—Lust—
[final chapter]
(Omjjjjuunmen)
.
.
AU—Typo(s)—Gender Switch—16+—etc.
.
Enjoy!
.
Minseok mengacak rambutnya frustrasi.
Wanita itu tidak bisa berhenti membayangkan kejadian tiga hari lalu, dimana ia terbangun di sebuah kamar motel tanpa busana, dan dengan lelaki yang baru saja dikenalnya, memeluk dirinya dengan keadaan yang tanpa busana pula.
Minseok masih ingat bagaimana rasa sakitnya. Minseok masih ingat bagaimana lelaki itu mengecup keningnya ketika Minseok terbangun. Minseok masih ingat ajakan lelaki itu untuk mengajaknya bertemu kembali dan melakukannya lagi—yang langsung disambut dengan lemparan bantal oleh Minseok. Minseok masih ingat bagaimana tubuh lelaki itu ketika ia bangun dari tempat tidur—Argh demi Tuhan, Kim Minseok, stop memikirkannya!
Minseok mementokkan kepalanya pelan pada kaca dihadapannya. Melakukannya beberapa kali sebelum ia menarik napas dan menegakkan kepalanya kembali. Menatap pantulan dirinya dengan rambut yang acak-acakan.
Minseok mengambil sisir dan merapikan rambutnya sambil menghela napas—Kim Minseok, ayo fokus! Fokus!
Ia mengecek dirinya sekali lagi. Baju, cek. Rambut, cek. Make up, cek. Sepatu, cek.
Minseok menghembuskan napasnya sekali lagi. Menatap cermin tanpa ekspresi, lalu menampilkan senyum yang sangat manis, "Kim Minseok, fighting!"
Wanita itu mengambil tasnya yang terletak diatas meja kerjanya lalu melangkahkan kakinya keluar kamar apartemennya.
Minseok mengunci semua jendela sebelum keluar dari apartemennya dan menguncinya dari luar. Bibir kucingnya mengulaskan senyum kecil, semoga ia beruntung hari ini.
.
.
.
.
.
Seseorang, tolong potong urat malu Minseok sekarang juga.
Didepannya terpampang seorang lelaki, dengan wajahnya yang sangat tampan—yang sayangnya paling Minseok tidak ingin temui—dengan sebuah seringai kemenangan terpampang diwajahnya.
Lelaki itu kemudian berdiri. Minseok merasakan para wanita yang sedang berdiri sejajar dengannya menahan nafas mereka, sedangkan Minseok sendiri sudah hampir tidak merasakan lantai yang dipijaknya.
Minseok rasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik ketika lelaki itu berhenti tepat didepannya—yang tentu saja membuat berpasang-pasang mata diruangan itu menaikkan alisnya, heran.
"Aku pilih dia," Minseok bisa merasakan bulu kuduknya meremang ketika suara Luhan memasuki indra pendengarannya.
Para bawahannya terdiam sebentar memasang wajah bingungnya, yang pada akhirnya mengangguk dan menyimpan berkas Minseok. Lalu menyuruh para kandidat yang tidak terpilih—yang bahkan belum sempat memperkenalkan diri dan di wawancara—menjadi sekertaris baru Luhan untuk keluar. Minseok bisa merasakan tatapan tajam para wanita tersebut dibalik punggungnya.
Luhan menatap para bawahannya sekilas, "Bisa kalian keluar?"
Para bawahannya kemudian berdiri dari duduknya. Mereka pamit undur diri terlebih dahulu sebelum keluar dari ruangan tersebut, yang hanya disambut gumaman oleh Luhan.
Luhan kembali menyeringai ketika melihat wanita didepannya menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menjajarkan tingginya dengan Minseok, dan memajukan wajahnya semakin dekat dengan wanita itu.
"Kita bertemu lagi…" Luhan mengecup ujung bibir Minseok, "…Noona,"
Andai kakinya tidak lemas, sudah bisa dipastikan Minseok akan terjun dari ruangan ini sekarang juga.
"Aku gak percaya kamu satu bulan lebih tua dari pada aku," Luhan mengecup ujung bibir Minseok yang lain, "Wajah kamu menipu banget,"
Minseok meremas kain Black A-line skirt yang dipakainya.
Kakinya lemas, sungguh.
"Kamu bikin aku kaget pas liat berkas kamu diatas mejaku," Luhan mengecup pipi kanan Minseok, "Jadi buat apa ngelakuin seleksi," Luhan mengecup pipi kiri Minseok, "Kalo kamu satu-satunya yang aku mau,"
Minseok menahan nafasnya—sangat lama, menurut perkiraannya—ketika Luhan menegakkan badannya dan melonggarkan dasi yang tergantung dikemeja merah maroon polosnya. Mata lelaki itu menatap Minseok dari ujung kaki sampai kepala.
"Aku gak pernah tahu kalo wanita akan sesexy ini dengan pakaian kantor," Luhan menyeringai, "Apa kissmarkku masih ada? Apa clitmu masih sakit?"
Rona merah muncul secara samar dikedua pipi Minseok. Ia baru akan membuka mulutnya, tetapi Luhan terlebih dahulu memenjarakan diri Minseok antara tembok dan tubuh Luhan yang notabene lebih tinggi daripada Minseok.
"Ini parah banget—,
…I don't even touch your body—
And yet you make me turn on again,
—Noona..."
Sialan.
Suara Luhan yang terdengar serak di telinganya membuat Minseok mengigit bibirnya—menahan berbagai macam hasrat yang menyeruak didadanya.
—persetan dengan rasa malu.
Minseok mencengkram dasi Luhan dan menarik lelaki itu mendekat padanya, "Aku juga gak percaya," Minseok menjilat bibir atasnya, "That I had a fucking good sex with my soon-to-be-boss,"
Wanita itu mencengkram kedua biceps Luhan ketika lelaki itu melumat bibirnya dengan kasar. Mulut Luhan terbuka, kemudian menggigit bibir atas dan bawah milik Minseok secara bergantian, lalu melumatnya kembali. Kemudian lidah Luhan menjilat bibir Minseok—sebelum benda tak bertulang itu masuk dan mengeksplorasi mulutnya.
Sejauh Minseok berciuman dengan lelaki, ciuman Luhan adalah yang terbaik. Minseok masih bisa merasakan cappuccino—yang mungkin baru saja diminum Luhan—di lidahnya, rasanya enak.
Minseok melenguh ketika dadanya diremas oleh kedua tangan Luhan.
Minseok menikmatinya—dengan sangat. Tapi having sex dikantor dengan bossmu—boss barumu—diruangannya, yang bahkan belum ada satu hari Minseok menjadi pegawainya bukanlah ide yang baik. Mungkin setelah satu atau dua bulan Minseok bekerja dengan Luhan?
Minseok akan mencobanya nanti.
Dengan sekuat tenaga, Minseok menjauhkan tangan Luhan dari dadanya, dan melepas bibir Luhan—yang seperti sudah akan memakan bibir Minseok—yang dibalas lelaki itu dengan tatapan tidak terima.
Minseok mendorong dada Luhan, menjauhkan lelaki itu darinya, "Ini masih di kantor, sajangnim,"
Luhan mengerang, "Aku gak peduli. Ini kantorku,"
Sebelum Luhan sempat menyerang Minseok kembali, wanita itu dengan gesit melepas diri dari kurungan Luhan dan berjalan kearah pintu, setelah sebelumnya mencium jakun Luhan sekilas, "Aku akan ke mejaku sekarang, sajangnim. Permisi,"
Luhan mengacak rambutnya ketika wanita itu mengedipkan matanya pada Luhan dan menutup pintu ruangannya—meninggalkan Luhan sendirian.
"I will get you, Kim Minseok."
.
.
.
.
.
Minseok baru akan membereskan barang-barangnya, ketika pintu ruangan Luhan terbuka dan menampilkan sosok boss barunya yang saja akan pulang.
Minseok tersenyum manis, "Sore, sajangnim,"
"Sore," Luhan menyeringai, "Noona,"
Minseok tersenyum dan melanjutkan kegiatannya lagi—ia tidak suka dipanggil Noona, tetapi pengecualian untuk Luhan and his goddamn voice.
Gerakan tangan Minseok terhenti ketika tengkuknya dikecup dari belakang. Minseok bisa merasakan terpaan nafas Luhan yang panas dilehernya ketika ia berbicara.
"Mau ke apartemenku?"
.
.
.
.
.
.
.
END.
(Note)
Ha-halo, semua...
aku bener-bener gak nyangka bisa nulis beginian, serius. ugh, aku udah cukup (sangat) frustrasi dengan chapter sebelumnya, aku bahkan gak berani baca tulisanku ulang HAHAHAHA. eniwei chap sebelumnya harus aku ubah gak sih ratednya? WEKAWEKAWEKAWEKA.
jadi beginilah akhirnya. alurnya ngebut sekali ya memang, hm, cuma ini yang bisa aku kasih aku harap kalian gak kecewa. wehe. mwah. xoxo.
btw hampir semua member ekso bikin ig, ah, mereka semakin meresahkan saja aku lelah. juga buat kak Minseok harap update ignya ya kak, apa mungkin ludygard yang ngalangin kamu buat update foto, huh?
thanks for reviewing prev chap(s), so mind to review again?^^
