-Flashback-

Jaejoong menoleh untuk mendapati Yunho yang kemudian berdiri untuk mengambil tasnya. Sebuah luka menghiasi wajah Yunho. Darah segar masih menghiasi luka lebam di ujung bibirnya itu. Nampaknya itu luka baru, Jaejoong terkesiap "Yunho.." Panggilnya.

X-Change

By : shinsungrin

Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC

Genre : Romance

Terinspirasi dari sebuah komik "W Change" karya Matsuba Hiro


Inilah akhirnya, akhir dari semua rahasia yang sedari dulu Jaejoong tutup tutupi. Yunho akan tahu bahwa dia bukanlah remaja yang normal. Ia akan tahu bahwa Jaejoong adalah titisan dari buyutnya yang berdarah dingin pembantai manusia. Yunho akan berhenti berteman dengannya. Ia akan.. menjauhinya

Yunho memandang Jaejoong yang kini tengah tertunduk dengan wajah gusar. Ia menepuk bahu Jaejoong, "Kau tidak mau tidur lagi kan?" Ucap Yunho, tangannya menggosok punggungnya yang tiba-tiba terasa gatal. Jaejoong berdiri dengan kikuk, kemudian mengambil tasnya yang dari tadi sudah jatuh dari kursi tempat ia tidur.

Jaejoong dan Yunho sudah meninggalkan bangunan sekolah, namun tak ada kata yang terucap dari lisan mereka berdua. Yunho akhirnya bersiul untuk mengatasi kecanggungan yang kini telah berlangsung. Jaejoong menghentikan langkahnya, membuat Yunho yang tengah bersiul menghentikan siulannya untuk menoleh memandangi pemuda cantik dibelakangnya.

"Kau pasti mengacuhkan notes ku" Ucap Jaejoong tiba-tiba

"Maaf deh, kau sebegitu inginnya menginap disekolah ya? Hehe" Ucap Yunho meledek.

Jaejoong yang jengah dengan ke'cengar-cengiran'annya Yunho akhirnya menggenggam kerah baju seragam milik Yunho. "Kau tidak tahu sedang bermain dengan apa Yunho, kau sudah bosan hidup?" Jaejoong menggoyangkan kerah baju Yunho kemudian melepaskannya dari genggaman. Yunho merapikan kerah bajunya agar nyaman kembali.

"Kalau begitu ceritakan, apa yang tidak ku ketahui Jae"

Jaejoong tidak bergeming. Kenapa? Sebelumnya tidak ada yang tahu kebiasaan buruk milik Jaejoong. Haruskah ia mengakui bahwa telah hidup pribadi lain dalam dirinya. Pribadi yang hanya terbangun ketika seorang Jaejoong tidak sadarkan diri. Yunho hanyalah orang asing yang baru beberapa minggu menjejakkan kaki di sekolah ini.

"Kau tidak akan percaya"

"Jika kau memang tidak ingin menceritakannya, sebaiknya jangan" Ucap Yunho pergi meninggalkan Jaejoong dibelakangnya. Jaejoong mengikutinya dari belakang.

Haruskah Jaejoong memberitahukannya? Amankah rahasia Jaejoong ini bersama anak baru yang hanya dikenalnya selama 2 minggu itu? Jaejoong menggelengkan kepalanya. Otaknya memang sudah hampir pecah untuk menyimpan rahasia ini terlalu lama. Jika memang Yunho ingin mengetahuinya, biarlah dia tahu. Lalu bagaimana sikapnya setelah ini? Akankah ia menjauhi Jaejoong karena sebuah label negatif dari seorang Yakuza? Siapkah Jaejoong untuk menerima kemungkinan bahwa seluruh sekolah tahu bahwa ia adalah Yakuza?

"Aku seorang Yakuza, Yunho"

Jaejoong akhirnya memutuskan untuk buka mulut. Ia tidak peduli dengan efek yang akan ditimbulkan oleh kata-kata itu nanti. Kalau Yunho memang temannya, ia tidak akan membocorkan rahasia ini. Jaejoong percaya itu. Namun, apakah Yunho dapat dipercaya? 50:50.

Yunho menghentikan langkahnya, Jaejoong yang dibelakangnya menyusul. Kini mereka berdua berjalan beriringan. Jaejoong pun meneruskan ceritanya.

"Mungkin ini memang terdengar konyol,"

"Kau tidak konyol, banyak hal yang tidak perlu diketahui Jaejoong" Ucap Yunho tersenyum.

Jaejoong mengangguk, "Kakek bilang, aku punya bakat untuk bertarung dan me-"

"Membunuh?" Sambung Yunho. Jaejoong menjengit, dia tidak suka kekerasan. Hidupnya terlalu damai untuk berbagi waktu dengan adu jotos. Lagipula, jika di zaman modern ini kekuatan bukanlah segalanya, yang penting itu strategi.

"Kakek bilang aku harus menjadi ketua klan selanjutnya" Jaejoong menunduk

Yunho mengerutkan alisnya sambil memandang kepala Jaejoong yang bergerak malas. Berharap hipotesisnya akan jawaban Jaejoong benar. "Aku tidak mau" Lanjut Jaejoong.

Yunho tersenyum dan meninju pelan bahu Jaejoong. "Aku salut pada keteguhanmu, aku jadi semakin menyukaimu"

Jaejoong mengerjapkan matanya tidak percaya, semburat merah menghiasi pipinya yang samar samar terlihat dalam naungan lampu jalan yang remang. "apakah ini sebuah pernyataan?" Batin Jaejoong sambil menggeser tubuhnya perlahan menjauhi Yunho.

Yunho yang merasa ada keanehan dalam bicaranya menyadari hal itu. Dengan panik tangan dan kepalanya sontak menggeleng, "A-anu.. Jangan salah paham.. Maksudku aku bangga dengan keteguhanmu dalam bersikap.. Sungguh"

Yunho berdeham, "Ehm.. Jaejoong-ah, tentang tadi kau menyerangku, kenapa tiba-tiba?"

Jaejoong mendekap bahunya yang terkena hembusan angin malam. Terasa sedikit dingin, "Mungkin itu aku yang lain.."

Melihat reaksi Jaejoong yang mendekap tubuhnya, Yunho segera melepaskan jaketnya kemudian menyampirkannya di bahu Jaejoong. Sebuah tindakan yang reflek bagi Yunho. Mata mereka pun bertemu, "Ada pribadi lain dalam diriku, Yunho" Lanjut Jaejoong. Matanya dan mata Yunho bertemu.

"Aku.. membencinya" Ucap Jaejoong memutuskan kontak mata dengan lanjut berjalan. Ada sesuatu dari mata Yunho yang membuatnya tak enak berlama-lama menatapnya. Mata cokelat lelaki yang dibelakangnya itu memancarkan aura intimidasi yang kuat. Memutuskan kontak mata merupakan sebuah tindakan preventif sebelum ia mencurahkan semua yang ada dalam hatinya. Jaejoong tak akan membiarkan dirinya terhipnotis dengan mata musang itu.

"Janganlah berfikir dari satu sudut pandang saja Jaejoong.." Ucap Yunho

"Mungkin, disatu sisi bakatmu memang membahayakan dan malah merugikan bagi orang lain" Yunho berhenti dan menatap Jaejoong, Jaejoong pun berhenti untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Yunho kelak. "Namun, disisi lain, bakatmu itu adalah sebuah anugerah yang dapat melindungimu bahkan melindungi orang-orang disekitarmu.. Seperti Yin dan Yang, kehidupan memiliki dua sisi, baik dan buruk. Dari sana kau akan lebih menerima adanya perbedaan dan itu bukanlah sebuah masalah, hanya sisi lain hidup yang perlu dihargai"

Terenyuh, mungkin itu kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan Jaejoong saat ini. Darimana datangnya semua kata-kata itu, apakah Yunho menyusunnya sendiri? Apa ia mengutip sebuah buku yang pernah Jaejoong baca? Jaejoong tersenyum, ia meninju dada bidang Yunho yang ada didepannya. Akhirnya, setelah penantian panjang, seorang Kim Jaejoong memiliki seorang teman bukan dari 'kaum'nya. Teman yang akan menerimanya dengan segala kekurangan dan kelebihan. Teman yang tidak membedakan ras dan gender. Tak peduli maupun kaya ataupun miskin. Kesabarannya berbuah. Kehidupan SMAnya baru akan dimulai setelah ini.

"Terima kasih, Yunho"

Yunho tersenyum, menampilkan sederetan gigi putih rapi yang ada didalamnya. Jaejoong membalas senyumnya, tak lama senyum di wajah Jaejoong memudar. Alisnya berkerut, Yunho menatap Jaejoong bingung. Apakah ini pertanda Jaejoong yang satunya lagi keluar?

"YAH! KEMANA SAJA KAU TADI? DASAR TUKANG BIKIN ULAH! KAU TAK TAHU MRS HEE MENGOMELI KU?!" Jaejoong memukul kepala Yunho dengan tangannya, namun Yunho berhasil melindunginya dengan bahunya. Jaejoong masih melotot ke arahnya. Yunho memandanginya dengan bingung, masih tidak mengerti dengan kejadian yang begitu cepat. Tak lama kemudian ia tertawa. Sisa perjalanan pun di isi oleh permintaan maaf Yunho dan omelan panjang Jaejoong.

.

.

Ruang kesenian tampak begitu hening selepas sekolah. Tak ada alat-alat musik yang berbunyi kecuali langkah kaki Jaejoong yang kini tengah mengitari piano. Mencari sebuah inspirasi untuk mendapatkan lagu yang tepat demi festival sekolah nanti. Lagipula sudah menjadi kewajibannya menampilkan yang terbaik di tahun terakhirnya.

Jaejoong kini menghenyakkan dirinya di kursi depan piano. Tangannya iseng menekan toots-toots piano. Menimbulkan denting yang masih belum menjadi sebuah nada. Jaejoong melirik partitur yang ada di depannya. Timbulah keisengan seorang Kim Jaejoong. Lagu-lagu yang ada di partitur itu tampak seperti baru dikenalnya. Seringkali jemarinya salah menekan notasi yang seharusnya, sehingga ia harus mengulang kembali dari awal.

"Kau salah menekannya, harusnya disini"

Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar disebelah kanan telinganya. Melihat wajah Yunho yang begitu dekat dengan wajahnya, seketika membuatnya diam ditempat.

"Jae-ah? Apa aku menakutimu?" Tanya Yunho yang melihat Jaejoong yang masih terdiam tanpa berusaha melanjutkan lagu yang tengah ia mainkan.

"Ah.. tidak" Akhirnya fikirannya kembali ke tempat asalnya. "Ehm.. Yunho, bisakah kau memainkannya sekali lagi?" Tanya Jaejoong bingung kenapa malah pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya.

Sebuah senyuman mengembang dari wajah Yunho yang tampak bersinar kala itu. Apakah hanya mata Jaejoong saja yang melihatnya bersinar? Jaejoong mengerjap, aku pasti salah makan tadi pagi. "Kemarikan tanganmu Jaejoong-ah"

Jaejoong menatap Yunho dengan pandangan tidak percaya. Yunho pun mengambil langkah cepat untuk menggamit tangan kanan Jaejoong yang masih bebas. Menggenggamnya serta mengarahkan untuk menyentuh not-not yang tepat. Posisi Yunho yang berada dibelakang Jaejoong, membuat dada bidang Yunho menyentuh punggung Jaejoong yang ada didepannya. Hembusan nafas Yunho kadang menyapu tengkuk Jaejoong membuat pria cantik didepannya merinding disko. Untunglah tak ada orang kurang kerjaan yang masuk ruang kesenian jam segini. Kalau ada, Jaejoong bisa pingsan dengan mata terbuka saking malunya. Ia memalingkan wajahnya yang menghangat agar Yunho tak bisa melihatnya gugup.

"Coba mainkan lagu itu lagi untukku Jaejoong-ah" Bisik Yunho tepat ditelinga Jaejoong, membuat jantung pemuda kurus didepannya hampir berhenti.

Jaejoong memainkan lagu itu kembali. Entah kenapa sekarang tangannya sudah terbiasa akan irama lagu yang berirama sendu itu. Nadanya sarat akan sebuah kerinduan yang mendalam. Tenang, namun sarat akan cinta. Membuatnya menjadi sangat manis untuk didengar. Jaejoong tengah menghayati lagu yang ia mainkan ketika Yunho mulai melingkarkan kedua lengannya yang kekar di pinggang Jaejoong yang ramping. Hembusan nafas Yunho di tengkuk Jaejoong pun makin terasa karena pemuda itu tengah menciumi lehernya.

"Please go out with me, Kim Jaejoong"

.

.

Jaejoong membuka matanya untuk menemui dirinya tengah dipandangi oleh tiga paman yang biasa membangunkannya ketika pagi. Hal ini pasti salah, jangan jangan Jaejoong pingsan sampe pagi gara-gara pernyataan Yunho tiba-tiba.

"Tuan Muda Kim? Anda sudah bangun?" Tanya paman Ishida memastikan. Jaejoong mendudukan dirinya di tempat tidur.

"Jam berapa sekarang?" Tanyanya maish terengah, jantung dan otaknya terasa belum bekerja sama dengan baik. Nafasnya masih bergerak tak beraturan.

"06.00 pagi..?" Ucap paman Lee melongok jam silver ditangannya.

Jaejoong menghembuskan nafas lega. Cuma mimpi. Namun terasa begitu nyata. Jantungnya masih berdebar tak karuan. Jaejoong menangkupkan wajahnya kedalam telapak tangannya sambil menggeram frustasi. Dari sekian banyaknya wanita di dunia ini, Kenapa harus dia sih? Rutuk Jaejoong dalam hati.

Ketiga paman masih memandangi Jaejoong dengan pandangan bingung, Jaejoong merasa dirinya sedang diawasi oleh ketiga pamannya itu. "Paman kenapa?" Tanyanya polos.

"Tumben" Ucap Paman Ishida tersenyum. Seperti virus yang menular, kedua pamannya yang lain ikutan nyengir kuda.

"Tumben apaan lagi?" Bisik Jaejoong tidak mengerti tentang situasi yang tengah terjadi diantaranya dan ketiga pamannya itu.

"Biasanya kami sudah memar karena membangunkan Tuan Muda," Paman Lee memperjelas kalimat menggantung yang diucapkan paman Ishida.

Mata Jaejoong membulat, senyuman lebar menghiasi bibirnya sebelum digantikan oleh tawa puas yang terlontar dari lisan Jaejoong. Ia merangkul ketiga pamannya, mereka pun tertawa bersama. Akhirnya, pagi yang ditunggu Tuan Muda Kim untuk dapat bangun dengan normal datang. Mimpi Yunho pun terlupakan seiring euforia bangun dengan normal Jaejoong memenuhi hati dan fikirannya.

.

.

.

-TBC-

Eaa.. bersumbang :D hahaha

Gimana? Gimana?

-Reply-

Akiramia : maaf belum bisa mewujudkan requestmu T_T maaci udah review {}

Kim Ana : Maaci

Thanks To :

All guest yang baca cerita ini *big hug*

Maaf ya kalo suka typo typo, maklum penyakit :p hehehe

Gomawo :D