Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto
New Romantics
You lift my feet off the ground
Spin me around
You make me crazier, crazier
.Taylor Swift-Crazier.
.
.
6
.
.
"Jadi, kau tetap tak mau memberitahuku apa yang membuatmu tersenyum seperti orang gila dihari pertama mu masuk setelah kau absen 1 minggu?" Ino membom-bardir Sakura yang tengah mengaduk-aduk jus strawberry nya dengan senyum bodoh.
"Aku bahagia, Ino" Sakura melebarkan senyumannya lagi. Ino menghembuskan nafas kasar "Iya, aku tau itu! tapi apa yang membuat mu bahagia, jidat?" Ino menepak dahi lebar Sakura dengan keras . "Aww! Ino babi! Sakit tau!" sakura mengaduh sambil mengusap dahinya yang telah memerah akibat ciuman tangan Ino.
"kau yang memulainya! Aku sudah setengah mati penasaran dan meluangkan jam pulang sekolahku untuk mendengarkan mu bercerita, tapi ternyata kau masih diam dan tersenyum sendiri" Ino menghentakan kakinya dengan cepat di lantai kayu cafe tersebut, sehingga menyebabkan beberapa orang pelanggan menoleh ke arah mereka.
"Ino! Hentikan, kau membuat orang-orang terganggu" Sakura berbisik ke arah Ino, yang disambut oleh tatapan tak acuh putri Inoichi tersebut.
Sakura menghembuskan nafasnya lelah "Baiklah, akan ku katakan mengapa aku sangat bahagia hari ini" Mata Ino langsung berbinar mendengarnya.
"Dengarkan baik-baik..." Sesaat Sakura ingin berbicara, dia melihat sosok yang familiar sedang beridiri di depan pintu cafe dan menarik hampir seluruh pengunjung cafe untuk menatapnya.
"HOI, Sakura? Ada apa? Mengapa kau berhenti?" Ino mengayunkan telapak tangan nya di depan wajah Sakura, gadis itu tersadar dari lamunan nya dan segera tersenyum.
"Dengarkan aku, pria yang sedang berdiri di depan pintu cafe itu adalah alasan mengapa aku bahagia hari ini" Sakura menunjuk seorang lelaki tampan yang sedang mengecek ponselnya di depan pintu cafe.
Ino mendengus "Kau fikir aku bodoh? Pria itu baru saja berdiri disana 1 menit yang lalu, dan kau sudah terlihat bahagia sejak tadi pagi! Dan ya, memang dia tampan. Aku pun bahagia melihatnya disana" Ino malah menatap pria yang berdiri disana dengan tatapan kagum.
Sakura memutar bola matanya bosan "Ya, maksudku dia Ino, dia Uchiha Sasuke. Kekasihku" Ino mendelik ke arah Sakura "Kau gila, jidat! Aku tak percaya itu. Mana mungkin kau punya kekasih seperti dia? Lihat, kekasih mu itu kakek tua yang dipojok ruangan" Ino tertawa meledek sambil menenggak habis jus melon miliknya.
Sakura tak ambil pusing dan memilih untuk memanggil pria yang berada di depan cafe itu. "Sasuke! Aku disini!" Tanpa diduga, pria itu tersenyum melambai dan berjalan ke arah Sakura dan Ino.
Byuuurrrrrr
Ino menyemburkan jus melon yang ada di mulutnya ke arah Sakura.
"Kau jorok!" Sakura mengerang mendapati bajunya basah akibat semburan Ino. "I-itu d-dia benar-benar kekasihmu?" Ino menatap tak percaya pria yang kini sedang berjalan ke arah mereka dengan sejuta pesonanya.
Sakura menggedikan bahunya "Sudah kubilang, kau tak percaya" .
Ino masih melongok melihat bagaimana Sasuke mencium pipi Sakura dengan singkat dan duduk di sebelah Sakura. "Ino? Ino Babi?" Sakura mencolek-colek tangan Ino yang masih sibuk dengan fikiran nya sendiri.
"Eh, ya? Ada apa?" Ino mengerjapkan matanya berkali-kali agar tersadar dari lamunannya.
"Ino, ini Sasuke, kekasihku. Sasuke, ini Ino sahabat babiku" Sakura tersenyum sumringah sambil mengenalkan dua orang tersebut.
Sasuke tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Ino yang segera menyambutnya dengan gugup. "Kau? Bukannya paman Sakura?" Ino bertanya sesaat tangan mereka terpisah. Sasuke menggedikan bahunya "Ya, itu dulu. Sekarang aku kekasihnya" dan disambut oleh seringai Sakura. Ino menghembuskan nafasnya kasar "Astaga, Sakura! Jika saja sejak tadi kau bilang bahwa kau telah berkencan dengan dia, pasti aku tak akan penasaran seperti ini" Ino merengut ke arah Sakura.
Sakura hanya menunjukan cengiran nya "Aku takut kau tak percaya"
"Kau gila? Bahkan sampai sekarang pun aku tak percaya mahluk tampan ini adalah kekasihmu" Ino sedikit menggeretak dan membuat Sasuke menaikan alisnya antusias. "Terimakasih, telah menyebutku tampan" Sasuke menyeringai dan disambut oleh sikutan Sakura.
"Ya, kau tampan dan kurasa kalian cocok. Baiklah, karena rasa penasaran ku telah terbayarkan. Aku harus pergi untuk menemui pria ku sendiri" Ino menekankan kata 'pria' , membuat Sakura dan Sasuke terkekeh.
"Ya, Ino. Kau sudah punya kekasih, jagalah dia" Sakura tersenyum meledek.
"Sialan kau, Pink!" Ino mengumpat sambil berjalan keluar dari cafe.
"Well, ada apa kau ingin menjemputku?" Sakura menoleh ke arah Sasuke yang kini bersandar pada bangkunya.
Sasuke mendekatkan hidungnya ke perpotongan leher Sakura "Aku rindu kau" Sakura segera meremang seketika dan dia pun reflek menjauhkan wajah sasuke dari lehernya. "Astaga, ! jangan merusak reputasimu dengan bercumbu dengan seorang gadis remaja di tempat umum" Sakura merengut dan Sasuke menaikan kedua alisnya.
"Oh ya? Siapa bilang aku ingin mencumbu mu disini? Aku hanya ingin mengucapkan salam kepadamu, lagipula kita punya banyak waktu untuk melakukan hal yang lebih dari bercumbu" Sasuke menggosokan hidung mancungnya ke arah pipi Sakura yang merona.
"Dasar, orangtua mesum" Sakura memilih untuk memalingkan wajahnya agar tak terlihat merona oleh Sasuke. Sakuke terkekeh geli dan malah menggendong Sakura keluar dari cafe.
"Kyaaa! Apa yang sedang kau lakukan?! Turunkan aku! Bodoh! Semua orang memperhatikan kita! Aku belum membayar tagihan nya!" Sakura memukul-mukul dada Sasuke yang tetap menyeringai penuh kemenangan.
"Kisame! Tagihan gadis ini ada padaku!" Sasuke berteriak ke arah penjaga kasir yang dibalas anggukan semangat darinya.
Sakura hanya melongok melihat interaksi antara Sasuke dan pria berwajah garang di kasir itu. Jadi dia teman nya Sasuke?
Sakura pun segera tersadar dari lamunan nya saat Sasuke membantingnya di kursi penumpang mobil. "Aww, ada apa sih denganmu?" Sakura merengut sambil menggosok kepalanya yang terbentur pintu mobil. Tanpa diduga, Sasuke malah mendekatkan wajahnya ke arah Sakura. "Kau sudah melakukan 2 kesalahan, nona Haruno" Sasuke menatap tajam ke arah Sakura yang reflek memejamkan matanya. "Apa salahku?" Sakura berbisik tanpa mau membuka kedua matanya.
Sasuke menyeringai melihat Sakura yang telah ketakutan, dengan cekatan, dia mengunci mobil dan menghidupkan AC karena pasti akan terasa panas di dalam sini.
"Pertama, Kau menyebutku orangtua" Sasuke berkata seduktif sambil mengelus paha Sakura yang berbalut rok seragam pendeknya.
"Padahal, Orangtua ini adalah kekasih mu, Sayang" Sasuke mengecup singkat leher Sakura, sehingga gadis itu bergidik geli.
"Kedua, Kau menyebutku Bodoh" Sasuke memasukan tangan nya ke dalam rok Sakura. Gadis itu mulai menggigit bibirnya untuk menahan desahan.
"Padahal, jika difikirkan lagi. Aku tak mungkin mendapat gelar dokter jika aku bodoh, ya kan?" Sasuke menyeringai saat melihat wajah Sakura yang telah merah saat jari-jarinya menarik renda di celana dalam Sakura.
"Sasuke, hentikan" Sakura mendesah tertahan sambil berusah menjauhkan jari Sasuke dari roknya.
Sasuke segera meraih kedua tangan Sakura dan diikatkan nya pada Sandaran mobil dengan pita dari ikat rambut Sakura. Sakura terbelalak kaget saat merasakan tangan nya sudah terikat erat di jok belakang, sehingga dadanya membusung kedepan. Ikatan rambutnya pun terlepas karena dijadikan tali oleh Sasuke.
"Sial, apa yang kau lakukan?!" Sakura mengerang marah kepada Sasuke yang malah tersenyum miring kearahnya.
"Menghukum mu" Jawab Sasuke enteng sambil mengaduk isi dashboard nya dan mengeluarkan sebuah kain hitam.
"Agar kau menjadi anak baik" Sasuke mengikatkan kain hitam itu pada mata Sakura dengan gerakan lembut. "Lepaskan ini Sasuke! Aku-ahhh" Ucapan Sakura terpotong ketika dirasakan salah satu jari nakal Sasuke menyelinap masuk kedalam celana dalamnya.
"Astaga, lihatlah dirimu, Sakura. Bahkan kau telah basah akibat orangtua-mu ini" wajah Sakura memerah saat ketahuan sudah basah sejak Sasuke membelai paha nya tadi.
"Kau memang nakal, Saku" Sasuke mencubit gemas klitoris Sakura yang menyebabkan desahan nikmat terlontar dari bibir mungil nya.
"Aku punya satu cerita untukmu, apakah kau mau mendengarkan nya?" Suara Sasuke melembut seiring pergerakan tangan nya yang sedang asyik mengusap-usap kewanitaan sakura dengan lembut.
Sakura menganggukan kepalanya sambil menahan desahan akibat kelakuan Sasuke. "Sejak tadi pagi, aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Rasanya penisku selalu terangsang jika mengingat malam panas kita kemarin. Aku menginginkan mu, Saki" Sasuke berbisik sambil memasukan jari tengah nya kedalam lubang Sakura.
"Ahnnn" Sakura mendesah kegirangan saat 2 jari berhasil Sasuke masukan, tapi jari tersebut hanya diam tak bergerak, membuat Sakura tak tahan dan menggerakan pinggulnya sendiri.
"Wow, wow hold on, Sayang. Apakah jariku senikmat itu, hm?" Sasuke masih tak menggerakan jarinya dan membuat Sakura mengerang putus asa.
"Sasuke~ Ahnnn aku mohon.. Aku sudah tak kuat~ Ahnnn" Sakura menggerakan pinggulnya ke arah jari-jari Sasuke yang masih terdiam.
"Mohon apa?" sasuke menyeringai, menyenangkan sekali ternyata menggoda Sakura yang sedang terangsang.
"Gerakan jari mu-Akh" Sakura terlihat menemukan spot nya dan Sasuke pun terkekeh geli. "kau sudah menemukan spot mu, eh?" Sasuke mengeluarkan jari-jarinya dan membuat Sakura mendesah kecewa. Tanpa dia sadari, Sasuke telah membungkuk dan berhadapan langsung dengan vagina Sakura, kemeja biru dongkernya digulung hingga sebatas siku.
"Ahhhhhnnn" Sakura mendesah lagi ketika dengan tiba-tiba Sasuke memasukan 2 jarinya lagi ke dalam vagina Sakura. "Oh Astaga, wangi mu sungguh menakjubkan, sayang" Sasuke menyeringai saat melepas celana dalam Sakura dan menemukan cairan Sakura yang seperti benang menempel antara celana dalam dan kewanitaan nya.
"Ahnn, Sasuke. Please~" Sakura memajukan pinggulnya sehingga hidung Sasuke mengenai klitorisnya dengan kasar. "Ahnnn aku ingin kau Sasu~"
Sasuke menyeringai mesum dan mulai menggerakan jari-jarinya dengan cepat. Sakura mendesah kegirangan hingga menjulurkan lidahnya ketika Sasuke berhasil menemukan spot nya dengan cepat.
"kau suka ini Sakura?" Sasuke memutar jarinya di dalam Sakura. " Ya, Ahnnn ya Sasu! Give it to me" Sakura bergerak melawan arah datangnya jari Sasuke.
"Kau sangat ketat, Sayang! Apakah kau bisa membayangkan bila kejantanan ku yang berada di dalam, hm?" Sasuke memulai dirty-talk nya agar Sakura segera klimaks.
"YA! Ahnnn lagi Sasu! Lebih kerasss" bangku tempatnya sudah mulai mengikuti gerakan brutal Sakura yang makin menjadi-jadi.
Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah vagina Sakura, dan dengan sekali hisapan di klitorisnya, Sakura berhasil Klimaks.
"Aaaaahhnnnnn, menakjubkan! Sasuke!" Sakura masih diambang kenikmatan nya, Sasuke melepas ikatan di mata dan di leher Sakura dengan cepat.
Sakura menoleh ke arah Sasuke yang sedang bersandar kelelahan di kursinya. Matanya bergulir ke arah selangkangan Sasuke yang telah menonjol. Tanpa ragu, Sakura segera meraih tonjolan itu dan menurunkan resletingnya dengan cepat.
"Astaga, Sakura! Apa yang kau lakukan?" Sasuke tercengang dengan kelakukan Sakura yang kini telah berhadapan dengan penis nya yang terangsang.
Sakura menyeringai menggoda "Menyelesaikan hal yang belum terselesaikan" Dengan cepat, dia memasukan sebagian kejantanan Sasuke ke dalam mulutnya.
Kini, Sasuke yang mendesah terpuaskan.
Sakura pov.
Oh. Sial.
Pagi ini, aku berhasil menggosongkan 3 telur goreng sekaligus. Jangan tanya kenapa, alasan nya sudah pasti gara-gara orangtua-upss maaf- maksudku Sasuke itu!
Dia benar-benar tak bisa membuat ku berkonsentrasi. Kewanitaanku terasa nyeri di pagi hari karena aksi brutalnya semalam dan sialnya, dia malah asik menertawaiku dari meja makan sambil memperhatikan aksi memasakku yang memang kuakui sangat payah.
"Bisakah kau diam?" Aku sedikit menggertak sambil mencoba memecahkan satu telur lagi diatas wajan. Sasuke menaikan sebelah alisnya menggoda "Apa? Dari tadi aku diam saja"
Aku mendengus jengkel "Ya, kau diam. Tapi jelas aku tau fikiranmu itu sudah berkelakar kemana-mana hingga menyebabkan tawa iblis mu itu keluar"
Sasuke tertawa lebar "Astaga, aku tak percaya gadis-ku bisa berbicara kasar seperti itu"
Aku memutar bola mataku dengan bosan "Aku sudah 17 tahun-umm mendekati 18"
Sasuke mangut-mangut "Ya, dan aku sudah 29 mendekati 30" Aku berbalik menghadapnya dan pura-pura terkejut. "Astaga! Aku berkencan dengan seorang pria tua" sambil menunjuknya dengan sendok panjang.
Sasuke diam dan rahangnya mengeras. Omfg. Aku harap dia tidak marah dengan candaanku. Dengan perlahan, dia berjalan ke arah ku-masih dengan tatapan membakarnya-seperti kucing hutan yang mengendap.
Aku menelan ludahku dengan susah, kurasakan tatapannya menghujamku saat dia tepat berada di depanku, ujung sandal kami bersentuhan.
Aku reflek menunduk tak ingin melihat raut wajahnya yang sedang menyeramkan itu. Dia marah?
Sasuke mengangkat daguku dengan ibu jari nya, alis nya mengangkat hendak mengatakan sesuatu. "Bisa kau ulangi lagi perkataan mu barusan, Sayang?" Sasuke mendesis saat menyebutkan kata 'sayang'.
Bola mataku melirik kesamping dan ke arahnya lagi dengan cepat "Umm, aku mengencani seorang... dokter seksi?" Aku menunjukan cengiranku-berusaha melawak atau menggoda?- tapi itu tak berhasil. Nyatanya, dia masih menunjukan wajah datarnya.
Sasuke tetap menatapku lurus, aku pun mulai jengah dan berusaha membebaskan diri dari kukungan nya "Sasuke, jangan begini. Aku minta maaf, aku hanya-"
"Kau tau Sakura?" Sasuke memotong pembicaraan ku dan segera memojokan tubuhku ke arah kulkas. "Aku juga mengencani seorang anak kecil. Jika itu yang mau kau dengar. Tapi, aku menjaga perasaan mu agar kau merasa dihargai" Perkataan Sasuke sontak membuatku terhenyak. Astaga. Apakah dia benar-benar marah atas perkataanku?
"Maafkan aku, Sasuke. Aku tak berniat menyinggungmu seperti itu. Aku hanya bercanda. Sungguh. Maafkan aku jika itu membuatmu marah. Aku tak bermaksud begitu, aku mencintaimu tak ada masalah dengan usia kita" Aku merasakan airmata sudah ada di pelupuk mataku dan sebentar lagi akan meluncur melewati pipiku. Tanganku mengusap wajah tegasnya dengan lembut, aku merasakan kilatan jenaka tergambar dari matanya. Tunggu-sial- jangan bilang kalau dia..
"I'm kidding" Sasuke menunjukan cengiran lebarnya dan seketika membuat ku tercengang. Aku telah dibodohi.
"Sasuke! Tidak lucu! Kau membuatku panik" Airmataku meluncur tanpa kuprediksi membuat tawa Sasuke redup seketika. "Sial, kau menangis?" Sasuke menatapku horror sambil menangkup wajahku. Aku terisak seperti anak kecil yang minta dibelikan permen kapas. Sasuke memeluk ku erat dan menepuk punggungku dengan lembut. "Sudah,sudah jangan menangis. Maafkan aku, oke?" Aku mengangguk sambil sesekali mengelap airmataku di bajunya. "Aku ingin kau menciumku" Aku berbicara tanpa malu sambil sesekali terisak. Sasuke mengerjapkan matanya lalu menyeringai menatapku "Tentu" Jawabnya, dan bibirnya menjadi hal yang membuat aku berhenti dari tangisanku sekarang.
Cekrek.
"Hai! Sasuke- ASTAGA! MAAFKAN KAMI!" Suara 2 orang berteriak membuat kami melepaskan pagutan dengan tergesa dan melihat ke arah pintu yang terbuka. "Itachi! Hana! Apa yang kalian lakukan disini?!" Sasuke terlihat kesal sambil menunjuk 2 orang yang sangat mirip dengan nya itu dengan spontan.
Si lelaki-yang kuyakini namanya adalah Itachi- hanya menyengir lebar sambil menggendong bocah berkulit hitam masuk ke dalam apartementnya. "Aku tak percaya, akhirnya kejadian langka ini kusaksikan secara langsung!" Sasuke mendengus kasar. "Apa yang kalian lakukan disini?" Sasuke mengulang pertanyaan nya lagi dengan bosan.
"Adik mu membutuhkan bantuan untuk tugas nya dan sepertinya keponakanmu sudah merindukan paman nya" Itachi memberikan bocah perempuan itu ke dalam gendongan Sasuke.
"Hana? Ada masalah apa?" Sasuke melirik kearah wanita muda yang terlihat sangat antusias denganku-membuatku risihi dengan pandangan nya yang terlalu mencolok ke arahku.
"Omfg, Kak Sasu... Siapa gadis berambut bagus ini?" Hana mengabaikan pertanyaan Sasuke dan berjalan mendekatiku dengan pandangan berbinarnya. Itachi memutar bola matanya bosan "Hana memang penggemar rambut berwarna" Aku membulatkan mulutku tanda mengerti. "Aww" aku meringis saat merasakan jambakan halus di belakang rambutku.
"Rambutmu indah sekali! Berwarna pink! Apakah kau akan benar-benar menjadi kakak iparku?" Hana mengedipkan matanya dengan cepat ke arahku. Aku menggaruk tenguk ku yang tak gatal karena bingung ingin menjawab apa.
"Ya" Sasuke menjawab dengan cuek, aku merasakan panas diwajahku dan dehaman menggoda Itachi.
"Siapa namamu?" Itachi melihat kearahku dan sekilas aku merasakan Sasuke yang memandangku.
"Sakura. Haruno Sakura" Aku berdeham diakhir kalimat untuk menyembunyikan kegugupanku.
"Anak dari Haruno Karin?" Itachi terlihat sangat antusias. Aku mengangguk tanpa rasa gugup lagi.
"Waaaa! Menyenangkan bisa berkenalan denganmu Sakura! Berapa usia mu?" Hana bertanya dengan antusias.
"18 tahun" Aku berkata seperti berbisik.
"APA?!" Suara Itachi dan Hana terdengar kompak bersamaan, Sasuke segera berdiri disampingku. "Apakah kau serius? Sasuke? Kau mengencani seorang gadis muda?!" kurasakan bola mata Itachi hampir terlempar keluar. "Ya, tentu saja aku serius" Sasuke menggedikan bahunya santai.
Hana masih terlihat berkutat dengan fikiran nya sendiri sambil terus memandangiku. "Hana?" Aku bercicit takut kearahnya. "Kakak iparku 3 tahun lebih muda dariku?" Perkataan Hana terdengar mengambang dan membuatku mati kutu. Apakah Hana akan menolak ku?
"Kyaaaa! Menakjubkan! Aku akan mempunyai kakak ipar dan adik dengan rambut cantik sekaligus!" Hana memeluk ku erat sampai menyebabkan ku terbatuk-batuk. "Lepaskan, Hana!" Sasuke memisahkan pelukan Hana seperti seseorang yang cemburu.
"Yaa, sebenarnya tidak masalah soal usia, yang terpenting adalah melihat adik ku bahagia" Ucapan Itachi membuat kami melihat ke arahnya dengan tatapan kagum.
Sasuke mendengus keras "Whatever, Itachi. Katakan apa yang kau butuhkan sehingga kau berkata manis seperti itu, hm?" Tawa Itachi meledak saat mendengar penuturan Sasuke yang sangat Uchiha. Tak suka berbasa-basi.
"Baiklah, sebenarnya aku harus meninggalkan Konoha selama 3 hari, dan sepertinya aku harus menitipkan Mona disini" Itachi memberikan senyuman memohon kepadaku dan Sasuke secara bergantian.
"Tapi, aku harus berkerja dan Sakura juga masih sekolah. Kemana semua pelayanmu?" Sasuke mengerutkan dahinya bingung. "Mereka kompak untuk pulang ke kampung halaman bersama, tak tau apa alasan nya. Yaa, menurutku bagus kan? Mona disini dan kalian akan belajar mengurus bayi" Alis Itachi bergerak turun naik membuatku teringat perilaku Momma yang sedang menggoda seseorang.
Sasuke melirik ku meminta persetujuan, aku mengangguk sekali dan Sasuke langsung menyetujuinya dengan mudah. Aku lupa bahwa dia adalah 'Si baik hati'.
"Hei, hei. Kak Itachi, kak Sasuke. Bolehkah aku mewarnai rambutku seperti-"
"TIDAK!" Itachi dan Sasuke serempak memotong ucapan Hana yang belum selesai. "Padahal aku belum menuntaskan ucapanku!" Hana merengut sambil menggembungkan pipinya kesal.
"Karena kami tau kau selalu tertarik dengan warna rambut mencolok. Kemarin, ketika melihat Yugao kau ingin mewarnai rambut dengan ungu dan sekarang Sakura, kau ingin juga?" Itachi menggeleng tegas sambil melihat adik perempuan nya yang sedang menunjukan mode merajuk.
"Hentikan rajukanmu itu, kau tau itu tak akan mempan untuk ku dan Itachi" Sasuke memutar bola matanya bosan sambil mengecup dahi Mona dengan lembut.
"Ya, ya, ya. Tapi...Bagaimana dengan Sakura? Kau kan sudah menjadi salah satu keluargaku juga, bolehkah aku mewarnai rambutku sepertimuuuu~?" Hana tersenyum lebar seperti kucing cheshire di Alice in wonderland.
Sepertinya, pesona semua Uchiha memang memabukan. Tanpa kusadari, aku menjawab "Ya, tentu saja" Dan itu mengakibatkan 2 orang lelaki mengerang putus asa dan 1 orang waita bersorak kegirangan.
"Jangan biarkan dia mewarnai rambutnya lagi! Sakura, apa yang kau lakukan?" Sasuke mendesah kecewa. Aku menggedikan bahu ku "Dia sudah besar, ku rasa dia bisa lakukan apa yang dia suka".
"Ya, Saku tapi kau pasti tak inginkan melihatnya dengan rambut pink?" Itachi mengerenyit aneh ke arah Hana yang masih dengan euforia kesenangan nya.
"Kurasa dia akan cantik" Aku terkikik geli. "Dia akan aneh" Sasuke menyeletuk dan membuatku menatapnya tajam.
"Apa maksudmu selama ini aku itu aneh?" Aku berkacak pinggang menatap ke arahnya. "Oh, astaga tidak, bukan begitu maksudku, Sayang" Sasuke mengelus pundak ku sambil menunjukan cengiran nya yang merasa bersalah.
"Ya, kau bermaksud mengatakan itu! Jadi, selama ini kau menganggap ku aneh dengan rambut pink ku, hah?" Aku mendesis jengkel kearahnya, Sasuke menatapku horror sementara Itachi menganggap omelanku sebagai tontonan yang menarik.
"Tidak, Saki. Kau cantik, sangat cantik dengan rambut pink mu ini. Tapi, coba kau bayangkan bila Hana yang memakainya? Dia akan terlihat aneh" Suara Sasuke melembut, kontras dengan suaraku yang mendesis di setiap katanya.
"Tidak, dia tidak aneh." Sasuke mendekat kearahku dan mengusap pipiku dengan tangan nya yang tak menggendong Mona dengan lembut.
"Ya Sayang, dia akan aneh. Karena dia tak memiliki mata hijau ini sebagai pelengkapnya" Wajahku merona disaat yang tidak tepat. Sial. Kenapa Sasuke selalu membuat ku tersanjung disaat yang tidak tepat sih?!
"Iya kan? Kau pasti setuju dengan ku kan?" Sasuke masih mengusap pipiku. Aku mengangguk seperti terhipnotis akan kekuatan mata indahnya.
"Yes! Kau lihat sendiri kan? Hana! Kau tak boleh mewarnai rambutmu lagi!" Itachi tertawa puas melihat Hana yang sudah menunjukan raut bad-mood nya lagi.
"Lagi? Memangnya dia pernah mewarnai rambut sebelumnya?" Aku mengerutkan keningku penasaran.
Sasuke mengangguk dan menepuk rambutku dengan halus "Ya, dan dia mengikuti warna rambut Karin" Aku tercengang seketika. Astaga. Dia mengikuti warna rambut Momma? Kini aku mengerti kenapa Itachi dan Sasuke bersikeras tak membolehkan Hana mewarnai rambutnya.
Malam semakin larut, Itachi dan Hana sudah memutuskan untuk pulang sedari sore. Aku menggendong Mona yang sedang terlelap. Sasuke menghampiriku dan memeluk pinggangku dari belakang dengan mesra.
"Kau belum mau tidur, Sayang?" Sasuke menghirup rambutku dengan nikmat. Aku menggeleng sambil mengulum senyumku.
"Sasuke? Boleh ku tanya sesuatu?" Aku mendongkak untuk melihat Sasuke yang sedang mengangkat kedua alisnya dengan antusias. "Apakah Ibu Mona berkulit hitam?" Aku bertanya sambil memandangi wajah yang nampak seperti bidadari yang ada di dalam pelukanku ini. Sasuke tersenyum lembut. "Ya, tentu saja. Keluarga mereka semuanya berkulit hitam" Sasuke mengusap lembut rambut ikal Mona. Aku mengerutkan alisku "Apa maksudmu?"
Sasuke menarik nafasnya dengan lembut "Mona adalah anak angkat Itachi. Dia di adopsi oleh Itachi 1 tahun yang lalu saat Itachi bertugas di Afrika. Mona adalah salah satu anak yang tak diinginkan. Karena ibunya sudah memiliki 5 anak sebelumnya. Mereka beranggapan bahwa Mona adalah anak pembawa sial karena kelahiran nya memang tak diinginkan. Itachi memang aktif di lembaga sosial dan sering berpergian keluar negeri untuk membantu sesama. Tapi, baru kali ini dia membawa 'oleh-oleh'. Raut wajah Itachi saat menceritakan latar belakang mengapa Mona bisa dibuang sangat penuh dengan amarah. Tapi, beda saat dia sudah menceritakan hal apa saja yang baru dia lakukan bersama Mona. Dia terlihat sangat antusias dan bahagia"
Sasuke mengambil satu tarikan nafas untuk melanjutkan ucapan nya.
"Sejak saat itu, Mona menjadi bagian dari keluarga kami. Memang, banyak yang mengolok dan menyindir Itachi dan keluarga kami karena mengadopsi anak yang tak jelas asal-usulnya. Mereka tau bahwa Itachi belum memiliki seorang istri dan dengan beraninya, dia mengadopsi seorang anak. Banyak pro dan kontra terjadi disini. Tapi, bagaimana pun juga, Mona telah menjadi bagian dari keluarga kami. Dan kini, namanya adalah Uchiha Mona" Sasuke tersenyum lembut sambil terus memandangi wajah terlelap Mona dengan berbinar.
Aku tercengang mendengar penutusan Sasuke barusan "Apakah mereka bodoh? Lihatlah wajah damainya ini. Mengapa bisa wajah secantik ini dikatakan pembawa sial?" Sasuke mengangguk setuju "Ya, dia bahkan sangat cantik"
"Hati-hati, aku hampir saja cemburu" Aku terkekeh sambil melirik kearahnya. Sasuke memandangku dengan lembut dan seketika, kurasakan bibirnya menempel di bibirku. Lumatannya memang selalu membuatku mengerang nikmat.
"Lower your sexy moan" Sasuke menggodaku saat bibir kami terlepas. Aku memalingkan wajah bersemu ku darinya "Kau! Mona sedang tertidur, dan kau malah menciumku!"
Sasuke terkekeh geli "Dan kau membalasnya" Aku mengerucutkan bibirku dengan sebal. Sial. Dia menang lagi.
Big Love for:
Kim Sa Ra, Cherry, alif yusanto, christy21, ji nei, Sasara Keiko, Qren, zarachan, Greentea Kim, uchihaliaharuno.
Maafkan karena update yang tak sesuai jadwal
Karena banyak keperluan yang harus aku urus dahulu.. Hufttt..
Aku mulai mengenal lingkungan baru lagi. Dan beradaptasi lagi. Bertemu dengan orang-orang baru lagi.
Ternyata, gampang-gampang susah yaa -_-
.
And, Btw thank youu untuk semua orang yang sudah review!
Aku hanya balas beberapa. Maafkan aku! Lain kali akan aku sempatkan untuk membalas review nanti!
See yaa next chapter~
.
.
kendallSwiftie
.
.
