A/n : Inilah project kedua 'niat melanjutkan Ficts' Author. Akhir-akhir ini tidak ada yang baik-baik saja, karena rencananya tanggal 7 Mei mau di-publish dan Fanfict imbisil ini dibuat tanggal 6 Mei. Kalian tahu betapa paniknya Author, apalagi kalau tiba-tiba ini lappy meleduk. Eh, never mind. Lupakanlah, Author sekarang lagi keseringan meracau. Tak mau kalian membuat merasa menunggu, sekarang hentikan saja pembicaraan imbisil ini.
My Jewel My Soul
Chapter V. Benevolence
"Racchi, jangan hancurkan segelnya!" Kata seseorang tiba-tiba dari kejauhan.
Hampir aku menebasnya, dan ketika suara mengerikan itu muncul, aku hentikan pergerakanku.
"Micah?! Bukankah..."
"Jangan... Pernah..."
"Kenapa memangnya?!" Kataku memotong perkataannya, sambil membentak pula.
"Akan terjadi gempa, dan juga, karena berada di atas air, akan terjadi juga tsunami!"
"Oh, ayolah! Aku tahu segalanya, hal itu tak akan terjadi ketika aku menghancurkannya!"
"Tapi-"
"Jangan merengek!" Kataku muak. "Kamu nggak tahu apa-apa, Micah!"
"Tapi Racchi... Z-"
PRANG!
Segel itu hancur, tapi hal yang berikutnya terjadi, adalah, suara bising terdengar menyakitkan. Dan sepatu boots di kaki itu... Membuat perasaanku makin tak nyaman. Entah kenapa, suara echo kayak begini membuatku makin mengingat... Siapa pemilik sepatu ini sebenarnya... Dan itu kenyataan tragedi masa laluku!
"Kamu tak apa, Racchi?!" Kata Carlos refleks.
"Uh..." Kataku duduk berlutut sambil menutup telingaku. "Sakit.. Telingaku.."
"Apa kubilang." Kata Wells. "Ingatan itu akan segera kembali."
"Apa dia pernah punya amnesia?" Tanya Micah- yang sebetulnya benar-benar nggak nyambung.
"Tidak. Hanya karena dia pernah punya tragedi masa lalunya, dan karena sangat kuat untuk menguasai pikirannya, dia dihilangkan ingatannya oleh seseorang." Jelas Wells.
"Bagaimana... Kau bisa mengetahuinya..?" Tanyaku.
"Itu hanya pemikiranku." Kata Wells, yang pasti sebenarnya itu adalah sebuah kenyataan.
"Kita antar saja Racchi dan Dolce pergi kembali ke Selphia." Ujar Carlos.
Setelah pergi dari Sharance menuju Selphia, aku... Aku tak tahu harus apa... Tapi aku dibawa menuju klinik.
"Tidurlah Racchi." Kata Jones sambil menyelimutiku.
"Terima kasih."
"Tak apa."
"Kamu masih belum tidur, Racch?" Kata Dolce tiba-tiba masuk.
"Hey, dia masih perlu tidur, Dolce."
"Aku hanya ingin bicara dengannya."
"Tak apa." Kataku. "Umm... Kenapa kamu terlihat begitu sedih?"
Jones berjalan keluar kamar.
Positive. I must positive thinking.
"Aku..." Katanya lesu. "Tadi, ketika kau sudah menghancurkan segel itu..."
"Kenapa?"
"Aku merasa aku tidak bisa menolongmu ketika kau kesakitan..."
"..." Belum tahu harus ngomong apa. Lalu aku tersenyum dan berkata, "Setidaknya kau ada di sisiku ketika aku mengalami hal itu... Dolce. Bukan orang lain tapi kamu."
Tampaknya omonganku ini berhasil membuatnya tenang kembali.
"Terima kasih." Katanya. "Kamu masih mempercayai diriku."
"Tak apa."
Di luar ruangan, aku nggak menyangka kalau Jones dan Nancy sedikitnya menguping.
"Dolce anak yang baik." Ujar Nancy.
"Ya..." Kata Jones. "Dia anak yang paling beruntung bisa berdampingan dengan Racchi."
"Bagaimana dengan Pico nanti?" Tanya Nancy.
"Ah... Melihatnya di akhir-akhir chapter ini pun masih belum terlihat."
"Apa yang dia lakukan?"
"Entahlah..." Kata Jones sambil menghela nafas.
Tentunya, Racchi masih belum tahu kalau selama ini Pico menghilang. Gila, posisi Pico sudah digantikan oleh Racchi. Ini pelanggaran! Ini bisa dibilang penghinaan terhadap anak!
Masih bersedia untuk mencari segel berikutnya, aku membuka lembaran persegelan itu, dan aku memberitahukannya kepada Dolce.
"Jika di sini Dragon Lake." Katanya, memperhitungkan. "Lalu kira-kira segel sebelumnya membuat motif seperti ini..."
Aku masih membiarkan dia bicara.
"Maka... Segel berikutnya ada di... Selphia."
"Dimensi yang sama... Tapi kita tidak tahu persisnya di mana." Gumamku.
"Berarti dekat dengan posisi Yokmir Forest."
"Bisa saja berubah, kan."
"..." Dolce diam. "Maaf, Racchi, tapi... Apa kamu tidak akan merasa berat?"
"... Uh..."
"Ah.. Maaf. Jangan memaksakannya."
"Aku penasaran." Kataku. "Bagaimana kamu bisa terlihat 'melupakan semuanya?'"
"Hm... Aku tidak berusaha memikirkannya."
"Begitu, ya..."
Setelah selesai istirahat di klinik, lalu aku memutuskan pulang. Di perjalanan, aku bertemu Lest.
"Yo! Perfect timing." Sapanya.
"Hai Lest. Ada apa..?"
"Aku ingin bicara denganmu." Katanya. "Sekalian minum teh yuk."
"Maunya hot milk."
"Iya deh."
Lalu aku dan Lest pergi ke rumahnya, dan dia langsung mempersilahkanku untuk duduk dahulu. Anggaplah begitu.
"Jadi, informasi apa yang akan kau tarik dariku?" Kataku membuka pembicaraan. Anggaplah rumah Lest punya balkon, dan di sanalah kita ngobrol.
"Huh? Kali ini aku tak minta informasi."
"Jadi, kamu butuh apa?"
"Aku hanya ingin memberi tahumu..." Kata Lest meletakkan gula batu di depanku. "Tentang sastra terkenal berjudul 'Twins Overact.'" (Dalam pikiran kalian, 'sastra apaan tuh?!')
Itu...
"...Argh..." Kataku memegang kepalaku.
"Kau tak kenapa?" Kata Lest. Ada hening yang cukup lama. "Benar dugaanku. Kau tahu sesuatu tentang itu, ya?"
"Lest... Kalau kamu mau membahas sesuatu yang berkaitan dengan ingatanku, tolong jangan denganku."
"Hooo... Memangnya ada apa dengan karya sastra itu?"
"Bukankah kamu tak meminta informasi apapun dariku?"
Hening.
"Ehm... Begini Racchi." Kata Lest. "Aku menemukan segel berikutnya, dan di sana ada banyak lembaran kertas masing-masing dari sastra itu."
"Segel... berwarna merah muda Sapphire?"
"Iya.." Katanya lemas. "Dan aku menuntutmu untuk memberikan informasi berkaitan dengan hal itu."
"..." Masih belum tahu harus ngapain.
"Jadi rendah hati, Racchi. Kalau itu suatu aib, aku tak akan menyebarkannya."
"Itu... Ah! Sebentar!" Kataku refleks, baru sadar suatu hal, "Kenapa di dekat segel itu banyak lembaran kertas sastra itu?!"
"Aku juga tidak tahu..."
Penguasa, apa aku gagal... Apa aku mengembalikan kesadaran kalian..? Ada yang tidak beres, jadi segel sebelum-sebelumnya juga... Itu... Ah, cukuplah!
"Apa kamu tahu sesuatu tentang... tragedi World is Leaving?"
"Siapa yang tidak tahu hal itu." Katanya. Membuatku kaget. "Itu pembunuhan termenyedihkan yang seluruh manusialah korbannya."
"Apa kamu tahu tentang pembunuhnya, atau yang bertahan hidupnya?"
"Tidak. Tidak tahu persisnya."
"Antar aku menuju tempat segel itu berada!"
Aku dan Lest (ya, dulu Racchi sama Dolce) pergi ke tempat segel itu berada, dan memang segel itu banyak lembaran kertas yang merupakan fragmen dari sastra itu.
"Obsidian Mansion... Kenapa harus di sini?!" Kataku sedikit sewot.
"Jadi kamu belum tahu makna merah muda Sapphire?"
"Hmmmh..." Kataku cuma menghela nafas.
Aku perhatikan sekitar, segelnya tidak mau menerima kontak, dan aku tidak bisa menyentuhnya. Apa perlu suatu kode di sini?
Aku memerhatikan suatu lembaran di salah satu meja, dan membaca semuanya sampai habis. Suatu kalimat membuatku HAMPIR mengingat SEMUANYA (Readers: Woles Caps Lock -nya!). Dan bacanya, "When that twin is separated, the black one will have a bad dream because the white one going to made his nightmare. And all people is the plan of the white." Bukankah itu adalah... Awal dari tragedi World is Leaving?
"Uh..." Sudahlah, pikiranku makin tidak karuan di sini.
Tiba-tiba terdengar suatu suara yang mengerikan. Dari arah segel itu!
"Racchi.." Kata Lest. "Segel itu..."
Aku menengok ke arah segel itu.
...Kepala..?!
Sudahlah, aku sudah banyak menemukan jasad mutilasi, tapi ini... Kepala?!
Aku merasa sedikit mual melihat segel itu, dan aku tak tahu apa aku akan menghancurkan segel itu.
"Jadi inilah yang kau maksud... Merah muda Sapphire?" Kataku.
"Ya nggak lah!" Kata Lest sewot. "Kalau kayak gini harusnya merah darah!"
"Tapi sedikitnya kuatkan dirimu... Hancurkan saja segel itu." Lanjut Lest.
Sambil menutup mulutku, aku menebas segelnya. Tapi telat, aku menyadari kepala siapa sebenarnya yang berada di segel itu.
PRANG!
(Dolce's POV)
Huh?! Kenapa ini... Ada segel lagi yang dihancurkan?! Tapi dimana?!
"Ada apa ini..." Gumam Jones.
"Anu.. Dari mana suara ini berasal kira-kira?" Tanyaku. Panik.
"Entahlah..."
Aku beranjak keluar, dan menemukan aura-aura kesetanan dari arah Obsidian Mansion. Tapi ini aura yang berbeda dari yang sebelumnya... Apa yang sebenarnya terjadi?
Setelah lari tunggang langgang menuju tempat segel itu berada, aku menemukan banyak sekali bercak darah. Dan segel yang sudah hancur, juga Lest yang duduk dekat dengan Racchi yang sedang terlihat memeluk sesuatu.
Kenapa mereka penuh dengan darah?!
"Racchi!" Teriakku.
"Dolce..." Katanya lesu... "Tadi ada kepala seseorang di dalam segel itu... Dan ketika aku hancurkan... Darah menyembur..."
"Lalu mana kepala itu?!"
"Menghilang..."
"... Aneh..."
Tepat sebelum kami hendak keluar, tiba-tiba kami merasa baru sadar, kalau dari tadi kepala itu tetap berada di situ. Racchi mengambilnya pertama... Lalu...
"... Huh... Uh... AAAAAAAAARRRRGGGGGGHHHHHHHHHH!"
"Kenapa?!" Tanya Lest refleks.
"Dolce... Lest..." Kata Racchi sambil menenangkan dirinya, mengingat dia tersembur darah. "Aku ingat semuanya..."
Lalu... Entah kenapa, Racchi agak bertindak sedikit aneh, dan hendak menyerangku.
"Itu... mempengaruhinya..." Gumam Lest. "Cepat lari!"
Dan aku lari tunggang langgang untuk kedua kalinya.
Namun... Dia pingsan begitu saja.
"Apa yang harus kita lakukan?!" Kataku sedikit panik.
"Bawa dia ke Ventuswill." Kata Lest serius. "Kita semua sama sekali tidak berkeinginan dia mengingat semuanya."
"Memang seburuk itu kah ingatannya?!"
"..." Lest masih diam. "Ya... Dan juga, aku berpendapat dia masih memiliki kaitan dengan tragedi World is Leaving..."
"Mustahil..." Gumamku.
Bagaimana pun... Dia...
Tetap menjadi orang yang paling kucintai...
(Instution's POV)
"Gawat..." Kataku panik.
"Ada apa, penguasa?" Kata Zero yang asik duduk bersebelahan dengan Yuutsu-chan.
"Ada kemungkinan peristiwa yang merenggut kita semua akan terjadi!"
"Maksudmu?" Tanya Zone.
"Kalau Racchi kembali ke sini... Maka..."
"Itu berarti akan ada orang lain?!" Kata Yuutsu super kaget.
"Dan bukan cuma itu..." Kataku menghadap ke arah jendela. "Kalau Racchi menghilang... (Jawaban yang jelas: Tidak akan ada lagi Fanfict, tapi tenang, ini bukan Closing Fict-ku, kok)"
"Aku mengerti." Kata Rean. "Kita harus lenyapkan si Kembar. Dua-duanya!"
To Be Continued
"Just show me blaze your mind
Only you destroy our world
Just show me blaze your brave
Make alter our memories..."
