Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto
New Romantics
Didn't you flash your green eyes on me
Haven't you heard what becomes of curious minds?
.Taylor Swift-Wonderland.
.
.
3
.
.
"Jadi, katakan dimana kau tinggal selama ini, Saku" Aku mengerenyit mendengar suara Ino yang tiba-tiba menegur ku.
Dari mana dia berasal? Biasanya gadis pirang itu akan menghabiskan waktu istirahatnya dengan kekasih pucat nya itu. Tapi, kenapa kini dia malah menghampiri ku ke atap sekolah?
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Aku memperhatikan Ino yang mendudukan dirinya tepat disamping ku.
"Aku ingin meminta penjelasan dari sahabat merah muda ku, dimana dia tinggal selama 2 bulan ini. Karena, kemarin ketika aku berkunjung ke rumah mu. Rumah mu dalam keadaan gelap total dan kosong" Ino menyeringit seperti membayangkan hal seram.
Aku menepuk jidat ku, aku lupa memberitahu alamat baru tempat tinggal ku. Tempat tinggal Sasuke.
"Aku tinggal bersama paman ku"
"Paman mu? Siapa? Gaara? Sasori?" Ino menjadi antusias saat mengatakan kedua paman ku-adik dari Momma- yang tampan tapi sangat menyebalkan itu.
Aku menggeleng "Bukan, lagi pula Gaara dan Sasori itu di Suna. Tidak mungkin aku pindah kesana" Ino mengerenyit aneh.
"Lalu, dengan siapa kau tinggal? Tak mungkin dengan Sepupu Tayuya mu kan?" Ino bergidik ketika mengingat sepupu dari Papa ku-Tayuya- yang memang terbilang cukup hiperaktif dan aneh di usianya yang sudah menginjak angka 25 tahun itu.
Aku tergelak melihat wajah Ino "Bukan, aku tinggal bersama teman Momma ku, dia-"
Braak!
Terdengar suara pintu atap sekolah dibanting dan menampilkan 2 wanita yang menjadi musuh bebuyutan ku dan Ino di sekolah.
"Hei! Slow down." Ino berdiri dari tempat nya dan berkacak pinggang ke arah 2 wanita yang menyeringai jahat itu.
"Aku ingin membuat perhitungan dengan Si merah muda itu!" Ameyuri mengacungkan telunjuk nya ke arah ku. Apa?
Aku mengerutkan kening ku, tak mengerti.
"Ya! Kau Jalang! Dasar perusak hubungan orang" Mei berusaha menerjangku, tapi Ino dengan sigap mendorong bahunya dengan keras.
Aku semakin tak mengerti dengan perkataan mereka. Apa maksud semua ini?
"Kau! Kau telah membuat Kimimaro-ku memutuskan ku begitu saja! Aku tau, kau pasti sudah menghasut nya kan?! Kau ingin membalaskan dendam mu kepada ku karena telah mengejek Papa mu kemarin kan?!" Ameyuri berhasil melewati Ino dan mendorong ku dengan keras.
"Akhh, apa maksud mu? Aku sudah melupakan kejadian itu! Dan aku tak pernah menghasut siapa pun!" aku merasa nyeri di punggung ku karena terbentur dinding.
Ameyuri tertawa mengejek "Tapi, mengapa dia bilang bahwa dia menyukai mu saat dia memutuskan ku kemarin?HAH?!" Aku terbelak mendengar penuturan Ameyuri yang mengagetkan ku.
Kimimaro? Dia?
Dasar! Pembuat Masalah!
Aku berusaha menetralisir sakit di punggung ku dan memeberikan penjelasan pada Ameyuri
"Dengar, aku tak pernah tau jika Kimimaro begitu, Aku dan dia sudah berteman sejak SMP. Aku tak tau dia-"
"Tutup mulut mu! Jalang!"
Plak!
Ameyuri menampar ku dengan keras, aku terhuyung ke samping. Ino meneriaki namaku dan aku melihat nya sedang dipegangi oleh Mei yang menyeringai jahat ke arah ku.
"Aku tak percaya dengan ucapan mu! Kau harus diberi pelajaran!" Ameyuri mengeluarkan gunting dari saku nya. Dan dunia ku seakan berhenti sesaat. Apa yang ingin dia lakukan?
Ameyuri tertawa sinis melihat raut wajah ku yang gelagapan "Kimimaro bilang dia sangat menyukai rambut pink mu yang tergerai indah~" Ameyuri semakin mendekat ke arah ku sambil mempersiapkan gunting nya.
"M-mau apa kau?" Suara ku bergetar. Hal yang tak pernah terjadi sebelum nya. Seharusnya aku bisa memukul nya balik, seperti para lelaki yang biasa menggoda ku. Namun kali ini, kekuatan ku hilang entah kemana.
Ameyuri memiting tangan ku sehingga aku jatuh bersimpuh dihadapan nya.
"Arghhh!" Aku mengerang kesakitan, Ino meneriaki namaku. Namun kurasakan seluruh nya buram oleh airmata yang menggenang di pelupuk mataku. Sial, jangan menangis!
"Aku akan membuat mu tak bisa menggerai rambut indah mu lagi" Ameyuri mengambil seluruh rambut ku dan dengan sekali gunting, dia berhasil menggugurkan bagian rambut ku yang lain.
"Sial! SAKURA!" Teriakan Ino semakin nyaring. Ameyuri dan Mei tertawa puas melihat ku yang sudah mengerang kesakitan di lantai.
Ameyuri menjambak rambut ku yang masih tersisa di kepala ku. Dan dengan sekali hentakan, dia mendorong kepala ku hingga kurasakan kaki dan pipi ku terbentur pagar pembatas atap.
Pandangan ku tiba-tiba buram, sebelum ku kehilangan kesadaran, terlihat Miss Konan menggebrak pintu atap dan menyeret Ameyuri serta Mei.
Ino menghampiri ku dan menangis tersedu, sampai teman-teman yang lain datang dan membawa tubuh ku yang telah mati rasa.
Sasuke pov.
Aku berlari secepat yang ku bisa. Ini semua karena telepon 10 menit yang lalu, mereka mengabarkan bahwa Sakura terlibat perkelahian di sekolah nya.
Aku tak tau dari mana mereka bisa mengetahui nomor ponsel ku, ku rasa Karin yang memberikan nya kepada pihak sekolah untuk berjaga-jaga, seperti kali ini misalnya.
Aku tak memperdulikan tatapan para siswa yang kuterobos sepanjang koridor sekolah. Yang ku inginkan hanyalah melihat bagaimana kondisi Sakura sekarang.
Aku tak pernah sebegini khawatir nya kepada orang lain selain keluarga ku. Hanya kepada dia. Ini aneh.
Itu dia, klinik sekolah yang kutuju. Tanpa basa-basi aku langsung memasuki klinik itu dan mencari gadis dengan warna rambut merah muda.
Deg.
Ku rasakan darah ku mendidih ketika melihat keadaan Sakura yang jauh dari kata baik-baik saja. Aku masih tak bergeming dari ambang pintu, memperhatikan gadis berambut merah muda yang kini, wajah nya ada bekas kebiruan dan rambut merah muda nya tak panjang lagi.
Rambut itu terlihat di potong berantakan, ada sebuah perban yang menghiasi kaki jenjang nya dan disebelah nya terlihat, gadis berambut pirang yang menangis haru-ku duga dia adalah sahabat nya-Sakura mengelus kepala gadis berambut pirang itu sambil tersenyum masam.
Seperti dia berusaha menenangkan nya, tapi sebenarnya dia yang butuh ditenangkan.
"Sakura?" Suara berat ku membuat pandangan sakura tertuju sepenuhnya kepadaku. Tatapan nya bingung dan ketakutan saat ku melangkahkan kaki lebih dekat ke arahnya.
Dia tak berani menatap ku, wajah nya menunduk seolah-olah dia yang bersalah.
"Apa yang terjadi?" Aku membuka pembicaraan saat tiba di tepian ranjang Sakura. Gadis berambut pirang itu mendongkak dari tangisan nya dan menatap ku terkejut.
Sakura masih bungkam dan aku menangkat alis ku pada si pirang-bertanya-dia mengangguk tanda paham.
"T-tadi, Sakura di fintah oleh 2 orang siswi. Mereka bilang Sakura menghasut mantan pacar nya untuk memutuskan hubungan mereka. Tapi, Sebenarnya Sakura tidak melakukan nya. Dekat dengan pacar nya pun tidak. Sakura-"
"Cukup, Ino" Sakura memotong pembicaraan gadis pirang itu yang ternyata bernama Ino. Ino menundukan kepala nya lagi. Kini, Sakura menatap tajam ke arah ku.
"Apa yang paman lakukan disini?" Aku melonggarkan bahu ku sejenak.
"Ada telpon yang memberitahu ku bahwa kau terlibat perkelahian" Jelas ku dengan setegas mungkin.
Sakura menatap ku sejenak lalu memalingkan wajah nya lagi.
"Yamanaka, kau- Sasuke?" Suara yang cukup familiar terdengar memanggil ku. Aku menoleh dan menemukan Kak konan-kakak iparku- sedang berdiri di ambang pintu dengan raut terkejut.
"Kak Konan? Apa yang kau lakukan-Sial jangan bilang ini adalah sekolah mu?" Konan berjalan menuju ranjang Sakura dan menatap ku menyelidik.
"Ya, ini adalah sekolahan ku. Jangan mengumpat disini, Sasuke. Dan, seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan disini?" Konan menaikan sebelah alis nya kepada ku. Konan bisa menjadi cukup menyeramkan saat di lingkungan sekolah.
Aku menghembuskan nafas kasar "Ada telpon yang mengabarkan bahwa Sakura terlibat perkelahian"
Konan semakin mengerut kan dahi nya.
"Untuk sementara, aku yang bertanggung jawab atas nya"
"Huh?" Konan masih menunjukan raut tak mengerti. Aku memutar bola mataku. "Ceritanya panjang. Intinya, Karin, menitipkan Sakura padaku untuk sementara waktu. Itu berarti kini aku yang bertanggung jawab" Konan mulai mengangguk paham.
"Kau! punya hutang cerita dengan ku dan...Yamanaka, kakak mu sudah menjemput mu" Konan menatap ku dan kemudian si pirang. Ino mengucapkan selamat tinggal pada Sakura dan segera keluar dari klinik.
"Jadi, apakah Sakura berada dalam masalah?" Aku menatap sakura lalu ke arah Konan.
Konan mengangkat bahu nya "Secara teknis, tidak. Karena dia yang menjadi korban nya. Tapi, dia harus menjelaskan segalanya terlebih dahulu kepada guru konseling" Konan menatap ku lalu ke arah Sakura yang masih menundukan kepalanya.
"Baiklah, bawa dia pulang Sasuke. Aku masih banyak kerjaan" Konan melenggang keluar dan menuju ruangan nya kembali.
Aku masih menatap Sakura yang masih enggan mengangkat kepalanya.
Reflek, Tangan ku mengusap rambutnya dengan lembut. Sakura mendongkakan kepalanya, aku pun berusaha tersenyum padanya "Ayo, pulang"
Dia menggelengkan kepalanya, membuatku mengerenyit "Kau mau menginap disini?"
Sakura menggelengkan kepalanya lagi "Aku.. hanya saja.." Sakura menatap kaki nya. Dan kini aku mengerti. Perban yang menghiasi kaki nya adalah bukti bahwa dia terkilir. Pasti si pelaku mendorong Sakura.
Tanpa pikir panjang, aku pun menggendongnya di depan.
"A-apa yang-"
"Tutup mulut mu Sakura, Kita akan pulang dengan cepat" Aku menyeringai saat merasakan lengan Sakura mulai melingkar di sekitar leher ku.
"Akh" Sakura mengerang tertahan saat ku merapatkan gendongan ku disekitar bahunya. Sangat pelan. Tapi bisa kudengar. Sepertinya punggung nya juga terbentur sesuatu.
End Sasuke pov.
Sasuke membuka pintu apartement dengan kaki nya, sehingga menimbulkan bunyi bedebum halus saat pintu itu tertutup.
Sasuke membaringkan Sakura di sofa depan tv dan segera bergegas mengambil kotak P3K-nya yang berada di kamar. Sakura mendongak ketika melihat Sasuke duduk lagi di samping nya dan mengeluarkan kapas.
"Apa yang kau- Oh ya, aku lupa. Kau seorang dokter" Sakura tersenyum lemah sambil menatap Sasuke yang masih berkutat dengan alat-alat nya.
Sakura hampir menahan nafas ketika Sasuke meraih dagu nya. Dia kira Sasuke akan mencium nya,
"Aww" Sakura mengaduh saat ternyata, Sasuke menekan pipinya yang lebam.
"Maaf, Kau di tampar?" Sasuke mengusap pipi Sakura yang lebam dengan ibu jarinya dengan lembut.
Sakura tak bisa mengalihkan pandangan nya dari iris sehitam jelaga itu.
Sakura hanya bisa mengangguk sekali. Sasuke meraih salep yang berada di dalam kotak nya dan mengoleskan nya secara perlahan pada lebam itu.
"Shhh" Sakura meringis tertahan.
"Apakah ini sakit?" Sasuke menatap mata emerald itu dengan pandangan khawatir. Sakura mengangguk "Sangat"
Cup.
Mata Sakura terbelak kaget ketika dengan tiba-tiba Sasuke mengecup lebam nya itu dengan lembut.
Sasuke tersenyum. "Itu akan sembuh lebih cepat" pandangan nya sekilas menuju bibir Sakura yang sedikit terbuka.
Sasuke meraih tangan Sakura dan memeriksa luka bekas cakaran di sepanjang lengan nya. Sasuke mengusapkan antiseptik pada luka cakaran itu . "Apa ini sakit?" Sasuke bertanya lagi pada Sakura, gadis itu mengangguk pelan-tak bisa menyembunyikan rona di wajahnya.
Sasuke pun mencium sepanjang bekas cakaran yang berada di lengan Sakura. Sakura menggigit bibir nya agar tak menimbulkan suara aneh.
Sasuke pun berjongkok di depan kaki Sakura dan meletakan kaki sebelah kanan nya yang terkilir di atas pangkuan nya.
"Tahan sebentar, ini akan sedikit nyeri" Sasuke mengurut betis Sakura, berusaha meluruskan urat-urat nya yang berantakan.
"Akhh" Sakura mengaduh kesakitan. Untung nya, Sasuke segera menyelesaikan pekerjaan nya dan segera mengusapkan salep di sepanjang betis Sakura.
Ketika Sasuke ingin mencium betis Sakura, Tiba-tiba Sakura sedikit tersentak "Paman, tidak perlu-"
"Kau mau cepat sembuh, tidak?" Sasuke memotong perkataan Sakura dengan intonasi datar. Sehingga, Sakura langsung membungkam mulut nya.
Sasuke menciumi betis Sakura dengan lembut sampai batas lutut. Sasuke memainkan lidah nya di tempat yang sakit.
"Ahh-hap" Sakura mengeluarkan suara aneh dan segera menutup mulut nya itu dengan punggung tangan nya. Suara apa itu tadi?
Tanpa Sakura ketahui, Sasuke menyeringai dalam ciuman nya.
"Buka baju mu" Sasuke mentitah Sakura. Sakura langsung menunjukan raut kebingungan.
Sasuke menghembuskan nafas nya lelah, lalu mendudukan dirinya disamping Sakura lagi. "Aku tau punggung mu sakit Sakura. Biarkan aku memeriksa nya, aku janji akan menahan diri" Sasuke berkata sambil menahan senyuman nakal nya. Sakura merengut dan memukul paha Sasuke pelan.
Dengan perlahan, Sakura membuka kancing seragam nya satu persatu. Sasuke berusaha tak memperhatikan ke arah pemandangan yang menggiurkan itu.
Sakura hanya mengenakan bra hitam dibalik seragam nya. Bagus. Sasuke harus menahan nafsu nya ketika sebagian payudara Sakura menyembul dari balik bra nya.
Sakura berhasil melepaskan seragam nya, dan langsung meletakan seragam itu di bahu sofa.
Dan dia pun berbalik memunggungi Sasuke.
Sasuke membulatkan matanya terkejut. Ada sebuah lebam kebiruan yang cukup besar terpampang di punggung sebelah kanan Sakura. Sasuke meraba luka itu dengan telapak tangan nya perlahan.
"Shh.. paman.. Sakit" Sakura mengaduh kesakitan.
Sasuke mengambil kompresan dan meletakan kompres itu sesaat di atas lebam nya. "Apakah ini sakit?" Sasuke bertanya lagi. Sebenarnya dia hanya ingin tau apakah Sakura masih memperbolehkan untuk mencium nya atau tidak.
Tanpa di duga, Sakura menganggukan kepalanya singkat.
Sasuke menyeringai dan mengarahkan bibirnya ke arah luka lebam itu dengan perlahan.
Sakura merasakan desiran aneh ketika bibir Sasuke mengecup lembut punggung nya yang terasa sakit itu. Namun, kecupan Sasuke ternyata lebih lebar dari lebam yang terpampang di punggung Sakura. Sasuke mengecup area perpotongan leher Sakura dengan menjilat nya dengan sensual.
"Ahhhnn" Sakura tak bisa menahan desahan nya lagi. Sasuke menyeringai dan semakin gencar menjilati dan mulai menghisap leher Sakura.
Sakura memejamkan matanya saat Sasuke mengigit tali bra nya dengan sensual. Astaga. Dia bisa lepas kendali jika Sasuke terus menggoda nya seperti ini.
Sasuke mengangkat kepalanya ketika dirasa sudah cukup. Jika terlalu lama, mungkin dia tak akan bisa menahan dirinya lagi.
"Jangan berbalik dulu" Sasuke menahan bahu Sakura saat dia ingin berbalik. Sasuke mengambil gunting dan merapihkan rambut Sakura yang masih terpotong tak teratur.
Sakura menunduk sambil menetralisir rasa gugup nya tadi. Tangan cekatan Sasuke segera memotong sisa-sisa rambut yang berantakan dan menata nya menjadi model sebahu.
Sasuke memberikan Sakura layar smartphone nya yang gelap sehingga Sakura bisa berkaca disitu.
"Bagaimana? Aku memang tak begitu mahir memotong rambut, tapi.. menurut ku lebih baik dibanding yang tadi" Sasuke masih merapihkan beberapa helai rambut lagi sembari menunggu jawaban dari Sakura yang masih sibuk memandangi dirinya di layar Samrtphone itu.
"Aku.. Suka" Sakura tersenyum sambil menyelipkan rambut nya ke belakang telinga.
"Tapi.." Sakura berkata dengan nada sendu membuat Sasuke menghentikan kegiatan nya sebentar dan memandang wajah Sakura dari samping.
"Ada apa?" Sakura menggeleng "Aku hanya.. entahlah, Momma bilang seorang pria lebih tertarik dengan wanita yang berambut panjang" Sasuke tercengang mendengar penuturan Sakura.
Lalu dengan lembut membalikan tubuh Sakura sehingga kini mereka saling berhadapan.
"Momma mu mengatakan hal itu agar kau terlihat anggun, mungkin dia ingin kau seperti dirinya. Tapi, dengan rambut pendek pun kau masih terlihat cantik. Lihat? Potongan rambut mu menyerupai penyanyi idola mu, Taylor Swift"
Sasuke mengusap pipi Sakura sambil terkekeh. Sakura pun ikut tertawa bersama Sasuke sambil memukul main-main dada paman nya itu.
"Kau tau taylor Swift?" Sakura tersenyum sambil mengulum bibir nya.
Sasuke mengangkat bahu nya "Aku pernah melihat play-list mu saat kau tertidur. Isi nya hampir Taylor swift semua. Aku pun penasaran dan ternyata... lagu nya enak untuk di dengar" Sasuke mengusap rambut Sakura dengan lembut.
"Sakura?" Sasuke memanggil Sasuke dengan lembut, Sakura mendongkak untuk melihat ke arah mata hitam itu dengan cepat.
"Ya?"
Sasuke menatap nya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
"Aku juga tertarik dengan mu"
Dan Sakura bersumpah, ribuan kupu-kupu seakan memenuhi rongga dada nya yang membuncah.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Sndp, echaNM, Uchiha Javaraz, hanazono Yuri, dewiehyeokjaehw, alexachung, Tia TakoyakiUchiha, nona Mesha new.
Terimakasih atas Review nyaa yang membuat aku merasa bahagiaa sekalii
Maafkan bila ada Typo atau salah penulisan di cerita ini.
.
See yaa next chapter~
.
.KendallSwiftie.
