Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto
New Romantics
Rain came pouring down when I was drowning
That's when I could finally breathe
And that morning, gone was any trace of you, I think I am finally clean
.Taylor Swift - Clean.
.
.
5
.
.
Sasuke pov.
Aku pastikan pagi ini adalah pagi terindah dalam 29 tahun usiaku. Pagi ini, aku terbangun bukan karena silaunya sinar matahari atau deringan alarm yang menggila.
Pagi ini, aku terbangun karena rambut Sakura yang menggelitik hidungku dan nafas hangatnya yang menerpa leherku.
Sakura berada dalam dekapanku sekarang. Ini...Luar biasa. Perasaan yang sangat menakjubkan, walau kami belum sampai ke tahap 'lanjutan', tapi dengan begini saja aku sudah merasa sangat senang.
Satu minggu belakangan ini kami selalu menghabiskan malam dengan berciuman-tak lebih dari itu- dan tubuh sakura yang selalu ku dekap ketika tertidur.
Aku melirik ke arah malaikat yang kuyakini telah dikirimkan Tuhan untuk ku. Dia masih terlelap dalam mimpinya. Dengan perlahan, ku geser tangan nya sehingga aku bisa keluar dari kukungan nya.
Kalendar di dapur membuat hati ku menghangat seketika.
Hari ini tanggal merah, itu berarti aku bisa menghabiskan waktu ku sepanjang hari berdua dengan Sakura.
Aku menyeringai sambil memasak pancake yang sengaja kubuat lebih banyak.
Ting Tong.
Sial, siapa yang menganggu pagi bahagiaku dengan suara bel itu?
Ting Tong.
Oh, Orang itu benar-benar tidak sabaran, dengan cekatan aku segera mematikan kompor dan mencuci tanganku.
Ting Tong.
Ting Tong.
Astaga! Aku bertaruh dia bukan manusia pecinta perdamaian. Dia telah mengibarkan bendera perang terhadap ku!
Aku menahan geraman ku saat membuka pintu dan..
"Apa yang- Karin?!" Aku terkejut, bukan. Aku Sangat, sangat terkejut.
Karin-dengan cengiran lebarnya- sedang berdiri di depan pintuku dengan ransel di pundak nya.
"Kejutan!" Dia bersorak riang, kini aku tau bagaimana Sakura bisa mendapatkan sifat cerianya itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Aku berdehem berusaha menyembunyikan kegugupanku.
Karin memutar bola matanya bosan "Astaga, Uchiha Sasuke! Kau benar-benar tidak berubah! Tentu saja aku ingin mengunjungi putri ku yang cantik" Dia mengedipkan matanya secara cepat. Sesaat, ku kira dia telah terinfeksi cacing berbahaya di perutnya.
"Tapi, bagaimana bisa?" Aku masih tidak rela dia berkunjung di hari yang kupikir bisa menghabiskan waktu berduaan dengan Sakura.
"Tentu saja bisa! Aku diberi cuti 3 hari oleh atasanku! Mereka bilang, aku boleh mengunjungi keluargaku dulu!" Karin mulai terlihat kesal.
"Minggirlah Sasuke, aku ingin bertemu dengan putriku" Karin mendorong paksa diriku dan berjalan masuk kedalam sambil mengambil satu pancake yang telah matang.
"Jadi, dimana Putriku?" Mulut karin penuh dengan pancake. Mirip Sakura. Tapi aku lebih menyukai Sakura dibanding iblis merah ini.
Aku menggedikan bahu ke arah kamarku "Dia berada di kamarku"
"Ohok! Ohok! ohok!" karin tersedak dan dengan brutal dia mengambil air minum dari kulkas. Aku menaikan sebelah alisku. Bingung atas sikapnya. Dia mendelik kearah ku.
"Apa yang kau maksud? Bagaimana dia bisa berada di kamarmu?" Karin mengusap mulutnya dengan punggung tangannya.
Aku menatapnya datar "Dia baru saja terlibat perkelahian, seminggu ini dia tak bisa tidur nyenyak. Daripada bertanya kenapa dia tidur di kamarku, sebaiknya kau menghawatirkan keadaan nya. Lihatlah dia" aku berusaha setenang mungkin. Mata Karin melebar ketika mendengar ucapan ku.
Tanpa basa-basi lagi, dia segera berlari menuju kamarku. Aku menghembuskan nafas berat. Dengan gontai, aku berjalan menuju kamar mandi untuk mendinginkan kepalaku yang mendadak panas akibat kedatangan Karin.
Selesai mandi, aku hanya menemukan Sakura yang sedang memakan biskuit coklatnya di sofa. Dia melihatku dan senyum malaikatnya terpampang lagi, gerakan tangan nya menyuruh ku untuk mendekat.
Dia mengambil alih handuk yang ada di leherku, dan dengan lembut Sakura mengusap rambutku hingga kering. Sesekali dia memijatnya, membuat ku memejamkan mata keenakan. Sakura terkikik gemas saat kubuka mata, dia tepat berada di depan ku.
Sakura mendudukan dirinya di pangkuan ku, aku menggeram ingin menolak. Karena disini masih ada Karin. Tapi dia malah memeluk leher ku dengan erat.
"Dimana Karin?" Aku berdeham agar dia tak bertindak jauh. Sakura menggedikan bahunya "Di kamar mandiku, Momma belum mandi" Sakura tertawa sehingga menyebabkan mata lebarnya menyipit, aku menatapnya kagum. Bagaimana bisa gadis semanis dia jatuh dalam pelukan ku?
Sakura menyudahi tawa nya dan balik menatap ku. "Sasuke? Ada apa?" wajah Sakura semakin mendekat dan kurasakan jantungku mulai memompa darah berkali-kali lebih banyak dari biasanya.
Saat seinci lagi bibir kami menyentuh, tiba-tiba..
"Sakura, Momma tak bisa menemukan- ASTAGA! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?!" Karin menjerit histeris hingga kurasakan telingaku berdenging seketika. Sakura belum mau beranjak dari pangkuan ku dan malah menatap Karin dengan tatapan aneh.
"Sakura! Turun dari pangkuan nya!Ya Tuhan!" Karin menarik lengan Sakura sehingga dia berdiri dihadapanku.
"Apa yang kau lakukan, Mom? Aku ingin berdekatan dengan Sasuke" Sakura terlihat merengek dan Karin memberikan tatapan tak percaya kepada Sakura. Aku menyeringai melihat wajah terkejut Karin.
"Astaga! Kau memanggilnya SASUKE?! Hei Uchiha! Kau membiarkan nya memanggil mu tanpa sebutan PAMAN?!" Tangan Karin bergerak cepat sehingga mendramatisir keadaan.
Aku mengangkat bahuku malas "Dulu memang iya, tapi seminggu ini dan seterusnya.. dia tak akan memanggil ku dengan sebutan 'paman' lagi" Aku berkata dengan santai sambil menunjukan seringai ku kepada Karin yang wajahnya masih memerah menahan marah.
"Kenapa kau tak memanggilnya dengan sebutan 'paman' lagi, Saki?" Karin berpaling kearah Sakura yang berdiri di hadapan nya.
"Karena aku berkencan dengan nya, kurasa akan aneh jika aku masih memanggilnya paman. Padahal dia itu kekasihku" Jawaban Sakura berhasil membuatku tertawa lebar dan Karin yang semakin histeris.
Karin menjambak rambutnya sendiri dan mengatur nafasnya dengan menghitung 1 sampai 10. Seperti kebiasaan nya dulu.
Karin menghembuskan nafas teratur dan mulai bicara lagi "Baiklah. Sekarang,aku ingin meminta penjelasan dari kalian berdua. Yang sejelas-jelasnya" Karin mendudukan diri di bangku single depan tv.
"Sakura, duduk!" Karin menyuruh Sakura untuk duduk. "Astaga, jangan berhimpitan dengan nya! Sasuke! Kau geser hingga pojok!" Aku memutar bola mataku bosan dan memilih untuk menurutinya saja.
"Sejak kapan kalian...berkencan?" Karin menyilangkan kakinya, bicaranya seperti seorang polisi yang menginterogasi narapidana.
"Seminggu yang lalu" Aku menjawabnya dengan ogah-ogahan. Karin mendelik kearahku dan aku memilih untuk mengabaikan tatapan membakarnya itu.
"Kenapa kau mau, Sasuke? Kau kan tau usia kalian bertaut sangat jauh. 12 tahun! Astaga, tidak adakah wanita seumuran mu yang memikat hatimu?" Karin menghembuskan nafasnya lelah.
Aku mengangkat bahuku "Kau sudah mengenalku sejak lama, Karin. Ku fikir kau sudah tau bila sejak dulu aku tak pernah menunjukan ketertarikan ku pada wanita mana pun, sampai aku dikira gay oleh kau dan Naruto. Tapi, entah mengapa dengan Sakura aku merasa...muda lagi" Aku bersandar pada punggungku dan menatap Karin yang menganga tak percaya.
"Oke, aku tau perihal kau-tak-tertarik-dengan-wanita-mu itu sasuke, tapi pertanyaan nya adalah, kenapa harus Sakura?" Karin menyipitkan matanya padaku, aku mendengus melihat sikapnya yang terlalu berlebihan.
"Karena aku tertarik padanya" Aku menjawab sambil mengangkat bahu ku.
"Baiklah, kau tertarik padanya. Tapi, apakah Sakura tertarik padamu?" Karin berbicara meremehkan ku.
"Tanyakan saja pada putrimu. Bahkan, dia yang pertama kali menyatakan ketertarikan nya padaku" Aku mengalihkan pandangan ku kearah Sakura yang sedang merona.
Karin melongok "Apakah benar itu, Saki?" Sakura menghembuskan nafasnya berat dan mulai berbicara "Ya, aku yang bilang padanya bahwa aku tertarik dengan nya pertama kali"
"Kenapa?" Karin bertanya dengan tergesa.
"Karena aku mencintainya, Momma" Pernyataan Sakura membuat ku dan Karin terdiam seketika.
Perhatian kami sepenuhnya kepada Sakura.
"Engg.. Kenapa kalian melihatku begitu?" Sakura merengut. Karin melepas kacamatanya dan mengelap keringatnya dengan lelah "Astaga, Sakura. Usiamu baru 17 tahun. Kau belum sepenuhnya tau apa itu cinta"
Sakura tertawa rendah dan menggelengkan kepalanya "Jantungku serasa ingin melompat bila Sasuke tersenyum ke arahku." Aku dan Karin termenung mendengarkan perkataan Sakura, dia melanjutkan perkataan nya lagi.
"Darahku berdesir bila tangannya menyentuhku, walaupun hanya sekedar berpegangan tangan. Aku senang memperhatikan nya yang sedang tidur, aku suka mengganggu dia yang sedang membaca buku. Aku kesepian bila dia tak ada, aku suka dia membelai rambutku dengan hangat. Aku suka aroma tubuhnya, aku suka dia memperlakukan ku seperti 'wanita' bukan seperti anak kecil. Aku suka wajah seriusnya yang sedang memeriksa pasien-bahkan aku sempat cemburu saat ada ibu tua yang menggoda nya"
Sakura tertawa geli, dia pun menarik nafasnya dengan lembut dan menatap ke arah ku lalu Karin secara bergantian.
"Apapun itu, bila Sasuke yang melakukan nya, aku suka. Mengapa para orangtua mendefinisikan cinta begitu rumit? Yang aku tau aku mencintainya karena memang aku nyaman berada di dekatnya. Se-simpel itu, aku juga tak peduli dengan usia kami yang bertaut 12 tahun." Sakura menyenderkan tubuhnya di lengan sofa, dia terlihat...lebih dewasa dari usianya. Ucapan nya menunjukan itu semua. Memang, usinya baru 17 tahun, tapi pemikiran nya 5 tahun lebih kedepan.
Hatiku menghangat dan aku bertaruh bila aku adalah Hana-adik perempuanku- aku pasti sudah menangis sejak Sakura mengatakan hal manis tentangku tadi.
Sakura menatap ku dengan berbinar. Aku tau dia menginginkan usapan di rambutnya untuk menenangkan hatinya.
Kurasa aku tak perlu berbicara apapun lagi. Karena kuyakin Karin bisa mengerti hanya dengan ucapan putrinya itu saja. Karin sudah cukup mengenalku selama ini.
Wanita berambut merah itu mengenakan kacamatanya kembali, kali ini tatapan nya melunak dan ada sedikit airmata disudut matanya.
"Astaga, Saki. Kau... sudah dewasa" Karin tertawa sedih sambil mengusap mata kanan nya. Sakura mengulum bibirnya kedalam, dia terlihat gugup.
"Tapi, aku tak menyangka kau bisa dewasa secepat ini..." Karin memandang sakura, begitu pula dengan sebaliknya, aku merasa diacuhkan sekarang.
"Boleh aku memelukmu?" Karin merentangkan tangan nya lebar-lebar ke arah Sakura, Sakura pun segera berlari dan menubruk Karin hingga mereka terjungkal bersama dari kursi.
Aku terkekeh melihat adegan aneh plus mengharukan Ibu dan anak itu.
Karin bangkit dan menatapku dengan tajam-oh tidak.
"Uchiha! Aku percayakan Sakura-ku dengan mu! Bila aku mendengarnya patah hati karena mu..." Karin membuat gunting dari jari telunjuk dan tengahnya. "Maka penismu akan kujadikan gantungan mobilku" Karin tertawa kejam. Reflek, aku menutup selangkangan ku dengan cepat. Membuat Sakura tergelak geli.
"Eh, tunggu dulu!" Tiba-tiba Karin menginterupsi tawanya. "Apakah kalian.. sudah melakukan sesuatu?" Matanya memicing ke arah ku dan Sakura.
"Maksudmu bercinta? Belum. Tapi suatu hari, pasti" Aku menjawab dengan enteng sambil menyeringai ke arah Sakura yang wajahnya sudah memerah.
"Tidak Momma!" Sakura menggeleng sambil merona.
Karin menggeleng tak percaya "Aku sudah menduganya. Sasuke!" Dia menunjuk kearah ku dengan dramastis. "Pakai Kondom! Sakura masih berusia 17 tahun! Aku tak ingin dia hamil saat usia sekolah" Karin mengibaskan rambutnya dan kujawab dengan lambaian tangan.
Sakura terlihat makin merona saja.
Tok Tok Tok,
Aku mendelik ke arah pintu, siapa lagi yang menganggu hari ku kali ini?
"Apakah kau memesan pizza?" Aku bertanya kepada Karin yang sedang menaikan alisnya. "Tidak, kurasa.." Karin menjawab sambil mengingat sesuatu.
Tok Tok Tok
Tok Tok Tok
"Apakah mereka tak melihat adanya bell di depan pintu?!" Kini giliran Sakura yang mendelik kearah pintu.
"Biar ku lihat siapa dalangnya" Sakura bergerak untuk membuka pintu.
Tok Tok Tok.
"Astaga, apa yang-"
"SAKURAAAAA!" Aku melongok seketika. Aku tak percaya, hari ini akan menjadi hari terburuk bagiku. Lihat saja, di depan pintu sudah ada 3 mahluk perusak perdamaian.
Tayuya, dengan cekatan dia menerjang Sakura dan memeluknya hingga terjatuh. Sasori, dia mencekik Sakura yang sudah tergeletak tak berdaya. Dan Gaara, dia memiting tangan Sakura sehingga gadis itu tengkurap bagaikan kura-kura.
"Ya Tuhan! Apa yang kalian lakukan disini?" Karin menjerit histeris. Lagi. Dan segera menolong Sakura yang sudah terbatuk-batuk. "Kami hanya ingin memberi kejutan!" Tayuya menari mengelilingi Sakura dan Karin.
"Dan, kami juga merindukan mu, kakak" Sasori tersenyum lembut-astaga, apakah dia itu benar-benar pria?
"Kalian! Ingin membunuhku!" Sakura memajukan bibirnya gemas. Aku memilih untuk tetap duduk di sofa sambil menikmati pertunjukan keluarga unik itu.
"Hei,hei ada yang aneh denganmu!" Gaara memajukan wajahnya hingga beberapa centimeter dari wajah Sakura, aku segera memicingkan mataku ke arah mereka.
"Ya! Rambutmu! Kemana rambut panjangmu?" Tayuya menarik-narik rambut pendek Sakura dengan gemas.
Sakura memutar bola matanya "Ada insiden di sekolah". Sasori mendelik ke arah Sakura "Jangan bilang kau berkelahi? Kau di bully?!"
Sakura mengangkat bahunya. "Astaga! Siapa yang berani menyentuh keponakanku tersayang?!" Tayuya memeluk kepala Sakura di dadanya. "Hmmmppp, Lepaskan!" Sakura memberontak hingga wajahnya merah. "Siapa yang berbuat ini kepadamu, Saku?" Gaara mengusap pipi Sakura dengan lembut. Sedikit dorongan bisa membuat dua bibir itu bertemu satu sama lain.
Astaga, aku sudah tak tahan lagi.
"Ehem" Aku memutuskan untuk berdeham, dan perhatian seluruh mahluk aneh itu pun menuju ke arah ku.
"Siapa kau?" Tayuya mengerenyit ke arahku. Perempatan siku-siku terasa di dahiku kali ini.
"Dia, Uchiha sasuke. Pemilik apartement ini, teman ku semasa sekolah dan kini dia adalah... kekasih Sakura" Karin menjelaskan sambil menaik-turunkan alisnya dengan cepat.
"WOW" Ketiga suara mahluk itu mengudara seperti paduan suara.
"Bagaimana pendapat kalian?" Karin bersandar di bahuku dan seketika aku menjadi seperti objek penelitian dari ketiga mahluk itu.
"Kau tinggi! Sakura pasti akan merasa nyaman jika kau memeluknya! Tapi, lehermu pasti akan terasa pegal jika mencium Sakura, ya kan?" Tayuya mengerjapkan matanya di depan wajahku. Apa semua keluarga haruno memiliki penyakit cacing?
"Kau... Kaya! Aku merestui hubungan mu tentu saja" Sasori menelitiku dan seluruh isi apartementku.
Kini, giliran Gaara yang memperhatikan ku dalam diam. Hatiku memanas ketika ku ingat tadi dia hampir berciuman dengan Sakura. Namun, Tiba-tiba saja Sakura memeluk lenganku dengan erat. Aku mengerutkan keningku kepadanya.
"Kau..Tampan" Meski bergumam, aku bisa mendengar perkataannya. Sakura menggeram dan mencium pipiku sekilas. Hei, aku tak tau apa yang sedang terjadi disini?
"Dia milik ku, Gaara" Sakura memicingkan matanya ke arah pria bertatoo itu. Gaara terkekeh dan mengangkat tangan nya ke udara "Aku menyerah, Saki" Dia pun berlalu menuju sofa. Namun, seperkian detik dia memalingkan wajahnya. Bisa kulihat, Gaara mengedipkan matanya dengan manja ke arahku.
Astaga- Aku baru menyadari posisiku sekarang.
Aku melihat Sakura dengan wajah panik "Apakah-dia..."
Sakura memeluk ku dengan erat "Ya, dia hampir saja tertarik denganmu! Aku akan mencincangnya jika itu terjadi!" Sakura bergumam di dadaku.
Dia.. Gay.
Jantung ku terasa berpacu lebih cepat, tidak. Ini bukan efek Sakura yang melingkar di tubuhku. Tapi ini efek Gaara yang masih memperhatikan ku dari tempatnya sekarang.
Ya Tuhan. Selama aku menjadi seorang Uchiha, baru kali ini aku merasakan. Aku. takut.
Beruntung, mereka pulang keesokan paginya-dengan membawa Karin bersama mereka-. Mereka mendeklarasi bahwa hari ini adalah 'Hari kakak tercinta' dan itu sebabnya merek bertiga membawa Karin ke suatu tempat yang mereka rahasiakan.
Tentu saja Sakura tak ikut, dia memilih hidup tenang bersamaku daripada dengan gerombolan orang aneh itu.
Tapi, jika dipikir-pikir ada manfaatnya juga ada Gaara menginap disini. Sakura menjadi over protective padaku. Lucu memang, tadinya kupikir aku yang harus menjaga nya dari Gaara. Tapi kini? Sakura yang mati-matian tak ingin melepaskan ku barang sejenak pun.
Bahkan,dia menunggu ku mandi tepat di depan kamar mandiku. Saat kutanya kenapa?
Ternyata, Gaara tipe yang tak bisa menahan hasratnya bila sudah tertarik dengan seorang lelaki incarannya. Sontak saja, fakta itu membuat pagiku dipenuhi rasa gugup saat berhadapan dengan Gaara di meja makan.
Tapi kini, aku bisa bernafas lega. Karena, sore ini hanya ada aku, Sakura dan segelas teh hangat. Sakura bersandar di pundak ku dan tubuhku membungkus dirinya. Ini sudah cukup untuk menggambarkan jenis kedamaian di dunia.
"Sasuke?" Sakura memanggilku pelan, aku menjawabnya dengan sebuah gumaman.
"Kau fikir hukuman apa yang akan diberikan Miss Konan kepada Ameyuri dan Mei?" Sakura mendongkakan kepalanya sehingga kami saling bertatapan.
"Kau benar-benar ingin tau?" Aku menaikan sebelah alisku, raut wajahnya benar-benar penasaran. "Tapi, berjanji kau tak akan mengeluarkan sifat malaikatmu. Karena, Konan memeberikan hukuman ini karena dirasa setimpal dengan derita yang kau rasakan" aku menghela nafas panjang saat melihat Sakura sudah menganggukan kepalanya, tanda menyetujui syaratku.
"Konan menyuruh mereka berdua untuk memangkas rambut mereka hingga sebatas kuping dan hukuman-hukuman yang menurutku terbilang manusiawi seperti skors dan tambahan pekerjaan rumah" Bisa kulihat Sakura melongok mendengar penuturan ku barusan.
"Benarkah? Tapi, kasihan mereka. Pasti mereka-"
"kau sudah janji tak akan mengeluarkan sifat malaikatmu itu, jadilah iblis semacam Karin bila dalam situasi seperti ini" Aku terkekeh rendah dan segera melihat Sakura yang sedang mengerjapkan matanya ke arahku.
"Sasuke?" Sakura semakin mendekat kearah wajahku. Aku menyeringai dalam hati. "Aku ingin sekali mencium mu" Sakura bicara seperti mengambang. Seluruh fokusnya menuju bibirku, seringai tak dapat kutahan lagi. Hidungku menyentuh hidungnya untuk menggoda Sakura. Sakura memajukan wajahnya, namun segera kumundurkan beberapa centi wajahku. Membuatnya merengut dan akhirnya kedua telapak tangan nya menyentuh rahangku.
"Shut up and kiss me, Uchiha" Dan aku bersumpah telah melihat Sakura versi dewasa mencium ku dengan liar. Aku kewalahan di detik pertama, tubuh mungil nya memanjat ke pangkuan ku dan entah mengapa pinggulnya tak bisa diam disana.
Aku mengerang saat Sakura menjambak rambut belakangku, sehingga wajahku terangkat ke atas dan bisa kurasakan Sakura menyeringai senang dibibirku. Lidahnya menjulur ke arah mulutku yang terbuka, lidahnya menyentuh langit-langit mulutku dan segera ku hisap bibir bawahnya dengan erat sehingga dia terkejut.
Pinggulnya semakin merapat dan bisa kurasakan tubuhnya mengejang saat merasakan ereksiku tepat di bawah kewanitaan nya.
Sakura melepas pagutan bibir kami dan wajah nya...wajah erotis nya menatapku dengan lugu. Tanpa kusadari, tangan kanan nya telah merayap menuju bawah perutku. Dia mengusapnya. Sakura membelai kejantanan ku yang masih tertutup celana training dengan lembut.
"Paman.." Sakura mengerang frustasi. Bagaimana dia menyebutkan paman dengan mimik seperti itu membuatku semakin terangsang. Aku memejamkan mataku saat kurasakan tangan Sakura mulai bergerak menelusup kedalam celanaku.
Sebelum dia bertindak lebih jauh lagi, ku genggam pergelangan tangan nya dengan erat. Sakura menampilkan raut bingung.
"Aku ingin kau, Sakura" Aku terengah saat mengatakan nya. Sakura menunjukan senyum miringnya, lengan nya pun dilingkarkan ke leherku dengan erat "Aku juga".
End Sasuke Pov.
Sakura Pov.
Aku mengerang saat merasakan paha Sasuke memisahkan kedua kakiku. Tangannya memenjarakanku, aku terengah melihatnya tersenyum miring diatasku.
Sasuke seperti bukan Sasuke lagi saat dia melemparku ke atas ranjang nya dengan pandangan bergairahnya itu.
Dia menciumku dengan penuh hasrat. "Sakura, dengarkan aku. Aku tak ingin tergesa, bagaimana pun ini adalah yang pertama untuk mu" Sasuke berusaha menjadi 'baik hati' lagi. Tapi untuk kali ini, rasanya aku ingin dia menjadi seorang bad boy saja. Aku menggeleng frustasi "Aku ingin kau Sasuke"
"Aku tau itu, aku pun sangat ingin dirimu, Saki" Sasuke memajukan pinggulnya sehingga ereksinya menusuk kewanitaanku yang masih berbalut celana pendek.
"kalau begitu, ajarkan aku bagaimana caranya, paman" Aku mengerling menggoda kearahnya. Sasuke menaikan alisnya dan dengan perlahan, dia membuka kaus lengan pendek ku.
Dia menggeram ketika melihat payudaraku yang berbalut bra berwarna hitam, Sasuke membungkuk hendak mencium payudaraku "May i?" Dia bernafas di atas kulit leherku. Membuat ku tak bisa berfikir rasional lagi, aku menganggukan kepala dan lidahnya pun langsung menari di atas payudaraku. Tangan kanan nya memijat bawah dadaku dan dengan cekatan dia membuka bra ku, hingga kini aku bertelanjang dada.
Sasuke mengerang di depan putingku "kau sangat cantik" dan putingku pun langsung mengeras karena hawa panas dari bibirnya itu. Basah dan hangat pun seketika menyelingkupi putingku. Sasuke menghisap dan menarik puting ku hingga panjang dan keras. Aku menarik kaus nya hingga dia melepaskan pagutan nya sementara untuk membuka kaus dan celana trainingnya.
Meninggalkan boxer sebagai penghalang ereksinya dengan celana dalam ku.
Tangan Sasuke bergerak nakal, menelusup kedalam celana dalamku dan dengan cepat dia bisa menemukan klitorisku yang sudah terasa gatal ingin dimanja.
"Ahnnnn" Aku mendesah ketika jari telunjuk nya menggosok klitorisku dengan cepat. "Call my name, Saki" Sasuke berbisik di telingaku saat jari tengah nya menelusup ke dalam liang kewanitaanku.
"Sasuke! Ahnnn Sasuu" Aku mencengkram erat bantal yang ada di pinggirku. "Kau begitu basah dan ketat, sayang" Sasuke memejamkan matanya saat kurasakan 2 jari memasuki vaginaku dan dengan berangsur menambah kecepatan kocokan nya sehingga aku mendesah tak karuan.
"Ahhnnn Sasuu, I can't! I can't! Ahnnn" aku mendesah keenakan saat kurasakan orgasme telah melandaku. Sasuke membuka celana dalam ku yang telah basah dan menghirupnya seperti itu adalah parfum paling memikat sepanjang hidupnya.
"Wangi mu sugguh menggiurkan, Sakura" Sasuke mengendus celana dalam ku dan meletakannya di pinggir tempat tidur. "Tapi, kurasa ini lebih menarik" Sasuke membuka kedua pahaku agar kepalanya menelusup ke arah vaginaku yang telah berkedut mencari perhatian.
"kau sungguh...Slruuupp" Sasuke menghisap cairan yang masih keluar dari vaginaku dengan sensual. Aku mendesah saat lidahnya memutar di daerah lubang kewanitaanku dan hidung mancungnya menggoda klitorisku.
"Nikmat... Sakurahh" Sasuke mengelap mulutnya dengan punggung tangannya dengan seksi.
Aku menarik turun boxernya sehingga dia terkekeh geli "Kau sungguh tak sabaran ya"
Aku merengut sambil terus menarik boxernya dengan manja. "Baiklah, baiklah. Semoga kau bisa akrab dengan nya, Sayang" Sasuke menurunkan boxernya dan menunjukan kejantanan nya yang sudah mengeras dan mengacung ke arahku.
"Big Sasuke, eh?" aku menyentuh ujung kejantanan nya yang mengeluarkan pre-cum sehingga Sasuke menyeringai mesum. Ingin rasanya tanganku memanjakan kejantanan itu, tapi segera ditangkis oleh Sasuke. "Kita punya banyak waktu untuk oral sex, Saki. Yang terpenting sekarang adalah, melepas kata gadis yang melekat pada dirimu" Sasuke menggesekan kejantanan nya disepanjang vaginaku. Menyenggol klitoris ku hingga rasanya ku ingin klimaks. Tapi, dia hanya menggodanya, tak berniat mendorong lebih jauh.
"Ya, Sasuke.. lakukan, Ahnnn" Aku mendesah saat Sasuke mulai mendorong masuk kejantanan nya ke dalam vagina ku. "Tatap aku dan panggil namaku" Suara Sasuke terdengar seperti suara syurga.
Sasuke mendorong penuh kejantanan nya sehingga aku merasa diriku terbelah menjadi dua, aku terisak dan Sasuke menjilat airmataku dengan cepat.
Akhirnya, akhirnya aku melepas keperawanan ku dengan orang yang kucintai. Sasuke mengelus pipiku dengan lembut, tatapan nya mengartikan 'semuanya akan baik-baik saja'.
Hingga kurasakan diriku siap, aku mulai menggerakan pinggulku tanda Sasuke boleh memulainya.
Sasuke menarik penisnya keluar hingga ujung dan dengan cepat dia mendorongnya kedalam lagi. Aku merasa hebat... aku merasa menakjubkan.
Aku merasakan diriku tergabung dengan Sasuke seutuhnya.
"Ahnnn Sasuke... Faster!Harder!" Aku menjeritkan namanya saat milik Sasuke terasa membesar di dalam ku. "Apa sayang? Aku tak mendengarmu" Sasuke menampilkan seringai menggodanya ditengah peluh yang membanjirinya. Sungguh seksi.
"Lebih kerasss, lebih cepat! Sasukeee~" Aku terlonjak bahagia saat kurasakan Sasuke mempercepat gerakan nya hingga kurasakan tubuhnya bergertar dan ambruk diatas tubuhku.
Sasuke sudah klimaks dan aku...
Sasuke mengerti kebutuhan ku, dan dengan segera dia menelusupkan jari-jari nya ke klitorisku dan mencubitnya dengan erat, sehingga aku..
Klimaks.
.
.
Tbc
.
.
Hai hai hai holaaa, Terimakasih yang seebanyak-banyaknya buat kalian yang syudah menyempatkan diri kalian untuk review, like dan follow ceritakuu.
Dan terimakasih juga untuk para silent reader yang jumlah nya sangat banyak*Halohalo.
Ku anjurkan agar kalian meninggalkan jejak seperti mereka dibawah ini:
echaNM, daisaki20, citradewipratiewy, nona mesha new, zarachan, Younghee Lee, Hasemeleh Hasemeleh, Dolphin1099, alexachung, ji nei, Qren, Tia, hanazono yuri, CEKBIOAURORAN.
Dengan me-review, aku jadi bisa tau apa yang kurang dari ceritaku dan bisa kuperbaiki di chapter berikutnya, Big Love for you are :*
.
.
. KendallSwiftie.
.
.
