A/n : Project ketiga dari 'keniatan ngelanjutin Fanfict.' Masih ada satu lagi janji Author, dan kalian harus tetap setia membaca 'basa-basi' ini dulu. Aslinya nggak loh, chapter ini bisa dibilang ujungnya, dan inilah judgement of fate. Karena muka kalian memasang muka curious, ya udah deh Author persilahkan aja untuk membaca, dan jika pagi ini baru dipublish 6 chapter, maka 1 chapter lagi agak sore. Tapi kayaknya mau dilangsungin aja deh.

My Jewel My Soul

Chapter VI. The Twin Purity Soul

(Changed to Dolce's POV)

"Apa yang kamu lakukan kepadanya?" Tanya Lest setibanya di tempat Ventuswill.

"Menghapus ingatannya." Kata Ventuswill.

"Apa? T-tapi-"

"Tidak, hanya bagian tentang orang yang terlalu memengaruhi dirinya."

"Oh..." Kataku lega. "Memang... Ada apa hubungannya dia dengan orang itu?"

"Mana aku tahu. Tapi, kalian harus tetap membiarkannya mencari segel dan menghancurkannya, supaya hal ini menjadi lebih jelas dan cepat selesai."

"Baiklah..." Kata Lest. "Kami akan mengurus Racchi."

Setelah itu, kami membawa Racchi ke rumahnya, dan meninggalkannya karena kupikir dia masih perlu istirahat. Aku juga masih khawatir apa yang akan terjadi berikutnya, dan juga... Tentang...

Apa yang akan menimpa kami semua...

(Instution's POV)

"Apa, Rean?!" Bentakku.

"Aku harus memusnahkan kedua orang itu. Cuma begitu caranya!"

"Tidak, kau tidak akan kuizinkan!" Bentakku lagi. "Hal itu tidak akan mengubah segalanya."

"Kecuali kalau Racchi... Mau meninggalkan... orang itu..." Lanjutku.

"Memang, sesulit itukah meninggalkan orang itu? Kan orang itu berpengaruh banyak keburukan bagi Racchi?" Ungkap Zero.

"Kamu tak tahu apa-apa." Kataku kesal. "Lagipula, untuk segel berikutnya segel milikku. Kalau hal ini tak beres... Aku bisa campur tangan sama dunia nyata. Tapi kalau orang itu muncul-"

"Interupsi, penguasa." Kata Zone memotong perkataanku. "Anda akan mati."

(Back to Racchi's POV)

Uh...

Apa... Di mana ini...

Rumahku... Apa yang terjadi..? Seperti ada yang mengganjal di pikiranku...

Oh ya... Aku kan... punya tugas untuk menghancurkan segel...

Itu saja?

Tidak... Aku merasa seperti ada yang hampa. Tapi, daripada memikirkan hal itu, aku lebih memilih untuk berjalan keluar, seperti biasa. Daripada memikirkan sesuatu yang nggak pasti.

Di jalan aku bertemu Lest.

"Hai Lest." Sapaku duluan.

"Oh..." Katanya agak gugup. "Hai.. juga."

"Kenapa... Lest? Kok kamu agak beda, sih?"

"Beda? Ngh... Nggak kok. Aku nggak beda." Kata Lest. "Entahlah..."

"Hm... Ada masalah?" Tanyaku.

"T-tidak.." Katanya, gugup lagi.

"Ayolah Lest." Kataku menyemangati. "Kamu terlihat berbeda hari ini."

"Hanya saja... Aku..."

Tentu saja aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadaku, dan apa yang Lest saksikan ketika hal itu menimpaku. Ada apa, sih?

"Kau... Menyembunyikan sesuatu?"

"!?" Lest malah terlihat bingung. Makin bingung juga aku. "Ng-nggak kok. Nggak ada yang aku sembunyikan."

"Kamu aneh deh..." Gumamku. "Aku pergi duluan, ya."

"Fuuuh... Ya, daaah." Katanya. "..."

Aku berhenti melangkah. Lest agak terguncang.

"Kamu ngomong sesuatu?" Tanyaku.

"Tidak... Bukan apa-apa."

Nggak jelas, aku meninggalkannya duluan.

"Fuuuuh..." Kata Lest sekali lagi. "Tadi itu hampir..."

(Instution's POV)

"Bagaimana perkembangannya sekarang?" Tanya Zero formal, nggak biasanya.

"Tampaknya dia belum mau mencari tahu." Jawabku. "Aku harus bertindak cepat untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan batu segel itu."

"Kenapa tidak memberinya sinyal saja?" Usul Zone.

"Ya itu, tadi aku memikirkannya!" Gerutuku. "Baiklah, biar aku membuat kontak suara dengan Racchi."

Lima detik... Sepuluh detik... Lima nada sambung... Akhirnya dijawab.

"Penguasa? Ada apa?" Jawabnya, dia terlihat berbicara sendiri.

"Racchi, cepatlah temukan segel berikutnya! Aku ingin tahu apa yang sebenarnya-"

"Mohon maaf penguasa, anda sebenarnya jangan menggunakan kata 'sebenarnya.' Itu akan membingungkannya." Kata Zero memotong perkataanku.

"Penguasa? Apa itu suara Zero?"

"Uh... bukan! Itu perasaanmu kali...Yang terlalu kangen... Udah ya, sekarang cepatlah kamu cari tahu tentang segel berikutnya!" Lalu aku memutuskan kontak dengan Racchi.

"..." Gumam Racchi di sana, "Aku bahkan gak tahu petunjuk dan detailnya."

"Fuuuh..." Kataku, entah mengapa merasa lega.

"Anu.. Apa anda sudah memberi tahu kepadanya.. Tentang posisi segel diamond?" Kata Yuutsu.

"Ah... Belum."

"Racchi pasti tidak akan ingat lembaran itu." Katanya lagi. "Kita harus mencarinya sendiri dan membuat kontak dengannya lagi."

"Kenapa begitu? Racchi kan bisa mencari sendiri." Kata Zone.

"Segel ini sedikit berbeda." Kataku yang akhirnya sadar. "Kitalah yang mencari dan menentukannya."

"Akhirnya anda sadar." Kata Yuutsu pelan.

"Jadi, mari kita selesaikan urusan ini." Kataku dan langsung menuju 'Meja Belajar.'

"Kita sudah mengetahui posisi segel-segel sebelumnya." Kata Zone. "Jadi setidaknya sedikit mudah, kan?"

"Iya." Kataku. "Ini disebarkan mengukir suatu simbol.

"Simbol seperti apa?" Tanya Zone.

"Aku tak bisa jelaskan." Kataku. "Kalau begitu kita mulai solve this puzzle!"

"Biar anda saja yang memulai." Kata Rean.

"Berikan lembaran itu." Kataku memulai percakapan. "Jika semua segel ini, terlihat jelas membentuk segilima beraturan..."

"Segel berikutnya juga sangat mudah ditemukan? Ya, kan?" Kata Zero.

"Betul. Dan itu.. Di sini..." Kataku meletakkan butiran permata di atas lembaran itu.

"Terlihat seperti segel itu adalah tengah dari semuanya." Gumam Yuutsu.

"Tapi kalau persisnya... Segel itu berada di.." Kataku membuat lembaran itu diperjelas.

...Rune Prana?!

"Rune Prana..." Gumamku.

Semua bergidik.

"Hmmm..." Gumamku lagi. "Menurutku tak aneh jika segel itu berada di Rune Prana."

"Kenapa begitu?" Tanya Yuutsu.

"Rune Prana adalah awal dan akhir kisah menyedihkan ini." Kataku lagi.

"Tapi... aku tak pernah berpikir segel itu ada di Rune Prana... Paling atas pula."

"Benar." Kataku dan berdiri, melangkah menuju jendela. "Kemungkinan akan ada hal besar terjadi. Dan sekarang..."

"Itu..." Kata Yuutsu. "Ah..."

"... Aku gak mau mengatakannya. Memikirkan saja membuatku tersakiti."

"Argh..." Gerutu Yuutsu.

"Kau juga menyadarinya, Fujiwara-chan?" Tanyaku.

"I... Iya.."

"Ada apa? Kenapa hanya anda dan dia saja yang menyadarinya? Menyadari tentang apa?!" Bentak Rean.

"Calm down Rean.." Kataku menetralkan suasana. "Akan ada hal besar terjadi. Dan sekarang keberadaan kita terancam. Itu karena pengaruh segel yang kuat, dan juga, ingatan Racchi tentunya."

"Kamu mengerti?" Lanjutku lagi. "Keberadaan segel itu, dan 'orang itu' adalah ancaman yang serius bagi kita."

"Lalu... Bagaimana kita menanganinya..." Kata Yuutsu, ketakutan.

"Dengan cara apa coba..." Kataku makin pusing dengan pertanyaan menyakitkan ini. "Cuma Racchi yang akan menangani hal itu. Kalau Racchi bisa handle semuanya, kita aman."

"Kenapa begitu?!" Kata Rean. Sudahlah, Author sudah kebanyakan nuang Spoiler.

"Tragedi World is Leaving... Ketika Racchi hampir terbunuh... Kesadarannya terbagi-bagi menjadi kita semua." Jelasku.

"Kalau begitu..." Kata Yuutsu. "Selama ini... Racchi."

"Ya." Kataku memotong perkataannya. "Jika dia dan si kembaran itu kembali dengan jiwa yang sudah hancur, dia akan mengambil kita menjadi kesadarannya lagi."

"Maka kesimpulannya..."

"Jika Racchi gagal dan mati beserta si kembar itu..." Kataku menahan rasa khawatir. "...Kita akan lenyap."

(Dolce's POV)

Sudah malam...

Aku masih aja khawatir tentang apa yang akan terjadi sama Racchi...

Tapi... Kayaknya aku terlalu berlebihan, ya? Aku sebaiknya tidur...

"...ce... Dolce..."

Suara siapa itu?!

"Dolce? Kau Dolce, kan?"

"I-iya.. Ini siapa..?"

"Maaf, aku tidak bisa dilihat olehmu karena aku beda dimensi denganmu." Katanya. "Boleh aku mengganggumu sebentar?"

"Oh... Tentu saja."

"Bisa kamu menitip pesan kepada Racchi?"

"Huh?" Kataku bingung. "Pesan apa?"

"Tentang segel berikutnya. Beritahu dia kalau segel berikutnya ada di Rune Prana. Itu saja. Tetapi berhati-hati terhadap Guardian Boss yang berada di sana."

"Oh... Iya... Terima kasih."

"Ah, dan satu lagi."

"Apa itu?"

"Tolong.. Jangan mati."

Kali ini aku bingung. Ini siapa, sih? Suaranya empuk, seperti suara familiar yang pernah aku dengar, ah, ketika peristiwa pembunuhan besar itu ya?

"Kukira sudah saja. Tolong.. Hanya kamu yang dipercaya untuk menjaga Racchi..."

"Iya..."

Lalu tiba-tiba auranya menghilang, dan aku merebahkan diri.

...

(Next Morning, Racchi's POV)

"Racchi..?" Sapa seseorang dari balik pintu.

"Ya.. Dolce ya? Silahkan masuk."

Aku mempersilahkannya masuk.

"Tadi malam aku menerima pesan dari... Entah siapa."

"Pesan... apa?"

"Pesan untukmu katanya... Agak aneh sih, dia memberimu petunjuk posisi segel berikutnya."

"Lalu?"

"Dia menginformasikan, segel berikutnya ada di Rune Prana. Paling atas... Lalu satu lagi.."

Aku curiga kalau pesan ini dari penguasa.

"Jangan... Mati."

"..." Ada hening yang cukup lama. "Aku mengerti."

Lalu aku membuat kontak verbal dengan penguasa, hanya mengatakan, "Terima kasih atas segalanya."

"Nah, Dolce..." Kataku sambil berdiri. "Ayo hancurkan segel berikutnya."

Perjalanan menuju Rune Prana hampir sangat tidak menyenangkan, terutama ketika aku dikira jalan berdua.

"Hai Racchi." Sapa Lest, beda kayak kemarin. Lalu disusul dengan sapaan Frey.

"Hai Lest, Frey."

"Pagi Frey, Lest." Sapa Dolce.

"Lagi ngapain~" Tanya Frey curiga.

"Ada segel." Kataku. Menurutku, si Lest langsung connect sih.

"Kalau gitu, biar kami ikut!" Kata Lest.

Akhirnya, malah kita berempat pergi ke tempat segel itu berada.

Di sana ada penjaga yang kukenal, dikenal dengan nama 'Fragmentfang,' mirip dengan Skelefang tapi ini terbentuk dari potongan tulang. Beda, kok.

"Apa ini tak apa, Dolce?" Bisik Lest.

"Tak apa." Kata Dolce. "Aku mendapat perintah untuk disampaikan kepadanya."

Di sana, melawan Fragmentfang bukanlah hal yang menyenangkan, karena selain physical-nya yang kuat, juga kekuatan kegelapan dengan mengendalikan pikiran. Setelah hampir kehabisan harapan, Fragmentfang itu... Nggak rusak juga.

Aku langsung menghadap segel itu. Kali ini lebih parah. Ada jasad manusia di dalamnya. Kali ini, karena segelnya diamondΒΈ aku bisa mengenali siapa ini... Dan itu...

PRANG!

Aku... Terkena pecahannya... Terduduk... Dan berdarah-darah...

Tampaknya Fragmentfang yang menghancurkan segelnya... Dan dia benar-benar membuatku hancur karena aku harus... Bertemu lagi dengan dia... Twin...

To Be Continued