Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
'Cause I can't help it
If you look like an angel
Can't help that I if I want to
Kiss you in the rain so
Come feel this magic
I've been feeling Since I met you
Can't help it if there's no one else
I can't help myself
-Taylor Swift _Hey Stephan-
8
.
Sasuke pov.
Aku senang melihat Sakura menggembungkan pipi nya seperti itu. Dia sedang kesal. Sangat kesal.
Hari ini aku akan mengunjungi beberapa sekolah SMA untuk sosialisasi apa-dampak-negatif-pergaulan-bebas. Ya, walaupun tanpa aku beri tahu juga mereka pasti sudah cukup mengerti, tapi ada jadwal rutin komunitas di lingkungan ini.
Dan, Sakura yang memiliki keinginan untuk ikut bersama ku-karena dia yakin akan banyak sekali anak SMA yang menggoda ku- tak bisa ikut dikarenakan besok adalah ujian kelulusan untuk nya.
"Aku sudah pintar, Sasuke! Aku telah menghabiskan 1 tahun di kelas 3 ku untuk belajar! Aku ingin ikut dengan mu!" Sakura terus merengek sambil berguling-guling di atas karpet berbulu depan tv.
Aku menghirup nafas dengan tenang dan berusaha untuk tak menggubris nya, terkadang aku melupakan fakta bahwa aku mengencani seorang gadis muda; yang hormon nya masih tak seimbang.
Bukan berati aku tak mencintainya, aku sangat mencintainya . Hanya dia yang mampu membuat ku buta karena membelikan nya pembuat gelembung super besar tanpa memikirkan dampak nya pada ruangan apartement ku.
"Berhentilah merengek dan ambil buku mu, ingat besok itu adalah hari penentuan" Aku memasukan laptop ke dalam tas sambil melirik ke arah Sakura dari ekor mata ku.
"Tapi, aku-"
"Sakura" Aku memotong pembicaraan nya dan menggenggam bahu nya agar dia bangkit; dan menarik nya menuju pelukan ku.
Aku melihat airmata menggenang di pelupuk matanya, ternyata dia benar-benar ingin menangis.
"Kau percaya padaku kan?" Aku mengusap airmata yang meluncur ketika dia mengedipkan matanya.
Sakura tak menjawab dan menundukan wajah nya.
"Tatap aku, Saku" Aku mengangkat dagu nya dengan jari telunjuk ku.
"Aku tak mungkin tergoda dengan anak SMA yang-"
"Tapi aku anak SMA" Sakura mengerutkan dahinya kesal.
Aku menghembuskan nafas kasar,"Kecuali kau, tentu saja. Tapi berbeda dengan mereka, kita sudah mengalami banyak hal dan aku tak akan pernah menemukan anak sma yang mampu membuat ku hampir gila seperti ini"
Sakura memiringkan kepalanya, "Apa maksud mu?"
Aku mengusap wajahku kasar "Intinya, aku tak akan tergoda dengan siapa pun. Dan tolong bereskan noda sabun yang menempel di sana" Aku menunjuk area dekat balkon yang becek karena alat-pembuat-gelembung-super-besarnya.
Dia menunjukan cengiran bersalah nya dan menggaruk tengkuk nya "Aku.. well, aku hanya tak sengaja, alat itu sangat menyenangkan"
Aku menggelengkan kepalaku cepat"Tak mau dengar alasan, aku ingin kau bertanggung jawab karena itu ulah mu, dan..." aku melihat jam tangan, "Aku sudah terlambat. Sampai jumpa, aku mencintaimu" Aku mengecup dahi-hidung-bibir nya dengan cepat.
Aku merasakan dia tersenyum girang saat aku menekan beberapa kali bibirku dengan bibirnya.
"Aku juga, mencintaimu" Sakura meniup telingaku dan membuat ku bergidik, lalu melayangkan tatapan intimidasi kepadanya.
"Jangan membuat hariku hancur karena terus memikirkan mu, Saku"
Dia tersenyum tak bersalah " Aku hanya ingin membuat mu terus mengingat ku, Sasu"
Aku menghembuskan nafas kasar dan mengecup dahinya sekali lagi, "Pasti. Aku akan selalu mengingat mu. Baiklah, jaga diri dan ruangan ini tetap hidup, oke?"
Sakura memutar bola matanya jengkel "Ditinggal selama 8 jam oleh mu bukan berati kau akan menemukan bangkai ku setelah kau pulang nanti, Sasu"
Aku mengambil tas ku dan berjalan cepat menuju pintu, "Jangan lupa mengunci pintu dan jangan bukakan pintu kepada orang yang tak kau kenal, lihat dahulu siapa orang nya dari layar monitor"
Sakura kembali mendengus jengkel dan melemparkan boneka tangan ke arah ku, "Ya! Paman Sasuke! "
Aku tertawa saat mendengar nya memanggilku dengan sebutan paman lagi. Ya, memang faktanya adalah, aku mengencani seorang gadis SMA.
end Sasuke pov.
Sakura berbaring terlentang di atas karpet berbulu milik Sasuke. Kaki nya dinaikan ke atas tembok karena dia merasa lelah sehabis membersihkan noda sabun di dekat balkon.
Matanya terpejam sambil mengetuk-ngetukan pensil di dahi nya.
Ingatan nya kembali bergulir saat Ino menanyakan kemana dia akan melanjutkan studi nya selepas SMA.
"Haaahh, Ino akan mengambil kelas modeling dan pergi ke Tokyo. Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Sakura menjambak pelan rambut nya,karena hingga kini dia masih belum memutuskan kemana dia akan melanjutkan studi.
Sakura pun memikirkan beberapa macam pilihan dalam otak nya.
1) menuruti kemana momma pergi.
2) tetap tinggal disini dan mengganggu hari-hari Sasuke.
3) menjadi seorang artis.
4) menjadi istri Sasuke.
PLAK
Sakura menampar dirinya sendiri karena terlalu malu memikirkan opsi ke empat nya itu.
Menikah dengan Sasuke? Dirinya memang memikirkan hal tersebut, namun tidak secepat itu.
Sakura menatap langit-langit ruangan yang sengaja di cat sedemikian rupa, agar menciptakan suasana senja.
Gradasi warna sendu yang rumit namun menghasilkan aura positif yang menenangkan, sangat mirip dengan sifat yang Sasuke miliki.
Ingatan gadis merah muda itu berkelana menuju waktu dimana Sakura dan Sasuke dipertemukan pertama kali. Malu rasanya, bila mengingat bagaimana dia berkata pada Momma tak akan jatuh cinta pada Sasuke. Namun kenyataan nya, minggu pertama dia tinggal satu tempat dengan Sasuke, sudah menyisakan rasa penasaran yang mendalam.
Seperti, "apakah dia benar-benar tinggal sendirian disini?"
Sampai kepada pertanyaan yang menyangkut kehidupan pribadi Sasuke, "Apakah dia pernah membawa wanita ke kamar ini? Seperti apa tipe nya? Apakah dia pernah bercinta sebelum nya?"
Dan, rasa 'penasaran' itu pun tumbuh berkembang menjadi rasa tertarik dan ingin memiliki. Sakura tau dia masih terlalu muda untuk merasakan adanya cinta sejati.
Bahkan, Ino pun pernah berkata bahwa dirinya terlalu naif. Untuk gadis seumuran Sakura, memang normal nya merrka masih ingin bersenang-senang dengan 'mencicipi' berbagai macam jenis pria.
Namun, lagi-lagi, gen keras kepala milik Karin menurun sempurna ke Sakura. Sakura berfikir, dia tak butuh lelaki manapun di dunia ini asal bisa terus bersama dengan Sasuke.
Baginya, Sasuke telah mengambil seluruh 'pekerjaan' lelaki di hidupnya.
Sasuke melindunginya seperti seorang ayah, menyayanginya seperti seorang kakak, bercanda dengan nya seperti seorang teman, merajuk padanya seperti seorang adik dan tentu saja mencintainya, karena mereka memang sepasang kekasih.
Sakura tersadar dari lamunan panjangnya itu dan tanpa sadar, dia telah tersenyum sepanjang waktu hingga membuat pipinya pegal.
Buku bersampul biru langit diraihnya, dan halaman tengah menjadi tujuan gadis itu. Dengan perlahan, dia menulis sesuatu tentang perasaan nya pada Sasuke.
Tentu saja dia ingin Sasuke mengetahuinya, namun bukan sekarang waktunya.
Sakura pun tersenyum puas melihat hasil tulisan nya, hingga tak terasa matanya mulai memberat dan membawanya tertidur lelap.
"Sakura?" Sasuke memanggil gadis bersurai merah muda-nya itu. Dia tak habis pikir, kemana saja Sakura sampai tak menjawab 15 panggilan dan 30 e-mail darinya?
Baru saja pria bersurai hitam tersebut ingin mengutarakan kekesalan pada kekasih nya itu, hatinya langsung terenyuh ketika melihat Sakura yang sedang tertidur pulas di depan televisi.
Sasuke pun berjalan perlahan menuju Sakura agar tak membangunkan gumpalan merah mudanya itu, jas lab nya pun sudah tersampir rapi di sofa dekat perapian.
Sasuke duduk disamping tubuh Sakura yang sedang meringkuk sambil sesekali terdengar dengkuran halus dari nya.
Jari tangan Sasuke menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah manis Sakura yang sedang tertidur, tatapan nya beralih pada buku catatan Sakura yang teronggok disamping bantal.
Satu-persatu halaman di-cek nya untuk menemukan bukti bahwa Sakura benar-benar sudah belajar dan tidak menghabiskan waktu nya dengan suatu hal yang tak berguna, Sasuke mengangguk sambil sesekali tersenyum melihat hasil jawaban Sakura yang hampir benar semua.
Gadis itu memang jenius. Batin nya dalam hati.
Kening Sasuke berkerut ketika menemukan kata-kata yang tersusun rapi membuat sebentuk puisi kecil, yang tertulis di tengah halaman buku catatan nya.
"Kata-kata yang indah..." Sasuke terpana membaca hasil karya gadisnya itu, hingga tak menyadari sebuah kurva tipis melengkung di bibirnya.
Tak lama kemudian, dokter muda tersebut pun mendengus kecil dan mengambil pena yang berada tak jauh darinya; Sasuke menuliskan sesuatu dibawah puisi milik Sakura tadi.
Setelah puas menuliskan sesuatu tersebut, Sasuke pun merapihkan buku Sakura sehingga seperti sediakala sebelum Sasuke sampai.
Dengan lembut, Sasuke mengusap lengan telanjang Sakura. Tubuh tertidur itu pun perlahan-lahan membuka matanya diiringi erangan halus khas orang bangun tidur.
"Kau sudah pulang, Sasuke?" Sakura bertanya dengan suara serak nya.
Sasuke mengangguk pelan sambil tersenyum lembut, "Kau pasti sangat lelah" Sakura mengusap rahang tegas milik pria-nya itu, lalu menariknya agar menyentuh bibir Sakura.
Sakura mengecup pelan pipi Sasuke sambil tersenyum, "Selamat datang, Sasuke"
Sasuke tersenyum hingga kedua matanya menyipit, "Ya, aku pulang sayang"
Sakura menjauhkan wajah nya beberapa centi dari Sasuke dan menaruh punggung tangan nya ke arah dahi Sasuke.
"Ada apa?" Sasuke bertanya heran sambil mengerutkan kedua alis nya.
Sakura menggeleng perlahan sambil menunduk, "Tak apa, hanya aneh saja mendengar mu memanggil ku seperti itu. Ku kira kau sedang sakit"
Tawa Sasuke membahana ketika mendengar penuturan polos dari Sakura, "Apa salah memanggil kekasihku sendiri dengan sebutan sayang, hm?" Sasuke mengusapkan pipinya ke arah pucuk kepala Sakura yang masih tertunduk malu.
"Tidak... hanya saja, kau biasanya memanggil ku sayang jika..." Sakura tidak melanjutkan perkataan nya. Dan membuat Sasuke menaikan kedua alis; memandang nya bingung.
"Jika apa?" Ujar lelaki itu dengan sedikit nada penasaran.
Sakura menatap Sasuke dengan pipi yang bersemu, Sasuke pun tau bila ini adalah hal yang memalukan untuk Sakura bicarakan.
"Jika.. kita sedang bergelut di ranjang" Suara Sakura bak bisikan, namun tetap terdengar oleh indra pendengaran Sasuke yang segera meremang ketika mendengar jawaban dari Kekasihnya itu.
"Oh My..." Sasuke mengusap kasar wajah nya sambil memangkas jarak antara dia dan Sakura.
Sakura mengerjapkan matanya bingung, "Ada ap-"
"Tenanglah, Sasuke.." Sasuke bergumam pada dirinya sendiri dan semakin membuat Sakura kebingungan.
Setelah menghirup nafas panjang, Sasuke pun akhirnya memberikan penjelasan kepada Sakura, "Kau akan selesai ujian kapan, Saki?"
"Mmm, Kamis"
"Setelah itu, kau free?" Sasuke masih memijit kening nya.
"Ya, tentu. Sampai ujian masuk kuliah" Sakura menjawab sambil melihat kalendar yang berada tak jauh dari tempatnya sekarang.
"Baiklah, 4 hari lagi." Sasuke bergumam sambil menghirup nafas dalam-dalam untuk merelaksasikan dirinya sendiri.
"Apa yang kau maksud? mengapa dari tadi kau bergumam sendiri?" Sakura bertanya hingga membuat kening nya berkerut penasaran.
"Kau tau? ini sudah hampir genap 3 minggu aku tak menyentuh mu. Ini sangat menyiksa ku, mendengar kau mengungkit hal itu tadi. Membuat ku hampir tak bisa menahan nya. Tapi tentu saja, aku tak ingin membuatmu hilang konsentrasi saat ujian karena selagkangan mu sakit"
"E-eh? APA?!" Sakura berteriak nyaring setelah mendengar kata-kata vulgar yang entah mengapa terasa enteng mengalir dari bibir Sasuke.
"Tapi, tenang saja. 4 hari lagi, akan ku pastikan kau tak akan bisa berpaling dariku" Sasuke menatap Sakura dengan penuh hasrat dan mendekatkan wajah nya ke arah Sakura yang reflek memundurkan wajah.
"Karena, aku akan menyetubuhi mu dengan sanhat keras. Sasuke berbisik tepat di depan telinga Sakura dan meniupkan udara panas dari bibirnya.
"KYAAAAA!" Sakura berteriak sampai terjungkal kebelakang.
"Kau kenapa?" Sasuke bertanya dengan wajah innocent.
"Kau yang kenapa!" Sakura menunjuk Sasuke dengan tatapan menuduh.
"Aku tak percaya kau sempat memikirkan itu semua! Dasar paman mesum!"
Sasuke terbahak mendengar panggilan itu keluar lagi dari mulut Sakura.
"Hei, jangan menuduhku sembarangan, karena seingatku, ada seorang gadis yang tampak nya sangat frustasi seksual. Hingga menyentuh dirinya sendiri sambil menggumamkan nama paman nya" Sasuke menaik-turunkan kedua alisnya dengan seringai yang tak kunjung padam. Menunggu reaksi wajah Sakura yang telah memerah sempurna.
"A-apa maksudmu?! Bagaimana kau..." Sakura tak mampu berkata-kata lagi dan memilih untuk menutupi kedua wajahnya dengan boneka panda, dia sangat malu karena tertangkap basah sedang melakukan mastrubasi oleh Sasuke.
Sial! Kini Sakura sangat menyesal tak mengunci kamar nya terlebih dahulu.
"Oke, oke. Bagaimana kita lupakan perkataan ku barusan. Tapi, kau harus menuruti permintaan ku" Sasuke menyingkirkan boneka yang menutupi wajah Sakura yang merah sempurna.
Tatapan Sakura bertanya 'apa lagi mau mu'
"Aku ingin, kau menciumku hingga aku kehabisan nafas" Sasuke menyeringai dan mendekatkan hidunya hingga menyentuh hidung mungil milik Sakura.
Tak ada pilihan lain, Sakura pun segera melingkarkan tangan nya ke arah leher Sasuke dan menubrukan bibir kemerahan itu bersama.
Sakura langsung membuka bibirnya dan membiarkan lidah Sasuke mengamuk di dalamnya, satu erangan lolos dari Sakura ketika lidah Sasuke menjangkau langit-langit mulut miliknya.
Sakura melepaskan sejenak ciuman itu dan mendorong Sasuke agar berbaring terlentang di bawahnya.
"Jangan lupa, kau yang menyuruhku untuk mencium mu. Jadi, aku yang ambil kendali" Sakura menyeringai dan mencium Sasuke dengan penuh gairah sebelum pria itu sempat mengutarakan pendapatnya.
Sasuke tak habis fikir, Sakura si gadis polos; yang dia kenal beberapa bulan yang lalu. Telah berubah menjadi, Sakura wanita paling menggairahkan yang pernah Sasuke temui seumur hidup nya.
Entah darimana, wanita merah muda-nya itu mempelajari segala macam trik ciuman yang bahkan, Sasuke saja belum mencoba nya.
Sasuke menyeringai sambil mengatur nafas nya ketika Sakura menyudahi ciuman berhasrat nya itu. Rambut merah mudanya sudah tak beraturan dan penuh dengan keringat; menambah kesan seksi yang membuat Sasuke harus lebih berusaha untuk mengontrol diri, agar tak merobek celana pendek sialan milik Sakura.
"Sudah?" Sakura ikut menyeringai sambil bangkit dari tubuh Sasuke.
Sasuke mengangguk dan ikut bangkit bersama Sakura, "Kurasa, cukup. Aku harus..."
ucapan Sasuke terpotong karena denyutan di pangkal pahanya terasa semakin menyiksa.
Sakura memiringkan kepalanya, "Ada apa dengan mu...OH!"
Wanita berambut merah muda itu segera mengerti ketika matanya menangkap tonjolan besar yang terlihat menyiksa Sasuke itu.
"You should go to the bathroom" Sakura menunjukan wajah innocent nya sambil menunjuk pangkal paha Sasuke.
"Yeah, i need a cold water. Very cold water" Jawab Sasuke sambil berlalu menuju kamar mandi dengan sesekali mengerang tertahan.
Imajinasi nya sudah terlampau jauh dan junior nya yang sudah tak mau berkompromi lagi.
Sakura hanya menghembuskan nafas lega nya ketika melihat Sasuke sudah memasuki kamar mandi.
Untung saja, Sasuke memiliki pengendalian diri yang cukup baik. Tentu saja Sakura tak ingin besok hilang fokus, dikarenakan nyeri di area kewanitaan nya.
Absen 3 minggu bisa menyebabkan Sasuke menjadi liar, seliar-liar nya. Dan Sakura, tentu saja harus mau meladeni sisi liar Sasuke yang akan keluar nanti.
"Sudah siapkan semuanya?" Suara momma terdengar menggurui dari smartphone milik Sakura yang sengaja di aktifkan speaker nya, agar terdengar keseluruh penjuru dapur.
Gadis bersurai pink tersebut memutar bola matanya-entah untuk yang berapa kali- momma sudah menanyakan hal itu sejak pertama dia menelepon Sakura di pagi buta.
"Sudaaaah mommm" Sakura menjawab sedikit menjerit sambil mengoleskan roti nya dengan selai kacang.
"Jangan lupa pakai seragam yang benar dan sopan! Jangan gunakan rok yang keterlaluan pendek itu dulu!"
Sakura menghembuskan nafas nya lelah.
"Ya mom! Kau dan Sasuke memang sepemikiran tentang rok pendek itu! Kini aku mengenakan rok panjang selutut yang terlihat kuno"
Suara tawa Karin membaha hingga membuat Sasuke yang baru nuncul dari kamar mandi mengerenyitkan dahinya.
"Mimpi aku aku semalam? Pagi-pagi buta sudah mendengar cekikikan iblis merah"
"Aku bisa mendengar mu SasuGay!" Karin berteriak jengkel ke arah Sasuke yang kaget mendengar panggilan yang sudah lama tak terdengar itu.
"Astaga, jadi ternyata kau ini Sasu-Gay?" Sakura menahan tawa nya melihat Sasuke yang masih tak berkutik di tempatnya.
"Ya, Sweetheart! Dulu dia dijuluki Sasu-Gay karena tak pernah terlihat bersama dengan seorang wanita!"
Tawa Karin semakin kencang diiringi Sakura yang yang memandang Sasuke dengan seringai jahilnya.
Sasuke berjalan menuju smartphone itu berada, dan dia berkata dengan percaya diri,
"Itu kan dulu, dan tak ada bukti yang memperkuat nya. Karena pada kenyataan nya, saat ini, aku selalu berhasil membuat Sakura-putri mu- berteriak minta lebih ketika aku menyetubuhi nya"
"A-APA?!…"
Klik.
Sambungan telpon diputus sepihak oleh Sasuke, dan langsung di non-aktifkan sehingga Karin tak bisa menelpon nya lagi.
"H-hey! Kau tak perlu berkata seperti itu juga!" Sakura menatap horror Sasuke dengan wajahnya yang sudah merah padam.
Sasuke menggedikan bahu nya enteng, "Tak usah dipikirkan, kau sudah siap?"
Sakura mengangguk sekali, masih merundukan wajah nya-tak mau menatap Sasuke.
Hai semua! Setelah sekian lama Hiatus, karena harus mengurus segala macam tetek-bengek perkuliahan dan organisasi yang membuat ku harus berfikir 2 kali lipat, juga UAS yang benar-benar menjadikan otak ku GWUAAAAHHHGWUAAAAHHHH!
Belum lagi, menunggu hasilnya yang bikin jantung deg degan! But, its over now!
Akhirnya aku bisa kembali lagi dan melanjutkan cerita yang sudah lama terbengkalai hingga berdebu-kaya hati ini-,-
Dannn mohon maaf kalau di cerita ini banyak sekali typo dan salah salah penggunaan kata(udah lama ga berimajinasi jadi aga mampet sedikit)
OIYA! aku mengganti nama ku yang tadinya KendallSwiftie menjadi Nala Kenny. Banyak alasan yang membuatku merubah nampen kuu..(Termasuk karena merubah nampen itu gratis yaa jadi gausah segala buat nasi tumpeng)
Dan untuk xxboomclapxx. Udah yaaaa lu gausah ketawa,ngejek gua lagii kalo ngeliat nama gua nge review pada bahasa baku! Gua udah ganti namaa! jadi, berharap lu ga ngenalin gue lagi! #BHAYY:P
wkwkwkwkw
Dan sekarang, kalian bisa memanggil ku Nala~ Kenny diambil dari nama panggilan Kendall(and i still love her!)
Dan kalau kalian berkenan, sangat dianjurkan untuk mengisi kolom review yang ada, kritik dan saran yang membangun sangaaaaatt aku butuhkan! Maaf jugaa karena ga bisa membalas review kalian satu persatuu tapi itu ga membuat rasa cintaku berkurang pada kaliaan *Mwuahh
atauu kita bisa berbincang manjaa di pesan! Sangat senangg bisa berinteraksi dengan cinta-cintaku semua~
Gua rasa cukup yaa ngebacot nyaa, sampai bertemu di chapter selanjutnyaaa atau di cerita selanjutnyaaa
FYI, new romantics kayanya tinggal 2 chapter lagi deh (?)
See yaa in the next chapter!
-Bogor, februari 2017-
