—Lust—
[chapter 2]
(Omjunmen)
.
.
AU—Typo(s)—Gender Switch—18+—etc.
[A/N pt1 : Sorry for all readers who were upset with the ending of the 1st chapter (HEHEHE) so this is the M-scene for you. ek so-ek so.]
Enjoy!
.
.
Minseok tidak pernah tahu ia bisa bekerja secepat ini dalam hidupnya, ketika nafsu benar-benar sudah berada di ujung kepalanya—kepala ia dan Luhan.
Setelah Luhan berkata ia membutuhkan Minseok, lelaki itu langsung menyuruh Minseok duduk di bangku penumpang depan dan lelaki itu duduk dibelakang kemudi. Luhan segera menjalankan mobilnya dengan tetesan keringat yang mengalir dari pelipisnya—Minseok terkekeh melihat lelaki itu menahan nafsunya yang memuncak sembari mencari pakaian luar dan dalamnya yang berada ditempat yang berbeda-beda.
Dan disinilah mereka sekarang.
Disebuah motel yang memang dekat dengan bar tempat mereka bertemu beberapa jam yang lalu. Keadaan motel itu tidak bisa dibilang buruk, karena lumayan rapih dan lampunya memang sedikit remang—khas motel, sih. Dan Minseok suka. Tetapi Luhan malah meminta maaf karena ia seharusnya membawa Minseok kesebuah hotel mewah, tetapi tidak bisa karena ia punya urusan yang harus segera diselesaikan.
.
.
Luhan langsung menyerang bibir Minseok begitu ia menutup pintu kamar dengan kaki kanannya. Luhan memulainya dengan kecupan-kecupan ringan, menjadi sebuah ciuman yang menuntut. Perlahan, Luhan membawa Minseok duduk dipinggir kasur lalu membuatnya terlentang.
Minseok membuka mulutnya dan membiarkan lidah Luhan mengeksplorasi setiap inchi didalamnya. Tangan Luhan yang berada di kepala Minseok perlahan turun, membuka satu per satu kancing blouse yang dipakai Minseok lalu melepaskannya dari tubuhnya, menampilkan lagi kulit putih nan lembut yang sempat ia cicipi tadi.
Tangan Luhan berpindah ke belakang tubuh Minseok. Meraba punggung halus Minseok sebentar sebelum membuka pengait bra yang dipakainya, lalu melempar penopang payudara tersebut kesembarang arah.
Luhan membawa kembali tangannya kedepan—meremas payudara Minseok dengan sangat perlahan, membuatnya empunya mengerang karena rangsangan yang menurutnya kurang. Kedua telunjuk Luhan memainkan kedua nipple kecoklatan milik Minseok dan sesekali mencubitnya pelan.
Tangan Minseok terangkat meremas rambut Luhan yang masih menciumnya. Bibir kucingnya mengeluarkan desahan setiap kali Luhan menyentuh nipple nya. Minseok terengah-engah ketika Luhan melepaskan ciuman mereka—tetapi ia kembali harus menelan nafasnya bulat-bulat ketika Luhan meraup payudara kanannya dengan mulut terampilnya.
"A—ahh…"
Kepala Minseok sedikit terangkat ketika Luhan menggigiti titik coklat di payudara kanannya. Erangan nikmat kembali keluar dari bibirnya saat Luhan menghisapnya dengan sangat keras, kemudian menjilatinya dengan gerakan memutar.
"Lu—Luhh…"
Kepala Minseok kembali terangkat saat bibir Luhan berpindah pada payudara kirinya dan melakukan hal yang sama seperti apa yang telah ia perbuat pada payudara kanannya. Jemari lentik Minseok menjambak rambut Luhan dengan cukup keras ketika lelaki itu menyedot nipplenya sampai pipinya berubah cekung.
"Minseok…h—hh…"
Luhan kembali mencium Minseok sementara tangannya bekerja melepas mini skirt yang dipakai wanita berpipi chubby ini. Jemarinya menurunkan resleting rok Minseok dan melepaskannya dari kakinya.
Luhan mengecup bibir Minseok, lalu turun mengecupi sepanjang tulang rahangnya. Bibir lelaki itu terus turun, mengecupi kedua payudara Minseok dan terus turun pada perut Minseok.
Tangan Luhan meremas pinggang Minseok ketika lelaki itu membawa bibirnya turun kembali mengecupi tepat diperbatasan antara perut dan underwear yang dipakainya.
Luhan menjilat bibir bawahnya sebelum melepaskan kain terakhir yang melekat pada tubuh Minseok. Lelaki itu menegakkan badannya ketika wanita yang berada dibawahnya sudah benar-benar telanjang.
Luhan tersenyum puas sambil menjilat bibir bawahnya kembali—yang tentu saja membuat Minseok mengeluarkan semburat merah di pipi. Lelaki itu membuka kancing teratas kemejanya yang sudah tidak berbentuk, lalu menarik Minseok untuk segera duduk.
Luhan menggenggam kedua tangan Minseok dan membawanya didepan kemeja yang sedang dipakainya,
"Bukakan,"
Minseok tersenyum simpul.
Wanita itu menarik Luhan mendekat dan langsung membuka paksa kemeja yang dipakainya. Membuat beberapa kancing terlepas dari tempatnya dan berjatuhan di lantai.
Luhan bersiul melihat Minseok yang tidak sabaran. Bibirnya menyunggingkan sebuah seringai.
Luhan segera mendorong Minseok kembali terlentang di kasur. Ia kembali berciuman panas dengan Minseok sembari membuka celana dan celananya yang lain dengan sangat tergesa.
Tangan Minseok kembali di genggam Luhan, lelaki itu menuntun jemari Minseok untuk menggenggam kenjantanannya yang mulai menegang. Minseok memejamkan matanya ketika ia menyentuh benda kebanggaan Luhan tersebut, sementara empunya menggigit bibirnya karena rasa hangat yang dirasakan adik kecilnya.
Minseok menatap Luhan yang mengigit bibirnya. Ia tersenyum kecil dan mulai meremas kejantanan Luhan. Mengocoknya secara perlahan—membuat Luhan kualahan karena hasratnya yang diundang sebentar-sebentar untuk datang.
"Min…Seokhh…"
Minseok hanya tersenyum dan menutup matanya. Berpura-pura tuli dengan erangan Luhan yang memintanya lebih.
"Lebih ce—pat… Minseok… hh—hhh…"
Tubuh Minseok menegang ketika Luhan mendesah tepat di telinganya. Terpaan nafas panasnya mengenai pipi dan telinganya, membuat hasrat Minseok kembali memuncak sampai di ubun-ubunya.
Minseok dengan tergesa mengocok kejantanan Luhan dan meremasnya dengan keras.
"U—ugh,"
Membuat Luhan melenguh tertahan, yang hebatnya membuat tubuh Minseok semakin panas.
"Cukup, Minseok…"
Luhan melepaskan genggaman tangan Minseok dari kejantanannya dan membawanya keatas kepala Minseok. Tangan kirinya menahan kedua tangan Minseok sementara tangan kanannya melebarkan kaki Minseok dibawahnya.
Luhan menjilat bibirnya untuk kesekian kali ketika melihat kewanitaan Minseok yang bersih, basah karena cairannya sendiri. Dengan tergesa ia kembali mengocok kejantannya.
"Aku… gak akan ngelakuin foreplay lagi,"
Minseok menatap Luhan dan mengerjapkan matanya. Ah, iya, foreplaynya udah tadi di mobil.
Luhan mengecup bibir Minseok lembut, "Tahan sebentar, sayang,"
Kening Minseok berkerut ketika benda yang lumayan keras memasuki liang kewanitaannya yang terhitung hampir satu tahun lebih tidak dimasuki apapun.
"A—Aaa,"
Luhan kembali mencium Minseok saat wanita dibawanya itu mengerang kesakitan, sementara pinggunya tetap mendorong kejantananya masuk kedalam liang yang terasa hangat tersebut.
"Aah!"
Minseok berteriak ketika kejantanan Luhan sudah masuk sepenuhnya—ia merasa sangat penuh. Sementara itu, Luhan mendesis ketika kewanitaan Minseok menjepit kejantannya dengan lumayan erat—rasanya sangat hangat, dan nikmat.
Luhan menatap Minseok yang terengah, "Can I?"
"Yes… Please…"
Luhan mengeluarkan setengah kejantanannya lalu menghempaskan kembali ke liang Minseok dengan pelan—Minseok mendesah pelan.
Lelaki itu kemudian melakukannya lagi, lalu menghempaskannya dengan cukup keras, membuat Minseok mendesah tertahan dan refleks mengencangkan otot-otot kewanitaannya.
Luhan memaju-mundurkan pinggulnya dengan irama yang konstan sembari mencari titik terdalam Minseok yang bisa membuat wanita itu meneriakkan namanya dengan kencang,
"Luhan!"
Luhan tersenyum menang. Ia menemukan harta terpendam milik Minseok. Di bawahnya, Minseok terengah-engah karena Luhan terus-menerus menusuk titik terdalamnya—ia benar-benar merasa penuh.
Luhan menyeringai kembali.
Ia mengeluarkan hampir seluruh kejantanannya, kemudian menghempaskannya keras-keras kedalam Minseok. Membuat wanita itu melengkungkan badannya keatas lalu menghempaskannya kembali dengan cepat ke kasur dibawahnya.
Luhan tidak bisa menahan desahannya ketika liang Minseok semakin meremas kejantanannya dengan sangat erat. Mulutnya terbuka dan matanya terpejam, kontras dengan Minseok yang melakukan hal yang sama.
Luhan mulai terengah, "Minh—hh..."
Luhan kembali melakukan hal yang sama—mengeluarkannya dan menghempaskannya dengan keras. Kini iramanya lebih cepat, membuat tubuh Minseok terhentak keras dan payudaranya terguncang-guncang—tangan Luhan langsung saja menangkup gunung kembar tersebut dan meremasnya keras dengan kedua tangannya.
Desahan Minseok semakin menjadi-jadi dan tangannya sudah mulai kembali menjambaki rambut Luhan yang kini sedang menciumnya.
"Minh—hhh…"
Minseok merasa Luhan sangatlah keras didalamnya. Setiap hentakannya sangat dalam dan tepat mengenai titik kenikmatannya, membuatnya mabuk dan merasa penuh.
Sementara Luhan sendiri merasa Minseok sangatlah hangat. Baik bagian dalam maupun luarnya, Minseok terasa hangat ketika Luhan menyentuh kulitnya. Wangi vanilla masih tercium jelas dari tubuh Minseok, meskipun tubuh kecil itu sudah penuh dengan keringat—dan Luhan sangat menyukainya—menyukai Minseok, tubuhnya, dan juga wanginya.
"A—ah! Lu—hh—hhh…"
Setiap tusukan Luhan terasa semakin dalam. Minseok sudah tidak ingat sudah berapa puluh tusukan yang Luhan berikan terhadap kewanitaannya. Ini terlalu memabukkan dan Minseok tidak bisa berpikir jernih lagi.
"Lu—a—Aku—hh—"
Minseok sampai pada puncaknya.
Luhan berhenti sesaat, membiarkan Minseok menikmati kenikmatannya, selagi ia juga menikmati kewanitaan Minseok yang meremas kejantanannya semakin erat.
Luhan mendesah lagi.
Luhan menggerakkan pinggulnya lagi ketika Minseok sudah mulai stabil—dengan sangat keras. Membuat Minseok kembali terlonjak karena ulahnya.
Dahi Luhan berkerut,
"Se—bentar lagi, Minhh—hhh…"
Luhan semakin cepat bergerak didalam Minseok, membuat wanita itu merasakan sesuatu yang kembali ingin keluar.
Ketika Minseok memejamkan matanya dan mencoba merasakan Luhan, benda yang mengoyak-oyak kewanitaannya itu semakin lama semakin membesar dan membuatnya terasa penuh dan sedikit mual.
"Min…—seokhh—!"
Baik Luhan dan Minseok mencapai puncaknya dalam waktu yang hampir bersamaan. Mata keduanya sama-sama terpejam dan dengan mulut yang masing-masing terbuka.
Luhan mendesis ketika kewanitaan Minseok kembali meremas kejantanannya.
Minseok terengah-engah dibawahnya, lalu memukul dada Luhan dengan kepalan tangan kanannya—yang sama sekali tidak ada tenaganya.
"Bo-bodoh… hh—hhh… kita gak pakai pengaman… bodoh—hh…"
Luhan mengeluarkan kejantanannya dari kewanitaan Minseok, membuat wanita itu menyeritkan keningnya, "Masa subur kamu udah lewat belom?"
Minseok mengatur nafasnya dan mengingat-ingat, "Udah sih…"
Luhan mengambil selimut cadangan yang disediakan pemilik motel diatas meja dekat televisi. Lelaki itu menyuruh Minseok mengangkat sedikit badannya dan menarik selimut yang sudah jadi korban perbuatan mereka tadi.
Luhan memakai boksernya lalu merebahkan tubuhnya disamping Minseok yang sedang membelakanginya dengan keadaan tanpa sehelai kain pun. Tangan kanannya terangkat memeluk Minseok dari belakang dan menariknya mendekat sehingga punggung halus Minseok bersentuhan langsung dengan dada Luhan.
"Kalau gitu gak ada yang perlu di khawatirkan 'kan?"
Minseok bergumam mengiyakan. Ia sudah sangat lelah.
Ketika Luhan mulai mengecupi leher belakangnya, ia hanya bisa mendesah dan bergumam tidak jelas tanpa bisa melakukan apapun karena tenaganya sudah terkuras semua.
Luhan menggigit perpotongan leher Minseok lalu menghisapnya cukup keras, Minseok dibuat melenguh karenanya. Luhan mengecupnya beberapa kali sebelum tersenyum melihat yang telah diperbuatnya.
Gak papa 'kan menandai Minseok sebagai miliknya walau hanya semalam?
.
.
.
.
.
.
.
(End.)
(A/N pt2)
GAK BERANI NGEDITNYA KAWANDZZZZ. HEHEHEHE. Jadi maaf kalo ya, begitu. huks.
Terus, maaf belom bisa bales review karena email-ku gak bisa dibuka tapi anehnya ini Ffn bisa jalan, d0h gak ngerti lagi. Buat kalian yang udah baca, makasih banyak pake banget, I sarang kalian semua. Muach. ek so ek so, we are one! Dan buat Fir, kamu gak polos udah ya titik gak pake koma.
akhir kata, YA AMPUN AKHIRNYA BISA JUGA BIKIN BEGINIAN.
dah. bye.
Mind to review again?^^
