A/n : So long, Fict, sesudah saya berkutat dengan BlazBlue, sekarang fokus balik deh. Bahkan, sebelum fict ini selesai udah mau bikin cross-over segala. Ini padahal H-5 lagi, Author kampang! Ehm, ampuni kata-kata Author. Sekarang, biarkan saya menulis dengan tenang, oke?

My Jewel My Soul

Chapter II. Glorious Happiness

"Argh..."

Kata-kata yang buruk. Aku gak bisa menahan diriku dari kata-kata buruk tadi. Sepertinya, ini masa laluku yang kelam, tapi aku tidak ingat apa-apa...

"...Gempa?!" Kata Lest setelah terasa ada gempa yang cukup kuat. Lalu, dari segel terlihat sepotong tangan hasil mutilasi, entah tangan siapa.

"Apa itu tangan... Zero?" Kataku dalam hati. Tapi, mana mungkin, ya, Zero mati bukan karena dimutilasi. Kalau begitu, ini tangan siapa? Memang, mulus, dibalut dengan kain putih... Hm.. Jika kupikir-pikir, ini baju formal, deh. Tapi, siapa yang menggunakan baju formal putih seperti ini?

"Hiiiy, apa itu? Tangankah?!" Kata Frey ngeri.

"Kaki." Kata Lest mengejek.

"Ih! Bukan gitu, itu tangan siapaaa?!"

"Mana aku tahu..." Jawabku pelan.

Aku masih terduduk lemas sambil menutup telingaku, dan yang lain memeriksa tangan dan segel, dan mencari jalan keluar, tentunya. Karena, sepertinya kita memasuki dimensi yang bukan.

"Tampaknya aku pernah melihat tempat seperti ini..." Ujar Lest.

"Apa itu?" Tanyaku.

"Kekuatan di sini hampir sama dengan kekuatan yang kuterima karena pengaruh Seafts, koran yang dulu pernah menghebohkan Selphia."

Kalau begitu... Dunia ini... Dunia Pengasingan? Rumah dari Fujiwara Kiyuutsu?

Aku punya banyak pertanyaan tentang dunia ini untuk ditanyakan, namun dunia itu rumit sekali untuk dipahami. Bahkan, Yuutsu saja tidak mau hidup di sana.

"Jalan keluar!" Teriak Pico (Author bahkan gak ingat apakah dia ikut dalam kasus ini).

Kami semua langsung jalan menuju jalan keluar yang disebutkan Pico. Dan, ketika kita benar-benar keluar, aku melihat pemandangan yang sama ketika pertama kali aku ke sana. Tak jauh berbeda, hanya portal yang dibuat Yuutsu-chan ketika menyuruhku pergi masih ada. Namun tidak berfungsi.

"Apa pembuat Seafts masih di sini? Aku ingin menghajarnya!" Gerutu Lest.

"Ayolah Lest, itu bukan masalah kita sekarang. Sekarang kita cari jalan keluar menuju Selphia saja. Kita pulang." Kataku lemas.

"Racchi benar. Ayo." Ajak Dolce.

Kami menelusuri hingga pabrik Seafts, sekarang rupanya sudah dikarantina... Karena ada pembunuhan terjadi di sana, entah oleh siapa, seingatku terakhir kali aku dan Yuutsu bertarung dengan Direktur Utama Seafts ketika dia berubah menjadi monster, dan pertarungannya bukan di sini.

"Kenapa tempat bagus seperti ini dikarantina, ya." Gumam Frey.

"Apa ada sesuatu di dalamnya?" Tanya Lest.

"Aku tidak tahu... Dan itu.. Aku gak mau bahas." Jawabku.

"Memangnya ada apa di sana?" Tanya Pico, tumben banget formal.

"..Dulu itu kantor Seafts, dan katanya, semua pekerja di sana mati... dibunuh." Jawabku.

"Hiiiy." Kata Frey bergidik ngeri.

"Tapi apa salahnya memeriksa keadaan kantor ini. Tempat ini sudah menjadi pengasingan, ada yang dibunuh, dan ada yang kabur dari sini menyelamatkan dirinya." Kataku.

"Ayo, deh." Kata Lest mantap.

Kami memasuki kantor itu, tapi sebelum kami sampai, aku melihat poster kriminal, di sana tertulis penjahat kelas SS, dan hadiah yang ditawarkan untuk menangkap orang itu sangat besar, 6,000,000,000G, hidup-hidup.

"Siapa dia.." Gumamku. Tulisannya terhalang debu, aku mengelapnya, dan menemuka n satu nama, 'Fujiwara Miki.'

"Fujiwara Miki? Satu marga dengan Yuutsu?" Pikirku dalam hati.

"Ada apa, Racch?" Tanya Dolce.

"Lihat poster ini."

"...Sejahat apa sih kriminalitasnya?"

"Dolce, kalau bayarannya segede gini pasti kelas SS, atau penjahat kelas kakap." Kataku agak keras.

"Hoi, kalian!" Sapa Lest dari dalam.

"Ya..?" Jawabku.

"Kemari lihat ini!" Sesaat setelah dipanggil seperti itu aku masuk ke dalam dan melihat apa yang ditemukan Lest.

"Sebuah permata bercahaya.." Gumamku.

"Biar kupegang." Kata Lest dan langsung mengambil permata bercahaya itu. Seperti Emerald, permatanya berwarna hijau.

"Hm.. Agak familiar, bukankah ini punya Kiel (OH IYA HAHAHA)?" Kata Frey.

"Belum tentu. Katanya dia memberikannya kepada seseorang..." Kataku.

Trak! Permata itu retak.

"Huh?!" Kata Lest refleks.

"Ini..." Gumamku.

"Ya, aku bisa mengenalinya. Apa yang sebenarnya terjadi?" Kata Frey. Aku menunjuk ke arah depan.

"S-segel itu.. Lagi?!" Kata Lest kencang.

"Kenapa kau bisa cepat mengenalinya kalau itu segel?" Tanyaku.

"Ada rantai yang membalutnya."

"Aku mengerti. Tapi, ini segel yang berwarna dan berbeda. Indah..." Kataku.

"Tapi tak ada jasad apapun dalam segel itu." Gumam Frey.

"Ah, iya. Yang ada hanya sebuah persegi..." Kataku.

"Kau bermaksud menghancurkannya lagi?" Tanya Lest.

"Aku akan memeriksanya terlebih dahulu." Dan aku pun menyentuh segel itu.

Emerald, kalau begitu ini bongkahan pelindung Emerald of Happiness, milik Yuutsu. Apa Yuutsu baik-baik saja?

"Baiklah.." Gumamku. Lalu aku mengeluarkan pedangku, dan menghancurkannya. Namun...

"...Keras sekali?!" Kataku nggak percaya.

Kalau kamu menganggap ini adalah Emerald of Happiness, kalau begitu kau harus ceria! Kata penguasa terdengar.

Aku tersenyum, dan mengingat hal-hal yang menyenangkan, bahkan hampir ketawa sendiri gara-gara keingetan insiden kerusuhan Summer gara-gara si Kiel.

"Oke.."

PRANG!

Tapi, sepertinya ada yang mengganjal, di sana hanya ada permata biasa, bukan cahaya Gems of Spirit.

"Kenapa nggak gempa?" Tanya Lest.

"Parah! Kamu mau gempa?! Kamu bikin sendiri aja! Kan bisa?!" Kata Frey sewot.

"Apa mungkin itu alasannya, Lest?" Kata Dolce menunjuk ke arah... Apa? Permata penyegel Emerald of Happiness lagi? Kenapa bisa ada dua?

"Kenapa ada dua?" Kata Lest.

"Aku juga gak tahu! Dan segel itu sama dengan segel yang kuhancurkan sebelumnya!" Kataku.

"Kenapa gak kita hancurkan saja segelnya? Ukh, cepat supaya aku bisa pulaaang!" Gerutu Lest.

Lalu aku lari dan menghancurkannya. Dan, ketika hancur, terdengar suara bising yang mengerikan, dan aku sepertinya bisa mengenali ini... Itu kekuatan... Ah, tidak... Itu bohong, kan...

Ingatanku, nggak, tolonglah, aku nggak mau mengingatnya... Karena kalau aku mengingatnya, aku pasti akan hancur...

Seperti yang diduga Lest, kemudian, terjadi gempa.

"Gempa lagi?!" Kata Lest shock.

"Cepat lari dari sini! Kita harus berlindung!" Kataku bangun dan cepat-cepat lari.

Setibanya di luar, kami benar-benar bingung tentang apa yang terjadi. Kenapa ada sebuah, atau mungkin dua, segel yang aneh?

"Ini apa-apaan, sih!" Kata Lest sewot.

"Aku kepingin pulang.." Kata Pico.

"Apa boleh buat, kita pakai Multi Transportate-ku saja.." Kataku lemas.

Ctak.

Kita tiba di dunia yang sangat kita kenal, Selphia. Setelah merasa tenang karena waktu masih sama, kita pamit dan pulang. Awalnya hanya itu saja, namun, aku merasa keanehan lagi..

"Perasaan apa lagi ini.." Gumamku.

Setelah menyadari satu hal, ini bukan dunia kita. Ini masih satu dimensi seperti yang tadi, namun 'beda lokasi.' Aku secepatnya mencari ke semua. Dari rumah yang serupa dengan rumah asli masing-masing. Sampai di rumah yang mirip dengan rumah Lest, aku langsung teriak,

"LEST! FREY!"

"Hem?" Kata Lest dari dalam.

"Keluar sekarang juga! Ada masalah besar!" Dan sedetik kemudian mereka langsung muncul.

"Ada apa Racchi?" Tanya Lest.

"Apa kalian nggak merasa aneh? Di sini bukan dunia kita! Apa kau tidak lihat monster atau orang-orang beraktivitas?"

"Betul juga sih, tapi kenapa kita tidak sampai ke Selphia?" Tanya Lest.

"Sepertinya ada kaitannya dengan permata yang bercahaya dan tiba-tiba retak itu..." Jawabku.

"Apa itu berarti... Dunia menjadi kacau?" Kata Lest.

"Mungkin! Seharusnya ini Selphia yang kita kenal!"

"Duh, ayo kita pergi ke Dolce dan Pico!" Kata Frey mulai khawatir.

Kami langsung berlari menuju rumahnya. Namun seperti yang Lest bilang, betul saja, kita kesulitan mencari rumahnya. Ini seharusnya jalan menuju Kastil, namun ini malah menuju pantai. Apa Dolcetidak menyadarinya? Apa baru berlaku setelah kita menyadarinya?

"Akhirnya, itu dia!" Kata Lest.

"Dolce! Dolce! Pico!" Teriakku dari luar.

"Yaaaah?!" Pico yang menjawab.

"Pico! Ajak Dolce keluar sekarang juga! Kamu juga keluar!" Kataku.

"Ehm? Ada apa?"

"Nanti aja penjelasannya! Keluar dulu!"

Sekeluarnya mereka, aku langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan mereka langsung panik.

"Huh?! Bukan Selphia? Lalu... ini di mana?" Tanya Pico.

"Itu dia. Aku gak tahu apa-apa tentang dunia ini. Sekarang secepatnya kita cari jalan keluar sebenarnya!"

"Tapi tanpa memastikan dunia apa ini, kita tidak akan bisa pulang!" Kata Lest.

"Kenapa begitu?" Tanyaku.

"Soalnya, dimensi yang tidak diketahui, biasanya tidak akan bisa terhubung dengan dunia kita sebelum dimensi itu dikenali oleh penduduk dunia kita, jadi kita harus mengetahui dimensi apa ini!" Jelas Lest.

"Iya juga sih, walau sedikitnya aku tahu dimensi apa ini.." Gumamku.

"Hah?! Kau mengetahuinya?!" Kata Lest excited.

"Ini adalah dunia yang diciptakan dunia kegelapan Abyss. Dunia Ilusi. Fatamorgananya padang pasir."

"Kalau kau mengetahuinya, kenapa nggak bilang dari awal? Duuh, setidaknya kita bisa bikin kontak dengan dunia kita!" Kata Lest semangat.

"Tidak Lest, kalau aku mengetahuinya, kenapa tidak dari tadi kita sampai ke Norad, Land of Selphia? Tepat sekali. Ini dunia ilusi. Tepatnya, aku nggak bisa menemukan cara untuk pulang ke Selphia."

"Tunggu sebentar! Nii-san bilang ini dunia ilusi, kan?" Tanya Pico tiba-tiba.

"Er... Iya?"

"Kalau ini sebuah ilusi setidaknya kita harus sadar!" Kata Pico. "Coba tutup mata kalian masing-masing!"

Kami semua menutup mata, dan menebak-nebak kapan kita tidak ikut berpartisipasi dalam permainan anak-anak. Setelah membuka mata kami semua...

Apa aku bermimpi atau apa... Ini...!

To Be Continued