X-Change
By : shinsungrin
Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC
Genre : Romance
Terinspirasi dari sebuah komik "W Change" karya Matsuba Hiro
Informasi yang di sampaikan oleh Mrs Kang Hee seperti pisau bermata dua. Bagus dan buruk. Berita bagusnya adalah Jaejoong dan Yoochun memperoleh nilai tertinggi untuk pertunjukkan seni mereka. Oleh karena itu, Mrs. Kang Hee telah memutuskan untuk menjadikan dia dan Yunho, wakil kelas 3 untuk festival sekolah yang akan diadakan 1 bulan lagi. Hal ini merupakan berita buruk bagi Jaejoong tentunya.
Mereka akan melakukan latihan rutin 3 kali seminggu setelah pulang sekolah dan seminggu sebelum festival sekolah dimulai, latihan akan diadakan setiap hari. For God Sake! Lima belas hari menghabiskan waktu bersama Jung Yunho membuat bulu kuduk Jaejoong berdiri. Cepat atau lambat orang itu akan membuatnya gila dengan sifatnya yang tidak bisa diam. "Jaejoongie fighting!" hibur Jaejoong pada dirinya sendiri sebelum melenggang pulang.
.
.
Derak pintu rumah keluarga Kim yang di geser, menyebabkan semua pasang mata tergelitik untuk menilik siapa orang yang baru saja masuk ke kediaman itu. Sebuah kalimat 'Aku Pulang!' terdengar tak lama setelahnya. Semua anggota keluarga tersenyum melihat sesosok pemuda bersuara serak berjalan menyusuri ruangan demi ruangan. "Selamat Malam Tuan Muda Jaejoong" ucap trio paman yang biasa membangunkan Jaejoong bangun itu. Terlihat beberapa perban masih membalut di wajah mereka. Sebagai seorang manusia, mereka memiliki daya sembuh yang cepat. Jaejoong terkadang penasaran, jangan jangan mereka telah meminum ramuan tertentu sehingga daya regenerasi mereka cepat. Atau jangan jangan mereka bertiga sebenarnya sudah hidup ribuan tahun, abadi dan tidak akan mati. Jaejoong menggeleng kepalanya, berusaha mengusir imajinasinya yang terlalu liar itu.
Sudah satu minggu berlalu dari deklarasi Mrs Kang Hee, Jaejoong sudah menyelesaikan dua latihan uselessnya bersama Yunho. Jaejoong merebahkan dirinya di kasur kesayangannya. Secara otomatis tangannya meraih sebuah guling dan memeluknya. Fikirannya pergi pada latihannya setelah pulang sekolah tadi. Yunho memang pianist yang handal, namun selera musik mereka sangat berbeda. Antara bumi dan langit. Jaejoong menghela nafas panjang, sampai sekarang pun belum ada lagu yang benar benar mereka pilih untuk pertunjukan.
Salah satu obat penawar rasa lelah untuk Jaejoong saat ini adalah chatting. Jaejoong kemudian membalikkan posisi tidurnya. Setelah menyamankan diri dalam posisi telungkup, kedua tangan Jaejoong bergegas membuka dan menyalakan laptop kesayangannya itu. Sambil menunggu booting selesai Jaejoong mengistirahatkan kepalanya pada guling yang ada dibawah badannya. Bukan dirumah namanya kalau internet tidak terconnect secara otomatis. Baru beberapa menit hidup saja, sudah ada 5 notifikasi obrolan untuk Jaejoong. Lima notifikasi itu terdiri dari beberapa obrolan sampah Yoochun dan Junsu, serta grup mereka bertiga, ditambah spam dari kelas 3-B, serta yang terakhir dari Artemis.
Artemis : "Hey Hero, where have you been?"
Hero : "Why? Do you miss me already, Arty?"
Artemis : "-_-"
Hero : "ROFL"
Hero : "Mungkin aku akan jarang membuka akun ini"
Artemis : "Kenapa?"
Hero : "Akhir akhir ini aku agak sibuk"
Artemis : "Me too "
Hero : "Arty, what's your opinion if you met a stubborn classmate?"
Artemis : "Pardon?"
Hero : "Orang ini selalu berseberangan denganku, tapi aku harus bekerja sama dengannya"
Artemis : "Menyebalkan ya?"
Hero : "As hell"
Artemis : "ROFL"
Artemis : "Well, just punch him/her in their face"
Hero : "-_-"
Artemis : "Like Yin and Yang, people have their good and bad side"
Artemis : "You must open your mind, Hero. Maybe it's his/her way to catch your attention"
Jaejoong berfikir sebentar menyimak pernyataan yang di lontarkan oleh Artemis. Temannya yang satu ini sepertinya memiliki bakat untuk bijak. Walaupun segala nasihat yang diberikan oleh Artemis tidak sepenuhnya membela Jaejoong. Namun, hal itu membuat Jaejoong berfikir dalam sudut pandang yang berbeda dan membuatnya menyadari bahwa buruk adalah jika kita hanya memandang suatu permasalah dari satu sudut pandang saja. Fikiran manusia merupakan salah satu hal yang pantas untuk dikaji dari setiap sudut, dari sanalah kita memperoleh sebuah perbedaan dan menyadari bahwa hal itu bukanlah akar dari sebuah perselisihan. Perbedaan hadir agar kita saling memahami satu sama lain.
Hero : "Thx Arty, maybe I will punch him in his face :p"
Artemis : "So he is a he? That's good idea :D"
Artemis : "Btw, since we were in the same country, why we don't share our number?"
Jaejoong menghela nafas, jantungnya berdetak tak karuan. Memiliki teman chatting yang baik seperti Artemis memang menyenangkan, apalagi jika dia ada didunia nyata dan benar-benar memperlakukan Jaejoong seperti remaja normal seperti yang lain. Namun, setelah Jaejoong menceritakan segalanya, maksudku SEGALANYA, ada fikiran tak nyaman yang menghinggapi hatinya. Bagaimana jika Artemis bukanlah orang yang bisa menjaga rahasia? Bagaimana jika suatu saat mereka bertemu dan semua rahasia Jaejoong disebarkan? Atau jangan jangan Artemis adalah seorang tante tante mesum yang kurang kasih sayang? Dilihat dari bahasanya yang bijak, bisa saja dia memang sudah memiliki umur. Jaejoong menggeleng, terlalu banyak kemungkinan buruk jika kepribadiannya terungkap.
Artemis : "Jika kau tidak mau, aku mengerti "
Hero : ""
Hero : "Give me your number, Arty"
.
.
Suara derap kaki menghiasi suasana pagi yang sendu itu. Cuaca dingin pagi terasa menusuk di gedung serba putih itu. Lampu hijau bertuliskan UGD berkedip menyala. Seorang pemuda berwajah tirus pucat menjatuhkan dirinya pada kursi hijau yang ada di samping ruangan itu. Jantungnya berdebar kencang, ekspresi wajahnya menegang menggambarkan sebuah perasaan tak enak berbaur menjadi satu. Dengan gemas ia menangkupkan wajah ditangannya. Suara menggeram dan mengutuk mulai terdengar dari lisan pemuda cantik tersebut. Dialah Kim Jaejoong yang kini dirundung kecemasan akan efek kejadian hari ini.
Seorang perempuan paruh baya dan seorang kakek tua berjenggot berjalan menghampirinya. Dengan penuh kasih sayang Mrs. Kim memeluk anaknya yang tengah depresi itu. Pertama kali dalam hidupnya, ia melihat anaknya begitu rapuh dan tenggelam dalam kekalutan. Kejadian pagi ini adalah pemicunya. Seperti biasa pagi ini, pengikut dari keluarga Yakuza Kim memaksa untuk tetap membangunkan Tuan Muda Kim Jaejoong.
"Semuanya akan baik baik saja Jaejoong, berdoalah" Ucap Mrs. Kim, jemarinya lembut mengusap kepala anaknya yang tengah tertunduk.
"Kenapa? Kenapa salah satu dari kalian tidak ada yang mencegahnya?" Tanya Jaejoong sambil menahan nada suaranya agar tidak membentak kedua orang tua yang ada di hadapannya itu.
Kejadian pagi ini sungguh tidak begitu baik. Salah satu yang terparah mungkin. Fujiwara, seorang pemuda berumur 21 tahun bersikeras untuk menggantikan tugas ayahnya membangunkan Tuan Muda Kim Jaejoong. Keluarga ini memang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Kim, membantu keluarga Kim merupakan sebuah kehormatan bagi keluarga mereka. Namun, Fujiwara junior belum memiliki latihan fisik yang cukup untuk mengemban tugas ayahnya ini. Alhasil, tubuhnya tak kuat menahan segala pukulan yang dilontarkan Jaejoong selama ia tak sadarkan diri. Ketika Jaejoong membuka mata, pemuda itu tengah sekarat di genggamannya. Dengan panik Jaejoong menggotong tubuh pemuda itu ke mobil keluarganya dan disinilah Jaejoong terduduk bersama keluarganya yang beberapa detik kemudian menyusulnya disebuah rumah sakit tak jauh dari rumah mereka.
Tak ada yang dapat menjawab pertanyaan Jaejoong. Mrs. Kim memang sudah melarang semua pengikut keluarga Kim agar tidak mengintervensi anaknya ketika sedang tidur. Namun, mereka memang melakukannya dengan kesadaran sendiri, walaupun sudah dilarang, mereka akan tetap diam diam membangunkan Jaejoong agar semua anggota keluarga Kim bisa tetap sarapan bersama disetiap paginya.
"Sebaiknya kau bersiap-siap kesekolah" Kakek Jaejoong pun akhirnya angkat bicara.
Jaejoong memandangi kakeknya dengan pandangan tidak percaya, "Di keadaan seperti ini kakek masih memikirkan aku untuk kesekolah?! Apa kakek gila?! Aku penyebab kekacauan ini, aku bertanggung jawab atas ini semua, kek!"
"Sebagai seorang pewaris Klan-"
"Apakah di kepala kakek hanya tersisa tentang nasib Klan?! Aku muak kek! Aku tidak akan pernah mau menjadi penerus Klan busuk ini, dan sekali aku mengatakan tidak, selamanya akan TIDAK!"
Tak tahan mendengar omongan kakeknya, Jaejoong melangkah pergi menjauhi pria tua itu. Ia benar-benar tidak habis fikir, pendidikan memang hal yang penting baginya. Namun, hal itu tidak akan menjadikannya seorang pengecut untuk bertanggung jawab atas kejadian yang menimpanya pagi ini. Dengan gusar ia melangkahkan kaki ke mobilnya, dia butuh udara segar untuk menyegarkan fikirannya.
.
.
Saat ini pukul 8.30 pagi, matahari dengan gagah berdiri untuk membagikan vitamin K-nya dengan gratis. Semua orang tahu vitamin K baik untuk kesehatan, namun jika berlama-lama di tengah matahari bukanlah hal yang bagus. Awalnya mungkin akan terasa hangat, tapi lama kelamaan akan menjadi panas dan membuat kau tidak nyaman berdiri ditempat. Apalagi jika tempatnya itu adalah halaman depan sekolah SMA Tohou yang tidak tertutupi bangunan sama sekali. Tuan Muda Kim Jaejoong tengah menempuh detensinya karena telat pagi ini.
Setelah mengendarai mobil dari Rumah Sakit, Jaejoong memutuskan untuk pergi kesekolah. Ia berfikir bahwa jika ia tidak kesekolah mungkin pengorbanan anak paman itu akan menjadi sia-sia. Sebenarnya sih sudah sia-sia karena Jaejoong telat masuk sekolah dan kini tengah dihukum. Live report dari ibunya terus dilakukan dari rumah sakit, kondisi anak paman yang dipukulnya sudah stabil tapi belum menunjukkan tanda tanda kesembuhan.
Jaejoong menyeka bulir-bulir keringat yang ada di dahinya. Gumaman Wakasek kesiswaan terasa seperti dengung lebah baginya. Fikirannya tenggelam pada kejadian tadi pagi. Percakapan dengan kakeknya terus berulang dikepalanya bagaikan kaset kusut. Benar-benar tidak membantu. Ia tidak mau mengakui bahwa kakeknya menang dalam menyuruhnya untuk sekolah hari ini. Sekolah adalah salah satu bentuk apresiasi Jaejoong terhadap pengorbanan keluarga Fujiwara baginya. Jaejoong menghela nafas panjang. Hari ini sungguh panas, sampai ia pun tak menyadari rasa sakit perlahan menghinggapi kepalanya. Entah sudah berapa lama Jaejoong dijemur disana?
Suara bel jam 10 menyelamatkan Jaejoong dari deraan panas dunia. Segera ia berlari ke kelasnya untuk menetralisir badannya yang panas tidak karuan. Wajah Jaejoong yang dulu pucat kini merah padam, bibir semerah cherrynya tidaklah lagi ranum merah menggoda. Keringat bercucuran dari dahi sampai merembes ke baju bagian belakang Jaejoong, menimbulkan bercak basah dari punggungnya. Hukuman ini membuat paradigma Jaejoong akan terlambat berubah. Lebih baik tidak masuk sekolah sama sekali daripada terlambat.
.
.
JAEJOONG POV
Aku memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu terakhir pelajaran di ruang kesehatan. Praise the lord! Untung saja wajahku yang pucat ini berguna disaat seperti ini. Aku menghela nafas panjang dan mengganti posisi tidurku. Sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang kulakukan di tempat seperti ini, hanya saja aku sedang tidak mood untuk melakukan apapun.
Mencoba mengusir penat, aku pun membuka handphone untuk iseng membuka inbox yang hampir 75% isinya adalah teman dan keluargaku. Aku membuka ulang sms Junsu tadi pagi. Hari ini dia dan Yoochun tidak bisa berangkat kesekolah karena ingin meliburkan diri bersama. Kepalaku rasanya tiba-tiba pusing, aku memijatnya pelan, masih tidak habis fikir dengan alasan 'logis' yang diberikan Junsu dan Yoochun. Mereka tidak masuk sekolah karena bosan? Oh my God!
'Artemis'
Tanganku bergerak dengan sendirinya untuk tiba di sebuah nama kontak yang tersimpan di nomor handphoneku. Disaat seperti ini rasanya aku butuh seorang pasangan. Artemis teman chatting yang menemaniku selama 5 tahun ini. Sosok bijaksana dan menyenangkan itu satu satunya orang yang dapat membuatku lupa akan masalah yang menimpaku.
Menurut informasi dari salah satu search engine terpopuler di dunia. Artemis merupakan salah satu dewi dalam mitologi Yunani. Dewi perburuan ini merupakan titisan Zeus dan kembaran Apollo. Sebagai dewi perburuan ia sering digambarkan dengan membawa busur dan anak panah. Terkadang aku sering mengkhayalkan secantik apakah dia di dunia ini. Akankah aku terkena panah cintanya jika aku mengetahui pribadinya?
Aku mengerjapkan mataku agar segera kembali ke dunia, sejak kapan aku menjadi melankolis seperti ini? sadar Kim Jaejoong! Bagaimana kalau dia adalah seorang nenek-nenek sadomasochist yang merindukan belaian seorang perjaka seperti ku? Memikirkannya saja sudah membuatku merinding. Okay! Sudahi mengkhayalnya. Aku tidak akan menghubungi artemis apapun yang terjadi, terlalu banyak resiko.
Bel pulang sekolah berbunyi, membuyarkan aku dalam lamunan akan misteri seorang Artemis. Bangun dari ranjang pesakitan, aku melakukan peregangan sedikit agar otot-otot ini tidak terlalu tegang. Perasaanku mungkin sudah sedikit membaik. Dengan gontai aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan serba putih itu. Masih ada hal yang harus kulakukan dan hal itu adalah bertemu dan bekerja sama dengan si Bastard Jung Yunho.
END OF POV
.
.
Jaejoong telah mengambil tasnya dan mendapati Yunho telah raib dari kursi yang biasa ia singgahi. Ia pun memutuskan untuk langsung ke ruang kesenian, mungkin saja Yunho sudah ada disana fikirnya. Sesampainya diruang kesenian, Jaejoong disambut dengan bau debu ruang kesenian yang biasa. Semuanya tampak lengang dan damai kecuali satu figur yang tengah terduduk disamping piano. Dengan kaki terlipat dan tangan terdekap didepan dadanya, Mrs. Kang Hee memberikan pandangan yang sanggup membuat Jaejoong menyesal membuka pintu ruang kesenian beberapa menit lalu.
Jaejoong menghela nafas sebelum kemudian ia memberanikan dirinya untuk melangkah lebih jauh lagi dari pintu ruang kesenian. Mrs. Kang Hee berdiri untuk menyambut kedatangan Jaejoong.
"Dimana Yunho?" Tanya Mrs Kang Hee. Jaejoong menggeleng, ia juga tidak tahu menahu kemana si brengsek di saat situasi seperti ini. Benar benar memperkeruh suasana, fikir Jaejoong.
"Apa kau tahu para ilmuwan sudah menemukan sebuah teknologi pelacak manusia?" Nada Mrs. Kang Hee mulai sarkastik, "Handphone,"
Yunho kan anak baru, mana Jaejoong tahu nomor handphonenya. Yunho sendiri tidak pernah mengiriminya sebuah pesan untuk menanyakan hal yang tidak perlu yang biasa ia tanyakan ketika bersama Jaejoong. Jika sudah begini kejadiannya, peraturan feodal untuk guru akan berlaku. 'Pasal 1 guru selalu benar, Pasal 2 Jika guru salah kembali ke Pasal 1',semua argumen akan sia-sia dan perlawanan hanya akan menyulut api untuk membakar bensin.
"Sekarang tunjukkan padaku apa saja yang sudah kalian diskusikan selama ini"
Jaejoong mencoba memalingkan wajahnya dari Mrs Hee. Bingung menghinggapi kepalanya yang tertutup rambut hitam pendek itu. Mrs Hee mulai memandangi Jaejoong dengan curiga. Jaejoong memang sudah mendiskusikannya dengan Yunho, memang. Namun, Tuhan masih belum mengizinkan ide lewat didepan mata mereka. Lalu, apa boleh buat? Jujur bukanlah hal yang tepat.
Mrs Hee mencium gelagat aneh Jaejoong, jari jarinya yang lentik kini berpindah memijit pelan kepalanya yang mulai berdenyut nyeri. "Lihat dirimu! Muda, sehat, memiliki ambisi yang tinggi! Kenapa orang orang muda seperti kalian malah suka memubazirkan waktu yang ada?! Mau tunggu tua dulu baru sadar?! Hmm?!"
Jaejoong semakin merunduk dalam diam, tertohok kata-kata Mrs. Hee. Dengan decakan pelan, Mrs Hee berdiri dari kursinya kini tangan kirinya menempel di pinggang diiringi dengan telunjuk tangan kanan yang mulai mengacung kepada Jaejoong. "Mulai BESOK saya akan mengawasi latihan KALIAN, jika KALIAN tidak menghasilkan APAPUN yang membuat saya puas, maka jangan berharap ada kata LULUS dalam ijazah KALIAN BERDUA, mengerti?!"
Jaejoong memandang Mrs Hee dengan wajah tidak percaya. "Tidak ada sanggahan saya rasa cukup" dengan berakhirnya kata penutupan Mrs Hee melangkahkan kakinya keluar dari ruang kesenian tersebut, meninggalkan Jaejoong dengan sejuta sanggahan yang ingin sekali ia lontarkan.
'Benar-benar apes' Batin Jaejoong sambil berjalan gontai ke arah kursi yang beberapa saat lalu diduduki oleh Mrs. Hee. Hal itu bukanlah ancaman belaka, ia tahu watak Mrs Hee dengan baik. Dunia memang terkadang tidak adil, dengan satu nilai pelajaran yang tidak lulus maka akan menghancurkan kehidupan sekolah Jaejoong selama tiga tahun dalam beberapa saat. Kiamat benar-benar sudah dekat.
Jaejoong menoleh ke arah pintu ruang kesenian yang masih menjeblak terbuka. Dadanya sesak mengingat perkataan Mrs Hee yang masih berdenging di telinganya. Jaejoong membenamkan wajahnya ke telapak tangannya yang sedang nganggur, dengan gemas ditariknya rambut pendek hitam itu untuk mengurangi rasa pusing yang datang melanda. Dia butuh istirahat, kejadian hari ini benar-benar terjadi diluar nalarnya.
.
.
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Seperti gadis yang baru mengenal cinta pertamanya, semburat kemerahan menghiasi wajah langit sore pada kala itu. Beberapa bintang sudah menampakkan kilaunya dalam temaram malam yang mulai mengikis turun. Beberapa pulang beranjak pulang ke peraduan. Namun hal itu tidak berpengaruh sama sekali dengan pemuda yang kini tengah membuka ruang kesenian.
Yunho, pemuda itu menyadari bahwa ia tak sendirian dalam ruangan itu. Sosok Jaejoong menunggunya didepan piano. Wajahnya terbenam penuh dalam punggung tangannya. Nafasnya yang teratur menandakan ia tengah tertidur nyenyak sekarang. Yunho menghampiri sosok Jaejoong yang tengah terlelap.
Jemari Jaejoong memegang sesuatu kertas yang bertuliskan huruf kapital serta tiga tanda seru.
"DEMI APAPUN, JANGAN BANGUNKAN AKU!"
Yunho menahan tawanya, baru kali ini dia melihat seseorang yang begitu antusias untuk menginap disekolah dengan seragam yang masih lengkap. Hari semakin sore, Jaejoong pun tidak bisa ditinggalkan diruangan besar ini sendirian. Yunho menggeleng pelan dan menggoyangkan bahu Jaejoong.
"Jae-" Tak sempat meneruskan omongannya Jaejoong sudah terbangun.
"Kau mau menginap disini?" Ucapan Yunho terhenti, ada yang aneh dengan gelagat Jaejoong. Tangan kiri Yunho yang tadi digunakannya untuk membangunkan Jaejoong masih digenggam erat oleh pemuda cantik itu.
"Jaejoongie?" Yunho mencoba melambaikan tangan kanannya didepan wajah Jaejoong. Dengan gerakan cepat Jaejoong memelintir tangan kiri Yunho kebelakang, kemudian menendang bokongnya. Tak pelak Yunho jatuh tersungkur.
Hal yang paling ditakutkan Yunho terjadi, JAEJOONG KESURUPAN. Tertidur dalam keadaan ruangan kelas yang kosong bukanlah hal yang baik, arwah gentayangan bisa saja masuk kedalam tubuh manusia. Yunho menggeleng lemah, kemudian membalikkan badannya untuk bertemu Jaejoong yang kini tengah menindih badannya dengan lututnya. Tangannya kemudian menggamit kerah seragam Yunho yang kini kancingnya sudah terjatuh entah kemana.
Yunho memperhatikan ekspresi Jaejoong yang kosong. "JAE!" Panggil Yunho berusaha menyadarkan Jaejoong dengan segenap keberaniannya. Yunho tidak suka berhadapan dengan hal klenik. Ini adalah kali pertamanya ia melihat orang kerasukan. Jaejoong menggeram kemudian melayangkan tinjunya pada Yunho.
Tipis. Ujung bibir Yunho tergores sebelum ia sempat menghindarinya. Jika saja tinju Jaejoong melayang ke pelipisnya tadi, dijamin gigi Yunho pasti akan ada 2 atau 3 yang copot. Yunho menggunakan kedua tangannya untuk memegangi bahu Jaejoong dan menggoyangkannya dengan kasar, tidak ada Yunho yang bermanis-manis untuk makhluk ini. "JAE! YAH KIM JAEJOONG SADAR LAH!"
Jaejoong mendorongnya mundur, tersirat perasaan terluka dalam ekspresi wajahnya yang kosong. Yunho yang menyadari hal itu terdiam sejenak. Fikirannya campur aduk sekarang. Praduga baru muncul dalam fikirannya. Mata Jaejoong mulai menutup dan tubuhnya mulai lunglai. Sebelum Jaejoong terbangun dengan shocking terapy karena kepalanya terbentur lantai, Yunho menangkapnya. Membenamkan tubuh pria kurus itu dalam dekapannya. Nafas Jaejoong mulai teratur lagi.
Yunho masih tak percaya dengan keadaan yang baru saja menimpanya. Ujung bibirnya masih berdesing nyeri. Yunho mencoba memegang luka pada bibirnya tadi, terlihat bercak darah mewarnai ujung jarinya. Apakah ini maksud dari notes yang ditulis Jaejoong tadi?
Sosok Jaejoong mulai gusar dalam pelukan Yunho. Dengan perlahan Jaejoong membuka matanya untuk keluar dari tidur sore-yang-menyenangkan dan mendapati dirinya tengah dipeluk. Kesadaran Jaejoong kembali seutuhnya. Ia segera menjauhi sosok yang memeluknya itu kemudian memeriksa pakaian dan celananya yang masih utuh. Tersirat perasaan lega menyelimuti hatinya, ia hanya tertidur.
Jaejoong menoleh untuk mendapati Yunho yang kemudian berdiri untuk mengambil tasnya. Sebuah luka menghiasi wajah Yunho. Darah segar masih menghiasi luka lebam di ujung bibirnya itu. Nampaknya itu luka baru, Jaejoong terkesiap "Yunho.."
Nah! ENG ING ENG!
Terima kasih atas sambutannya yg positif untuk membaca cerita nubi yang satu ini ya *big hug*
Masih ada lanjutannya kok, kemungkinan sih panjang (?)
Maaf untuk lama update, keadaan tugas semester ganjil yang tidak memungkinkan untuk update setiap hari *deepbow*
Sekali lagi buat Faskan, Vivi, Twink, Chan, JungJaema dan semua other guest terima kasih sudah mampir :3
