Disclaimer: Masashi Kishimoto


.

Breakin' down and coming undone

It's a roller coaster

Kinda rush

And I never knew I could feel that much

And that's the way I loved you

-Taylor Swift_ The Way i loved you-

.

.


9


1 minggu setelah hari kelulusan Sakura.

Sasuke mendecak ketika mendapati orang yang ditunggu tak kunjung datang. Sudah hampir 30 menit dia menunggu di cafe-yang entah apa namanya- bahkan kopi hangatnya sudah mendingin sejak tadi.

Pria bersurai kelam itu mengendurkan otot leher yang terasa keram karena perjalanan yang baru saja ditempuh nya.

Seharusnya, dia beristirahat terlebih dahulu di hotel, bukan nya menemui sahabat anehnya langsung setelah menginjakan kaki di negara milik Kim Jong Un ini.

Iris hitam milik Sasuke berpendar ke arah seluruh penjuru ruangan. Tak banyak pengunjung di cafe ini, jumlah nya bahkan bisa dihitung oleh jari. Mungkin itu salah satu alasan, mengapa sahabatnya memilih cafe ini untuk tempat mereka bertemu.

Sejujurnya, sampai saat ini pun dia tak mengerti mengapa bisa sampai di sini-Korea Utara- padahal seingatnya, tadi sore dia baru saja berbincang dengan Sakura. Dan memilih berbohong kepada gadisnya itu; mengatakan kalau ada tugas kedokteran menuju daerah terpencil.

Yang faktanya adalah, dia sedang berada di negara lain, dengan kopi yang sudah mendingin, menunggu sahabat tercinta nya.

"Ho ho ho? Lihat, siapa yang datang jauh-jauh untuk menemui ku hmm?" Suara yang tak asing lagi di indera pendengaran nya.

Sasuke menoleh ke arah sumber suara yang berjalan mendekat ke arah nya.

"Kau telat 31 menit 19 detik, Karin." Sasuke langsung to the point, sesaat Karin mendudukan dirinya di kursi berhadapan dengan Sasuke.

Iris ruby milik Karin berotasi mendengar perkataan Sasuke yang memang sangat benci dengan ketidaktepatan waktu.

"Maafkan aku, Sasugay! Kau tau sendiri tugas dokter penjaga itu seperti apa kan? melelahkan!"

Sasuke tak menggubris keluhan Karin, "Terserah lah. Kau harus mentraktir ku kopi lagi, karena kopi ku sudah mendingin sejak tadi"

Karin tersenyum penuh semangat, "Baiklah! pesan saja sepuas mu! Karena sekarang, kau adalah tamu disini"

Sasuke menyunggingkan senyum nya melihat aksi Karin yang ekspresif; sama seperti putri nya.

"Oke, sebaiknya aku langsung ke intinya saja. Ada urusan apa kau datang kesini, Sasuke?" Karin melipat kedua tangan nya diatas meja. Berusaha untuk serius.

Sasuke menggedikan bahu nya santai, "Hanya ingin saja"

Karin mendengus jengkel dan mendaratkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Dari dulu, kau bukan pembohong yang baik, Sasuke. Kau tau itu"

Sasuke mengerjapkan matanya bingung, "Apa maksud mu?"

Karin merotasikan bola matanya dan menunjuk dagu nya sendiri, "Dagu mu selalu mengkerut bila kau berbohong. Seharusnya kau sadar itu, aku dan Naruto saja sudah menyadarinya"

"Jadi, kau tak bisa mengelak lagi. Apa tujuan mu yang sebenarnya datang kesini?" Karin menyipitkan matanya ke arah Sasuke yang mulai terlihat tak nyaman.

"Aku hanya-"

"Kau tak mungkin hanya iseng datang ke sini. Apalagi kau itu tipe orang yang tak mau ribet. Jika ada sesuatu yang penting sekalipun, kau memilih untuk mengabariku lewat telpon. Bukan langsung menghampiri ku langsung seperti ini."

Karin langsung memotong perkataan Sasuke sebelum lelaki itu mengelak lagi.

"Jadi, aku bertaruh. Pasti ini sesuatu yang sangat penting" Ibu tunggal itu pun mengakhiri dugaan nya sambil menggigit biskuit lemon miliknya.

Sasuke mengangkat kedua tangan nya diudara, "Baiklah, aku menyerah. Aku memang tak bisa mengelak dari mu"

Karin menyeringai dan mengambil biskuit kedua nya.

"Lalu?"

"Baiklah.." Sasuke mengirup nafas nya, menyiratkan kegugupan yang tersembunyi.

"AkuinginmenikahiSakurarencananyaakhirtahunini"

Sasuke berkata dengan secepat kilat, namun terdengar cukup jelas di telinga Karin.

"A-apa?!" wanita berambut api itu menjatuhkan kepingan terakhir biskuit lemon nya ke arah meja.

Sasuke menatap Karin dengan penuh keyakinan.

"Bisa kau ulangi lagi? Tapi dengan perlahan." Karin berusaha mengontrol emosi nya yang seperti mau meledak.

Sasuke melipat bibirnya ke dalam dengan gugup, ini aneh. Dia tak pernah merasa segugup ini di depan orang lain. Bahkan, saat presentasi di depan para profesor hebat sekalipun, dia tak merasakan demam panggung.

Mungkin, karena ini menyangkut masa depan nya, apalagi berhubungan denga Karin yang notaben adalah sahabat nya sendiri. Sasuke menjadi merasakan apa yang dinamakan 'Seakan-akan ini adalah hari terakhir dalam hidup mu'

"Aku ingin menikahi Sakura. Rencana nya, akhir tahun ini."

"Uhuk!" Karin tersedak ludah nya sendiri saat mendengar penuturan Sasuke yang terdengar gugup namun lugas.

"Apa yang kau fikirkan hah?!" Karin menggebrak meja nya-tak terlalu keras- dia tak ingin menarik perhatian para pelayan.

"Aku.. aku tau ini terdengar gila?" Lelaki bersurai hitam itu menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.

"BUKAN ITU YANG KU MAKSUD!" Karin mengepalkan kedua tangan nya di atas meja, menahan diri untuk tidak menonjok pipi mulus Sasuke.

"Kau!" Karin menunjuk Sasuke dengan tatapan penuh intimidasi.

"Dengar, walaupun kita sudah berteman dekat sejak dulu, itu tidak merubah sesuatu tentang hal ini, Sasuke! Ini menyangkut masa depan putri ku! Satu-satu nya putri ku!"

Karin menekankan beberapa kalimat diakhir perkataan nya.

"Itu sebabnya aku datang kemari, Karin. Karena aku tau, ini tak akan semudah membalikan telapak tangan" Sasuke berdeham untuk menetralisir rasa gugup nya.

"Hah! Tentu saja tak akan mudah! Kau datang kesini untuk meminta restu ku, bukan?"

"Ya-"

"Sebaiknya, lupakan saja." Ujar Karin sambil bangkit dari tempat duduk nya.

"Apa?" Sasuke memandang Karin, meminta penjelasan.

"Lupakan saja rencana mu untuk menikahi Sakura. Lagipula, dia masih terlalu muda. Aku pun masih belum bisa menjadi ibu yang baik sepenuhnya untuk dia."

Karin berkata tanpa memandang ke arah Sasuke.

"Pulang lah, dan lupakan semua nya." Karin mengambil tas jinjing nya dan berjalan tergesa keluar cafe.

"Ah?! HEI!" Sasuke menaruh beberapa uang diatas meja dengan terburu-buru, dan berusaha mengejar Karin yang sudah menyetop sebuah taksi.

"KARIN! hei! Tunggu! Aku belum selesai biacara!" Pria bersurai kelam itu mengetuk jendela taksi yang hampir berangkat.

Namun, Karin tak menggubris dan memilih untuk menyuruh sang sopir menjalankan mobil nya.

"Sial..." Sasuke menatap hampa taksi yang membawa Karin sudah melaju ke arah pusat kota.

Jemari nya merogoh salinan dari puisi kecil yang Sakura buat di buku catatan nya.

Yang Sasuke inginkan hanya lah, bahagia bersama gadis merah jambu itu. Memang, Sasuke sebelumnya sudah tau jika meminta restu dari seorang Haruno Karin, tidaklah mudah.

Tapi, dia tak menyangka akan begini jadinya.

Tadi itu, Karin benar-benar menunjukan ekspresi dingin, keras kepala dan tak terbantahkan.

Dia seperti bersikeras menentang semua niat baik Sasuke dan takut merasa kehilangan.

Terkahir kali Sasuke melihat Karin ber ekspresi seperti itu, ketika mending suami nya, Haruno Kizashi. Dikabarkan meninggal secara mendadak.

Tunggu.

Sasuke membulatkan matanya, wajahnya menunjukan bahwa sesuatu telah mengilhami pikiran nya.

Mungkin, Sasuke tau apa yang membuat Karin bersikeras menentang pernikahan antara dirinya dan Sakura.

Barusan, Karin mengatakan 'Sakura masih terlalu muda, aku pun masih belum bisa menjadi ibu yang baik untuknya'

Itu yang dia katakan! Tidak ada kata ' aku tolak' atau 'aku tak setuju' disana.

Sasuke memasukan kembali kertas itu kedalam saku dan meraih ponsel pintar nya untuk mencari nama seseorang yang sudah sangat akrab dengan nya itu.

Dia bersyukur, memiliki kakak cerdas yang mampu diandalkan disaat-saat genting seperti ini.

Satu panggilan terhubung, diujung telpon terdengar suara bersemangat khas pria pemilik rambut hitam panjang itu.

"Holaaa, adik ku tersayang! Apa yang membuat mu-"

"Tolong. Carikan dimana posisi Karin saat ini"

Sasuke segera memotong perkataan Itachi. Itachi yang terlalu kaget karena mendengar kata 'tolong' dari Sasuke langsung mengiyakan permintaan adik nya itu.

"Oke, oke! aku tak mengerti apa yang sedang terjadi, namun..." Perkataan Itachi menggantung.

"Hoi! Itachi-bodoh! Ada ap-"

"WHAT?! SEKARANG KAU ADA DI KOREA UTARA?! APA YANG KAU LAKUKAN DISANA BODOH!?"

Sasuke harus menjauhkan ponsel nya beberapa centi dari telinga agar tidak menjadi tuli karena teriakan Itachi yang berlebihan itu.

"Sudah jelas bukan? tentu saja untuk menemui Karin"Ujarnya sambil menghembuskan nafas lelah.

"Iya, aku tau itu! Tapi kenapa harus jauh-jauh kesana?! Sebenarnya, eh..."

Jeda beberapa saat terjadi di ujung telpon, lalu dengusan kasar diiringi suara tawa terdengar bersautan.

"Kau sangat serius dengan gadis merah muda itu eh? sampai-sampai menyusul ibunya untuk mendapatkan restu?"

Sasuke setengah menyeringai, kakak nya itu selain cedas juga mempunyai instusi yang cukup akurat. Jadi, Sasuke tak perlu panjang lebar menjelaskan keberadaan nya di negara orang ini. Walaupun, terkadang kakak nya itu suka berbuat onar dan sembarangan-tak tau umur.

"Tapi, aku yakin Karin tak begitu saja mengizinkan mu kan? Well, mendengar mu meminta tolong padaku seperti ini, kuyakin setidak nya kau sudah memiliki sedikit alasan mengapa Karin menolak mu mentah-mentah, ya kan?"

Lagi-lagi, Sasuke tersenyum bangga. Kakak nya itu memang patut diacungi jempol dalam menebak hal-hal seperti ini.

"Yaa, kuharap. Aku benar-benar sudah mempunyai alasan itu"

"hmm, baiklah! Posisi Karin sudah ku kirim ke e-mail mu! Dan juga, aku sebagai kakak mu hanya ingin berkata, SEMANGAT SASUGAY BODOH! JANGAN MUDAH MENYERAH! "

Sasuke mendengus kesal sambil menutup sambungan telpon itu, dilihat nya layar smartphone yang sudah mengirimkan hasil pencarian Itachi barusan.

Dokter muda itu pun meremas smartphone nya menyiratkan semangat.

Dia tau. Sasuke tau hal yang membuat Karin enggan menyetujui pernikahan Sakura dengan Sasuke.

Karin, hanya tak ingin kehilangan lagi.

Itu dia kunci nya. Sasuke hanya perlu meyakinkan Karin sekali lagi, jika dirinya tak akan kehilangan Sakura, atau sahabat nya.


Karin meremas figura photo itu dengan erat. Airmata nya tumpah seketika dia memasuki apartement nya.

Rasanya sakit, sangat sakit sekali. Permintaan Sasuke untuk menikahi Sakura seperti membangkitkan kenangan buruk nya.

Karin hanya tak ingin kehilangan lagi. Dia tak ingin kehilangan putri semata-wayang nya. Perkataan Sasuke terlalu mendadak; terlalu frontal. Bahkan, Karin tak bisa berfikir jernih ketika kata-kata tersebut keluar begitu saja dari bibir Sasuke.

Jika saja keadaan nya disaat dia sudah matang. Pasti Karin akan langsung menyetujui nya.

Hal yang paling membahagiakan apalagi selain melihat 2 orang yang kau cintai bersatu?

Dia sangat ingin melihat Sakura-putrinya- dan Sasuke-sahabatnya- terikat dalam pernikahan.

Tapi, saat ini usia Karin bahkan belum genap kepala 4 dan dia masih ingin bersenang-senang dengan putri nya, dengan sahabatnya.

Karin belum siap melihat Sakura-nya dibawa pergi oleh Sasuke. Jauh darinya-terpisah. Dan Karin akan sendirian lagi, dia akan di tinggalkan lagi.

Tidak. Karin tak ingin seperti itu.

Tapi...

Melihat bagaimana perjuangan Sasuke, hingga menemui nya disini hanya untuk mengantongi kata 'Ya' darinya, tentu menjadi suatu hal yang lagi-lagi membuat hatinya bimbang.

Apakah tindakan nya kali ini benar?

Sasuke pasti saat ini sedang kecewa, kecewa akan dirinya. Tatapan mata nya tadi menunjukan bahwa lelaki itu secara mendadak terluka oleh perkataan Karin.

Karin tak bermaksud melakukan itu, dia tak ingin menyakiti sahabat nya sendiri. Namun, di lain sisi dia tak ingin kehilangan putri nya sendiri.

Karin terisak semakin dalam dan semakin merapatkan kedua kaki nya- memeluk figura foto yang berisi dirinya, Kizashi dan Sakura sedang tersenyum bahagia di hanami terakhir mereka bersama.

"K-kizashi... a-apa yang harus ku lakukan?" Karin sampai gemetar saking hebatnya dia menangis.

Kreekk...

Suara jendela balkon terbuka membuat wanita berambut merah itu memusatkan pandangan nya ke sumber suara.

Karin tak dapat melihat dengan jelas, kacamata milik nya entah berada dimana dan ruangan sangat gelap karena lampu belum dinyalahkan dan hari sudah beranjak malam.

Namun, dia melihat sekelebat bayangan hitam masuk dan menghilang kembali di balik lemari.

"S-siapa disana?!" Karin bangkit dari duduk nya dan meraba sekitar untuk menemukan kacamata.

Trak trak

Suara benda bersinggungan membuat Karin mengurungkan niat nya untuk bangkit dan memilih duduk sambil memeluk kedua lutut nya erat.

"H-hei, siapa itu? aku dapat mendengar mu!" Suara Karin gemetar, karena tangisan yang baru mereda dan ketakutan.

Wanita itu dapat merasakan lantai kayu nya berderit sedikit dan seseorang melangkah maju mendekati nya.

Karin semakin merapatkan diri dan merundukan kepala ketakutan.

Baru saja dia ingin berteriak minta tolong-karena seseorang tersebut sudah berada tepat dihadapan nya- Karin mengurungkan diri karna mencium aroma parfum yang sangat familiar itu.

"Hei-"

"SASUKE?!" Sebelum si pria menyapa nya, Karin sudah memanggil nama orang tersebut dengan lantang.

Terdengar suara kekehan khas-nya, "Ada apa dengan mu? aku-"

Perkataan Sasuke terputus, tiba-tiba saja Karin bergerak memeluk nya dengan erat, suara isakan terdengar dari wanita berambut merah itu.

Sasuke membulatkan matanya terkejut, namun tak merespon apa pun selain usapan lembut pada rambut milik ibu satu anak tersebut.

"Aku sangat takut, Sasuke.."

Sasuke mendengus, " Ya, maafkan aku karena masuk lewat jendela-"

"Bukan!" Karin mencengkram baju Sasuke erat, membuat pria itu membungkam mulut nya dan mendengarkan Karin.

"Bukan itu.., aku takut. Sangat takut. Bagaimana bila nanti Sakura melupakan ku? Bagaimana bila kau tak pernah mengunjungi ku lagi? Bagaimana bila nanti akhirnya aku akan ditinggalkan? Aku akan sendirian. Bagaimana-"

"Sstt.. Karin! tenanglah!" Sasuke melepaskan pelukan mereka dan mencengkram pundak Karin sambil memandang nya tajam.

"Terlalu banyak kata 'Bagaimana'. Terlalu banyak pengandaian. Terlalu banyak halusinasi buruk. Terlalu banyak sangkut paut nya dengan masa lalu!" Sasuke masih menatap Karin yang membalas tatapan nya tak mengerti.

Pria bersurai hitam itu menghela nafas nya lelah, "Aku sudah tau kalau itu adalah alasan mu Karin. Aku tau itu semua. Dan, dengarkan aku! Tak ada yang akan meninggalkan mu! Aku dan Sakura tak akan pergi kemana pun. Kami hanya akan menikah, bukan pergi ke ujung dunia. Bahkan, kalau kau tak ingin kehilangan kami, kau boleh menempati kamar sebelah ketika kami bulan madu nanti. Astaga..."

Sasuke mengusap wajah nya kasar dan melirik ke arah Karin yang setengah hancur. Make-up bagian mata nya sudah luntur karena air mata dan menghitamkan hampir separuh wajah, ingus nya dibersihkan asal menggunakan punggung tangan, menyebabkan noda tak beraturan di pipi nya.

"...kau berantakan sekali" Ujar Sasuke dan meraih sapu tangan dibalik kantung celana nya.

"Lihat? kau seperti habis pesta haloween" Sasuke terkekeh sambil menunjukan sapu tangan nya yang telah memberishkan separuh noda di wajah Karin.

Wanita itu ikut terkekeh, lalu terbahak bersama Sasuke.

"Kau juga, lihat! Kemeja mu penuh noda saus tomat hahahaha"

Karin tertawa sambil meninju asal dada Sasuke, "Hei itu tak sengaja, lagipula jalan mu terlalu cepat, aku jadi terburu-buru" Sasuke ikut tertawa bersama, menertawakan kebodohan masing-masing.

"Ahahahaha, aku juga minta maaf..." Seketika tawa Karin berhenti dan menunduk dalam.

"Seharusnya aku tak kehilangan kendali tadi, pasti kau sudah mengorbankan waktu mu yang berharga agar bisa kemari kan? Kau berbohong apa pada Sakura agar bisa kemari hmm?" Karin terkekeh dan di ikuti dengusan meremehkan dari Sasuke.

"Yaa, aku juga salah karena waktu nya kurang tepat. Well, aku hanya bilang kepadanya ingin melakukan sesuatu untuk masa depan kami"

"Tapi, bila kau belum siap... tak masalah aku-"

"Tidak Sasuke!" Karin memotong perkataan Sasuke, yang membuat pria itu kebingungan atas jawaban Karin yang ambigu.

"Aku sudah memikirkan nya tadi. Aku akan menjadi ibu dan sahabat yang sangat egois bila hanya memikirkan apa yang akan terjadi nanti nya pada diriku, tanpa memperdulikan kebahagiaan kalian berdua..."

Sasuke membulatkan matanya terkejut, Karin tersenyum- menyeringai- kepada Sasuke.

"...Jadi, Selamat tuan Uchiha, kau sudah mengantongi restu dari ku! Tinggal meyakinkan putri merah muda ku itu saja! Ganbatte!"

Karin mengepalkan tangan nya sambil mengedipkan satu mata-menyemangati Sasuke yang masih menatap nya tak percaya.

"Karin... Terimakasih!" Sasuke memeluk erat tubuh Karin.

"Ah! hei hei, sudah! Jangan cengeng! Aku kehabisan nafas, tau!" Wanita bersurai merah itu memukul-mukul punggung Sasuke yang sedang terisak.

"Haduh.. kau benar-benar menangis ya?" Karin terkekeh sambil mengusap perlahan punggung yang mulai bergetar menahan tangis nya itu.

"Terimakasih.. terimakasih banyak, Karin" Sasuke bergumam di pundak Karin, wanita itu mengangguk pelan, " Ya, sama-sama"


6 hari setelah kelulusan Sakura

"Pinggul ku nyeri" Sakura mengaduh sambil menutup wajah nya menggunakan selimut tebal.

Sasuke yang kebetulan mendengar keluhan kekasih nya tersebut menyeringai senang, "Tapi tadi malam, seingatku ada yang meminta lebih"

Pipi Sakura memerah semerah rambut ibunya-Karin- dia pun berusaha menyanggah sambil memperlihatkan wajah tak bersalah nya, "M-masa? aku tidak kok-"

"Berusaha menyangkal? Ah! kurasa aku ingat bagaimana suaranya, 'Lebih keras, Sasu~' Lebih cepat, Baby~ Ahh' - OWW!"

Sasuke mendapatkan serangan bantal berturut-turut hingga terjungkal ke belakang, Sakura memalingkan wajah nya yang bertambah merah, "Salah mu! Pokonya salah mu bila hari ini aku tak bisa berjalan! Punggung ku mati rasa!"

Sasuke terbahak dan menghampiri kekasih merah muda nya itu, lalu dengan lembut menepuk puncak kepala Sakura.

"Mm?" Sakura memilih mengubur wajah bersemu nya itu di balik bantal dan menjawab Sasuke dengan bergumam.

"Aku akan pergi selama 3 hari " perkataan Sasuke sontak saja membuat Sakura melempar bantal yang menutupi wajah nya dan menatap langsung pada si pelaku pernyataan.

"EHHH?! kemana?"

"Universitas di Nagasaki, mereka-"

"Aku ikut!" Gadis merah muda itu memotong perkataan Sasuke dengan cepat, si pria bersurai kelam itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Maaf, tapi kau tak boleh ikut. Mereka tak mengizinkan membawa keluarga karena akan menghambat pekerjaan. Lagipula, kami kesana bukan untuk liburan"

Bola mata hijau milik Sakura pun perlahan meredup, dia tau konsekuesi menjadi kekasih seorang dokter. Pasti, akan banyak waktu yang kebersamaan yang harus mereka korbankan. Karena tentu saja, pasien adalah nomor satu.

Sakura menghembuskan nafas lelah, " Kenapa lama sekali? kapan kau akan pergi?"

Sasuke terkekeh lembut, " Hanya 3 hari kok, aku akan pergi sekarang"

"APA?! MENDADAK SEKALI! KENAPA TAK BILANG DARI SEMALAM?!"

Sakura berteriak histeris dan bangkit dari tidurnya, menatap Sasuke tak percaya.

"Yaa, aku juga baru diberitahu kemarin sore, maaf karena tak mengabari mu lebih awal."

"Setidaknya, biarkan lah aku menyiapkan bekal untuk mu- Aww"

Usaha Sakura untuk bangun dari tempat tidur membuahkan hasil menyakitkan pada selangkangan nya.

"Sial! masih saja sakit!" Sakura mengumpat dan kembali membaringkan tubuh nya.

Sasuke tertawa sambil menggelengkan kepalanya, "Sudah-sudah, tak apa. Aku sedang terburu-buru juga, aku hanya ingin urusan ini cepat selesai"

Sakura menggembungkan pipinya kesal, "untuk apa urusan itu cepat selesai" Gadis itu bergumam sendiri, namun Sasuke dapat mendengarnya.

"Tentu saja untuk mengabulkan permintaan mu"

"Eh? apa? kau berbicara sesuatu?" Sakura mengerutkan dahi nya, menatap Sasuke bingung.

"Tidak, baiklah! Aku akan berangkat sekarang! kau jaga diri dirumah ya? Oiya, aku sudah menelepon Yamanaka untuk menemani mu disini selama aku pergi"

Sasuke bersiap dan mengenakan jaket nya.

"Eh? Ino? Terimakasih, Sasuke!" Sakura menatap Sasuke dengan pandangan berbinar, lalu melambaikan tangan nya pada Sasuke yang telah membuka pintu kamar mereka.

"Dan, hati-hati dijalan! "

"Pasti!- oiya, Sakura?"

"Ya?" Sakura mengerjapkan matanya memandang Sasuke yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang tak bisa di baca.

"Apa musim favorite mu?" Tanya nya kepada gadis merah muda yang langsung menampilkan wajah tak faham.

"Eh?memang-"

"Jawab saja~" Sasuke mendengus nafas lelah.

"um.. Musim dingin? Aku senang melihat salju turun "

Sakura tersenyum riang dan dibalas Sasuke dengan angukan semangat.

"Oke, aku mengerti. Aku pergi dulu! Dah! "

Dan pintu pun tertutup dari luar, meninggalkan sepasang kekasih yang masih memandang pintu itu dengan ekspresi berbeda.

Si gadis menatap nya dengan bingung.

Sementara, si pria menatap nya dengan penuh tekad dan semangat.

Di telapak tangan nya, dia menggenggam erat salinan puisi yang dibuat Sakura untuknya. Dan satu tiket pesawat dengan tujuan bandar udara Sunan, Korea Utara.

"Karin, bersiap-siaplah" Gumam lelaki itu pada dirinya sendiri.


To be continue..


Wah..

Wahahahaha?!

Apa ini?Nala gak tau abis nulis apaa ini?

Pengen cepet cepet lanjutin new romantics sekarang, karena udah masuk semster baru... takut nya waktu luang ku semakin sedikitt dann yang ada nanti hiatus lagi kaya kemarin-_-

.

.

Maka dari ituu, doain supaya cepet update yaak! maaff gabisa bales review kalian satu persatu, but i read those wonderfull review! review dari kalian emang yang terhebat!

Kaya suplemen penambah semangat! *taburbunga* *cengarcengir*

.

.

New romantics kayanya bakal 1 chap lagi, dan kalau engga end di chap berikutnya, yaa berati ada chap selanjutnya, dan begituu seterusnya *timpukbatu* *Gaabisabisdongceritanya(?)*

.

.

Okay! itu aja! mudah2an memuaskan dan maafkan daku kalo banyak typo!

.

.

God bless Us!

Nala.K