A/n : Masih niat nulis nih Fict, Author? Oh iya dong, demi kepuasan pelanggan (lebih dari lima klien aja nggak, Author sarap). Meski ide dan konsep sudah hilang (nggak secara garis besarnya sih), Author selalu ada untuk kalian. #eea. Ya, ide yang hilang itu adalah isi dari setiap chapter dan sambutan awalnya. Ya udah, dari pada kena marah Editor (ngomong-ngomong kapan lu punya Editor pribadi, Sarap?) sekarang nikmati ajalah! Biasalah ngomongnya kayak gini soalnya gak tau harus ngomong apa.
My Jewel My Soul
Chapter III. Fighting Passion
(Lanjutan dari shock Racchi chapter kemaren)
A... Aku di rumah sekarang.
Akhirnya... Setelah bernaung di bawah kegelapan, aku bisa pulang juga. Hebat juga si Pico.
Aku mengetahui aku sudah sampai di Selphia karena... hawa lembut yang biasa kudapatkan kembali lagi. Aku jadi santai, rileks, dan gak mau memikirkan apa-apa lagi.
Hmmm... Ngomong-ngomong... Kalau tentang segel itu... Apa masih ada, ya? Eh, dasar, ya masih ada, lah. Untuk Zero, Rean, aku, dan Penguasa belum terdapatkan. Berarti, tugasku masih banyak. Haduh... Ampun...
Untuk apa aku memikirkan hal seperti itu di tengah kesantaianku? Bikin sebel aja!
Selain karena susah mencarinya, segel itu juga mengerikan. Aku merasa aku bisa mengingat kembali semua ingatan masa laluku yang entah karena Amnesia atau aku membuangnya sendiri, karena ingatan itu... Adalah... Akhir dan awal dari segalanya.
Ngapain Author bikin adegan Racchi mikirin dirinya sendiri? Liberalisme, luh, Author! Kasih dong POV buat yang lain! (Author: Ya... ya... ya... *sambil ngangkat telepon dan ngurusin dokumen*)
Seiring dengan ketidakwarasannya Author, aku lebih baik pergi keluar untuk menghilangkan rasa di hati ini.
Di jalan, aku ketemu Lest lagi.
"Yo, selamat pagi." Kata Lest. Sejak kapan dia diajarin ngomong kayak gini?
"Selamat pagi." Balasku cepat. "Ke mana?"
"Ke hatimu." Tuh, siapa sih yang ngajarin si Lest ngomong kayak mas-mas warung?! "Nggak deh, mau jalan-jalan aja."
"Jalan-jalan ke hatiku?" Tuh, ini kenapa lagi si Racchi sama-sama unrespondisme gini?!
"Euh." Kata Lest. "Sama parahnya luh."
"Ya udah jawabnya yang bener, mau ke mana?"
"Mau ke-"
"Ventuswill." Potong orang yang tiba-tiba datang, Frey.
"Kita dipanggil Venti karena kasus kita kemarin." Jelas Dolce yang juga ikut datang.
"Iya." Sambung Pico. "Venti cukup khawatir, jadi secepatnya kita harus datang ke sana."
"Ngomong yang bener! Aku jadi gak bisa dapet intinya apaan!" Gerutu Lest.
"Jadi Lady Ventuswill-"
"Udah! Sekarang kita ke sana aja deh!" Bentak Frey tanpa membiarkan waktu setidaknya untuk... *slap*
Kami pun pergi ke tempat Venti berada, dan setibanya di sana, kita tak tahu harus ngomong apa: Venti pingsan setengah mati.
"Oi, Venti!" Kata Lest.
"Mmmh..." Oh, ternyata masih sedikit sadar.
"Ada apa, Venti?" Tanyaku.
"Mmmmh... Maaf ya membuatmu datang ke sini pagi-pagi sekali. Jadi, aku ingin ngomong, kenapa terjadi gempa bumi? Apa ada hubungannya dengan kamu dan keluargamu, Racchi?"
"...Dari mana anda mengetahuinya?" Jawabku aluuuus, banget *plak*
"Aku mengetahui segalanya, terutama tentang kau, Racchi."
".. Kalau begitu... Mungkin gempa terjadi karena ada yang disebut 'segel' dan aku harus menghancurkannya."
"Segel ya..." Katanya lemas. "Apa hubungannya?"
"Penguasa tidak memberiku detilnya. Dan itu, aku juga tidak mau memberikan penjelasannya. Maaf, Venti." Kataku mengakhiri percakapan ini segera.
"Kalau begitu..." Kata Venti mulai sangat melemas. "Kalian boleh pulang..."
"Oi, untuk apa kami dipanggil, kalau begitu?" Tanya Lest dengan nada tinggi.
Venti ambruk.
"Oi, Venti!" Teriak Lest.
"LADY VENTUSWILL!"Kata seseorang yang tiba-tiba datang sesegera mungkin setelah mendengar suara ambruk dari sini. Siapa lagi kalau bukan... Er... Siapa namanya... *dihantam teapot*
"Volkannon-san!" Sapa Frey.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA LADY VENTUSWILL?!" Tanya Volkannon nista.
"Nggak ada, kok. Kami Cuma menjelaskan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi pada kami, kemarin." Jawabku.
"Oke! Aku percaya kepadamu! Tetapi.. kalau Venti nanti... Huaaaa!" Lalu dia kabur begitu saja.
"Hmmph..." Semua mendengus.
"Uh... Perasaan apa ini..." Gumamku.
"Perasaan... Seperti ada segel, aku pernah merasakan ini kemarin, hawa yang sama..." Jawab Lest.
"Segel? Sedekat ini?" Tanya Frey. "Di sini?!"
"Mana aku tahu." Jawabku sambil memalingkan mata. "Yang jelas hawanya dekat sekali dari sini."
Tiba-tiba terdengar suara serigala.
"Apa itu? Serigalakah?" Tanya Pico.
"Mungkin... Kenapa bisa ada di sekitar sini?" Gumam Lest.
"Apa mungkin mendatangkan serigala ke dalam kediaman Ventuswill?" Tanya Frey. Panik.
"Itu dia. Kayaknya ada sesuatu yang nggak beres di sini." Jawabku.
"Haruskahku panggil bantuan?" Tawar Lest.
"Nggak usah. Untuk jumlah segitu, cukup kita semua saja."
"Kalau gitu kenapa kita dari tadi ngobrol terus?!" Bentak Frey.
"Oh... Iya ya."
Dan, kami pun bergerak untuk menyerang serigala-serigala aneh itu. Di luar dugaan, serigala tersebut sangat kuat sehingga membuat kami sedikit kewalahan dan menguras banyak Rune Point.
Kami mengubah gaya bertempur kami.
Dengan mode Fighting Passion: Menyerang terus menerus sampai berhasil mengalahkannya.
Itu memang (setidaknya) 3 kali lebih melelahkan, tapi setidaknya kita harus menolong Venti.
Karena dengan strategi perang tadi, kita jadi memiliki banyak kesempatan untuk menang.
10 menit kemudian.
"Akhirnya selesai juga..." Gumam Frey sambil duduk.
"Tapi... Venti masih sedikit pingsan." Kata Lest. Apa maksudnya, sedikit?
"Hawa segel itu masih sangat terasa di sekitar sini." Kata Dolce.
"Kalau begitu, segel itu mengunci kekuatan dan kesadaran Venti." Jelasku.
"Kalau gitu, kenapa tidak dari tadi kita menemukan keberadaan segelnya?" Tanya Frey.
"Setahuku, jika keberadaan semua segel tersebar, semua segel akan membentuk suatu simbol. Dan aku menyelidiki, kalau keberadaan segel ini berada di... Tepat di sini." Jelasku sambil menunjuk ke arah Ventuswill.
"Di dalama perut Venti?" Tanya Lest.
"Huh?!"
Aku memeriksa keadaan Ventuswill yang pingsan, dan ternyata, hawa segel itu semakin kuat ketika aku meletakkan tanganku di atas perut Venti. Jangan-jangan... Di sini ya, segelnya?!
"Segelnya di sini..." Kataku pelan. Mencoba percaya terhadap kenyataan.
"Hah?!" Kejut Lest nggak percaya. " Jadi itu yang menyebabkan dia begitu dari awal?!"
"Iya! Dan kalau kita mau menyelamatkan Venti sepenuhnya..." Jelasku dengan penekanan. "Kita harus menghancurkan segel yang ada di dalam perut ini!"
"Tapi bagaimana? Kita nggak mungkin menyerang perut Venti, kan?!" Bantah Pico.
"Itu dia. Kupikir, segel itu berupaya untuk tidak dihancurkan oleh siapapun. Siapapun, loh. Sehingga kita harus berpikir dua kali untuk menghancurkan segel itu." Jelasku.
"Tapi mau gimana lagi..." Gumam Dolce. "Hmm... Aku akan gunakan portal penembus untuk masuk ke dalam perut Venti! Gimana?"
"Boleh, Dolce!" Kata Pico, pertama kali yang menanggapinya.
"Tidak bisa." Jawabku nista. "Karena ini segel... Ini bisa menyegel kekuatan kita pula."
"Biar kucoba." Kata Dolce yang terlihat sedikit kesal. Oke... gomen... gomen.
Dolce membuat portal penembus dan ternyata... Bekerja.
Aku hanya bisa bengong.
"Wah... Ternyata bisa!" Kata Pico.
"Kukira keberadaan segel itu hanya memberatkan kekuatanmu, Racchi." Katanya sambil melihatku.
"Iya.. ya. Aku baru sadar." Kataku, ngeles.
"Oke." Kata Dolce. Ini bukan perkataan, sih. Tapi cibiran. Dasar.
Sesudah urusan portal beres, kami setidaknya berharap untuk tidak ter-teleport ke dunia lain. Tapi, ini kan penembus! Jadi seperti pintu lagi, tidak akan ke mana-mana kecuali tempat yang dituju. Kayak cincin penembusnya Doraemon ajah.
"Kita temukan segelnya." Kataku setelah segel sudah terlihat tak jauh dari pertama kita masuk.
"Hmmm... Kenapa tiba-tiba ada di sini, ya..." Gumam Frey.
Aku coba menyentuh segelnya dan merasakan hawa kenaifan, kecemburuan, keputusasaan, amarah, rakus, dan... (UDAH UDAH! KAMU MAU MENGAJARKAN HOMONCULUS KE PENGGEMAR RUNE FACTORY?!) Oke.
Ini pasti milik Zero, dan segel ini benar-benar terlihat menyeramkan. Warnanya seperti darah, tapi ini ruby. Jadi, penjaga segel tadi itu benar-benar ada hubungannya dengan Zero?
"Uh..." Gumamku. Aku merasa sesak. Sekali.
"Kenapa, Racch?" Tanya Dolce.
"Nggak." Kata Racchi. Kebohongan yang biasa dilontarkan pada anak perempuan macam kayak gini. "Cuma sedikit capek."
Karena tidak kuat lagi, aku mengerahkan semua kekuatan untuk menghancurkan segel itu. Dan, ketika pedangku menyentuh segel itu...
Kuat sekali?!
"Wah, tampaknya segel itu kuat." Kata Lest dongo, bagi Author.
"Apa kalian bisa membantuku?!"
"Tentulah, Racchi!"
Kami semua langsung menyerang segel itu, terus menerus, sampai dua jam, sampai collapsed, dan bahkan sampai mendekati kematian.
Dan akhirnya... PRANG!
Berbeda dengan kemarin, kali ini segelnya mengeluarkan bunyi yang sangat berisik dan mengganggu kami. Ventuswill tampaknya juga sudah bangun dan berteriak, sehingga...
"Kita harus secepatnya keluar dari sini!"
Setelah keluar, Venti memang sudah sadar, namun suara itu masih ada, dan kukira masih cukup lama.
Setelah mereda, Venti juga mereda.
"Duh..."
"Kau sudah sadar, Venti?!" Kata Pico excited.
"Iya... Kalian boleh pulang."
"Lah," Kata Lest nista. "Gitu aja? Setidaknya terima kasih, gitu ke kami?"
"Oh, iya makasih banyak."
Kami pun pulang. Antiklimaks.
Di perjalanan pulang, aku berhasil membuat kontak dengan Penguasa.
"Akhir-akhir ini ada yang salah dengan Yuutsu-chan." Kata Penguasa.
"Bagaimana keadaannya?"
"Dia seperti merasa bersalah, terus-terusan berbuat seperti itu. Tapi tampaknya menurutku ada kaitannya dengan Fujiwara Miki. Penjahat kelas SS itu."
"Apa?!" Kataku nggak percaya. "Fujiwara Miki adalah fragmen dari Fujiwara Yuutsu, kalau begitu?!"
"Tidak, Racchi." Kata Penguasa lesu. "Kami bahkan meng-hipotesis kalau dia sendiri itu adalah... Fujiwara Miki."
To Be Continued
So, do you enjoyed the Ficts?
Do you have any questions?
Do you know why I'm writing this such as an imbicile?
This is special Ficts! I'm only publish three chapter for today!
I'm really sorry, but still, I'll write another chapter, THIS MONTH, but NOT THIS WEEK.
I'm really sorry, and thank you for reading my Ficts.
I'm really sorry about my silliness.
Goodbye, happy waiting, and, Thank you!
