PERFECT(SIONIST)


Summary: Bukankah kesempurnaan adalah penilaian yang subjektif? Bukankah kesempurnaan adalah kemutlakan sementara atas penghargaan?..."Who are you?" "We are the kids, that your parents warned you about."

Plot and fic belong to Mozaorev. Characters are not mine.

Warning: The very Out Of Character mode of EXO! This may be triggering; contains self-harm. Regressive-progressive plot. You have been warned!

Playlist: Fiction by Avenged Sevenfold+Miracles in Desember by EXO-M


CHAPTER 00

.

.

.

Ketika malam yang panjang menanti, bulan pada masa Waxing— membesar, menarik Tao untuk menjarah sebuah pemandangan indah di hadapan alam.

"Kau tahu, Baixian-gege, aku sangat suka bulan."

"Oh ya?" Baekhyun bangkit dari ranjang sebelah Tao, dan menatap sahabat kesayangannya. "Biar kutebak, karena Kris menyukai bulan juga?"

Tao terkikik. "Aku tahu aku sudah mengatakannya berkali-kali. Tapi ia adalah pecinta astronomi. Galaksi, bulan, bintang… Ia selalu menceritakan semua hal tersebut padaku."

"Dan kau adalah pecinta bela diri." Baekhyun berkata, out of nowhere and makes no sense.

"Ya begitulah. Baixian, aku merindukan Kris. Bolehkah aku bercerita tentangnya? Dari awal?"

[Entah mengapa, Tao sangat nyaman untuk menjadi dirinya yang dulu bersama Baekhyun sekarang]

Baekhyun terkekeh. "Kau sudah menceritakannya sekitar…. Seribu kali. Tapi dua puluh juta kali pun, aku akan mendengarkannya."

.

.

.

(2001, November 9th)

Sebuah hikayat tak tertulis; turun temurun menyuap satu mulut ke mulut dengan kata-kata dan pendeskripsian berbeda. Harga tentang keagungan seorang tokoh, atau kejatuhannya menjadi bahasan utama. Dan begitulah hikayat hidup Tao selama ini; dibicarakan banyak orang dengan pendapat yang berbeda. Kisah hidup yang sempurna, tak ternoda— remaja lelaki yang diidamkan semua orang tua.

Dalam hikayat kisah tiga negara, nama Bodhisattva Sangharama tidak dikenal. Tapi semua orang mengenal Guan Yu yang hebat. Manusia kadang tidak mengetahui nama lain atau hidup lain dari seseorang, hanya karena yang mereka ketahui sebatas kemayaan. Begitu juga kisah hidup Tao— yang tinta kelam dalam masa depan menusuk ruas jantung apabila mereka tahu.

Tapi kita tak akan membahas hal itu sekarang.

Pembahasan dalam paragraf ini tertuju pada seorang Tao sang flower boy jenius dengan segala nama bela diri yang terpahat dalam tubuh. Satu kali diberi anugerah untuk loncat kelas hingga ia bisa mengenal Baixian beserta Luhan. Dan Republik Cina adalah tanah kelahiran tercinta; Bahasa Mandarin adalah satu-satunya bahasa yang begitu dikenal interkoneksi dalam otak sepanjang hidup— setidaknya hingga jalan yang dilaluinya kini, karena ia memiliki segala daya obsesi untuk melanjutkan pengembaraan ilmu di luar negeri.

"Ah! Hari yang melelahkan!" Tao mengurai sisa-sisa air keringat di saat kursi menariknya untuk duduk— dan benar-benar empuk! bersama sebuah meja yang menemani. Ruang kerja yang nyaman.

Ya, kerja.

Huang Zitao, sang pemegang medali prestasi di tingkat kedua sekolah menengah, bekerja di sebuah kedai kecil. Dengan income yang standar pada hari biasa. Namun Tuhan memberi sang kedai penghargaan dengan memberi kejutan. Seseorang memesan kedainya untuk sebuah pesta ulang tahun kecil-kecilan. Tentu saja Tao dan pegawainya bekerja bagai robot MotoMan SDA1 untuk acara pukul tujuh sore nanti.

Tao melirik arloji Audemars Piguet-nya, satu jam menuju acara.

Ia tidak berniat untuk keluar, tapi ia harus bersiap-siap memakai T-shirt Hermes baru dari Baixian karena tentu saja— Tao diundang. Tanpa mengetahui siapa orang yang mengundang. Tapi Baixian-gege mengatakan bahwa orang yang berulang tahun adalah seorang gege yang sangat baik.

Dan… yap, Tao adalah sang pemilik kedai kecil. Yang baru dirintis hberhari-hari dalam satuan beberapa bulan dengan uang dan kerja keras sendiri— hey! Tao tak ingin dikatakan ia hanya bisa menghabiskan uang Mama dan Baba yang seharusnya mereka tanam di saham mereka yang lain. Jadi dengan uang tabungan seadanya, Baba mengizinkan tiga office boy-nya untuk dipindah ke kedai Tao.

[Orang tua mana yang tak gigit jari melihatnya?]

"Tao! Apakah kau sudah membawa kaosmu?" Baixian berlari mendekat ketika Tao menjejakkan kaki menuju sebuah ruang ganti.

"Ini!" Angin membantu Tao memberikan efek kibasan menarik pada kaos berwarna peach itu.

Baixian menggerakkan kepala ke bawah dengan hentakkan, tanda setuju. "Untunglah. Kukira kau akan melupakan kaos hadiah untuk pesanan acara pertamamu. Aku memakai uang tabunganku loh!"

"Kau ini terlalu baik, ge! Kau ikut juga kan?"

"Yap!"

Baixian melihat bayangan Tao yang tertelan pintu dan deguman kaki ia berikan saat berjalan kembali menuju ruangan utama kedai.

"Hai, Baixian. Tao sangat senang mendapatkan kaosnya. Ia bercerita sepanjang hari pada kami." Salah satu pekerja Tao memberikan penyapaan yang menyenangkan dengan seringaian khas.

Baixian adalah Baekhyun muda, si mungil sahabat Tao. Di mana sesungguhnya ia ditugasi Baba Byun untuk berteman dengan Tao agar ayahnya dapat bekerja lagi di perusahaan Tao. Tapi ah screw that! Ia tidak peduli, ketulusan menjadi urusan ketika berteman dengan panda kesayangannya.

Darah korea yang memberikan aliran tersendiri dalam tubuh Baekhyun datang dari Ibunya. Dan hidup tanpa jaminan uang yang cukup bersama sang Eomma membuat sang Baba menarik Baekhyun ke Cina. Yang mana, tak ia tolak sama sekali karena toh seorang bocah berumur empat tahun takkan mengerti peliknya kapitalis orang-orang dewasa kan?

Jadi, di sinilah ia, membantu Tao mempersiapkan acara pertama di kafe milik Tao— pesanan dari sepupu jauh Baekhyun.

[Dan kalau Tao menyatakan sesuatu tentang kedai kecil, jangan percaya! Ini adalah kafe bintang lima... dan Baekhyun tidak bercanda]

Dua ribu empat ratus detik berlalu sebelum Tao dan Baekhyun berdiri menyambut beberapa pria dan wanita muda yang jelas beberapa tahun lebih tua dari mereka. Dan saat Tao sibuk tersenyum mendapatkan layangan pujian dari beberapa orang, saat itulah katup jantung menutup dan membuka lebih cepat; terminal koneksi saraf yang bergerak beberapa mili sekon lebih lambat; dan cahaya dari pusat retina memfokuskan diri secara sempurna ketika ia melihat seorang pria di ujung terakhir barisan tak teratur para hadirin pesta.

Kalau kau berikan satu helai daun yang hampir layu dan menunggu kesempurnaan menjatuhkan hidup, Tao dapat mengembalikannya bak anak daun yang baru hanya dengan sinar kepesonaan yang digumamkan wajah itu; tatapan terpesona terperi jelas dalam gelapnya mata Tao.

Tubuh atlit, rambut pirang menyala menjadi atap wajah malaikat; dan mata yang saling menangkap membuat desiran aneh tak terperi. Tao memberi keluangan bagi sekujur tubuh untuk merinding, dan segera mengalihkan pandangan kepada orang-orang lain.

"Temanmu ini hebat sekali, Baixian. DI usia yang belia sudah berbisnis kafe!" Salah seorang pria bersurai coklat tebal memuji Tao lewat Baekhyun. Dan Baekhyun mengangguk.

"Tentu saja! Siapa dulu temannya!"

Lalu merebaklah tawa dari mereka.

"Aku jadi ingin punya adik sepertimu, Tao!" Seorang lagi memberikan pujian.

"Aku adalah adik kalian semua kalau begitu." Tao tersenyum bangga.

"Wah kau imut sekali! Kau beruntung Kris, kami semua membayari ulang tahunmu di tempat yang tepat bersama panda yang lucu."

Jadi nama pria tersebut Kris.

Dan ini adalah pesta ulang tahun Kris.

Yang dibayari teman-teman Kris.

Serta dengan tak berperikemanusiaan, sang subjek utama hari itu tak menyapa Tao sedikitpun.

Si pemilik kedai.

Wow.

Tentu saja Tao merasa tersinggung; Mata Kris terus menayangkan pengaguman atas dirinya namun tak seucap kata pun sang pria berikan— salam saja tidak. Dasar pria tak tahu diri.

Namun Kris tampaknya menyukai acara ulang tahunnya di kafe baru— atau kedai kecil menurut sang pemilik. Ia bahkan terus melirik sang pemilik kafe, mengagumi keindahan bibir dan hidung itu.

Biarlah Tao kesal dengan pemikiran tersebut. Yang pasti genap dua puluh tahun umur Kris ketika bertemu seorang bocah berumur enam belas tahun bernama Huang Zitao yang innocent dan suci. Mata bertemu mata di sebuah kedai kecil milik Tao.

Meski dengan kekesalan, Tao tahu font kehidupan takkan sama lagi baginya.

Atau bahkan bagi Kris.

.

.

.

"….Setiap hari setelahnya ia selalu datang pada saat makan siang. Tapi tentu saja, kita ada di sekolah, ya kan, Baixian?" Baekhyun mengangguk meski ia sudah hapal di luar kesadaran tentang hari-hari itu. "Jadi dia tak menemukanku. Dan ia berkata pada suatu senja pada hari yang berujung kepadaku bahwa ia selalu mencariku. Aku tertawa dan mengatakan bahwa aku sempat kesal padanya karena pada hari di mana kami bertemu, ia bahkan tak mengajakku bicara sama sekali. Tapi Kris tak menemukan kelucuan pada tawaku jadi aku diam."

Baekhyun dan Tao, hampir lima tahun setelah 2001 sedang berbaring menatap langit-langit kamar Tao. Hari itu adalah jejeran hari terakhir di musim dingin.

"….Akhirnya kami menjadi semakin dekat setelah Kris menghabiskan setiap sore di kedai ketika aku tidak ada latihan wushu. Kami bahkan bertukar nomor telepon genggam!"

Tao menguap, matanya mulai berat.

"Aku…sangat…senang karena ia mencariku. Terkadang cutter tak mampu memberikan kepuasan yang sama seperti pada momen itu, Bai…xian. Tapi setetes darah tentu saja lebih baik daripada tidak…"

Dan suara Tao makin lama menghilang seiring denting jam. Baekhyun diam-diam hampir terisak mendengar semuanya.

Betapa Tao masih mengingathingga detail detik yang menemani.

Tao tertidur meremas tangan Baekhyun yang berkeringat; tak berhasil menyelesaikan bahkan satu bagian ceritanya bersama Kris.

Tapi itu tak penting; toh Tao sudah menceritakan semua kisah di antara dirinya dan Kris kepada Baekhyun berulang kali hingga Baekhyun yakin ia akan mendapatkan A+ jika ada mata kuliah Kisah Tao dan Kris di jurusannya.

.

.

.

(2002, April 28th)

Bulan Mei hampir tiba dan Zitao menyukainya.

Karena ia akan merayakan sweet seventeen-nya sebentar lagi.

Apalagi bersama Kris.

Kris.

Kris-nya.

"Tao! Apa yang kau lakukan di situ? Turun dan temani aku menggambar di bawah!"

Tao menjulurkan lidah, "Tidak mau. Kris-gege saja yang naik."

"Kau ini. Dasar panda kecil menyebalkan."

Kris bangkit dan menaruh sketsa gambar— oh sang Kricasso.Pada akhirnya memanjat untuk duduk di kayu rumah pohon yang dibangunnya beberapa waktu lalu untuk Tao.

"Aku tidak kecil! Umurku juga akan tujuh belas tahun sebentar lagi. Kau saja yang terlalu tua dragon-gege!" Tawa Tao adalah musik terindah yang pernah Kris dengar.

Kadang Kris heran mengapa bocah di bawah umur bisa membuat dunia berhenti ketika melihatnya; atau jantung yang terbalik ketika mendengar deru tenang nafasnya. Ia jatuh cinta. Hanya dalam waktu lima menit semenjak Tao mampir ke sepasang mata Kris. Dan kenyataannya, ia bahkan tak bisa menghilangkan Tao dari pikiran semakin meyakinkan Kris bahwa Tao bukan didinya yang biasa.

"Enak saja. Kau itu yang masih di bawah umur!" Kris berkata, Tao sudah bersiap membalas ketika Kris menaruh kepala di pundak sang bocah. "Tapi tak apa, fakta bahwa kau empat tahun lebih muda dariku menjadikanmu terlihat lebih seksi bersamaku."

Tao memukul kepala sang gege.

"Yaampun! Jangan mengotori otakku dengan kata-katamu!"

Kris terkekeh, "Aku kan hanya bilang kita seksi jika bersama. Benar-benar bahagia rasanya memanggil kau dan aku dengan kita."

"Hmm? Benarkah…. Aku senang mendengarnya." Tao menaikkan sebelah alisnya. "Kau adalah pria paling cheesy yang kukenal."

"Aku tahu. Tetapi aku tidak membual— hey, Tao, maukah kau menghabiskan sepanjang hidupmu bersamaku?"

Tao tertawa dan dua alis Kris bertemu, "Apa ada yang lucu?"

"Kau berkata seolah-olah kita sudah serius saja." Tao menyatakan. "Bahkan baru dua bulan berlalu semenjak kau menembakku."

"Tentu saja aku serius! Persetan dengan waktu. Kau adalah satu-satunya di hidupku."

"Tao memang hanya ada satu, mana mungkin bisa jadi dua, atau tiga."

"Kau ini. Maksudku bukan begitu. Mau ya Tao, mau? Teruslah bersamaku hingga akhir nanti."

"Hm… ya, ya, baiklah kalau itu maumu."

Tao tertawa senang dan mengecup sebelah pipi Kris sekilas.

"Yang ini." Kris memajukan bibir dan menunjuknya dengan jari. Tao menggeleng.

"Ingat, ciuman pertama hanya ketika aku sudah tujuh belas tahun."

"Baiklah, baiklah… Tao?"

"Iya."

"Kau tahu, surga telah kehilangan satu malaikatnya…" Kris berkata. "Malaikat ini hanya untukku seorang. Aku takkan bosan menjerat malaikat ini dalam pelukanku."

"….Teruslah bersamaku. Tetaplah menjadi malaikatku, Tao."

"Aku milikmu selamanya, kalau begitu."

Dan Kris memeluk Tao. Hangat.

Teruslah bersamaku hingga akhir nanti.

[Sayangnya janji tak lagi berlaku ketika waktu yang berbicara]

.

.

.

(2002, May 2nd)

Beep.

"Selamat pagi, birthday boy."

Tao membuka mata ketika dua kata berhasil ditangkap melalui telepon genggam.

"…Hmmm. Gege."

"Shengri kuaile. Selamat ulang tahun, panda."

Retina Tao bergerak melihat waktu di jam tua keluaran The Hamilton Watch Co of Lancaster, 12.02 AM

"Ge… terimakasih—hey! Jangan bilang kau belum tidur dari tadi!"

Terdengar tawa dari seberang jaringan, "Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu juga, ge. Pergi tidur sekarang, ya?"

"Baiklah, baiklah. Panda yang ini sangat cerewet. Aku akan tidur sekarang. Kau juga, oke?

Ketika langit merubah diri menjadi Nautical Dawn-nya, Tao sudah memasuki kursi penumpang belakang Porsche Panamera yang diberikan ayah beberapa bulan lalu.

Beep.

"….Silahkan tinggalkan pesan anda setelah nada berikut."

"Hai, Ge, pasti kau masih tidur ya? hari ini kedai tidak buka. Baba menyuruhku untuk bersiap-siap saja. Jadi jangan ke sana. Kau langsung saja ke rumahku nanti. Jangan lupa, oke? Oh ya, berikan aku kabar secepatnya!"

Sekolah bagi Zitao kecil adalah surga karena ia dapat bicara dengan orang lain selain para pekerja orang tuanya, Kris, dan Baixian.

"Xiao Deer!"

Satu bocah lelaki yang kelewat cantik menutup loker dan menatap Tao, "Oh, hai panda buluk!"

"Kau tak memberiku ucapan?"

"Untuk?"

"Aku ulang tahun, bodoh!" Mereka berjalan bersama menuju kafetaria dengan lengan Luhan yang merah akibat sentuhan kesal dari Tao.

"Aku bercanda. Tapi aku memang malas mengucapkannya. Akan terdengar menjijikan. Yuck!" Luhan tertawa. "Aku sudah membungkuskan satu kemeja baru sebagai hadiahmu, kok."

"Luhan! Kenapa kau membocorkannya padaku, dasar rusa bodoh."

"Aku tak ingin menjadi cheesy seperti kekasihmu itu dan membuat kejutan yang menjijikan."

"Hmm.. yang pasti jangan lupa memberikannya padaku di pesta sore nanti, oke?"

.

.

[Sayangnya tak pernah ada rasuk bahagia dalam diri Zitao di sisa hari ulang tahun ketujuh belas, karena malam itu satu fakta menyedihkan dikenang sepanjang masa olehnya; Orang tua Tao tak merestui pria pengangguran seperti Kris mendekati anak mereka!]

.

.

.

.

(2002, May 31st)

"Zitao, lihat aku." Kris menggertakkan giginya. Tao menatap ngeri. Dan tekanan udara di antara mereka sungguh menyiksa.

"Ge, maafkan aku, tapi—"

"Aku tidak peduli! Apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu. Tolonglah, Zitao, berikan aku kesempatan lagi."

"Aku—"

"Aku berjanji aku akan menjadikan diriku lebih baik sehingga orang tuamu mempercayakan hidupmu padaku. Aku janji Zitao, aku janji."

"Bukan itu, Ge—"

Sebuah ciuman membungkam kata-kata yang ingin Tao utarakan.

"Aku tidak peduli. Aku akan melakukan apapun asal dapat kudekap lagi malaikatku."

.

.

.

.

Kris dan Tao terjebak dalam sebuah backstreet setelahnya. Dan sebagai sahabat yang baik, Baekhyun selalu menyampaikan May Birthstone Rose Bouquet dari Kris menuju tangan Tao; atau satu kaos baru untuk Kris sebagai hasil penjelajahan jemari Tao di rak-rak Calvin Klein. Tapi hal tersebut tak berlangsung lama hingga pengumuman kelulusan mereka—

Pada satu hari yang indah dan penuh harapan bagi seluruh penduduk kelas dua belas sekolah menengah, pada hari yang sama pula Huang Zitao dan Xi Luhan mendapatkan surat resmi berlogo Swinburne.

Tao mendapatkan beasiswa penuh sebagai mahasiswa di Australia!

Betapa indah penjelmaan rangsangan kebahagiaan. Tubuh Tao bagai terbang menuju sebuah istana yang sudah dihafalnya di luar kepala; rumah. Menapaki setiap detak ketertarikan terhadap reaksi ibu dan ayahnya.

"Tuan muda Zitao, Tuan Huang tak ada di rumah hingga minggu depan."

[Kau bisa bayangkan betapa hancurnya hati Tao?]

"Mama?"

"Nyonya Huang sudah pergi lagi. Maafkan kami. Apakah ada sesuatu yang anda butuhkan?"

"Tidak. Terimakasih, Jiejie." Tao mendapatkan telepon genggam di tangan setelahnya. "Tak apa Tao, kau bisa memberitahu Baba nanti. Aku akan menelpon Mama."

Beep.

"Ya, Zitao? Apakah Da Lou belum menjemputmu? Atau kau—"

"Ma, tebak! Aku punya ini!"

Surat tertunjuk ke layar handphone di mana wajah sang ibu menjadi terkejut. "Australia Ma…."

"HUANG ZITAO, MAMA BANGGA PADAMU! Tunggu hingga Baba mengetahui ini dan menyiapkan sebuah hadiah untukmu—"

Tao menggeleng. "Aku tak mau sesuatu yang baru. Aku sudah cukup senang jika kalian berdua ada di sini bersamaku."

"…Oh Zitaoku…."

"Tak apa, lanjutkanlah pekerjaan Mama dulu. Nanti kita bisa makan malam bersama."

Baru saja jaringan telepon terputus, satu panggilan menunggu untuk dijawab oleh Tao. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan— satu-satunya yang dengan senang hati menghabiskan uang hanya untuk menelpon Tao setidaknya setiap empat jam sekali, sang pangeran Kris.

"GEGE!"

"Calm down, Baby Panda. Bagaimana hasil ujianmu?"

"Tidak penting…"

"Hei, hei, kenapa begitu?"

"KARENAAKUSUDAHDITERIMADIAUSTRALIA!"

[Mungkin lebih baik kalau tidak terlalu dekat dengan telinga ketika menerima telepon]

Jeda lama. "Huh? Kris?"

"Aku— aku senang sekali mendengarnya! Bagaimana kalau aku menjemputmu sekarang?"

"Aku sudah di rumah. Kris-gege ke sini saja. Tak ada Mama…"

Tepat tiga puluh lima menit kemudian ketika Tao menaikkan kaki di sofa, Kris menerobos masuk kamar kekasihnya. Dan jangan tanyakan bagaimana Kris bisa masuk dengan cepat…. Yang jelas bukan hasil dari memanjat pohon Rhapis Flabelliformis l'Herit.

"Hei, malaikat."

"Gege! Cepat sekali. Biasanya satu jam kau baru berada di sini."

"Aku hanya ingin memeluk pandaku lebih cepat. Kemari, peluk pangeranmu."

"Kau ini selalu saja cheesy." Tapi Tao tak menolak dan menguburkan segala energy negatifnya ketika lengan protektif itu merengkuh tubuh Tao.

"Jadi, malaikatku ini sudah besar. Dia akan segera terbang ke Australia?" Kris bertanya.

Mungkin kalau dalam situasi yang berbeda, Tao akan mendengar nada yang ceria menemani suara berat; tetapi tidak. Rasa hati-hati akan penuturan kata demi kata Kris membuat Tao terkejut.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya begitu bahagia dan bingung dan senang dan kesal—"

"Kesal?"

"Maksudku… siapa yang akan menemani pangeranmu di sini selain malaikatku—"

"Kau tak suka aku pergi, Ge?" Ada nada yang menakutkan bagi Kris ketika Tao mengatakannya.

"Bukan—"

"Aku serius. Kalau kau tak suka, aku akan membatalkannya. Aku tak mau kau terbebani—"

Tiba-tiba kening Tao telah didaratkan sebuah ciuman. "Tidak. Aku memang terbeban. Tapi aku senang kau bisa meraih mimpimu. Jangan batalkan. Aku ingin kau bahagia."

"Aku ingin kita bahagia."

Diam merutuk semua suara yang ingin dikeluarkan Kris. Namun pada akhirnya ia tertawa canggung, "Kau begitu cheesy."

"Kris…."

"Aku marah kalau kau membatalkan kesempatan emasmu." Kris berkata. "Jadi, kapan kau akan pergi?"

"Dalam waktu satu bulan."

Kris mengangguk dan membuat Tao mengikutinya keluar. Mereka berjalan-jalan di bawah sinar dari sang pusat revolusi bumi menuju taman di dekat sekolah Tao. Berdua. Menjatuhkan memori-memori lama dari dasar otak menuju pembicaraan. Mereka tertawa; menghafal bagian di mana hal-hal konyol dan memalukan pernah tersesat di arah kehidupan.

[Kau bisa melihat betapa bahagianya mereka]

Saat perjalanan sudah terlalu panjang dan kelelahan menjadi magnet terkuat untuk duduk di bangku taman yang berteman rumput hijau, Kris menyatakan sesuatu yang membuat sang pemuda panda tersenyum penuh keriangan.

Betapa sang Kuasa memberikan segala kebahagiaan yang meletup-letup bagi Tao hari itu.

["Kau tahu, beberapa hari yang lalu seorang teman lama mengajakku untuk ke kantornya. Dia mengenalkan aku kepada atasannya."

"Jangan bilang kau tertarik dengan sang atasan."

"Someone's being a jelly panda." Kris mengecup pipinya. "Tapi bukan itu…"

"Lalu?"

"Tebak apa? Aku mendapatkan sebuah pekerjaan!"

"Ge, itu berita bagus!"

"Tentu saja. Aku hanya mendapatkan gelar asisten teman lamaku itu— tapi aku janji aku akan naik pangkat sehingga aku bisa menabung untuk pernikahan kita nanti."

"Hei! Itu masih terlalu jauh! Tapi omong-omong, siapa teman lamamu itu?"

"Zhang Yixing. Sebenarnya dia mantan kekasihku tetapi aku tak pernah mencintainya hingga hubungan kami berakhir. Jangan cemburu, oke?"

"Baiklah, kalau kau bilang begitu." Tao mengubur segala pertanyaan yang ingin diajukannya. "Sekali lagi, selamat ya, Ge!"]

.

.

.

.

(2004, August 2nd)

Hampir satu bulan berlalu; membawa kenyataan yang membuat Tao ke tingkat kegelisahan tertinggi.

Semua orang tak ingin memberikan lambaian perpisahan kepada yang tercinta ketika tahu bahwa perpisahan itu dapat memberikan ruang kehancuran bagi mereka.

Tapi kegelisahaan Tao lebih dari itu. Pertama, dalam waktu dua hari ia akan menghirup udara benua Australia. Ah! Bayangkan betapa sedapnya kudapan pembuka, dan barang-barang yang menunggu untuk dibawa oleh kartu kredit Tao…. Well, kedua, ia gelisah menderukan batas waktu di mana Kris akan memberinya kecupan selamat tinggal. Bagaimana keduanya memeluk dan mendamba lambaian di bandara bak drama yang selalu diributkan oleh pekerja perempuan di rumahnya sebelum waktu menyatukan rindu kembali.

Namun itu takkan terjadi karena Baba dan Mama Tao akan mengantar sang anak menuju pelepasan diri di penghujung panasnya hari itu. Dan Tao sudah lebih dari paham atas segala konsekuensi yang akan terbawa bila kebodohan tak disingkirkan.

Selama 168 jam terakhir Tao belum menemukan spasi untuk mendekap Kris, atau setidaknya mengecup pipi putih itu. Tentu saja— ia harus membakar energy untuk menandatangani visa, dan paspor, dan menata masa-masa baru di dalam kehidupan barunya nanti. Karena satu helain daun yang jatuh pada tempat baru akan menjadi sebuah adaptasi yang menunggu untuk diperbarui pula.

Tapi takkan menjadi masalah bagi Tao apabila waktunya terbuang untuk mondar-mandir membuang lemak-lemaknya. Atau pekerjaan baru yang menuntut semua perhatian Kris menjadi terbagi dua.

Hanya saja, darah yang berdesir lebih cepat ketika frekuensi dan jarak dering masuk dari sang kekasih lebih jauh; memaksanya memeriksa setiap pesan yang masuk ke manapun ia menjejakkan kaki. Namun belum ada huruf-huruf yang diharapkan. Kris tak memberinya sebuah kemanisan yang sama; Kris menjauh.

Mungkin mereka masih dalam dek yang sama, atau setidaknya oksigen di sekeliling masih terbagi oleh perahu yang sama— namun entah mengapa, terasa ditanami dengan dinding baru; persatu detik menggenapi raungan pembatas, menjulangi harapan tentang perbaikan hubungan.

Pikirnya, itu memang sebuah kewajaran ketika kesibukan memberikan kerapatan hingga tak pandai lagi mereka memberi satu detik saja untuk berkomunikasi. Tao paham, mengerti, dan menghargai bulir keringat yang mungkin saja tak diberikan perhatian oleh Kris ketika melewati jam kerja; namun ia begitu tak searah dengan jalan pikiran bahwa Kris mengabaikannya.

Tidak.

"Tao-er," Seseorang memberikan satu suara panggilan dari balik punggung ketika Tao menghabiskan sebotol coke dari kantung belanjaan. "Apa kau sudah selesai mengepak?"

"Sudah siap semua! Aku tinggal memakai baju dan pergi ke bandara, dan bum! Aku ada di Australia!"

Baekhyun terkekeh, betapa khidmat menjatuhkan sebuah kehangatan persahabatan dalam satu pelukan singkat kepada Tao hingga Luhan— tentu saja, Luhan being Luhan, memecahkan jentik haru dengan satu pelukan juga… kepada kata-kata bodoh pengusir suasana.

Di depan antrian kasir supermarket.

"Wow, gayness all over the world!"

Tao menjebak kepala Luhan dengan satu jitakan.

"Hei, rusa pendek, kau juga gay. Akuilah, oh— siapa namanya, Shi Xun, kan?"

"Telingaku sakit, duh!" Luhan merengek meminta perdamaian tak kasat mata.

"Berisik, Luhan. Kau mengganggu momen." Suara Baekhyun menggema di telinga Tao. Ia sudah membawa satu kantung plastik, menunggu Luhan menyerahkan uang pembayaran kepada sang kasir.

"Aku juga akan pergi, ke tempat yang sama pula dengan Tao. Tapi mengapa tak kudapatkan perlakuan yang sama?" Luhan menyodorkan; bagai permintaan santunan.

"Karena kau adalah Luhan?"

"Yap, tentu saja. Karena kau adalah Luhan." Baekhyun tak kalah heboh.

Langkah kaki dari tiga pasang menawarkan kedamaian alami dan tak satupun kata mewarnai ketika sampailah mereka di kedai es krim kesukaan Luhan. Memesan rasa pilihan masing-masing sebelum meletakkan belanjaan di bawah kaki dan membuat beberapa kata.

"Jadi ke mana kau akan melanjutkan?" Luhan tentu saja bertanya kepada Baekhyun, namun Tao mendahului jawaban,

"Baixian akan menunggu jalur pendaftaran terbuka. Tebak ke mana?"

"Aku sedang bertanya bodoh. Bukan bermain tebak-tebakkan."

"Aku akan mendafar pada jurusan yang sama dan kampus yang sama dengan Tao." Baekhyun lantas berbicara dan menjilat sendok es krim yang berlumuran vanilla, "Dan sayangnya, kita akan bertemu lagi, Lulu."

"Kan, kalian berdua memang gay. Jurusan yang sama? Tak kusangka aku akan satu sekolah lagi denganmu, eyeliner-diva."

"Hei! Jangan begitu! Bisa-bisa kau dipancung di atas rumah pohon oleh kekasih Tao."

Tao tertawa, pelan. "Tak apa-apa. Dia mungkin takkan peduli lagi."

"Wah, seseorang sedang patah hati, kalau begitu?"

"Ada apa? Kau bisa berbagi cerita."

Secara mengejutkan, Baekhyun lah yang mengucapkan pertanyaan pertama, dan Luhan merangkul Tao dengan sebelah tangan— mungkin jiwa yang tertukar bisa terjadi karena bertukar jilatan es krim lewat sendok?

Tao akhirnya membeberkan perasaan; emosi. Meleburkan amarah dalam detik-detik tetes air mata, menyebarkan satu pak keganjalan. Dan akhirnya dua sahabat Tao menjalani kepahaman ketika satu dering masuk kepada ponsel Tao.

("Temui aku di taman jam tujuh sore nanti. Bye.")

Memang benar suara milik Kris dapat membuat tubuh Tao bergetar; apalagi dengan satu kalimat final yang miris, singkat dan dingin.

[Ada apa ini?]

Tak dapat lagi konsentrasi diberikan jika pada pukul setengah tujuh sore, mobil Luhan sudah terparkir di tepi taman bersama Baekhyun dan Tao di dalamnya. Menunggu permainan perasaan sampai pada titik terparah dan Baekhyun lebih dari mengerti; jadi ditenangkannya Tao, menyerbu kekhawatiran sahabatnya dengan secercah usaha tentang kepercayaan. Ya, kepercayaan. Bahwa semua dalam kondisi yang stabil: baik-baik saja, dan Kris takkan memberikan suatu kata yang buruk padanya.

Atau suatu perlakuan tentang kejahatan cinta?

Satu bom besar menindih hati Tao.

Siapa itu?

Benarkah itu Kris?

[Oh ya, cercaan apa yang pas?]

Mata mungkin dapat membohongi satu kali kesempatan, dalam perdepatan panjang antara pikiran yang menelaah gambar dari indera dan perasaan yang memang tak enak adanya sejak tadi. Tao melihat Kris berjalan masuk ke taman dengan langkah tegap dan keyakinan erat di mata.

Tapi bukan itu masalahnya. Kris menggenggam tangan pria lain. Dalam cara yang lebih dari akrab dalam batas rekan kerja dan tangan itu sama sekali tidak mirip dengan tangan Tao.

[Bukankah itu sudah cukup?]

"Tidak." Tao bergumam, tak membuat kepercayaan yang pas di dalam diri. "Tak mungkin.

"Baiklah, cukup. Aku akan membawamu pulang." Luhan menyambung, menyalakan mesin mobil ketika Tao masih terperangkap kerterkejutan, Baekhyun menjawab tak lama setelah itu; oh tidak, lebih tepatnya menjerit.

"JANGAN!"

"Baek— kau bercanda. Tao takkan kubiarkan seperti ini!"

"Ma—maksudku… Luhan, kau yang bercanda. Justru Tao harus meminta penjelasan kepada Kris."

"Tidak."

Luhan melajukan mobil dalam kecepatan dua puluh kilometer per jam untuk detik-detik pertama meninggalkan taman sebelum Tao berkata dengan parau dan penuh awan hitam dalam suara, "Hentikan mobilnya. Aku akan turun."

"Tao—"

"Gege, aku mohon."

Tujuh per tiga menit waktu Tao untuk menutup pintu mobil dan berlari ke hadapan Kris yang sedang duduk di bangku taman bersama pria lain (mungkin lebih baik tanpa disebutkan lengan yang menggelantung dan serpihan-serpihan senyuman mengelilingi mereka). Baekhyun dan Luhan mengambil langkah tercepat di belakang, tapi tak lagi mampu menghentikan Tao.

(Kesalahan fatal bagi Kris ketika mencium pipi sang pria justru pada detik-detik kedatangan kekasihnya)

Tao mungkin terbawa pijaran emosi di benak kesuraman ketika meninju pipi kanan Kris.

"Jadi, ini yang kau sebut sebagai teman lama? Zhang Yixing kalau tidak salah?" Tao menatap dua pria di hadapannya dengan ritme cepat dan penyebaran sayap intimidasi.

Raut yang jelas sekali berubah dari wajah Kris dan sang tokoh ketiga: Zhang Yixing. Senyuman mereka memudar, dan lengan tak lagi bersatu dengan pundak lain saat waktu menjepit semua kata di antara mereka— dan tangis Tao pecah sudah.

Kris menjumpai tubuh sesenggukan itu sembari memeluk. Aneh bukan? Sengatan kehangatan pelukan di justru terkuak ketika saat-saat terakhir mendarat di depan mata. Tao menyelipkan kepedihan dalam erat lengan yang ia lingkarkan pada Kris, tak peduli bahkan kepada Zhang Yixing yang mungkin tertawa melihat adegan konyol.

"Tao— sayang." Kris mengelus surai gelap Tao. "Dengarkan aku— aku…."

Satu tinju melayang lagi dari sisi kanan tangan Tao, menyentuh pipi kiri Kris. Lengkap sudah koleksi tinju per sore ini.

Kris mungkin akan berpikir bahwa Tao memiliki kebipolaran yang menarik untuk diidentifikasi; dalam lain waktu.

"Kupercayakan semua padamu. Kuberikan seluruh pikiranku hanya untuk menjamah di mana kau berada dan apa yang terjadi." Tao menahan beberapa air dari matanya, melanjutkan, "Well, aku sudah mengetahui jawaban dari pertanyaanku. Terimakasih."

"Tao—"

"Terimakasih… untuk semuanya. Takkan kusentuh lagi cerita lama, sepenuhnya. Pesawatku berangkat lusa. Yah, mungkin kau tak peduli tapi setidaknya aku akan memberitahunya sebelum perpisahan."

"Baby—"

"Kau memiliki orang yang lebih pantas untuk kau berikan sebutan itu sekarang."

"TAO!"

"Zhang Yixing-ge, selamat." Tao berusaha memeluk tubuh lain secara canggung.

"TAO DENGARKAN AKU!"

"Aku merindukanmu—" Kris sudah menarik tangan lembut Tao, hendak membawa satu pelukan lagi namun tak pernah terjadi. Tao menolak mentah-mentah tanpa kata.

"Menjijikan." Tao mencibir. "Ja—jangan dekati aku. Hubungan kita berakhir."

"TIDAK!"

Terlambat.

Luhan telah membawa Tao menuju mobil bersama paket tingkah canggung Baekhyun. Kris meraung-raung mengikuti arah laju mobil dengan kaki sebelum menyadari kebodohan.

[Beberapa orang memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan rekannya dengan beberapa cara mengejutkan, kan?]

Kris menarik kunci mobil Yixing dari tangan sang pria yang berdiri kebingunngan. Penyegeraan membuat Kris gugup dalam mengemudikan mobil menuju arah jejak roda mobil tadi. Beberapa jenjang waktu dibutuhkan untuk menyamai kedudukan Tao. Namun Luhan lebih lihai dalam mengemudi, meninggalkan jejak di belakang lagi. Jangankan menyejajarkan dua mobil itu lagi, mengetahui ke arah mana Luhan membelokkan penumpangnya saja Kris harus terhalangi satu mobil besar di hadapan.

Sebut Kris peramal; tapi ia tahu jalan kecil pemotong jalan hingga jarak kedua mobil hanya sebatas kewajaran spasi mobil yang sedang melaju. Berada tepat di belakang mobil abu-abu Luhan dalam kecepatan tinggi. Kerlapan lampu hijau berjalan dengan detik penghitung mundur di sebelahnya. Layar itu menyatakan limit satu per dua detik Kris untuk menyusul mobil Luhan yang telah meluncur lewat lampu lalu lintas.

BUM!

Tao menghadang air mata yang masih ada hanya untuk sekedar melihat satu truk besar dari arah kanan menghantam mobil di belakang mereka.

Tidak.

"KRIS!"

Sekeras apapun Tao menjerit, ia hanya mampu menatap pembentukan suatu kerumunan di sekitar lokasi kejadian perkara sambil lalu karena Luhan tak pernah menghentikkan mobilnya pada pukul delapan waktu setempat di sore 2 Agustus 2004.

.

.

.

.

Pernahkah sebuah batang pohon mendepak satu daun yang ia punya hanya untuk kepuasan semata? Jika Tao diberikan kesempatan untuk bernafas sebagai batang pohon, takkan ia sisakan daun-daun lagi. Tentu saja daun-daun itu hanya akan memberatkan tubuhnya.

Tapi Tao adalah seorang manusia, dan ia takkan melepaskan orang tercinta, seberat apapun beban perih yang Kris berikan kepada transformasi jerami-jerami hati Tao. Itulah penguatan dasar diri. Tao membuat kata-kata itu di dalam hati, menjerumuskan alasan-alasan lebih lanjut tentang penyalahan diri. Seharusnya ia tidak bertindak gegabah, seharusnya ia meminta Luhan menghentikan mobil, seharusnya… dan seharusnya….

Tao tidak pernah mendapatkan jeda informasi kondisi keka—mantan kekasihnya sejak sore di mana kecelakaan besar telah terjadi. Dalam diri menyangkal bahwa itu bukan hal yang buruk; hal terbaik yang dapat ia suguhkan kepada pikiran dan hati agar tak terbentuk luka baru lagi. Toh pada akhirnya ia akan berpisah dengan Kris. Bagaimanapun juga.

Ingatan mendepak akal sehat, sekali lagi. Mendekap Tao dalam kemurungan yang sama selama berminggu-minggu. Tak pernah dibayangkan, bahwa ekspektasi akan bulan pertama menjelajah negara asing untuk menghabiskan uang di toko-toko mahal— akan berbalik memunggungi. Meski pesta tahun ajaran baru yang meriah telah terlampaui, dan kelas sudah mulai dijalankan, Tao semakin dalam mengotori pikiran dengan segala memori dan penyangkalan akan kebenaran.

Ia tak yakin harus lega atau kecewa ketika mengetahui ia takkan berbagi kamar asrama dengan siapapun. Kamar Luhan berbeda lantai dengan kamar Tao. Dan Baekhyun— yang secara tak mengejutkan dapat lulus seleksi ketat dengan mudah; setelah sebelumnya merengek-rengek kepada kepala asrama untuk ditempatkan pada kamar yang sama dengan Tao, kini dapat menerima kamar asramanya sendiri dengan lapang dada. Baekhyun masih terus berkunjung ke kamar Tao untuk menghibur, dan Luhan datang sekali dua kali untuk mengecek kondisi mood Tao. Namun yang Tao butuhkan hanyalah kesendirian, ketenangan dan keabadian waktu di dalam detik.

Tao tak pernah fokus kepada apapun lagi setelahnya.

Mungkin ia hanya berpura-pura fokus.

.

.

.

"Au."

Pertama kali Tao mendapatkan ilmu menyakiti diri sendiri datang pada suatu malam di mana kafetaria sudah tutup dan Tao hanya menyimpan satu loyang roti— hasil pemberian Baekhyun siang itu. Pisau dari peralatan sederhana telah terpegang sempurna di tangan kekar yang lemah.

"Bodoh." Ia mengutuk diri sendiri kepada udara.

Darah yang mengalir sebagai hasil kekonyolan penggunaan pisau dicampuri rontaan pikiran-pikiran lain, rasa perih bersama rasa anyir dapat membekas pada ingatan Tao. Sakitnya— sensasi akan kesakitan mengambil alih seluruh pikiran-pikiran lain hingga tak ada lagi kata tersisa dalam otak.

Gemuruh perasaan dan desiran aneh masih dapat diingat hingga saat ini, membuat Tao merasakan kenyamanan tak terduga ketika darah justru mengalir lebih deras. Ia menikmati setiap detik dari belahan di jari telunjuk; menghormati perlambatan waktu dan mencintai bau anyir tersebut.

Begitu indah penikaman terhadap fisik; betapa perih dalam arti psikologis dapat tertopengi oleh lukisan indah di kulit manusia.

Pada akhirnya, Tao mengerti penyampaian pikiran untuk hati, ia telah menyentuh pengendalian diri yang cocok.

(Baekhyun dan Luhan mengetahui fakta tersebut dua bulan setelahnya)

TO BE CONTINUED


So I decided to make an addition for the chapter 0 (agar kalian tidak terlalu bingung dengan ceritanya)

Oh iya, ini fanfiction diblokir dan aku susah banget buat bukanya. Aku harus download plug in di Mozilla dulu. Apalah itu aku juga gak begitu paham. Intinya susaaaah banget x-x udah gitu jadi lelet lagi. Hhh x-x aku jadi agak kesel sendiri. Kepikiran buat mindahin fanficnya aja ke mana gitu yang bukan ffn. Ada yang punya saran gak? Kalau di aff jarang banget ada author indo yakan x-x

Aku juga gak tau bakal bisa update yang chapter berikutnya kapan. Udah jadi sih, Cuma belum di proofread xD dan belum punya waktu juga x(

But anyways, here it is! Hope you enjoy. Comment? X3