-Flashback
Mata Jaejoong membulat, senyuman lebar menghiasi bibirnya sebelum digantikan oleh tawa puas yang terlontar dari lisan Jaejoong. Ia merangkul ketiga pamannya, mereka pun tertawa bersama. Akhirnya, pagi yang ditunggu Tuan Muda Kim untuk dapat bangun dengan normal datang. Mimpi Yunho pun terlupakan seiring euforia bangun dengan normal Jaejoong memenuhi hati dan fikirannya.
X-Change
By : shinsungrin
Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC
Genre : Romance
Terinspirasi dari sebuah komik "W Change" karya Matsuba Hiro
Bisa di bilang ini adalah hari paling bahagia yang tengah di jalani Jaejoong. Senyuman yang daritadi pagi ada di wajahnya, belum juga menghilang. Beberapa teman yang jarang sekali melihat Jaejoong tersenyum pun menjadi heran ada apa dengan Jaejoong hari ini? begitu juga Yunho. Keadaan Jaejoong hari ini benar-benar kontradiktif dengan keadaannya sehari yang lalu.
Jaejoong tengah membereskan buku latihan anak-anak kelas untuk dibawa ke ruang guru. Sebenarnya itu tugas ketua kelas, namun karena mood Jaejoong sedang oke yasudahlah yaa. Yunho yang tak ada kerjaan pun menghampiri Jaejoong.
"Siang Yunho-ah.." Sapa Jaejoong
Sapaan yang sedikit langka di telinga Yunho, pemuda bermata musang menatap pria cantik di hadapannya dengan pandangan yang tidak yakin. "Senang sekali" Ledek Yunho sambil nyengir. Jaejoong tidak berusaha untuk menggubris ledekan Yunho, maklum gembira berlebihan.
Mereka berdua pun membawakan buku latihan itu bersama-sama. Jelas sekali bahwa Jaejoong tengah menikmati kehidupannya. Ia lebih senang bersenandung daripada menggubris Yunho yang jelas-jelas berjalan beriringan dengannya.
"Jaejoongie~"
Jaejoong hanya ber-'hmm' manis menanggapi panggilan Yunho. Kini Yunho benar-benar merasa ada yang tidak beres dengan lelaki yang satu ini. Biasanya Jaejoong sangat tidak suka di panggil aneh aneh oleh Yunho. Entah terbentur dimana kepala Jaejoong?
"Kau terbentur ya?"
Jaejoong menghentikan senandungnya dan menoleh clueless kepada Yunho.
"Biasanya kau akan berkata 'aku tidak punya waktu untuk melayani kebodohanmu, Jung!' dengan ekspresi seperti ini" Yunho memperagakan gaya Jaejoong yang terganggu dengan jahilannya.
Jaejoong sontak tertawa melihat ekspresi berlebihan yang dibuat Yunho, "Oh ya? Seperti itu ya?"
"So.. sebenarnya apa yang terjadi? Kau punya pacar baru ya?" ledek Yunho
"Sembarangan!"
Yunho dan Jaejoong tiba diruang guru kemudian menaruh buku latihan anak kelas di meja Mr. Jong. Mereka pun keluar dari ruang guru. Jaejoong berniat untuk membeli sedikit makanan di kantin.
"So.. Mind to share with me?"
"Apa?" tanya Jaejoong meledek.
"Ah, kau ini.." Sungut Yunho. Jaejoong tergelak melihat untuk pertama kali Yunho yang terganggu dengannya. Entah kenapa keadaan menjadi sangat terbalik.
"Oke oke.. aku sedang senang.." senyuman masih menghiasi wajah Jaejoong. Yunho hanya mengangguk, orang bodoh juga tau Jaejoong sedang senang.
"Untuk pertama kalinya hari ini aku bangun tidur dengan normal" lanjut Jaejoong "Tak perlu ada darah setiap aku bangun tidur, keadaan selalu akan menjadi lebih baik kan?"
Yunho membalas senyuman Jaejoong. Pria cantik itu terlihat telah kehilangan bebannya, seluruh tubuhnya dipenuhi aura cerah yang membuat siapa pun yang membuatnya ikut gembira. Begitu juga Yunho, tanpa disadari pria yang berjalan disampingnya ini berubah begitu cepat. Kim Jaejoong yang ia kenal sekarang, bukanlah Kim Jaejoong yang ia kenal dulu. Begitu banyak perubahan, dan semuanya baik. "Ya.. keadaan akan selalu menjadi lebih baik" gumam Yunho sambil mengacak-acak rambut Jaejoong lembut.
Mimpi aneh yang dialami Jaejoong pagi tadi seolah kembali bermain di fikirannya. Entah kenapa badannya jadi sedikit sensitif pada sentuhan Yunho di kepalanya. Jaejoong menunduk, berusaha menurunkan suhu badannya yang perlahan naik dan berkonsentrasi di kedua buah pipinya.
"Ehm.. Yunho" Panggil Jaejoong dengan suara pelan dan ragu.
"Ya?" Yunho memandangi Jaejoong yang nampak ingin mengatakan sesuatu. Keraguan menghiasi seluruh wajahnya.
"Terima kasih, sudah menjadi temanku" ucap Jaejoong menggosok-gosok leher belakangnya. Berharap tidak ada kiasan aneh yang muncul dari kata-katanya tadi.
Yunho tersenyum dan tiba-tiba merangkul pundak Jaejoong, "Oke! Berarti hari ini kau yang traktir!"
Jaejoong tersenyum kecil sebelum menyikut rusuk Yunho yang tengah merangkulnya. Pembicaraan pun dihiasi dengan sebuah kata 'YAH!' dan gelakan tawa dari dua orang pemuda yang baru saja menemui arti dari perkenalannya beberapa minggu yang lalu.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 14.30 siang, ketika Jaejoong memasuki ruang kesenian yang masih kosong melompong itu. Pemuda itu menghela nafas berat, partner anehnya seringkali telat datang akhir-akhir ini. Jaejoong duduk menyandarkan diri di samping piano, kemudian ia melihat ruang kesenian dengan seksama dan menyadari bahwa ruangan itu terlalu besar untuknya seorang diri. Beberapa menit disana sudah membuat Jaejoong bosan, ia mulai bersiul dan berjalan mengelilingi ruang kesenian itu. Tiba didepan piano, masih bersiul Jaejoong memperhatikan partitur yang terbuka pada piano itu. Lantaran iseng, ia membaca partitur itu sambil memainkan jemarinya diatas piano. Beberapa dentingan nada mulai terdengar. Jaejoong merasa pernah mendengar nada asal yang barusan ia mainkan. Perlahan ia mulai mengatur ritme nadanya menjadi sebuah nada yang sangat familiar ditelinganya.
Please go out with me,-
Jaejoong berhenti bermain, seketika wajahnya merah padam. Beberapa ingatan tentang mimpi tadi pagi berputar dikepalanya. Kehangatan tubuh Yunho masih bisa ia rasakan di punggungnya, membuat jantungnya berdetak tak karuan. De Javu, itu yang sedang Jaejoong rasakan. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan Yunho benar-benar tak bersamanya dalam satu ruangan. Jaejoong menghela nafas lega. Jantungnya masih berdegup kencang, serasa tak siap untuk menemui Yunho sekarang.
"Mungkin latihan hari ini libur dulu, mumpung orang itu terlambat" batin Jaejoong
"Kenapa berhenti?"
Sebuah suara familiar datang dari arah pintu ruang kesenian. Jaejoong dengan segan menoleh untuk melihat si empunya suara dan TARAA! Yunho tengah berjalan masuk menghampirinya.
"Y-Yunho" ucap Jaejoong tak tau mau bicara apa.
Yunho berhenti didepan piano, menyandarkan punggung bawahnya pada bagian piano. Jaejoong seperti menancap dibangku tempat ia berada, tubuhnya pernah merasakan hal ini sebelumnya. Perasaan de javu. Beberapa potongan memori mimpi tadi malam, berkelebat liar difikirannya. Membuat ruangan yang cukup luas itu menjadi terasa sesak untuk ditinggali oleh dua orang.
"Jaejoongie"
Jaejoong berusaha mengusir ingatan-ingatan liar yang tengah mempengaruhi tubuh, hati dan fikirannya. Mencoba melihat keadaan yang kini ia hadapi menjadi suatu kenyataan yang normal adalah hal sulit. Ia menjadi salah tingkah, semua kata-kata makian yang ingin ia lontarkan karena keterlambatan Yunho hilang entah kemana. Suara Yunho yang memanggil namanya masih berdengung jelas ditelinga membuat jantungnya berdegup tak karuan dan wajah merah padam yang tidak dapat disembunyikan.
"a-ah Yunho b-begini.."
"May I Love You"
"a-apa?"
Yunho menoleh ke arah Jaejoong, mata mereka bertemu. "May I Love You" Ucap Yunho lagi.
Pandangan mata dan kata-kata Yunho yang begitu tiba-tiba membuat Jaejoong lemah jantung. Jaejoong harus melakukan sesuatu, hal ini tidak benar. Memang Yunho beberapa hari ini selalu menemaninya, mendengarkan semua kelu kesahnya. Hanya dengan bersama Yunho, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Yunho yang mengajarinya bahwa perbedaan bukanlah sebuah alasan untuk tidak dapat saling menghormati dan memahami. Sampai detik ini, ia masih mengagumi sifat Yunho. Tapi apakah hanya sebatas kagum?
Jaejoong memainkan jarinya. Situasinya amat rumit, menyatakan perasaan adalah hal yang sulit, butuh keberanian lebih untuk dapat memulainya. Laki-laki didepannya ini harus diakui keberaniannya, mengatakan perasaannya dengan santai dan dengan enaknya memunggungi lawan bicara yang baru saja di 'tembak'nya. Akankah baik jika Jaejoong menolak ini semua? Bagaimana jika ia diposisi Yunho sekarang?
"Y-Yunho"
"Aku kagum padamu Jaejoongie,"
"Yunho aku-" ingatanmu tajam juga ya, itu kan lagu lama" Entah kenapa suara Jaejoong saat itu terintimidasi. Sebentar.. lagu?
"eh? Lagu?" Tanya Jaejoong
"Iya.. May I Love You, kau mau nyanyi lagu itu nanti pas festival?"
"Oh iya maksudku lagu! hahaha" Jaejoong tertawa garing. Jadi, selama ini Yunho hanya membicarakan judul lagu. Kedua kaki Jaejoong masih terasa lemas setelah melewati 'masa kritis'. Perasaan lega mewarnai hatinya. Entah lega atau sedikit kecewa ?
Yunho memandanginya dengan alis berkerut, "Kau yakin memilih lagu itu?"
Jaejoong balas memandang Yunho dengan polos, "Lagu apa ya?"
Yunho menghela nafas, "Ah kau ini!"
-TBC-
Pendek gak? hehehe
besok aku coba upload yang agak panjangan deh :3
oh iya mian baru bisa lanjut lagi setelah menghilang sekian lama hehehe
niatnya mau update cerita ini 2 bulan sekali, tapi entah kenapa semester ini tugas luar biasa banyak jadi gak sempet upload deh -_-' maap yaw
maafkan akan segala ke-typo-an -_-'
maaciw sama reader yang sub sama sabar nunggu cerita ini
sayang kaliaaaaaan *hug*
