Tittle :Cheesy Life
Cast :Do Kyungsoo, Kim Jongin/Kai
Warning and Disclaimer :
Cerita murni milik saya yang terinspirasi dari beberapa soal ujian sekolah sosiologi. Seluruh pemain adalah milik dirinya masing-masing, keluarga dan Tuhan.
Akhirnya bebas dari belenggu UN dan terimakasih yang udah mau nungguin cerita ini yang baru di-update sekarang. Nah, kehidupan D.O akan dimulai. Please review this story please!
Third Life Ended
Fourth Life Ended
Fifth Life Ended
Sixth Life Ended
Seven Life Start Here
Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya atau sama seperti pagi di kehidupan sebelumnya atau sebelum kematian mendekatinya. Kyungsoo terbangun, membuat sarapan untuk dirinya dan adiknya, pergi kerja, pulang, memberesi rumah dan kembali tertidur. Selalu itu yang dilakukannya.
Setelah beberapa kehidupan terlewati, ia mulai mempelajari pola hidupnya yang terikat benang takdir. Dirinya selalu yatim piatu, entah karena orangtuanya bercerai dan meninggalkanya terlunta-lunta, orangtuanya yang meninggal saat dirinya kecil, dia membunuh orangtuanya ataupun yang lainnya. Dan satu lagi yang tak pernah dilupakannya, ia selalu hidup diambang garis ekonomi.
Kyungsoo bangun pagi-pagi, mencoba membangunkan Sehun – terkadang dikehidupannya Tao-lah yang menjadi adiknya atau Sehun seperti sekarang – untuk berangkat sekolah dan pergi bekerja.
"Kyungsoo-ya, aku sibuk. Tolong layani tamu di meja 14" seru Min Seok sembari melemparkan note kecil dan berlari menuju dapur.
Kyungsoo berjalan pelan menuju meja 14, mencoba menghindari tabrakan yang mungkin terjadi dalam keadaan café yang ramai. Ia melihat pelanggannya di meja 14, duduk dengan mata terfokus pada laptop dan jemarinya bergerak lincah diatas keyboard putih. Dalam balutan kemeja hitam dan tersinari mentari musim panas, ia terlihat menawan.
Kyungsoo berdiri disampingnya berniat menyapa ketika ia mengenali pemilik wajah tersebut. Kim Jongin, seperti dikehidupan sebelumnya, terlihat tampan dan berkelas. Kyungsoo terpaku dengan tangan terkulai disamping tubuhnya. Ingin sekali ia menerjang pria itu dan memeluknya, menceritakan semua keluh kesah dan kerinduannya.
Mata Jongin melirik sosok disampingnya yang berpakaian pelayan, ia sudah menunggu pelayan itu untuk membuka mulutnya semenjak 5 menit yang lalu. Tapi entah mengapa, pelayan itu malah memperhatikannya dengan intens.
Ia mengangkat kepalanya, mencoba menegur dan memberitahu ketidaknyamanannya karena dipandangi seperti itu. Namun ketika matanya bertemu dengan mata itu, seluruh caci maki yang berada diujung lidahnya, menguar.
Ia membalas pandangan itu sama intensnya. Terjerat dalam kedalaman sepasang mata bulat dan wajah manis. Menatap setiap inci dari wajah sang pelayan, menganggumi setiap lekukan yang dimilikinya.
Kyungsoo tersenyum dan tanpa sadar Jongin membalas senyuman itu. "Apa yang ingin anda pesan?"
"Tiramisu," balas Jongin setelah berhasil mengumpulkan suaranya.
Lagi-lagi, mereka saling menatap. Jongin berhasil menangkap gurat kesedihan dan kerinduan di mata itu sebelum Kyungsoo berhasil mengendalikan dirinya. Sekilas Jongin berhasil menemukan name-tag yang terpasang di kemeja Kyungsoo.
"Tunggu sebentar ….tuan" Balas Kyungsoo terdengar menggantung.
Ia tersenyum menatap punggung Kyungsoo yang menjauh. "Kyungsoo?" ia menyuarakan nama yang terdengar familiar dan nyaman dilidahnya. Sedetik kemudian, senyumannya menjadi kaku. Ia melirik pantulannya di layar laptop, tak percaya. "Aku tersenyum?"
Kyungsoo sendiri mencoba mati-matian untuk tidak menyebut nama Jongin dihadapan pemiliknya. Tangannya gemetar saat meletakkan tiramisu dan segelas minuman di nampan.
Saat ia berbalik, ia menemukan Suho menatapnya khawatir. "Kau baik-baik saja Kyungsoo? Tanganmu gemetar. Istirahatlah! Biar Min Seok yang mengantar pesanannya."
Kyungsoo menggeleng pelan. "Aku bisa hyung." ujarnya mantap, ia ingin melihat Jongin-nya sekali lagi. Suho hanya bisa mengangguk ragu dan berbalik menuju ruangannya.
Beberapa langkah dari meja 14, Kyungsoo berhenti dan menatap Jongin untuk sebentar. Ia membenarkan genggamannya pada nampan dan berjalan dengan tegap menuju Jongin. Senyumnya tak pernah terlepas dari wajah. "Pesanan anda tuan" ia meletakkan pesanan Jongin dan berbalik pergi.
Jongin hanya bergumam kecil dan membalas senyuman itu hingga Kyungsoo tak lagi dapat dijangkau oleh matanya. Ia menatap refleksinya, heran. "Aku akan gila sepertinya," bisiknya pada diri sendiri dan mengambil sepiring tiramisunya sebelum matanya menatap secangkir minuman di samping piring itu. Ia mengambil dan menyisipnya. "Caramel Macchiato?" Jongin mengedik.
Cheesy Life
"Kenapa kau kemari, Kris?" Jongin terlihat malas, kesal dan segalanya bercampur menjadi satu ketika Kris mengikutinya menuju café dimana akhir-akhir ini ia menghabiskan jam makan siangnya.
Kris menghempaskan bokongnya dan mengeryit tidak suka disekitarnya. "Apa kita tak bisa pindah ke meja lain?" balas Kris tak kalah sebal dan melirik angka 14 yang terpapar sinar matahari jengkel. "Dan aku hanya ingin tahu tempat minummu yang baru?"
Jongin mengeluarkan laptopnya, tidak memperdulikan racauan Kris. Ia baru mengangkat kepalanya ketika sosok pelayan dikenalnya sudah berdiri disampingnya. Kyungsoo tersenyum lebar pada Jongin dan menunduk hormat pada Kris. "Masih yang sama, Jongin?" Jongin mengangguk dan tersenyum. Lagi, ia tidak peduli pada Kris yang hampir tersedak ludahnya sendiri ketika melihatnya tersenyum. "Dan apa yang anda pesan Yi – tuan?"
Kris menatap Kyungsoo heran, "Sama seperti Jongin saja." Balasnya dan membiarkan Kyungsoo berlalu. Kemudian ia menatap Jongin horror. "Bung, kau baru saja tersenyum?"
Jongin kembali beralih pada laptopnya. "Ya seperti yang kau lihat, pertama kali aku tersenyum adalah pertama kali aku bertemu dengannya."
"Pantas saja moodmu terlihat bersemangat akhir-akhir ini." ujar Kris, mengutarakan pengamatannya. "Ternyata kau sedang jatuh cinta." Kris bermaksud untuk bercanda tapi ia segera menyesali kalimat yang keluar dari mulutnya. Gerakan jemari Jongin terhenti dan melirik Kris, terkejut. "Kau benar-benar jatuh cinta?"
Belum sempat Jongin membalasnya, Kyungsoo telah kembali dengan double Tiramisu dan Caramel Macchiato lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Kris mengambil miliknya dan mulai menyuapi makanan itu kemulutnya.
"Tiramisu disini lumayan enak," pujinya. Ia menatap Jongin yang kembali mengetik di laptop. "Kulihat ia juga sudah hapal dengan pesananmu, Jongin?" Jongin menyadari nada menyindir dari kalimat Kris, ia menyingkirkan laptop dan mulai memakan pesanannya. "Kau memberitahunya nama aslimu daripada nama panggilanmu."
Gerakan Jongin kembali terhenti, ia menatap Kris dengan bingung. "Hanya memberitahumu perspektifku dan ingat perkataanku, Kai! Kau harus menjaganya setelah ia masuk kehidupmu." Pria pirang itu menyesap sedikit Caramel Macchiatonya dan harus berdecak kagum. "Rasanya persis seperti buatanmu sendiri."
"Hyung," Kris mengeryit heran ketika suara Kai terdengar seperti anjing yang tersesat. "Aku tak pernah memesan Caramel Macchiato sejak pertama kali aku datang kesini."
"Kai, bocah itu tak mungkin memberikan minuman tanpa dipesan. Terlebih lagi, ini minuman kesukaanmu dan rasanya sama dengan buatanmu."
Kai meletakkan garpunya. "Pertama kali aku datang, aku hanya mengatakan Tiramisu. Tapi Kyungsoo datang dengan Tiramisu dan Caramel Macchiato." Jongin terlihat serius dan tidak terlihat ingin bercanda.
"Ia juga terdengar ingin memanggilku dengan nama lain sebelum menyebutku dengan tuan." Kris mengingat kalimat Kyungsoo ketika mendengar pesanannya.
"Dia menyebut huruf 'Yi' yang terdengar menggantung. Sebelumnya, Kyungsoo juga terlihat ingin memanggilku dengan yang lain." Jongin menatap Kris penuh curiga, "Memangnya ada apa dengan 'Yi, hyung?"
"Aish, apa kau lupa? Nama asliku, Wu 'Yi' Fan."
Jongin menyadari arah pembicaraan ini dan menatap Kris ragu. "Kau…tak mengiranya memata-matai kita, bukan?"
Cheesy Life
Kyungsoo merasakan ada sesuatu yang aneh pada hidupnya. Bukan kenyataan bahwa ia berulang kali mati dan hidup kembali, hanya saja belakangan ini ia merasakan seseorang mengikutinya. Ia membiarkan bayangan itu namun menjaga dirinya sendiri untuk berada di tempat yang ramai.
Suatu hari, keringat dingin sudah keluar dari dahinya ketika ia harus pulang malam dan berjalan menyusuri jalanan sepi, sendirian. Tapi hal yang ditakutkannya tidak terjadi. Sosok yang selalu mengikutinya, tidak menyerang ataupun melakukan hal yang aneh.
"Kau sudah pulang hyung?" teriak Sehun. Kyungsoo hanya bergumam dan menatap heran sepasang sepatu asing dihadapannya sebelum berjalan menuju ruangan dimana Sehun berada.
Seorang pria muda segera bangkit dan membungkuk ketika Kyungsoo memasuki ruang keluarga. "Apa kabar? Namaku Xi Luhan." Ujarnya memperkenalkan diri, Kyungsoo tersenyum. "Aku teman sekelas Sehun."
"Ah," Kyungsoo mengeryit heran. "Aku mau mandi dulu, jangan sungkan disini Luhan-ssi. Anggap saja rumah sendiri."
Luhan kembali duduk bersama Sehun, sementara Kyungsoo berjalan menuju kamarnya. Sekali lagi ia melihat Luhan sebelum menutup pintu kamarnya dan bersandar di daun pintu. Ia menatap kembarannya di dalam cermin.
"Ini aneh sekali. Seingatku Luhan hyung lebih tua dibanding Sehun." Pikirnya, ia mulai melepaskan pakaiannya dan menyalakan shower. "Sekarang Sehun kelas 3 SMA, tidak seharusnya Luhan hyung menjadi teman sekelas Sehun meskipun Luhan hyung menyukai Sehun. Di kehidupan sebelumnya, Luhan hyung lebih memilih menjadi guru privat ataupun guru di sekolahnya. Tapi?"
"Hyung, berapa lama kau akan mandi?" teriakan Sehun menyadarkan lamunan Kyungsoo. "Aku lapar dan Luhan hyung yang memasak sekarang!"
"Maaf, makanlah duluan." Kyungsoo kembali terlarut kedalam pikirannya. Ia mematikan shower dan memakai pakaiannya. "Mungkin sekarang berubah, seperti Jongdae yang mengetahui kemampuanku beberapa kehidupan yang lalu dan tidak tahu apa-apa selanjutnya."
Malam semakin larut dan Kyungsoo tidak bisa kembali tertidur. Seluruh ingatan mengerikan masa lalunya berputar bagai film pendek, ia bahkan tak mengingat potongan ingatan itu dari kehidupannya yang mana.
Ia beranjak menuju dapur, membuat segelas teh dan membawanya ke ruang TV. Ia sudah terlalu terbiasa dengan rutinitas malamnya yang kacau. Terkadang ia tak tertidur satu jam pun dalam seminggu. Ia terus mengganti channel tv yang tak menarik hingga menyadari langkah kaki yang mendekat.
"Apa suara tv mengganggumu, Luhan-ssi?" tanya Kyungsoo pada Luhan yang memutuskan untuk menginap ketika terlalu malam untuk dirinya pulang.
Luhan menggeleng. "Tidak sama sekali, hanya ingin mengambil air minum." Balasnya serak, khas seseorang yang terbangun dari tidurnya. Pria itu menuju tujuannya sementara Kyungsoo kembali terfokus pada siaran tv membosankannya.
Ia mengambil ponselnya dan menatap foto-foto Jongin yang ia ambil secara tersembunyi. Ia belum berani mendekati Jongin lebih jauh daripada hubungan baik antara pelayan dan pelanggan. Ia terus menggeser foto-foto itu hingga setetes cairan bening menimpa layar ponselnya.
"Aku merindukanmu," lirihnya. "Bahkan setelah aku bertemu denganmu, lagi."
Cheesy Life
Sebuah rumah megah yang lebih cocok disebut kastil berdiri kokoh dengan segala pengawal dan tingkat pengamanan yang tinggi. Para pria sangar dengan balutan jas hitam berjaga disetiap sudutnya dan tak satu pun bagian ditempat itu yang tak terpasang CCTV.
Sebuah mobil Audi V10 melintasi hutan pinus menuju kastil megah itu, menunggu gerbang otomatis terbuka sepenuhnya sebelum menyambangi beranda. Sosok Luhan melangkah dengan anggun keluar dari mobil tersebut, tidak memperdulikan seluruh sapaan hormat dan para pengawal yang menyambutnya.
Ia bahkan tidak memperdulikan seluruh bisikan mengenai dirinya yang mengenakan seragam sekolah dan memilih untuk menyambangi sebuah ruangan, dimana ia yakin orang yang ingin ditemuinya mengurung dirinya.
Tanpa mengetuk atau memberitahukan kehadirannya, Luhan mendorong pintu coklat berat, menghadirkan ruangan kerja berkelas dengan hanya meja kerja dan sofa pertemuan sebagai interiornya. Ia segera menghempaskan dirinya disamping Kris yang sudah terlebih dahulu tiba dan menunggu Jongin kembali dengan beberapa botol Vodka.
"Bagaimana Luhan hyung?" tanya Jongin yang kembali dari ruangan rahasianya dengan 2 botol minuman keras ditangannya. "Apa yang kau temukan?"
Kris segera mengambil minuman itu dari tangan Jongin sementara Luhan menolaknya dengan gelengan pelan. "Tak ada yang perlu ditakutkan, Kyungsoo bersih." Balas Luhan yang mengambil remote AC dan menyalakannya. "Tak ada tanda-tanda bahwa ia mata-mata dari klan lain ataupun bukti tentang keterlibatannya dengan dunia kita."
Kris mengangguk sedangkan Jongin memilih untuk menatap lantai marmer. Ia terlihat bingung dan gundah. "Apa yang mengganggumu lagi, Kai-ah?" tanya Kris.
"Kurasa ia bingung memutuskan untuk Kyungsoo tetap pada dunianya yang tenang atau membawanya ke kehidupan Kai yang suram sebagai kepala mafia." Luhan mengutarakan isi kepala Jongin yang tepat sasaran. "Dia punya adik." Kini Luhan yang ikut bermuram durja.
Ucapan Luhan yang lebih ke pernyataan membingungkan Kris serta Jongin. "Ya, kami tahu soal itu. Lalu?" tanya Kris, menatap Luhan heran. Sepersekian detik berikutnya, hati Kris mencelos ketika menyadari sesuatu. "Apa kalian akan membawa kakak beradik itu ke dunia kalian?"
"Bagaimana dengan Tao-mu, Kris?" Luhan berbalik bertanya.
"Dia mengerti dengan posisiku, tapi aku bisa melihatnya terkekang dan aku takut ia akan meninggalkanku karena jenuh." Balas Kris lirih, kurasa ia ikut tersedot dalam jurang kesedihan.
"Kai-ah," panggil Luhan. "Saat aku menginap dirumah mereka, tengah malam Kyungsoo terbangun. Ia membuat teh dan menonton tv tanpa nyawa. Aku bisa melihatnya dari matanya," Jongin mengangkat kepalanya dan menatap Luhan bingung. "Aku tak tahu apa yang membuatnya seperti itu tapi ketika aku kembali dari mencari di kamar Kyungsoo, bocah itu, ia menangis sembari menatap fotomu."
Tak ada yang berbicara hingga Kris memecahnya. "Semakin lama, Kyungsoo semakin membuatku penasaran. Ia terdengar mengenal Kai luar dalam seperti pernah menjadi bagian dari kehidupannya. Tapi tak satu pun bukti yang mengarah ia pernah mempelajari kita untuk menyusup dalam bisnis atau yang lain?"
Luhan terlihat ragu untuk mengatakan ini, tapi sesuatu di wajah Jongin mendorongnya. "Ada sesuatu yang dikatakan Sehuna padaku. Aku tak tahu ini bisa dipercaya atau tidak, tapi Sehuna bilang padaku bahwa hyungnya terkadang bisa mengenali seseorang saat pertama kali bertemu. Seolah-olah ia sudah sering bertemu dan mengenal kebiasaan-kebiasaan orang yang ditemuinya."
"Jadi maksudmu Kyungsoo cenayang, begitu?"
Luhan mengedikkan bahunya. "Entahlah, tapi ia seperti mengetahui umurku yang sebenarnya. Awalnya ia memanggilku Luhan-ssi tapi ketika ia mulai terbiasa berbicara denganku, ia memanggilku dengan hyung."
"Bisa saja ia hanya salah bicara dan mengiramu kakaknya yang lain?"
"Tapi ia mengatakan, 'Kau tak pernah berubah, Luhan hyung'. Apa itu termasuk mengiraku sebagai orang lain?" elak Luhan.
"Aku pergi," ujar Jongin. Ia tidak ikut bicara selama ini dan tiba-tiba ingin keluar tanpa mengindahkan panggilan dari kedua hyungnya. "Aku mau menemui, Kyungsoo."
Jongin berhenti di tempat ketika pintu yang berjarak kurang beberapa senti dari tangannya, menjeblak terbuka. "Kyungsoo? Siapa dia?" suara ceria khas seorang Tao menghampiri gendang telinga Jongin. "Apa kau ingin menemuinya? Bolehkan aku ikut?"
"Hyung, bukankah kau kemari ingin mencari Kris hyung?" tanya Jongin pelan. Ia tidak mau menolak permintaan Tao yang berujung pada koleksi-koleksinya yang menghilang.
"Tapi…"
"Tao-ah," Kris menghentikan rengekan Tao yang hampir dimulai. Jika ia sudah memulainya, maka dirinya sendiripun tak bisa menghentikannya. "Biarkan Kai menghabiskan waktu berdua!" Tao mengercutkan bibirnya dan hanya mengangguk ketika membiarkan Jongin melewatinya.
Cheesy Life
Kyungsoo sedang merapikan meja kasir ketika Jongin datang menghampirinya, bukan menuju meja favoritnya. Ia menghentikan aktivitasnya dan menatap Jongin yang menundukkan kepalanya tanpa memulai pembicaraan.
"Kau mau Caramel Macchiato?" tawar Kyungsoo. Jongin mengangkat kepalanya dan menggeleng. Kakinya mengetuk tidak sabaran tapi ia sendiri tidak tahu apa yang ditunggunya. "Tiramisu?"
"Kyungsoo-ya," Jongin menggigit bibirnya keras, bisa saja bibir itu robek karena kekuatan gigitannya. "Kau mau menemaniku?"
Kyungsoo tak menjawabnya. Ia terlalu kaget menerima ajakan ini secara tiba-tiba. "Oh…oh…." Seperti jaringan internet yang tersendat, ia menyadari maksud Jongin. "Aku…ini masih jam kerja."
"Oh…" Jongin mendesah lirih. "Mungkin lain kali?"
"Ya, lain kali."
Kyungsoo memekik ketika Min Seok tiba-tiba melepas apron hitamnya. Ia memandang pria itu heran dan menyadari Suho menatapnya dengan kerlingan mata menggoda. "Pergilah, biar aku yang meng-cover bagianmu. Bolehkan manager?"
"Ya, pergilah." Sahut Suho menyetujui segalanya secara sepihak.
Min Seok menarik Kyungsoo dan memutari konter sebelum menghadirkan diri dihadapan Jongin. "Aku tahu kau tertarik padanya, jadi gunakanlah kesempatan ini." bisik Min Seok dan mendorong Kyungsoo hingga terjerembab dalam pelukan Jongin. "Sampai jumpa besok, Kyungsoo."
Jongin menunduk sedikit dan membawa Kyungsoo keluar café tersebut. Sekarang ia berdiri dihadapan mobil mewahnya dengan tampang bodoh dan pikiran melalang buana. Ini pertama kalinya ia merasa begitu bodoh karena mengajak seseorang tanpa tahu harus membawanya kemana dan semuanya disebabkan oleh pria manis disampingnya.
"Jongin, kita mau kemana?"
"Emm," Jongin hampir mengeluarkan keringat dingin ketika sebuah dering untuk sms mengagetkannya. Ia segera mengeluarkan benda persegi itu dari kantungnya dan bersyukur dalam hati karena sms Luhan yang menyarankan kencan pertamanya tiba tepat waktu. "Mau ke Namsan?"
Kyungsoo tidak menjawabnya namun membiarkan dirinya digiring ke kursi penumpang. Ia tanpa sadar tersenyum menatap sosok Jongin yang mengitari mobil untuk masuk ke kursi pengemudi. Tiba-tiba senyumnya memudar dan menatap sedih sisi tubuh Jongin. Ia menyadari satu lagi pola kehidupannya.
Waktu kematiannya semakin dekat.
"Kau pernah ke Namsan sebelumnya?" Kyungsoo bertanya dan Jongin menggeleng. "Ini pertama kalinya?" Jongin mengangguk, ia tersenyum.
"Kenapa? Ada yang lucu?"
"Aku hanya senang. Pertama kalinya kau pergi ke Namsan dan bersamaku." Kyungsoo membenarkan posisi duduknya dan memandang jalanan dengan wajah bersemu. "Ini juga kali pertamanya aku kesana."
"Yah, setidaknya pertama kali semenjak aku terlahir kembali dikehidupan ini."
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, tanpa tahu apa yang harus dibicarakan. Jongin menganggap kesunyian ini sebagai rasa canggung sementara Kyungsoo terlalu sibuk dengan perasaan bahagianya untuk menyadari kecanggungan Jongin.
"Kau punya keluarga?" Jongin bertanya walaupun ia sudah melakukan background check.
"Aku punya adik, Do Sehun. Ia kelas 3 SMA sekarang." Balas Kyungsoo terlalu singkat. Jongin mengharapkan Kyungsoo akan berbicara panjang lebar dan mengurangi rasa canggungnya. "Apa pekerjaanmu? Setiap kau datang, kau terpaku pada Laptopmu terus?"
"Err…akuntan sebuah perusahaan jasa." Dustanya, Kyungsoo hanya bergumam. Jongin memakirkan mobilnya dan menarik tangan Kyungsoo untuk menaiki gondola. Ia tidak sadar bahwa semenjak turun dari mobil, ia selalu menggenggam tangan Kyungsoo.
Kyungsoo sendiri menyadarinya tapi perasaannya terlalu egois untuk mengatakan posisi tangan mereka pada Jongin. Ia menatap pemandangan dari atas sembari memikirkan tangannya yang sangat pas dalam genggaman Jongin.
"Kau lapar?" suara Jongin memecah lamunan Kyungsoo. "Mau sesuatu?"
"Tidak," tolak Kyungsoo dan memilih untuk duduk di kursi yang ada. "Aku mau melihat pemandangan saja." Jongin mengambil tempat disamping Kyungsoo dan terdiam. Pria itu terlihat kaku sekali dengan kencan tersembunyinya. "Beruntungnya kita sampai disini saat sore hari, selain bisa melihat matahari terbenam. Pemandangan kota juga sangat indah pada malam hari tapi aku ingin datang saat musim dingin."
"Kita bisa kemari lagi saat musim dingin." Sahut Jongin cepat. Terlalu cepat untuk tidak memperlihatkan kebahagiannya tentang kencan yang lain. "Kalau kau mau?"
Kyungsoo mengangguk. "Kalau aku masih bisa melewati musim dingin, Jonginnie." ia memperhatikan Jongin yang terlihat bimbang. "Ada yang mengganggumu?"
Sontak Jongin berdiri dengan kaku, sedikit mengejutkan Kyungsoo dan berbalik pergi. "Tunggu disini sebentar."
Kyungsoo tidak menjawabnya dan memilih untuk melihat rumah-rumah yang terlihat kecil dari atas sini. Beberapa ingatan manis menghampirinya, beberapa kencan dengan Jongin disini, beberapa ciuman hangat disini, beberapa pernyataan cinta disini, dan beberapa kali ia menangis disini.
Yang membuatnya bertahan untuk setiap kehidupannya hanyalah keinginan untuk melihat Jongin sebelum mati dan mengulang lagi. Melihat Jongin mencintai dan menyanyanginya dengan tulus sudah lebih dari cukup. Setidaknya, ia tidak akan mati rasa karena terus merasakan kematian yang menyakitkan.
Kyungsoo menoleh ketika Jongin kembali dengan wajah merah dan bahu yang tegang. Jongin berjalan menghampirinya dan tiba-tiba berlutut dihadapannya, membuatnya kaget dan merasa beruntung tak seorang pun yang berada disini.
Jongin mengeluarkan sebuket mawar yang menjelaskan kepergiannya beberapa waktu lalu dan sebuah cincin yang perlu dipertanyakan darimana ia mendapatkannya mengingat di Namsan Tower tak ada toko perhiasan.
"Aku tahu ini mengejutkan," ucapan Jongin yang terdengar gugup membuat Kyungsoo harus menahan rasa senang bercampur tawanya. Ia tak pernah berubah untuk sekian kalinya. "Kita baru bertemu untuk beberapa kali tapi, sejak aku kecil, aku tak pernah tersenyum. Namun saat kau datang menghampiriku dengan senyuman kecilmu, aku tersenyum dengan sendirinya. Butuh waktu yang lama untukku menyadari bahwa," Kyungsoo tak perlu menjadi cenayang untuk mengetahui lanjutan kalimat Jongin tapi ia ingin melihat Jongin menyelesaikannya. "aku mencintaimu."
Wajah datar Kyungsoo membuat Jongin meringis. Jongin menelan ludahnya dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimatnya. "Apakah kau mau menjadi pacarku?" Kyungsoo tak bergeming, Ia menatap Jongin dalam. "Ambil lah bunga mawar jika kau menerimaku tapi jika kau menolakku, ambil lah cincinnya. Setidaknya kau akan mengingatku pernah melakukan ini."
Kyungsoo tersenyum manis membuat Jongin ikut tersenyum dengan harapan penuh. Namun senyuman Jongin memudar tatkala tangan kecil itu mengambil cincin dari kotaknya. Ini pertama kalinya bagi Jongin untuk merasakan sakit dan patah hati secara bersamaan. Ia bangkit dari posisi berlututnya dengan wajah kacau dan mulai berlalu dari hadapan Kyungsoo.
Tawa Kyungsoo membuncah. "Kau mau kemana?" Jongin tidak memperdulikannya dan tetap berjalan. "Apa kau tak mau mendengar penjelasanku?" Jongin tidak mendengarkannya. "Jongin-ah! Jongin-ah! Jongin-ah!"
"Kyungsoo cukup!" Jongin berteriak, ia berbalik dan tanpa sadar meremas mawar itu terlalu kuat hingga mahkotanya berguguran. "Aku perlu waktu menenangkan diriku!"
Kyungsoo buru-buru mengambil sapu tangannya dan meredam bersinnya. "Bisa kau singkirkan bunga mawarnya, aku alergi pada mawar." Bahu tegang milik Jongin jatuh dengan pandangan tidak percaya.
"Kyungsoo, kau…"
Kyungsoo terus melanjutkan bersinnya. "Aku mau menjadi pacarmu tapi tidak dengan mawarnya." Jelasnya jenaka, "Itu sebabnya aku mengambil cincinnya."
Jongin segera menghampiri Kyungsoo dan memeluknya. Berulang kali mengucapkan terimakasih dengan kutukan. "Terimakasih dan kau menyebalkan! Bagaimana kau bisa mengerjaiku seperti itu?"
"Aku juga mencintaimu, Kim–idiot–Jongin."Kyungsoo membalas pelukan. "Dan ekspresimu membuatku tidak tahan untuk tidak mengerjaim…hatchi.."
"Ups sorry," Jongin melepaskan pelukannya dan segera membuangnya.
"Kau mau memasang gembok kita?" ajak Kyungsoo yang langsung diangguki oleh Jongin.
Kyungsoo menunggu Jongin yang tengah memilih gembok mereka di tempat dimana ribuan gembok pasangan lain telah bertengger. Ia melihat satu persatu dari gembok-gembok itu ketika gembok berwarna shocking pink tertangkap matanya.
'Luhan and Sehun. Forever till the end'
Ia hanya bisa terkikik menyadari bahwa adiknya lebih dulu memasang gemboknya disini. Ia juga sadar bahwa Sehun sangat bahagia dengan keberadaan Luhan dikehidupan mana pun begitupula dengan dirinya. Telunjuknya menyusuri gembok-gembok itu perlahan, ia juga mengutuk seberapa sentimentalnya Jongin dalam memilih gembok hingga memakan waktu selama ini hingga suatu gembok yang terasa familier kembali terlihat.
Ia mendekatinya dan mencelos ketika mengenalinya. 'Jongin and Kyungsoo. We'll love each other' gembok dari kehidupannya yang sebelumnya tak mungkin bisa berada disini. Mereka baru saja akan memasang gembok baru tapi kenapa gembok lama pun bisa berada disini.
"Apa yang kau lihat, Kyungie?" Kyungsoo terlonjak kaget ketika Jongin sudah berada disampingnya. Ia menyadari panggilan kesayangannya yang tak berubah dari dulu. "Hmm, ada yang mempunyai nama yang sama dengan kita sepertinya?" Jongin menyadari focus pandang Kyungsoo beberapa menit yang lalu.
Walaupun merasa kikuk, Kyungsoo berhasil menutupinya dengan baik. Ia mengambil gembok itu dari tangan Jongin dan menulis diatasnya. "Kau suka?" tanyanya.
Jongin mengangguk dan segera memasangkan gemboknya disamping yang lama. Ia memeluk pinggang Kyungsoo dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu kekasihnya. "Kau yang memiliki kunci hatiku sekarang. Kau yang berhak memilih untuk membuangnya atau tidak?"
Tanpa diminta, Kyungsoo segera melempar kunci itu dan berbalik menghadap Jongin hingga terkekung dalam pelukan itu. Jongin menyeringai, bukan seringaian mengerikan tapi lebih mirip seringai menggoda dan menyerang bibir Kyungsoo.
Kyungsoo membuka bibirnya perlahan, membiarkan Jongin mendominasi permainan dan menumpukan seluruh berat badannya pada Jongin. Ia melirik gembok mereka sebelum menutup mata dan menikmati ciuman lembut tanpa nafsu yang selalu disukainya.
Tertulis di gembok tersebut, 'Kyungsoo will love Jongin through the ages'
Cheesy Life
"Ada apa denganmu seharian ini, Kyungsoo?"
Kyungsoo menoleh ketika mendapati Suho menemaninya mengelap meja. Mereka mulai menutup café. "Hanya kurang tidur hyung."
"Ada apa?"
"Adikku," balas Kyungsoo malas. "Aku harus memasang music dengan volume tinggi untuk menyamarkan suara desahannya."
"APA?" teriakan Min Seok menyadarkan dua orang itu tentang keberadaannya. "Adikmu? Sehun?"
"Aku hanya punya satu adik, hyung."
"Dia bermaturbasi sendirian atau?" sambung Min Seok yang tertarik dengan arah pembicaraan ini.
"Dia melakukan seks," Kyungsoo menahan keinginannya untuk memutar bola matanya malas ketika mendapati dua hyungnya menutup mulut mereka secara dramatis. "Kalau hanya maturbasi, aku sudah membuatnya menelan gag ball."
"Dan kau membiarkan mereka?" seru Min Seok yang sepertinya terlalu banyak menonton melodramatic drama, dia persis seperti King Drama.
"Well, mereka sudah setengah jalan, aku tak bisa berbuat apapun. Lagipula, aku yakin Luhan hyung orang yang baik."
"Jadi adikmu, bottom?"
"STOP MIN SEOK!" Suho menghentikan coletahan itu, sengit. "Sebaiknya hentikan pembicaraan ini sebelum kau pulang terburu-buru dan menyerang Jongdae dan tak bisa bekerja besok."
"Kurasa kau yang akan menyerang Yixing, hyung." Balas Min Seok tak kalah sengit.
"Terserah. Ini sudah malam, apa Jongin tak menjemputmu seperti biasanya?" Suho mengikuti mereka menuju ruangan karyawan yang sudah hampir sepi.
Kyungsoo melepas apron-nya dan menggantungnya di lockernya. "Tidak, ia terlalu sibuk. Bahkan ketika ia menelponku sepertinya ia menjatuhkan sesuatu dan harus segera menutup telponnya"
"Kau terdengar sedih?" goda Min Seok dengan cengiran lebar.
Kyungsoo membanting pintu lockernya sebal dan memakai tasnya. "Aku tidak terdengar sedih." Elaknya yang anehnya terdengar tersipu.
Suho memeluk bahunya dan tak menolak ketika Kyungsoo segera melepaskan rangkulannya. "Jangan malu. Tidak ada pria yang mau menembak di Namsan Tower bersama cincin," Suho melirik cincin di jari manis Kyungsoo yang terlihat mengkilap ditimpa sinar lampu. "jika hanya untuk mainan."
Kyungsoo tertawa meremehkan dan keluar dari café. "Aku pulang hyung!" serunya dan menyembunyikan senyuman yang bertengger manis dibibirnya. "Walaupun aku hanya mainan, aku tetap mencintainya."
Ia tetap berjalan, mencoba relax di jalanan sepi yang minim penerangan. Ia sudah hampir terbiasa pulang malam jika Jongin tidak menjemputnya pulang dari café semenjak peristiwa di Namsan. Kini ia harus berpura-pura berani dan bertingkah seperti tidak mengetahui apa-apa agar sampai di rumahnya. Ia merasa diikuti tapi ini bukanlah bayangan yang mengikutinya beberapa waktu lalu.
Kyungsoo terlonjak ketika dering ponsel menganggetkannya. Dengan tangan gemetar ia mengambil ponselnya dan mendesah lega ketika melihat sang penelpon.
"Kyungie, kau sudah di rumah?"
"Aku masih di jalan, Jongin-ya. Ada apa?"
"Maaf tidak bisa mengantarmu pulang."
"Aku terbiasa pulang sendiri tanpamu," Kyungsoo terkekeh mencoba mengingatkan Jongin meskipun ia tidak terbiasa sama sekali. "Kau masih sibu…."
Kyungsoo tidak bisa menyelesaikan kalimatnya ketika ia menyadari bahwa dirinya telah dilingkari para pria dengan jas hitam yang menatapnya tidak ramah. Ia menjauhkan telponnya dan menatap takut-takut. "Ada yang bisa saya bantu?"
Tanpa diduga Kyungsoo, pria terdekat darinya menerjang dan membekap mulutnya dengan saputangan beraroma aneh. Ia hanya bisa bergumam tidak jelas sembari meronta. Ia mendengar seruan Jongin yang kini terdengar panic dan ponselnya yang diambil salah satu dari mereka sebelum semuanya memudar.
Cheesy Life
Pria manis Itu harus terbangun dan menyadari dirinya telah diculik. Terikat di sebuah kursi yang tertanam di lantai dengan seluruh cermin mengitari dirinya. Kyungsoo meringis ketika menggerakkan tangannya yang terikat dengan kencang. Namun tak menghentikan tingkah bodohnya untuk melepaskan diri.
Ia harus terhenti ketika sebuah pintu berayun terbuka, menampilkan pria tinggi dengan garis wajah angkuh berjalan mendekatinya. Hidung, mata, dan bibir itu sangatlah familier untuk Kyungsoo. Matanya tak bisa terlepas dari wajah yang kini berdiri merunduk dihadapannya.
Tangan besar itu secara kasar melepas lakban yang menutup mulutnya. Kyungsoo sendiri tidak menyadari bahwa mulutnya terlakban. Ia menatap sosok dihadapannya tidak percaya. "Ye…yeolli hyung."
Chanyeol menatap kaget sosok ringkih dihadapannya namun keterkejutannya berubah menjadi seringaian mengerikan. Ia menepuk pipi itu lembut dan kemudian menamparnya keras, hingga kepala itu menoleh kesamping. "Aku tak tahu sejauh mana hubunganmu dengan Kai, tapi jika kau mengetahui nama asliku. Bisa dibilang kau cukup berharga untuk si tolol Kai."
Kyungsoo hanya menatap Chanyeol bingung. "Siapa Kai?"
Satu tamparan lagi mendarat di wajahnya, membuat matanya berkunang untuk sementara. "Nah, jangan seperti itu." tiba-tiba Chanyeol menutup mulutnya. "Oh, apa kau mengenalnya dengan 'Jongin'? Dilihat dari ekspresimu, aku tahu jawabannya."
Kyungsoo hanya terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu bahwa Jongin menyembunyikan sesuatu tapi ia tidak peduli tentang semua itu. "Sekarang, kita lihat seberapa berharganya dirimu bagi Jongin. Dia akan datang menyelamatkanmu atau membuangmu?" Chanyeol berdiri dan mengeluarkan saputangannya, mengelap tangannya seperti baru memegang sesuatu yang menjijikan. Pria itu membuang saputangan itu ke arah Kyungsoo dengan seringaian menakutkan. "Aku berharap dia akan menyelamatkanmu karena aku tidak yakin kau akan berakhir dimana, Kyungsoo-ya?"
Chanyeol membanting pintunya membuat Kyungsoo terlonjak meskipun tak bisa bergerak sedikit pun. Ia tidak peduli ia akan berakhir dengan tubuh terluka, menjadi alat pemuas nafsu ataupun kematian. Buktinya, ia terus kembali hidup. Tapi yang membuatnya ragu dan cemas akan dirinya yang hanya menjadi mainan atau tidak, adalah kalimat Chanyeol.
Ia memang berkata tak peduli walaupun hanya menjadi mainan tapi ia masih mempunyai hati untuk merasa sakit, kecewa dan hancur. Semua rasa sakit kematian ataupun terluka tak sebanding dengan rasa sakit hatinya.
Ia sadar bahwa ia menangis tapi ia tidak peduli, baginya menangis adalah salah satu cara mengurangi rasa sesak dan sakit di dadanya. Ia tidak peduli jika tangisannya bergema di seluruh ruangan dan koridor yang menuju tempatnya. Ia, hanya bisa menangis.
Ia tidak tahu seberapa lama ia menangis ataupun tertidur setelahnya. Yang ia tahu, ia tersadar karena seseorang tengah menyetubuhinya. Ia mendesah tertahan ketika sesuatu dibawah menyentuh prostatnya. Posisinya sudah berubah menjadi terbaring dengan tangan yang ditahan oleh pria lainnya.
Mulutnya yang tersumpal membuatnya harus menahan segala caci makian ketika pria yang memaju mundurkan penisnya memainkan dengan kasar miliknya. Sedang pria yang menahan tangannya, mencumbu kasar tubuh bagian atasnya.
Ia bisa merasakan dirinya akan orgasme begitu pula dengan pria yang merasukinya. Cairan putih yang keluar dari miliknya membasahi selangkangan dan lubangnya yang terasa penuh. Pria itu menarik penisnya dan segera digantikan oleh pria yang mencumbu nipple-nya.
Rasa lelah dan sakit disekujur tubuhnya membuat Kyungsoo mati rasa dengan segala perlakuan yang diterimanya. Ia hanya bisa kembali menangis dan sembari berharap semuanya cepat berlalu. Lagi, ia menutup matanya.
Kyungsoo kembali tersadar dengan aroma seks menguar dari tubuhnya. Pakaiannya yang terlempar cukup jauh membuatnya kewalahan karena harus menahan rasa sakit dibawah sana. Ia memakai pakaian perlahan dan menyandarkan kepalanya di lutut yang tertekuk.
Mungkin, kematian lebih mudah daripada harus mengalami penghinaan seperti ini. Toh, ia tidak sepenuhnya mati. Ia masih mengingat seluruh emosi, perasaan dan memori dari kehidupan sebelumnya. Ia bisa mengulang hidupnya.
Rasa asin dan anyir menyadarkan dirinya telah membuat bibirnya robek. Ia kembali menangis, membiarkan dirinya dalam pengharapan dan penantian tidak lebih buruk daripada kematian. Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menyadari kaca yang mengelilinginya.
Ia berdiri dan menatap penampilannya, kacau, menyedihkan dan murahan. Tanpa ragu, Kyungsoo meninju kaca tersebut dan mengambil serpihan yang pas ditangannya. Ia tidak peduli dengan buku tangannya yang berdarah, ia hanya peduli dengan cara mengakhiri hidupnya.
"Hm, apa kau mau mengakhiri hidupmu?" Kyungsoo menoleh kesamping dan mendapati Chanyeol menatap remeh. Ia menampik tangan Kyungsoo hingga pecahan kaca terlepas. "Sayangnya, hidupmu berada ditanganku. Aku yang berhak menentukan nasibmu."
Chanyeol meninggalkan ruangan itu dan membiarkan pengawalnya menyeret Kyungsoo yang tidak bisa berjalan dengan benar. Mereka tiba dihadapan sebuah mobil sebelum berbalik dan menampar Kyungsoo hingga terhuyung walaupun dalam kekangan pengawalnya.
"Bersyukurlah kau selamat hari ini." ucap Chanyeol dalam nada dingin dan masuk ke dalam mobil.
Kyungsoo hanya bisa meringis sebelum diseret menuju mobil dibelakang mobil Chanyeol. Membiarkan mereka memborgol tangan dan menutup matanya. Ia bisa merasakan mobil bergerak dan membawanya kesuatu tempat yang jauh.
Ujung dingin menempel di pelipis membuat Kyungsoo menyadari bahwa sebuah pistol terarah tepat dikepalanya. Sebuah pengharapan dari kalimat Chanyeol membuatnya menurut ketika penutup mata itu dilepas dan dirinya digiring keluar mobil.
Jongin berdiri dengan menodongkan pistol di kepala seorang pria cukup jauh darinya. Kris dan Luhan berdiri dibelakangnya. Kyungsoo melirik Chanyeol dengan senyuman palsu menodongkan pistol kearahnya juga 2 pengawal yang membawanya.
"Kau tahu aku benci basa-basi," seru Jongin, wajahnya terlampau datar untuk keadaan seperti ini dan mendorong pria dihadapannya. "Langsung saja, sesuai perjanjian."
Chanyeol mendorong bahu Kyungsoo terlampau keras dan mau tak mau ia mengikuti langkah pria yang juga menjadi sandera Jongin. Ia menyadari bahwa keadaan pria yang memiliki posisi sama dengannya jauh lebih sehat dibanding dirinya yang harus berjalan terseok-seok karena rasa sakit yang masih terlalu menusuk untuk dirasakan.
Kyungsoo terlalu focus pada wajah Jongin yang menatap melewatinya, wajah datar dan dingin mirip dengan ekspresi Chanyeol terakhir kali ia melihatnya hingga ia menyadari posisinya yang hampir berpapasan dengan pria lain.
Mata mereka bertemu pandang, membuat gerakan Kyungsoo terhenti begitu pula dengannya. "Lama tidak berjumpa, Soo-ya" sapa Baekhyun dengan senyuman tipis. "Kurasa ini pertemuan kita yang terakhir, mengingat Chanyeol dan Kai tidak bersahabat."
"Baekkie hyung" Kyungsoo melupakan fakta bahwa setiap kehidupannya, Baekhyun selalu bersama dengan Chanyeol.
"Aku rasa kau belum tahu siapa Kai, bukan? Janganlah membencinya, dari sikapnya yang mengkhawatirkanmu bisa dipastikan pria itu mencintaimu dengan tulus, Soo-ya." Baekhyun mendekati dan mengusap wajah Kyungsoo dengan tangannya yang juga terborgol. Kini Baekhyun menangis, ia menggenggam tangan Kyungsoo.. "Maafkan aku dan juga Chanyeol, Soo-ya. Aku tahu rasa sakit karena pukulan lebih menyejukkan daripada pelecehan yang kau alami."
Kyungsoo menyadari bahwa ia masih tercium bau sperma yang kental. Ia menatap wajah Baekhyun sendu. "Aku berharap Kai masih mau menerimaku dengan keadaanku seperti ini, hyung." Kyungsoo membungkuk dan menatap Baekhyun sebelum berjalan dengan senyuman manis. "Kau masih sahabat kecilku, hyung."
Chanyeol dan Jongin tidak tahu harus berbuat apa ketika kedua orang penting dalam kehidupan mereka berhenti dan mengobrol ditengah masa pertukaran sandera. Chanyeol ingin sekali menghapus air mata Baekhyun yang tiba-tiba turun dan terhenti ketika Kyungsoo membungkuk dalam dan melanjutkan langkah mereka.
Jongin segera merengkuh Kyungsoo kedalam pelukannya ketika pria mungil itu tiba dihadapannya. Luhan dan Kris hanya bisa terdiam ketika menyadari aroma Kyungsoo dan menatapnya sedih. Jongin segera menangkup wajah Kyungsoo dan menciumi setiap inci wajah itu.
"Jong– Kai-ssi. Bisakah kita pergi dari sini?" Ucapan Kyungsoo membuat Jongin membeku, ia tidak membalasnya dan menggendong Kyungsoo memasuki kursi penumpang dibelakang, membiarkan Luhan dan Kris di depan.
Kyungsoo menjauhkan dirinya dari Jongin yang terlihat ingin menggapainya, tangannya tak diam memelintir ujung baju. "Luhan-ssi, bisakah kau mengantarku pulang?"
"Aku tidak yakin membawamu pulang dalam keadaan seperti ini, terutama karena Sehun." Balasan Luhan membuat Kyungsoo terdiam dan menyandarkan punggungnya.
"Kyungie-ya, apa yang mengganggumu eoh?" Jongin mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Kyungsoo. "Kau mau…"
"Apa tidak mengganggumu untuk menerimaku seperti ini?" Kyungsoo menghentikan kalimat Jongin tanpa memandangnya sama sekali.
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Kenapa kau berbicara seperti kau yang terluka, Kai-ssi. Seharusnya kau membiarkan aku membusuk disana, setidaknya kau tidak akan menyesal menyelamatkan barang bekas pakai." Racau Kyungsoo, isakkannya membungkam semuanya. "Aku lelah. Aku sangat lelah! AKU LELAH HIDUP SEPERTI INI! AKU LELAH HARUS MENGULANG! KAPAN AKU MATI TANPA HARUS MENGULANG SEMUA INI! AKU HANYA MAU MATI…"
Suara tamparan membuat Luhan menekan pedal rem dalam-dalam, membuat Kyungsoo terlempar membentur kursi yang ditempati Kris dan terduduk di lantai mobil. Jongin menatap sosok Kyungsoo sedih, ia sendiri sudah kacau saat mendengar Kyungsoo-nya diculik dan harus menerima kembali Kyungsoo yang hampir gila.
"Kyungie," panggil Jongin dengan suara serak. Ia menyentuh bahu itu dan memekik ketika kepala Kyungsoo jatuh terkulai. "HYUNG!" tak perlu teriakan kedua untuk membuat Luhan segera menginjak pedal gas dalam.
Cheesy Life
Aroma terapi menyadarkan Kyungsoo dari tidur panjangnya. Ia membuka matanya dan melihat tirai yang berayun karena angin. Perlahan ia bangkit dan mengamati sekitarnya, sebuah ruang besar dengan ranjang King Size putih bersih yang ditempatinya serta interior mewah menandakan ini bukanlah kamarnya.
Kyungsoo menurunkan kaki dan berjalan terhuyun menuju balkon kamar. Namun bayangan dirinya yang hanya memakai kemeja biru polos dan kebesaran menghentikannya. Dari parfumnya, ia yakin semua ini milik Jongin.
Kyungsoo membuka kemeja itu dan melihat seluruh lukanya. Lukanya memang terobati tapi tidak dengan bercak kebiruan yang masih terlihat meskipun samar. Ia segera mengancingkannya lagi ketika Jongin masuk.
Jongin tersenyum senang dan menghampiri Kyungsoo lalu memeluknya. "Kapan kau sadar? Kau membuatku khawatir." Kyungsoo tak bergeming, membuat Jongin melepaskan pelukannya. Ia mengangkat dagu Kyungsoo yang terus menunduk memandang lantai. "Apa lantai lebih menarik daripada aku, eoh?"
Jongin mencoba menggodanya tapi pandangan mata kosong Kyungsoo membuatnya semakin khawatir. Ia menangkup wajah itu. "Kyungie, bicaralah."
Lelehan bening itu mengucur dari sudut mata Kyungsoo. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku, aku tidak marah padamu hanya saja…"
Jongin segera mencium bibir ranum itu dan menyatukan dahi mereka. "Maafkan aku, maafkan aku menyembunyikan semua ini dan menyeretmu, tapi aku mencintaimu. Jangan membenciku, kumohon!"
"Aku tidak membencimu, sungguh. Namun, aku…aku…"
Jongin kembali mencium bibir Kyungsoo dan mendorongnya hingga ke ranjang dan menindihnya. Kyungsoo hanya diam dan menerima perlakuan yang sudah lama dirindukannya. Jongin terus menciumnya dan hanya melepasnya ketika memerlukan oksigen.
Tangannya tidak diam dan melepas kemeja Kyungsoo menyisakan hanya kain yang menutupi daerah sensitive Kyungsoo. "Kalau itu masalahmu, biar aku yang menandaimu." Desahnya dan mengulum cuping Kyungsoo.
Kyungsoo mendesah tertahan ketika jemari Jongin memilin nipple-nya. Kuluman Jongin berpindah ke leher Kyungsoo, membuat jejak baru ditubuh indah milik Kyungsoo sementara ia menggesekkan miliknya keselangkangan Kyungsoo.
Jongin melepas ciumannya dan melucuti pakaiannya sendiri sebelum melepas pakaian dalam Kyungsoo. Ia menggenggamnya dan mengocoknya pelan,membuat Kyungsoo menjerit tertahan. Tangannya yang satu lagi tidak tinggal diam dengan menyiapkan lubang Kyungsoo.
Jongin turun dan mengecup puncak penis Kyungsoo sebelum menghisapnya kuat. Satu jari lagi memaksa masuk diikuti jari lain dan mulai merenggangkannya.
"Jonghh..inh..ahh…di..sah..nahhh"pekik Kyungsoo ketika Jongin menyentuh prostatnya dengan jari.
Tanpa diminta, Jongin melakukannya berulang kali hingga cairan milik Kyungsoo tumpah dimulutnya. Ia menelannya dan berbagi sedikit dengan Kyungsoo. Kedua tangannya turun menahan pinggul kekasihnya dan memasukkan miliknya dalam satu kali hentak.
Desahan Kyungsoo dan Jongin melebur menjadi satu ketika mereka saling memanjakan satu sama lain. Jongin terus memberikan tanda kepemilikannya selagi menghujam titik sensitive Kyungsoo, membuat pria mungil itu mendahuluinya. Memuntahkan cairan putih di perut bidangnya dan menimbulkan suara tubrukan aneh. Ia terus melakukannya hingga Kyungsoo merasa diubun-ubun dan mengeluarkannya bersama.
"Aku mencintaimu, Kyungie." Ucap Jongin dipotongan leher Kyungsoo, menyesapnya di tempat berbeda dan tidak membiarkan miliknya keluar dari dalam Kyungsoo. "Aku tidak peduli denganmu ditempat sialan itu. aku hanya peduli pada Kyungsoo yang mendesahkan namaku dibawahku."
"Jongin, teri…akh…makasihhh. Ganti…hhn…posisshh…si"
"As you wish my prince." ujar Jongin ketika kembali melanjutkan aktivitas.
Cheesy Life
Jongin turun dari tangga sembari memakai bajunya, membuatnya mendapatkan tatapan menggoda dari Kris serta Tao yang duduk dipangkuan kekasihnya. Tak peduli, Jongin duduk dihadapan mereka dan mulai membaca laporan.
"Setidaknya kau harus mandi dulu sebelum turun, Kai?" ucap Kris sebal. "Dan bagaimana mungkin kau menyerang Kyungsoo tepat setelah dia bangun?"
"Dia terus merasa dirinya murahan dan tak pantas denganku," sahut Jongin membalik kertas dan menandai sesuatu. "dan yang bisa kupikirkan hanyalah itu."
"Itu yang bisa kau pikirkan atau kau memang berpikiran melakukan itu." sindir Tao yang mengeratkan pelukannya ketika Jongin menatapnya kesal.
"Enyahlah dari hadapanku!"
Kris terkikik kecil dan mendorong Tao bangkit dari pangkuannya sebelum mengecup bibir kekasihnya sekilas. "Berjalan-jalanlah,"
"Bilang saja kau mau mengusirku!" balas Tao yang segera pergi dari ruangan itu.
Jongin meletakkan kertas-kertas itu dan memandang Kris serius. "Kalau kau ingin bertanya tentang Luhan, dia ada dirumah Kyungsoo menjaga Sehun." Ujar Kris sebelum Jongin sempat bertanya. "Dan aku harus mengatakan ada pengkhianat dalam pengawal kita"
"Itu sebabnya Chanyeol tahu tentang Kyungsoo atau kebocoran pengamanan di Namsan?"
"Ada informan Chanyeol dan orang itu ada di penjara bawah tanah. Mau kau apakan?" tanya Kris sembari menyesap kopinya.
"Bunuh saja!" balas Jongin terlalu santai. Ia melirik kertas dipangkuannya sebal. "Aku berencana memindahkan Kyungsoo kesini demi keamanannya dan semua prosedurnya sudah kulakukan. Untuk Sehun, kurasa Luhan hyung tidak keberatan menerimanya."
Kris mengangguk setuju. "Tapi aku tidak menjamin Kyungsoo akan menyukai keputusanmu dan Luhan pun akan kewalahan menghadapi Sehun."
Jongin mengeryit heran. "Sehun tidak terlihat seperti orang yang bisa menghajar seseorang?"
"Dia manja." Jawaban Kris berhasil membungkam mulut Jongin yang kini merasa kasihan pada Luhan hyung-nya. "Transaksi di Rusia berhasil dilaksanakan meskipun ada beberapa kecelakaan kecil," Jongin melihat laporannya dan mengangguk akan kesalahan yang masih bisa ditolerir. "masalah Klan Yakuza baru saja diselesaikan, mereka bersedia memantau pendistribusian kita."
"Berapa yang mereka minta?"
"Hanya beberapa wilayah di distrik Kyoto."
"Pastikan saja mereka tidak berkembang terlalu besar untuk kita atasi, hyung."
"Tak perlu kau ingatkan aku sudah melakukannya." Balas Kris sinis. "Ada kemungkinan Chanyeol melakukan penyerangan?"
Jongin memijat pelipisnya. "Yah setelah apa yang kita lakukan pada pasangannya, itu mungin saja terjadi." Ungkapnya tidak merasa bersalah sedikit pun atas apa yang terjadi pada Baekhyun. "Tapi itu setimpal dengan apa yang mereka lakukan pada Kyungie."
"Tingkatkan saja pengamanan," suara Luhan menyela dan duduk diantara mereka serta mengambil sepotong biscuit. "Tapi kau bisa menggunakan Kyungsoo dan Baekhyun untuk menjalin kerjasama dengan Chanyeol. Kyungsoo dan Baekhyun berteman sejak kecil."
"OH" desah Kris menyesal. "Pasti buruk melihat satu sama lain dalam keadaan terluka karena kekasih mereka masing-masing. Tapi apa yang terjadi pada dahi dan lehermu?"
Luhan meraba dahinya yang terluka serta bekas cakaran di lehernya. Ia meringis ketika menyentuhnya. "Sehun mengamuk ketika aku menjelaskan tentang Kyungsoo yang otomatis membeberkan pekerjaan kotor kita."
"Dari data diri Sehun, aku tak melihat adanya latar belakang beladiri dan kau terlihat seperti habis dipukuli." Jongin terkekeh memandang hyung-nya yang kacau balau.
"Kau terlalu terpaku pada kertas, Jongin." Rutuk Luhan. "Aku mencoba menghentikannya tapi aku malah 'menyerangnya'" Luhan menyengir kuda dan bangkit dari tempatnya. "Pastikan saja kau meningkatkan pengamanan dan Kyungsoo bisa ditampilkan dengan baik didepan Sehun sewaktu-waktu aku mengantarnya kesini. Dia bisa menjadi menyebalkan suatu saat."
"Dan kau masih menyukainya?" sindir Kris.
"Lalu bagaimana dengan panda-mu hah?" balas Luhan yang segera pergi tanpa mendengar jawaban Kris.
Cheesy Life
Kyungsoo terbangun dengan ranjang yang bersih begitu juga dengan tubuh dan pakaiannya. Ia tersenyum karena ingatannya terakhir kali dan mendapati matahari telah tenggelam. Perlahan ia turun dari ranjang, terseok-seok menuju pintu kamarnya.
Karpet merah marun tergelar sepanjang koridor dari kamar yang ia tempati. Koridor mewah yang cukup menyeramkan dengan lukisan-lukisan klasik membuatnya berjalan cepat mengindahkan rasa sakit yang dideranya.
Ia merutuki dirinya yang dengan bodohnya menyusuri tempat ini tanpa tahu dimana Jongin berada. Sebuah jendela besar dan terbuka meniupkan angin dingin, membuatnya tertarik untuk melihat keluar. Nafasnya seperti hilang ketika mendapati sebuah taman indah yang tertempa sinar bulan namun ia harus mengalihkan pandangannya ketika suara dentuman terdengar tak jauh ragu, Kyungsoo berbelok dan menemukan tangga yang menuju kebawah. Baru beberapa langkah, sebuah pemandangan mengerikan menghentikannya.
Jongin berdiri tidak jauh dari seorang pria yang berlutut dihadapannya dengan keadaan jauh dari baik. Pakaiannya compang-camping beserta darah yang keluar dari lukanya yang menganga dan Jongin menatap dingin padanya. Dua pria yang berlagak seperti algojo mengapit pria menyedihkan itu, beberapa berdiri dibelakang Jongin dan yang lain melingkari mereka.
Tanpa belas kasihan, Jongin mengarahkan moncong pistol tepat dikepala pria yang berlutut dan menarik pelatuknya. Bersama suara memekakan telinga, pria itu terkulai dengan darah menggenanginya. Setelahnya suara dingin Jongin terdengar dan memerintah semua orang itu membersihkan semuanya.
Kyungsoo tidak bisa berlari kembali di kamarnya ketika suara langkah kaki Jongin mulai menjejaki anak tangga. Seluruh tubuhnya terasa dingin dan kakinya tak bisa dirasakan, tanpa ia sadari ia telah bersimpuh dengan pandangan mengarah ke tempat jasad yang sebelumnya tergeletak. Matanya berair.
"Kyu..ngie" suara tercekat Jongin menyadarkan lamunan Kyungsoo. Jongin menatap Kyungsoo terlihat hampir seperti mengamatinya. Akankah Kyungsoo mengatainya pembunuh atau berlari ketakutan menghindarinya?
Tak merasa Kyungsoo akan melakukan penolakan, Jongin berlutut dan menggendongnya. Membawanya kembali ke kamar, mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
Jongin meletakkan Kyungsoo ke sofa yang berada di kamar itu, membiarkan Kyungsoo yang masih terpaku dengan kilat shock dan berair. Tangannya beralih pada telpon rumah yang tergelatak tak jauh darinya dan meminta pelayannya untuk datang membawa makanan.
Baru saat makanan tiba, Jongin berani mendekati Kyungsoo. Ia menyentuh pergelangan tangan, membuat Kyungsoo tersentak kecil dan menatap Jongin dengan pandangan yang tak bisa dibaca. Gerakan Kyungsoo mengagetkan Jongin ketika tiba-tiba Kyungsoo memeluknya dengan bahu bergetar.
"Maafkan aku, kau harus melihat semua itu." ujar Jongin sembari mengusap punggung Kyungsoo mencoba mencairkan suasana. Ia melepaskan pelukannya dan mulai mendekatkan makanan kemulut Kyungsoo.
"Aku bisa makan sendiri," tolak Kyungsoo yang langsung mengambil piring itu dari tangan Jongin.
"Baiklah," Jongin membelai kepala Kyungsoo dengan sayang. "Aku tahu seharusnya aku tidak mengatakan ini padamu sekarang tapi," Kyungsoo memfokuskan diri pada Jongin yang menatapnya menyesal. "Aku memutuskan untukmu tinggal bersamaku dan soal pekerjaanmu, aku sudah mengirim surat pengunduran dirimu."
"Sehunnie!"
"Luhan hyung menerima dengan senang hati kehadiran Sehun dirumahnya dan untuk rumahmu, aku sudah mengosongkannya. Terserahmu, kau mau menjualnya atau tidak?" Jongin menunggu Kyungsoo untuk melemparkan tantrum namun sudah lewat 10 menit Kyungsoo tetap melanjutkan makannya. "Kau tidak marah?"
Kyungsoo menggeleng dan meminum airnya. "Kurasa kau melakukan semua ini untukku, bukan?" ujarnya santai. "Aku tak mau jika tiba-tiba ada yang menculikku lagi ataupun Sehun."
Jongin mencium pipi Kyungsoo dan membawanya dalam pelukan. "Terimakasih kau mau mengerti. Tapi apa kau tak ingin bertanya tentang Luhan, Kris ataupun pekerjaanku?"
Kyungsoo meringis. "Aku memilih untuk buta-tuli saja kalau bisa?"
Jongin terkikik dan mengeratkan pelukannya. "Baiklah, kau tidak akan tahu apa yang kulakukan." Ucapnya mantap, ia kembali mengecup Kyungsoo kali ini dibibirnya. "Terimakasih."
"Hmm,"
Cheesy Life
Ada sesuatu yang aneh terjadi di rumah ini dan hanya Kyungsoo yang sepertinya menyadari semua ini. Ia merasa terus mengulang kejadian yang sama tidak hanya sekali tapi berkali-kali, seperti de javu. Perasaan semakin kuat ketika ia melewati koridor yang baru pertama kali ia lalui namun terasa seperti sudah berulang kali kemari.
"Aku bersumpah jika Tao sedang merengek dihadapan Kris dan Luhan sedang mencium Sehun, sesuatu yang aneh memang terjadi." Ucap Kyungsoo pada dirinya sendiri sebelum menekan knob pintu dan memasuki ruang kerja Jongin.
Langkah pertamanya langsung disambut teriakan Tao yang hampir menangis sementara Kris dan Jongin memandangnya frustasi. Tak ada yang menyadari kedatangannya hingga Sehun mendorong tubuh Luhan yang hampir menindihnya dan berteriak memanggilnya.
"Hyung!"
Luhan segera memperbaiki pakaiannya dan sedikit mengutuk dengan gembungan diselangkangan Sehun. Ia melirik Kyungsoo takut-takut, meskipun pria mungil itu tak bisa membunuhnya seperti musuh-musuhnya. Tapi Kyungsoo bisa mengekang Sehun jauh darinya.
Namun Kyungsoo tidak peduli pada adiknya. Pandangannya berfokus pada Tao yang jatuh bersimpuh dengan mata bengkak dan berair, isakannya pun masih terdengar jelas. Satu fakta lagi yang ia sadari bahwa Luhan tidak peduli ia berada dimana selagi ada Sehun.
"Kau tak marah hyung."
Kyungsoo duduk dihadapan Luhan yang menarik Sehun kepangkuannya dan menutup selangkangan kekasihnya dengan selimut yang entah darimana ia dapatkan. Ia mendengus dan Luhan memberikan cengiran ketika menyadari Kyungsoo melihat tingkahnya.
"Aku takkan marah selama Luhan hyung tak kembali bersama Jongin"
Jongin menyemburkan tehnya sementara Luhan hampir mendorong Sehun dari pangkuannya. "Darimana kau tahu?!" teriak keduanya bersamaan.
Jongin menatap Kyungsoo horror begitu pula dengan Luhan yang mempercayai hipotesisnya sendiri bahwa Kyungsoo memang menakutkan. Dia tidak bisa membunuhnya tapi ia bisa membunuh rasa percaya Sehun padanya.
Kyungsoo yang sebetulnya merasa bersalah membawa kenyataan yang selalu terjadi dikehidupan sebelumnya menutupinya dengan baik. Ia menatap Jongin dan Luhan datar setelah sadar bahwa ia juga tak bersalah.
"Kyungie?" Jongin merasa terabaikan karena Kyungsoo tak menjawabnya. "Do Kyungsoo!"
"Darimana aku tahu itu tidak penting. Sekarang kenapa Tao menangis?"
Kris yang tak memutuskan kontak mata dengan Tao menoleh ketika merasa nama sang kekasih terpanggil. Ia mendesah kesal dan meraup wajahnya. ia merunduk bermaksud memeluk Tao tapi pria bermata panda ia menampiknya dengan kasar.
"Kau tahu 'kan ini proyek besar. Kumohon mengertilah, kau tak pernah seperti ini sebelum-sebelumnya." Ujar Kris pelan dan memelas.
Tao menggeleng keras-keras. "Tak ada dari kalian bertiga yang boleh meninggalkan rumah ini!"
"Tao-ah, biasanya kau tidak apa-apa sendirian dirumah ini. Sekarang ada Kyungie dan Sehun, kenapa kau seperti ini?" tanya Jongin yang heran dengan tingkah kekanakan Tao yang akhir-akhir ini menghalangi kepergian mereka.
"Aku tidak bisa menjelaskannya!" balas Tao yang kini semakin terisak.
"Lalu bagaimana aku bisa mengerti, Tao-ya!" seru Kris, ia berdiri dan menatap geram pada Tao. "Apa sebenarnya maumu?!"
"Aku mau kau tetap dirumah!" pekik Tao yang berdiri menatap Kris, menantang. "Bukankah aku tak pernah meminta sesuatu padamu sebelumnya, ini permintaanku untuk pertama kalinya!"
"AKU AKAN MENURUTINYA JIKA KAU MENJELASKANNYA PADAKU!"
"KAU AKAN MEMBUATKU TERDENGAR BODOH DENGAN MENJELASKANNYA"
Kyungsoo menyadari ada yang aneh pada diri Tao, ia berdiri dan mencoba menghampiri mereka.
"SELAMA BERTAHUN-TAHUN APA AKU PERNAH MENGANGGAPMU BODOH!"
"Kris hentikan!" pinta Kyungsoo yang kembali menyadari perubahan nafas Tao yang semakin pendek.
"KAU AKAN MENGANGGAPKU GILA NANTINYA!"
"Hentikan!" seru Kyungsoo namun tak satupun dari Kris dan Tao mendengarnya. Ia sadar bahwa sebentar lagi Tao akan pingsan jika terus saja dipojokkan seperti ini.
"KAU PIKIR AKU PRIA MACAM APA YANG MENGANGGAP KEKASIHNYA GILA. KAU YANG MEMBUATKU GILA, TAO! HENTIKAN PERMINTAAN KONYOLMU DAN…"
Kyungsoo berlari menyosong tubuh Tao yang tiba-tiba jatuh terkulai lemas dan mulai kejang. Ia membaringkan Tao, mengambil sendok gula serta melilitnya dengan serbet sebelum memasukkannya ke mulut Tao agar lidahnya tak tergigit. "APA YANG KALIAN LIHAT! PANGGIL DOKTER!"
Kris yang tersadar dari keterkejutannya segera mengambil ponsel dan memanggil dokter pribadi mereka. Ia menatap sendu Tao yang mulai tenang karena Kyungsoo. "Apa aku terlalu keras padanya?" desahnya pelan.
Cheesy Life
"Kau sudah bangun Tao-ya?" Kyungsoo segera menyodorkan segelas air yang langsung ditenggak habis oleh Tao. Ia menatap Tao prihatin.
"Jangan menatapku seperti itu, hyung" balas Tao yang langsung turun dari ranjangnya dan berjalan menuju meja kerja Kris dikamar mereka. Ia memasukkan kode ke brangkas Kris dan mengambil pistol serta uang cash. "Sudah berapa lama aku pingsan?"
"Lima jam, ada apa Tao-ya?"
"Shit," makinya sembari memasang sepatu dan jam tangannya. "Pasti ketiga pria brengsek itu sudah pergi. Apa Sehun sudah pergi ke tempat temannya?" Tao menarik tangan Kyungsoo, memberi mantelnya pada Kyungsoo dan memakai jaket kulit hitamnya.
"Darimana kau tahu Sehun sudah pergi, Tao-ya?" tanya Kyungsoo sembari mengikuti tarikan tangan Tao yang menuntunnya menuruni koridor istana ini sebelum suara ledakan membuatnya merunduk terkejut.
Tao tak menjawabnya dan terus menariknya. ia menyuruh Kyungsoo untuk tetap merunduk sementara dirinya memeriksa koridor yang akan dilaluinya sebelum kembali menarik Kyungsoo menuju garasi.
Tapi sayangnya, mereka terkepung oleh beberapa orang di lantai dasar. Para pengawal Jongin beberapa sudah tergeletak dilantai, menggenangi lantai marmer. "Hyung, apapun yang terjadi kau tak boleh mati!" desis Tao. Ia mendorong Kyungsoo bersembunyi dibelakang bar sebelum menerjang musuhnya.
Kyungsoo membulatkan matanya ketika Tao bergerak lebih cepat daripada peluru yang ditembaki ke arahnya, seperti Tao bisa membaca gerak peluru. Mungkin saja ia akan percaya kalau saja ia tidak merasakan de javu lagi. Detik berikutnya sebuah vas yang melayang ke arahnya dan berhenti diudara tepat di wajahnya.
Entah kesalahan apa yang diperbuat Tao menyadarkan Kyungsoo tentang kemampuannya. Ia mengambil vas yang meluncur ke arah Kyungsoo dan melemparnya ke arah pelempar sebelumnya. Ia tidak menyadari bahwa Kyungsoo tidak ikut terhenti oleh waktu saat itu.
Nafas terengah-engah Tao tidak menghentikannya untuk menggiring Kyungsoo ke garasi mobil. Kyungsoo sendiri mungkin akan mengangakan mulutnya melihat deretan mobil mewah terparkir dihadapannya jika saja tidak berada dalam keadaan genting.
Tao berhasil menemukan mobil ferrary merah sesuai dengan kunci yang berhasil diraihnya sebelum turun ke basement. Ia berlari menuju mobil itu diikuti Kyungsoo dibelakangnya, namun sebuah tembakan dan suara jatuh membuatnya menoleh.
Setetes air bening seketika turun dari sudut matanya. Ia kembali menyusul Kyungsoo dan menyeretnya memasuki mobil. Tanpa ragu, ia menginjak pedal rem tanpa menunggu pintu garasi terbuka sepenuh dan tidak peduli ia menabrak banyak orang dengan mobil ini.
"Bertahanlah hyung, kita cari tempat bersembunyi terlebih dahulu." Ujar Tao mencoba tegar walaupun ia sudah kembali terisak ketika melihat kursi mewah mobil ini berlumuran darah Kyungsoo. "Setidaknya sampai ketiga pria brengsek itu pulang dari China."
"Siapa mereka?" Kyungsoo bertanya dengan susah payah, menahan sakit yang mendera punggungnya.
"Para pengawal Chanyeol. Jongin terlalu gelap mata ketika kau diculik dan menculik balik Baekhyun." Rutuknya sembari memukul stir mobil. "Bodohnya dia memutuskan menimah panas lengan Baekhyun dengan simbolnya. Bisa dipastikan motif Chanyeol kali ini adalah balas dendam!"
Kyungsoo tertawa, membuatnya memuntahkan darah. "Ini pertama kalinya aku mati karena Chanyeol," ia menoleh lelah ke arah Tao.
"Apa maksudmu?"
"Sama sepertimu Tao-ah, aku punya kemampuan." Jelas Kyungsoo menutup matanya untuk sesaat. "Kau Time Controller, aku… Immortal Jumper." Suara decit ban menandakan Tao menghentikan mobilnya secara tiba- tiba. Ia menatap Kyungsoo tak percaya. "Aku merasa aneh belakangan ini karena melalui sesuatu untuk pertama kalinya tanpa perasaan asing, dan semua kau konfirmasi ketika menghentikan vas bunga yang terlempar ke arahku."
"Apa maksudmu dengan Immortal Jumper?" tanyanya tersendat, menatap Kyungsoo tak percaya.
"Aku mati tapi tidak dengan ingatanku, Tao-ah. Aku mengulang kehidupanku sejak kecil dengan seluruh ingatan kehidupan sebelumnya. Aku tahu Jongin melakukan background check padaku, ia selalu melakukan itu. Kau selalu bersama Kris, Sehun selalu bersama Luhan ataupun Baekhyun bersama Chanyeol. Aku tahu semuanya karena aku mengingatnya. Itu sebabnya terkadang aku tidak sengaja menyebutkan nama seseorang yang pertama kali bertemu denganku tapi aku sudah pernah bertemu dengannya, dikehidupan sebelumnya."
"Apa yang mau kau sampaikan padaku?" kini suara Tao bergetar, mungkin seluruh spekulasi sudah berputar di otaknya.
"Mengingat aku sudah merasa de javu, berarti ini bukan pertama kalinya kau mengulang waktu bukan?" Tao mengangguk kaku. "Berarti ini bukan kematianku yang pertama kau saksikan bukan?"
"Hyung, kumohon jangan katakan itu." rengek Tao yang mulai mengerti arah pembicaraan ini.
"Berhentilah memutar balikan waktu, Tao-ah. Sebanyak apapun kau mencoba, aku akan tetap mati." Kyungsoo tidak peduli dengan Tao yang menutup telinganya dan merengek tidak mau mendengar. "Kematian sudah ditentukan dan tak bisa diubah, kau tahu itu tapi kenapa kau terus memutar waktu."
"Jongin akan hancur, hyung."
"Jongin akan bangkit Tao-ah." Kini nafas Kyungsoo mulai tersengal dan rasa sakit familiar mulai menghampirinya. "Biarkan aku melewati satu kali rasa sakit kematian untuk satu kehidupan saja, kumohon."
"Tapi…"
"Aku lelah dengan semua rasa sakit ini, Tao-ah. Biarkan aku mengulang kehidupanku dan memperbaiki kesalahan. Kehidupanmu akan terus berlanjut, begitupula denganku dan orang lain. berjanjilah padaku untuk tidak memutar lagi, Tao?" Tao mengangguk membuat Kyungsoo tersenyum tenang. "Pastikan Jongin tidak melakukan balas dendam pada Chanyeol ataupun Baekhyun, itu akan meringankan bebanku dikehidupan selanjutnya." Tao kembali mengangguk.
"Sekarang berikan ponselmu!"
Tanpa kata, Tao segera memberikan ponselnya. Kyungsoo segera menelpon nomor Jongin dan berharap ia tidak mengganggu hal penting yang dilaluinya disana. "Ada apa Tao-ah? Kalau kau mau mengomel, kuberikan pada Kris!"
"Jongin-ah, ini aku."
"Kyungie, ada apa? Kenapa kau menelpon dari ponsel Tao?"
Kyungsoo tersenyum, ia menyandarkan kepalanya dan menutup matanya. Tidak peduli pada tangisan Tao yang mengeras. "Apa Tao kembali menangis? Berikan ponselnya padanya dan aku akan memberikan punyaku pada Kris."
"Kim – idiot – Jongin. Kai-ssi. Jonginnie, bilang pada Luhan untuk menjaga Sehunnie-ku."
"Ada apa denganmu, Kyungie?" tanya Jongin menyadari keanehan pada suara dan nafas Kyungsoo.
"Dan, Jongin apa kau mencintaiku?"
"Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?" Jongin terdengar panic ditambah isakan Tao yang tertahan dan suara pintu mobil yang dibanting.
"Kau mencintaiku, kumohon jawablah Jongin."
"Do Kyungsoo. Kau yang harus menjawabku."
"Kau mencintaiku?"
Jongin menghela napas panjang. "Kau tahu aku mencintaimu, Kyungie. Sekarang, apa yang terjadi?"
"Jongin-ah, terimakasih dan aku juga mencintaimu." Balas Kyungsoo lirih , secara sepihak menutup telpon dan menatap Tao yang memandangnya dari luar. Ia tersenyum terakhir kalinya sebelum menutup mata.
Seven Life Ended Here
Jung Eunhee :
Yeah! Akhirnya ada yang bilang ceritanya sesuai dengan judulnya. Terimakasih lho udah mo baca dan tetap membaca meskipun gak happy ending
Kim Leera :
Ya si Kyungsoo ini kayak reinkarnasi tapi kalau reinkarnasi 'kan kita gak akan inget kehidupan sebelumnya tapi dicerita ini. Si Kyungsoo itu ingat semuanya, mulai dari dia dilahirkan sampai kematian yang selanjutnya.
Hea :
Terimakasih udah mau review, tapi cerita ini gak akan selamanya sedih kok.
Queen :
Aku malah mikirnya chapter pertama gak sedih sama sekali, tapi terimakasih udah mau baca, support dan me-review cerita ini.
KaiSoo Fujoshi SNH :
Ceritanya terpaku pada Kyungsoo yang terus mengulang kehidupannya dan kemampuannya untuk tetap mengingat kehidupan sebelum-sebelumnya. Terimakasih atas pujian dan tenang saja, bakal tetap dilanjut.
