PERFECT(SIONIST)
Summary: Bukankah kesempurnaan adalah penilaian yang subjektif? Bukankah kesempurnaan adalah kemutlakan sementara atas penghargaan?..."Who are you?" "We are the kids, that your parents warned you about."
Plot and fic belong to Mozaorev. EXO is yours (?)
Warning: The very Out Of Character mode of EXO! This may be triggering; contains self-harm. Regressive-progressive plot. You have been warned!
CHAPTER 0-
.
.
.
"I'm depressed.
But darling,
I love wearing bright colors,
And I love things that sparkle
I laugh at everything,
And I smile more than most,
Bur darling,
Believe me,
My mind is killing me."
.
.
.
(2007 January, 12. 9 AM)
Waktu untuk kelas pertama telah berlalu cukup lama. Dan Tao, sebagai pria dengan bakat wushu tinggi harusnya tak perlu khawatir kakinya terpelanting karena terlalu bising berlari menuju ruangan di ujung gedung barat universitas. Kata terlambat bukanlah Tao, keterlambatan bukan hal yang wajar baginya. Salju berikan kesejukan bagi bulir keringatnya yang turun.
Tempat ini adalah surga para diva untuk menggunakan hak imunitasnya, pikir Tao.
Suara dari salah satu brunette tertinggi yang memiliki kecepatan setara dengan laju mobil Juan Fangio memonopoli keheningan kelas statistik multivariasi. Presentasi sudah dimulai dan kini Tao harus membayar dengan ceramah panjang dosen mata kuliahnya. Semua mata yang tertuju menghakimi keterlambatan sang diva, sang jenius kampus.
Yang Tao ingat ketika ia mencoba menyamankan posisi duduk di kursi belakang kelas, seorang jenius lain yang tak begitu Tao hafal menyapanya.
"Pssst. Bagaimana bisa kau terlambat?"
Tao mengedikkan bahu.
"Semua orang biasa terlambat."
"Tapi kan kau sang jenius kesayangan seluruh kelas statistic multivariasi. Hell, bahkan seluruh kampus!"
"Kau bercanda." Tao mengeluarkan suara menjijikan, "Aku lebih suka diberi panggilan wushu master."
Lalu mereka terkikik geli sendiri.
Siapa yang peduli? Kau adalah idiot kalau tak pernah terlambat.
.
.
(2007 January, 12. 10 AM)
Jangan pedulikan dinding-dinding tinggi yang memberikan pantulan tatapan tak menyenangkan. Bersama berpuluh-puluh decitan, derapan, dan ketukan dari alas kaki yang terbuat dari berbagai macam bahan utama dari desainer terkenal. Mereka hanya akan menggulingkan kekuatan sucinya kata-kata penguat.
Dalam satu sekolah yang sama dengan sahabat baik sejak kecil mungkin impian setiap anak perempuan melankolis. Tetapi jauh di samudera pengasingan perasaan, ia bahagia menjeritkan kata-kata bahagia yang sama. Lebih-lebih pada tempat yang sama.
(Dan ia sama sekali bukan anak perempuan melankolis. Ia masih bisa membuktikannya)
Tekanan udara yang meberi tubuh masih diperbolehkan bergerak menginjak dalam-dalam pengendaliannya. Membuat Tao berhadapan dengan Luhan dalam kondisi yang kurang lebih dapat dikatakan menguntungkan. Jauh dari keramaian.
"Katakan. Apakah krim BB-mu habis?"
Menampar dahinya sendiri, Tao memicingkan kedua iris matanya. "Jangan bermain-main."
"Baiklah, baiklah. Apa kau rindu padaku? Aku hanya akan ke Paris untuk mengambil kursus pendek. Aku tidak bisa menyia-nyiakan uang sekolah, kan."
"Oh Tuhan, tolonglah. Kau perlu merombak kepercayaan dirimu. Kau overdose."
"Yang benar saja, aku hanya tidak ingin menjadi si rendah diri."
"Oh benar, dan menyebarkan setiap racun kepercayaan dirimu."
"Benar-benar menyenangkan menggodamu."
"Diam."
"Berikan aku catatan matematika dasarmu."
"Bukankah kau kusuruh diam?"
"Ya, ya, ya. Terserah. Berikan aku matematika dasarmu! Hey, apa kau butuh sesuatu?"
.
.
(2007 January, 12. 12 AM)
"OMO! MY BABY PEACH WHERE THE HELL WERE YOU LAST NIGHT?!"
Kalau ada aroma petrichor tercium, Tao membuat catatan mental bahwa ia akan mulai menumbuhkan kepercayaan atas begitu menyeramkannya badai yang menemani gemuruh untuk turun mencolek bumi. Tapi kepercayaan bahwa Kyungsoo bisa saja tumbuh menjadi kurcaci yang banyak omong malah menjadi prioritas utama.
Tentu saja ia tersedak jus wortelnya. Tentu saja Do Kyungsoo akan mengeluarkan bakatnya untuk mencapai nada tertinggi di waktu makan siangnya. Tentu saja meja bundar yang awalnya hanya berteman satu kursi akan menambah kawan. Dan tentu saja Kim Jongin akan tersandung sol sepatu Nike hijau lemonnya sendiri. Menabrak meja kantin lalu jatuh terduduk seperti mengulang awal masa batita.
Kyungsoo menjatuhkan vonis pada Jongin seperti mengutuknya menjadi batu. Tidak ada tangan bantuan untuk menopangnya, jadi kantuk Jongin terpaksa ditunda untuk beberapa saat. Melihat betapa kuatnya sinyal kejijikan yang terpancar bagi kebodohan konyol.
Bahkan ia tidak bisa berpakaian dengan benar, Demi Tuhan!
"Tao, kau tahu apa? kemarin aku HARUS berduaan dengan babi afrika ini semalaman! Oh tidak! Hey! Lihatlah betapa tidak sopannya caranya menyapamu Tao." Sang tan Jongin tak mempedulikan kata-kata Kyungsoo dan memilih kursi yang akan menopang bokongnya di sebelah Tao, menelungkupkan kepalanya. Dan tidur. "DAN MENGAPA PULA AKU HARUS MEMPUNYAI HUBUNGAN DENGANNYA? YAH! KIM JONGIN!"
Belum genap pengubahan sinyal yang ditangkap reseptor syaraf oleh otaknya, Kyungsoo sudah mengeluarkan segala makian kepada Jongin. ("Pakai kemejamu dengan benar dan rapikan surai kusutmu! Kau tak tahu betapa bla bla bla bla.")
"Yak! Sudahlah! Tak usah pedulikan suku indian primitif itu." Kyungsoo masih mengoceh. "Tapi, serius, ke mana kau semalam?"
Tao terkekeh pelan.
Menyusuri pinggiran otaknya, ia mencoba mengumpulkan kata-kata untuk menjawab.
"Oke. Pertama, berhenti memanggilku baby aku bukan bayi..dan jangan memotongku terlebih dahulu!" Kyungsoo seperti tak pernah kehabisan kedukan rangkaian huruf! "Kedua, dia pacarmu dan jangan tanyakan aku mengapa kau bisa berakhir bercinta dengannya semalam lagipula kau tidak menolaknya bukan? Dan ketiga, well…. Aku keluar mencari udara segar semalam."
(Kyungsoo bahkan tak tahu ia harus mendengarkan pelafalan lucu Tao atau dengkuran Jongin.)
"Oh wow. Such a long speech."
Datang dari udara, getaran suara Sehun, pria bercat rambut pelangi terang menyusuri telinganya. Kini meja bundar kita sudah memiliki cukup banyak teman!
"Sehunnie sudah datang ke kantin!" Kata Tao ceria sekaligus mengeluarkan derap suara yang sarkastik. "Sambutlah sang pangeran kegelapan dari dunia ninja, Oh Sehoon!"
"All hail me, yehet!"
"Yehet bokongmu!"
"Apa sih? Kau selalu terobsesi dengan bokongku?"
"Enak saja, bitch. Kau tidak lihat betapa indahnya bokongku? And ha! speak about your flat ass."
"Oke, wushu master. Oke. Aku tahu. Aku tahu."
"Ohorat-rat-rat-rat."
"Hei! Itu adalah hak ciptaku, sialan."
Dua pasang bibir yang saling mengejar tempo untuk mengeluarkan kekonyolan tidak akan mau berhenti dan mengalah.
"Oke, kau dan kau. Hentikan pembicaraan konyol seputar bahasa alien kalian. Dan Tao, ke mana kau semalam? Kau tidak clubbing sendirian kan?" Kyungsoo meninggikan suara di antara mereka (dan dengkuran Jongin).
Sehun tak mau ambil banyak pusing. Seperti mata pelajaran kimia molekulernya sudah berhasil ia lewati dengan baik saja. Jadi beranjaklah sepasang tungkai panjangnya menuju pabrik utama kantin. Dan sebagai anak kecil penurut ia mengangguk kala Kyungsoo memesan pada Sehun, "Sehun-ah, ambilkan untukku juga, oke?"
"Ya?" Tao menjulurkan lidahnya, menjawab rasa penasaran Kyungsoo sebelumnya "Memangnya kenapa? Kau iri aku bisa melihat cowok-cowok seksi sementara kau, bertarung semalaman dengan babi afrika?" Lalu menunjuk Jongin sang pelaku dalam sebuah panggung utama.
"Tentu saja! Siapa sih yang tidak mau melihat cowok seksi yang menggiurkan?" Kyungsoo mencibir.
"Mmm… Jongin, mungkin?"
"Itu karena dia tidak punya akal." Kata Kyungsoo ringan. Ada jeda dua ratus empat puluh detik yang berlalu setelahnya. "Tapi setidaknya, dia punya seorang kekasih. Tidak seperti kau dan Sehun, galauers."
"Yah! Kyungsoo-hyung kenapa membawa-bawaku? Aku bukan penganut paham galauism seperti panda buluk jelek itu!" Sehun yang kembali membawa nampan berisi nutrisi penambah energi siang hari untuk dua makhluk, melayangkan pandangan mengejek pada Tao.
"Hei! Siapa pula yang suka menggalau. Aku selalu tampil ceria!" Protes Tao. Lalu beralih pada Sehun, "Oke, tikus got. Jangan suruh aku mengeluarkan file video tangisanmu saat melihat burgermu diambil Luhan-hyung!" Tantangan bagai duri tak berumah untuk Sehun. Khususnya yang ini.
Sehun mencibir. Sementara Kyungsoo mencoba menyuapi Jongin yang masih memejamkan mata sambil bertopang dagu.
"Kyungie-baby…. Aku tidak lapar…."
"Sssst. Kau harus makan, hitam! Tidak ada penolakan!"
" .HITAM."
.
.
(2007 January, 12. 3 PM)
Tidak ada klub wushu di kampus. Tao mengikutsertakan bakat wushunya di sebuah markas klub yang berjarak setengah jam dari asrama universitas. Komitmen untuk bertahan tidak mudah untuk selalu dipegang, tapi dua tahun telah cukup membuat pria sepertinya memiliki seorang guru wushu yang menyayanginya. Tentu saja, semua orang menyayangi diva mereka kan?
Tersenyum pada semua orang, kewajiban semua diva. Khususnya bila diva itu memiliki bibir kucing yang menggairahkan. Jadi ia melakukannya sambil sesekali menyapa mereka.
"Halo, kek! Semoga harimu menyenangkan ya!" Tao memberikan kepingan sen-sen pada seorang kakek yang duduk mengenaskan memegang biola berwarna lusuh. Kakek tadi tersenyum penuh arti, Tao makin mengembangkan bibirnya.
"Terimakasih, anak muda. Kau pasti pemuda yang sangat menyenangkan."
"Tentu saja, kek!" Lalu Tao tertawa renyah. "Baiklah aku pergi dulu."
Ketika Tao sampai di ruangan di mana ia bisa melakukan blackflip dengan leluasa, guru dan kawan sesama wushu master-nya sudah berada di sana. Sang guru langsung membuka kelas dan memulai aktivitas mereka.
Satu jam berjalan menemani latihan gerakan baru bagi semua anggota. Semua anggota tubuh berteriak pada kebisuan meminta waktu bersantai. Botol-botol air mineral dibuka, snack berkalori rendah dikerubungi, dan roti-roti gandum diharapkan menyumpal teriakan mereka. Tujuh orang lainnya kelelahan seperti Tao. Namun tentu saja, Tao adalah diva mereka semua. Dan diva akan diberikan segalanya.
"Ajari aku gerakan terakhir tadi, ya, Tao?" Pria kecil blonde memberikan dua roti gandum dan susu sekaligus. Tao mengangguk dan menjawab dengan antusias.
"Baiklah! Terimakasih untuk roti dan susunya, omong-omong."
"Aku juga mau diajari!"
"Aku juga aku juga!"
"Jangan lupakan aku!"
"Ajari aku, aku!" Serta beberapa lagi yang bersautan.
"Oke, oke, oke. Tenang semuanya. Kalian tidak akan melakukan kericuhan massa kan hanya untuk meminta waktuku?"
Dan Tao merelakan waktu mengerjakan tugas mata kuliah Psikologi 100 untuk mengajari semua anggota di kelas wushunya gerakan-gerakan yang belum mereka kuasai hari itu. Satu jam tambahan sebagai guru wushu ternyata mengasyikkan juga bagi Tao.
"Oke, sepertinya kalian semua sudah paham how it have to be worked. Bagaimana kalau kita pulang?" Semua mengangguk senang. "Baiklah, kalian tinggal menyempurnakannya, oke? Jangan buat guru marah! Sampai jumpa."
Ransel hitam pekat menyepadankan surainya yang dipotong pendek. Ia berjalan menuju keluar gedung klub tepat pada pukul tujuh sore sebelum kata-kata seseorang membuatnya menoleh.
"Terimakasih, ya Tao-diva. Kau selalu jadi penolong kami. Aku sendiri khawatir kalau-kalau kau keluar dari kelas kami karena kami terlalu bodoh." Katanya. "Ah! Atau kau boleh menjadi guru kami!"
"Aku akan selalu belajar gerakan baru bersama kalian."
Tao tertawa dan berlari mengejar salju yang turun.
.
.
(2007 January, 12. 7 PM)
Belum waktunya pelepasan topeng.
Tao menghitung sen demi sen sisa bulan Desember kemarin. Kepingan sen bulan Januari memang masih ada di sakunya. Baiklah, orang-orang suci seperti kakek tua tadi akan lebih menyambut kedatangannya. Dan itu adalah sebuah keputusan. Menghela nafas sabar, lagi. Menaiki bus memang tidak akan membuat ia muntah karena mabuk darat. Tapi apabila hoodie hitam satu-satunya akan digadaikan sebagai karcis busnya akan membuat ia muntah saat itu juga. Jadi berjalan akan lebih menguntungkan bagi Tao. Ditambah lemaknya yang sudah menggantung seakan berteriak ingin lepas darinya. Ia takkan keberatan.
Tak mungkin Tao akan menghancurkan pengendalian diri yang telah dikelolanya dengan baik selama berlangsungnya hari ini.
Jangan! Jangan melepaskan diri sekarang!
Semua orang tidak akan bisa melihatnya, kegelapan akan menelan semuanya.
Menuju kegelapan yang berkerlap-kerlip, Tao melangkahkan kaki dalam diam. Acakan kesalahan hari ini berputar-putar seperti biasa ketika malam mulai tiba. Tapi ini belum malam. Setidaknya belum, sampai ia mengunci diri di kamar asrama.
Hampir satu jam waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kenob kamar asrama nomor 203.
Bersiaplah menerima satu pembalasan buruk. Di mana kotak silet?
[Ini bukan Tao yang dikenal semua orang]
"Damn, di mana silet baru itu?"
Waktunya penghakiman
Dan Tao memutar semua kesalahan harinya…
Satu goresan darah untuk tiap review-nya.
.
.
.
(2007 January, 12. 3 PM)
Tentu saja, semua orang menyayangi diva mereka kan?
Kecuali diva itu sendiri. Pikir aku pantas dipanggil sebagai diva?
Tersenyum pada semua orang, kewajiban semua diva. Khususnya bila diva itu memiliki bibir kucing yang menggairahkan.
Tidak perlu menyomobongkan tubuh yang jelek.
"Halo, kek! Semoga harimu menyenangkan ya!" Tao memberikan kepingan sen-sen pada seorang kakek yang duduk mengenaskan memegang biola berwarna lusuh. Kakek tadi tersenyum penuh arti, Tao makin mengembangkan bibirnya.
Kembangkan bibir agar semua orang melihatku bahagia!
"Terimakasih, anak muda. Kau pasti pemuda yang sangat menyenangkan."
Yang benar saja. Kau salah, Kek. Aku pemuda yang buruk. Sangat buruk. Kau bisa menarik kata-katamu.
"Tentu saja, kek!" Lalu Tao tertawa renyah. "Baiklah aku pergi dulu."
Harusnya aku pergi ke neraka.
Saat waktu istirahat kelas wushu-nya tiba, botol-botol air mineral dibuka, snack berkalori rendah dikerubungi, dan roti-roti gandum diharapkan menyumpal teriakan mereka. Tujuh orang lainnya kelelahan seperti Tao. Namun tentu saja, Tao adalah diva mereka semua. Dan diva akan diberikan segalanya.
Diva.
Lihatlah betapa menjijikannya diriku, sang diva. Sang pengemis.
"Ajari aku gerakan terakhir tadi, ya, Tao?" Pria kecil blonde memberikan dua roti gandum dan susu sekaligus. Tao mengangguk dan menjawab dengan antusias.
"Baiklah! Terimakasih untuk roti dan susunya, omong-omong."
Seorang fakir yang butuh bayaran?
"Aku juga mau diajari!"
"Aku juga aku juga!"
"Jangan lupakan aku!"
"Ajari aku, aku!" Serta beberapa lagi yang bersautan.
"Oke, oke, oke. Tenang semuanya. Kalian tidak akan melakukan kericuhan massa kan hanya untuk meminta waktuku?"
Waktu bahkan tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Aku masih mau menyombong saja.
Dan Tao merelakan waktu mengerjakan tugas mata kuliah Psikologi 100 untuk mengajari semua anggota di kelas wushunya gerakan-gerakan yang belum mereka kuasai hari itu. Satu jam tambahan sebagai guru wushu ternyata mengasyikkan juga bagi Tao.
Aku bukan manusia yang menyenangkan, ayolah!
"Oke, sepertinya kalian semua sudah paham how it have to be worked. Bagaimana kalau kita pulang?" Semua mengangguk senang. "Baiklah, kalian tinggal menyempurnakannya, oke? Jangan buat guru marah! Sampai jumpa."
Aku berlagak seperti seorang jagoan.
Ransel hitam pekat menyepadankan surainya yang dipotong pendek. Ia berjalan menuju keluar gedung klub tepat pada pukul tujuh sore sebelum kata-kata seseorang membuatnya menoleh.
"Terimakasih, ya Tao-diva. Kau selalu jadi penolong kami. Aku sendiri khawatir kalau-kalau kau keluar dari kelas kami karena kami terlalu bodoh." Katanya. "Ah! Atau kau boleh menjadi guru kami!"
Itu! Yang itu!
"Aku akan selalu belajar gerakan baru bersama kalian."
Hahahahaha lihatlah betapa percaya dirinya diriku.
Tao tertawa dan berlari mengejar salju yang turun.
Kalau saja aku berlari sedikit lebih cepat agar terpelanting dan mati.
.
.
(2007 January, 12. 12 AM)
"OMO! MY BABY PEACH WHERE THE HELL WERE YOU LAST NIGHT?!"
Kau berkata seolah-olah kau bukanlah suatu kesalahan seperti biasanya, Kyungsoo.
Tentu saja ia tersedak jus wortelnya. Tentu saja Do Kyungsoo akan mengeluarkan bakatnya untuk mencapai nada tertinggi di waktu makan siangnya. Tentu saja meja bundar yang awalnya hanya berteman satu kursi akan menambah kawan. Dan tentu saja Kim Jongin akan tersandung sol sepatu Nike hijau lemonnya sendiri. Menabrak meja kantin lalu jatuh terduduk seperti mengulang awal masa batita.
Sementara aku hanya ingin melenyapkan semuanya.
Aku tidak bercanda kan? Seharusnya aku berhenti bersikap berharga.
"Tao, kau tahu apa? kemarin aku HARUS berduaan dengan babi afrika ini semalaman! Oh tidak! Hey! Lihatlah betapa tidak sopannya caranya menyapamu Tao." Sang tan Jongin tak mempedulikan kata-kata Kyungsoo dan memilih kursi yang akan menopang bokongnya di sebelah Tao, menelungkupkan kepalanya. Dan tidur. "DAN MENGAPA PULA AKU HARUS MEMPUNYAI HUBUNGAN DENGANNYAAAA? YAH! KIM JONGIN!"
Kau punya segalanya, Kyungsoo. Kau punya kekasih yang mencintaimu dan kehidupan yang membahagiakanmu. Mengapa aku tidak?
"Yak! Sudahlah! Tak usah pedulikan suku indian primitif itu." Kyungsoo masih mengoceh. "Tapi, serius, ke mana kau semalam?"
Tao terkekeh pelan.
Untuk apa aku terkekeh? Sudah merasa cukup?
Menyusuri pinggiran otaknya, ia mencoba mengumpulkan kata-kata untuk menjawab.
Atau lebih tepatnya mencari alasan.
[Semua orang punya rahasia]
"Oke. Pertama, berhenti memanggilku baby aku bukan bayi..dan jangan memotongku terlebih dahulu!" Kyungsoo seperti tak pernah kehabisan kedukan rangkaian huruf! "Kedua, dia pacarmu dan jangan tanyakan aku mengapa kau bisa berakhir bercinta dengannya semalam lagipula kau tidak menolaknya bukan? Dan ketiga, well…. Aku keluar mencari udara segar semalam."
Great. Alasan yang bagus. Aku harus tetap menyembunyikan alasan sebenarnya.
"Oh wow. Such a long speech."
Datang dari udara, getaran suara Sehun, pria bercat rambut pelangi terang menyusuri telinganya. Kini meja bundar kita sudah memiliki cukup banyak teman!
Meja saja berkawan. Tapi aku tak pantas punya teman.
"Sehunnie sudah datang ke kantin!" Kata Tao ceria sekaligus mengeluarkan derap suara yang sarkastik. "Sambutlah sang pangeran kegelapan dari dunia ninja, Oh Sehoon!"
"All hail me, yehet!"
"Yehet bokongmu!"
"Apa sih? Kau selalu terobsesi dengan bokongku?"
"Enak saja, bitch. Kau tidak lihat betapa indahnya bokongku? And ha! speak about your flat ass."
"Oke, wushu master. Oke. Aku tahu. Aku tahu."
"Ohorat-rat-rat-rat."
"Hei! Itu adalah hak ciptaku, sialan."
Baguslah, aku dapat mengatakan hal yang tidak penting. Pertahankan topeng!
"Oke, kau dan kau. Hentikan pembicaraan konyol seputar bahasa alien kalian. Dan Tao, ke mana kau semalam? Kau tidak clubbing sendirian kan?" Kyungsoo meninggikan suara.
"Ya?" Tao menjulurkan lidahnya, menjawab rasa penasaran Kyungsoo sebelumnya "Memangnya kenapa? Kau iri aku bisa melihat cowok-cowok seksi sementara kau, bertarung semalaman dengan babi afrika?" Lalu menunjuk Jongin sang pelaku dalam sebuah panggung utama.
Benar, clubbing yang indah. Dengan darah dan pisau, atau gunting, atau silet.
[Dan saat ini Tao bisa diberi predikat clubber, kah?]
"Tapi setidaknya, dia punya seorang kekasih. Tidak seperti kau dan Sehun, galauers."
Ya benar, aku tak punya kekasih.
"Yah! Kyungsoo-hyung kenapa membawa-bawaku? Aku bukan penganut paham galauism seperti panda buluk jelek itu!" Sehun yang kembali membawa nampan berisi nutrisi penambah energi siang hari untuk dua makhluk, melayangkan pandangan mengejek pada Tao.
"Hei! Siapa pula yang suka menggalau. Aku selalu tampil ceria!" Protes Tao. Lalu beralih pada Sehun, "Oke, tikus got. Jangan suruh aku mengeluarkan file video tangisanmu saat melihat burgermu diambil Luhan-hyung!" Tantangan bagai duri tak berumah untuk Sehun. Khususnya yang ini.
Ya, kau punya kewajiban untuk tetap memakai topeng ceriamu!
Video itu takkan ada artinya dibandingkan betapa memalukannya hidupmu yang membuat semua orang jijik.
Sehun mencibir. Sementara Kyungsoo mencoba menyuapi Jongin yang masih memejamkan mata sambil bertopang dagu.
Jongin, kau bahkan disuapi oleh kekasihmu. Aku tidak pernah memiliki orang untuk menyuapiku, sesendok nasipun.
.
.
(2007 January, 12. 10 AM)
Jangan pedulikan dinding-dinding tinggi yang memberikan pantulan tatapan tak menyenangkan. Bersama berpuluh-puluh decitan, derapan, dan ketukan dari alas kaki yang terbuat dari berbagai macam bahan utama dari desainer terkenal. Mereka hanya akan menggulingkan kekuatan sucinya kata-kata penguat.
Dinding itu mengejek kehadiranku di bumi.
Dalam satu sekolah yang sama dengan sahabat baik sejak kecil mungkin impian setiap anak perempuan melankolis. Tetapi jauh di samudera pengasingan perasaan, ia bahagia menjeritkan kata-kata bahagia yang sama. Lebih-lebih pada tempat yang sama.
Apa yang aku pikirkan? Aku tidak pantas berkawan!
Tekanan udara yang meberi tubuh masih diperbolehkan bergerak menginjak dalam-dalam pengendaliannya. Membuat Tao berhadapan dengan Luhan dalam kondisi yang kurang lebih dapat dikatakan menguntungkan. Jauh dari keramaian.
Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan Luhan.
"Ya, ya, ya. Terserah. Berikan aku matematika dasarmu! Hey, apa kau butuh sesuatu?"
Ketika Luhan akhirnya menjadi waras untuk beberapa saat, Tao memberikan permintaan.
"Kau mengetahuinya." Itu bukan pernyataan, itu adalah keabsolutan bagi Tao.
Aku terlalu menjijikan. Aku bisa melihatnya dari mata Luhan.
Pada akhirnya, Luhan mendengus keras, "Tidak Tao, tidak. Ini sudah keterlaluan. Kau sudah memesannya minggu lalu."
Aku memang selalu keterlaluan kan?
"Aku butuh obat tidur lebih banyak. Dan penahan rasa sakit."
Dan itu adalah perintah bagi Luhan.
Meskipun rasa bersalah merayapi hidupnya, menjerumuskan makhluk Tuhan ke dalam lautan maksiat.
"Kau tak akan memesannya dalam satu bulan."
Perintah balik dilayangkan. Tao bergumam menyedihkan. Tapi ia membutuhkan udaranya.
Luhan memiliki uang. Tak usah merendahkan!
.
.
(2007 January, 12. 9 AM)
Waktu untuk kelas pertama telah berlalu cukup lama.
Aku hari ini terlambat.
Tempat ini adalah surga para diva untuk menggunakan hak imunitasnya, pikir Tao.
Semua diva tak punya otak. Termasuk aku. Bagaimana bisa aku terlambat?
Salah satu brunette tertinggi memonopoli keheningan kelas statistik multivariasi. Presentasi sudah dimulai dan kini Tao harus membayar dengan ceramah panjang dosen mata kuliahnya. Semua mata yang tertuju menghakimi keterlambatan sang diva sekaligus jenius kampus. Setelah semua helaan nafas kesal sang dosen, pada akhirnya Tao menjatuhkan diri di kursi paling belakang.
Seharusnya aku merobek kulitku saat itu juga.
"Pssst. Bagaimana bisa kau terlambat?" Seorang jenius lain yang tak begitu Tao hafal menyapanya.
Tao mengedikkan bahu.
Aku terlambat karena aku bodoh. Bagaimana bisa aku bermain terlalu lama?
"Semua orang biasa terlambat."
Ya, dan ini semua salah otakku. Kenangan takkan bisa menjadi kenyataan lagi!
"Tapi kan kau sang jenius kesayangan seluruh kelas statistic multivariasi. Hell, bahkan seluruh kampus!"
Bagaimana bisa aku disebut kesayangan sementara aku semalaman bermain dengan silet murahan hanya karena terlalu merindukan seseorang?
"Kau bercanda." Tao mengeluarkan suara menjijikan, "Aku lebih suka diberi panggilan wushu master."
Wah, aku menyombong lagi.
Lalu mereka terkikik geli sendiri.
Siapa yang peduli? Kau adalah idiot kalau tak pernah terlambat.
Dan idiot itu adalah aku.
Terlambat takkan mengurangi keidiotanku.
.
.
(2007 January, 12. 2 PM)
Tao terlelap bersama beberapa silet dan genangan darah di bathubnya. Bau anyir yang memabukkan seperti biasa.
.
.
.
.
.
.
(Early 2007 2007 January, 12)
12/1. 4 AM- pills isn't enough. What do I do?
.
.
Tao's POV
Ini terlalu awal untuk memulai semuanya, aku berkata secara mental kepada pikiranku sendiri. Kata-kata yang kuhafal diluar kepala; pengulangan setiap pagi (atau kalau boleh aku menyebutnya, malam), yang bertindak bagai alarm hidup. Yap, satu hari lain penuh drama akan dimulai (lagi). I cursed over and over.
Dengan mencengkram bagian belakang tulang tengkorak, aku beranjak menuju bathub. Langkah gontai, dan pandangan buram. Rutinitas bagi sebagian orang adalah keberkahan waktu. Bukan aku tidak peduli dengan semua ini, namun seperti kata mereka, apapun yang dibiasakan akan menjadi kesayangan juga. Jadi, untuk apa membangkang kata-kata orang baik? Aku hanya keburukan bagi dunia.
Toh hancurnya kepercayaan takkan membuat dunia berhenti, kan? Kita hanya perlu tetap berjalan memakai masker.
Saat kurasa kakiku telah menjejak bagian dalam bathub, tangan yang bergantian meraba dinding untuk mencari kotak itu dan mencengkram bagian belakang kepala menjadi semakin susah untuk dikendalikan. Aku tidak berniat untuk lepas kendalidalam waktu sepagi ini. Namun pikiran yang menggenang entah sejak kapan menguasai sistem syaraf. Menohok otakku mundur ke bagian dalam persembunyian dan bodohnya: aku membiarkan hal itu terjadi.
Aku merasakan jemari-jemari nista yang mulai membuka kotak itu, dan retina mata menyalurkan bayangan beberapa siluet perak ke otak. Pinggiran tajamnya menarikku, seolah-olah memberikan sinyal dan rasa bahagia yang menyelimuti seluruh otakku dengan kecepatan cahaya.
.
("Siapa yang kau sebut darah daging? Bunuh dia dari pikiranmu baru kusebut kau anak!")
Satu goresan. Dua. Tiga.
Ini belum terlalu dalam! Kapan pikiran ini akan hilang?
.
("Aku merindukanmu—")
Empat goresan baru dalam membentuk di lengan kiri. Genangan darah dan bau anyir.
Sakit! Ini sakit! Kau pantas mendapatkannya. Kau, Zi Tao yang tak berguna.
.
("Kau tahu apa yang harusnya mereka lakukan sejak dulu? Menguburmu dalam-dalam hingga tak pernah ada Zi Tao yang merepotkan.")
Goresan baru di atas goresan lama yang hendak sembuh. Jauhkan mereka dariku!
.
("Tao— sayang.")("Ja—jangan dekati aku")
Lebih banyak darah. Aku butuh lebih banyak darah. Pergi! Tinggalkan aku sendiri!
.
Aku membuka keran air panas dan membiarkan shower menyirami luka-luka pagi ini, menghanyutkan merah; menggenangi bathub. Sensasi perih dan panas menjalari seluruh lengan dan perut, di mana luka-luka baru berada. Nafasku tak beraturan. Pandanganku masih buram. Euforianya begitu melegakan. Campuran antara mimpi buruk dan silet…
Menyenangkan. Ah. Betapa membahagiakannya memiliki mereka!
Aku memandang keindahan garis-garis vertical dan horizontal di tubuhku. Mereka benar-benar sempurna! Rasa perih yang terus menjalar membuatku merinding. Mengingatkan, menyadarkan akan betapa eloknya lukisan-ku akan terlihat.
Rasanya seperti berada di antara hitam dan putih; asam dan asin; surga dan neraka.
.
("Kau pengecut."
"Masih mau apa kau di sini?"
"Hai, primadona kampus!"
"Diam!"
"Kau, jalang."
"Tao? Kau di mana?"
"Siapa sih yang tidak tahu wushu master kita."
"Kau sih memang multi-talent, apasih yang tidak kau bisa?"
"Kau matahariku."
"Tidak perlu belajar juga kau sudah bisa.")
.
[Bitch, please. Tentu saja aku berusaha. Tentu saja aku bekerja keras untuk mendapatkan semuanya. Dan tentu saja, kau tidak mengetahuinya. Aku memang aktor yang baik, kan?
Kau tidak mengerti penderitaanku, dan usahaku, dan air mataku, dan senyum mirisku dan yang utama, darahku.
Tentu saja aku belajar, tentu saja aku berlatih lebih keras dalam wushu, tentu saja aku mengerjakan bahan presentasiku jauh-jauh hari dan mempelajarinya. Terbangun karena waktu tidur yang tidak lebih dari 3 jam. Menyelesaikan semuanya. Dan terlelap dengan rasa menggebu-gebu atas penghakiman dan penyiksaan diri bagi tiap kesalahan.
I work my ass off.
Kau hanya tidak melihatnya.
Aku adalah Torso of Young Man milik Constantin Bracussi atau Mona Lisa milik Da Vinci. Hanya sebuah karya yang menjadi terkenal.
Dan ketenaran hanya sebuah opera di balik tirai kemirisan].
"BRENGSEK!"
Sebut aku psikopat.
Aku bahkan tidak peduli lagi.
.
.
Tao terbangun lagi ketika suara alarm asrama berbunyi, pengingat waktu kelas sudah dimulai. Dewan universitas memang baru memberlakukannya pada awal semester ini, jadi wajar apabila telinga sensitif Tao menerimanya dengan sangat antusias agar dapat segera diproses oleh otak dan selanjutnya dikeluarkan sebagai rangsangan untuk membuka mata. Dengan tenang, ia bangun dan melihat darah di mana-mana, di sepanjang jalan dari ranjang menuju kamar mandi. Proses penyadaran atas rutinitas pagi hari tadi tampaknya lebih cepat dari biasanya. Karena Tao langsung mengerti dan membiarkan piamanya terlepas untuk membersihkan lantai seolah itu bukanlah suatu cairan anyir hasil karyanya semalam.
Ia membersihkan diri setelahnya, menyikat gigi, dan memastikan seragamnya telah terpasang dengan baik bersama seperangkat aksesorisnya. Melempar pandangan di cermin, ia menambahkan gel rambut dan mengacaknya sekali lagi. Tersenyum, lalu keluar dari kamar mandi lagi untuk mengambil ranselnya di ranjang sebelah. Satu ranjang di kamar asramanya memang belum, coret, tidak terpakai karena ia tidak mendapatkan teman sekamar. Siapa pula yang butuh?
Satu tarikan nafas.
"Baiklah, Tao. Kau memang bodoh karena akan mendapatkan ceramah. Tapi tetap saja. Melangkahlah dalam keheningan. Diamlah dalam keramaian. Cover your demons."
Lalu ia menutup pintu kamarnya dengan pelan dan menyunggingkan senyumnya pada setiap orang yang melihat. Berlari menuju kelas.
Ini semua salah Kris.
TO BE CONTINUED
[And there goes the cliffhanger xD]
HELLO WORLD!
*Dance dance dance*
Finally chapter 0 udah berhasil aku tulis cuma dalam waktu dua hari. –oke ini serius.
Dua hari sebentar looooh sebentar kalau untuk aku karena pengalamanku dulu aku nulis 3k words itu berhari-hari-hari. Okay excuse my shitness.
Oh iya aku mau publish 18/4 siang sebenarnya. Tapi ffn lagi eror ya? Aku upload ke Doc Manager gak bisa. Aduh. Aku bingung. Maaf ya kelamaan /-/
Terimakasih banyak yang sudah me-review kemarin ya ^^
Kata-kata kalian membuat aku semangat nulis hehehe.
Apakah kalian akhirnya mudeng sama ceritanya? Aku berusaha untuk menurunkan kegilaan ideku hehehehe. Chapter 0 ini pengenalan tokoh Tao doang! apakah kalian bisa nangkep karakter Tao di sini? Guess, everyone?
