X-Change
By : shinsungrin
Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC
Genre : Romance
Terinspirasi dari sebuah komik "W Change" karya Matsuba Hiro
Pertunjukkan berjalan halus, semua siswa kelas 3-B menunjukkan kreatifitasnya dengan baik. Kebanyakan dari mereka berduet dengan pembagian suara yang cukup bagus, dan sebagian lagi menyanyi dengan iringan acapella sederhana namun menarik. Hal ini biasanya terjadi pada murid perempuan. Sedangkan murid laki-laki dominan memberikan pertunjukkan akustik, seperti depapepe. Yunho adalah salah satu murid laki-laki pertama yang memberikan pertunjukkan dengan memainkan piano. Pasangan duetnya kali ini adalah Tiffany.
Alunan piano Girls Meet Love serasi dengan suara Tiffany yang tinggi. Yunho berperan ganda sebagai pianist dan sesekali membantu Tiffany dalam bernyanyi. Walaupun Yunho hanya bernyanyi beberapa bait dari lagu. Namun, hal itu lah yang membuat manis pertunjukkan mereka tunjukkan. Laksana gula yang larut dalam air, perasaan putus asa dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan dapat disatukan dengan apik oleh duet maut ini.
Jaejoong terkesima akan pertunjukkan Yunho dan Tiffany, sementara beberapa temannya sibuk bersorai memberikan apresiasi mereka. Entah kenapa ada perasaan gugup yang hinggap di hatinya. Ia pun menoleh kepada Yoochun, berharap dia akan sedikit mendapat kekuatan. Ternyata ekspresi Yoochun pun tidak jauh berbeda dengannya. Hal akan menjadi semakin sulit jika kau gugup.
Setelah pertunjukkan Yunho, ada lagi beberapa murid kelas 3-B. Beruntunglah Jaejoong dan Yoochun yang diberi kesempatan untuk menenangkan diri pasca pasangan Yunho dan Tiffany maju. Ketika namanya dan Yoochun di panggil, Jaejoong berjalan dengan mantap menuju ke stage. Jaejoong berjalan ke arah piano besar yang sudah menantinya di sayap kanan panggung. Yoochun mengikutinya berjalan ke arah piano. Mereka berdua pun duduk bersamaan di depan piano itu. Beberapa detik kemudian, dentingan suara piano menggema keseluruh penjuru ruang kesenian. Mengisi udara dengan alunan melodi "River Flow In You" yang tengah dimainkan Yoochun dan Jaejoong.
Alunan nada berganti menjadi lebih soft, Jaejoong berdeham kecil dan kemudian bernyanyi.
The loneliness of nights alone
The search for strenght to carry on
My every hope has seemed to die
My eyes had no more tears to cry (JJ)
Then like the sun shining up above
You surrounded me with your endless love
Cause all the things I couldn't see
and now so clear to me (YC)
You are my everything (You are my everything)
Nothing your love won't bring (Nothing your love won't bring)
My life is yours alone (alone)
The only love I've never known
Your spirit pulls me through
When nothing else will do
Every night I pray (I pray)
On bended knee (On My knee)
That you will always be
My everything
Be My everything~
My Everything _ Yoochun & Jaejoong
Dengan sentuhan beberapa not terakhir, Jaejoong dan Yoochun mengakhiri lagunya. Jaejoong berdiri dari kursi pianonya di ikuti Yoochun. Perasaan gugup menghinggapinya. Suasana di dalam ruang kesenian itu terlalu sepi. Tidak ada apresiasi dari siswa sama sekali. Jaejoong kini mengalihkan pandangannya kepada Yoochun, wajahnya cemas. Fikirannya larut dalam pertunjukkan yang baru saja selesai ia mainkan. Begitu buruknya kah? Jaejoong menyadari bahwa ada beberapa nada yang salah ketika ia memainkan piano. Ia bukan profesional yang sudah mahir dalam bernyanyi sambil bermain piano.
Jaejoong menunduk, tidak tahu harus berekspresi apa dan sudah pasrah akan nilai akhir yang diberikan oleh Mrs. Kang Hee. Seakan tahu perasaan Jaejoong, Yoochun kemudian menggenggam tangannya. Dengan aba-aba dari Yoochun, mereka memberikan salam terakhir sebelum mereka keluar dari panggung. Sebuah tepukan terdengar dari sudut sebelah kiri panggung. Jaejoong menegakkan dirinya kembali, matanya beralih kepada sesosok pemuda yang kini tengah berdiri sambil memberikan apresiasinya kepada mereka berdua. Yunho batin Jaejoong, sebuah senyum mengembang dari bibir merahnya. Suasana riuh pun menggantikan kebisuan yang sempat melanda ruang kesenian beberapa detik lalu.
.
.
Ujian akhir pelajaran kesenian memang menyita energi dan fikiran Jaejoong untuk sesaat. Hal ini menandakan bahwa musim ujian bagi Jaejoong akan dimulai. Memikirkannya saja sudah membuat Jaejoong mual. Cuaca yang panas pun tidak membantu sama sekali. Jaejoong menghenyakkan diri di sandaran kursinya.
"Lapar~" Keluh Jaejoong ketika perutnya mulai mengeluarkan suara suara gaib yang hanya bisa di dengar olehnya.
Sesuatu yang dingin mengenai pipinya, menegakkan Jaejoong yang tengah bersandar di singgasananya. Jaejoong melemparkan pandangan terganggunya pada orang yang kini mengambil kursi didepannya itu. Senyuman kemenangan terhias pada wajah kecilnya, dan hal itu sangat mengganggu Jaejoong. Hanya satu orang yang dapat menjungkirbalikkan mood yang dimiliki oleh Kim Jaejoong, yap tentu saja Jung Yunho.
"Untukmu.." Ucap Yunho seraya menaruh sekotak susu cokelat di meja Jaejoong.
Jaejoong memperhatikan kotak susu itu dengan seksama. Kotak dingin itu sesungguhnya telah menggoda indera pengecapnya. "Pasti ada apa-apanya.." Ucap Jaejoong melipat kedua tangannya di dada.
Yunho memutar kedua bola matanya, "Bilang saja kalau kau tidak mau..", Ia kemudian mengambil kotak susu yang ada di depan Jaejoong itu. Ketika hendak beranjak pergi, Yunho merasa sebuah tangan memegangnya erat.
"Siapa bilang aku tidak mau" Jaejoong bergumam pelan. Ekspresi malu-malu tergambar kontras di wajahnya yang rupawan.
Yunho menatap pria cantik didepannya itu dengan pandangan tidak percaya sebelum akhirnya ia kembali duduk dan melepaskan sekotak susu dari genggamannya. Jaejoong pun mengambil langkah cepat untuk segera meminum susu cokelat dingin itu.
"Ha~ Segarnya~"
Jaejoong sangat ekspresif, ia tahu bagaimana cara mengekspresikan dirinya ketika ia sedang melakukan sesuatu. Tingkahnya yang seperti anak kecil polos membuat Yunho terbahak.
"Yah!" Sungut Jaejoong.
"Bukan salahku jika kau terlalu imut"
Yunho benar-benar tidak memikirkan efek jangka panjang dari perkataannya yang careless itu. Kejujuran terkadang datang disaat yang tepat, termasuk saat ini. Seketika panas dunia pindah ke kedua belah sisi Jaejoong. Ia memalingkan wajahnya dari Yunho, wajahnya bersemu. Perasaannya campur aduk. Bukan senang, dan sama sekali tidak terganggu. Hanya.. aneh
"Ah Jaejoongie, Mrs Kang Hee menyuruhmu menemuinya" Ucap Yunho mencoba membuka pembicarannya.
Jaejoong mengangguk dan melenggang pergi dari singgasananya untuk menemui Mrs Kang Hee di ruang guru. Sosok Yunho mengikuti dibelakangnya. Jaejoong menghela nafas panjang, "Apa lagi sekarang?"
Yunho yang ketahuan mengikuti Jaejoong dari belakang bingung harus menjawab apa. Sebenarnya ia tidak memiliki alasan khusus untuk mengikuti Jaejoong. Hanya saja, Yunho tidak mau mati bosan dikelas karena tak ada yang mengajaknya mengobrol. "Mengawalmu?" Ucap Yunho asal.
Jaejoong mengangkat sebelah alisnya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa pernyataan Yunho cukup 'logis' untuk diterima ditelinganya. Ia meneruskan perjalanannya dan meninggalkan sosok Yunho yang tetap mengikutinya.
"Permainan piano yang bagus" Puji Yunho yang sekarang sudah berjalan sejajar dengan Jaejoong.
"Terima kasih atas sanjungannya"
"Walaupun tadi ada beberapa nada yang miss"
Jaejoong berhenti. Kini ia melemparkan pandangan tidak percayanya ke pemuda bermata gelap itu. "Kau mendengarnya?"
Yunho yang kaget akan perubahan sikap Jaejoong yang tiba-tiba itu sempat terhenti sesaat. "Y-yeah" Ucap Yunho yang kini menggosok belakang lehernya. "Tapi overall semuanya bagus kok.. aku salut padamu" Tambah Yunho sebelum ekspresi Jaejoong berubah menjadi gloomy.
Jaejoong hanya dapat mengulum senyum. Pujian dari Yunho terasa cukup. Mengingat dia lah orang yang pertama kali memberikan applause atas penampilan Jaejoong. Membuat hal itu lebih dari cukup.
