X-Change

By : shinsungrin

Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC

Genre : Romance

Terinspirasi dari sebuah komik "W Change" karya Matsuba Hiro

Salah satu ruangan yang tak pernah mati di rumah keluarga Kim adalah kamar Jaejoong. Bukan merupakan kamar yang luas, namun cukup untuk menampung sebuah rak buku serta sebuah kasur berukuran Queen Size. Bergaya minimalis dengan paduan dua warna hitam dan putih, ditambah asupan listrik dari sebuah saklar dan free internet membuat si empunya betah berlama lama di sana.

Sudah pernah dibahas mengenai ruang lingkup pergaulan Jaejoong yang sempit. Teman terbaiknya, Yoochun dan Junsu, berlatar belakang keluarga yang sama sepertinya. Sebenarnya Jaejoong memiliki satu teman lagi yang setia menemaninya selama 5 tahun terakhir ini. Ia selalu ada setiap saat Jaejoong membutuhkannya. Menghabiskan waktu dengannya merupakan salah satu agenda Jaejoong setiap harinya. Mau tau siapa dia? Oke dialah si Putih dari S*ny, ya benda itu adalah laptop milik Jaejoong.

Lima tahun sebelumnya dia adalah sebuah komputer pentium 4 yang sengaja dibelikan oleh ibunya agar ia mudah dalam mengerjakan tugas sekolah. Seiring berjalannya waktu dan perubahan teknologi begitu cepat voila! Komputer pentium 4 itu pun diet dan berubah menjadi sebuah laptop ber-otak i7 yang kini duduk manis di kasur milik Jaejoong.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Jaejoong mengaktifkan alamat surelnya untuk melihat beberapa notifikasi yang hampir 75%nya diisi oleh iklan. Puas melihat inboxnya, Jaejoong melirik sebuah kotak yang menunjukkan teman temannya yang sedang Online. Tuan Muda kita yang satu ini memang kecanduan Chatting. Baginya Chatting adalah teman yang lama hilang. Awalnya dia memang tidak tertarik dengan perkembangan ilmu komunikasi yang sedemikian pesat. Sampai pada suatu hari Yoochun memperkenalkan trend terbaru yaitu Chatting. Jaejoong dibuatkan alamat e-mail sendiri dan didaftarkan pada beberapa mailing list. Sebagai seorang newbie, Jaejoong tentunya merasa was-was akan menjalin pertemanan didunia maya ini. Mencoba percaya diri setelah dibayang-bayangi oleh keluarga Yakuza lain yang ingin membunuhmu dan semua kerabatmu merupakan hal yang sulit. Apalagi dalam waktu bertahun-tahun. Demi kenyamanan Jaejoong, akhirnya Yoochun memutuskan untuk menyamarkan identitas Jaejoong di jejaring sosial ini.

Sekali dua kali chatting tidak membuat Jaejoong nyaman akan dunia yang baru dikenalnya ini. Bergabung disebuah mailing list juga bukan merupakan peningkatan dalam segi bergaulnya. Jaejoong tidak suka dengan topik topik yang disuguhkan teman teman didunia mayanya ini. Yoochun mengetahui hal tersebut dan menyarankan Jaejoong untuk mengakses salah satu web yang memfasilitasi orang untuk berkirim pesan dengan orang yang tidak dikenali. Website inilah yang tentunya merubah Jaejoong dari makhluk gaptek menjadi manusia yang keranjingan chatting. Jaejoong akhirnya menemukan rutinitas normalnya sebagai seorang remaja.

Jaejoong masih men-scroll tetikusnya untuk mencari orang yang dapat menarik hatinya untuk chatting. Sekarang, Jaejoong tidak terlibat lagi dengan chatting buta. Sekarang ia lebih senang chatting dengan orang-orang yang sudah dikenalnya didunia maya (bukan dunia nyata ya). Pencariannya nihil, tidak ada yang online malam ini. Bahkan Junsu dan Yoochun pun tidak ada.

Ketika niatnya untuk mematikan laptopnya itu semakin bulat. Sebuah bunyi 'Tinung' pelan mengusik telinganya. Ia membuka kembali akun e-mailnya itu, mendapati sebuah notifikasi obrolan. Senyum lebar menghiasi wajahnya.

Artemis : Hai Hero..

Hero. Ya Jaejoong memilih nama itu karena ia merasa akan menjadi seorang Hero atau lebih tepatnya seorang survivor dari keluarga Yakuzanya ini yang dapat hidup normal.

Hero : Yah! Kau telat!

Artemis : Maafkan aku, ada urusan keluarga sedikit tadi. How was your day?

Hero : Bad! Then you made it even worst!

Artemis : I'm sorry, Hero. Hey I wanna tell you somethin'. Wanna hear 'bout that?

Hero : Pretty Sure! ;D

Artemis, susah ditebak apakah dia laki-laki atau perempuan. Jaejoong pun tidak berusaha untuk mengajaknya kopi darat. Artemis adalah orang yang sangat pandai bercerita dan memberikan nasihat kepada Jaejoong. Obrolannya dengan Artemis terkadang memakai bahasa inggris, walaupun Artemis sering bilang dia bisa bahasa Jepang tapi Jaejoong tetap merasa tidak enak apabila menggunakan bahasa yang tidak begitu diketahui Artemis. Namanya juga WWW (World Wide Web) semua orang dari belahan bumi manapun dapat mengaksesnya.

Artemis : Sekarang aku ada di Jepang :D

Hero : Benarkah? Wah aku harus berhati hati :p

Artemis : You really are mean

Hero : Just kidding sweety.. Kok tiba-tiba?

Artemis : Ayahku ada urusan di Jepang. Walaupun cuma sebentar

Hero : Jangan mencariku ya :p hehe

Artemis : Mana mungkin aku mencarimu :p

Hero : SO MEAN!

Artemis : hehehe :p

Artemis : Hero, ada seseorang yang menarik perhatianku

Hero : Weh weh.. Kau ini mau cari jodoh ya ke Jepang? :p

Artemis :

Hero : Hehehe.. baiklah lanjutkan :p

.

.

Pagi datang begitu diam dan cepat, layaknya sebuah penyakit mematikan yang menjangkit tubuh. Jaejoong terbangun dengan lingkaran hitam menghiasi matanya. Kurang tidur merupakan salah satu masalah yang dihadapi Jaejoong dalam menjalani kehidupan pubernya ini. Chatting bersama Artemis benar-benar membunuh waktu. Kini Jaejoong harus merasakan keindahan tidur 3 jam untuk pertama kali dalam hidupnya.

Pagi yang diharapkan Jaejoong masih tak kunjung tiba. Alam bawah sadarnya makin tidak terkontrol. Jaejoong terbangun dengan kondisi berdiri dan memegang lampu meja yang ada disamping tempat tidurnya, siap menghantamkan benda itu ke Fuuma, salah satu ajudan yang membangunkannya tidur. Hal yang benar-benar buruk.

Setelah mengobati luka-luka ajudannya dan sedikit mengomel pada siapapun yang ada dirumahnya, Jaejoong berjalan menuju halte bus yang tidak jauh dari rumahnya. Fikirannya melayang ke kejadian tadi pagi. Andai saja ia tahu, siapa yang bersemayam dalam tubuhnya ini. Jaejoong ingin sekali berkomunikasi dengan'nya'. Bukan untuk menyuruhnya berhenti dalam melindungi dirinya, setidaknya untuk membuat kesepakatan bahwa 'dia' tidak boleh melukai orang lain lagi.

"Pagi Jae"

"Pagi Chun" Jawab Jaejoong lesu.

"Pagi Hyung"

"Pagi Su-" Kali ini Jaejoong menoleh ke Junsu dan memeluknya sebelum berjalan kembali.

"Pagi Jaejoongie"

"Pagi Yun-BWOH! Siapa yang menyuruhmu untuk bebas menyapaku?!" Karena terbiasa dengan auto-reply Jaejoong kadang memiliki daya reflek yang lambat untuk mengenali orang yang menyapanya, termasuk kali ini Yunho.

Yunho hanya tertawa melihat ekspresi dongkol milik Jaejoong. Bibir semerah Cherry yang mengerucut itu merupakan sarapan pagi yang luar biasa mengenyangkan bagi Yunho.

.

.

Keheningan merupakan hal yang biasa dijumpai dalam lingkungan sekolah. Apalagi jika pelajaran sedang berlangsung. Namun, salah satu ruangan disekolah Jaejoong ini merupakan ruangan terbising yang pernah ada dan ajaibnya lagi tak ada seorang pun yang keberatan karenanya. Hampir setiap hari selama delapan jam ruangan ini selalu dipenuhi suara-suara disetiap sudut ruangannya. Tiada hari tanpa kegaduhan. Sudah bisa menebak ruang apa itu? Jawabannya adalah ruang kesenian.

Ruangan itu beralaskan marmer krem yang sangat serasi dengan interior ruangannya yang berwarna cokelat. Empat pasang AC terpasang rapi disebelah barat dan timur ruangan, cukup untuk mendinginkan kotak berukuran 150 meter persegi itu. Separuh dinding ruangan dihiasi dengan sebuah kaca besar dan panjang. Kursi-kursi lipat serta alat menaruh partitur tersusun rapi di belakang. Jaejoong menghela nafas, pandangannya beralih pada piano besar hitam yang terletak di sudut depan sebelah kanan ruangan. Jaejoong suka memainkan alat musik terutama piano. Musik adalah belahan hidupnya, Oase yang menghapus dahaga pergaulan sehingga ia tetap berusaha untuk menjadi seorang yang easy going dan supel.

Terdengar sebuah tepukan pendek, seorang wanita paruh baya tengah berjalan menuju depan kelas. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia telah memiliki umur yang cukup matang. Setelan kemeja biru pendek dengan celana bahan panjangnya serasi dengan rambutnya yang sengaja di ikat tinggi. Guru kesenian ini bernama Choi Kang Hee, dia memang bukan dari Jepang. SMA Tohou sengaja mengimpor guru ini dari Korea untuk memaksimalkan pelajaran kesenian.

"Buat sebuah kelompok yang terdiri dari 2 orang! Kita akan mempersiapkan festival sekolah.." Ucap Mrs. Kang Hee tegas.

Seperti yang telah di instruksikan, kelas 3-B langsung menghambur membentuk sebuah kelompok. Beruntung sekali guru yang satu ini tidak memaksakan kehendak untuk memasangkan kelompok. Jaejoong masih celingak celinguk mencari Yoochun yang hilang dari orbitnya. Layaknya magnet yang menemukan kutub yang berbeda, Jaejoong langsung menghampiri Yoochun begitu melihat batang hidungnya. Yoochun sendiri sudah mempersiapkan dirinya untuk sekelompok dengan Jaejoong.

"Oke! Sudah dibuat kelompok? Saya mau dalam 1 jam ini kalian membuat sebuah pertunjukkan musik!"

Beberapa murid ada yang mengumpat dalam bisiknya. Desas desus mulai terdengar dari anak anak yang mulai menggerutu dan mengoceh. Jaejoong menghela nafas, selalu seperti ini setiap tahunnya. Padahal Jaejoong sedikit berharap bahwa di tahun terakhirnya ini tidak ada pelajaran yang merepotkannya.

"Durasi 10 menit, musikalisasi puisi diperbolehkan.. Silahkan pakai alat musik yang tersedia di ruangan ini, ada pertanyaan?" tanya Mrs. Kang Hee

Sebuah tangan mengacung di udara, kali ini yang bertanya adalah Hana. "Aspek penilaiannya bagaimana miss?"

"Tidak banyak berubah Kreatifitas dan Aransemen, Saya tidak peduli suara atau permainan musik kalian bagus atau tidak, jika memang kalian bisa mengemas pertunjukkan singkat ini menjadi pertunjukkan yang apik dan menarik"

Mrs Kang Hee merupakan salah satu guru yang baik dalam memberikan nilai. Tugasnya memang seringkali ada yang 'unik', tetapi memang dia tipikal guru yang memberikan nilai positif apabila muridnya sudah mau berusaha.

"Ada pertanyaan lagi?" tanya Mrs Kang Hee memastikan "Okay Class! Kalian bisa mulai!"

Aba-aba dari Mrs Kang Hee membuat anak anak kelas 3-B bergerak dan mulai berdiskusi mengenai konsep dari pertunjukkan yang akan mereka buat. Beberapa anak merencanakan untuk menambah koreografi sederhana dalam pementasan mereka, hal ini terlihat ketika mereka mulai bergerak ke kiri dan ke kanan sambil menyanyikan lagu. Sisanya sibuk mencari alat musik yang akan mereka gunakan dalam pertunjukkan musik sederhana itu. Jaejoong dan Yoochun menghela nafas, mereka tidak terlalu excited dalam pertunjukkan ini. Hal ini sudah menjadi rutinitas mereka setiap tahun, dan di tahun terakhirnya mereka harus mengulang kembali dengan konsep yang baru tentu saja.

"Kita mau buat apa nih?" tanya Jaejoong melirik ke arah Yoochun yang sama cluelessnya. Yoochun hanya mengangkat bahu, ia kemudian mengamati rak rak buku yang berisi partitur lagu. Jaejoong yang mengikutinya kini sudah membolak balik sebuah buku mencari lagu apa yang kira kira cocok untuk di nyanyikan mereka berdua.

"Color Melody and Harmony?" tanya Yoochun

Jaejoong menggeleng, "Salah satu dari kita harus main alat musik.."

"Gitar atau piano?"

Jaejoong berfikir sebentar, "Piano" Jawabnya mantap

"Sepertinya kau sudah mulai terbayang konsepnya?"

"Sedikit.. Bagaimana kalau seperti ini..