PERFECT(SIONIST)


Summary: Bukankah kesempurnaan adalah penilaian yang subjektif? Bukankah kesempurnaan adalah kemutlakan sementara atas penghargaan?..."Who are you?" "We are the kids, that your parents warned you about."

Plot and fic belong to Mozaorev. Characters are not mine.

Warning: The very Out Of Character mode of EXO! This may be triggering; contains self-harm. Regressive-progressive plot. You have been warned!

Playlist: Wrecking Ball by Miley Cyrus


CHAPTER 2

.

.

.

(2007 January, 17th)

Huang Zitao adalah pria idealis dan ia takkan berhenti hanya karena keadaan mencacapi. Ia bukan definisi sempurna dari bocah rajin, namun bagaimanapun juga ia menjejak tanah yang bermil-mil jauhnya dari rumah dan ia takkan menyia-nyiakan waktu hanya untuk meradai orang tuanya; atau sesuatu seperti bersantai dengan membaringkan badan di bangsal ruang kesehatan selama berhari-hari.

Tidak. Jadi ia berniat untuk mulai merampungkan tugas-tugas yang seharusnya sudah terkumpul rapi di meja dosennya kalau saja ia tidak begitu bodohnya menjadi poin-poin kelemahan.

"Kau belum selesai juga?"

Luhan menggelengkan kepala tak percaya, Tao sudah bekerja sepanjang hari di balik selimut ruang kesehatan dan lihatlah, detak jam sudah memberitahunya bahwa jam tujuh sore tidak membuat Tao berhenti mengetikkan kata-kata di laptopnya.

"Tidak bisa. Kau tahu kan ini sudah hampir batas waktu."

Batas waktu yang dimaksudkannya pastilah satu minggu lagi.

"Orang gila. Aku menyentuh tugas minggu kemarin saja belum." Luhan menaikkan sebelah bibirnya dengan konyol, "Berhenti dahulu. Baekhyun sudah membujukku membawakan ini sejak tadi siang."

Luhan mengeluarkan makanan berkuah yang berbungkus sebuah cup dari kantong plastik yang dibawanya dan menyiapkan peralatan makan.

"Tak usah membuatku merepotkanmu, aku bisa mengeluarkannya sendiri." Tao mengeluarkan nada jengkel yang bahkan tak sedikitpun diperhatikan oleh Luhan.

"Pada akhirnya, semua manusia merepotkan sesamanya, bukan?"

"Kau masih saja mengutip esai psikologi 101ku setelah satu tahun berlalu?" Tao mengambil sari-sari makan dari cup itu.

Luhan hanya duduk memperhatikan gerak-gerik Tao. Laptop berisi makalah-makalah tadi terbengkalai begitu saja di ruang kosong di ranjang, masih terbuka dan berkedip-kedip. Ia menyeruput kuah Shabu-Shabu yang dibeli Luhan jauh-jauh dari restoran Tiongkok di Melba Avenue. Luhan harus menghabiskan dolarnya kepada supir taksi untuk perjalanan 15 menitnya tadi.

Tao mengunyah pelan-pelan, dan memandang seakan makanan itu adalah makanan terburuk di dunia. Namun Luhan mengerti, tatapan Tao adalah kejijikan dan rasa bersalah karena memasukkan kalori ke dalam tubuh. Dalam hati ia mengutuk begitu banyak hal yang terjadi di dunia. Bagaimana seharusnya keadaan tidak berubah secepat dentang jam, bagaimana seharusnya orang tak bertansformasi dalam satu putaran waktu yang begitu mencekik; sebentar saja. Begitu pula bagaimana seharusnya ia tak kehilangan kerlipan mata Tao di tengah pertarungan Tao dengan iblis-iblis dalam dirinya.

Luhan harus mengakui ia begitu kehilangan Tao yang dahulu.

Oh, dan Tao yang tidak takut kepada makanan.

"Aku sudah kenyang." Tao mendeklarasikan kepada udara kosong, namun Luhan mengangguk dan segera membuang cup tersebut sebelum melihat Tao bergumul kembali dengan laptop.

.

.

.

Siang hari setelah berlalu sore itu, Tao sudah berada di kamar asrama.

Ia harus merapikannya, serta menghilangkan titik-titik debu di setiap sudut ruangan agar malam-malam setelahnya manusia yang menempati dapat menyelesaikan esai-esai yang sudah terlalu banyak; bahkan sebelum ia dapat memikirkannya. Ketika itu pula, Luhan datang menerobos pintu yang tentu saja, kodenya sangat mudah untuk Luhan tebak.

"Sialan kau. Darimana kau dapat kode baruku, rusa sialan?" Tao berkacak pinggang dan mengangkat-angkat lampu tidur yang sedang ia bersihkan.

Tao sudah tertawa.

Tapi Tao memang selalu tertawa.

[Bahkan hidupnya juga lebih indah untuk ditertawakan, kan?—setidaknya untuk Tao sendiri]

"Taruh benda itu sebelum kau kehabisan uang untuk membeli yang baru." Luhan tertawa keras-keras. "Baekhyun..."

"Oh, tentu saja. Bandit sialan itu selalu membocorkannya padamu. Dan omong-omong dimana dia?"

"Di Melbourne?"

Tao menyabet pelan kain lapnya di bahu Luhan. Yang benar saja, Melbourne!

Luhan tertawa lagi dan menjatuhkan diri di ranjang Tao. "Hei, hei hei! Menjauh—oh tidak. Luhan! Kau tahu berapa ratus titik keringat yang jatuh karena aku membereskannya?"

"Itulah poinnya, kau selalu saja membersihkan kamarmu," Kata Luhan. "Kau terlalu memperhatikan segalanya. Fanatisme akan segala hal yang berlebihan."

[Tentu saja Tao tertohok. Namun ia sudah hidup dalam begitu banyak keadaan yang menjahanamkan perasaannya.]

"Berisik. Kau membuat polusi suara di pagi yang cerah, dasar babun!"

Babun.

Babun.

Babun?

"Hei! Darimana kau mendapat hak untuk memanggilku dengan kera genus Papio dari Australia?"

Tao tertawa, "Kau mengutip makalah milik siapa lagi?"

Luhan mendengus dan Tao merasa menang.

Karena tidak banyak waktu yang memberikan Tao kehormatan untuk merasa menang dari Luhan.

"Ayo kita keluar."

"Dua puluh menit lag—"

"Oh tidak, maksudmu aku harus menunggu? Tidak akan. Cepatlah ganti pakaian bulukmu!"

Tao mengolok Luhan dengan satu jari tengah yang terangkat. Tapi bagaimanapun juga ia berhenti dari pekerjaannya dan bersiap mengambil kaos yang tepat dari lemari.

"Apakah Baixian akan menemani kita?"

"Tentu saja tidak. Bajingan itu. Dia tahu kau baru saja dibebaskan dari bangsal kesehatan dan ia kencan dengan Chanyeol? Yang benar saja, bagaimana bisa kita bersahabat dengannya?"

"Pertanyaan pertama sebelum itu, Luhan, bagaimana kita bertiga bisa bersahabat satu sama lain ketika kita sama-sama makhluk buruk yang membutuhkan pencerahan dari dunia dan bukannya setan-setan?" Tao menempatkan poin yang tepat dan Luhan tertawa.

Setelah lima menit, mereka berjalan keluar dari asrama dan memanggil taksi setelah Luhan memutuskan bahwa Tao membutuhkan kemeja-kemeja keren yang baru. Jadi mereka pergi ke mall dan menghilangkan uang mereka di balik kantong-kantong belanjaan—atau lebih tepatnya, uang Luhan karena Tao menolak untuk membeli banyak barang.

Setelah memuaskan hati masing-masing, mereka berjalan pulang dengan kantong-kantong itu. Tao tentu saja menolak menghabiskan lebih banyak uang dan memilih untuk berjalan. Dan Luhan bukannya tidak membantah; ia mengoceh, bahkan sampai ke segala hal yang tidak penting untuk didengar dan menghilangkan keindahan bagai zaratit dan yakut—nikel zamrud dan batu permata berwarna biru atau hijau, di dalam dirinya.

"...tapi tetap saja, ah sudahlah itu memang bukan sepenuhnya salah Sehun." Tao menutup pembicaraan tentang betapa menyedihkannya kisah cinta Luhan setelah lima belas menit Luhan tidak berhenti menyemburkan curahan hati.

"Kau bilang sudahlah? Sudahlah?" Tanya Luhan sambil mengibaskan tangan kanannya dengan kesal. "Kenapa sih semua orang begitu menyebalkan?"

"Karena dunia memang penuh orang menyebalkan, bebal."

"Pantas saja mereka menguban!"

"Kau juga akan menguban!"

"Yah itu masih lama. Yang penting aku masih tampan sekarang. Persetan dengan umur." Luhan meradang sendiri namun dua pria itu tertawa. Keras dan begitu menggelikan. Luhan terlihat berpikir sebelum bertanya, "Panda, bagaimana dengan Kris?"

Tidak, Tao tidak akan berhenti berjalan dan melamun dengan bodoh seperti yang mereka perlihatkan di film-film gadungan dramatis setelah orang lain menanyakan sesuatu tentang masa kelam mereka— tentu saja Tao akan terus berjalan dan berpura-pura ia tidak terinfeksi dengan labur kata-kata Luhan. Tao mengangkat bahu dengan tegas.

"Aku takkan berbuat apa-apa."

Tao takkan menyuarakan apapun kepada Luhan. Luhan tidak berhak menerima segala perasaan buruk Tao dan keputusasaan yang menyergapnya. Tao menghargai Luhan sebagaimana Luhan menghargai nol kata dari Tao saat ini.

Kilas balik tentang pernyataan menyayat bahwa Kris berada di satu pijakan yang sama di kota itu cukup untuk membuat Tao melupakan jalanan sekitar, tapi ia masih bisa mendengar deru nafas Luhan dan mobil-mobil yang berlalu-lalang. Beberapa hal mengganggu pikirannya dan ia tidak senang.

Fakta bahwa ia tidak pernah melupakan apapun tentang Kris dan bahwa ia tidak pernah merasakan apapun selain kesengsaraan yang begitu mendalam meski telah beribu-ribu hari setelah apa yang terjadi, membuat Tao terganjal. Benarkah kalau ia tidak apa-apa?

Benarkah ia tidak ingin, walau hanya sekedar menatap pupil mata itu lagi?

Dan ia teringat kembali akan semua penderitaan yang harus ia lalui, di malam-malam di mana ia memikirkan subjek yang begitu nyata namun tak sedikitpun dapat ia rasakan kehadirannya dimanapun di dekatnya, di malam-malam di mana darah mengalir dengan nama Kris menemaninya.

Tao sudah cukup menderita dengan bayangan Kris, seberat apa yang harus dilaluinya lagi ketika ia bertemu dengan subjek dan objek yang kini dapat tersentuh?

"Aku... apakah aku harus berbuat sesuatu?"

"Kau tahu, kupikir tidak juga. Aku menghargai segala keputusanmu, dan aku mendukungnya." Luhan berkata dengan tegas. "Namun pada akhirnya, hanya alam kesadaran yang dapat memutuskan meskipun alam bawah sadarmu yang paling dapat mengetahuinya."

Luhan mengetahuinya.

Dan Tao tidak ingin Luhan mengetahui lebih dalam; bagaimana Tao masih berhalusinasi tentang Kris, tentang berapa kali ia bertemu bayangan Kris—

Atau bahkan bukan bayangan? Bagaimana kalau itu adalah Kris yang sebenarnya? Bagaimanpun juga, Kris berada di kota ini. Bagaimana jika...

"Tidak. Dia bukan siapapun. Kris sudah mati di hidupku."

[Begitu kejamnya dunia hingga ia tak lagi dapat menyuarakan kerinduan? Ya. Tao mengunci rapat brankas perasaan. Jauh, menyabur dengan tangisannya sendiri.]

Ia tidak bisa meluputi kesadarannya bahwa ia dapat bertemu Kris di mana dan kapan saja kan?

Jalan menuju kamar begitu menegangkan bagi Tao. Bahkan Luhan sedikit merasa tertekan—tidak, Luhan takkan pernah tertekan karena jiwanya terlalu indah untuk merasa tertekan. Namun Tao tetap menjejalkan Luhan ke kamarnya di lantai 2, sementara setelahnya Tao pergi menuju kamarnya sendiri. Ketika ia melewati depan kamar Sehun yang hanya berjarak 4 kamar dari kamarnya sendiri, ia sengaja membunyikan bel kamar Sehun.

Tidak perlu banyak kemeja, tubuhmu tidak bagus untuk kemeja seindah itu.

"Bocah cadel cepat buka pintumu!"

"Aku datang aku datang!" Lalu wajah Sehun muncul dihadapannya dan Sehun mendecih, menjulurkan lidahnya kesal. "Kau pikir kau siapa berani mengganggu kegiatan seorang pangeran?"

Tao ganti menjulurkan lidahnya juga, dengan puas. Lalu menunjukkan kantong-kantong di tangannya. Sehun melirik sedikit dan membuang muka. "Kau kira kau bisa membeli permintaan maafku dengan barang-barang itu?"

Tao menjitak sebelah kepala Sehun, "Kau pikir kau siapa berani berpikir bahwa kau patut mendapat permintaan maaf dariku?"

"Excuse me?!"

"Permintaan maaf diterima." Tao terkekeh lalu mengeluarkan tiga kemeja dari kantong, "Luhan membelikannya untukmu."

"Wah, pacarku memang yang paling mengerti. Terimakasih ya tukang antar."

"Tukang antar?" Tao berpura-pura membuka sebelah kupingnya lebih lebar. "Siapa yang kau bilang tukang antar, bocah?"

Sehun sudah bersenang-senang melihat-lihat kemeja itu sebelum Sehun menyadari sesuatu, "Hei! Ini punyamu sendiri kan? Mana mungkin Luhan membelikanku sesuatu ketika ia masih marah denganku—"

Tapi Tao sudah berlalu dan berteriak, "Jangan lupa meminta maaf kepada Luhan karena telah mengambil persediaan coklatnya!"

Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa lah. Lumayan juga, kemeja baru."

Lalu memiringkan kepalanya,

"Tunggu— jadi karena itu Luhan marah kepadaku?"

.

.

.

Tao berjalan menuju kamarnya, bersiap memasukkan angka-angka penguncinya.

Namun ia tidak masuk setelahnya.

.

.

.

"Di mana dia?!"

Baekhyun berlari seperti kesetanan menerobos kamar Sehun yang terbuka. Sehun dan Luhan sedang berdebat keras-keras dengan tubuh Tao yang terbaring di kasur Sehun. Untunglah Kyungsoo, teman satu kamar Sehun belum kembali. Bayangkan betapa rumitnya keadaan bila satu orang menambah suaranya di kamar itu.

"Apa maksudmu dengan tiba-tiba saja pingsan?" Baekhyun bertanya. Nafasnya satu-satu. Dan Chanyeol berada di belakangnya, yang tiba-tiba saja mengajak Sehun keluar.

Sehun tak habis pikir, kenapa mereka harus punya waktu untuk berbicara sendiri sih?

"Luhan, Sehun tidak tahu kan?"

"Tao berteriak dan berlari. Sehun mendengarnya dan menghentikan. Tao pingsan begitu saja setelah Sehun bertanya apa yang terjadi."

"Serangan paniknya takkan pernah membaik. Tapi Sehun tidak tahu kan?"

"Itulah poinnya, Baekhyun. Serangan panik Tao semakin menjadi-jadi. Katakan padaku, mengapa ia memilikinya? Kau pasti tahu."

"Aku tidak bermaksud begitu!" Baekhyun hampir berteriak sebelum melanjutkan dengan pelan, "Sehun tidak tahu kan?"

"Baixian!" Luhan menggertak dan mereka serta merta menggunakan Bahasa Mandarin setelahnya. "Ini bukan masalah seluruh dunia tahu atau tidak!"

"Kau tahu betapa Tao telah menjaga topengnya di balik semua orang dan kau takkan kubiarkan menghancurkannya."

"Kau pikir aku menghancurkannya?! Orang bodoh manapun tahu kalau itu serangan panik dan Sehun melihatnya sendiri. Apa yang kau harapkan?" Luhan berusaha menjaga nadanya tetap stabil. Ia akan sangat keberatan untuk menjelaskan mengapa ia berteriak kepada Sehun nanti. Bahasa yang tidak Sehun mengerti; tentu saja juga akan lebih menyulitkan Luhan. Dan Luhan takkan pernah mau disulitkan.

Ruangan itu terlalu diam, terlalu tenang selama beberapa menit sementara Luhan memelototi Baekhyun yang duduk di dekat Tao.

"Baiklah. Aku minta maaf." Baekhyun menunduk dan merayapi sela-sela rambutnya dengan tangan.

"Serangan panik ini beralasan, Baekhyun."

.

.

.

Sehun menyilangkan tangan di depan dada. "Tao memiliki serangan panik."

Chanyeol tidak pernah mengangguk, tidak pula menggeleng. "Sehun, dengar—"

"Bagaimana bisa? Kupikir dia akan menjadi psikolog yang paling baik di dunia. Aku tidak pernah menyangka apa yang harus Tao lewati di kehidupannya."

"Dan kau adalah salah satu ujian terberat Tao."

"Hei!" Sehun menampar satu lengan Chanyeol dan mereka tertawa.

"Tapi, serius, kau takkan pernah tahu apa yang seseorang telah lewati hanya karna mereka banyak tertawa," Kata Sehun. "Aku akhirnya mengerti."

"Sehun, omong-omong, kau tahu kenapa Tao bisa berteriak begitu tadi?"

"Tidak. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa-apa selain fakta bahwa Tao memiliki penghuni baru di kamarnya."

Diam.

Diam.

Diam.

"Maksudmu Tao berpura-pura melihat hantu lagi?" Chanyeol mengedipkan matanya pelan. Dan menjerit ketika Sehun menampar lengannya yang satu lagi.

"Dasar raksasa bodoh. Tao memiliki teman sekamar baru. Roomates, you know."

"APA."

"Baekhyun buka pintunya. SEKARANG!" Suara berat Chanyeol yang biasa ia cintai berubah menjadi menakutkan dan ia harus tersandung kaki ranjang Sehun dalam perjalanan membuka pintu kamar.

Chanyeol sudah terburu-buru menarik tangan Baekhyun. Namun Luhan berkata, "Baekhyun, Tao terjaga."

.

.

.
"Aku berhalusinasi,"

Tao menimang-nimang bagaimana ia harus melanjutkannya di depan dua pasang kekasih ini. Ia tidak mungkin mengatakannya di depan Luhan, apalagi Chanyeol dan Sehun. Hanya Baekhyun yang mengerti—

"Aku berhalusinasi Kris ada di kamarku," Kata Tao akhirnya. "Ia duduk di ranjang kosong itu—"

"Apa? Kris? Siapa Kris?" Sehun bertanya dan Chanyeol ingin sekali menamparnya sekarang juga. Namun perasaan itu hangus seketika ia tertampar sendiri oleh sesuatu.

"Baekhyun! Kris...Sehun bilang memang ada siswa baru yang menjadi teman sekamar Tao."

Ah, ternyata bisikan Chanyeol masih kurang pelan karena Sehun masih bisa mendengarnya. Sehun yang tidak mengerti satu bitpun keadaan saat itu berkata, "Teman sekamar Tao yang baru? Oh, itu bukan halusinasi kalau begitu Tao."

Semua orang memandang Sehun dengan intens. Dan Tao melayangkan tatapan tidak percaya kepadanya.

"Ke—kenapa kalian memandangku begitu? Tapi itu bukan Kris. Itu Yifan."

"Bagaimana kau tahu?"

"Oh tadi aku sempat berkenalan dengannya. Aku hendak bermain ke kamarmu tapi ia yang membukakan pintunya."

"Yi...Yifan?"

Tidak apa-apa. Dia bukan Kris. Dia Yifan.

.

.

.

Tao memencet bel. Ia takkan memasukkan kode di mesin kecil itu karena mungkin saja Kr— Yifan telah menggantinya. Lima detik kemudian pintu terbuka dan Tao berharap yang terbaik akan menjemputnya saat itu juga.

Lalu Tao bagai mengulang kehidupan awal remajanya.

Dua buah kelopak mata memandang bersama bibir merah yang datar begitu saja. Tao ingin mencakar wajah sempurna itu dan bagaimana tinggi pria di depannya ini dapat mengintimidasinya hanya dengan perbedaan beberapa senti. Tao merasa ia bisa pingsan saat itu juga jika ia harus merangkai kata-kata kepadanya.

Jadi Tao tidak menyapa dan selama sepersekian detik, kaki jenjang Tao tidak bekerja sama dengan baik karena ia hanya dapat diam terpaku di tempat sementara pria tadi pergi masuk.

Kalau boleh Tao melangkahi dirinya sendiri, ia akan memuji betapa samanya pria ini dengan Kris. Betapa tubuh sempurna itu dapat membentuk kemeja yang dikenakannya. Betapa sempurnanya ia, seakan-akan malaikat sengaja turun untuk memberinya salam.

Begitu Kris-nya pria di hadapannya.

Kecuali untuk satu hal, rambut hitam legamnya.

Dan— hei! apakah ia mengabaikan Tao?

Tao masuk dan menaruh satu kantong hasil belanja yang sempat terlupakan di atas mejanya. Satu ranjang kosong di kamar itu kini telah tertata oleh selimut baru. Barang-barang yang bukan milik Tao berada di atas ranjang itu, dan meja belajar di sebelah meja Tao dan di segala penjuru bagian kamar yang kini milik rekan barunya. Kamar yang hanya beberapa jam lalu masih dapat ia berikan predikat kamarnya, kini harus ia tata kembali susunan hurufnya. Kamar kami.

Tao ingin sekali merebahkan diri di ranjangnya sendiri sambil membuat catatan baru di kulitnya atas beberapa hal yang terjadi begitu saja akhir-akhir ini. Namun ia adalah malaikat itu sendiri, bagi semua orang. (Bahkan bagi jelmaan iblisnya sendiri?)

"Wah, kau pasti teman sekamar baruku. Sudah lama setelah teman lamaku pindah dari kamar ini." Betapa inginnya Tao mengusir siapapun dari kamarnya. Ia hanya butuh kesendirian bersama iblis-iblisnya. Terlebih lagi ini Yifan. "Hai! Aku Huang ZItao. Kau bisa memanggilku Tao."

Yifan tidak membalasnya sebelum ia mengeluarkan kepala dari lemari dan berjalan menuju Tao. Tao mundur satu langkah.

[Namun apa yang perlu ditakutkan lagi ketika dirinya sendiri lah yang paling menakutkan?]

"Aku sudah tahu. Namaku Yifan." Yifan tidak berusaha mengulurkan tangan dan suaranya begitu dingin hingga Tao merasa tertusuk sampai ke tulang karenanya. Tao mengangguk dan Yifan menyilangkan tangan di dada.

"Jadi, aku juga harus satu jurusan denganmu?"

Tao mengerjap-ngerjapkan matanya, "Maksudmu— Ah, begitu. Kau psikologi juga? Semoga kita dapat saling membantu ya."

Yifan mengangguk pelan dan Tao dapat membunuh dirinya saat itu juga jika ada benda tajam di sekitarnya. Yifan berjalan dan membereskan kembali barang-barangnya. Lalu entah darimana kata-kata gila itu bisa melucuti semua pikiran Tao—

"Apakah ada yang bisa kubantu?"

"Tidak, terimakasih."

"Kau yakin? Aku cukup handal dalam membereskan barang—"

"Kalau begitu kau bisa membereskan barang-barangmu. Kau tidak tinggal sendirian sekarang, kan."

Tao mengerti dan mengesahkan pernyataan itu sebagai perintah. Ia segera melirik beberapa barang Tao yang memang masih tertata rapi; barang-barang di semua penjuru ruangan.

"Ah! Tentu saja, aku akan membereskannya."

Satu jam ke depan, Tao dan Yifan bekerja dalam diam meski satu-dua pertanyaan-jawaban beberapa kali menghiasi meski kebanyakan huruf merupakan milik Tao dan Yifan hanya melengkapi betapa penasarannya Tao. Lalu kamar mereka telah tertata lebih rapi dengan barang masing-masing yang duduk di tempat yang tepat.

Rasanya Tao tak kuat lagi untuk manjamah siletnya—

"Apa kau butuh memakai kamar mandi saat ini?" Tanya Tao. "Baiklah, kalau begitu aku akan sedikit lama di sana—"

Yifan bahkan tidak menoleh untuk memberikan jawaban.

Tao masuk ke kamar mandi dan dengan terburu-buru mengambil semua benda berharga yang tempat-tempatnya hanya dapat dijamah oleh Tao. Dan satu silet terakhir yang ada di celah bathub berhasil ia kumpulkan. Pada akhirnya, Tao harus memasukkan semuanya di saku-saku celana dan kemejanya.

Tunggu— Kri, oh, Yifan, belum masuk kan ke sini?

Tao terduduk lemas di lantai dan mengeluarkan silet terakhir tadi, menggulung lengan kemejanya. Tidak, ini sudah terlalu penuh.

Bahkan beberapa luka di sana belum sepenuhnya mengering dengan tepat. Lalu dengan segera, akhirnya kancing-kancing kemeja biru itu terbuka sebelum Tao meraba perut yang terlampau datar, penuh dengan bekas luka yang telah mengering.

Mengapa ia begitu bodoh?

Bagaimana jika Kris telah masuk dan melihat semuanya?

Tapi belum ada satupun barang milik Kris di sini—

Tetap saja! Dan, oh! Tentu saja Kris takkan membutuhkanku. Siapa yang benar-benar membutuhkanku? Tidak ada.

Dan merepotkan semua makhluk di dunia.

Kenapa aku tidak bisa sedikit kuat lagi?

Kenapa aku tidak bisa menguatkan diriku, lebih lama lagi?

Kau sudah begitu kuat. Kau tersenyum di balik semuanya.

Sekarang bagaimana?

Haruskah ia membiarkan Kris masuk ke dalam kehidupannya?

Tidak dia bukan Kris, dia Yifan.

"TAO?!"

Tao menutup lengannya dan kali ini ia harus berlama-lama membasuh tangan dan lantai dengan air. Merah yang terpahat di perutnya ia berikan perban seadanya.

Ah! Perban ini harus disingkirkan!

"TAO?!"

"Ya, Baekhyun!" Tao keluar dan melihat tidak ada Kris di sana.

Jadi telah berapa lama ia mengurung jiwanya di penjara yang ia buat sendiri selama ia memahat tadi?

"Kau—Tao, tolong, aku mohon jangan—"

"Ah? Apa yang kau katakan sih? Tenanglah dulu, Baekhyun." Tao tersenyum dan berusaha membuat Baekhyun duduk di sofa.

"Tao, Kris.."

"Yifan." Tao hampir tersedak salivanya sendiri untuk memberikan satu nama, namun ia berhasil mengucapkannya, "Namanya Yifan, Baek."

"Apakah kau baik-baik saja?"

"Aku—" Tao hendak mengatakan kebohongan standar yang dimilikinya setiap saat, namun ini Baekhyun. Dan ia bisa merasa gagal di depan Baekhyun.

Ia boleh merasa gagal sekarang.

Desakan air mata yang tak bisa terbendung lagi hingga Tao harus berusaha keras mengambil nafas di balik deruan tangisan. Baekhyun mengerti. Dan Tao merasa ia butuh lebih banyak Baekhyun mengelilinginya karena saat ini satu pelukan tidak berlaku untuk Tao.

"Dia tidak—" Akan merupakan keajaiban bagi Tao dapat menyelesaikan kata-kata itu dalam satu kalimat padat. "Aku— dia—"

"Ssssh, tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku mengerti."

Tao tidak bisa membantah dan mengatakan ini semua tidak tidak apa-apa, namun Baekhyun sudah cukup mengerti dan Tao takkan bercerita di balik nafas satu-satunya. Tao berusaha membuat dirinya tenang— ia tidak pernah menangis di depan siapapun selama satu tahun.

Dan hanya karena dua kali ia harus berhadapan dengan keadaan di mana Kris ada di kehidupannya lagi, ia melepas semua topeng?

Perlukah?

"Aku baik-baik saja," Kata Tao setelah ia merasa cukup bebas untuk berbicara. "Mungkin ia tidak mengingatku, tapi tidak apa-apa."

[Aku tidak baik-baik sajaaku tidak pernah baik-baik saja. Namun kupikir ini akan berakhir baik-baik saja seperti yang selalu kukatakan.

Kris, tidak mengingatku. Ia begitu dingin dan polos seakan aku tidak pernah hidup di memorinya. Ia tidak sedikitpun dapat mengatakan hal-hal yang menyinggung kehidupan lamanya. Dan aku tak pernah ingin tahu apakah ia sengaja melupakanku, atau memang hal ini terjadi karena amnesia. Aku dapat memastikan kalau ia adalah Kris karena ia memiliki tato naga kecil yang dulu selalu aku puja, ya tato di pergelangan kaki kiri itu.

Nama barunya Yifan. Dan ia adalah anak CEO perusahaan yang mensponsori bel asrama kami yang baru. Ia mengambil double degree di jurusan psikologi dan bisnis. Kau tahu apa yang membuatku terkejut? Ia begitu berhati-hati dan menyaring jawaban-jawaban yang ia jabarkan kepadaku hingga hanya beberapa kata yang sanggup ia katakan. Tidak seperti Kris yang selalu berbicara banyak hal tanpa tahu diri. Kau tahu, bagaimana Kris dulu selalu melontarkan kata-kata yang ada di pikirannya hingga terkadang aku ingin menguburnya di tanah saat itu juga

Hahahaha, betul. Bagaimanapun juga dia bukan Kris, dia Yifan.

Dan kau tahu apa yang membuatku paling terkejut?

Aku dapat bertahan di sekitarnya, dalam waktu satu jam. Tidak ada serangan panik.]

.

.

.

(2007 January, 18th. 8 PM)

Sore ketika Yifan kembali ke ruangan, Tao sedang membaca buku tebal yang lahap setelah Baekhyun membantunya memasukkan sedikit makanan ke tubuh. Tao melihat Yifan membawa satu kantong plastik di tangan kiri sementara tangan kanan sibuk memegang ponsel yang tertempel di telinga. Ia sibuk berbicara dengan bahasa yang tidak begitu Tao mengerti.

Namun bagi Tao, nada itu..

Tao bukan penyandang xenoglosia—kemampuan memahami dan menggunakan bahasa yang tidak pernah dipelajari, namun Yifan berbicara Bahasa Jerman dan ia seperti sedang memastikan siapapun di ujung telepon bahwa ia sudah sampai, baiklah aku akan segera melakukan sesuatu setelahnya. Tao dalam sekejap ingin tahu (atau tidak ingin tahu; karena perbedaannya sangat tipis) tentang apa yang Yifan bicarakan.

(Mungkin ia akan bertanya dengan Baekhyun; yang akhir-akhir ini berhasil memfasihkan Bahasa Jerman).

Tao tidak melihat Yifan setelahnya, karena ia duduk di sofa dan Yifan masuk ke ranjang. Lekukan antara ruangan bagian Yifan berbatas dengan ruang duduk mereka. Tao mencoba tidak berusaha melihat atau bahkan menyerang Yifan dengan apapun juga. Jadi ia memfokuskan mata kepada huruf-huruf di depannya.

"Apakah kau sudah makan?"

Tao mendongak dan bertanya, "A—Apakah kau berbicara kepadaku?"

"Tentu saja." Yifan menaruh satu loyang pizza di atas meja dan duduk di sofa seberang.

"Oh. Aku sudah kenyang."

"Kalau begitu kau bisa menemaniku makan dan mencicipinya sedikit?"

Tidak, tidak boleh, tidak bisa.

"Aaaah! Baiklah."

Tao tidak berpikir ulang tentang alasan Yifan tiba-tiba saja berbaik hati kepadanya—

Tao menggigit ujung satu potongan pizza dan merasakan topping yang seharusnya begitu menyenangkan terasa di lidahnya, dahulu. Namun tentu saja tidak baginya sekarang, dan Yifan makan dalam diam sementara Tao berjuang untuk menghabiskan setengah dari potongan kecil itu.

"Pantas saja tulangmu terlihat di mana-mana. Lihat cara makanmu." Yifan melirik Tao sekilas dan Tao terjungkal dari alam bawah sadarnya sendiri—

Mungkin Yifan bukan sedang berbaik hati dengannya.

"Aku hanya sudah kenyang." Tao berhenti mengunyah dan beranjak, "Terimakasih. Aku akan pergi tidur sekarang."

"Secepat ini?"

Tao tidak menoleh dan malam itu, Tao tidur bersama darah menggenang di balik luka lengan yang tertumbuk berkali-kali (karena yang sebelumnya belum kunjung kering).

Dua minggu. Waktu yang terlalu lama namun berlalu terlampau cepat dengan Yifan menjadi orang lama yang baru di kehidupannya. Tao berusaha menjaga jarak dengan Yifan. Tao berusaha merenovasi dinding lama yang hampir tumbang dan memperbaruinya. Tao berusaha tidak mengacuhkan Yifan, dan sejauh ini, Yifan dapat diajak bekerja sama seakan-akan mereka terikat dalam perjanjian yang tak pernah terbicarakan.

Tao akan bangun pagi-pagi sekali dan memakai kamar mandi sebelum merapikan ruangan. Yifan akan bangun setelah Tao berangkat atau setelah Tao duduk rapi melakukan sesuatu di sofa. Bila kelas pagi Yifan ada sebelum Tao sempat merapikan buku, Yifan akan pergi tanpa melirik Tao sedikitpun. Yifan berada di luar kamar selama jam makan siang hingga sore, lalu ia kembali untuk mandi dan menjejakkan kaki di luar kamar lagi setelahnya. Jam-jam di mana mereka berada pada satu tempat lagi adalah malam hari ketika Yifan membuka pintu dalam kegelapan hanya untuk melihat Tao terjaga karena derap kakinya. Terkadang Tao dapat mengendus bau alkohol menemani.

Tapi siapa Tao, berhak menghakimi?

Bagaimanapun juga sejauh ini, it all works just fine.

Saat ini, Luhan meminta Tao untuk bermain ke kamarnya; di mana teman sekamar Luhan selama tiga hari akan berkunjung ke luar kota. Jadi Tao menyetujui untuk membawa tugas-tugasnya ke sana untuk tiga hari itu dan mereka sedang bermalas-malasan di sofa. Luhan menyesap rasa manis lollipop di sebelah tangannya, sementara tangan kiri bermain dengan ponsel; mengecek semua media sosial dengan telaten. Kaki berbalut celana tidur itu berjajar lurus menuju meja.

Tao, sementara itu, berbaring di sofa dan memandangi langit-langit kamar Luhan.

"Aku harus kembali sebentar lagi dan menaruh pakaian wushuku di tas." Tao berkata dan Luhan mengangguk-anggukan kepala tak peduli.

"Hm, Tao, bukankah ini sedikit konyol?" Luhan tidak sedikitpun mengindahkan pandangan dari smartphone bagaimanapun kata-kata itu terasa aneh terucapkan di pagi yang tenang itu. (Namun Luhan memang selalu aneh)

"Apa yang kau maksud?"

"Bukankah Kris adalah anak CEO?"

"Darimana kau tahu?"

"Bandit tercintamu."

"Baekhyun, bandit itu! Darimana pula ia tahu."

Luhan hampir tersedak lollipop saking lucunya dan berkata, "Chanyeol punya banyak relasi. You might as well use that to get to know Yifan."

Tao mendecih dan berdiri. "Aku akan mengambil pakaian latihan dahulu."

"Bukankah ini menggelikan, fakta bahwa teman sekamarmu adalah anak seorang CEO yang seharusnya dapat membeli satu apartemen sendiri?"

Tao sudah terlanjur pergi.

.

.

.

"Oh, hai. Kau darimana saja?"

Tao mendongak dan melihat berdiri di depannya ketika pintu terbuka, tanda bahwa Yifan akan keluar.

Aneh. Ini sudah tidak sedingin salju dan Yifan memakai celana jeans hitam dengan sweater merah mewah. Tas hitam tersampir di lengan dan ia memakai sepatu olahraga.

"Kamar temanku."

"Oh, baiklah. Kupikir kau akan pergi lama jadi aku sudah makan dahulu. Tapi tenang saja, masih ada satu piring lagi di mejamu." Yifan berkata dengan cepat bahkan sebelum Tao menyadarinya. "Oh, aku akan pergi ke gym sebentar. Kau akan di sini saat aku kembali kan?"

"Ehm, sebenarnya aku akan menginap di kamar Luhan selama tiga hari—"

"Tiga hari? Bukankah itu terlalu lama?"

"Maaf?"

Yifan mengangguk. "Baiklah, aku sudah meninggalkan nomorku di mejamu jadi kau bisa menghubungiku. Aku akan kembali besok pagi. Kupikir kau akan di sini jadi— oh," Melihat jam tangan dan berkata lagi, "Aku harus segera pergi."

Tao diam dan merasa bodoh. Sudah berlalu lima menit tanpa gerakan sedikitpun dari Tao.

Apa yang terjadi?

Tao berteriak tertahan dan segera jatuh ke lantai. Kaki yang bergetar berusaha mencapai meja dan mengambil dua buah pil Xanax meski beberapa yang jatuh harus ia bersihkan nanti dalam usaha. Tao tidak berpikir apapun sebelum menelan obat penenang itu kuat-kuat, tanpa air mineral—yang terlalu jauh dari gapaian.

Keadaan semakin rumit ketika ia kembali jatuh dan tidak mengingat apa-apa lagi; yang dalam tiga puluh menit kemudian takkan berarti apa-apa. Tao bangun setelah itu, dan segera mengambil pakaian latihan dan kembali ke kamar Luhan hanya untuk menemukan Luhan masih dalam posisi yang sama (dan lollipop yang baru).

"Kau lelet sekali. Padahal tadi Sehun membawakanku burger."

"Dan kau memakan semuanya?" Tao melotot dan Luhan mengangguk.

"Lagipula kau takkan pernah memakannya."

Poin bagus, Luhan.

Tao duduk dan menaruh ransel latihan. Ia membuka layar ponsel dan memasukkan digit-digit baru dengan nama Yifan sementara Luhan mencuri lihat ke arah ponsel itu. "Kau menyimpan nomornya?"

"Dia memaksa."

"Memaksa?" Luhan menaikkan sebelah alisnya. "Beberapa hal menjadi semakin menarik sekarang."

"Apa?" Tanya Tao. "Luhan, kau tahu sesuatu?"

"Kalau aku tahu sekalipun, apakah aku akan memberikannya dengan gratis?"

"Tidak."

"Tentu saja."

"Poin bagus. Dan aku akan latihan wushu dua jam lagi, jadi kau lebih baik berbenah diri sebelum pergi ke kelasmu."

Luhan memiringkan kepala, "Begitukah?"

Tao mengetuk-ketuk layar ponsel dengan pelan dan Luhan mencuri pandang lagi. "Berhenti mengintip!"

"Kau bahkan mengirimkan pesan kepadanya? Memberitahu kalau ini nomormu?"

"Baiklah, ini sudah cukup dan kau bisa mandi sekarang." Tao menarik Luhan dan mendorong pria sialan itu ke dalam kamar mandi dengan lollipop masih di tangan Luhan. Luhan membuangnya di tempat sampah dan keluar lagi hanya untuk mengambil handuk dan menjulurkan jari tengah ke arah Tao.

"Well, fuck you too, deer."

TO BE CONTINUED

Well, halo. Soooo anyone still enjoying this story?

ok lol.

Jadi Tao sudah bertemu dengan Kris/Yifan dan Tao seems to have no big problem with that /?/ daaaaannn what do you think shall happen in the future?

Please review and thankyou for reading^^