tanyanya yang cukup membuatnya kaget karena suaranya sama sekali tak bergetar. Jongdae menundukkan kepalanya, mengamati jemari kecil Kyungsoo yang menggenggam erat selimut. "Tak apa, aku sudah tahu konsekuensinya tapi, apa yang terjadi padaku?"
"AIDS" bisik Jongdae lemas.
"Kau bercanda?" sahut Tao yang kini menghampiri dua pria itu. "Kau bercandakan Jongdae-ssi?" Tao segera jatuh berlutut dan menangis tanpa suara ketika Jongdae hanya terdiam. Ia menyadari bahwa situasi ini bukanlah waktu yang tepat untuk bercanda.
"Kyung, kau baik-baik saja dengan ini semua?" kini Jongin menyahut dengan mata yang menunjukkan ketidakpercayaan dengan reaksi yang diberikan Kyungsoo. "KAU SEKARAT!" teriaknya.
"Aku tahu," kyungsoo menengadah menatap obsidian milik Jongin yang meleleh. "Lalu, apa? Menangis pun tak ada gunanya." Ia menatap Tao yang bersimpuh yang mencengkram dadanya dan beralih pada Jongdae. "Adikku? Ini sudah kedua kalinya,"
"Aku mengerti, aku akan mengurusnya." Jongdae meremas pelan tangan Kyungsoo dan beralih pada Tao serta membawanya keluar kamar.
"Jongin-ah, aku baik-baik saja."
Jongin kembali meneteskan air matanya, matanya membulat dengan kata-kata yang keluar dari bibir ranum itu. Dengan lunglai, ia menghampiri ranjang Kyungsoo. "Kau sekarat, Kyungie." Bisiknya "Bagaimana…bagaimana…bisa kau bilang baik-baik saja."
Suara Jongin membuat hati Kyungsoo mencelos. Ia kembali mendengar suara yang sama seperti terakhir kali ia mati. Tangan pucatnya mencoba meraih jemari pria dihadapannya dan membawanya duduk berhadapan dengannya. Ia tersenyum dan menangkup wajah basah Jongin, mengusap jejak air matanya.
"Jongin-ah, aku takkan mati setidaknya bukan esok," Jongin segera menepis tangan Kyungsoo. Namun ia segera membungkam bibir Jongin yang akan melemparkan sumpah serapahnya. "Dengarkan aku." Kini ia mengikuti langkah Jongin untuk meneteskan air matanya. "Setelah ini aku mungkin akan terdengar egois dan tidak tahu diri. Tapi, biarkan aku mengucapkan ini. Sebelum terlambat."
"DO KYUNGS…"
Kyungsoo kembali membungkam mulut Jongin. "Kumohon, dengarkan aku." Setelah Jongin mengangguk, ia melepaskan tangannya dan memeluk pria itu, mencoba menikmati kehangatan yang dipancarkan oleh Jongin. "Aku tahu ini semua balasan dari Tuhan karena pekerjaan hinaku," ia mengeratkan pelukannya, menulikan telinganya dari protes Jongin yang mengalir. "tapi, terimakasih karena telah mengeluarkanku dari lingkaran setan itu. Terimakasih, Kim Jongin."
Ia melepas pelukannya dan menatap wajah sendu Jongin yang menunduk. Menghindari tatapan sedih milik Kyungsoo yang menyayat hatinya. "Tatap aku. Kumohon Jongin-ah. Setidaknya saat aku mengungkapkan ini." Ia menangkup wajah Jongin, membuatnya membuka matanya dan tersenyum ceria. "Aku mencintaimu, Kim Jongin!"
Rasanya waktu berhenti ketika Kyungsoo mengungkapkan isi hatinya. Wajah terkejut Jongin tidak membuat semuanya membaik. Kyungsoo menjatuhkan tangannya dan menatap Jongin sedih. "Tak apa jika kau tak merasakan apa yang kurasakan," ia beringsut jauh menyandarkan dirinya di kepala ranjang dan menatap tangan dingin dan pucat memelintir ujung selimut. "Tapi, bisakah kau berada disampingku?"
Jongin bisa merasakan kakinya selembek jelly ketika mendengarkan kalimat itu keluar dari bibir Kyungsoo. Perasaan meledak di perutnya bisa membuatnya seketika itu juga memeluk Kyungsoo, bukan tanpa alasan jika Jongin mengeluarkan Kyungsoo dari rumah prostitusi itu.
Ia mencintai Kyungsoo semenjak pria itu pertama kali menemukannya dan menangis.
Tapi, kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut itu berhasil membuat dadanya sesak. Air matanya kembali mengalir, membuatnya tak bisa menolak kenyataan yang kembali menghantamnya. Jantungnya sekarat.
Jongin mendekati Kyungsoo dan menariknya dalam pelukannya, membuat pria mungil itu tersentak dan menikmatinya ketika Jongin mengecup seluruh permukaan wajahnya dengan lembut. "Aku mencintaimu, My Kyungie."
Kali ini Kyungsoo takkan marah ketika Jongin memanggilnya dengan nama menggelikan itu. Setidaknya, kali ini ia mengetahui bahwa Jongin benar-benar mencintainya, membalas perasaannya. Dan untuk kedua kalinya, ia kembali meninggalkan Jongin.
Meninggalkan Jongin dengan hati remuk bersama serpihan yang ia bawa pergi, hingga hati itu takkan pernah bisa terbentuk dengan sempurna.
Second Life End Here
cho fikyu :
maaf bukannya gak ngehargai review kamu. Hanya saja, adakah yang bisa diberikan selain yang kamu lakukan di review chapter pertama
rapperdragon :
Kyungsoo-nya gak mati kok dan ini lanjutannya. Semoga puas dengan chapter ini.
Exoshipper :
Kyungsoo memang diperlukan untuk meninggal dalam chapter ini, lagi pula ini belum selesai karena dalam bagan penjelasannya belum aku cantumin 'complete'. Aku gak punya rencana untuk bikin sequel ini kalau sudah selesai, dan aku juga sudah cukup puas dengan akhirnya nanti. Terimakasih atas dukungannya. ^_^
