Uncountable Life
Keberuntungan?
Keberuntungan mungkin menghampiri Kyungsoo saat ini. Meskipun ia tetap terlahir sebagai yatim piatu dan tinggal di rumah yatim. Ia tetap merasa beruntung karena ia tidak harus menyeret siapapun untuk menjadi adik kandungnya dan merasakan pahitnya kehidupan.
Tapi keberuntungannya juga membuatnya was-was. Sudah berulang kali ia kembali hidup dan selalu saja keberuntungannya tidak sebaik ini. Ia sudah hidup berapa kali untuk mengetahui betapa kejamnya dunia. Ia takut ketika suatu saat donator itu mendatanginya dan memintanya membalas jasanya. Dan mengapa Tuhan baru sekarang memberinya kehidupannya yang lebih mudah?
Sejak bayi ia sudah berada di rumah yatim tapi ketika umurnya beranjak 3 tahun. Seorang donatur tanpa nama dan identitas memberikan semua padanya. Walaupun donator itu tetap menyumbang pada anak lainnya tapi ia tetap menjadi satu-satu anak yang keperluan terpenuhi secara penuh. Membuatnya tidak mempunyai teman dan rasa iri yang selalu di rasakannya dari tatapan penghuni lainnya serta menjadi alat bagi pengurus yayasan untuk mengeruk keuntungan juga.
Maka ketika ia menginjak 10 tahun, ia mengemas barang-barangnya dan kabur dari rumah yatim itu. Berharap keberuntungannya kembali normal seperti kehidupannya yang terdahulu.
Kyungsoo sedikit menyesali keputusannya untuk kabur dimasa suram seperti ini. Terlebih lagi ia hanyalah anak kecil berumur 10 tahun yang tak bisa bekerja apapun dan masih bergantung pada orang lain. Namun keberuntungan menghampirinya lagi.
Seorang wanita melihatnya meringkuk di depan pertokoan yang sudah tutup. Ia menghampirinya dan mengajaknya pulang. Lama-kelamaan, wanita itu menganggap Kyungsoo sebagai putranya terlebih lagi wanita itu tinggal sendirian dan tidak mempunyai anak.
Bocah kecil itu tumbuh menjadi remaja manis yang disukai semua temannya. Kyungsoo tampan dan jangan lupakan wajahnya yang manis, pintar, baik dan rendah hati, dan disukai guru-gurunya. Pengalaman hidup berulang kali memberikannya kemampuan untuk beradaptasi dan mencari simpati dari orang lain.
Namun ketika umurnya menginjak 17 tahun, ia pulang dan menemukan sebuah surat. Sebuah surat yang memberitahunya bahwa ia masih hidup dalam lindungan sang donator masa kecilnya. Surat yang ditanda tangani persis seperti surat-surat lain di rumah yatim piatu untuk mengurusnya. Dan wanita yang sudah dianggap seperti ibunya adalah wanita yang dibayar untuk merawatnya.
Ketakutan Kyungsoo kembali menyerangnya, ia semakin yakin kebaikan sang donator memiliki motif lain yang bisa membawa imbas buruk padanya. Kyungsoo segera mengemas barang-barangnya dan pergi dari rumah itu.
Pekerjaan sambilannya cukup untuk menyewa sebuah apartemen kecil. Kini ia hanya masuk kesekolah untuk mengisi absensi ataupun mengikuti ulangan yang diberitahukan oleh temannya. Hidupnya terdedikasikan untuk bekerja dan mencari pekerjaan yang layak.
Ketika ia kembali dari pekerjaannya, apartemen kecil yang terasa luas itu membuatnya merindukan sosok Tao ataupun Sehun yang biasanya terlahir menjadi adiknya. Ia hanya bisa menghela napas dan berjalan menuju kamarnya. Mengambil pensil hitam dan melanjutkan lukisannya. Lukisan Jongin yang tersenyum padanya.
"Aku merindukanmu, Jongin-ah." Bisiknya pada kesunyian. "Aku merindukanmu, meskipun itu berarti hidupku sebentar lagi. Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi, Jongin-ah."
Cheesy Life
Mentari pagi membuat Kyungsoo terbangun dan memakai seragamnya. Hari ini adalah kewajibannya untuk mengisi daftar kehadirannya jika tidak, ia akan dikeluarkan. Angin pagi tidak membuat harinya secerah sinar mentari. Matanya terlihat bengkak dan sembab karena menangisi takdirnya semalaman.
Gerbang sekolah membuatnya harus kembali tersenyum ketika semua orang yang mengenalnya menyapa. Ia segera memasuki kelas dan duduk sendirian. Walaupun ia dikenal sebagai sosok yang baik tapi ia memilih untuk tidak memiliki teman dekat. Hidupnya bukan mencari teman dan bertahan hidup seperti yang lainnya. Hidupnya adalah untuk bertemu Jongin dan kembali mengulang, lagi.
"Hai Kyungsoo." Sapa seseorang yang sering ia kenal tapi tak diketahui namanya. "Kurasa kau akan senang hari ini."
"Kenapa?" tanyanya, mencoba untuk tidak terlihat ingin menanyakan nama gadis di depannya.
"Ini karena kau jarang masuk sekolah. Sejak kemarin, ada satu keluarga yang pindah ke sekolah ini dan salah satunya masuk ke kelas ini." gadis itu bercerita dengan heboh. Kyungsoo hanya tersenyum dan mengingat bahwa Tao dan Sehun sering bercerita seperti gadis itu. "Dia teman sebangkumu dan luar biasa tampan."
Kyungsoo hanya terkekeh dan membiarkan gadis itu bercerita tentang pendapatnya hingga lonceng berdentang. Gadis itu kembali ke bangkunya dan Kyungsoo mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Memandang langit dan awan tanpa memperdulikan sekitarnya. Ia menenggelamkan wajahnya ke dalam bantalan lengannya, tidak peduli jika seseorang telah duduk disampingnya. Hanya anak baru, pikirnya.
"Apa kabar?" suara familiar itu membuat tubuh Kyungsoo menegang dan perlahan menghadap teman barunya. "Kau Kyungsoo bukan? Aku Kim Jongin."
Kyungsoo menahan mati-matian air matanya dan baru menoleh untuk menjabat tangan lembut yang selalu ingin di genggamnya. "Ya, aku Kyungsoo. Senang berkenalan denganmu, Jong…in…ssi."
Tenggorokan Kyungsoo terasa tercekat ketika kembali memanggil nama kekasih hatinya dihadapan pemiliknya. Ia harus berulang kali menahan kepalanya untuk tidak menoleh dan mengagumi pahatan Tuhan disampingnya. Tapi ia tidak berhasil menahan air matanya.
"Kau baik-baik saja, Kyungsoo?" tanyanya penuh kekhawatiran dan menyeka air mata Kyungsoo dengan ibu jarinya. Membuat Kyungsoo menahan napas ketika tangan lembut itu tidak sengaja membelai pipinya.
Kyungsoo mengangguk kaku. "Aku baik-baik saja, Jongin-ah. Hanya kemasukan debu."
Senyuman itu merekah diwajah Jongin, membuat Kyungsoo tanpa sadar kembali meneteskan air mata. Betapa ia merindukan senyuman itu. "Aku suka jika kau tidak harus menambahkan 'ssi' pada namaku. Kau mau makan siang bersamaku nanti?" Kyungsoo hanya mengangguk, ia tidak bisa lebih senang dari ini.
Ternyata Kyungsoo salah, ia bisa lebih senang daripada sekedar bertemu Jongin lagi. Kakinya yang terasa lemas membuatnya jalan terlalu pelan dan itu membuat Jongin sebal menunggu hingga ia menarik tangan Kyungsoo dan menggiringnya ke meja dimana saudara-saudaranya yang lain telah menunggu. Tapi bukan genggaman tangan Jongin dijemarinya yang semakin menambah kebahagiaannya namun wajah-wajah familiar yang menatapnya heran.
"Ah, kau pasti Kyungsoo bukan? Teman sebangku, Kai." Seru Baekhyun antusias. "Namaku Baekhyun. Dia Chanyeol dan yang wajahnya datar itu Sehun."
"Apa kabar? Aku Kyungsoo." Balasnya, ia tersenyum lebih pada Sehun yang menatapnya aneh.
"Kudengar kau jarang masuk sekolah?" tanya Baekhyun yang mulai menginterograsi Kyungsoo seorang diri.
"Ya, aku harus bekerja." Kyungsoo tak melepaskan senyuman itu dari wajahnya. Mungkin ini jawaban Tuhan atas tangisannya semalam. Semenjak itu Kyungsoo mengurangi pekerjaannya dan lebih memilih untuk bersekolah dimana ia bisa bertemu dengan Jongin.
Matahari bersinar terik membuat Kyungsoo terus mengipaskan buku ke wajahnya. "Apa ada sesuatu di wajahku, Jongin-ah?" tanyanya ketika wajah Jongin yang melekat di meja terus menatapnya.
"Tidak ada apa-apa." Balas Jongin dan membawa tangannya untuk membelai wajah Kyungsoo. Tangan dingin yang aneh ditengah panasnya cuaca. Tiba-tiba Jongin tersentak dan menarik tangannya. "Maaf, tiba-tiba…."
Kyungsoo yang sebenarnya menyukai belaian itu harus menahan desahan kecewanya dan tersenyum menjawab pertanyaan Jongin. Ia menarik napasnya dan menatap wajah Jongin serius. Ia sudah memikirkan ini sejak semalam dan sudah membulatkan tekadnya. Kondisi kelas yang cukup sepi juga mendorong mentalnya.
"Jongin-ah,"
"Hmm,"
"Aku menyukaimu." Ungkap Kyungsoo singkat dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. ia bisa melihat wajah kaget dan tubuh kaku dari Jongin ketika menatapnya. "Aku tahu ini terlalu cepat, terlebih lagi ini baru sebulan kau masuk sekolah ini. Tapi, aku menyukai…kurasa aku mencintaimu."
"Apa yang kau tunggu Kai-ah?" suara Baekhyun membuat Jongin terlonjak. Mereka menoleh kebelakang dimana Baekhyun dan Chanyeol menatap mereka dengan cengiran aneh.
"Kau bahkan tak menyadari keberadaan kami. Ck, ck, ck, ck." Chanyeol mendecih sembari menggelengkan kepalanya dan beralih pada Kyungsoo. "Tenang saja, Kyungsoo-ya. Bocah ini juga menyukaimu dan setiap hari selalu gelisah kalau berurusan denganmu." Chanyeol meracau tanpa memperdulikan delikan Jongin. "Setiap hari 'Kyungie-ya, aku mencintaimu tapi bagaimana bilangnya'"
Kyungsoo hanya tersenyum, mungkin ia berbangga diri dengan pertanyaan yang ia ketahui jawabannya 100%. Ia beralih kepada Jongin yang tertunduk. "Aku tidak bertepuk sebelah tangan kalau begitu, Jongin-ah. Dan aku suka 'Kyungie'"
"Kupikir Jongin akan sendirian selama hidupnya," sahut Baekhyun dan Kyungsoo bisa melihat Jongin menahan tangannya untuk tidak melayang kewajah cantik sepupunya. Chanyeol hanya terkikik dan memeluk Baekhyun. "Sekarang ada yang bisa dipeluknya."
"Aish hyung, hentikan." Jongin bangkit dan keluar dari ruangan diikuti suara tawa Chanyeol dan Baekhyun.
"Kyungsoo-ya, kau mau berkunjung ke rumah kami?" Kyungsoo menoleh ke arah Baekhyun dan Chanyeol. Tapi Chanyeol menatap Baekhyun tidak setuju.
"Kalau boleh?"
"Tentu saja boleh, Kyungie-ya." Balas Baekhyun yang tidak menghiraukan pandangan Chanyeol yang akhirnya menghempaskan tubuhnya.
Dari pandangan Chanyeol, Kyungsoo tahu bahwa pria tinggi itu tidak setuju dengan ajakan Baekhyun. Tapi ia sendiri tidak bisa menahan rasa semangatnya untuk mengunjungi rumah keluarga Jongin.
Tapi sepertinya bukan hanya Chanyeol yang tidak menyetujuinya. Jongin dan Sehun sangat terlihat kaget ketika Baekhyun menyeret Kyungsoo ke parkiran sekolah dan memberitahu idenya.
"Kau gila?" teriakan Sehun membuat Kyungsoo terlonjak kaget.
"Kyungsoo sudah resmi dengan Jongin. Tidakkah Luhan, Yixing dan Jun Myeon ingin melihatnya?" sembur Baekhyun yang tidak sadar membuat Kyungsoo bersalah.
"Mungkin ok dengan Yixing, tapi…"
"Aku tidak apa-apa. Mungkin lain kali." Ujar Kyungsoo menghentikan kalimat Sehun dan berbalik pergi. Pikirannya sudah berkelana memikirkan kenapa Sehun, Jongin dan Chanyeol terlihat sangat tidak menyetujui ide Baekhyun.
Apakah Kyungsoo tidak pantas untuk menemui Luhan, Yixing, dan Jun Myeon ataukah karena Kyungsoo tidak pantas bersama Jongin?
Pemikiran itu membuat Kyungsoo terus-menerus menyeka wajahnya. Ia hanya butuh Jongin untuk beberapa waktu, memang terdengar egois. Namun ia akan kembali mati dalam waktu dekat, itu selalu terjadi.
Wajah Yixing, Luhan, Jun Myeon, Sehun, Chanyeol dan bahkan Jongin hadir di kepalanya. Ingin sekali ia meneriakan pikirannya. Biarkanlah ia menikmati waktu bersama Jongin sebelum kembali mengulang, hanya itu yang dibutuhkannya.
Sebuah tarikan dipergelangan tangannya membuat Kyungsoo berakhir di pelukan seseorang. Seseorang yang terlalu dikenal oleh Kyungsoo bahkan dari aroma tubuh dan sentuhannya. "Maaf, ini hari pertama kita bersama tapi kau sudah menangis." Ucap Jongin selagi membelai punggungnya, memberikan sebuah ketenangan.
"Tidak apa-apa Jongin-ah. Aku hanya mau pulang." Balasnya sembari melepaskan pelukan dan berjalan menjauh.
Namun Jongin kembali menangkap pergelangan tangannya dan menariknya kedalam mobil yang bahkan tak disadarinya. Ia terus terdiam, sama seperti Jongin yang mengantarkannya pulang. Pemikiran tentang Jongin yang tahu apartemennya sudah terjawab dikepalanya. Karena Jongin selalu melakukan background checking padanya.
Kyungsoo terus menundukan wajahnya dan menutup matanya. Kepalanya terasa sakit dan berat karena memikirkan kematiannya yang akan kembali padanya hingga ia tidak sadar bahwa Jongin menatapnya.
"Maafkan aku." Kyungsoo membuka matanya dan menyadari bahwa celananya telah basah karena air mata serta deru mobil yang terhenti. "Maafkan aku karena kau sudah terluka di awal. Maafkan aku."
Jongin mengulurkan tangannya dan mengangkat wajah Kyungsoo serta menghapus jejak air mata di wajah manis itu. "Chanyeol tidak bohong saat bilang aku selalu gelisah jika berhubungan denganmu karena kau tahu aku juga mencintaimu."
Kyungsoo tak menjawabnya, ia keluar dari mobil dan berjalan menuju apartemennya. Membiarkan Jongin mengikutinya hingga depan pintu. "Aku tak apa-apa, sungguh." Ujar Kyungsoo ceria. "Pulanglah, kau pasti meninggalkan saudara-saudaramu setelah aku pergi bukan? Mereka akan khawatir."
Jongin tersenyum, ia mendekati Kyungsoo dan merunduk mendekati wajah manis itu. Kyungsoo menutup matanya dan kembali menikmati ciuman lembut nan singkat yang selalu dirindukannya.
Kyungsoo menebar senyuman sekali lagi sebelum menutup pintu dan berlari menuju kamarnya. Menenggelamkan dirinya dalam selimut dan menangis. Tangisan yang picu kalimat Sehun dan mau tidak mau membuatnya mengingat umur singkatnya setiap kali bertemu Jongin.
Cheesy Life
Semua berjalan normal seperti Kyungsoo tak pernah mendengar pertengkaran kecil di perkarangan sekolah. Sehun pun seperti tak merasa bersalah dan bersikap seperti biasanya. Ia tidak mempermasalahkannya selama ia bersama Jongin.
"Kau tak memakan makan siangmu lagi?" tegur Kyungsoo ketika Jongin mengupas apel dan meletakkannya di nampan makanan Kyungsoo. "Kalau kuamati, sepertinya kalian bahkan tak menyentuh makanan kalian."
Tak satupun menjawabnya dan anehnya mereka berhenti bergerak seperti ketahuan melakukan suatu kejahatan. "Kau tidak tahu betapa banyak kalori yang harus aku bakar untuk makanan tidak sehat seperti ini." ujar Baekhyun sebal.
Kyungsoo hanya mendengus sebal dan mengambil apel yang dikupas oleh Jongin. Ia melupakan bahwa hanya Baekhyun yang mengutarakan alasannya dan bahu rileks yang lain. "Jelas-jelas ini sehat. Tapi, terserah kau."
"Setelah pulang kau langsung bekerja, Kyungie?" Kyungsoo mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya. "Berhentilah." Kyungsoo segera menoleh begitu mendengar permintaan Jongin. "Biar aku yang mengurus semua keperluanmu."
Kyungsoo tersenyum tipis. "Jongin-ah, kenapa kau bersikap seperti merawat istrimu."
"Tapi kau calon istriku." Sahut Jongin menggoda. "Apa salahnya kalau aku memulai lebih awal?"
"Ewwh," Sehun dan Chanyeol berpura-pura mengeluarkan isi perutnya yang segera di pukul oleh Baekhyun.
"Tapi aku bukan wanita dan kita tak mungkin menikah." Kyungsoo segera menutup mulutnya, dia punya kehidupan pernikahan dengan Jongin sebelumnya. Jadi tak menutup kemungkinan untuknya bisa menikah. Tapi, kehidupannya setelah bertemu Jongin bertahan paling lama 5 bulan, mungkinkah ia bisa menikah dengan Jongin terlebih lagi ia masih kelas 2 SMA.
Tapi ia segera menyadari dan menyesali kalimat terakhirnya ketika melihat wajah kecewa Jongin dan ekspresi kaget dari Baekhyun, Chanyeol dan Sehun. "Jongin," rasanya ada batu besar ditengah tenggorokan yang menahan suaranya.
"Apa kau hanya mempermainkanku?" itu pertanyaan retoris bagi Kyungsoo tapi pertanyaan wajib bagi Jongin. Kyungsoo tak menjawabnya dan Jongin pergi meninggalkannya, meninggalkannya dalam penyesalan.
"Kyungsoo, tak tahukah kau bahwa Jongin tak pernah bermain dengan perasaannya. Dan kau mempermainkannya." Sehun memukulnya telak di ulu hati dan meninggalkannya diikuti oleh chanyeol yang menarik Baekhyun menjauh.
"Kau bodoh Do Kyungsoo." Ujarnya merutuki diri sendiri.
Perasaan menyesalnya tak menghalangi Kyungsoo untuk tetap bekerja hingga shift malamnya selesai. Ingin sekali ia segera sampai di rumah dan menangisi kebodohannya. Bagaimana mungkin ia mengatakan kalimat sensitive semudah itu.
Kaki lelahnya terus dipaksanya berjalan di jalanan sepi karena ia tertinggal bus terakhir dan uangnya tak cukup untuk membayar taxi. Ia menatap langit pekat tanpa bulan dengan pandangan sedih dan mendesah berulang kali.
Langkahnya terhenti ketika sebuah pekikan teredam terdengar olehnya yang melintas tepat di depan gang kecil dan gelap. Ingin ia melangkahkan kakinya meninggalkan tempat menyeramkan itu tapi rasa ingin tahu bodohnya semakin menggiringnya memasuki gang kecil itu.
"Ada orang?" ujar pelan hampir berbisik. Ia sangat merutuki dirinya yang penakut tapi memiliki rasa penasaran yang kuat. Kaki gemetarnya berhasil mengantarnya keujung gang dan menemukan sesosok wanita terkulai lemah dengan wajah pucat.
Air matanya sudah kembali turun ketika menyadari wanita itu sudah meninggal. Ia melangkah mundur dengan ketakutan, berharap menjauhi mayat itu dan berlari pulang ke apartemen kecilnya yang hangat. Tapi ketika punggungnya menyentuh sesuatu yang seharus tak berada di tengah gang. Mau tidak mau ia berbalik dan menatap wajah pucat yang balik menatapnya dengan dingin.
Noda darah di bibirnya tidak menghalangi Kyungsoo untuk mengenalinya. Wajah cantik seperti malaikat yang biasanya menatap sayang ke arahnya dikehidupan sebelum, kini menatapnya bagai seorang mangsa.
Tangan dingin itu terujulur ke arahnya dan mencengkram kuat lehernya hingga membuatnya kesulitan bernapas. Air matanya kembali turun menatap sosok dihadapannya penuh ketakutan. "L…Lu…Ha…n" cengkraman di lehernya mengendur tapi kesadarannya telah menghilang.
Cheesy Life
Kyungsoo tidak tahu harus merasa takut atau senang Luhan yang duduk di sudut ruangan menunggunya untuk bangun. Ia menatap Kyungsoo dengan pandangan bertanya yang sangat kental hingga pintu kamar dimana ia duduk terpojok di tengah kasur terbuka dan menampilkan sosok Jongin yang berlari menghampirinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jongin yang seperti melupakan pertengkaran mereka tadi siang. Ia langsung memeluk Kyungsoo yang pandangannya masih tertuju pada Luhan yang balas menatapnya.
"Hyung, temani aku." Suara Sehun membuat Luhan beranjak dan meninggalkan Kyungsoo yang terus menatapnya dengan datar.
"Ap…a…, sebenarnya apa yang terjadi?" pertanyaan Kyungsoo membuat Jongin melepas pelukannya dan menatap kekasihnya yang masih terlihat shock.
"Sebaiknya kau kembali tidur, Kyungie-ya." Balas Jongin yang terlihat enggan menjawab dan membenarkan posisi Kyungsoo yang langsung ditolak olehnya.
"Jawab aku, Jongin-ah. Aku melihat seorang mayat dan Luhan…Luhan tiba-tiba dibelakang dengan mulut berlumuran darah." Kyungsoo hampir terisak ketika mengingat memori terakhirnya. "Jawab aku."
Jongin menggenggam tangan Kyungsoo seolah tidak ingin kehilangan sosok dihadapannya. "Maafkan aku karena kau harus melihat itu semua Kyungie-ya." Jongin mencoba tersenyum namun yang tercipta hanya cengiran bodoh. "Aku bersyukur Luhan mau membawa kesini."
Kyungsoo menunduk dan memperhatikan tangan dingin yang kini menggenggamnya. Ia mencoba melepaskan genggaman Jongin yang terlihat ingin menahannya dan meletakkannya di dada Jongin. "Aku tak bisa merasakan detak jantungmu. Apa yang sebenarnya terjadi?" Kyungsoo sudah menangis dan terisak ketika Jongin kembali membawanya kedalam pelukan.
"Maafkan aku, Kyungie-ya. Aku, kami, vampire."
Kini Kyungsoo berharap untuk pingsan atau tertidur ketika mendengar pengakuan Jongin. Kakinya terasa lemas dan sulit untuk bernafas. Tapi harapannya untuk kehilangan kesadaran sama sekali tak terwujud.
Kyungsoo menatap kosong ke arah depan dalam pelukan Jongin. Lidahnya terasa kelu hanya untuk mengungkapkan penyangkalan. Tapi ingatannya tentang sosok Luhan yang menghisap wanita itu membuatnya tak berdaya. Jongin mengatakan yang sesungguhnya.
"Maafkan aku Kyungie." Jemarinya mencengkram erat kemeja yang dikenakan Jongin.
Rasa takut dan memori buruk membuat tangisan Kyungsoo semakin kuat. Ia menghempaskan tubuh Jongin dan berlari keluar dari kamar itu. Terus berlari meskipun ia tahu beberapa pasang mata menatapnya dan ia tahu kalau ia bisa terkejar kapan saja.
Ia tetap berlari walaupun tanpa alas kaki menyusuri jalan setapak berbatu dari rumah Jongin yang dikelilingi pohon pinus. Air matanya membuat pandangannya mengabur dan rasa lelah serta sesak membuat langkahnya melambat tapi ia tidak menghentikan larinya.
Jalan beraspal dan sepi membuat Kyungsoo berhenti berlari dan merasa aman. Ia terduduk dihalte bis dan meraup wajahnya. Kakinya terluka dan lecet tapi perasaannya mengalahkan rasa sakit di kakinya.
Perlahan ia bangkit dan harus tersungkur karena kakinya terasa seperti jelly. Ia menunggu beberapa saat untuk kembali berdiri dan berjalan menuju apartemennya yang terasa sangat jauh.
Cheesy Life
Ingatan tentang menemukan Luhan diwaktu yang salah menjadi beban untuknya. Kyungsoo jatuh sakit dan semakin memburuk ketika tidak ada yang bisa merawatnya. Suhu tubuhnya terlalu tinggi dan akhirnya ia kehilangan kesadaran.
Saat ia kembali terbangun, Kyungsoo sudah berada di ranjangnya dengan kain kompres masih terletak didahinya. Ada seseorang yang merawatnya, tapi siapa? Ia hidup sendirian. Semangkuk bubur yang masih hangat membuat Kyungsoo terduduk dan menatapnya sendu.
Tak ada manusia yang bisa memasuki apartemen dilantai 5 tanpa kunci cadangan dan merawat serta memasakkannya bubur. Tangan gemetarnya mulai menyendok bubur itu kemulutnya, ia tahu siapa yang merawatnya.
Air matanya kembali turun selagi ia memakan bubur buatan Jongin. Rasa takut dan shocknya membuatnya tak bisa berpikir jernih. Ia pernah kehilangan jantung dan mati dipelukan Jongin berulang kali, apa yang bisa lebih buruk dibandingkan Jongin yang seorang vampire? Jongin tak akan mungkin melukai dirinya, jika iya. Mungkin sudah dilakukan sejak pertemuan pertama mereka.
Kyungsoo terlalu mencintai Jongin. Ia sudah bertahan dari beberapa kehidupan untuk membuktikannya. Jika ia mundur karena hanya Jongin dan keluarganya adalah vampire, mungkin rasa cintanya selama ini hanyalah ilusi. Dan cintanya bukanlah ilusi.
Kyungsoo memakai mantelnya, cuaca mulai dingin menjelang musim salju datang. Kaki pendeknya berjalan perlahan menuju rumah besar yang berada dekat hutan pinus. Sebelumnya, rasa takutnya membuat ia tidak memperhatikan betapa indahnya berjalan dibawah pohon-pohon, membiarkan cahaya matahari terakhir musim gugur mencoba masuk melewati celah-celah daun jarum.
Ia memandang ragu pintu kaca yang berada tidak jauh darinya. Suara derik lantai papan membuat Kyungsoo sedikit terkejut ketika menjejaki beranda rumah. Ia melihat tidak ada satu pun tanda kehidupan dirumah ini, membuat Kyungsoo kembali teringat kalau ia mengunjungi keluarga yang tidak lazim.
"Permisi." Bisiknya, setidaknya ia merasa bisikannya akan tertangkap oleh telinga vampire.
"Kau datang!" suara Baekhyun yang tepat berada disampingnya membuat Kyungsoo semerta-merta menoleh. "Maaf kalau mengejutkanmu. Aku hanya senang kau kembali. Kupikir, kau akan membenci kami."
Baekhyun segera memeluk Kyungsoo yang terlihat tercekik hingga Chanyeol menjauhkan mereka. "Kau mencekik Kyungsoo, Baek." Baekhyun terlihat menyengir padanya. "Sebaiknya kita memberi ruang."
Kyungsoo mengeryit bingung dan sedikit terkejut ketika Baekhyun serta Chanyeol menghilang dalam kedipan mata. Tapi ia segera menyadari seseorang hadir di ujung tangga tengah menatapnya. Ia berbalik dan memasang senyum termanis yang Ia punya.
"Hai Jongin, apa aku menganggumu?" ujar Kyungsoo ragu dan mendekati Jongin yang tak bergeming. Ia menatap mata emerald yang berbeda dengan onix terakhir kali ia melihatnya. "Apa kau membenciku, sekarang?" suara Kyungsoo terdengar tercekat dan matanya mulai terlihat berkaca-kaca. Ia menunduk dan memainkan ujung lengannya. "Maafkan aku, aku…"
Kalimat Kyungsoo tidak terucap sempurna tatkala Jongin segera membawanya kedalam pelukan. "Ssh, harusnya aku yang meminta maaf. Maafkan aku yang telah membuatmu takut. Aku ingin memberitahumu tapi kau menemukan Luhan terlebih dahulu."
Kyungsoo menggeleng tanpa melepaskan pelukannya, merasa nyaman dengan pelukan Jongin. "Aku tidak peduli dengan cara apa kau memberitahuku. Aku hanya terkejut dan butuh waktu untuk menenangkan diri." Elak Kyungsoo, ia semakin mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu dan aku tidak peduli kalau kau adalah vampire. Bahkan kalau kau adalah Nymph, aku masih mencintaimu." Jongin terkikik dan mengecup bibir Kyungsoo sekilas.
"Apa kau tak mau memperkenalkannya padaku?" Suara familiar Yixing membuat Kyungsoo melepaskan pelukannya dan berbalik menatapnya. Ia tersenyum dan mendekati Yixing. "Hello, aku Yixing. Terimakasih karena kau sudah menerima kami."
Kyungsoo menoleh ke belakang tapi Jongin sudah tak terlihat. "Kurasa ia ingin kau membaur dengan kami." Yixing segera menariknya ke ruangan yang tak kalah besar dan nyaman. Jongin sudah duduk disana dengan yang lain.
"Kyungsoo-ya," pekik Baekhyun senang. Ia akan menerjang Kyungsoo jika saja Chanyeol tidak menahannya. "Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, hanya saja kau bisa memeluk Kyungsoo sampai mati setelah Suho hyung dan Luhan hyung berkenal resmi dengannya." Sahutnya yang segera melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Baekhyun.
Kyungsoo duduk di sebelah Jongin dan menatap Jun Myeon serta Luhan bergantian. "Senang bertemu denganmu. Aku Do Kyungsoo."
Suho terkikik. "Kau sangat sopan Kyungsoo-ya. Aku Jun Myeon tapi kau bisa memanggilku Suho dan dia…" Suho beralih pada LUhan yang menatap Kyungsoo intens disamping Sehun yang terus memainkan PSP-nya.
"Dia sudah mengenalku, Suho-ya." Selanya, memandang Kyungsoo dengan pandangan yang tak bisa diartikan. "Aku menyesal harus membuatmu melihatku saat itu, tapi aku punya alasan untuk menyerang manusia itu." tidak ada yang melewatkan tubuh kaku dan tegang Kyungsoo.
"Hyung, kau menakutinya." Ujar Jongin pelan dan merangkul Kyungsoo.
Luhan beralih pada Jongin dan merubah pandangannya menjadi lembut. "Jongin-ah, kau tahu kenapa aku malam itu dan apa yang bisa kulakukan padanya. Tidakkah kau merasa heran tiba-tiba aku pulang membawanya?"
Luhan segera menarik Sehun yang ingin pergi hingga kembali terduduk dan mematung dengan kepala tertunduk. "Aku tidak marah padamu, Sehunna." Ucapnya yang menggenggam tangan Sehun erat. "Ada hal aneh yang terjadi pada Kyungsoo, Jongin-ah. Aku tidak bisa membaca pikirannya dan Sehun yang tidak bisa membaca aura serta merasa familiar dengannya."
"Itu benar, kita semua tahu ada yang aneh pada Kyungsoo bukan? Sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di sekolah." Timpal Chanyeol yang menatap bingung pada Kyungsoo.
"Aku yakin Jongin atau yang lainnya pernah menyebut namaku tapi darimana kau tahu bahwa aku adalah Luhan?"
Kyungsoo terdiam dibawah tatapan yang menuntut penjelasan. Ia sendiri pun bingung bagaimana menjelaskannya hingga akhirnya ia hanya mengedikkan bahunya. "Aku juga tak tahu. Saat itu aku terlalu takut dan tiba-tiba namamu terucapkan." Dustanya. Ia berharap tak satupun yang menyadari keanehannya.
Luhan menghela napas. Ia bangkit dan menarik Sehun yang terlihat menyesal dan takut. "Ikut aku Sehunna." Ujarnya ketika Sehun masih mempertahankan posisinya. "Aku ingin bicara denganmu."
Sehun tetap pada posisinya dan menatap Suho seperti meminta bantuan. Tapi Suho tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Ia memekik ketika Luhan tiba-tiba saja membopongnya dan menghilang dari ruangan itu.
"Apa aku salah bicara?" tanya Kyungsoo yang terlihat bodoh.
Baekhyun, Chanyeol dan Jongin tertawa garing sementara Yixing dan Suho tersenyum getir. "Kau tidak salah, Kyungie-ya. Hanya saja, mereka memang punya sedikit masalah." Jawab Jongin selagi mengajak Kyungsoo untuk berdiri.
"Biasakan dirimu dengan sikap berubah-ubah keluarga kami, Kyungsoo-ya." Suho mengingatkan dan segera beralih menatap layar TV yang masih gelap.
"Maksudnya?"
Jongin terkikik dan menuntun Kyungsoo menaiki tangga. "Awalnya pasti aneh untukmu tiba-tiba masuk ke keluarga vampire, tapi seperti kata Suho hyung, biasakan dirimu." Balasnya sembari membuka pintu sebuah ruangan. "Ini kamarku."
Kyungsoo butuh waktu untuk terpana dengan interior kamar Jongin yang terbilang mewah. Ia beranjak dan duduk di ujung ranjang Jongin yang langsung menghadap balkon. "Ini indah, Jongin-ah." Pujinya, mengagumi seluruh interior yang berwarna biru laut. "Apa kau maniak biru?" Jongin hanya terkikik dan duduk disamping Kyungsoo.
"Bisa dibilang seperti itu."
Jongin terus memperhatikan Kyungsoo yang merasa asik melihat seluruh barang miliknya hingga punggung sempit itu berbalik dan menatapnya. "Tadi kau bilang masuk ke keluarga vampire. Maksudmu aku akan menjadi bagian keluarga ini?"
"Tentu," Jongin mengangguk mantap. "Kau pasanganku. Tentu saja kau akan menjadi bagian keluarga ini."
Kyungsoo mendekati Jongin dengan mata berbinar. "Kau benar-benar tidak bercanda tentang menikahiku?"
"Apa aku terlihat bercanda ketika mengatakannya?" Kyungsoo terdiam untuk beberapa saat dan menggeleng. "Apa kau akan merubahku menjadi vampire?"
Kini Jongin yang terdiam. mungkin ia tidak berpikir bahwa Kyungsoo akan menanyakan perihal itu. ia menatap Kyungsoo sendu. "Kalau kau siap hidup abadi?"
Ketika kata abadi yang diucapkan, pemikiran pertama yang muncul dikepalanya adalah taka da lagi pengulangan kehidupan. Seperti jalan keluar berharga ditemukan, Kyungsoo tersenyum manis dan menerjang Jongin kedalam pelukan. "Kenapa tidak?"
Jongin melepaskan pelukan itu dan menangkup wajah kecil Kyungsoo. "Kau akan menjadi makhluk mengerikan yang menghisap darah, Kyungi-ya. Kau sudah melihat Luhan yang menyerang manusia ketika emosinya tidak stabil. Kau akan menjadi seperti itu. Tidakkah kau ingin memikirkanya sekali lagi?"
Kyungsoo melepaskan tangan Jongin dari wajahnya dan menatap sebal sosok dihadapannya. "Boleh aku bertanya berapa umurmu sekarang?"
Jongin terdiam, ia ragu untuk menjawabnya. "Aku tidak pernah menghitung lagi, aku tidak tahu."
"Kau tidak tahu umurmu tapi kau tetap terlihat seperti 19 tahun. Sedangkan aku, aku akan terus menua Jongin-ah." Hardiknya sebal. "Aku tidak ingin terlihat berkencan dengan bocah berumur 19 tahun ketika aku sudah 30 tahun. Tidakkah nantinya aku terlihat pedofil? Atau orang-orang akan memanggilku kakek yang sedang berjalan-jalan dengan cucunya."
"Kau akan tetap ….."
"Aku tidak ingin mendengar kalimat rayuan itu keluar dari mulutmu, Kim Jongin. Kau menawarkanku untuk menjadi bagian dari keluargamu dan juga menawarkanku menjadi sepertimu. Tapi ketika aku sudah menjawab, kau malah terlihat ragu dan menyesal dengan penawaranmu."
Jongin terus mendengarkan racauan Kyungsoo dengan getir. Seharusnya ia tidak mengatakan hal ini terlalu dini. Ia hanya tidak ingin Kyungsoo merasa menyesal dan bosan dengan kehidupan yang tidak akan pernah berhenti. Kini ia juga menyesal memutuskan untuk hadir dikehidupan Kyungsoo dan mengacaukannya. Lebih baik ia hanya melihat dari jauh dan menikmati kehidupan bahagia kekasihnya walaupun bukan bersama dirinya.
Tapi Jongin tidak mengetahui bahwa Kyungsoo terlalu lelah untuk mengulang hidupnya dan bertahan hanya untuk melihat Jongin-nya. Penawaran Jongin terdengar seperti surga untuknya, tidak ada kembali hidup dan ia akan terus bersama Jongin-nya. Sekarang yang menjadi beban di pikirannya adalah bagaimana memaksa Jongin untuk mengubahnya sebelum waktu kematian yang tidak ketahuinya semakin mendekat.
Air wajah Kyungsoo berubah masam. "Ataukah kau hanya…. Apa kau memang tidak berniat bersamaku, Jongin-ah? Apakah aku hanya mainan yang akan kau gunakan ketika kau bosan dan membuangku." Setetes air mata lolos dari sudut matanya.
Jongin segera memeluknya erat. "Jangan pernah kau mengatakan hal itu kepadaku, Kyungsoo. Aku mencintaimu. Kau bukan mainan yang akan kubuang nantinya. Kau lebih berharga daripada hidupku sendiri." Kyungsoo tetap terdiam membiarkan isakannya memenuhi ruangan. "Ketika aku siap, aku akan mengubahmu dengan tanganku sendiri." Desahnya, kalah.
Jongin tidak tahu bahwa Kyungsoo kini menyeringai penuh kemenangan. Kalimat Jongin sudah seperti janji ditelinganya. Ia akan terus mendesaknya, kalau diperlukan ia akan membuat Luhan marah dan menyerangnya. Jika diperlukan.
Kyungsoo segera menghilangkan seringaiannya ketika Jongin mengangkat wajahnya. "Kumohon, jangan menangis dihadapanku. Kau membuatku serba salah." Kyungsoo tersenyum dan menghapus air matanya. Namun tiba-tiba tubuh Jongin menegang dan menjauhkan dirinya dari Kyungsoo.
"Ada apa?" Kyungsoo mengeryitkan dahinya heran.
"Tidak ada apa-apa, sebaiknya kau turun dan aku akan mengantarmu pulang." Sahut Jongin yang terlihat gugup dan beranjak pergi. "Aku akan menyiapkan mobil."
"Ada apa?" Kyungsoo menahan pergelangan tangan Jongin yang hampir terlonjak.
"Tidak ada apa-apa."
"Jongin-ah" suara Kyungsoo terdengar menuntut.
"Aku hanya tidak ingin kau mendengar Luhan sedang menghukum Sehun." Jongin segera melepas tangan Kyungsoo dan menghilang.
Dahi Kyungsoo mengeryit bingung. Ia tidak mendengar apapun. Mungkin itu kelebihan dari vampire, bisa mendengar apa yang tidak ia dengar. Tapi mungkin saja Sehun sedang berlumuran darah dan Jongin tidak ingin Kyungsoo melihatnya. Pikiran itu membuat Kyungsoo bergidik ngeri dan turun ke lantai dasar.
"Ah, kau sudah mau pulang? Yah sebaiknya kau pulang." Ujar Yixing yang terlihat tidak nyaman.
Kyungsoo hanya membungkuk dan segera menghampiri Jongin yang sudah berada didalam mobil. " Apa semengerikan itu, hukuman yang diterima Sehun?" Tanya sembari kesulitan memasang sabuk pengaman.
Jongin yang terlihat jengah segera menggantikan tangan mungil Kyungsoo mengaitkan sabuk pengaman dan menekan pedal gas dalam-dalam. Setelah beberapa saat dan jauh dari rumahnya, ia menurunkan kecepatannya dan mendesah lega. "Maaf membuatmu takut." Ia menoleh pada Kyungsoo yang seperti melekat di kursi penumpang.
"Kurasa sangat mengerikan jika kau membawaku pulang dengan gaya yang seperti ini." balas Kyungsoo, menjawab pertanyaan beberapa saat yang lalu. ia menoleh ke belakang dan menemukan berkas-berkas bertebaran di kursi belakang dan memungut salah satunya. "Ini apa?"
Jongin melirik sekilas. "Hanya dokumen perusahaan." Ucapnya dan terfokus pada jalan. Ia tidak memperhatikan Kyungsoo yang terdiam dengan dokumen dipangkuannya.
Mereka kini sampai di depan gedung apartemen, membuat Kyungsoo yang menatap dokumen mengembalikannya dikursi belakang. "Pulanglah dan tidur. Ini hari yang cukup mengejutkan untukmu." Jongin mengecup singkat bibir Kyungsoo.
Kyungsoo sendiri hanya tersenyum tipis dan keluar dari mobil mewah Jongin. Ia menatap kepergian mobil itu dan segera berlari menuju kamarnya ketika mobil itu hilang dari pandangannya.
Tanpa melepas sepatunya, Kyungsoo memasuki kamarnya dan mengobrak-abrik lemarinya. Seluruh pakaian dan kertas-kertas bertebaran dilantai hingga ia menemukan kertas dan surat yang dicarinya. Kini semua terasa masuk akal. Nama dan logo perusahaan serta tanda tangan dari surat serta kertas yang dipegangnya, semuanya sama persis dengan dokumen yang dibacanya di mobil Jongin.
Jongin adalah vampire yang bisa saja hidup ribuan tahun. Ia tentunya sudah mencari pasangannya dan merawatnya dari kecil. Dan dialah pasangan Jongin. Donator itu, wanita yang merawatnya serta seluruh keberuntungan aneh yang didapatnya. Semuanya diberikan Jongin untuknya.
Kyungsoo menghela napas lega. Ia tidak tahu bahwa mengetahui siapa yang mengurusnya bisa semelegakan ini. Kini ia tidak perlu merasa takut jika donator itu menginginkan sesuatu untuk membayarnya karena ia akan memberikan apapun untuk Jongin-nya.
Kakinya tidak mampu lagi untuk menopangnya dan jatuh bersimpuh. Air matanya kembali turun dan menjadi tangisan bahagia dan lega sepanjang hidupnya. Ia tidak tahu bahwa dalam satu hari, ia bisa menemukan banyak kebahagian.
Cheesy Life
Dua hari sudah Sehun tidak masuk sekolah. Kyungsoo pikir hukuman Luhan sangat mengerikan hingga adiknya dari kehidupan sebelumnya tidak bisa sekolah. Dan sangat mengerikan untuknya jika Luhan yang terlihat lembut dan penyanyang bisa menghukum Sehun yang merupakan pasangan darinya sebegitu beratnya dan bagaimana dengan Jongin yang terlihat lebih galak menghukumnya suatu saat jika ia melakukan kesalahan?
Tapi perkiraannya segera dipatahkan ketika hari ketiga Sehun kembali sekolah. Wajahnya memerah sempurna ketika mengingat bagaimana kikuknya Jongin ketika mengatakan Sehun dihukum karena kini ia tahu hukuman apa yang diterima Sehun dari cara berjalannya.
"Jangan menatapku seperti itu Kyungsoo-ya. Sudah cukup satu sekolah tersenyum penuh arti padaku dan jangan lupakan aura mereka yang membuatku mual." Rutuk Sehun ketika mereka berkumpul saat istirahat.
"Kurasa Luhan masih sangat marah padamu sampai ia memaksamu sekolah dengan bokong sakit." ujar Chanyeol yang terdengar lebih menjadi penghinaan daripada pernyataan atas keprihatinannya.
"Kenapa Luhan hyung marah padamu, Sehunnie?" Sehun mengeryit aneh dengan nama barunya yang terdengar sangat feminism tapi entah mengapa ia terasa merindukan panggilan itu dan membiarkannya.
Jongin terkekeh dan menyuapkan apel kedalam mulut Kyungsoo. "Luhan hyung itu tipe pemarah dan tidak suka jika miliknya dirasa terancam."
"Terancam oleh apa?"
"Olehmu." Sahut Baekhyun jenaka. "Padahal ia jelas-jelas tahu kalau Kyungsoo itu pasangan Jongin. Tapi tetap saja ia pencemburu."
"Apa salahku? Aku hanya bilang kalau Kyungsoo membuatku nyaman dan merasa familier." Desah Sehun yang langsung mengeluarkan plastic berwarna merah dan tidak menghiraukan mata Kyungsoo yang membulat kaget.
"Itu darah?" bisik Kyungsoo yang langsung diangguki oleh semuanya. "Apa kau tak takut ada yang curiga?"
"Mungkin mereka hanya menganggapnya sebagai jus tomat." Balas Sehun singkat dan kembali menyesap cairan anyir dan terasa seperti besi itu.
Suara dering ponsel membuat Sehun segera mengambilnya dari balik jaketnya dan mendesah. "Ada apa hyung?" tanya Sehun yang sepertinya masih traumatic dengan hukumannya.
Kyungsoo tahu ada yang salah ketika Sehun memejamkan matanya, tapi ia tidak menyangka kalau Jongin segera menariknya menuju parkiran diikuti oleh yang lain memasuki mobil masing-masing. "Ada apa?" Jongin tak menjawab dan ia tahu untuk tidak bertanya lebih lanjut.
Jongin segera menarik Kyungsoo untuk memasuki rumahnya sedangkan Sehun, Chanyeol dan Baekhyun sudah berada didalam rumah, bersimpuh disamping Luhan yang tergeletak lemah di lantai. Kyungsoo hanya bisa berdiri di pintu masuk saat Jongin mendekati keluarganya.
"Kita harus ke Hungaria" ucap Suho dengan nada final. "Kris sepertinya punya masalah dengan Luhan hyung, juga…"
"Ini masalah Kyungsoo." Sambung Luhan yang mendesah pelan.
"Apa mereka tidak tahu kalau Kyungsoo adalah pasangan Jongin?" tanya Baekhyun, terlihat sangat cemas.
"Tidak, kita tidak melaporkan apapun tentang pasangan hidup Jongin yang manusia. Dan tidak terlihat usaha apapun dari kita untuk memusnahkannya atau mengubahnya." Sahut Luhan yang dibantu oleh Sehun untuk dalam posisi duduk. "Jongin maafkan aku. Saat aku terhubung dengan Kris. Ia melihat memoriku secara tidak lengkap dan mengira Kyungsoo sebagai ancaman."
Jongin terlihat ingin marah tapi hanya suara gemeletuk giginya yang terdengar. "Kyungie-ya, kau punya paspor?" Kyungsoo menggeleng dan membuat Jongin menggeram marah.
"Apa kau tidak bisa menghubungi Kris dengan cara apapun dan menyuruhnya melihat secara lengkap?" semburnya.
"Tidak bisa. Kris sudah melihat Kyungsoo sebagai ancaman dan lagipula berapa banyak vampire yang memiliki pasangan dari kalangan manusia. Hampir tak ada, Jongin-ah. Memang memilik pasangan dari manusia bukanlah kejahatan tapi manusia dianggap ancaman untuk eksitensi kita" Suho menjelaskan dengan tenang. "Cara satu-satunya adalah datang kesana dan menjelaskan secara terperinci serta berharap Kris tidak terlalu egois dan keras kepala untuk mengakui kesalahannya."
"Baekhyun-ah, kita tidak punya waktu untuk membuat paspor asli." Ujar Yixing, membuat Baekhyun segera bergerak ketika mengetahui maksud dari pria berlesung pipit itu.
Cheesy Life
Membuat paspor palsu bukanlah hal yang sulit untuk Sehun dan Baekhyun. Dalam waktu beberapa jam, mereka sudah terbang menuju Hungaria dan segera menuju kediaman Kris dengan mobil.
"Sebenarnya siapa Kris?" Kyungsoo tahu siapa Kris tapi yang perlu diketahuinya adalah posisi Kris dikehidupan ini yang membuat keluarga Jongin terlihat kelimpungan dan waspada.
Jongin mendesah, pandangannya masih terpaku ke jalan. Sebuah kastil megah terlihat berdiri tegap tidak jauh dari mereka. "Dia pemimpin para vampire, seperti raja jika manusia menyebutnya. Ia sudah hidup ribuan tahun. Dia sebenarnya sangat baik pada kami, hanya saja pertengkaran dengan Luhan hyung membuatnya terus mencari-cari kesalahan keluarga kami. Ini bukan pertama kalinya kami harus tiba-tiba ke Hungaria dan berbicara dengannya."
"Apa masalah diantara Luhan hyung dan Kris?"
Jongin mengedikan bahunya. "Aku tidak tahu pasti. Banyak rumor yang beredar. Ada yang mengatakan bahwa Luhan hyung dulunya adalah pasangan Kris namun Sehun muncul dan membuatnya beralih. Ada yang mengatakan bahwa Luhan hyung dan Kris adalah pemilik kekuasaan tapi Luhan hyung mundur dan memberikannya pada Kris. Namun Kris masih melihat Luhan hyung sebagai ancaman dan berusaha menghancurkannya. Masih ada 18 rumor lagi, tapi hanya Luhan hyung dan Kris yang tahu kebenarannya."
Kyungsoo tidak bertanya lebih jauh ketika mereka melewati gerbang dan berhenti tepat di depan pintu coklat besar dan berukir rumit. "Jangan turun dulu. Biarkan aku yang membukakan pintu untukmu."
Jika saja tidak dalam kondisi seperti ini, mungkin Kyungsoo akan bersemu dan memikirkan betapa romantisnya Jongin. Tapi ia tahu bahwa Jongin membukakan pintu untuk sebagai sikap berjaga-jaga jika saja ada vampire yang menyerang mereka. Mengingat bahwa Kyungsoo satu-satunya manusia disini.
Mereka memasuki bagian dalam kastil dengan seseorang pria menungggu mereka di pintu yang masih tertutup diujung. Luhan menghampirinya dan memeluknya. "Xiumin-ah, aku merindukanmu."
Xiumin tertawa. "Aku juga merindukanmu. Dimana pasanganmu yang manis itu?"
"Apa kabar hyung?" sapa Sehun yang tiba-tiba bertransformasi menjadi sangat imut di mata Kyungsoo.
"Dia tetap manis seperti 30 tahun yang lalu." komentar Xiumin membuat Chanyeol, Baekhyun dan Yixing menahan kikikannya. Tidak ada pria berumur 30 tahun atau lebih yang manis dan imut. Lalu pandangannya bertemu dengan Kyungsoo. "Ah, ini manusia yang bermasalah itu bukan?" Xiumin membukakan pintu dan menggiring mereka melalui lorong-lorong dengan lukisan-lukisan menyeramkan dan mahal.
Kyungsoo menggenggam erat tangan Jongin yang segera membawanya ke dalam pelukan. Ia mendesah berat ketika memikirkan kematiannya yang terasa lebih cepat mendekat. Dan ia tidak pernah mengira kalau ia akan memasuki sarang vampire.
Ia bisa merasakan beberapa pasang mata tak kasat yang menatapnya hingga rasanya menusuk punggungnya. Kyungsoo melepaskan napas yang tidak sadar ia tahan ketika menaiki lift.
"Jangan terlalu gugup, manusia. Takkan ada vampire yang berani melukaimu jika Jongin menempel erat disampingmu." Ucap Xiumin ketika Kyungsoo semakin mengeratkan pelukannya. "Dan kenapa Jongin menempel dengan manusia itu?" tanyannya beralih pada Luhan.
"Dia pasanganku."
Xiumin membulatkan mata sipitnya. "Lebih baik hanya beberapa yang berbicara dengan Kris, sisanya menemani manusia itu diruangan terpisah."
"Aku juga ingin memintamu menyiapkan sebuah ruangan untuk Kyungsoo, aku tidak yakin bisa berbicara dengan leluasa jika Kris memandang Kyungsoo dengan haus darah." Ujar Luhan terlihat sangat lelah.
Suara denting lift membuat mereka sadar mereka telah sampai di lantai yang dituju. "Biar aku, Luhan hyung, Chanyeol dan Jongin yang menemui Kris. Kalian ikuti Xiumin." Ujar Suho dan segera keluar dari lift diikuti yang lainnya.
Pintu lift kembali tertutup, membuat Kyungsoo memeluk dirinya sendiri. "Kau bisa memelukku, Kyungsoo-ya." Tawar Yixing yang segera dipeluk oleh Kyungsoo. "Kau akan baik-baik saja, mereka hanya sedikit beruding."
"Maaf kalau aku merusak rasa aman manusia itu." sela Xiumin dengan tatapan tidak yakin. "Kalian tahu bagaimana sikap Kris, aku tidak yakin raja sepertinya mau mengakui kekeliruannya dan membiarkan manusia itu lolos. Terlebih lagi sikapnya berubah drastic semenjak berbicara dengan Yubaaba. Bagaimana pun juga Kris memandang manusia hanya sebagai makanan dan ancaman yang harus disingkirkan."
"Aish hyung, kalau itu juga kami sudah tahu." Baekhyun mengomel sinis, ia bisa melihat bagaimana pupil mata Kyungsoo mengecil dan wajahnya yang pucat mengindikasikan rasa takut yang tinggi. "Lebih baik Kris meloloskan Kyungsoo. Kalau tidak, aku tidak yakin apa yang akan dilakukan Jongin."
Xiumin terkekeh. "Aku ingat bagaimana dia membunuh 70 vampire lainnya sendirian." Lift kembali berdenting dan pintu lift terbuka. "Ada ruangan kosong di lorong sebelah kiri, pintu kedua." Ucapnya ketika mereka semua kecuali Xiumin keluar dari lift. "Aku tidak bisa memikirkan tempat paling aman kecuali lantai milik ratu."
Pintu lift kembali tertutup tepat ketika Xiumin menyelesaikan kalimatnya. Ia bisa merasakan tangan Yixing yang ia peluk tiba-tiba mengencang dan kaku. "Setidaknya, ini lantai yang paling aman untuk Kyungsoo bukan?" Sehun mempertanyakan keraguannya.
Tak ada yang menjawab sementara Yixing segera menariknya ke ruangan yang dimaksud Xiumin dan mengunci pintunya. Kyungsoo segera menggelung dirinya di ranjang bergaya Arabian Night dengan segala pikiran berkecamuk di kepalanya.
Seharusnya menjelaskan bahwa Kyungsoo adalah pasangan dari Jongin dan bukan ancaman bisa membungkam mulut Kris. Tapi rasanya masalah yang dihadapinya tidak sesederhana itu. ia kembali merasa bahwa kematiannya terasa semakin dekat. Kalau ini bukan kehidupan yang bisa membuatnya abadi, mungkin ada kesempatan dikehidupan lain yang bisa membuat kutukannya terhenti.
Cheesy Life
Sentuhan dingin dibibirnya menyadarkannya dari tidurnya. Wajah sendu Jongin memandangnya intens. Tangan yang awalnya membelai kepalanya membantunya untuk terduduk dan menyadari hari telah malam. Perutnya yang terasa kosong menjerit untuk diisi, tapi atmosfer diruangan ini membuatnya menelan ucapanya diujung lidahnya.
Jongin kembali mengecup dan berubah menjadi lumatan sebelum akhirnya ia memisahkan pagutannya. Kyungsoo tahu bahwa pembicaraan mereka berakhir dengan buruk sehingga Ia membiarkan Jongin memeluknya erat.
"Apa yang terjadi?" Jongin tak membalasnya tapi Baekhyun dan Sehun mendecih.
"Kris tetap memandangmu sebagai ancaman meskipun aku telah menjelaskan bahwa kau adalah pasangan Jongin." Jelas Suho dari sudut ruangan. "Luhan hyung masih berusah berunding dengan Kris untuk melepaskanmu."
"Lalu kenapa kalian disini?" pelukan Jongin semakin erat hingga untuk bergerak pun mustahil.
"Simple, Jongin mengamuk dan membuat kami menyeretnya keluar." Sahut Chanyeol yang terlihat sedang mengobati pelipisnya yang terlihat memerah. "Kris terlalu egois. Kurasa ia hanya menggunakan Kyungsoo sebagai batu lompatan untuk membuang Luhan hyung."
"Aku tadi bercerita tentang dua rumor bukan?" ujar Jongin lemah. "Ternyata Luhan hyung memang salah satu pewaris sah dan membuat kami sebagai keluarga bangsawan."
"APA?!" teriakan kaget dari Baekhyun, Yixing dan Sehun memberi tahu Kyungsoo bahwa mereka tak mengetahui ini sama sekali.
"Luhan hyung adalah pewaris pertama, sedangkan Kris kedua, Suho hyung ketiga, aku keempat dan Jongin yang terakhir." Timpal Chanyeol yang meringis sakit ketika Baekhyun tak sengaja menekan pelipisnya terlalu keras. "Jangan bertanya lebih, Baekki. Aku juga baru tahu, bertanyalah pada Suho hyung yang tahu segalanya karena aku dan Jongin masih terlalu kecil saat kami dibawa pergi oleh Luhan hyung."
Pintu ruangan mereka berayun terbuka dan Luhan berdiri di depan. "Jongin, Kyungsoo-ya. Ikut aku." Pintanya lemas. Jongin membantu Kyungsoo untuk berdiri menghampiri pria yang ternyata memiliki kekuasaan lebih diantara mereka. Namun Sehun ikut menghampiri pria cantik itu.
"Hyung?"
"Ada apa Sehunna?" tanyanya terlampau lembut. Sehun tak menjawab. "Tetaplah disini." Ujarnya, mengecup dahi Sehun cukup lama dan meninggalkan keluarganya.
Mereka kembali menaiki lift. "Jongin-ah, pembicaraan menjadi memanas. Jangan alihkan pandanganmu sekali pun dari Kyungsoo. Jika terjadi sesuatu yang aneh, segera berteleportasi."
"Bagaimana denganmu hyung?"
"Tenang saja, aku masih pewaris utama yang sah. Aku masih punya pendukung yang melarang Kris untuk menghabisiku." Desahnya kesal. "Kris masih menganggap Kyungsoo sebagai ancaman yang entahnya kenapa alasan itu terdengar sangat konyol di telingaku. Apa yang musibah yang bisa dibawa manusia lemah yang gampang untuk dipatahkan lehernya?"
Kyungsoo menelan ludahnya susah payah dan terdengar sangat keras untuk telinga Luhan dan Jongin. "Ah, maaf. Aku terlalu terbawa emosi. Bahkan jawaban untuk membuat Kyungsoo sebagai vampire tidak menghentikannya." Luhan memutar strategi dikepalanya. "Dia pikir dia bisa menjatuhkanku dengan membuat Kyungsoo sebagai batu sandungan begitu kah? Kalau begini terus caranya, aku tidak rela posisiku diambil Kris. Aku bisa saja membuat Kyungsoo sebagai boomerang untuknya."
Meskipun Luhan menatap kearah Jongin dan Kyungsoo, bisa dipastikan Luhan tidak melihat Kyungsoo yang tepat dihadapannya mencicit kecil ketakutan bak seekor tikus dihadapan ular.
"Hyung sadarlah." Jongin menepukkan tangannya kedahi Luhan. "Kau membuat Kyungsoo ketakutan."
"Ah, maaf." Suara denting lift ikut serta menyadarkan Luhan. "Pastikan saja kau mengawasi vampire dan Kyungsoo."
Kyungsoo melangkah pelan disamping Jongin, menatap pria asing namun familiar baginya yang duduk di kursi singgasananya dengan angkuh. Ia berpikir bahwa mungkin kehidupan ini, kehidupan yang paling rumit yang pernah ia alami dan kemungkinan besar cara paling sakit untuk mati.
"Do Kyungsoo, bukan?" Kyungsoo mengangguk kaku ketika suara dingin itu seperti menusuk kerongkongannya. "Jongin-ah, adikku sayang. Kenapa pasanganmu harus berasal dari kalangan menjijikkan?"
Jongin merangkul pinggang Kyungsoo erat, berusaha melindunginya dari tatapan lapar vampire pengawal. "Tapi kau makan dari kalangan yang menjijikkan, Kris hyung."
Luhan mengeluarkan suara tersedak untuk menahan tawanya. Jawaban Jongin telak memukul ego Kris. Tapi jeritan Kyungsoo menyadarkannya bahwa Kris melempar Kyungsoo dan mencekik Jongin. Dengan sigap ia melepaskan tangan itu dari leher Jongin dan menatap tajam Kris.
"Dia adikmu bodoh!" desis Luhan, ia membantu Jongin untuk berdiri dan menghampiri Kyungsoo yang tergeletak tak bisa bergerak. "Jangan banyak bergerak, sepertinya tulang rusukmu ada yang patah."
Ia membopongnya dan memberikan Kyungsoo pada Jongin yang menatap penuh kebencian pada Kris. "Chen, panggilkan Yixing hyung." Seru Jongin pada pria yang berdiri tepat disamping Xiumin. Dalam hitungan detik, ia kembali bersama Yixing yang berlari menghampiri Kyungsoo.
"Apa masalahmu, Kris? Kau sudah dapat posisiku. Untukku yang menyerang manusia, bukankah itu hal lazim yang kita lakukan dan masalah Kyungsoo bisa diselesaikan tanpa melakukan semua ini. Jongin bisa dengan mudah mengubahnya."
"Bawa Yubaaba kemari dan keluar dari tempat ini." Titah Kris. Luhan hanya bisa mengatupkan mulutnya rapat-rapat sementara Jongin mengeryit heran. Tidak lama kemudian, setelah aula itu dikosongkan. Seorang wanita cantik yang tentunya vampire datang dihadapan Luhan. "Katakan apa yang kau lihat pada kakakku."
Yubaaba menunduk hormat dan beralih pada Luhan dan Jongin yang menatapnya penuh penantian. "Hamba melihat bahwa pria ini telah berulang kali bangkit dari kematian."
Tak ada yang berbicara hingga Jongin memecahnya. "Apa artinya itu?" seru Jongin bingung.
"Bencana." Ucap Luhan lirih.
Yubaaba membungkuk hormat dan pergi dari ruangan tersebut. Jongin menatap Kyungsoo yang terbaring di pahanya dengan sendu. Yixing tidak peduli dengan semua itu dan terus menyembuhkan Kyungsoo sementara Luhan dan Kris saling bertatapan.
"Aku tidak pernah peduli dengan posisi ini, hyung." Ucap Kris pelan. "Tapi aku tidak bisa membiarkan jika manusia itu membawa bencana untuk kaum kita."
"Tapi, jika kita membunuh Kyungsoo. Jongin…."
"Jika kalian membunuh Kyungsoo. Aku takkan menghalanginya, tapi sebelum itu bunuhlah aku terlebih dahulu." Ujar Jongin pelan. "Itu lebih baik daripada aku tersiksa melihatnya."
"Kalian bercanda 'kan?" teriak Yixing. "Jongin adalah adik kalian. Dan kalian akan membunuh mereka karena ramalan dari wanita itu."
Jongin memeluk Kyungsoo yang setengah tersadar dan menciumi setiap inci wajahnya. Jantungnya yang tak pernah berdetak selama ini. Kini berdenyut sakit, seperti genderang yang menolak datangnya kematian. Ia tidak menyesal karena sudah hidup selama ribuan tahun untuk menunggu Kyungsoo hadir di dunianya. Tapi ia menyesali kehidupan singkat Kyungsoo dan menyesali kenapa ia yang membawa kematian padanya.
Suara desing besi, memberitahu Jongin bahkan tanpa menoleh pun salah satu dari kakaknya telah mengeluarkan pedang dari sarungnya. Ia bisa merasakan ujung dingin pedang itu menempel di lehernya.
"Kris, kumohon. Dia adik kita." Rengek Luhan yang terdengar serak. Jika ia manusia, ia sudah menangis meraung-raung sedari tadi. "Pasti ada kesalahan dalam ramalan itu. Atau jika tidak, pasti kita bisa mencegah bencana itu terjadi."
Suara pintu berayun terbuka. Sosok pria tinggi datang dengan karismanya mendekati Luhan dan Kris. "Apa yang akan kau lakukan, ge?" Tao terpekik cukup keras ketika melihat pasangannya menodongkan pedang di kepala adik iparnya.
"Tao-ie, kumohon hentikan Kris." Pinta Luhan yang menahan tangan Kris yang menggenggam pedang. "Kumohon ada cara lain untuk mematahkan ramalannya."
Jongin masih setia dengan posisinya yang melindungi Kyungsoo dari mata pedang yang teracung ke arah mereka. Kyungsoo sendiri menatap sedih wajah diatasnya, tangannya perlahan meraih pipi Jongin dan mendekatkan ke wajahnya.
"Aku masih bisa terlahir kembali dan bertemu denganmu, Jongin-ah. Aku mencintaimu." Lirihnya.
"Hmm, aku juga mencintaimu."
Suara Kyungsoo membuat Tao membatu, gerakan terhenti Tao tidak luput dari penglihatan Luhan, Yixing dan Kris. Pria bermata panda itu beralih menatap sosok manusia yang terbaring terluka. Ia bersimpuh di sisi lain Kyungsoo dan melihat wajah manis itu. Tangan dinginnya meraih tangan Kyungsoo yang mencengkram pakaian Jongin.
Kyungsoo mengalihkan pandangannya ke Tao begitu pula dengan Jongin. Mereka menatap sang ratu dengan bingung dan Tao tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama membuat Luhan merinding. Hanya Luhan dan Kris yang tahu kemampuan tersembunyi Tao.
Setetes bulir bening meluncur dari mata panda Tao membuat seluruh yang hadir di ruangan itu tersentak. Kecuali Kyungsoo yang tak mengerti apapun. Tak mungkin seorang vampire bisa meneneteskan air mata.
"Hyung…" panggilnya lirih. Kyungsoo mengeryitkan dahinya heran. "Kau tak mungkin melupakanku 'kan hyung. Aku Zitao."
"Kau mengingatku?" ujar Kyungsoo tersendat. Tao mengangguk mantap.
"Apa yang kalian bicarakan?" sela Kris pada kekasih hatinya. "Peach, apa yang kau lihat?"
Tao beralih dan bersujud di kaki Kris. Sontak Kris segera bersimpuh dan mencoba membangunkan Tao. "Ge, kumohon jangan lukai kakakku. Aku bisa memastikan bahwa Kyungsoo hyung bukan pembawa bencana seperti yang dikatakan Yubaaba. Wanita itu hanya salah menginterpretasikan apa yang dilihatnya."
Kris segera menarik Tao kedalam pelukannya dan mengangkat wajahnya. "Apa yang kau bicarakan, Tao? Jelaskan padaku. Kau sudah hidup selama ratusan tahun, Tao-ah. Dan saat aku menemukanmu, kau seorang diri tanpa seorang kakak."
"Aku adiknya dari kehidupan lain, gege. Kyungsoo hyung bangkit dari kematian berulang kali dalam arti yang sebenarnya. Ia adalah Immortal Jumper, Kris ge." Jelasnya, tangannya menggenggam erat jemari Kris. "Gege pasti pernah mendengar tentang Immortal Jumper bukan? Dia bukanlah ancaman."
Cheesy Life
Ranjang hangat dengan kain beludru yang menggelitik kulitnya membangunkan Kyungsoo dalam kebingungan. Terakhir kali yang ia ingat adalah ia masih tergeletak dalam rangkulan Jongin di aula besar. Tapi kenapa ia terbangun di ruangan asing, sendirian.
Kyungsoo mencoba duduk perlahan, menantikan rasa sakit yang akan menyerang dadanya karena tulang rusuknya yang masih patah seperti yang dikatakan Luhan. Namun rasa sakit itu tak pernah datang. Ia meraba dadanya yang terbalut sutra putih dengan bingung.
" Yixing hyung sudah memperbaiki tulangmu." Kedatangan tiba-tiba Jongin di sisi lain dari tempat tidurnya membuat Kyungsoo terlonjak dan merapat ke kepala kasur. Ia tersenyum. "Aku senang melihatmu baik-baik saja, Kyungie-ya."
"Apa yang terjadi?" tanya Kyungsoo sembari mencoba tenang.
"Kau pingsan ditengah penjelasan Tao." Tiba-tiba Jongin sudah memenjarakannya di tengah kedua tangannya. "Kau membuatku khawatir, Kyungsoo bodoh. Dan kau membuatku semakin sedih dan kecewa karena kau tak memberitahuku kalau kau immortal Jumper."
"Aku…aku…aku…" kalimat Kyungsoo tak terselesaikan karena suara perutnya berbunyi dengan keras.
Jongin tertawa dan melumat bibir Kyungsoo sebentar. "Bersabarlah, Yixing hyung sedang berusaha mencarikanmu makanan di istana para vampire."
Jongin menjauh dan duduk di sisi Kyungsoo tanpa bersuara tapi matanya tak beralih darinya, sedetik pun. Hingga Yixing datang dan membawakan makanan yang harus disyukurinya mengingat ia berada di istana para vampire lalu meninggalkannya.
Dengan ragu Kyungsoo mengangkat garpunya dan membawa makanan itu menuju mulutnya. Dari ekor matanya ia terus melirik Jongin yang hanya menatapnya dengan senyuman bodohnya itu tanpa henti.
"Kenapa kau menatapku seperti itu Jongin-ah?" tanyanya kikuk.
Jongin tersenyum sedih. "Aku ingin tahu bagaimana hidupmu sebelum ini, Kyungie-ya?" Kyungsoo hanya menatap balik Jongin dan tidak bersuara. Pria tan itu menundukkan kepalanya lemas. "Apa kau mempunyai hidup yang menyenangkan, tidak kekurangan, atau setidaknya kau tidak terseret ke kehidupan magis seperti ini"
"Jongin-ah"
"Aku tahu mungkin aku bukan cinta pertamamu tapi, aku ingin tahu bagaimana kekasihmu dari kehidupan sebelumnya. Setidaknya aku ingin tahu dan memastikan bahwa kau…dan aku….akan bersama."
"Jongin-ah."
"Kau tahu? Aku iri pada Sehun atau Tao yang pernah menjadi adikmu di kehidupan sebelummu."
"Jongin-ah"
"Setidaknya aku akan pernah sekali bersama denga…."
Kyungsoo segera membungkam Jongin dengan sebuah ciuman. Ia melepaskannya setelah ia yakin Jongin akan berhenti meracau dan menatap iris hitam kelam itu dengan lembut. "Kau mau tahu kehidupanku?" Jongin mengangguk hampir tak terlihat jika saja ia tidak merasakan gerakan kepala Jongin dibawah jemarinya.
"Aku sudah berhenti menghitung berapa kali aku terlahir kembali Jongin-ah, tapi tidak sekalipun dari kehidupan-kehidupan itu aku tak melihatmu. Kau cinta pertamaku sejak kehidupan pertamaku." Ia bisa merasa tubuh Jongin yang melemas. "Lebih baik kau tak menjadi adikku karena aku tak bisa mencintai adikku lebih dari perasaan seorang kakak. Ya Jongin-ah. Kau pernah menjadi adikku dan aku membenci kenyataan itu."
"Kau satu-satunya yang membuatku bertahan untuk tidak menjadi gila dan segera mengakhiri hidupku. Karena bertemu denganmu hanya satu-satunya harapan yang kupunya setiap kali aku terlahir."
"Kehidupanku akan menyenangkan ketika kau hadir disampingku. Kau menyelamatkanku dari pikiran sempitku tentang cinta. Kau memperjuangkan hidupku disaat terakhirku. Kau menyelamatkanku dari pekerjaan kotorku. Kau menyanyangiku sebagai adik yang baik. Kau amat mencintaiku sebagai suami yang setia. Kau memberikanku semua yang kuinginkan. Tapi apa yang sangat kuinginkan hanyalah untuk bersamamu tanpa mengulang semuanya. Termasuk mengulang perjuanganku untuk mendapatkan kasih sayangmu, lagi."
Kyungsoo mempersempit jarak diantara mereka dan memagut bibir Jongin sebelum semuanya diambil alih oleh pria tampan itu. ia memasrahkan dirinya ketika Jongin mulai melucuti pakaiannya satu persatu dan memanjakan daerah sensitive-nya. Ia hanya bisa mendesah ketika Jongin menyesap lehernya seperti dilumuri madu.
Ia mengeluarkan pekikan tertahan ketika perlahan Jongin memasuki dirinya dan menggerakkan miliknya di dalam. "Jangan ragu Jongin-ah. Aku milikmu." Ujarnya ketika ia merasakan gerakan Jongin terasa menyebalkan dan ragu-ragu. Ia menarik tengkuk Jongin untuk memperdalam ciuman ketika Jongin bergerak dengan brutal menusuk lubangnya.
Jongin sedikit terkaget saat cairan putih kental milik Kyungsoo mengotori perutnya tanpa ia sadari. Ia masih bergerak dan melihat betapa indahnya kekasihnya terpejam menikmati perlakuannya dan mendesahkan namanya. Ia memainkan jemari panjangnya di seluruh tubuh Kyungsoo dan memijat pinggul serta bokong Kyungsoo perlahan, menyalurkan sensasi lain di permainan mereka.
Kyungsoo membuka matanya ketika Jongin semakin menghujamnya, ia sudah berulang kali mengeluarkan cairannya dan merasa Jongin akan mendekati klimatnya. Ia memekik kecil ketika cairan hangat Jongin mengisi lubangnya dan hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika Jongin mengeluarkan dirinya.
Jongin menariknya kedalam pelukan dan mengecup setiap inci wajah serta tubuhnya. "Sudah bisa dipastikan Baekhyun dan Chanyeol akan menggodaku sepanjang hari." Desahnya. Kyungsoo hanya bisa terkikik dan mengistirahatkan kepalanya di dada Jongin. "Kau lelah?"
Tentu saja Kyungsoo mengangguk dan mengeratkan pelukannya. "Jongin-ah?"
"Hmm,"
"Kumohon, ubahlah aku." Ia bisa merasakan tubuh Jongin menegang. "Ubahlah aku sebelum aku mati dan kembali mengulang."
"Ssh, kau tidak akan mati Kyungie-ya. Aku akan menjagamu."
Kini Kyungsoo menggeleng. "Aku akan tetap mati apapun caranya. Aku menyadari di beberapa kehidupan yang lalu kalau aku akan mati setelah bertemu denganmu."
"Kyungie-ya." Suara Jongin terdengar parau tapi Kyungsoo semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa kau pikir aku hidup sampai aku tua? Tidak Jongin-ah. Kehidupanku paling lama bertahan selama 5 bulan setelah pertemuan kita." Kyungsoo mulai terisak. "Ini sudah bulan ketiga kita saling mengenal, aku tidak ingin membuang kesempatan ini dan kembali mati tanpa kusadari. Kumohon ubahlah aku, Kim Jongin."
"Berubah menjadi seorang vampire juga memiliki sisi buruknya, Kyungie." Terangnya setelah membenarkan posisi Kyungsoo diatas ranjang dan memakaikan hanya pakaian atasnya. "Jika kau tak bisa menahan rasa sakitnya, kau tidak akan menjadi sepertiku tapi…kau akan mati."
Kyungsoo membuka matanya dan menatap wajah sendu Jongin. "Jadi aku bertaruh pada hidupku sendiri." Jongin tidak mengangguk ataupun menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku siap menerima konsekuensinya."
Jongin menjauhkan dirinya dan menatap berang kekasih hatinya. "Lalu bagaimana denganku? Kalau aku hilang kendali dan malah membunuhmu… aku tidak yakin bagaimana aku akan berakhir?"
Tangan Kyungsoo meraih jemari Jongin dan menautkannya. "Aku juga akan mati seperti dikehidupan sebelumnya, Jongin-ah. Aku tahu aku egois tapi, rasanya berubah menjadimu adalah salah satu jalan untukku mengakhiri perjalananku."
Jongin tidak berbicara, ia merunduk dan Kyungsoo bisa merasakan napas panas Jongin menggelitik lehernya sebelum benda tajam terasa mengkoyak lehernya. Kyungsoo tidak menjerit atau memekik kesakitan. Ia tidak pernah mengira bahwa digigit oleh seorang vampire akan senikmat ini. Tapi rasa nikmat itu segera menghilang digantikan rasa panas dan sakit dari dadanya.
Ia menatap wajah Jongin yang berlumuran darahnya. "Bertahanlah Kyungie. Dan berjanjilah padaku untuk tetap bertahan. Demiku." Kyungsoo tidak mampu menjawab ketika kegelapan lebih dahulu menelannya.
Cheesy Life
Seluruh memori kehidupannya berputar dari awal hingga terakhir kali ia menutup matanya. Ia melihat Jongin saat kehidupan pertama, kedua, ketiga hingga Kyungsoo lelah untuk menghitungnya. Memori tentang Tao, Sehun ataupun yang lainnya membuatnya tersenyum hingga cahaya hilang dari pandangannya.
Sontak Kyungsoo membuka matanya.
Ia segera terduduk dan menyadari ia masih berada diruangan terakhir kali ia bersama dengan Jongin. Namun tak satupun orang yang dikenalnya berada di ruangan itu. kepalanya terasa sakit dan berputar serta tenggorokannya terasa sangat perih dan panas.
Ia baru saja akan turun dari ranjang ketika pintu double dihadapan ranjangnya mengayun keras dan menampilkan Tao dengan jubah biru panjangnya berlari mendekatinya. Ditangannya membawa sebuah gelas dengan aroma yang semakin membakar tenggorokannya.
"Perkiaraanku sangat tepat." Pekiknya senang dan menyodorkan gelas itu dihadapan Kyungsoo. "Minumlah hyung."
Kyungsoo menatap aneh gelas yang dibawa Tao tapi rasa panas di tenggorokannya segera membuatnya meminumnya. Ia mengembalikan gelas itu pada Tao dengan tatapan bingung. "Itu darah? Aku baru tahu rasanya lumayan enak."
Tao mengerling menggoda. "Apa kau lupa kau sekarang vampire?"
Gerakan tubuh Kyungsoo segera membatu ketika menyadari perubahan pada tubuhnya. Ia melihat semua dengan detil dan mendengar suara aneh yang terdengar sangat jauh. Tao tersenyum manis sebelum berlari meninggalkannya. Ia mengikuti kepergian Tao dan menemukan Jongin bersandar di kusen pintu.
"Apa aku terlihat lebih tampan?" tanyanya penuh percaya diri ketika mendapati Kyungsoo yang terdiam. ia berjalan mendekatik Kyungsoo dan mengecup kedua mata bulat itu. "Terimakasih kau telah berjuang dan memilih berada disampingku."
Kyungsoo tersenyum lebar. "Terimakasih karena kau selalu mencintaiku disetiap kehidupanku."
This Life Will Not Ever Found Their End
Author Corner :
Yang berharap happy ending, aku kabulin. Aku juga gak tega jika Kyungsoo tidak berakhir bahagia. Tidak mungkin aku tidak mengacuhkan wajah tanpa dosa alias polos Kyungsoo untuk terus menderita. Kalau kata kakakku cerita yang berakhir happy ending forever after itu bener-bener Cheesy. Tapi karena ini judulnya Cheesy ya dibuat happy ending aja deh.
Aku harap chapter ini bisa mengobati kekecewaan terhadap chapter 4 yang tidak memuaskan. Saat nulis itu, aku sedang dilanda galau antar milih kehidupan marriage life atau kehidupan adik kakak Kyungsoo dan Jongin. Tapi kalau nulis kakak adik, aku bener-bener gak tega buatnya. Soalnya pasti aku akhirnya nangis darah. Dan marriage life terpilih. BWAHAHAHA.
Aku harap ini menjawab seluruh keluh kesah terhadap betapa kejamnya aku menulis cerita Angst tapi tidak di cantumkan di kolom genre. Dari dulu aku nulis genrenya pasti fantasy,mau itu JD (Just Dreaming)nya Justin Bieber, Harry Potter, Super Junior ataupun EXO.
Big thanks for all you that had support and reviews this story. Terimakasih banyak, karena aku gak yakin bisa menyelesaikan ini semua kalau saja tidak membaca review membangun kalian. But I want to hear the last comment of this chapter please?
So Review Juseyo
