Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto
New Romantics
I'm wonderstruck, blushing all the way home
I'll spend forever wondering if you knew
I was enchanted to meet you
-Taylor swift- Enchanted-
.
2
.
"Apa yang kau kenakan itu?" Sasuke mengagetkan ku di pagi hari. Dengan dasi yang masih berantakan dia menegur ku sambil memberikan tatapan seolah aku adalah wanita aneh.
"Apa? Ini seragam" Aku masih tak mengerti arah pembicaraan nya dan memilih untuk membuat susu coklat ku lagi.
"Apakah sependek itu?" Sasuke menunjuk ke arah rok ku yang memang sengaja ku lipat lagi sehingga menjadi lebih tinggi dari rok biasanya.
Aku menggedikan bahu dan memilih untuk duduk di kursi sebelah nya.
"Memang seperti ini. Lagi pula, Momma tak pernah marah"
"Oh ya, tentu saja. Kau putri nya Karin. Aku melupakan hal itu" sasuke memalingkan wajahnya, berusaha untuk tak melihat ke arah rok ku yang tersingkap saat ku dudukan diriku tadi.
Tingkah nya sangat menggemaskan. Seperti remaja saja.
Setelah itu, kami sibuk dengan sandwich masing-masing. Aku mengerenyit saat melihat Sasuke memasukan banyak tomat kedalam Sandwich nya.
"Apa?" dia bertanya tanpa memalingkan wajah nya ke arah ku.
"Apakah rasanya...enak?" Aku menunjuk ke arah sandwich-nya yang baru saja dia gigit.
"Mau coba?" dia menyodorkan sandwich aneh itu kearah ku, aku pun reflek menjauhkan kepala ku sehingga membuat nya tertawa geli.
"Terimakasih, aku mencintai selai kacang ku" Aku melahap habis sandwich ku sambil merengut menatap Sasuke yang masih tertawa.
"Ehem, maafkan aku. Sebelumnya aku tak pernah seperti ini. Hanya saja kau... astaga! Pipi mu bahkan memerah seperti tomat!" Sasuke mengumpat disela kunyahan nya sambil menunjuk pipi ku yang semakin memerah saja.
"Apakah kau selalu seperti ini?" Aku menggembungkan pipi ku sambil mendelik ke arah nya.
"Seperti apa?" Tawa nya mulai memudar, aku memutar bola mataku bosan.
"Menyebalkan" Aku menenggak habis susu coklat ku dan kurasakan Sasuke sedang mengangkat kedua alis nya.
"Tidak, hanya dengan kau" Sasuke menjawab enteng sambil terus melahap sisa tomat di piring nya.
Deg.
Perkataan sasuke membuat jantung ku berdetak lebih cepat. Apa yang baru saja dia katakan?
Hanya dengan ku dia bersikap seperti ini? Jangan konyol. Bahkan kami baru bertemu 24 jam yang lalu.
Sasuke membuyarkan lamunan ku
"Pulang jam berapa?" Sasuke terlihat sudah menghabiskan sandwich nya dan sedang sibuk merapihkan dasinya yang berantakan.
"Jam 2, kalau tak ada perkumpulan klub" Aku menjawab sambil mengikatkan seluruh rambut ku jadi satu.
Aku melirik dari ekor mataku. Sasuke sedang memperhatikan ku. Ada apa sebenarnya?
"Kenapa?" Aku bertanya, membuat Sasuke tersentak dari lamunan nya.
"Kau akan ku jemput" Jawab Sasuke enteng. Aku menggelengkan kepala ku "Tidak perlu, lagi pula aku sudah hafal jalan menuju apartement mu"
Sasuke menaikan kedua alis nya "Tak ada penolakan. Aku paman mu, ingat? Dan Karin menitipkan mu padaku. Dirumah ku. Itu berarti kau harus menuruti ku"
Ucapan Sasuke membuat ku tersadar. Paman katanya? Oh ya, bagus. Sasuke memang menganggap dirinya sebagai paman ku. Begitu pula aku memanggilnya. Lagi pula, usia kami bertaut 12 tahun. Apa yang bisa ku harap kan?
Bisa saja dia sudah mempunyai kekasih atau yang lebih buruk nya. Seorang tunangan?
Entah mengapa, hati ku merasa tercubit membayangkan nya.
Sasuke pov.
Ini sudah 1 bulan sejak kedatangan gadis itu ke apartement ku. Ya, Haruno Sakura.
Putri dari teman dekat ku, Haruno Karin. Awalnya, aku menyanggupi permintaan nya itu karena karin telah meneror ku selama 1 bulan penuh dengan ancaman-ancaman yang membuat ku pusing saja.
Lagi pula, aku tak ingin Karin dirundung duka untuk yang kedua kalinya-setelah kematian suaminya-dan aku ingin menjadi teman yang baik untuk diingat.
Lagi pula, apa susah nya mengurus gadis berumur 17 tahun?
Ternyata, aku salah.
Justru mengurus seorang anak berusia 17 tahun-apalagi dia adalah anak dari seorang Karin-Ini bisa jadi sangat menyusahkan.
Dia memang tak melakukan kenakalan semacam keluar malam atau membawa teman lelaki nya kemari. Tapi, dia lebih ke... tidak tau malu, mungkin?
Dia selalu menggunakan kaus tipis dan celana pendek hingga menyerupai celana dalam bila di dalam rumah.
Damn it! Aku juga seorang lelaki dewasa yang mempunyai hormon menggebu.
Bila dia terus menerus menunjukan sikap innocent dan cuek nya itu. Aku yakin, ada saat nya aku 'salah masuk' kamar. Dan malah masuk kedalam kamar milik Sakura.
Sejak awal kedatangan nya, sudah kuakui bahwa aku memang langsung tertarik padanya. Hal yang sangat jarang terjadi padaku. Entah mengapa, ketika ku tatap mata emerald nya itu membuat desiran aneh di dalam hati ku.
Aku tak pernah seperti ini sebelum nya. Bahkan ketika masa remaja, aku lebih tertarik dengan buku dan olahraga ketimbang wanita yang menurutku sangat merepotkan itu.
Tapi kini, ketika ku melihatnya. Aku merasa seperti... muda lagi. Masa remaja ku seakan timbul lagi.
Rasa ingin melihat nya setiap saat, rasa ingin membuat dirinya tersenyum, rasa ingin... memiliki dirinya yang kuat.
Tapi, perbedaan usia kami yang cukup jauh membuat ku berfikir 2 kali.
Apakah Sakura mau menerima ku? Apakah Sakura merasakan hal yang sama seperti diriku ini?
Bisa saja kan, Sakura sudah mempunyai seorang kekasih di sekolah nya itu? Dan entah mengapa, aku merasakan desiran aneh itu lagi di hatiku. Kali ini, bukan desiran yang menghangatkan. Namun, menyakitkan.
End sasuke pov.
Malam semakin larut, Sasuke terlihat baru saja pulang dari tempat nya bekerja dan segera menuju dapur untuk mendapatkan segelas teh hangat.
Alis nya berkerut, kemana sakura?
Biasanya jam segini dia masih sibuk dengan camilan gandum kesukaan nya sambil mendengarkan musik di ruang tv.
Tapi kini, tak ada sakura disana. Nihil.
Sasuke berjalan menuju kamar nya. Dan saat itu pula dia tergelitik ingin sekali memasuki kamar di depan nya yang kini sudah menjadi milik sakura itu.
Tangan nakal nya meraih kenop pintu dan membuka pintu bercat putih itu dengan pelan.
Terlihat Sakura sedang mendengarkan musik Country kesukaan nya sambil tiduran di ranjang ber seperei hijau miliknya.
Sasuke menatap nya . Apakah dia tak menyadari keberadaan Sasuke?
Sakura masih sibuk bernyanyi sambil menatap ke arah langit-langit. Tanpa disadari, Sasuke melangkah lebih dalam menuju kamar Sakura.
Ditemukan nya sebuah buku yang berserakan di lantai. Sasuke mengerenyitkan alisnya saat membaca judul dari buku yang kini sudah ada di dalam genggaman nya itu.
"Kau tertarik untuk menjadi model?" Suara Sasuke menginterupsi Sakura. Gadis itu langsung bangun dari posisi nya dan menatap horor ke arah Sasuke.
Mengerti arti dari tatapan itu membuat Sasuke mendengus geli. Apa yang baru saja merasuki nya? Mengapa dia masuk ke dalam kamar seorang Gadis?
"Aku baru pulang kerja, biasanya kau berada di sofa depan. Tapi kini, aku tak melihat mu. Jadi, aku mencari mu kesini" Sasuke merutuki kebodohan nya dalam merangkai kata. Dia memang buruk dalam hal berbasa-basi.
Sakura mengangkat kedua alis nya dan senyum nya pun mengembang seketika "Kalau begitu, Selamat datang di kamar ku!" Sakura mengangkat tangan nya tinggi-tinggi seakan dari kedua tangan tersebut bisa menghasilkan sebuah pelangi.
"Dan pertanyaan mu tadi, aku tak begitu tertarik. Hanya suka saja dengan para model yang berjalan di Catwalk itu. Mereka terkesan...seksi dan misterius." Sakura menaik-turun kan alis nya sehingga, bisa terlihat kemiripian antara Karin dan Sakura.
"Kau menyukai nya? Padahal jika kulihat, badan mereka bahkan hanya setangkai" Sasuke memperhatikan gambar salah satu model di buku itu, yang sedang mengenakan dress aneh beruncing.
Sakura menghembuskan nafasnya lelah "Maka dari itu, sangat disayangkan sekali. Para model berlomba untuk menjadi yang paling skinny. Bahkan, banyak dari mereka yang menderita anoreksia. Tapi, tetap saja kita tak bisa menyalahkan industri fashion"
Sasuke mengangkat alisnya, merasa tertarik dengan arah pembicaraan Sakura.
"Kau mempunyai seorang idola yang menjadi model?"
Mata Sakura seakan berbinar mendengar pertanyaan Sasuke.
"Ya! Tentu saja! Aku menyukai para model yang sedang naik daun sekarang! Aku menyukai para model di Victoria Secret" Sakura menepuk tangan nya.
"Aku menyukai Kendall Jenner, Gigi hadid, taylor Hill dan aku sangat sangat menyukai bagaimana Cara Delevinge berjalan di atas runaway, dia mempunyai gaya berjalan yang unik!" Sakura bercerita seolah Sasuke mengerti akan segala ucapan nya.
Sasuke mengerut kan kening nya ke arah Sakura .
"Paman, tidak tau mereka?" Sasuke menggeleng merespon pertanyaan nya.
"Haaah, pasti. Momma saja tak begitu menyukai nya jika aku sudah membahas dunia model" Bahu bersemangat Sakura seketika saja lenyap.
"Kenapa?" Sasuke mengangkat kedua alis nya. Penasaran.
Sakura tersenyum kecut "Istilah nya, Momma menginginkan ku untuk menjadi seperti Kate Middleton. Namun, aku menginginkan kebebasan berekspresi seperti Cara delevinge. Momma menginginkan ku untuk menjadi wanita yang anggun, dan menjadi seorang dokter sepertinya. Tapi, aku... aku menginginkan untuk menjadi seorang penyanyi"
Sasuke tercengang mendengar impian Sakura. Sangat bertolak belakang dengan Karin. Sakura terlihat lesu dan kehilangan sinar nya.
Sasuke pun berusaha mencari kata yang sesuai untuk membangkitkan semangat gadis merah jambu itu lagi.
"Kau bisa menjadi apapun yang kau mau. Tapi, kusarankan. Jangan menjadi Kate, Delevingne, Hill atau siapa pun dia-jadilah dirimu sendiri. Jangan men-copy mereka. Kau sudah menakjubkan dengan menjadi seorang Haruno Sakura" Bagus. Akhirnya mulut Sasuke mengatakan hal yang membuat sinar Sakura kembali lagi.
Sakura tersenyum lebar sambil menatap ke arah Sasuke.
Sasuke terkekeh melihat reaksi Sakura itu.
"Kemarilah, paman" Sakura menepuk sisi ranjang tempat tidur nya. Dengan ragu, Sasuke menghampirinya.
Sesaat setelah Sasuke mendudukan bokong nya di kasur Sakura, Gadis itu langsung meraih tangan nya sehingga mereka berdua berbaring bersama di ranjang itu.
"Haaaah, aku tak pernah menghabiskan malam bersama seorang lelaki sebelum nya" Sakura menyeruakan isi hati nya dan langsung mengerenyit ketika mendengar Sasuke tertawa.
"Apa nya yang lucu?" Sakura berusaha memukul keras lengan berotot Sasuke.
"Kata-kata mu tadi bisa mengandung banyak makna, Sakura" Sasuke menatap Sakura yang masih merengut kesal.
Lalu, seketika itu pula pipi nya berubah warna. Mengerti akan maksud perkataan Sasuke barusan. Bodoh! Mulut nya memang selalu mengatakan hal-hal aneh di depan pria yang-ehem-tampan.
"M-maksud ku bukan itu! K-kau tau kan, aku sudah ditinggal papa sejak kecil. Hanya ada Momma disetiap malam ku, terkadang aku merasa bosan. Tapi, jangan sekali-kali kau bilang hal ini pada Momma!"
Sasuke terkekeh geli, gadis disampingnya ini memang memiliki mood yang berubah-ubah.
Tadi, dia sedang malu, lalu berubah menjadi sedih saat mengingat mendiang papa nya, dan terakhir menjadi jahat karena telah mengancam Sasuke.
"Memang nya kau belum pernah menghabiskan malam mu bersama... kau tau kan? Kesenangan masa SMA" Sasuke menggoda Sakura dengan menunjukan seringai andalan nya.
Pipi Sakura pun mulai bertambah merah dan terlihat semakin menggemaskan.
"T-tidak! A-ku belum pernah" Sakura memalingkan wajah nya ke arah lain. Sasuke termenung seketika. Apa? Jadi Sakura masih perawan?
"Kau masih perawan?" Mulut Bodoh Sasuke tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang membuat Merah di pipi sakura merambat hingga telinga nya.
"T-tentu saja! Aku ingin melakukan nya dengan orang yang ku cintai" Sakura memberanikan diri menatap Sasuke yang masih terkejut akan jawaban nya itu.
"Maaf, kufikir kau sudah.., maksud ku, hal lumrah bila kau sudah tak perawan lagi di zaman sekarang. Tapi, kau masih menganut sistem kepercayaan itu. Aku kagum padamu" Sasuke menunjukan senyum tulus nya pada Sakura yang kini sedang menggigit bibir nya.
Sial. Apa yang sedang dia lakukan?
"Bagaimana dengan mu, Paman?" Suara Sakura bagaikan dentingan gelas kaca yang menggairahkan.
Namun, pertanyaan nya membuat Sasuke bingung harus menjawab apa.
"Usia ku sudah 29 tahun, Sakura" Aku menghembuskan nafas ku dengan gusar.
"Jadi, paman sudah pernah bercinta?" Terselip nada kecewa di dalam nya.
"Aku tak pernah menyebut nya bercinta. Sex lebih tepatnya, karena bercinta hanya dilakukan dengan orang yang benar-benar ku cintai. Sex hanya sebagai pemuas nafsu saja. Dan sepanjang hidup ku, aku tak pernah bercinta"
Sasuke mengusap wajah nya kasar dan menoleh ke arah Sakura yang menatapnya bingung.
"Apakah Paman sasuke tak mempunyai seorang kekasih?" Dentuman jantung Sakura rasanya bisa terdengar saat dia menanyakan hal ini pada Sasuke.
Sasuke menggelengkan kepalanya "Tidak"
"Kenapa? Padahal kan usia mu sudah sangat mencukupi, harta pun kau sudah miliki dan kau juga mempunyai wajah yang...tampan" Sakura memerah akibat ucapan nya sendiri.
Sasuke menatap antusias pada Sakura "Terimakasih, akhirnya kau mengakui ketampanan ku" Sasuke menyeringai sombong dan dihadiahi pukulan di bahu nya.
"Aku hanya.. belum menemukan wanita yang tepat. Aku menunggu wanita yang menarik menurut ku" Sasuke meletakan lengan nya di atas kepalanya sambil memikirkan, apakah kata-kata tadi cukup bagus?
Keheningan pun menyambut mereka, suasana berubah menjadi canggung saat dirasa tak ada obrolan lain yang menarik.
Sasuke bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar Sakura.
"Aku belum mandi, Aku heran dari tadi kau tak merasa kebauan ya?" Sasuke menjawab raut penasaran Sakura.
Gadis itu malah mengerucutkan bibirnya kesal. Sejujurnya, dia tak mencium aroma tak sedap apa pun. Yang tercium hanya wangi maskulin yang menguar dari tubuh Sasuke dan membuat nya... terangsang.
"Paman?" Sakura memanggil Sasuke sesaat sebelum pria itu menutup pintu kamarnya.
"Ya?"
Sakura menggigit bibir nya dengan gugup. Lalu, kata-kata itu pun meluncur seketika. Membuat Sasuke Shock dibuat nya.
"Bagaimana, bila aku sudah tertarik dengan paman?
.
.
Tbc
.
.
"
