A/n : Akhirnya niat juga ngelanjutinnya. Fuuh, walau nggak bisa nge-publish kelanjutannya di akhir Mei, tapi setidaknya Author kan masih niat ngelanjutinnya. Bagi kalian yang udah marah-marah gak jelas, udah deh, ngapain marah-marah, mending ini, main *slap.* Selama 'Pak Editor' tidak marah-marah mulu, dia pasti masih trauma karena kerjaan Author cuma main mulu. Anyway, okay, just enjoy those ficts!

My Jewel My Soul

Chapter IV. My Equanimity

(Bahkan Author lupa mau nulis apa aja)

Begitu mengetahui keadaan Yuutsu yang (terduga) merupakan 'Fujiwara Miki,' jadi tak aneh mengapa segel Emerald waktu itu ada dua. Tapi aku masih belum yakin, karena ini kan cuma hipotesa.

Selama ini, saat ini, sebenarnya aku sudah dalam masa pencarian segel berikutnya, namun lebih sulit dari yan kudapatkan kemarin. Kemarin hanya jalan saja sudah bisa menemukannya, dan mungkin untuk yang satu ini bisa saja di atas langit atau di bawah tanah, atau perkiraan yang paling ekstrim, bisa saja ada di perut bumi atau di rak buku Kiel.

Semua berjalan normal, seolah tidak terjadi apa-apa, namun beberapa orang masih ada yang khawatir jika ada 'gempa susulan.'

Sebagai kepala dari semua ini, aku hanya bisa berkata, "Tenanglah, sebentar lagi juga tidak akan ada lagi hal seperti itu." Namun, itu kan cuma pikiranku saja.

Kelelahan di tengah hal ini, aku ingin mencoba rileks dan pergi ke manapun untuk menenangkan diri.

Di depan Obsidian Mansion, aku terhenti.

"Hmmph... Kenapa aku terpikir untuk datang ke sini, ya..." Gumamku.

"Hoi." Sapa seseorang dari belakang.

"Oh." Jawabku lesu. "Dylas? Ada apa?"

"Nggak, cuma nyapa." Jawab Dylas sambil merenggangkan badannya- yang terlihat seperti habis ditunggangi. "Barang kali kamu waras."

"Hah?!" Baru tahu kuda bisa-bisanya ngomong kayak gini. "Waras... Gimana sih?!"

"Bercanda." Kata Dylas cengengesan. "Ada hal yang ingin kuberitahu kepadamu."

"Oh." Jawabku singkat. "Apaan?"

"Ayo ikut."

Dengan lagak anak yang habis ditawari narkoba oleh bapak-bapak (bedanya, ini sama bapak kuda), aku dan Dylas pergi ke tempat yang dituju. Ada sebuah lembaran unik di situ.

"Apa itu?" Tanyaku setibanya.

"Aku juga nggak tahu. Ada simbol-simbol aneh dan tak bisa kumengerti."Jelas Dylas.

"Hmmm.." Gumamku sambil melihat isi dari lembaran itu.

Isinya cuma gambar, namun di dalam ini terdapat satu hal yang kumengerti. Ini adalah peta pelacakan segel-segel yang akan kucari dan kuhancurkan nantinya. Dilihat-lihat, posisi dari semua segel itu seperti mengukir suatu simbol. Hanya saja di sini cuma terdapat sampai segel aquamarine, untuk sisanya tidak ada.

"Huh?!" Kataku tak percaya.

"Ada apa, Rach? Menemukan sesuatu?" Tanya Dylas dengan mata masih melihat lembaran tersebut.

"Nggak..." Kataku lebih baik tidak usah menceritakannya kepada si kuda renggong ini. "Cuma agak kaget."

"Terus..." Lanjutku. "Apa yang bakal kamu lakuin sama lembaran ini."

"Nggak ada." Jawab Dylas santai. "Aku nggak tau itu tujuannya apaan."

"Boleh aku yang simpan?"

"Tentu. Memangnya buat apa?"

"Barangkali aku menemukan jawabannya."

"Oh, ya sudah, aku tinggal duluan, ya."

"Iya, jangan lupa tapalnya, ya."

Lari dengan nista.

Selama perjalanan setidaknya aku memastikan keadaan lembaran itu aman, tidak ada seseorang yang melihatnya. Dan, perjalanan pulang penuh dengan suka cita, dan selamat sentosa.

Tapi aku hanya melihat lembaran itu saja. Tanpa ada hal yang lain.

Aku pun berusaha memikirkan dan menemukan arti dari lembaran barusan.

Memulai.. Memeriksa... Menyusun hipotesis... Memikirkannya lebih jauh...

Gagal.

Dan sekarang aku sadar, aku butuh bantuan. Setidaknya, pergi ke rumah... ehm (Author seriusan males kalau harus ngucapin nama orang itu). Di sana, setidaknya keadaan rumah masih damai, tanpa siapapun kecuali tuan rumahnya. Mengetuk pintu...

"Paket..." Kataku cengengesan. Tidak ada jawaban.

"Paket..." Kataku lagi. Terdengar bunyi kertas.

"PERMISI."

"Ya? Oh, Racchi? Ada apa? Kok mendadak banget?" Kata Forte yang ngebukain pintu. Kok dia agak emot sih?

"Ini." Kataku, masih mode cengengesan. "Ada paket buat Kiel. Aku harus ketemu dengannya. Di ruangannya."

"Aduh, kok harus di ruangannya?"

"Aduh, kok tiba-tiba feminin, sih?"

Aku hampir digampar.

"Ya udah, masuk aja." Kata Forte mempersilahkan masuk.

"Oke, permisi."

"Masuk aja ke ruangannya, Mas."

"Aku masih muda, noona."

Dan aku cepat-cepat naik ke kamar nama orang yang aku males sebutin (sekarang malah jadi ilfil, serius).

"Hai Kiel." Sapaku (Lha, itu kenapa disebut?).

"Oh, Racchi." Katanya mengalihkan perhatiannya dari buku. "Ada apa?"

"Aku butuh bantuan, nih."

"Bantuan? Bantuan apa?" Katanya dengan logat seperti anak yang dongo.

"Jadi.." Aku pun menceritakan semuanya. Tidak, tidak semuanya. Tidak termasuk tentang persegelan jasad manusia.

"Oh..." Tanggap Kiel pendek. "Mana sini, biar aku lihat lembaran itu."

Aku memberikan selembar yang Dylas berikan tadi, dan Kiel hanya bisa membaca sambil merengut-rengut. Aku memakai kacamata putihku. Lha, bentar, kacamata Author mana?

"Hmmm... Ini tentang posisi persegelan yang kamu maksud tadi."

Oh... Dugaanku benar, berarti.

"Ini sih, kamu juga bisa baca, kali!" Lanjut Kiel murka.

Setelah mendapatkan sedikitnya 'penegasan,' aku jadi yakin, dan bisa baca (Jadi sebelumnya nggak?!)... Lembaran barusan.

Jadi, aku ingat, posisi berbentuk (kalau nggak salah) trapesium ini terletak di Yokmir Forest (berarti segel Amethyst), lalu membentang membuat suatu garis dengan yang berbentuk segitiga (dua biji) di dimensi Fujiwara Miki, Dunia Pengasingan (Ini berarti segel Emerald). Lalu yang terakhir di dimensi Selphia palsu dengan bentuk lingkaran di 'peta' (ini berarti segel Ruby). Dan satu lagi, ada, berbentuk segilima, dan terletak selintang dengan yang lingkaran, tapi untuk mengetahui posisinya... Perlu perhitungan. Mana dimensi gak cuma ini, lagi.

"Oh, kalau gitu, makasih ya Kiel, sampai jumpa lagi." Kataku mengakhiri hari.

"Iya, dah."

Dan aku meninggalkan rumah terlaknat ini.

Sesudah mengetahui, apa yang harus kupikirkan kali ini adalah, di mana tempat segel Aquamarine itu berada? Mungkin, itulah yang akan menghantuiku selama... Lama mungkin.

Paginya, aku bermaksud beranjak keluar, menyapa siapapun itu di luar, dan menghhirup udara segar, sesekali. Namun, apapun rencana pasti bisa saja berubah, contohnya, setelah merencanakan hal tersebut, malah ada aja masalah yang aneh. Namun, kali ini bukan masalah tentang Blaise mabuk lagi.

"Racchi?" Sapa seseorang ketika aku hendak ke luar rumah.

"Ah, eh, iya?" Kataku sambil menahan rasa untuk membuka pintu.

"Ini Dolce. Permisi."

"Oh, Dolce (Pasti di antara Readers yang sudah baca Fict-Fict Author sebelumnya, kalian berkata, 'Kenapa nggak pake sayang?'). Silahkan masuk."

Setelah dia duduk, aku bergegas pergi ke dapur untuk menyuguhinya sesuatu yang basic, hot milk juga cukup.

"Ada berita yang aneh seperti kemarin lagi." Katanya membuka percakapan.

"Maksudmu... Segel?"

"Iya. Ada lagi aja mulut-mulut lalat. Katanya berada di Dragon Lake di Sharance, tapi kudengar itu kurang mungkin."

"Mungkin saja." Kataku meletakkan cangkir di depan Dolce. "Semua segel tersebar di mana-mana. Bisa saja di Whale Island atau di rak buku Kiel."

"Haha." Katanya tertawa kecil. "Tapi aku juga belum memastikan, sih."

"Tapi setidaknya kamu memberikan informasi ke orang yang tepat." Kataku sambil duduk santai. "Ngomong-ngomong tentang Fujiwara Miki... Kau sudah tahu?"

"Belum. Ada apa dengannya?"

"Nnnngh... Nggak." Kataku nggak konsisten. Cowok macam apa itu. "Lebih baik kita memeriksa keadaan gosip itu segera."

Dan pergilah kami berdua menuju Dragon Lake~

Selama di perjalanan (Cailah, cuma ngelewatin portal doang!), kami berdua penuh suka cita (Ngek), tanpa ada keluhan satu pun. Bagaimana tidak, jaraknya hanya sepuluh kaki dari tempat kami ngobrol.

"Persisnya di mana kamu mendapatkan informasinya?" Tanyaku setibanya di Dragon Lake.

"Di dekat sana..." Katanya menunjuk ke arah Dragon Cave, masih tertutup. Oh, bisa jadi si domba alay itu belum dateng ke dunia ini. Gosip tentang Raccoon juga masih hangat.

"Dekat dengan air terjun kecil itu, ya..." Gumamku.

"Hoi!" Kata seseorang dari belakang. "Sedang cari apa?"

"Ah." Aku menengok ke belakang. "Carlos?"

"Racchi kah? Oh, lama tak jumpa, bro.." Katanya seperti aku adalah teman masa kecilnya dan aku dipisahkan pergi ke luar negeri. Dan Carlos kesepian selama aku di luar negeri.

"It's a while... What've do you been?"

"Who is her? Your girlfriend?" Kata Carlos malah nggak nyambung.

"Oh... Er... I could say 'Yes.'" Eh, malah Dolce yang malu.

"Hey, mine Carlos." Katanya memperkenalkan diri. Wajar aja si Carlos belum kenal, kan Dolce baru dateng pas dia kalah di Third Boss Battle.

"I'm Dolce." Katanya lembut. "Nice to meet you..."

Untuk mempersingkat cerita maha alay ini, jadi ceritanya sudah selesai perbincangan tentang perkenalan dan tujuanku ke sini. Tapi, terasa kurang afdol kalau aku belum menyapa semuanya. Kami berdua bisa aja ke si Kuruna, aku lagi form jadi Platinum Wolf, dan Dolce bisa mengembalikan wujudnya jadi Marionneta lagi.

"Oh, permata akuamarin yang besar? Apa itu?" Tunjuk Carlos setelah kujelaskan semuanya.

Aku melihat dengan nyata, kalau itu benar di sana. But how we break it?

Aku mendekatinya dengan lily pad, lalu memeriksa kalau ada jasad kaki di situ. Sepatu boots putih yang mirip denganku...

Ketika aku hendak menghancurkannya, tiba-tiba...

"Hentikan!"

"Wells?" Kataku begitu menengok ke belakang.

"Kalau kamu mau untuk tidak mengingatnya... Uhuk." Katanya batuk-batuk. "Jangan hancurkan segel itu!"

Ini seperti sebuah hal aneh, kenapa... ini dibilang mengembalikan ingatanku? Sedikit... kukira kaki ini memang familiar, dan hal itu adalah ingatanku? Tidak, ini perintah dari penguasa...

"Racchi." Kata Wells serius. "..." Kudengar dia menyanyikan... lagu yang akan aku tak mau dengar lagi.. itu... mengingatkanku...

"Hentikan. WEEEEELLLS!"

To Be Continued