~Chapter 2~
Because of a Wallet
Summary
Gomen chapter pertama nggak ada summary nya,
jadi sekarang aja ( ̄  ̄;)
Typo, OOC banget, mungkin garing,
tapi paksa aja buat ketawa! ┐( ̄ヮ ̄)┌
RnR is awaits! (人^▽') ~
Yep, selamat menikmati krisis ceritakuuuu~
"Hahaha! Kamu kemarin di jemput sama si Yuta? Wah, bakalan lucu tuh! Gimana rasanya, Kan? Seru nggak? Huahaha!" tawa Miori-san membuatku menutup telinga rapat-rapat. Suaranya yang kelewat cempreng itu memekakkan telinga semua orang di ruang tata rias, tak terkecuali aku yang dijadikan bahan obrolannya.
Oke. Mungkin aku salah besar ketika menceritakan kisah yang begitu dramatis kemarin malam kepada Miori-san. Sebegitu dramatisnya hingga aku harus menahan air mata ketika menceritakannya. Kembali lagi ke Miori-san, dia itu temanku yang paling menyebalkan, ngomong-ngomong. Maksudku, satu-satunya temanku. Oke, biar kuperjelas, aku Cuma memiliki satu orang teman, yaitu Miori-san. Sudah jelas? Yah—well, sedikit menyedihkan sih. Walaupun dia senpaiku yang cantik dan sebagainya—tentu saja karena dia idol—tapi tetap saja dia tidak pernah memberikan saran yang membantu! Tapi tak apalah. Toh, senpai-senpaiku yang lain belum tentu mau mendengarkan ceritaku, apalagi memberi saran.
"Hallooo, Kanon! Emang nggak ada cowok lain yang lebih ganteng daripada si Yuta? Ini Sakae, dan kamu idol! Gimana kalo fans kamu liat kamu lagi dijemput sama sesosok Yuta yang menakutkan?! Mereka yang asalnya Kanon lovers bakalan beralih jadi Kanon haters! Parah. HAHAHAHA!" dia kembali tergelak dengan suara lantang seakan tawanya adalah pidato presiden. Kini, aku yakin semua orang di Summer Flow(?)—salah satu acara musik terkenal di Jepang—sudah menutup telinga.
Seharusnya aku tidak usah berteman dengan Miori-san dan memilih berteman saja dengan patung Hachiko. Aku Cuma ngeri kalau suatu saat Miori-san akan menyebut-nyebut soal jerawatnya Yuta—
"Ya ampun, Kan! Dan JERAWATNYA ITU LHO! Harapan kamu udah kekabul belum Kan? Itu lho yang nusuk jerawatnya si Yuta! HUAHAHAHA!" seakan semua orang yang lalu-lalang tidak memperhatikan, dia malah meneriakkan kata jerawat dengan amat sangat kencang. Aku ingin sekali menyumpalnya dengan hairdryer.
"Atau jangan-jangan, jerawatnya udah pecah?! Ya Ampun, Kan! Jangan bilang cairan dari jerawatnya itu udah kena kulit kamu! Argh! Jijik tau, Kan!" timpal Miori-san semangat sebelum dia mengucapkan 'Iwhh' sebagai penutup kata-katanya.
"Udah beres ngomongnya?" ujarku ngeri. Maksudku, ngeri kalau Miori-san masih ingin melanjutkan kata-katanya yang nyaris membuatku pingsan. Kalau iya, aku akan segera kabur dari tempat ini, atau jika keadaan semakin buruk, aku akan kabur dari Sakae dan menetap di Kutub selatan sebagai manusia iglo! Puas, hah, Miori-san?
"Sebenarnya sih belum," Miori-san berkata sambil menyeka air matanya seolah yang kuceritakan adalah kisah tentang perjuangan-seorang-ibu-miskin-demi-memberi-makan-anak-anaknya atau apa.
09.30. Aku melihat arlojiku yang berbentuk hello kitty yang ditaburi banyak glitter dan manik-manik imut berwarna pink pasta itu. Ehm, tolong jangan tanya kenapa aku membelinya.
09.30? Tunggu, rasanya angka ini tidak asing…
Tiba-tiba, tanpa peringatan, sesosok tangan yang katanya anggun menarik tanganku menuju backstage. Ralat, lebih tepatnya mencengkram tanganku menuju backstage karena 'menarik tanganku' kesannya terlalu lembut untuk cengkraman sekuat beruang liar milik Miori-san. Dan, aku sudah tahu dia akan apa.
"Buruan Kanon, sebentar lagi kita bakalan tampil! Oh My Gooood, telat satu detik saja kita bisa diajak gulat sama manager! ARGH! Kamu mikirin apa sih? Lama amat jalannya! Mentang-mentang baru dijemput sama YUTA yang BERJERAWATAN ITU YA! Oh ya, YUTA KAN MEMANG KANON'S MINE hihihi—" satu detik kemudian tawa Miori-san meledak di seluruh penjuru ruangan. Dan, aku yakin pada detik-detik berikutnya dia sudah terguling-guling di lantai akibat menertawai nasibku yang menurutku—yah, memang sangat apes. Tapi kan, tidak usah sampai segininya!
"Kanon adalah Yuta's mine! Kanon adalah Yuta's mine! Kanon adalah Yuta's mine~ lalala~Yuhuuu," ヽ(*⌒∇⌒*)ノ
Seakan dia adalah Ratu dari segala penderitaan, kini dia memperburuk pendengaran dengan bernyanyi, dan—suaranya itu lho—jujur, aku lebih menyukai suara jangkrik malah!
Oke, jika itu maunya, aku akan buat kisah hidupnya menjadi sedikit horror.
"Miori-san," aku menghentikan langkahku, membenamkan wajah di balik rambutku yang telah di acak-acak terlebih dahulu. Oh, aku sangat berharap bahwa aku sudah sangat mirip sadako. ( ̄^ ̄)
"Ya, Yuta's mine?" (─‿‿─)
Pokoknya, kejadian ini harus berakhir! Bersiaplah menuju akhir yang menyedihkan, Miori-san! Ahahaha!
Oke, mungkin aku terlalu terpengaruh video game milik adikku, tapi ini serius!
Aku segera berlari kencang ke arah Miori-san, dan—
"HIAAAA! RASAKAN INIIII~!" ヽ(#`Д´)ノ
~KanonPOV~
"Yak, beri tepuk tangan untuk SKE48! Flying Getto yang bagus sekali! Sekarang, tampilan berikutnya datang dari—" seru MC setelah kami selesai membawakan penampilan terakhir, dan boleh langsung kembali ke teater—atau tepatnya, tempat tongkrongan kami.
Aku sedang berlari-lari kecil menikmati keberhasilanku terhadap Miori-san saat sesosok tangan (lagi-lagi) memegang pundakku. Aku berharap itu Justin Bieber atau Jim Sturgess yang memberiku kejutan sambil memberi bunga!
"Kanon, kamu ngeliat Miori nggak?"
Oh. Aku salah. Maksudku, mana mungkin Justin Bieber menanyakan Miori-san dimana. Dan, mana mungkin Justin Bieber datang ke Jepang hanya untuk memberi bunga untukku, yang ada mungkin aku dilempar mic sama Justin Bieber karena berharap terlalu tinggi.
"Kanon! Denger nggak sih?" seru Kanako-senpai membuyarkan lamunanku yang kelewat indah itu. Aku balas melihatnya dongkol.
"Duh, lagi berharap JB kesini juga." Aku bergumam, entah Kanako-senpai mendengarku atau tidak. Tapi kurasa, sekarang dia sedang melihatku dengan tatapan terbingungnya. "Ada apaan sih? Minta bantuan apa lagi? Minta angkatin beras, karung, galon, apa lagi?"
"Angkatin jemuran! Ya nggak lah." Kata Kanako-senpai sambil melihatku, seakan aku ini tukang kuli atau apa. "Lihat Miori nggak? Ichikawa Miori. I-C-H-I-K-A-W-A M-I-O-R-I. Lihat nggak?"
Seakan aku ini anak TK yang baru belajar alfabet, dia mengeja kata 'Ichikawa Miori' dengan mulut terbuka lebar-lebar. Apa-apaan sih?
"Nggak! Udah ya, plis, Kanon sibuk! Jangan ganggu lagi!" kataku sambil mendelik jenaka dan setelah menjulurkan lidah sambil berkata 'WLEE' , aku berlari menjauh secepat mungkin sebelum kena lemparan higheels 17 cm milik Kanako-senpai.
~KanonPOV~
Aku melihat sekeliling sambil mengendap-ngendap. Kalau seperti ini, aksiku malah terlihat seperti penjahat yang baru terlibat kasus pembunuhan dan bermaksud lari dari polisi. Tiba-tiba, beberapa member SKE48 melewatiku bermaksud ke toilet. Aku buru-buru menempel ke tembok, berusaha bermimikri.
Huh, padahal rencanaku sudah hampir berhasil. Tapi, malah banyak orang begini. Batinku.
Aku terpaksa harus menunggu mereka semua keluar dari toilet, agar tindak kejahatan yang kuperbuat tidak ketahuan.
Satu menit
Lima menit
Lima belas menit
30 menit!
Cukup sudah! Mereka yang di dalam toilet sedang apa sih? Kalau ngegosip mana mungkin selama ini?! (Kecuali kalau mereka ternyata teman arisannya Yamakira dan sedang mengocok arisan di dalam toilet). Kalau mereka sedang mengeluarkan sesuatu-yang-tidak-usah-disebutkan mana mungkin sampai 30 menit! Lagipula mereka tak mungkin serempak mengeluarkan sesuatu-yang-tidak-usah-disebutkan itu pada waktu yang bersamaan. Memang sih, member SKE48 itu kompak, tapi kan dalam urusan membuang 'ITU' tidak usah kompak segala.
"KYAAAAA!" teriak dari dalam toilet.
Aku segera berlari memasuki toilet dan melupakan urusan penyamaranku. Aku melihat disana Kumi-san, Rikako-san, Tsukina-san, Momona-san dan Fuuka-san sedang melihat ke salah satu toilet dengan tatapan heran. Aku mengatakan 'Ada apa?' pada mereka dengan suara pelan sekali, takut terdengar oleh orang yang mereka heran-herankan.
"Ini, ada Miori-san," mereka menjawab sambil melihat kearahku dengan tatapan iba. "Mi-Miori-san? Kenapa kau disini?"
OH! Gawat! Mereka menemukan Miori-san! Untungnya, Miori-san tidak menjawab, karena kalau menjawab pertanyaan mereka, tamatlah riwayatku!
"Kanon, mau kemana kamu? Kamu tahu kenapa Miori-san bisa disini?" kata Fuuka-san memecah keheningan, sekaligus rasanya memecahkan tulang-tulangku sehingga tidak bisa bergerak.
Aku menggeleng, satu detik berikutnya, aku bermaksud kabur—
"Yuta's mine!" sial, mendengar dua kata itu saja rasanya aku sesak nafas! "Kemarilah! Cepat~"
Aku menunduk, tidak siap untuk omelan selanjutnya. Aku mendekatinya, berharap sesosok malaikat memberinya ilham agar dia menjadi baik.
Tapi—
Aku baru ingat, malaikat tidak mau mendekati Miori-san, melihat wajahnya saja aku yakin malaikat langsung kabur saking takutnya. Anggota SKE48 yang tadi berada di sini sudah meninggalkan kami berdua, mungkin karena takut terlibat pertengkaran pelik yang membawa mereka sampai ke pengadilan. Maksudku, aku yakin mereka tak mau repot-repot menjadi saksi dalam kasus 'Pertumpahan Darah di Toilet Summer Flow akibat dua member SKE48, Kimoto Kanon dan Ichikawa Miori'. Itu kan sangat tidak lucu!
"Aku kan Cuma—" aku membuka percakapan, bermaksud membela diri.
"DIAM!"
Tolong, seseorang keluarkan aku dari sini, bawa aku kemana saja, sebelum telingaku menjerit keberisikan! AAAK!
"WOY, Kan! Ngurung sih ngurung, tapi nggak usah di toilet juga kali! Argh! Baunya itu lho, emang tukang bersihin lantai pada kemana sih? Sekarang kan bukan 'Hari Libur Nasional Cleaning Service'! aku sih mau aja kalau kamu ngurungnya di Kamar Ganti Pria atau di Shopping Centre gitu!"
"Kalau disitu sih namanya bukan ngurung, tapi manjain kamu! Lagian—"
"Diem dulu, aku belum selesai ngomong!"
Siapa pun, bawa dia ke luar angkasa atau ke segitiga bermuda, TOLOONG~
"Pokoknya, gara-gara kamu, aku nggak bisa ketemu fans-fans Miori yang sudah kangen berat sama aku! Aku nggak bisa ngeliat lightstick dengan tulisan Miorin terpampang di udara. Aku nggak bisa ngeliat senyuman vvota yang bikin aku semangat, aku nggak bisa flying getto di atas panggung, aku nggak bisa—" Miori-san berkata dengan nada pura-pura sedih, sambil bergaya memeluk tembok untuk menghayati drama-nya. "Pokoknya, sebagai ganti sudah ngurung aku di WC, kamu harus temenin aku belanja!" seru Miori-san sambil mengacungkan telunjuknya tinggi-tinggi.
"Belanja?!" aku berseru lebih keras, tak mau kalah.
Miori-san mengangguk. "He-eh, belanja. Nggak tau belanja itu apa? Belanja itu membeli barang untuk memenuhi kepuasan hati atau memenuhi kebutuhan pokok. Ngerti?" kata Miori-san. Yap, lengkaplah sudah. Hari ini sudah dua orang yang menganggapku anak kecil yang super bego.
"Err. Please, umur aku 17 tahun dan aku sudah pernah belajar selama 10 tahun lebih. Ya aku ngerti lah belanja itu apa!" aku menarik nafas dalam-dalam. "Maksudnya, kenapa harus belanja? Males ah, pasti nggak ada model yang menarik," aku menggembungkan pipi, bermaksud sok imut. Oh, aku lupa. Aku memang imut.
"Di sekitar sini banyak kali model-model yang bagus-bagus, nggak Cuma di Sakae doang. Vintage, Cardigan, Cosplay Costume—"
"Cosplay Costume?!" mataku berbinar-binar. Hampir saja aku melompat dan menarik Miori-san supaya cepat berbelanja, tapi kuurungkan niatku, mengingat beberapa detik yang lalu aku pura-pura ngambek sama Miori-san.
Miori-san mengangguk. "Seneng kan? Tadi siapa yang nggak mau belanjaaa?"
Oh, aku yakin pipiku memerah sekarang saking malunya. "Kapan?" ujarku malu-malu.
"Tahun 3014! Ya sekarang lah!" Miori-san kembali berkata dengan kasar, membuatku menyesal sudah malu-malu tadi. "Bareng sama Kanako-san dan Rena-san. Hihi, pasti seru!" kata Miori-san dengan semangat kemerdekaannya, sambil berlari-lari seperti anak kecil keluar dari toilet.
Oh, pantas saja tadi Kanako-san menanyakan Miori-sanJ
"I'm Coming~" aku menyusul Miori-san dengan langkah lebar-lebar, supaya tidak ketinggalan.
~KanonPOV~
"Kanooooon! Lihat, banyak merchandise anime kesukaan kamu tuh! Yang video game-nya juga ada," ujar Rena-san membuatku berlari kearahnya. Awalnya aku menemani Miori-san dan Kanako-san belanja di toko yang kata mereka bagus banget. Padahal, disana Cuma ada kaus, cardigan, jeans, dan yang intinya membosankan! Seakan Rena-san adalah bidadari penyelamat, dia memanggilku di saat yang tepat, yaitu ketika Miori-san dan Kanako-san menyuruhku untuk membawakan beberapa belanjaannya.
"Bagus nih, lucu-lucu," ujarku sambil memilih mana saja yang ingin kubeli. "Emm, kalau kaus yanga ada gambar neko, background-nya bagus putih atau biru tos—"
Aku melihat sekeliling. "Re-Rena-san?"
Tak ada siapa-siapa. Orang-orang disini satu per satu pergi, entah kenapa. Suasana jadi agak sepi. Mungkin ada beberapa orang yang berlalu-lalang, tapi tak ada satu pun dari mereka yang merupakan teman-temanku. Aku berusaha tidak memikirkannya, mungkin toko sebelah sedang diskon sehingga mereka berbondong-bondong membeli pakaian disana. Aku selalu berpikir normal, kisah hidupku tidak mungkin horror begini. Hii, aku bergidik ngeri membayangkan jika hidupku seperti film The Conjuring dan tiba-tiba ada boneka Anabelle yang berwajah rusak disampingku—
"Kanon!" aku tersentak kaget, suara itu memang kukenal, itu jelas suara Rena-san. Tapi, aku takut jika suara yang memanggilku itu adalah Anabelle yang menyamar menjadi Rena-san atau Rena-san yang menyamar menjadi Anabelle. Argh, aku bingung. Aku memutar kepala, berharap itu 100% Rena-san tanpa ada sedikit pun unsur dari Anabelle.
"Re-Rena-san, ada apa sih? Kok cemas gitu?" Syukurlah, kini aku tidak usah mengkhawatirkan hidupku yang takutnya seperti film The Conjuring.
"Untung aku menemuimu, cepat pergi dari sini! Katanya, tempat ini berbahaya!" kata Rena-san dengan wajah pucat pasi dan berkeringat, pertanda hal ini yang sangat sangat buruk. Rena-san menarik tanganku keluar dari toko secepat mungkin, tanpa memedulikan wajahku yang dibanjiri keheranan.
Aku melihat ke belakang, bermaksud ingin tahu apa yang akan terjadi di toko ini, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda. Kini Rena-san sudah melepaskan tanganku, karena aku bilang aku bisa lari sendiri. Ketika sudah lama berlari, akhirnya kami bertemu Miori-san dan Kanako-san yang sedang menunggu di pinggiran toko yang sudah tutup.
"Fiyuh, untung kalian sampai juga, walaupun lama banget," ujar Kanako-san dengan 4 tentengan penuh belanjaan. Untung aku sudah terbiasa dengan Kanako-san yang memang Shopaholicgirl sejati. Kalau tidak, aku mungkin mengiranya sebagai perampok supermarket.
Mendengar Kanako-san berkata begitu, aku menunjukkan ekspresi riang dan segera mengekor mereka yang berjalan meninggalkan tempat ini, tempat misterius ini.
"Jadi, dari sini kita naik apa?" Miori-san berkata dengan ekpresi yang mengkhawatirkan, mungkin kelelahan.
Kita semua mulai berpikir. Mobil yang mengantar-jemput kami pasti sudah pergi, mengingat orang penakut seperti Pak Ono tidak mungkin betah berlama-lama ketika kejadian misterius terjadi di sini. Aku membayangkan jika Pak Ono berani menonton film The Conjuring sendirian di kamar gelap yang sepi pada jam 12 malam, kemudian datang boneka Anabelle disampingnya sambil berkata, 'Seru nggak, filmnya?'
KYAAAA! Lupakan soal Anabelle, lupakan soal The Conjuring!
"Sebentar, aku cari dulu map kota ini," Rena-san menambahkan, sementara aku menarik nafas dalam-dalam sambil melupakan khayalanku. "Nah! Ada nih, kereta yang menuju ke Sakae! Agak jauh sih, soalnya ngelewatin Perfektur Mie dulu. Tapi…"
"Tapi apa?!" teriak kami tidak sabar.
"Kesananya harus naik… andong,"
"Andong?!" teriak kami serempak. Kami tidak bisa membayangkan jika harus naik andong. Maksudku, siapa yang tahan bermenit-menit duduk dengan ocehan orang-orang di sekitar sini, misalnya, 'Hahaha! Liat tuh, member SKE48 miskin-miskin ya, masa pulang dari sini naek andong! Helooooo~!' atau yang lebih buruk, kami dilempari duit recehan seakan kami benar-benar kurang biaya sekadar untuk berkendara.
"Oh, nggak apa-apa sih." Kata Kanako-san datar, dijawab dengan anggukan oleh Miori-san dan Rena-san. Aku melongo tak percaya. Mereka ini dibesarkan di kampung atau dimana sih?
"Kita masih punya uang kan? Lebih buruk lagi kalau kita bener-bener nggak ada 1 yen pun. Bersyukur ajalah~" Kanako-san mencoba bijak, yang aku yakin itu hanya pura-pura untuk mendapat pujian atau tepuk tangan dari kita semua. Dari aku? Nol besar!
Mendengar kata uang aku langsung merogoh ke saku celana samping kananku. Tak mendapat apa-apa, aku merogoh saku yang satunya. Loh? Nihil, tak ada benda yang kucari sama sekali. Panik, aku langsung bertingkah seperti seseorang yang rumahnya kebakaran. Dimana dompetku?!
"Miori-san, liat dompetku nggak? Kok nggak ada ya? Tadi aku nitipin di Miori-san nggak?" tanpa basa basi aku berbicara langsung ke inti.
"Jangan bilang hilang," Miori-san berkata sambil melotot, seperti seorang ibu yang memarahi anaknya karena malas makan sayur atau pulang terlalu larut. Masalahnya, aku bukan anak kecil ataupun anak dari Miori-san (dan aku akan mengutuk diriku sendiri jika opsi yang kedua benar-benar terjadi), aku itu Kimoto Kanon yang sudah kehilangan dompet dan benda-benda berharga di dalamnya! Jika saja ini di kamar mandi rumahku, aku akan menyalakan shower dan menangis sejadi-jadinya!
"Nggak apa-apa lah, toh Cuma uang," ujar Miori-san datar seakan dompetku adalah mainan yang sekali pakai rusak atau semacamnya.
"Masalahnya bukan uang, tapi disana juga ada jimat berharga," seruku tak mau kalah. Kalau sampai benar-benar hilang, aku akan—
Detik berikutnya aku berlari menuju toko misterius tadi seolah bukan otakku yang mengintruksikan. Seolah aku berlari di bawah alam bawah sadarku. Aku berlari makin kencang, untuk dompet—maksudku, jimat berharga itu. Demi jimat berharga itu!
"Kanon!" aku bisa mendengar suara Rena-san, Miori-san dan Kanako-san memanggilku, diikuti desas-desus orang-orang disini dan tatapan khawatir mereka.
"Cuma sebentar, aku pasti selamat!" teriakku kepada mereka, sambil mengusahakan ekspresi ceria seperti Kanon yang biasanya, Kanon yang pemberani!
~KanonPOV~
"Dasar Kanon penakut!" bisikku pelan, sambil masih mencari benda berwarna pink pasta itu. "Tadi jatuh dimana ya?" (・□・;)
Aku merunduk, kadang merangkak, agar lebih mudah menemukan dompetku. Tapi susah sekali, cahaya disini sangat sedikit. Aku berpikir kalau pemilik toko ini pasti belum bayar listrik. Oh, disaat seperti ini aku masih bisa bercanda? Tidak boleh! Aku harus serius. Aku menajamkan penglihatanku, ya, walaupun hasilnya bukan benda yang kucari-cari, melainkan mataku menjadi perih.
DUKK!
"Aww," aku meringis ketika menyadari kepalaku membentur sesuatu. Dan setelah aku melihat lebih jeli, itu patung cosplay anime yang terbuat dari batu. Niat banget mereka. aku memegang kepalaku yang berdenyut kesakitan. Tuhan mungkin sedang senang-senangnya menguji kesabaranku. Tapi tiba-tiba, aku melihat seonggok benda berbentuk hello kitty berwarna pink pasta— (*゚ロ゚)
"Itu dia dompet—" aku menutup mulutku secepat kilat. Hampir saja aku berteriak saking bahagianya. Aku mengambil dompet malang itu, kemudian mengecek isinya. Lengkap. Jimatnya? Ada! Aku memeluk benda kesayanganku itu, kemudian menciuminya, lalu menyadari bahwa yang aku lakukan tadi sangat memalukan beberapa detik berikutnya.
Aku tidak mau terlena terlalu lama pada kecerdasanku, karenanya aku buru-buru keluar dari tempat mengerikan ini dengan langkah riang. Kalau saja tadi aku tidak terbentur patung batu sialan itu, mungkin sekarang aku masih mencarinya hingga besok malam, dan besoknya lagi, dan besoknya lagi, dan—
DOOOORR!
Suara tembakan yang mengenai kaca terdengar jelas di telingaku, seketika. Tanpa peringatan, membuatku kaget setengah mati. Oh, salah. Mungkin hampir mati! Bayangkan saja, ditempat sesepi dan segelap ini, lalu kalian mendengar bunyi tembakan! Itu menandakan bahwa kalian berada dalam tempat yang berbahaya, kan? Bagaimana kalau ternyata peluru pistol itu ternyata sudah mengenaiku, dan ternyata sekarang ini aku sudah mati, dan aku bermimpi sedang ada di toko yang super misterius sedang mencari dompetku, dan ternyata aku ini sudah menjadi hantu yang tidak dapat berinteraksi lagi dengan manusia! Oh, aku belum mau mati. Cita-citaku yang paling tinggi untuk jadi arsitek terkenal kan, belum terkabul!
Aku hampir saja mengucapkan selamat tinggal pada dunia ketika terdengar percakapan antara dua bapak-bapak. Aku rasa sih bapak-bapak, soalnya suaranya lumayan berat. Buru-buru aku melompat kearah tumpukan baju bermaksud bersembunyi, sekalian menguping.
"Bara ge upp, Tomoki.. du ska dö snart ändå. Före denna, bara ge det till mig den där tjejeni1"
Aku melongo, sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan bapak itu kecuali kata 'Tomoki'. Oh, mungkin bapak yang satunya bernama Tomoki. Dengan berbekal sok tau, aku kembali menguping percakapan mereka.
"Som tjej?2" ujar bapak yang memiliki suara yang agak halus daripada yang satunya.
"Spela intedum! Jag vet att Kimoto redan i dina händer3!" bapak yang bersuara serak berseru dengan lantang.
Tunggu. Kimoto? Apa itu ada hubungannya denganku?
Bapak dengan suara yang serak menambahkan. "Nulämna honom! Han är baraden enda som erkänt förbannade John, hans svikit vår organisation! Hanberättadeden här tjejenalla hemligheter i vår organisation sparas. Så länge vi fortfarande vet hemligheter andra, och fortfarande lagras i människor som inte ingår i organisationen, då kommer vi att förstöra alla bevis är med dem som lagrar!4"
"Woohoo, calm down. Let'ssolve this problem with English. Japanese maybe? Oh, I forget. You can't speak Japanese. So? We still want to play shooting? Haha," bapak yang bersuara agak halus itu tergelak datar, walaupun aku masih tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mungkinkah mereka membicarakan tentang aku? Jika iya, pasti tak jauh dari kecantikan Kimoto Kanon yang sudah mendunia ini, dan—
DOOORR!
Tuhan, jangan bunyi itu lagi.
"Don't play with me, Tomoki! Or my bullet could penetrate your head, FBI agent!"
"Naideshou, (Tidak akan)"
Itulah kata-kata penutup percakapan mereka yang diucapkan oleh bapak yang bersuara agak halus. Kini aku bersembunyi makin dalam di tumpukan baju, berharap mereka tidak akan melihat atau mencurigaiku disini. Aku mendengar langkah kaki yang sedang kejar-kejaran sambil sesekali bunyi tembakan pistol. Siapa pun, tolong keluarkan aku dari sini segera. Aku tidak mau mati konyol disini karena salah tembak atau kehabisan nafas di tumpukan baju atau apa pun itu!
Suara langkah kaki yang berat itu makin lama makin kencang. Teriakan kedua bapak itu juga makin menjadi-jadi. Mereka pikir tempat ini apa, sih? Tempat untuk pembuatan film action?
"CATCH ME IF YOU CAN!" bapak dengan suara yang agak halus berteriak lantang, kemudian tertawa mengejek dan diikuti hinaan kejam dari bapak yang satunya.
Tidak ada jawaban dari bapak yang satunya, justru mereka malah saling mengejar lagi. Lagi?! Oh, bunuh saja aku sekarang! Bagaimana caranya supaya aku bisa keluar?
Tiba-tiba, mulutku disekap dari belakang. Aku hampir saja berteriak jika seseorang dibelakangku tidak menyekapku lebih kuat. Aku gemetaran, siapa orang ini? Aku tidak bisa berbuat apa-apa, seperti semua tulang ditubuhku meleleh, mencair. Aku berkeringat dingin, yakin bahwa sebentar lagi aku akan mati.
"Diam," orang itu berbisik padaku, dan pada detik berikutnya aku yakin bahwa orang ini adalah bapak-yang-bersuara-agak-halus-itu.
Merasa tidak ditanggapi, orang ini bertanya padaku. "Orang Jepang kan?"
Aku mengangguk, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia bertanya seakan tidak tahu dia sedang berada di negara mana! Jika aku masih punya tenaga, aku akan meninjunya dengan karateku hingga dia memohon ampun padaku dan segera membawa keluar dari tempat ini. Tapi, itu sangat mustahil. Kemungkinannya nol besar!
Aku merasa kakiku tidak bisa bergerak lagi, sangat lemas. Kepalaku pening, dan benda-benda disekitarku kini hanyalah bayangan yang berputar. Seakan mengikuti perintah kakiku, kini seluruh tubuhku ikutan lemas, mungkin lebih lemas daripada seseorang yang terkena penyakit tifus. Aku merasa kondisi tubuhku memburuk, terus dan terus. Dan pada detik berikutnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.
~KanonPOV~
1Menyerahlah, Tomoki.. Sebentar lagi, kau juga akan mati. Sebelum itu, lekas serahkan gadis itu pada saya!
2Gadis yang mana?
3Jangan pura-pura bodoh, saya tahu Kimoto sudah ditanganmu!
4Sekarang serahkan dia! Dia cuma satu-satunya orang yang dikenal si terkutuk John, orang yang mengkhianati organisasi kami! Katanya pada gadis inilah semua rahasia organisasi kami tersimpan. Selama rahasia kami masih diketahui orang lain dan masih tersimpan di orang-orang yang tidak termasuk organisasi, maka saya akan melenyapkan semua barang bukti beserta orang yang menyimpannya!
