Disclaimer: Masashi Kishimoto


New Romantics


But honey most of them are true

We are too busy dancing

To get knocked off our feet

Baby, we're the New Romantics

The best people in life are free

-New Romantics_Taylor Swift-


11


Ketika kurasa kedua betisku mengencang disekeliling pinggangnya, dan tubuh kami menggelepar secara bergantian-tentu saja aku terlebih dahulu- disusul oleh Sasuke yang menusukan beberapa kali penuh tekanan dan geraman yang membuat leher ku bergidik.

Aku merasakan... kebebasan. Kebebasan karena tak perlu menggunakan peralatan penunda hamil lagi, tentu saja.

Sejak kelahiran putri ketiga kami, ini kali pertamanya Sasuke menyetubuhi ku sekasar ini. Gigi nya terus bergemeletuk saat aku menggumamkan namanya, geraman nya juga terdengar kasar dan seperti hewan liar yang sedang menerkam mangsa. Aku seperti bukan bercinta dengan Sasuke yang biasanya.

Saat tubuhnya ambruk dan kepalanya bersandar di dadaku, aku merasakan keringat dingin yang seharusnya tak keluar setelah kami bercinta. Aku pun menyadari, ada yang tak beres dengan Sasuke hari ini. Bukan hari ini saja, aku pun sepertinya sudah menyadari keganjilan atas sikap Sasuke seminggu belakangan.

Aku pun mengusap rambut berkeringat nya dengan lembut-masih sama terengah- dia membalas usapan ku dengan menggosokan pipinya lebih dalam ke permukaan kulit ku, dan mengencangkan pelukan nya di pinggang.

"Hei, ada masalah? " Setelah beberapa menit kami berbagi keheningan, aku pun mengajukan pertanyaan yang membuat dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Aku merotasikan bola mata dan memaksa kepalanya untuk mendongkak melihat ke arah ku.

"Kita sudah bersama bukan dari kemarin sore, Sasuke."

Ada kerutan halus yang ditampilkan dari kedua alis nya yang mengekerut.

"Apa sejelas itu? " Dia bertanya, bukan menjawab pertanyaan ku.

Aku mengangguk pasti, Sasuke beringsut ke sampingku setelah aku mengeluh sesak karena bobot tubuh nya yang menimpaku.

"Lalu, ada masalah apa?" Aku berbalik sehingga kami saling bertatapan, Sasuke mendekatkan wajahku ke arahnya, sehingga permukaan dahiku berkali-kali dihujani ciuman.

"Aku juga tak tau, aku merasa.. aneh" Sasuke bergumam, namun tetap terdengar jelas di telingaku.

"Aneh bagaimana?" Aku menjawab sambil memejamkan mata; menikmati ciuman lembut yang masih Sasuke berikan di dahiku.

"Rasanya aneh saja saat melihat mu bertemu lagi dengan si rambut putih itu"

Dahiku mengkerut dan memutuskan untuk mendongkak ke arahnya, "Maksud mu Kimimaro?"

Sasuke terlihat malas mendengar namanya, "Ya, Kimi-kimiro siapa lah itu, yang pasti pria yang telah menyebabkan mu babak belur waktu SMA"

"Kami hanya tak sengaja berpapasan, terasa canggung bukan kalau tak bertegur sapa? Lagipula kau kan ada bersama ku waktu itu"

Aku masih belum mengerti kenapa Sasuke malah semakin memajukan bibirnya-kekanakan- namun menggemaskan disaat yang bersamaan.

"Haruskah sampai sedekat itu? " Sasuke masih memperdebatkan, hal yang jarang sekali dia lakukan. Memperdebatkan masalah sepele seperti ini.

"Kami tidak-"

Seketika, aku pun tersadar. Apakah Sasuke sedang cemburu?

"Hei, apakah kau cemburu?" terlihat semburat kemerahan di sekitar pipinya ketika aku bertanya.

"Aku? cemburu? yang benar saja" Sasuke memilih memunggungi ku.

Aku terkikik dan mencolek bahu nya pelan, "Benarkah? padahal aku sudah sangat senang bila kau cemburu. Itu berati kau benar-benar mencintaiku"

Aku pura-pura merajuk dan balik memunggungi nya, Sasuke pun terlihat panik dan segera membalikan posisi tidurku kembali, "Hei, tentu saja aku mencintaimu!" Aku melihat ragu ke arah matanya, Sasuke laki menghembuskan nafas lelah,

"Baiklah-baiklah aku menyerah. Ya, sepertinya aku cemburu dengan Kimiro itu"

Aku menyeringai, "Kenapa masih sepertinya? "

Sasuke mengacak rambutku dan mendekap ku erat, "Iya-iya, aku cemburu. Puas?"

Aku tertawa pelan, lalu mencubit hidung bangir nya "Puas"

Lalu kami tertawa bersamaan, tiba-tiba Sasuke bangkit setengah dari tidur nya dan melihat ke arah monitor yang terhubung dengan beberapa ruangan penting di rumah.

"Ada apa? " Aku ikut bangkit dan melihat ke arah monitor.

Sasuke menggeleng dan terkekeh, "Seperti nya aku melihat objek merah muda kecil sedang mengendap di dapur"

Aku mengusap wajah lelah, "Lagi?"

Sasuke mengangguk dan bergegas memakai kembali pakaian nya.

Aku pun mengikuti Sasuke sambil terus menahan tawa, membayangkan alasan konyol apalagi yang akan diberikan Shisui-putra kedua kami yang berusia 5 tahun- ketika tertangkap basah mengambil kue coklat gandum yang berada di dapur.

Ini sudah yang keberapa kalinya, Shisui mengambil kue dari dapur. Ini juga yang menjadi bahan pertimbangan kami, untuk memasang kamera pengintai dibeberapa ruangan penting.

-dimulai dari merengek nya Sarada ketika ingin berangkat sekolah, dan menemukan kue coklat gandum bertabur sparkle warna-warni nya telah kandas setengah.

Sebenarnya, tanpa menyalahkan siapapun kami sudah tau bahwa pelaku nya adalah Shisui, bocah yang mewarisi rambut ku itu terlihat tak bersalah ketika ditanyai kemana perginya kue milik Sarada.

Dengan santai, dia menjawab tidak tau apa-apa dan mengatakan dia tertidur pulas tadi malam. Padahal, ditemukan banyak remah sparkle di baju tidur yang dia kenakan.

Karena ulah berbohong nya itu dan makan coklat di malam hari, keesokan harinya Shisui mengeluh sakit gigi. Kami pun segera membawanya ke dokter gigi sambil memberinya nasihat untuk tidak berbohong dan memakan kue di malam hari setelah menggosok gigi.

Namun, sepertinya kue coklat gandum terbaru milik Sarada 'menggoyahkan' pertahanan Shisui lagi. Seperti saat ini contohnya, aku dan Sasuke bukan hanya sekali-dua kali mengendap bak maling di rumah sendiri.

Memata-matai objek merah muda mungil yang sedang asik memakan entah kue keberapa nya, dengan memeluk toples besar di belakang meja makan.

"Singa kepada berang-berang, apakah kau mendengar ku? "

Rasanya ingin tertawa dan kesal disaat yang bersamaan,saat Sasuke berbisik pelan.

Aku menyikut perut nya, berpura-pura tersinggung.

"Kenapa kali ini aku berang-berang? aku mau seperti kemarin saja! Aku mau elang. Enak sekali kau menjadi singa!"

Sasuke menyipitkan matanya, mendelik ke arah ku

"Kemarin aku menjadi ikan kembung! Apa-apaan itu"

Aku terkekeh puas, "Tapi kau-"

Sasuke membuat simbol untuk diam, karena target merah muda sudah melakukan pergerakan. Shisui terlihat meletakan kembali toples yang aneh nya, masih berisi penuh dengan kue gandum. Padahal, barusan kami benar-benar melihatnya memakan beberapa kue.

Lalu, Shisui pun kembali berjalan kearah kamarnya yang berada disamping kamar Sarada. Ketika pintu ditutup, aku dan Sasuke pun segera bergegas melihat toples yang berisi penuh kue gandum itu.

"Aneh, aku tadi melihat dia makan satu sampai 4 kue gandum. Tapi kenapa terisi penuh? "

Aku melihat ke sekeliling dapur, dan menemukan bungkus kosong kue gandum.

"Apakah Shisui mengisu ulang toplesnya lagi? " aku berkata sambil menunjukan bungkus kosong yang kutemukan tepat dibawah kaki.

Sasuke menaikan kedua alisnya saat membuka toples dan menemukan 2 varian kue gandum yang berbeda.

Kami pun mengangguk, masih belum paham apa maksud dari perbuatan Shisui yang mengisi ulang toples kue milik Sarada.

Tiba-tiba terdengar suara air mengalir dari arah kamar mandi, kami berdua pun serempak menuju arah suara. Agak terkejut, karena kami menemukan Shisui yang sedang berkumur-kumur setelah menggosok giginya.

Shisui terlihat terkejut melihat kami berdua diambang pintu kamar mandi.

"Hai mom, dad? " Shisui melihat kami dengan takut-takut, tak melihat tepat kearah mata kami.

"Kau mengisi ulang toples milik kakak mu?"Sasuke langsung ke topik utama dan segera saja kuhadiahi dia dengan sikutan tajam.

Shisui membulatkan matanya, terlihat ingin menangis dan itu membuatku lemah. Aku benar-benar tak tega melihat anak ku menangis ketakutan seperti itu.

"Kenapa sayang? Mom dan dad tak akan memarahimu, kami hanya ingin tau alasan nya" Aku berjongkok didepan Shisui yang mengigit dalam bibirnya, ku rasa menahan airmata membuatnya kesusahan bicara.

"Aku-aku.. aku merasa bersalah karena sudah memakan kue milik Sarada -nee. Jadi, aku membeli kue gandum baru untuknya." Aku kagum pada pengendalian diri Shisui yang berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis, padahal pelupuk matanya sudah berisi genangan air.

Sasuke menghela nafas, lalu ikut jongkok di depan Shisui, "Darimana kau dapatkan uang untuk membeli kue gandum ini, Shisui?"

Shisui melirik kearah Sasuke takut-takut, "aku membantu auntie Tayuya di toko bunganya, aku memilihkan bunga-bunga untuk auntie. Lalu, dia memberiku uang"

Aku dan Sasuke pun seketika membeku ditempat. Kami berdua tak percaya dengan pemikiran complex milik anak berusia 5 tahun ini. Bukan nya meminta uang kepada kami, atau kepada auntie dan uncle nya. Dia memilih untuk membantu terlebih dahulu. Padahal, meminta uang kepada kami adalah cara cepat dan pasti yang bisa dia tempuh.

Dan, itu pun menjelaskan tentang beberapa bekas lumut yang kutemukan di baju dan celana milik Shisui beberapa hari belakangan ini.

Sasuke pun mengacak rambut Shisui dengan lembut, "Pintar, itu baru namanya Uchiha."

Terlihat binar berkilau dari kedua bola mata Shisui. Dia pasti merasa senang sekali sudah mendapatkan pujian dari Sasuke.

Sasuke pun menggedong Shisui dan berjalan kembali ke kamar anak itu. Aku pun mengikuti mereka dari belakang, pintu kamar Sarada terlihat terbuka dan menampakan gadis berumur 7 tahun sedang mengusap matanya, "Kenapa semuanya sudah bangun? ini masih tengah malam"

Aku tersenyum, "kami habis bermain" ujarku, menimbulkan raut penasaran dari Sarada.

"Bermain apa? aku boleh ikut? "

Aku mengangguk, "Ya, tapi besok pagi. Sekarang, kita tidur dulu. Bagaimana kalau kalian menginap di kamar kami? "

Shisui dan Sarada seketika menampakan wajah antusias, dengan cekatan mereka segera mengambil boneka kesayangan dan berlari menuju kamar kami berdua.

"Apakah Izumi tak akan terbangun?" Sasuke melihat ke arah box bayi di dalan kamar kami. Aku menggeleng sambil memberi kecupan lembut di dahi bayi kami yang baru genap berusia 5 bulan.

"Izumi tidak bangun kan, mom?" Shisui sudah bersiap diatas kasur, disamping Sarada yang sedang memeluk boneka besar panda pemberian Sasuke.

Aku mengacungkan ibu jari-tanda semua baik -baik saja- dan menyusul mereka, menidurkan diri disamping Shisui dan Sasuke disamping Sarada.

Kami berdua mengapit Sarada dan Shisui seperti sebuah sandwich. Ingin kuberi tau lelucon ini kepada Sasuke, tapi melihat Sarada dan Shisui yang sudah memejamkan matanya, aku pun mengurungkan niatku.

Dan memeluk mereka bersamaan, lengan besar Sasuke pun ikut memeluk kami dengan leluasa.

Rasa nyaman dan penuh kehangatan seketika merasuk kedalam diriku, mungkin mereka pun menyadarinya. Namun memilih untuk terlena akan kenyamanan ini dan mulai menjelajah ke dunia mimpi.

"Sudah 8 tahun ya?" Sebenarnya aku hanya bergumam sendiri, namun Sasuke menjawab dengan 'ya' yang seperti sedang bergumam.

Ku kira dia sedang mengigau, tiba-tiba Sasuke menggenggam jemari ku yang sedang memeluk Sarada dan Shisui,

"Mau terus bersama ku lebih lama lagi?" Suara Sasuke terlalu pelan, namun aku bisa merasakan kehangatan yang berlebih ketika mendengar nya. Aku tak ingin terlihat 'lembek' di depan nya,

"Tergantung, apa yang bisa kau berikan padaku?" ku merasakan pundak Sasuke bergetar, ku bertaruh dia sedang menahan tawa.

Ketika getaran itu mulai reda, dia pun merapatkan dirinya semakin dekat dengan Sarada, dan jangkauan tangan nya pun berhasil meraih pinggangku.

"Aku akan membuatmu merasakan semua kehangatan ini setiap hari seumur hidup mu, dan kau tak perlu ketakutan untuk sendirian lagi"

Aku tak bisa untuk tak menitihkan satu butir airmata, pundak ku meremang dan segera saja ku memeluk Sasuke yang tersenyum lembut di atas kepala Sarada.

"Baiklah, kalau bisa 1000 tahun pun aku mau"

Sasuke terkekeh, "Sayangnya ini cerita tentang manusia biasa, bukan sepasang vampire"

Aku mengangguk, rasa kantuk pun terasa menyerang. Sesaat sebelum aku memejamkan mata, aku merasakan usapan lembut dari telapan tangan Sasuke di rambutku.

"Kalau begitu, nikmati saja dulu cerita milik kita sendiri" gumam ku dan kelopak mata pun menutup, seiring dengan perasaan hangat yang terus menerus bertambah.

.


Really End.


.

.

Dor!

chapter tambahan!

Gomen! Karena udah buat kalian kecewa di chap sebelumnya, gaada maksud untuk membuat kalian kecewa *uglysnob*

.

Terimakasih untuk perhatian nya selama ini!

Maaf juga kalau belum sempat dibalas review nya..

Thanks!

.

God bless Us!

-Nala. K-