Eighth Life Ended

Ninth Life Ended

Twelfth Life Ended

Fourteenth Life Ended

Twenty First Life Ended

Entahlah sudah berapa kali Kyungsoo mengulang kehidupannya, ia mulai kehilangan hitungannya pada kehidupan ke-22 nya. Ia terlalu lelah untuk menghitung dan menyadari betapa percumanya ia menghitung kehidupannya. Tak akan ada yang tahu betapa banyaknya ia mengulang. Tak ada yang bisa diajaknya untuk berbagi rasa lelah. Tak ada, kecuali keinginannya untuk kembali bertemu dengan Jongin.

"Hyung, kau baik-baik saja?"

Suara Sehun membuatnya menoleh dan tersenyum. Ia menghapus darah yang mengalir dari hidung seperti tidak terjadi apa-apa. "Kau sudah pulang Sehunna. Mau makan?"

"Hyung, sebaiknya kau minta libur dari kantor dan pergi ke rumah sakit bersamaku ya?" ajak Sehun yang langsung mendapat gelengan mantap dari Kyungsoo.

Pria yang lebih mungil daripada adiknya itu berjalan ke dapur dan mulai memasak. "Aku hanya kelelahan. Aku akan tidur lebih cepat hari ini." ujar Kyungsoo final, melirik adiknya yang duduk dimeja makan menunggu makanan jadi. "Mandilah dulu, akan kupanggil kalau makananmu sudah siap."

Sehun bergumam tak jelas dan pergi dari hadapannya. Kyungsoo memijit pelipisnya pelan selagi menunggu air yang dipanaskannya mendidih. Matanya menatap lurus kearah kamarnya, dari sini ia bisa melihat kertas yang berhamburan dimeja kerja.

Ia menghela napas dan mulai memasukkan beberapa bahan ke dalam panci. Tidak lama, Sehun datang sembari mengeringkan rambut bersamaan dengan Kyungsoo yang meletakkan sup di atas meja. Tanpa banyak bicara, kedua kakak beradik itu segera menyantap masakannya.

"Sehunna, kau sudah selesai?" Sehun meletakan alat makannya ketika mendengar suara kakaknya terlampau serius. "Ada yang ingin aku beritahu padamu." Sehun menunggunya dengan sabar. "Aku akan menikah."

Sehun menatap kakaknya cukup lama sebelum tawanya pecah. Ia menatap Kyungsoo yang memijit pelipisnya pelan dan menyadari bahwa kakaknya tidak dalam mood untuk bercanda. "Hyung, aku bahkan tak pernah melihatmu berkencan! Dan tiba-tiba kau mau menikah!" seru Sehun yang mulai stress.

"Kita memiliki utang yang cukup besar, Sehunna." Lirih Kyungsoo.

Sehun menatap kakaknya sedih. "Maafkan aku hyung. Aku hanya menjadi bebanmu!"

"Apa yang kau bicarakan Sehunna? Kau adikku, kau tanggung jawabku. Kau bukanlah beban."

Sehun tersenyum tipis. "Kapan kau akan menikah hyung dan apa kau sudah melihat calon istrimu?"

Kyungsoo membalas senyuman itu dengan getir. "Secepatnya dan aku akan menikah dengan pria, Sehunna!"

Sehun berdiri secara tiba-tiba hingga kursi yang didudukinya jatuh. "APA KAU GILA HYUNG?! DAN KAU MENERIMANYA!"

"Tenanglah Sehun." Pinta Kyungsoo serta menunggu Sehun kembali duduk dihadapannya. "Aku tak punya pilihan. Ayah dari pria itu bersedia membayar seluruh hutang kita…"

"Dan apa yang dimintanya darimu, hyung?" sela Sehun

"Molla!" balasnya singkat. "Kudengar, bahkan putranya bukan gay." Kyungsoo menatap wajah Sehun dengan menyesal. Ia tidak ingin adiknya tahu tentang ini tapi cepat atau lambat Sehun akan mengetahuinya. Ia juga tidak bisa tiba-tiba meninggalkan Sehun jika ia pindah bersama suaminya. "Tidurlah, besok kau ada kuliah pagi bukan?"

Tanpa menunggu jawaban Kyungsoo bangkit menuju kamarnya, tidak peduli bahwa mereka belum membereskan peralatan makan mereka. Ia merebahkan dirinya dan menutup tubuhnya dengan selimut. Sebuah air mata turun dari sudutnya selagi ia membisikkan sesuatu untuk dirinya sendiri.

"Selamat malam Jongin. Aku… merindukanmu."

Cheesy Life

Sehun mengurungkan niatnya untuk masuk kuliah pagi ini ketika sebuah mobil hitam terparkir di depan rumah kecil mereka. Sang supir memberitahu mereka bahwa hari ini Kyungsoo akan melakukan fitting baju, membuat Sehun bersikeukeh ikut bersama kakaknya.

Kyungsoo melenggang masuk kedalam butik diikuti oleh muka tertekuk Sehun. Ia mengikuti supirnya, memasuki sebuah ruangan dimana dua orang pria dan wanita tengah menunggunya. Sang wanita segera berdiri dan berhambur memeluknya.

"Selamat datang dikeluarga kami, Kyungsoo-ya." Kyungsoo hanya tersenyum dan beralih pada Sehun. "Ah, kau pasti Sehunnie! Kau sangatlah tampan sekaligus imut. Mulai sekarang, kalian bisa memanggilku ibu."

"Iya, ibu." Ujar Sehun tergagap.

Kyungsoo terkekeh, ia tahu bagaimana senangnya Sehun bisa memanggil seseorang dengan ibu. Tapi senyumnya hilang terganti dengan keterpakuan ketika menyadari seorang pria yang duduk tak acuh pada sekitarnya, tepat disebelah suami sang ibu baru mereka.

Menyadari arah tatapan Kyungsoo, sang ibu bersuara, "Dia Kim Jongin, dia yang akan menjadi suamimu."

Jongin mengangkat kepalanya enggan dan melirik tidak suka pada Kyungsoo. Hal itu cukup membuat goresan di hati Kyungsoo. Butuh waktu lama untuk bisa bertemu kembali dengannya namun sikap Jongin sangatlah berbeda dengan sebelumnya.

Kyungsoo mengikuti tarikan tangan ibu yang menggiringnya kedalam fitting room. Mencoba segala pakaian yang dikira cocok untuk dikenakannya dalam pernikahannya. Ia mencoba segalanya dengan setengah hati dan hal itu disadari oleh Kyungsoo.

"Aku tahu kalau kau menyetujui pernikahan ini hanya karena terpaksa. Tapi, kau tidak akan menyesalinya Kyungsoo-ya." Ucap ibu membuat Kyungsoo menautkan kedua alisnya heran. "Kalian akan saling belajar untuk mencintai."

"Iya ibu." Jawab Kyungsoo patuh. Ia sangat yakin akan rasa cintanya pada Jongin tapi tidak dengan perasaan Jongin padanya. Dari tatapan Jongin tadi, ia sudah bisa menyimpulkan bahwa Jongin membencinya.

Pelayan toko dan ibu keluar dari ruangannya, membiarkannya memakai pakaian dan tudung pengantinnya yang terlihat ganjil ketika dipadankan dengan jas putih. Kyungsoo menghela napas kasar melihat tampilan dirinya di cermin, ia tidak mengira ia akan memakai pakaian pernikahan selama hidupnya.

Ia terlonjak kaget ketika melihat Jongin masuk tiba-tiba dengan jas serba hitam yang melekat sempurna ditubuhnya. Ia bisa melihat kilat ganjil sebelum hilang sepenuhnya dari mata Jongin. "Apa kabar, Jongin-ssi?" tanya Kyungsoo sopan yang sebenarnya ingin menerjang calon suaminya dalam sebuah pelukan.

Jongin berjalan dengan angkuh mendekatinya, ia merunduk membuat matanya bertemu dengan Kyungsoo. Pandangan tajam sarat akan penghinaan. "Mari kita luruskan ini! Aku masih normal dan dengan sangat terpaksa menikahimu! Dan aku yakin kau tidak menyukai pernikahan ini?" Kyungsoo mengangguk kaku, terpaksa. "Setelah aku mendapatkan harta warisanku, bisa dipastikan kau tak perlu terkekung dalam penikahan ini."

Kyungsoo menatap punggung Jongin yang keluar dari ruangan ini tanpa mendengarkan jawabannya. Matanya memanas sebelum akhirnya lelehan cair itu lolos. Hatinya terasa sakit mendengar semua itu dari bibir Jongin. Ia tidak menyangka keluarga ini membuatnya menikahi Jongin hanya untuk mendapatkan harta warisan dan setelah itu membuangnya seperti sampah.

Cheesy Life

Sebuah pernikahan mewah takkan pernah dibayangkan oleh Kyungsoo. Pernikahan yang hanya dihadiri oleh keluarga terdekat dan dilaksanakan di taman indah bukannya menambah rasa bahagianya. Justru membuatnya menahan mati-matian air matanya.

Untuk apa ia mendapatkan pernikahan mewah, tertutup dan indah jika akhirnya ia akan hanya diceraikan. Ia hanya digunakan sebagai alat peraih harta warisan dan mendapatkan bayaran setelah semua sandiwara ini berakhir.

Hanya ada tiga wajah tidak bahagia di tempat ini. Wajahnya, Jongin dan Sehun, tapi ia harus menutupinya karena tak ada pengantin yang tidak bahagia di hari pernikahannya. Ia mulai berjalan sendirian menuju altar dimana Jongin menunggunya dengan kesal.

Tangannya yang membawa buket putih terangkat tinggi di dadanya dan pakaian putihnya membuatnya terlihat anggun dan cantik melebihi wanita manapun yang hadir. Kyungsoo memasang senyum palsu yang sangat disadari oleh Jongin ketika menerimanya.

"Apa kau Do Kyungsoo bersedia menerima Kim Jongin dalam suka maupun duka?"

Genggaman pada buket bunga itu mengerat seiring dengan jawabannya. "Saya bersedia," balasnya terbata.

"Apa kau Kim Jongin bersedia menerima Do Kyungsoo dalam suka maupun duka?"

"Saya bersedia." Jawab Jongin lancar, terkesan datar. Jongin membuka tudung Kyungsoo dan sedikit tersentak ketika disambut mata merah Kyungsoo. Ragu, Jongin mencium kening Kyungsoo dan kembali menutup tudung itu.

Kyungsoo menatap ranjang kosong dihadapannya. Ia memakai kamar tamu sedangkan Jongin memakai kamar utama dirumah baru mereka. Tak ada pembicaraan setelah pesta usai. Semua telah lelah dengan kepura-puraan ini, terutama Kyungsoo.

Ia mengunci pintu kamarnya dan terbaring di ranjangnya dengan air mata dan isakan teredam. Mungkin mudah terlihat mencintai seseorang tapi sangatlah sulit ketika kau mencintai seseorang tapi harus berpura-pura untuk tidak.

Denting jam dikamarnya membuatnya segera menghapus air matanya dan keluar menuju dapur. Ia mulai memasak untuk makan malam dan mengetuk pintu kamar Jongin. Cukup lama untuk menunggu Jongin duduk di meja makan dengan tatapan bosan tertuju padanya. Kyungsoo hanya tersenyum menanggapinya.

"Setelah makan ada yang ingin kubi…"

"Bicara saja sekarang!" tuntasnya dingin.

Kyungsoo menghela napas dan memasang wajah kesalnya. "Aku tahu kau terpaksa melakukan pernikahan konyol ini. Aku juga. Tapi aku lebih terpaksa dan lelah jika kau terus menatapku dengan tatapan tuduhanmu itu." Jongin terlihat kesal namun tak bersuara. "Kau membutuhkanku untuk apapun itu yang berurusan dengan warisan tapi ayahmu telah menjamin seluruh hutang-hutang. Sekarang kita anggap saja kita ini dalam simbiosis mutualisme,"

"Lalu?"

Kyungsoo mengulurkan tangannya. "Tak ada gunanya kita saling membenci, lupakan saja kalau kita terikat dalam pernikahan. Anggap saja kita teman satu rumah." Kyungsoo menggoyangkan tangannya ketika Jongin tak kunjung membalasnya. "Berteman?"

Jongin menghela napas dan mengangguk lalu menerima uluran tangan itu. "Berteman."

Cheesy Life

Beberapa minggu telah berlalu, Jongin dan Kyungsoo hidup berdampingan layaknya teman. Setidaknya itu lebih mudah untuk Kyungsoo daripada hidup dalam tatapan benci dan menuduh yang terlalu menusuk.

Kyungsoo baru saja pulang dari kantor ketika melihat mobil Jongin dan satu mobil asing terparkir di halaman depan rumah mereka. ia menatap aneh ketika melihat sepasang highheels berada di rak sepatu rumahnya. Namun tak satupun lampu menyala.

Ia baru saja ingin berbelok memasuki dapur ketika suara desahan menghentikan langkahnya. Dua sosok siluet saling berpagut dan membelai satu sama lain hingga sang wanita menyadari keberadaan Kyungsoo dan menjauhkan dirinya dari Jongin.

Jongin menoleh ke belakang dan mendapati wajah shock teman serumahnya. "Oh maaf Kyungsoo." Ujarnya pelan dan menarik wanita yang hampir telanjang bulat masuk ke kamarnya. "Kami tidak akan mengganggumu."

Kyungsoo menatap pintu kamar Jongin tak bisa diartikan. Kakinya terasa lemas dan selera memasaknya segera menghilang. Dengan terseok-seok, Kyungsoo memasuki kamarnya dan sedikit bersyukur karena kamar-kamar mereka kedap suara.

Dengan tangan gemetar, Kyungsoo membuka laci meja disamping ranjangnya dan mengambil banyak pil kemudian menelannya. Ia menangis tanpa peduli bahwa ia akan terlihat kacau besok sebelum kesadarannya menghilang.

Suara ketukan di pintu kamarnya, membuat Kyungsoo menggeliat dan menyadari keberadaannya. "Yeah?"

"Kyungsoo, apa kau tak pergi kerja? Ini sudah jam 8 pagi."

Sahutan Jongin sontak mengagetkankan Kyungsoo. Ia segera berdiri dan terhuyung ketika obat tidurnya masih memberikan efek yang cukup hingga membuatnya memecahkan jam kacanya.

"Kau baik-baik saja?!"

"Hmm, hanya terlalu mengantuk."

"Aku pergi dulu."

Kyungsoo menghembuskan nafasnya kasar dan menenggelamkan wajahnya ditangannya. Ia tidak yakin bisa masuk ke kantornya dengan keadaan kacau balau seperti ini terutama suasana hatinya. Perlahan ia menuju kamar mandi dan melihat bayangannya. Mata merah, bengkak dan sangat sembab membalasnya. Mau tidak mau ia kembali mengingat apa yang telah membuatnya menangis. Mencoba tidak peduli, Kyungsoo membersihkan tubuhnya.

Tangannya sibuk menekan layar datar ditangannya selagi keluar menuju dapur. Gerakannya terhenti ketika matanya menemukan roti panggang dan susu yang telah dingin. Tanpa sadar ia tersenyum, setidaknya Jongin peduli padanya.

Menyelesaikan sarapannya, Kyungsoo memutuskan untuk mengunjungi Sehun yang sudah lama tidak diurusnya. Baru saja ia menutup pintu rumah mereka, mobil yang bukan milik Jongin masih terparkir di halaman mereka. lagi, ingatan Jongin mencumbu wanita lain dihadapannya membuat dadanya berdenyut sakit. Sembari menahan air matanya, ia meninggalkan rumah itu.

Perjalanan menuju rumahnya memakan waktu yang lama, mengingat rumah yang ditinggalinya bersama Jongin berada di pinggir kota namun masih kawasan elit yang kecil. Rumah mereka bahkan hanya memiliki perkarangan kecil, halaman belakang yang cukup luas dengan gudang penyimpanan yang terpisah dari rumah.

Kyungsoo segera mengutuk kebiasan jorok Sehun ketika mendapati rumah masa kecilnya jauh dari kata rapi dan bersih. Celana dalam, bungkus makanan, makanan kadarluarsa sampai kaos Sehun tersebar dimana-mana ditambah lagi ia baru saja menginjak seekor serangga yang tak mempunyai dosa apapun.

Tak perlu berpikir dua kali, Kyungsoo segera membereskan kekacauan ini selagi menyiapkan sumpah serapah, caci makian, petuah dan nasihat saat Sehun kembali ke rumah.

Namun hingga jam 11 malam dan makanan yang dibuatnya telah mendingin, Sehun tak kunjung kembali. Ponselnya tak bisa dihubungin dan ia sedikit merasa bodoh tak mempunyai satupun nomor teman Sehun. Ia terus menunggu hingga Sehun kembali. Kembali dengan keadaan mabuk.

Sehun tak menyadari bahwa Kyungsoo memandangnya kalut. Tapi tubuh Kyungsoo tak bisa bergerak dan hanya memandang adiknya yang berjalan sembari meraba menuju kamarnya dan segera terlelap. Ia hanya memandang pintu kamar Sehun yang masih terbuka dengan penghuninya yang terlihat kotor, tak butuh waktu lama Kyungsoo kembali menangis. Menangisi keteledorannya dalam mengurus Sehun.

Cheesy Life

Bisa dirasakan oleh Sehun lidahnya terlalu kelu untuk menyapa kakaknya yang tengah menatapnya sedih. Ia tahu bahwa seluruh kebodohan yang dilakukannya akan dirasakan oleh Kyungsoo sebagai kesalahannya.

"Sehunna," suara Kyungsoo yang serak sudah membuat Sehun tak berani menatapnya. Meskipun pria yang lebih mungil darinya tak menunjukkan kemarahan. "Ini baru beberapa minggu sejak pernikahanku, bagaimana kalau aku tak melihatmu dalam beberapa bulan?"

"Hyung…"

"Bukankah kau mau menjadi dokter? Apa yang kau lakukan dengan pulang malam, mabuk dan menyia-yiakan kesehatanmu. Setidaknya kau pikirkan perasaanku?"

"Maafkan aku," Sehun mulai terisak.

"Kau takkan melakukan sesuatu tanpa alasan bukan? Beritahu aku!"

"Hyung, aku tidak bisa."

"Lalu bagaimana aku membantumu?" seru Kyungsoo yang kini mulai menunjukkan amarahnya. "kau anak baik dan pintar Sehun. Tapi kenapa kau mengecewakanku dengan tindakanmu semalam!"

"Aku…"

Baru saja Sehun akan menjawab, pintu depan terbanting terbuka. Menampilkan pria dengan pakaian jauh dari normal dan layak pakai serta wanita dengan pakaian kekurangan bahan datang menghampiri Sehun tanpa memperdulikan Kyungsoo.

"Yosh Sehun! Siap untuk malam ini?"

Sehun sendiri menatap horror pria dan wanita dihadapannya. Ia mengalihkan pandangannya dan mendapati wajah penuh kekecewaan yang terpampang jelas diwajah kakaknya. "Aku tidak …"

Wanita itu menarik tangan Sehun mencoba menariknya berdiri. "Sudahlah, kita ke garasi sekarang. Mobil yang nanti malam akan kau gunakan harus diperiksa. Kau tidak mau berakhir sama seperti Yun Jeong di jurang 'kan?"

Sehun menarik tangannya dan menatap Kyungsoo yang kini berdiri, terlihat ingin pergi. Ia tersenyum getir, "Aku pulang Sehunna. Kau jaga dirimu, eoh! Biarkan aku menenangkan diriku!" Kyungsoo segera keluar dari rumahnya, tidak menghiraukan teriakan Sehun yang terus memanggilnya. Ia hanya perlu pulang dan mengistirahatkan dirinya.

Rumahnya bersama Jongin terlihat ramai dengan beberapa mobil terparkir di halaman. Tetapi mobil dari kemarin malam masih tidak berubah posisi dan terlihat kusam dengan debu yang menempel. Ia tidak peduli dan menghela napas lega – tanpa sadar – ketika tak satu pun sepatu wanita di rak sepatu.

Namun rumah terlihat sepi dan sedikit berantakan dengan snack. Tak satu pun tanda-tanda kehidupan terlihat. Ia berjalan menuju halaman belakang dan melihat seseorang pria tinggi berdiri di depan gudang penyimpanannya. Ketika mata mereka bertemu, pria itu berbicara sesuatu dan berjalan menuju rumah diikuti oleh pria lain, yang terakhir keluar dari gudang tersebut adalah Jongin dan menguncinya.

Seorang pria dengan kantung mata tebal tapi masih terlihat tampat dan sedikit manis segera menghampirinya. "Halo, aku Huang Zitao! Maaf saat pernikahan kalian aku tak bisa datang."

Kyungsoo segera tersenyum mendengar suaranya yang sangat ceria dan dirindukannya. Ia sedikit kaget ketika sosok Kris segera menghampirinya dan tersenyum dingin. "Kris!" ujarnya dan berlalu memasuki rumah. Tao segera menariknya diikuti oleh wajah-wajah familier dan mulai memperkenalkan diri satu persatu.

"Aku Xi Luhan, apa yang mengganggumu?" ucapan Luhan yang tiba-tiba membuat Kyungsoo mengeryitkan dahi, heran. Bukan soal pertanyaannya yang sangat jelas mengingat penampilannya yang kacau tapi dengan nada suaranya yang terlampau datar.

"Bukan apa-apa." Dustanya sembari membuang muka. Sekilas ia melihat kilat keraguan dan sedikit kemarahan di mata Jongin. "Apa kalian akan tinggal untuk makan malam?"

"Ya! Chanyeol dan Baekhyun juga akan datang bukan?" tanya Tao pada Kris disampingnya. Kris hanya mengangguk kaku sembari memain gelas wine ditangannya.

Kyungsoo bangkit dan menuju dapur, memulai memasak makanan dalam jumlah banyak hingga sebuah suara menganggetkannya. "Aku Baekhyun," ujarnya dalam suara yang terdengar formal, kaku dan aneh. "Maaf mengagetkanmu! Apa yang bisa kubantu?"

"Oh, aku tak mendengar langkah kakimu." Sahut Kyungsoo yang masih mengelus dadanya. "Kau bisa membantuku memotong wortel."

Baekhyun segera mengerjakannya tapi tidak dengan Kyungsoo yang seharusnya kembali pada sup-nya. Ia memandang punggung sahabat lamanya dengan rindu. Sebenarnya ia cukup kaget dengan kemunculan wajah-wajah familier yang sangat dirinduinya tapi harus kembali berpura-pura asing karena pertama kali bertemu.

Makan malam telah selesai, malam yang hidup mengingat biasanya hanya mereka berdua yang makan dalam diam. Kyungsoo turun ke basement setelah celetukan Chanyeol yang meminta wine koleksi Jongin yang langsung dibalas delikan pemiliknya tapi tetap dituruti.

"Kau kenapa Kyungsoo? Kau tidak pulang semalam dan kudengar kau tidak masuk kerja 2 hari?"

Kyungsoo menatapnya dalam. "Kau terdengar seperti suami yang khawatir istrinya tidak pulang, Jongin-ah." Candanya yang berhasil melihat Jongin terlihat salah tingkah. Ia terkikik. "Aku pulang kerumah, melihat keadaan Sehunna."

"Oh, bagaimana keadaannya?" pertanyaan itu berhasil menghentikan langkah Kyungsoo kembali ke ruang keluarga. "Ada apa ? kau terlihat sedih?"

Kyungsoo menatap Jongin ragu dan mengigit bibir bawahnya tanpa sadar. "Jongin-ah, bisakah Sehun pindah kesini? Aku tak bisa meninggalkannya jika…"Kyungsoo menghela napas pasrah. "Lupakan saja, aku pernah bertanya ini."

"Tidak masalah, Sehun bisa pindah." Kyungsoo berbalik dan menatap Jongin yang tersenyum tipis. Ia berjalan melaluinya, "Ayo naik! Chanyeol hyung pasti sudah berpikir yang tidak-tidak?"

Benar saja perkataan Jongin. Chanyeol menatap mereka sembari memainkan alisnya yang bermaksud menggoda. "Kupikir Kai sudah menyerang Kyungsoo di basement." Ujar Chanyeol pada Baekhyun tapi bisa didengar oleh semuanya. "Ohhhhh… aku jadi menyesal mengunjungi pasangan pengantin baru. Kami mengganggumu ya Kai-ah?"

Jongin mendengus kesal selagi mengambil botol wine dari tangan Kyungsoo dan membukanya. "Berhenti memikirkan yang tidak-tidak!" sergah Jongin sinis.

"Apa kalian sedang bertengkar?" pertanyaan polos itu keluar dari bibir ranum Tao yang kini bersandar nyaman di dada Kris. Ia terlihat memandang khawatir pasangan itu. "Aku melihat kamar yang dipenuhi barang pribadi Kyungsoo. Maaf aku hanya bermaksud melihat-lihat."

Ketika Kyungsoo ingin menjawab, Jongin datang dan duduk disampingnya, merangkulnya lembut dan memainkan jari-jari kecilnya. "Kau bercanda?" sahut Jongin terdengar sebal. "Itu hanya ruang kerja Kyungsoo sedangkan kamar yang satunya lagi adalah kamar kami sekaligus ruang kerjaku."

Hati Kyungsoo sedikit menghangat, ia terus memandangi tangannya yang sedang digenggam Jongin. Tangannya yang kecil terlihat sangat pas ditangan besar Jongin. Meskipun harus ia akui, ia sedikit kecewa karena semua ini hanyalah kepura-puraan mereka dihadapan teman-teman Jongin.

"Kyungsoo-ya, apa mobil putih di depan milikmu?" tanya Luhan dengan nada datarnya dan Kyungsoo juga menyadari ekspresi serta tatapan Luhan juga sama kosongnya.

"Mobil apa?" Kyungsoo balas bertanya dan segera menoleh ketika Jongin terkekeh.

Tangan besar itu membuat Kyungsoo menggenggam sesuatu yang dingin, ia tak lihat Jongin meletakkan sesuatu dalam kepalan tangannya. Jongin melepas rangkulannya dan memperhatikan ekspresi kebingungan Kyungsoo ketika mendapati sebuah kunci.

"Kupikir warna merah cocok untukmu tapi, kalau dipikir-pikir lagi. Kau tak menyukai perhatian berlebihan kepadamu. Jadi, kurasa putih cocok untukmu." Ujar Jongin dengan senyuman menawan.

Kyungsoo memandang kunci kuda jingkrak itu dengan tatapan tak percaya. Ia melirik Jongin ragu. Menyadari arti tatapan itu, tangan Jongin beralih membelai rambutnya. "Aku bersungguh sungguh." Sedikit tersentak ketika Kyungsoo menerjangnya dalam pelukan dan membalasnya tulus, dia menambahkan dengan sedikit berbisik. "Jangan khawatir aku akan mengambilnya setelah teman-temanku pergi. Mobil itu milikmu sekarang."

"Terimakasih, Jongin-ah." Ucap Kyungsoo berulang kali.

"Ge, kapan kau akan membeli 'kan ku mobil juga?" rengekan Tao membuat Kyungsoo melepaskan pelukannya dan menatap Tao dan Kris. Kris mendengus dan menenggak wine-nya hingga habis. "Kris ge jahat."

Tao menjauhkan dirinya dari Kris dan memunggunginya. Kris menatap punggung itu sendu. "Aku sudah membelikanmu mobil sedari dulu yang lebih aman daripada motormu, Tao-ah." Ujar Kris lembut sembari mengalungkan tangannya dipinggang Tao dan menarik mendekatinya.

"Ah gege benar!" sahut Tao yang polos atau dungu dan kembali meletakkan kepalanya di dada Kris. Semua yang melihat tingkah Tao yang sebentar marah dan berubah menjadi manja dalam hitungan detik hanya bisa mengedikkan bahu.

Cheesy Life

"Selamat pagi, Kyungsoo." Sapa Jongin yang sudah rapi dan mulai menyantap sarapannya.

"Pagi." Balas Kyungsoo ceria, ia menyadari bahwa sikap Jongin semakin hangat dan baik baginya. Pesta beberapa hari yang lalu juga berakhir menyenangkan. Ia sangat menyukai keberadaan orang-orang familier di dekatnya tapi juga merasakan keanehan pada Baekhyun, Chanyeol, Kris, Luhan, Tao begitu pula Jongin yang entah mengapa terasa ganjil.

"Apa Sehun tak mau pindah juga?"

Kyungsoo menggeleng, "Sepulang kerja nanti, aku akan menjemputnya."

"Sebaiknya seperti itu daripada kau terus-menerus khawatir dengan pergaulannya." Ujar Jongin yang beranjak dari meja makan. "Aku pergi dulu, Kyungie."

Gerakan tangan Kyungsoo terhenti seketika dan memandang punggung Jongin yang tergesa-gesa memasuki mobilnya. Ia sangat merindukan panggilan itu dan tidak menyangka Jongin memanggilnya seperti tadi. Tapi sepertinya, Jongin sama sekali tidak menyadari panggilan itu. Ia hanya bisa menghela napas dan meninggalkan rumah mereka.

Malam sudah sangat larut dan Kyungsoo sama sekali tidak menyangka tugasnya menumpuk tinggi, membuatnya harus melembur malam. Ia merapikan meja kerjanya sebelum menuju parkiran mobilnya. Tanpa sadar ia tersenyum melihat mobil pemberian Jongin yang ia kira sebelumnya adalah milik wanita yang ditiduri Jongin.

Mengingat kejadian itu membuat Kyungsoo menyesali pikiriannya yang melalang buana. Mau tak mau, dadanya kembali nyeri dan sesak. Tapi ia menyukuri bahwa sikap Jongin perlahan terbuka dan menjadi lebih lembut dari hari sebelumnya.

Kyungsoo mengarahkan mobilnya menuju rumah lamanya dan mengeryit heran ketika rumah itu seperti rumah hantu. Ia menjejaki kakinya di rumah lama dan mencari keberadaan adiknya. Namun sayangnya, Sehun tak terlihat dimana pun.

Dengan perasaan bercampur aduk, Kyungsoo menyalakan ponselnya dan melacak GPS ponsel Sehun. Tanpa ragu, Kyungsoo segera menghampirinya. Ia sangat terkejut ketika tiba di sebuah balapan liar dan tidak peduli dengan siulan yang diarahkan kepadanya. Entah karena mobil mewahnya atau karena parasnya yang memang cukup mempesona.

Mata Kyungsoo terus terarah pada ponselnya dan berhenti ketika titik miliknya bertumpu dengan titik milik Sehun. Ia mengedarkan padangannya dan terus mencari. Butuh waktu lama untuk Kyungsoo menemukan Sehun dan membuatnya marah dan sedih bersamaan.

Adiknya tengah berciuman dengan pria asing dengan keadaan terpojok di dalam mobil. Ia bisa mendengarkan desahan Sehun saat pria itu mulai melesakan tangannya kedalam celana Sehun. Dengan sigap, Kyungsoo membuka pintu mobil dan menarik Sehun yang sudah berantakan, memerah dan menangis.

"Hey dia milikku, Bung!" serunya tak tak terima.

"Dia adikku, Bung!" sahut Kyungsoo sengit dan jangan lupakan tatapan mematikan yang membuat pria itu bergidik.

Kyungsoo segera menarik Sehun menuju mobilnya dan memacunya dalam kecepatan tinggi. Sedangkan Sehun hanya menundukkan kepalanya dengan bahu bergetar. "Apa kau mau hyung-mu ini menemukan adiknya dalam keadaan kacau setiap kalinya?" tanya Kyungsoo lirih. "Aku tak pernah memaksakan prestasi akedemismu Sehunna. Aku hanya memintamu menjauhi apapun yang berhubungan dengan tempat tadi!" Akhirnya Kyungsoo berteriak dan memukul stir mobilnya. Sehun hanya bisa terdiam ketika ia mengenali jalan yang menuju rumah hyung-nya dengan suaminya.

Kyungsoo meninggalkan adiknya dan membuka kulkas, menenggak sebotol air dingin. Menghiraukan pandangan heran dari Jongin, Luhan dan Kris yang duduk memandangnya. Ia melepaskan botol itu hingga berserakan disekitarnya dan jatuh bersimpuh.

Jongin segera menghampirinya dan menenangkannya yang mulai terisak. "Kyungsoo-ya, ada apa?" kyungsoo hanya menggeleng dan mencengkram baju Jongin erat. "Beritahu aku."

Kyungsoo tak kunjung menjawab membuat Jongin geram sendiri dan segera membopong pria mungil itu kekamarnya. Sekilas ia melihat sosok lain di dalam mobil Kyungsoo dan mengenalinya sebagai Sehun yang juga terlihat terisak dari temaram lampu mobil. Jongin meletakkan tubuh yang masih terisak itu di ranjangnya dan memeluknya erat. Ia terus menemani Kyungsoo hingga pria itu mulai tenang dan terlihat sangat lelah.

"Jongin-ah," bisik Kyungsoo serak. "Bernyanyilah untukku?"

Jongin segera menurutinya, menyanyi dengan lirih namun cukup merdu untuk menghantarkan Kyungsoo ke alam mimpinya :
Deoneun mangseoriji ma jebal nae simjangeul geodueo ga
Geurae nalkaroulsurok joha dalbit jochado nuneul gameun bam
Na anin dareun namjayeotdamyeon huigeuk anui han gujeorieotdeoramyeon
Neoui geu saranggwa bakkun sangcheo modu taewobeoryeo
Baby don't cry tonight eodumi geochigo namyeon
Baby don't cry tonight eobseotdeon iri doel geoya

Mulgeopumi doeneun geoseun nega aniya kkeutnae mollaya haetdeon
So baby don't cry cry nae sarangi neol jikil teni…"

"Jongin-ah, bisa kau panggil aku Kyungie mulai sekarang?" Kyungsoo bisa merasakan tubuh Jongin yang tiba-tiba menjadi kaku dan mengangguk kecil. "Terimakasih"

Cheesy Life

Kyungsoo mengerjapkan matanya dan segera terduduk ketika menyadari ranjang yang ditempatinya bukanlah miliknya. Ia meraup wajahnya dan menghela napas lelah, perlahan turun dari ranjang dan keluar kamar.

Matanya membulat ketika melihat Jongin sibuk dimeja makan dengan ponsel yang harus tertahan diantara telinga dan bahunya. Ia menghampirinya dan mengambil alih pekerjaan tangan Jongin yang dengan sibuk mengelurkan isi dapur dari plastic belanja.

Jongin tersenyum dan megganti ponselnya ke telinga lain. "Aku mau surat pengunduran diri itu di proses hari ini juga…" ucapnya sembari memperhatikan punggung sempit Kyungsoo yang meletakkan barang-barang di kulkas. "Baiklah kutunggu hasilnya."

"Siapa yang mengundurkan diri Jongin-ah?" tanya Kyungsoo sembari mencuci tangannya.

"Kau." Jongin menatap Kyungsoo penuh arti. "Kurasa kau tak perlu bekerja lagi, Kyungie. Mengingat aku bisa memenuhi kebutuhan rumah, kau dan Sehun. Dan aku tak menerima kata 'tidak'!" selanya ketika Kyungsoo terlihat mau membantah. "Sebaiknya kau mandi. Sehun sudah berangkat kuliah barusan dan untuk masalah Sehun kau tak perlu khawatir, Luhan hyung adalah dosen di universitas Sehun dan bisa mengawasinya."

Kyungsoo menatap Jongin lembut. "Terimakasih Jongin-ah."

"Kau tak perlu berterimakasih, ini tugasku sebagai…" kalimatnya terhenti dan memandang kikuk lawan bicaranya. "Aku harus ke kantor." Lanjutnya dan segera menuju mobilnya.

Sejujurnya, Kyungsoo sangatlah penasaran dengan kalimat menggantung Jongin. Namun ia segera menelan rasa ingin tahunya dan mulai membersihkan diri serta rumahnya. di tengah pekerjaannya, sebuah fax masuk dan membuatnya mendengus sebal. Surat konfirmasi pengunduran dirinya telah dikirim, membuatnya berpikir apa yang akan dikerjakannya selama siang hingga sore selain menunggu Jongin pulang.

Kemudian, pikirannya kembali melayang. Mungkinkah jika ia tidak terus-menerus mati dan mengulang kehidupan, ia akan menikah dengan Jongin yang mencintainya dikehidupan sebelum-sebelumnya? Tidak dengan kehidupannya yang sekarang ini, menikah dengan Jongin karena keterpaksaan dan harta warisan. Mungkin saja Jongin bersikap manis padanya karena tak ingin menerima laporan tentangnya yang terlalu sakit hati dan memutuskan untuk bercerai sebelum menerima harta warisan?

Kepalanya berdenyut sakit tapi tidak sesakit hatinya hingga kakinya terasa seperti jelly dan membuatnya jatuh bersimpuh. Ia lagi-lagi menyesali pikirannya dan kebenaran dibalik semaunya, mau tidak mau bulir bening itu kembali terjatuh.

Apa kesalahannya hingga harus menerima kemampuan sial yang terus membuatnya tersiksa? Ia hanya butuh satu kehidupan saja. Satu kehidupan normal. Satu kehidupan cintanya dengan Jongin. Satu kebahagian yang cukup untuknya. Satu kali pernikahan tanpa paksaan. Satu memori bahagia tentang kehidupannya? Bukan kehidupan berulang kali yang membuat kepala sakit dengan seluruh ingatan yang ia sendiri bahkan tidak ingat berasal dari kehidupan mana?

"Kyungsoo," suara Luhan membuatnya serabutan menghapus air matanya. Namun ketika ia ingin berdiri, kakinya mengkhianatinya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya yang segera membantu Kyungsoo untuk duduk di sofa.

"Aku baik-baik saja." Balas Kyungsoo disertai senyuman tapi senyuman itu menjadi kaku dan pudar. Sehun menatapnya khawatir, benci dan kecewa sebelum membanting pintu kamar Kyungsoo. "Ada apa dengannya?"

Luhan mengedikkan bahunya. "Aku juga tidak tahu. Ia tiba-tiba saja begitu." Balasnya. "Aku pulang!"

Kyungsoo bangkit ketika kakinya tidak terlalu lemah untuk menopang tubuhnya. Sekilas ia menatap pintu kamarnya dan mendesah kecil. "Bagaimana aku tidur malam ini?" ia menyeret kakinya menuju halaman depan, berniat merapikan kebun kecil mereka. Tapi tak satu pun alat kebun terlihat disekitarnya.

Dengan malas Kyungsoo melangkahkan kakinya menuju gudang penyimpanan di belakang rumah yang selalu dihindarinya karena terlihat mengerikan. Ia tanpa sadar memekik senang saat gudang itu terkunci, membuatkannya alasan untuk tidak melakukan perkebunannya. Ia berbalik dan berjalan beberapa langkah sebelum melirik sekilas pintu itu.

Ia mengerang malas dan memasuki rumahnya, mencari kunci gudang itu. Tidak perlu waktu lama untuknya menemukannya dan kembali membuka gudang gelap itu. Dengan penerangan kecil yang dihadirkan dari senter kecil yang dibawanya, Kyungsoo memasuki gudang besar itu lebih dalam.

Ketika ia menemukan selang serta cangkul kecil dan berniat mengambilnya, bau anyir tiba-tiba menyerang penciumannya. Ia mengedarkan cahaya senter dan memekik kecil ketika melihat sosok wanita yang terikat di kursi berlumuran darah.

"Kumohon, tolonglah aku." Lirihnya terbata-bata.

Tanpa bicara lagi, Kyunsoo segera menghampirinya dan membuka ikatan itu. "Kau…" ujar Kyungsoo tercekat ketika wanita itu mencekik dan membantingnya ke lantai. Membuat kepalanya terbentur cukup keras dan membuatnya pusing.

Kyungsoo mengenalinya sebagai wanita yang dibawa Jongin kerumah. Tapi mengapa wanita ini terikat dalam lumuran darah dan menyerangnya. Wanita itu menyeringai nakal pada Kyungsoo dan merobek pakaiannya.

Tali yang tadi mengikat wanita itu kini mengikat tangan Kyungsoo yang tergeletak tanpa perlawanan. Matanya setengah terbuka menyadari bahwa wanita itu mulai merangsangnya dengan lihai hingga miliknya dalam waktu singkat telah mengacung sempurna.

Wanita itu tersenyum dan tertawa rendah, ia mengambil lelehan darah yang keluar dari kepala Kyungsoo dan melapisinya di leher dan dada Kyungsoo. Ia segera menggigit bibirnya ketika miliknya terasa hangat dan basah, mau tidak mau suara desahannya sedikit terlepas.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kyungsoo lirih, menahan rasa sakit yang tidak seharusnya mendera bagian bawahnya.

"Membalas dendam pada pasangan Kim Jongin," ungkapnya senang. "Katakan padanya, inilah balasannya telah mengurungku di tempat hina ini." Kyungsoo tidak sempat membalas ketika wanita itu tiba-tiba merobek dadanya.

Cheesy Life

Kyungsoo menggeliat tidak nyaman, membuatnya harus membuka mata dan mendapati tatapan khawatir dari Jongin. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati semua wajah familier dengan tambahan Yixing dan Suho.

"Bagaimana perasaanmu, Kyungie-ya?" kyungsoo mengeryit heran mendengar suara Jongin yang terdengar serak. Ia mencoba bangun dan mengamati wajah Jongin lebih dalam.

"Apa kau baru menangis? Matamu terlihat semb…" jongin segera memeluknya erat. Matanya melihat Sehun yang juga terlihat menangis. "Ada apa sebena…" ucapanya terhenti ketika ingatannya terakhir kali berada di dalam gudang.

Tubuhnya bergetar ketakutan, memori rasa sakit ketika wanita itu merobek dadanya masih terasa. Pelukan Jongin semakin mengerat dan dari ekor matanya ia bisa melihat seluruh orang mulai meninggalkan mereka berdua. "Tenanglah, Kyungie. Aku disini. Aku disini." Ujar Jongin terisak pelan, tangannya terus membelai punggung Kyungsoo mencoba menenangkan pria mungil itu. "Kau aman."

Tangan Kyungsoo terulur melingkari pinggang Jongin dan menenggelamkan wajahnya di dada Jongin. Ia perlahan memejamkan matanya dan menikmati detak jantung beraturan milik Jongin, terdengar seperti lullaby yang mengantarnya ke alam mimpi. Tapi ia merasakan kejanggalan.

Kyungsoo melepaskan pelukan mereka, matanya menatap Jongin tak percaya. Tangannya mencengkram dadanya. Dengan cepat, Kyungsoo membuka baju dan melihat dadanya yang tak tergores sedikit pun. Tapi rasanya ada yang hilang.

"Kyungie-ya, dengarkan aku," Jongin menarik tangan Kyungsoo yang bergetar dan mendekapnya didada.

"Jongin-ah!" seru Kyungsoo kalut. "Jongin-ah, aku tak bisa merasakan detak jantungku!" ia menarik tangannya dan meletakkannya didada. "Apa yang terjadi? Kenapa aku tak bisa merasakan jantungku? Kenapa aku terasa dingin sekali?"

"Kyungie-ya, Kyungie dengarkan aku." Jongin mencoba menghentikan racauan Kyungsoo hingga ia harus menampar pria itu. "Hiks, maafkan aku. Dengarkan aku, kumohon. Kau akan baik-baik saja! Aku berjanji kau akan menjalani hidup normalmu. Percayalah padaku, aku akan mengembalikan jantungmu. Kumohon!"

Lelehan bening lepas begitu saja. Kyungsoo sangat membenci jika ia harus melihat Jongin menangis dihadapannya, terlebih lagi jika semua itu adalah kesalahannya namun ia tak mengerti apa yang terjadi. Siapa wanita itu? Kenapa Jongin mengurungnya di gudang? Kenapa wanita itu melukainya? Ada apa dengan jantungnya? Kenapa ia tak bisa merasakan detaknya? Kenapa ia masih tetap hidup bahkan setelah wanita itu merobek dadanya? Apa semua ini mimpi?

Matanya beralih ke pintu saat Yixing datang dan mengacungkan suntikan kelengannya. "Ini hanya obat tidur, Kyungsoo-ya. Kau butuh istirahat." Ujarnya lembut, membuatnya membiarkan saat ujung tajam itu menembus kulitnya.

Cheesy Life

Mata bulat itu kembali terbuka dan membuatnya menyadari bahwa ia kembali terlelap di ranjang Jongin. Mungkin Sehun menempati kamarnya sekarang, ia tak melihat sejak bocah itu membanting pintu kamarnya.

Perlahan Kyungsoo bangkit dari ranjang itu dan berhenti untuk menatap bayangannya di cermin. Pucat dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang cukup mengalahkan Tao. Ia mencoba untuk tidak peduli dan keluar dari kamar itu tanpa suara.

"Kita harus bertindak cepat," seruan Kris menghentikan langkah Kyungsoo dan membuatnya merapat ke dinding. "Suho?"

"Aku sedang mencobanya!" sahut suara Suho dengan kesal. "Melacak sebuah sarang bukanlah hal yang mudah!"

"Tenanglah, Myeonie." Suara Yixing kini terdengar menenangkan. "Aku tahu Kyungsoo tidak mempunyai waktu yang lama, tapi berikanlah Jun Myeon waktu."

"Sehun, pergilah kuliah. Setidaknya jangan mengecewakan kakakmu lagi." Suara Luhan mengalun lembut, tidak datar seperti biasanya.

"Bagaimana bisa aku belajar jika hyung sekarat?" sahut Sehun mengatasi tangisannya.

"Setidaknya istirahatlah dikamar," suara Jongin kini membalasnya tak kalah lembut. "Kau belum berhenti menangis semenjak kemarin malam."

"Gambaran Kyungsoo hyung di gudang itu tak bisa hilang dari pikiranku," isakan Sehun semakin kuat. "Aku tak mau bermimpi buruk."

"Tidurlah!"

Tak ada yang berbicara ketika dua langkah kaki itu meninggalkan ruang keluarga. Tapi Sehun dan Luhan muncul dihadapannya dengan wajah lelah. "Hyung.." ucap Sehun lirih, Kyungsoo membalasnya dengan senyuman tulus.

"Kau lihat! Kyungsoo baik-baik saja. Sekarang tidurlah!" sergah Luhan ketika Sehun ingin melangkah mendekati Kyungsoo. Ia menggiring Sehun memasuki kamar tepat disebelah kamar Jongin. "Aku akan menemaninya."

Kyungsoo melangkah, menunjukan dirinya pada kerumunan yang berkumpul di ruang keluarga. Tak ada yang berbicara, seperti menunggu sesuatu untuk terjadi. "Ada yang mau kopi?"

Baekhyun bangkit dan menarik Kyungsoo untuk duduk disamping Jongin yang terlihat lelah tetapi tetap memaksakan senyuman padanya. "Biarkan aku yang membuat."

Setelah Baekhyun menghilang, Kyungsoo menundukkan kepalanya dan memainkan cincin pernikahannya. "Aku mendengar pembicaraan kalian." Jongin menghela napas kasar, Kyungsoo menoleh kearahnya dan harus menelan ludahnya dengan susah payah. Jongin terus menghapus air matanya dengan telunjuk. "Sebelum aku mendengar penjelasan seluruhnya. Berapa lama umurku?"

"5 hari termasuk hari ini." Kris berujar mantap meskipun ia menunduk dengan raut wajah sedih sembari memeluk Tao yang tergolek lemas.

Kyungsoo tertawa nyaring, beringsut mendekati Jongin dan memeluknya. Kepalanya kembali beristirahat di dada Jongin. Ia memejamkan matanya. "Siapa wanita itu, Jongin-ah?" ia bisa merasakan Jongin membuang wajahnya. "Kau tak mau menjawabku?"

Tak ada jawaban hingga suara Suho menyela mereka. "Aku sudah menemukannya!"

Kris, Suho, Chanyeol dan Jongin segera bangkit tapi Kyungsoo menahannya, "Jongin-ah, tetaplah disini." Pintanya dan membuat Jongin kembali terduduk.

"Biar aku dan Tao yang ikut." Baekhyun tiba dengan segelas kopi yang diletakkan dihadapan Kyungsoo. "Yixing, kau tetap disini." Pria itu menunjukkan lesung pipit dan mengangguk. Tidak perlu waktu yang lama, mereka telah pergi.

Kyungsoo mengambil kopinya dan kesempatan itu digunakan Jongin untuk memasuki kamarnya dan menguncinya. Meninggalkan Kyungsoo yang tersenyum miris dengan Yixing yang terlihat sedih. "Nah Yixing hyung, sekarang ceritakan siapa kalian dan wanita itu?"

"Kau belum melupakan pertanyaanmu, eoh?" yixing tersenyum dan menggeser posisinya mendekati Kyungsoo. "Apa kau percaya dunia Aesthral?" kyungsoo mengangguk, tentu saja dia mengangguk. Dunia Aesthral adalah satu-satunya alasan yang bisa menjelaskan kemampuannya. "Pasti kau mengenal Incubus bukan?" Kyungsoo tak mengira bahwa Yixing benar-benar membawanya membicarakan makhluk dari dunia itu. "Wanita Incubus dan ditangkap Jongin. Sayangnya, kau masuk ke gudang penyimpanan sebelum kami memindahkannya."

Kyungsoo mengingat kunjungan mereka pertama kali setelah malam wanita itu menjejakkan kaki di rumah ini adalah memasuki gudang penyimpanannya. Ia tersenyum semakin miris. "Jadi aku menikahi pria yang pekerjaannya semacam mediator? Kupikir ini hanya masalah harta warisan?" Yixing mengeryit aneh. "Bukan apa-apa hyung."

Tanpa menghiraukan pandangan Yixing, Kyungsoo berjalan menuju kamar Jongin dan mengetuknya berulang hingga Jongin mengalah dan membukanya. Ia menatap punggun Jongin yang terbaring tanpa mau melihatnya.

"Kupikir ini hanya masalah harta warisan Jongin-ah?" Pria itu tak menjawabnya. Kyungsoo merangkak dan memeluk Jongin dari belakang. Ia terus menahan Jongin yang hendak berbalik. "Biarkan seperti ini Jongin-ah."

"Kau tak marah padaku?" Jongin merasakan Kyungsoo menggeleng mantap. "Walaupun aku menggunakanmu sebagai alasan harta warisan dan kini nyawamu terancam" Kyungsoo mengangguk. "Kenapa?" tanyanya yang kembali terisak.

"Aku mencintaimu." Kyungsoo semakin mengeratkan pelukannya ketika Jongin tak menjawab ataupun sekedar mengeluarkan pekikan kaget. "Aku mencintaimu meskipun kau tidak. Sejujurnya aku berterimakasih pada ayahmu yang menjodohkanmu denganku serta melunasi utang-utangku. Tapi aku sangat berterimakasih karena ia mendekatkanku padamu."

Kyungsoo tak melawan ketika Jongin melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkan kamar ini. ia hanya meneteskan air mata tanpa isakan saat melihat punggung Jongin menjauh.

Cheesy Life

Sudah dua hari semenjak Kris, Suho dan yang lainnya tak kunjung kembali. Keadaan Kyungsoo semakin memburuk dan Jongin terlihat seperti tidak pernah mendengar pengakuan Kyungsoo. Kyungsoo sendiri tidak berani mengungkitnya meskipun ia merasa sangat bimbang.

Sehun, pria itu memilih meninggalkan rumah itu daripada melihat hyung-nya sekarat hari demi hari. Luhan juga mengikuti kepergian Sehun atas permintaan Kyungsoo yang memintanya untuk menjaga adiknya.

"Tiga hari lagi bukan?" tanya Kyungsoo yang terduduk di halaman belakang ditemani Yixing yang tak bersuara. "Hah! Tebakanku memang benar?"

"Tebakan apa?"

"Bahwa manusia tak bisa bertahan dengan rongga kosong di dadanya." Ujarnya dengan jenaka. Tapi keduanya tahu bahwa ia berbohong dan kalimat itu memiliki makna jamak. "Aku sedikit menyesal harus meninggalkan Jongin sebelum warisan dimilikinya dan menjadi beban baginya."

Yixing mengeryit bingung. "Sejak beberapa hari yang lalu aku selalu dibuat bingung olehmu tentang harta warisan yang terkadang terdengar bahkan kau tak sadar mengucapkannya?"

Kyungsoo tersenyum penuh canda. "Benarkah?" tapi senyum itu tak bertahan lama dan segera digantikan oleh tangisan. "Pernikahan ini hanya sebuah kepura-puraan," semburnya yang tak bisa menahan semuanya. "Ayahnya menjanjikan untuk melunasi utang-utangku dengan pernikahan ini sebagai alat Jongin menerima harta warisan. Tapi, tapi, tapi aku mencintainya. Aku menyatakan perasaanku dua hari lalu tapi, tapi, Jongin seperti tidak mendengarnya."

Yixing segera memeluk Kyungsoo lembut, membiarkan pria itu menangis. "Tapi Kyungsoo-ya, dari yang kulihat. Jongin juga mencintaimu." Tangisan itu seketika berhenti, "tidak mungkin ia terlihat kacau dan bersedih seperti ini jika ia tak membalas cintamu. Setelah semua ini berlalu, pernikahan kalian bisa seperti yang lainnya."

Kyungsoo tertawa dan terisak bersamaan. Ia melepaskan pelukannya dan tersenyum getir. "Tidak. Pernikahan ini takkan berlanjut. Aku akan meninggalkannya, selalu."

"Kyungsoo-ya, apa yang kau bicarakan?" Yixing memandang Kyungsoo sedih. "Kau akan baik-baik saja."

Ia bangkit meninggalkan Yixing yang masih terpaku dan memasuki rumah. Yixing segera menyusulnya dan kembali terpaku ketika melihat Jongin menangis bersimpuh dilantai sedangkan Kris, Suho dan yang lain telah kembali namun memalingkan wajahnya ketika tatapan mereka bertemu dengan Kyungsoo. Ia mendekati Jongin dan membawanya kedalam pelukan yang dibalas sangat erat oleh Jongin. Ia tersenyum pada semuanya dan menggumamkan terimakasih.

Tanpa disangka, Tao menjauhkan Jongin dari Kyungsoo dan segera menahan bahu Kyungsoo untuk menatapnya. Tidak butuh waktu lama, Tao melepaskan tangannya dan menatap Kyungsoo sedih.

"Kau tak seharusnya mengetahuinya, Tao-ya?" Tao beringsut jauh dari Kyungsoo dan berteriak seperti orang gila sementara Kyungsoo menatap lantai dan menutup telinganya. "Bukan salahmu Tao?"

Kris yang kewalahan menahan Tao yang meronta sedikit bersyukur ketika Tao berhenti seketika ketika kalimat itu keluar dari mulut Kyungsoo. "Bisa kau jelaskan ini, Tao?"

Tao seperti kehilangan keseimbangannya dan mulai menangis. "Kyungsoo hyung…dia…dia…dia Immortal Jumper,"

Jongin segera menyeret Tao berdiri dan membuat pria panda itu menatapnya. "Apa maksudmu? Aku tak pernah mendengar hal itu sama sekali."

"Karena hanya sedikit sekali orang yang memiliki kemampuan ini," sahut Kyungsoo lemah. "Kemampuan terkutuk." Tao terus menangis membuat semua orang bingung terlebih lagi memandang Kyungsoo tajam. "Ada orang yang tak bisa mati dan disebut kekal atau Immortal, tapi kekalan yang kumiliki bukanlah ditubuh namun, ingatan." Kyungsoo mengangkat matanya dan menatap Jongin dalam. "Aku berulang kali mati dan terlahir kembali dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, itulah Immortal Jumper."

Kyungsoo mendekati Jongin dan memeluknya, "Aku sudah lupa berapa kali aku terlahir Jongin-ah. Hitunganku kacau di kehidupan ke-22 tapi kau mau tahu sesuatu yang terus menahanku agar melanjutkan hidupku. Kau, Jongin-ah. Bagimu ini pertama kali kita bertemu, tapi bagiku sudah lebih dari itu. Dan aku terus mencintaimu."

Cheesy Life

Semenjak hari itu, Jongin tak pernah meninggalkan sisi Kyungsoo bahkan untuk semenit pun. Satu menit sangatlah berharga untuknya. Kris, Suho dan yang lainnya tak berhasil mendapatkan jantung Kyungsoo kembali karena Incubus itu telah memakannya tapi, tentu saja kehidupan Incubus itu telah berakhir.

Kyungsoo berbaring bersama Jongin dihalaman belakang mereka, menatap awan putih yang bergumul lebat. Matanya terus menatap langit sedangkan Jongin tak henti menatapnya. "Ah, Jongin-ah," Kyungsoo menoleh dan tersenyum manis. "Kau masih suka Caramel Macchiato dan Tiramisu?"

"Darimana kau tahu? Semenjak kita menikah kau tak pernah membuatkanku itu."

"Kau lupa, aku sudah mengenalmu luar dalam dari kehidupan sebelumnya." Balas Kyungsoo gemas dan mencubit pipi Jongin. "Nah, Jongin-ah karena ini hari terakhirku."

"KYUNGSOO-YA!" jongin mendudukkan dirinya dan menatap Kyungsoo marah.

Namun Kyungsoo segera menariknya untuk berbaring dan meletakkan kepalanya di dada Jongin. "Jangan marah, kau hanya merusak hari. Ok, kembali ke topic utama. Aku mencintaimu, kau?"

Jongin membalas pelukan itu. "Tentu saja, kau pikir untuk apa aku menangisimu." Balasnya jenaka, tapi Kyungsoo tahu itu hanya penutup kebohongannya.

"Cium aku," pinta Kyungsoo. "Kau belum pernah menciumku sejak dipelataran."

Jongin tersenyum sendu dan melumat bibir Kyungsoo. Mungkin itu ciuman pertama Kyungsoo yang sangat basah karena air mata Jongin. Ia membiarkan Jongin yang mendominasi dan ia hanya perlu menikmatinya.

"Terimakasih"

"Hmm,"

Mereka terlarut dalam keheningan yang nyaman, hanya memandang wajah satu sama lain. "Kau tak mau menceritakan hal yang sebenarnya tentang pernikahan kita? Aku juga tak melihat ayah dan ibumu semenjak pernikahan."

"Ahh, mereka mungkin akan kaget mendengar berita ini. Tapi, memang awalnya aku membencimu karena aku harus menikah demi harta warisan kakekku. Entah mengapa ayahku malah membawa seorang pria untuk kunikahi, tapi sekarang aku tahu bahwa julukan ayahku sebagai Matchmaker tidaklah salah. Kau pilihan yang tepat." Jongin mengecup bibir Kyungsoo singkat. "Tapi sejak malam kau mengajakku berteman, aku melihat senyuman manismu dan mulai menyukaimu."

"Kau tidak menyukaiku," sahut Kyungsoo. Ia tersenyum mencoba menyembunyikan rasa sakit yang mulai merayap dari kakinya. "Kau mencintaiku."

"Hmm, maaf karena membuatmu melalui ini semua. Maaf karena kau harus merasakan rasa sakit. Maafkan aku yang tak bisa memberikan kenangan indah untukmu. Maaf…"

"Berhentilah minta maaf." Pekik Kyungsoo jengah, mencoba menutupi ringisannya dan rasa sakit yang sangat susah dihiraukan di dadanya. "Gunakan saja untuk menciumku."

Kyungsoo perlahan menutup matanya sembari merasakan ciuman basah dari Jongin. "Aku mencintaimu, my Kyungie."

Another Life Ended Here

Author corner :

Maaf gak bisa balesin review-nya satu-satu. Chapter 5 adalah chapter terakhir, harap ditunggu.