PERFECT(SIONIST)

Summary: Bukankah kesempurnaan adalah penilaian yang subjektif? Bukankah kesempurnaan adalah kemutlakan sementara atas penghargaan?..."Who are you?" "We are the kids, that your parents warned you about."

Plot and fic belong to Mozaorev. Characters are not mine.

Warning: The very Out Of Character mode of EXO! This may be triggering; contains self-harm. Regressive-progressive plot. You have been warned!

Playlist: Cut by Plumb [Listen to it while reading this if you want]

CHAPTER 1

.

.

.

"Baiklah! Cukup sampai di sini latihan kita kali ini. Sampai jumpa!"

Pria paruh baya menutup rangkain huruf pembentuk salam perpisahan sementara semua bocah di sana bersiap untuk kabur menyiapkan langkah kepulangan. Sang guru wushu keluar, menyisakan aroma percampuran titik-titik kelelahan kepada ruangan.

"Tao! BIsakah kau ajari aku satu gerakan awal tadi? Itu sangat rumit. Mungkin ototku belum terlalu terlatih ya?"

Tao ingin menggantungkan penolakan pada sudut mata, namun sebagai malaikat mereka, justru refleksi ketulusanlah yang tercantum. "Bukan begitu, mungkin kau hanya perlu kepercayaan diri untuk melakukannya. Kau sudah lebih dari mampu. Bagaimana kalau kau menanam teori percaya diri yang lebih? Apapun akan terlihat bagus apabila kau percaya kepada dirimu!"

Mereka menggulati keringat lagi, masing-masing mengucapkan sampai jumpa pada akhir senja. Tao belum mampu menyantuni pegawai bus dengan limit uang yang ada. Ia harus lebih banyak menabung dalam rangka penggantian uang Luhan yang akan membawakan obat penghilang rasa sakit untuknya. Persediaan obat memang terlalu cepat habis akhir-akhir ini bagi Tao.

Matahari sudah bersengit dengan bulan dan kalah. Kegelapan mulai menyusup dunia di daerah setempat dan lampu-lampu telah berjibaku mengembalikan sedikit kerja cahaya. Langkah kakinya menyusuri pertokoan dan ia menahan rasa perih yang menohok kala melihat iklan produk Gucci terbaru.

Semenjak hari itu, tak pernah lagi Tao jamahi kesenangan pada Gucci. Melepas semua barang pemberian orang tua yang terlalu berlebihan untuk orang sepertinya. [Meski kemunafikan takkan mengambil alih bahwa ia merindukan pembawaan diri pada barang-barang dengan trend rated yang tinggi]. Mata sibuk mengalihkan kepada lalu lintas dan mobil-mobil mahal.

Mercedes Benz putih menyala yang indah berhenti di lampu merah tepat ketika tubuh Tao bebelok untuk mengusap kaki menuju seberang jalan. Tampaknya sang pengemudi hanya seorang supir dengan seragam dari seorang bos besar; sementara di kursi penumpang bagian belakang duduk seorang pria berambut pirang dan setelan jas mahal. Surai rapi dan wajah bagai malaikat dan garis keras pada lengkung pipi…

Tunggu— siapa itu?

"Pasti aku behalusinasi lagi."

Opini sudah ditetapkan dan takkan berbelit lagi urusan penggantian keputusan. Menggelengkan kepala sebelum melanjutkan kerja tungkai kaki yang sempat tertahan; membuat beberapa pria lain mendorong decakan kepada ujung pendengaran.

Berhenti memikirkan Kris.

.

.

.

.

Penghargaan atas waktu dapat dinyatakan dalam berbagai cara; menjerumuskan diri pada tingkat tertinggi kepadatan aktivitas, termisal.

Tapi Tao tak lagi mengenal menit-menit panjang dalam satu jam, atau satu hari, atau mungkin satu fase bumi di mana orang-orang menyuburkan permintaan akan pengubahan kecepatan waktu. Yang ia tahu hanyalah sekeping irisan jelmaan iblis dalam sebuah kantung detik. Di mana setelah membuktikan, jemari-jemari hanya dapat menghitung kerja permainan debu dengan kelajuan cahaya dalam seratus per seratus detik. Retina yang bergerak mencari penyempurnaan atas pencahayaan pendek.

Fokusnya hanya pada satu objek pekerjaan. Dan yang tertulis sempurna adalah suara kesempurnaan yang mutlak baginya.

Mungkin Bangsa Sumeria menemukan sistem irigasi, atau Henlein sang penemu arloji memberikan banyak kontribusi untuk menuju zaman yang lebih baik dari ratusan hingga ribuan tahun yang lalu. Semua bangsa dalam tingkat kedudukan manusia tetaplah kecil dibandingkan dengan Tuhan. Namun semua manusia dapat memberikan kontribusi yang sama besarnya bagi rintik memori kehidupan masing-masing. Keahlian bukanlah segala-galanya, dan kerja keras lebih mewarnai tangga kesuksesan.

Tapi semuanya tetap salah di matanya.

Lebih banyak darah.

Dan terhitung mundur, dapat disaksikan kesalahan kerja otaknya, memang.

[Ia sepaham bahwa ketidaknormalan bukan suatu masalah besar]

Hey, tunggu dulu! Bukan ia tak mau ambil pusing atasnya. Namun keputusan adalah untuk tetap meletakkan suara pada sistem terbawah dalam hal ini. Terlalu menyeramkan apabila ia menjadi saksi atas kesadaran penghancuran dirinya sendiri secara terang-terangan.

Jadi brankas lautan menjadi jawaban akan tempat persinggahan rahasia dalam waktu singkat yang lama.

Agaknya ia memang bukan makhluk yang pandai bersyukur. Atau memang karena ia tak pernah cepat puas. Dan hal itulah yang memberikan pondasi bagi kuatnya keinginan untuk mendaftarkan diri sebagai calon anak beasiswa di luar negaranya. Dan di dataran inilah ia mengejar laut atas dahaga ilmu; pengumpul manusia dengan imajinasi dan keinginan untuk mendapatkan setinggi-tingginya tingkatan ilmu.

[Menyesalkah ia berdiri di tanah yang bukan miliknya dan mempelajari hal yang seharusnya menjadi boomerang untuk pribadinya sendiri?]

.

Hai, kenalkan aku mahasiswa jurusan psikologi yang memiliki penyakit psikologi.

[Terdengar begitu menggelikan baginya]

[Jadi dua tetes kemerahan akan menggantikan kegelian]

.

Atau lebih baik seperti ini,

Hai, kenalkan. Namaku Tao dan aku terjebak dalam permainan detik.

[Jauh lebih agung]

.

Atau yang seperti ini,

Hai, kenalkan. Namaku Huang Zi Tao, aku adalah mahasiswa jurusan psikologi yang memiliki keterbelakangan mental dan aku terjebak dalam permainan detik. Salam kenal.

[Dan satu tetes darah juga milik kepuasan detik]

.

.

.

.

"…..Tao-er?"

[Siapa yang mengganggu acara rutin-nya?]

Ah shit. Baekhyun pasti meminta materi presentasi antropolginya.

.

Dengan tergesa-gesa, Tao menaruh silet ke dalam suatu tempat di persembunyian kotak harta karun-nya dan memberikan percikan air dari wastafel pada lengannya; yang tak mungkin ia berikan pembahuruan perban. Jadi detik (lagi-lagi detik!) hanya memberikan kesempatan baginya untuk menggosok-gosokan tissue kepada luka-luka yang bersemayam di sana.

Dan tentu saja, melepaskan gulungan kaos oranye panjang yang ia pakai.

Sementara lantai penuh darah ia biarkan begitu saja. Toh takkan ada yang berniat ke kamarnya hanya untuk menumpang buang air.

All it takes just long sleeves to deceive the world.

"…Tak bisakah kau memberi pelajaran kesabaran pada dirimu sendiri? Aku sedang membersihkan diri, tahu! Kau tak ingin melihat didi kesayanganmu ditolak calon pacarnya kan?"

Tao menggurutu, memberikan pandangan yang cocok untuk dilayangkan orang yang sedang kesal kepada makhluk yang tingginya tidak melebihi Tao; tapi lebih tua darinya.

Dua garis alis yang tertempel di bawah gelayutan poni magenta-nya mendekat satu sama lain. Makhluk tadi terkesima dan satu detik kemudian ia berteriak, "….kau tidak memberitahuku siapa dia!"

"Kapan? Di mana? Bagaimana bisa kau tak memberitahuku! Oh tidak, Tao-er, kaosmu terlalu lusuh untuk sebuah kencan. Ayo kita mampir ke butik di seberang sana…. Ya maksudku, kita—aku akan mengantarmu dan membuntutimu. Karena…" Baekhyun menarik nafas, "well, kau mungkin membutuhkan jempol untuk meningkatkan kepercayaan diri."

"…bagaimana?"

Sementara Tao sudah terlanjur duduk di sofa berlengan dengan menertawakan kekonyolan di hadapannya.

"Baek, kau high ya? Apa kau masih mabuk karena pesta kemarin malam?" Tao terpingkal-pingkal, tangan melingkari perut.

"Jadi tidak ada kencan? Dan…tidak ada calon pacar?"

"Aku kan hanya menyatakan sebuah permisalan!"

"Oh, whatever." Baekhyun pada akhirnya bergabung dengan Tao untuk menenggelamkan diri—dengan kesal di sofa. "Aku hendak meminta….."

"Materi presentasi antropologi untuk besok, kan? Untung saja partner-mu adalah aku. Kalau pacarmu…."

"Chanyeol berbeda jurusan denganku, Tao."

Tao terkikik geli, "Oh ya, benar. Dan itu adalah sebuah kebaikan untukmu?"

"Kurang lebih."

Tao mengais-ngais sebuah hard disk dari balik laci di mana ia menghabiskan malam untuk menyelesaikan semua projeknya. Meja belajar yang tertata rapi memberikan sebuah pengertian atas sebuah kehidupan tuannya yang tertata. Dan manusia semacam Tao agaknya menyadari hal tersebut.

Tapi raut wajah Baekhyun mengatakan sesuatu yang berbeda ketika Tao selesai memberikan salinan materi presentasi mereka.

"Kau ingin berbicara sesuatu denganku?" Tao menyelidik. "Kau tidak bisa berbohong padaku, tahu."

"Kau pasti sudah mengerjakan projek Psikologi 100-mu." Baekhyun berjalan-jalan, memeriksa sudut-sudut kamar sahabat baiknya sejak berada di kandungan. Oke coret. Sejak kecil.

"Tentu saja. Itu kan untuk lusa."

"Hmmm… aku bahkan belum menemukan tema yang tepat."

Oh jelas saja, itu adalah sebuah kode!

Tao menggelengkan sarang indra penglihatnya lalu berdecak. "Apa kau butuh bantuanku?"

Dan Baekhyun berusaha membuat tubuhnya terlihat menggemaskan dengan meloncat-loncat seraya memeluk tiang penyelamatnya. Menggesek-gesekkan surainya kepada lengan Tao dan berkata dengan riang,

"Kau adalah malaikat penyelamat!"

"Aku menganggapnya sebagai pujian, kalau begitu?" Tao menyeringai ringan.

"Bagaimana kalau kita ke kamarku." Baekhyun bahkan lupa memberikan nada pertanyaan dalam kalimatnya, jadi Tao menutup pintu kamar setelah mereka berada di luar. "Ayo!"

Mereka berjalan beriringan menuju sebuah kamar dengan papan nama Byun Baekhyun dan Park Chanyeol di depannya.

"Sampai sekarang aku tetap bertanya-tanya apakah ini memang hanya suatu kebetulan atau kau menyuap dewan asrama untuk menempatkanmu satu atap dengan Chanyeol."

Kini buku-buku telah berserakan, saling menjerit, saling bersaing untuk mendapatkan perhatian yang lebih dari Zitao maupun Baekhyun. Dan waktu belum seberapa berlalu ketika Chanyeol— si pria jangkung berambut ramen membanting pintu kamarnya, terkesan begitu semangat hingga Tao lebih suka mendeskripsikannya sebagai tergesa-gesa.

"Baekhyun! Baek! Ini tidak bisa dipercaya. Benar-benar! —apa kau sudah tahu….." Ia bahkan belum selesai mengeluarkan seluruh umpatannya ketika melihat mata Baekhyun yang membelalak dan Zitao yang innocent. "….oh. Hai, Tao."

Baekhyun menggapai-gapai tinggi Chanyeol hingga ia dapat memberikan pukulan manis di kepalanya.

"Hei! Apa-apaan ini. Baek, seriously,kau menyambut seorang atlit lompat tinggi dengan pukulan?"

"Aku juga akan menyambutmu kalau begitu!"

Tao bangkit dan meletakkan pukulan baru di kepala Chanyeol.

"Yah! Mwoya?"

"Jangan berbicara bahasa korea kepada Tao, mengeja saja ia masih kesusahan." Baekhyun terkikik.

"Enak saja!"

Baekhyun dan Tao melanjutkan pekerjaan mereka sementara sang raksasa pemilik kamar menggunakan kamr mandi selama lima belas menit sebelum keluar hanya dengan handuk melilit pinggang.

"Baekhyunie, kemari sebentar."

Baekhyun mendongak dan menampilkan relief kebingungan pada wajah. Tao telah mengusap wajah menyelidik dengan kejijikan yang terlalu dibuat-buat, "Yang benar saja, kau tak bisa menunggu hingga aku keluar dari kamar ini?"

"Yah! Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Dasar panda kecil mesum."

"Hanya karena tinggimu lebih unggul beberapa senti dariku, kau masih belum mendapatkan ijin untuk memanggilku kecil!"

"Panda kecilllllll!" Chanyeol mengolok sesaat sebelum Baekhyun dan Chanyeol menghilang dibalik dinding pembatas dengan bisikan-bisikan pelan yang membakar telinga Tao.

Mereka pikir Tao tidak mendengar, kan?

[Tiba-tiba saja jung pena tajam yang diameternya tak lebih dari 0,5 mm terlihat sangat menarik baginya]

Baekhyun tidak kembali sampai menit kesepeluh sejak Chanyeol datang. Dan Tao sudah bosan dengan pena, jadi ia beranjak menuju dinding di mana Baekhyun dengan Chanyeol… entah melakukan apa.

"Hei kalian berdua, aku masih bernapas."

"Hai? Kalain tidak sedang keasikan memakan satu sama lain kan?"

Hening. Suara-suara bisikkan tadi menghilang bersama kemunculan bayangan dua pria.

"Tao, kau harus menghilangkan pikiran kotor itu darimu. Luhan-hyung dan si ferret Jongin pasti mengajarimu lebih dari itu. Ya kan?"

"Channie, tolong deh. Kau bahkan lebih parah dari Jongin." Baekhyun menyahut. "Oh ya, Tao, aku dan Chanyeol sudah selesai berbicara. Dan ya— kami hanya berbicara! Bagaimana kalau kita menyelesaikan…err tugasku besok saja? Aku lapar! Kau mau makan?"

[Peringatan terbuka untuk Tao. Tao tidak bisa makan. Ia tidak boleh makan hingga ia menurunkan angka timbangannya lagi]

"Tidak… aku tidak lapar."

"Kalau begitu kau bisa makan dishes saja, bagaimana?"

[Tidak boleh makan]

"Em.."

"Ayolah?"

[Kau punya banyak lemak. Tubuhmu jelek]

"Baiklah."

Mereka bertiga turun menuju gerbang asrama. Ini sudah terlalu larut untuk mengambil makanan di kafetaria asrama, jadi Chanyeol memanggil taksi dan mereka duduk; menuju restoran Cina terbaik versi Baekhyun.

Sesaat setelah mereka kembali dari makan malam— dengan Tao yang terus mengutuk dirinya sendiri sepanjang perjalanan karena terhasut untuk menyantap satu mangkuk kecil shabu-shabu, Baekhyun bertanya pada Tao, "Ada apa?"

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Hening. Yang terdengar hanya derap kaki mereka. Bahkan Chanyeol pun diam.

"Tidak mungkin. Apa ada yang ingin kau sampaikan?"

"Tidak juga. Kau-lah yang harus menyampaikan sesuatu padaku."

"Aku tidak mengerti," Baekhyun berkata dan Tao mengangkat bahu.

"Aku sudah mengenalmu sejak neuron di tubuhku belum berfungsi, Baek."

Tao dapat melihat jari-jari Chanyeol yang meremas erat jemari lentik kekasihnya, memberikan sebuah penyemangat alami.

"Baek…" Chanyeol bersuara, memberikan aspirasi dan Baekhyun menggeleng.

Justru Tao lah yang menjawabnya, "Tak apa."

[Rasa yang tidak sedap bagi kepekaan Baekhyun]

Jadi secara harafiah, lima menit kemudian Baekhyun menyeret tubuh menjulang itu— dengan Chanyeol yang membuntuti mereka, melewati koridor asrama, dan… tentu saja, keluar dari gedung asrama menuju ruang kepala universitas.

"Baekhyun, kau bercanda kan?"

Baekhyun menulikan telinganya; semburan gerutuan takkan pernah baik untuk telinga.

[Penanaman granat di otak memberi alarm akan peledakan yang akan terjadi]

Baekhyun berjinjit, mengintip dari balik jendela ruangan untuk mendapatkan subjek yang ia cari. Tao yang tak perlu berjinjit sudah dapat melihat dengan jelas, tetap tak mengerti apa yang Baekhyun lihat. Mungkin kebodohan yang mengurung, tapi tentu saja Tao tidak pernah mengharapkan sesuatu yang berlebihan.

Dan empat ratus empat puluh hari yang terhitung mundur telah kembali menampakkan diri. Waktu mempermainkannya lagi.

Empat ratus empat puluh hari semenjak Kris meninggalkannya, Tao akhirnya belajar untuk tidak berhenti menumpahkan segala curahan emosi kepada tubuhnya lagi malam itu. Sama seperti malam di empat ratus empat puluh hari yang lalu.

Tak pernah Tao bayangkan sebelumnya bahwa subjek yang sedang berbincang bersama kepala universitas dan dua orang lainnya— surai pirang dengan wajah sempurna bagai malaikat, dan tubuh jangkung semampai itu tak pernah berubah…

Kris kembali.

.

.

.

.

.

Pada akhirnya, denting waktu di arloji memberitahu mereka bahwa perbicangan sudah berlangsung selama lebih dari satu jam. Dan yang Tao ketahui sekarang hanyalah penyangkalan atas segala bentuk permainan.

"Tao, kita harus kembali. Ini akan melewati batas jam malam."

"Tao, kau pucat."

"Tao, biarkan aku mengupingnya, kembalilah kau ke kamar."

"Tao."

"Tao, aku mengerti. Aku sungguh mengerti perasaanmu, tapi…."

Para petinggi universitas bersama Kris dan beberapa orang lainnya masih di dalam, memperbicangkan entah apa dan entah sampai kapan. Yang mereka bisa lakukan hanyalah melihat; tapi Tao tak peduli.

"Tutup mulut. Kau tidak mengerti." Tao mendesis marah. "Tidak akan ada yang mengerti."

[Tao memberi semua yang ia punya]

"Mereka semua palsu. Kau tidak mengerti. Mereka tidak mengerti! USIR MEREKA SEMUA!"

Tao menjatuhkan dirinya, dan menjepit kulitnya dengan kuku-kuku tajam.

[Ia butuh sesuatu untuk mengeluarkan darah]

"Tao!" Baekhyun menjerit tertahan, mencicit bagai tikus mencuri keju di lemari tuannya. "Tidak. Jangan sakiti dirimu!"

"BIARKAN AKU SENDIRI! JANGAN BAWA-BAWA NAMA ITU LAGI!"

Dan Baekhyun tidak menyadari betapa cepatnya detik-detik di mana petugas datang untuk membawa tubuh itu pergi menuju unit kesehatan. Semua tokoh di balik pelepasan kendali Tao keluar dari ruangan, menyemburkan diri pada jeritan Tao dan bahkan tidak mencoba untuk membaur dengan teriakan-teriakan.

[Tapi Tao adalah urusan yang berbeda untuk pejabat universitas]

"Maafkan kami. Kami akan mengurus mereka." Satu petugas berwajah tegas mengulas senyum hormat.

.

.

.

.

(2007 January, 13. 9 AM)

Pagi yang dingin dan berangin, burung-burung berkicau. Dan Falco longipennis— alap-alap Australia, bernyanyi rendah pada pohon yang ditenggeri. Musim dingin berlalu sangat cepat hingga semua orang tak menyadari bahwa satu burung falkon berada di sana sepanjang hari; dan itu bukan suatu kewajaran— mereka tinggal di hutan terbuka, bukan di pepohonan sekitar universitas!

Tao tak pernah membayangkan bahwa satu hari di jam kelas olahraga akan dilewatinya dengan berbaring. Di ruang kesehatan. Bersama Baekhyun yang mondar-mandir mengurus segala macam keperluannya.

Tangan yang lemah menggapai-gapai untuk sedikit air yang dapat ia kumpulkan di tenggorokannya. Tapi naas, udara mengembalikan kemauan. Baekhyun menoleh dari omelan panjangnya pada Luhan— sang diva pencuri hati semua orang yang kini mengerucutkan bibirnya, hanya untuk melihat semburan air dari gelas yang jatuh.

Tao sudah bangun.

Dua pria berteriak bersamaan yang benar saja, ini terlalu gay. Campuran antara terkejut, senang, dan mungkin ketidakpercayaan jelas menyelimuti mereka. Dan Tao menggigit bibir bawahnya ketika dua pria yang sama-sama lebih tua dari Tao memeluk tubuh lemah itu.

"Akhirnya! Luhan, panggilkan si tua Bangka itu!" Yang Baekhyun maksud adalah sang petugas kesehatan.

"Kenapa harus aku?"

Tao merasa berkunang-kunang dan kepalanya sangat berat. Dan ketika Luhan kembali bersama pria tua bermata onyx, Tao belum juga merasa lebih baik. Satu petugas kesehatan datang lagi dan mengurus Tao sementara Baekhyun dan Luhan dibentak untuk keluar dari ruangan.

Tao tidak melihat apapun lagi.

.

.

.

("Bagaimana bisa Kris ada di sini?"

Luhan berbisik, pelan dan hati-hati. Ia dan Baekhyun mendudukkan diri di luar ruang kesehatan kampus. Sementara jauh di dalam hati, rasa khawatir dan gelisah menyergap. Tao kejang-kejang dan pingsan lagi, namun Baekhyun menjawab dengan suara yang tak kalah pelan, "Aku tidak tahu."

"Sudahlah. Itu tak terlalu penting dibandingkan ini, Byun Baekhyun, bagaimana bisa kau membawa Tao pada kesengsaraannya lagi?" Nada sarkastik yang melayang di udara dengan cepat ditangkap Baekhyun. Bagai pisau yang membelah dadanya.

"Aku tidak bermaksud menyakitinya! Aku— Chanyeol menyuruhku."

"Dan kau menuruti raksasa bodoh itu?"

"Hei! Jangan begitu! Tao— dia juga memaksaku."

"Padahal kau bilang sendiri kalau kau pandai berakting. Berapa lama kau sudah mengetahui keberadaan Kris?"

Baekhyun menghela nafas, "Satu minggu."

"Aku akan memberitahunya. Kau tak punya keberanian lebih untuk memberitahu sahabatnya sendiri sebuah kejelasan. Kau tahu, semacam munafik."

"LUHAN!" Baekhyun berdiri, marah. "Aku hanya mencoba menyelamatkan sahabatku sendiri dari bahaya!"

"Dengan menyembunyikan Kris— tokoh sentral sekaligus penyembuh utama dari semua bahaya Tao itu sendiri?"

"Kau tidak mengerti! Tao lemah! Dan kau sendiri tahu bahwa ia tak bisa mengendalikan kejiwaanya—"

Nada yang semakin meninggi namun hilang seketika.

"Baekhyun, dia tidak gila. Dia butuh Kris, kau menyembunyikan Tao dari Kris; dan sebaliknya."

"Luhan, kau harus mengerti presentase dari probabilitas bahwa Kris tidak menginginkan Tao lagi."

Luhan tertawa. "Persetan dengan permainan probabilitas. Tao membutuhkan Kris. Kalau kau tak mau membantu Tao, aku yang akan melakukannya."

"Luhan! Aku— tentu saja aku membantu Tao! Tapi tidak begitu caranya. Ini harus pelan-pelan."

"Cepat atau lambat," Luhan berhenti sebentar. "Tao akan mengetahuinya. Kau tahu, lebih cepat lebih baik karena itu takkan menyebabkan luka yang lebih dalam. Aku akan membantu Tao."

"Luhan—"

"Ceritakan semuanya padaku.")

.

.

.

.

"Hei."

Tao memberikan senyuman lemah, "Um, hai."

"Apa kau merasa lebih baik?" Baekhyun menarik satu kursi agar ia bisa berada di samping Tao.

Tao mengangguk dan Luhan terkekeh pelan, "Kau imut sekali. Aku tak habis pikir seorang baby panda sepertimu mempunyai kelainan jiwa."

Luhan memang tak pernah bisa menjaga omongannya.

Dan pria di samping berbaik hati mengingatkan dengan menyikut lengannya.

Tao merasakan aura aneh; seperti seseuatu yang tersembunyi…

"Well, bukan begitu maksud Luhan. Kau benar-benar sudah merasa—"

"Ya, Baek." Tao memotong. Benar, pasti ada sebuah fakta tertutup yang dapat Tao rasakan akan dibeberkan sahabat-sahabatnya. Jadi Tao tak ingin mengulur waktu, "Aku siap."

"Aku tahu kau takkan pernah siap. Selamanya takkan siap." Kata Luhan. "Jadi siap atau tidak, kau harus siap. Bagaimana?"

"Luhan—"

"Aku siap."

"Tao—"

"Baekhyun, berhenti mengkhawatirkanku. Ini hidupku. Jangan ikut campur."

[Siapa yang tak tertohok hatinya?]

Luhan mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Seperti yang sudah kau lihat sendiri tadi malam; Kris ada di sini."

Dan Baekhyun mengambil ancang-ancang untuk menenangkan Tao, namun reaksi dari pria itu begitu mengejutkan— ketenangan yang alami. Tao sendiri terkejut ia bisa mengendalikan sel-sel tubuhnya meski ada desiran aneh di dalam hati.

"Jadi, semalam bukan hanya mimpi. Apalagi?"

Baekhyun menggigit bibirnya. Tentu saja Baekhyun khawatir, dan Tao tahu akan hal tersebut. Baekhyun selalu menjadi penjaga yang setia— tapi Tao tak butuh itu sekarang.

"Kris adalah anak salah satu perusahan sponsor universitas. Dan ia di sini untuk menyelesaikan urusan perusahan selama beberapa minggu terakhir ini. Tentu saja kau tak melihatnya karena mereka hanya melakukan rapat pada malam hari." Luhan tertawa, menyelipkan sebuah lelucon konyol, "Mereka mirip vampir juga ya?"

"Lanjutkan." Tao menggertakkan giginya. Luhan memang tak tahu kondisi!

"Kami— atau setidaknya Baekhyun, tak tahu apakah Kris menyadari bahwa di sini adalah sarangmu mencari ilmu. Tapi, Tao, apakah kau bersedia Kris masuk dalam hidupmu lagi? Karena kalau iya, akan kubantu sekuat tenaga."

Tao menangis. Tidak keras, tidak deras. Hanya setitik kecil air yang keluar dari aparatus lakrimalis. Pikirannya sudah tak tentu arah lagi.

"Bagaimana bisa… maksudku— "

"Ya, Kris belum mati karena kecelakaan itu."

Kami Dan seperempat menit kemudian, Tao menggeleng.

"Tapi Kris sudah mati di hidupku. Aku tak ingin menemuinya lagi."

TO BE CONTINUED


Hai. Finally aku berhasil cari waktu untuk upload yeayy midterm test selesaiii.

Aku gak ngerti sama sekali ini alurnya kenapa jadi gini. Bukan seperti yang aku harapkan tapi ya sudahlah. Karena udah lama diketik, udah kelamaan nganggur di laptop dan aku belum ada ide untuk mengganti semua kata-kata gak beraturan ini (pffft), aku upload aja.

BRB KABOOOR.

PS: Kalau ada unek-unek atau kekurangan salurkan lewat review ya terimakasih banyak^^