-flashback-

"a-ah Yunho b-begini.."

"May I Love You"

"a-apa?"

Yunho menoleh ke arah Jaejoong, mata mereka bertemu. "May I Love You" Ucap Yunho lagi.

X-Change

By : shinsungrin

Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC

Genre : Romance

Terinspirasi dari sebuah komik "W Change" karya Matsuba Hiro


Jaejoong POV

Dua bulan belakangan ini sepertinya energiku terkuras untuk mengerjakan hal yang tidak sesuai dengan keinginanku. Sebagai anak yang baru berumur belasan tahun sepertiku ini, wajar jika ingin menghambur-hamburkan waktu untuk memuaskan diriku sendiri. Namun, disinilah aku, terjebak dalam ruang yang dikelilingi teman-teman sebaya yang entah tengah memperjuangkan apa?

Beberapa minggu lalu, festival sekolah berjalan dengan baik. Penampilanku dan Yunho juga tidak mengecewakan, yah mudah-mudahan hal itu sebanding dengan nilai yang diberikan nanti. Tinggal menunggu waktu ujian tertulis sebagai syarat kelulusanku nanti. Untuk saat ini bisa dibilang aku senggang. Setidaknya aku bisa menyalakan laptopku dan terhubung internet dengan nyaman.

Artemis.. aku datang..~

Berbicara soal Artemis, aku masih belum memiliki keberanian untuk menelpon nomor keramat itu. Seperti yang kubilang sebelumnya, terlalu banyak resiko.

Aku sedang duduk dikasur, memperhatikan laptop yang tengah booting. Mungkin sebaiknya aku tidak menghubungi Artemis dulu, kalau dia tanya "mengapa kau tak segera menghubungiku, Hero?" aku harus jawab apa?

Suara teriakan dari ruang pintu depan menghentikan segala aktivitas fikiran dikepalaku. Reflek aku berlari turun menuju ruang tamu keluarga Kim. Kakek dan antek-anteknya ada disana, mengerumuni seorang wanita yang sudah pasti ibuku yang menjerit tadi. Perasaan tidak enak menyelimutiku. Ada apa?

Aku mendekati kerumunan untuk mengetahui sumber masalah yang ada disana. Reflek aku memeluk ibuku, berusaha menenangkan badannya yang lemas akibat paket yang baru saja ia buka. Aku melihatnya. Paket itu berisi bangkai burung gagak dan kain putih yang bertuliskan 'MATI!' berwarna merah darah. Kepalaku rasanya berdenyut nyeri melihat tulisan itu.

"Singkirkan paket ini!" titahku yang langsung dikerjakan oleh Paman Yamada. Aku membawa ibuku ke kamar dan segera ada beberapa orang istri dari pengikut klan Yakuza kakek yang menemani beliau. Aku memutuskan untuk bicara dengan kakek. Tindakan kriminal ini harus dilaporkan ke pihak berwajib.

Kakek tengah duduk diruang keluarga Kim, sepertinya ia sedang berfikir keras.

"Ada yang mengincarmu.." tanpa diberi aba-aba kakek membuka pembicaraan denganku.

"Kalau begitu lapor polisi" bicara soal urusan Yakuza tidak akan pernah berhasil dengan kakek. Sebentar lagi mungkin ia akan membantah.

"Kau sedang tidak aman, sebaiknya kau jangan kesekolah dulu.."

"Kek, ini perbuatan kriminal.. Kenapa jadi aku yang tidak boleh kesekolah? Harusnya rumah ini yang diamankan oleh polisi"

"Ini bukan urusan polisi Jae,"

"Lalu urusan siapa? Urusanku? Aku sudah bilang kek, aku tidak peduli dengan urusan Yakuza-Yakuzaan milik kakek.. Kenapa sih kakek tidak pernah memberikanku pilihan?"

"Kakek memberikanmu pilihan, kau ingin jadi anggota penerus Clan atau jadi ketua Clan"

Aku menghela nafas panjang, kakek memang perlu diakui daya juangnya.

"Siapa pun orang yang ada dibalik semua ini, tahu kalau kau seorang ketua Yakuza.. ia ingin menyingkirkanmu untuk merebut daerah kekuasaan milik keluarga Kim yang telah dijaga berpuluh-puluh tahun"

Diam adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Berdebat dengan kakek tidak akan menghasilkan apapun selain kepalaku yang makin mau pecah.

"Siapa saja yang tahu kalau kau Yakuza?"

"Yoochun, Junsu"

"Selain mereka berdua,"

Aku terdiam, tidak mungkin.. "Tidak ada" Jawabku singkat.

Kakek memandangiku dengan pandangan tidak percaya. Terkadang aku memang merasa kakekku yang satu ini memang agak sedikit sakti, mudah-mudahan saja ia tidak tahu apa yg aku sembunyikan.

"la-lagipula.. apa tidak ada cara lain untuk menyelesaikan ini semua? Tidak bisakah sesama Yakuza saling menghargai?"

"Ada.."

"Kalau begitu kenapa harus repot bermusuhan?" ucapku pelan.

"Kau terbunuh, atau kau jadi ketua Clan ini dan menghabisi mereka sehingga mereka mau berdamai"

Benar benar capek!

END OF POV

.

.

.

Matahari merangkak naik, tetesan embun hanya dapat dirasa masih membasahi rerumputan. Hanya menunggu waktu sampai ia benar-benar menguap pergi. Malam terasa begitu cepat dengan berbagai insiden dan pembicaraan yang rumit. Tuan Muda Jaejoong terbangun dengan sebuah lingkaran hitam menghiasi kelopak matanya. Sudah sebulan lebih kebiasaannya tidak kambuh lagi. Bukannya merindukan, hanya saja Jaejoong masih agak tidak percaya kebiasaan aneh itu hilang secara tiba-tiba sesuai dengan datangnya.

Seperti biasa ia bangun pagi untuk menyiapkan bekal untuknya dan untuk Yunho. Jaejoong tahu, ia dan Yunho menjadi semakin intens bertemu disekolah, menghabiskan waktu istirahat dan makan siang bersama. Bahkan beredar gosip bahwa mereka berdua pacaran.

-flasback-

Bel tanda istirahat makan siang berbunyi. Beberapa anak yang sudah cukup keroncongan langsung menghambur keluar seakan bel adalah panggilan kebebasan bagi mereka. Lain halnya dengan Tuan Muda kita Kim Jaejoong yang masih sibuk menyalin catatan dipapan tulis. Beberapa menit lalu ia tertidur dengan lelapnya sehingga lupa mencatat apa yang dikatakan gurunya.

"Jaejoongie~" panggil Yunho yang duduk persis didepannya. Entah sejak kapan kursi didepan Jaejoong sudah diambil alih hak kekuasaannya oleh pemuda itu.

"Hmm?" Jaejoong merespon tanpa mengalihkan perhatiannya pada papan tulis.

"Aku lapar~"

"Makan"

"Ke kantin yuk~"

"Aku sedang sibuk,"

"Nanti kau pinjam catatanku saja~"

Jaejoong berhenti dan memandang pria didepannya dengan pandangan hambar. "Aku bawa bekal"

Yunho menghela nafas kalah, "oke oke" tak lama ia pun melenggang pergi meninggalkan kursinya dan Jaejoong yang masih meneruskan menulis catatannya.

Ketika semua catatan menyebalkan itu selesai, Jaejoong melihat sekelilingnya yang sudah hampir bersih keluar kelas. Ia pun mengeluarkan kotak bekalnya, pertama kalinya ia membuat bekal untuk dirinya sendiri. Jaejoong menghela nafas, kali ini ia harus bisa bersabar demi sebuah benda yang ingin dibelinya. Jaejoongie! Fighting!

Baru ketika Jaejoong membuka bekalnya, seorang sosok familiar masuk kedalam kelas. Siapa lagi kalau tidak lain dan tidak bukan si pembuat onar (hati Jaejoong) Jung Yunho. Sebuah sandwich dan jus melekat ditangannya. Tanpa ragu ia menghampiri Jaejoong yang baru saja ingin menyuap makananya, sebuah susu cokelat ditaruhnya diatas meja Jaejoong. Jaejoong memandangi Yunho dengan sebuah tanda tanya tergambar jelas diatas kepalanya.

"Kebetulan tadi aku salah pencet jadinya keluarnya itu.." ucap Yunho menjawab pertanyaan yang belum sempat diluncurkan Jaejoong lewat lisannya. Pria cantik itu tersenyum dan mengangguk. Yunho tersenyum kecil sambil memakan rotinya. Mereka berdua pun makan bersama, pembicaraan kecil pun mulai dimulai.

"yak! Yunho mulai lapar~" goda Jaejoong saat melihat roti yang beberapa puluh detik lalu masih utuh ditangan Yunho mulai menghilang. Yunho hanya nyengir kuda disamping remahan roti yang masih menempel di pipinya. Jaejoong tersenyum dan reflek membersihkan remah roti yang ada di wajah Yunho.

Mata mereka berdua bertemu, dan Jaejoong sadar akan perbuatan yang ia lakukan. Seperti terkena bubuk paralyzed, waktu disekitar mereka seakan berhenti. Memperjelas setiap tindakan Jaejoong, mulai saat kulit mereka bertemu sampai akhirnya mengusap wajahnya dengan lembut. Jaejoong yakin telah melakukannya dengan cepat dan berusaha untuk tidak terlihat memancarkan gelombang-gelombang yang dapat diartikan oleh Yunho.

Yunho yang kaget atas tindakan reflek yang dilakukan oleh Jaejoong hanya mampu mencerna dengan perlahan kejadian yang begitu cepat terjadi. Suasana pun menjadi canggung sampai perut Yunho mengeluarkan bunyi-bunyian aneh. Jaejoong yang sedang makan sampai tersedak mendengar suara 'kriuk' dari perut Yunho.

"Kau masih lapar? dasar orang daerah.. makanya jangan sok-sok'an makan roti.." ejek Jaejoong puas.

Yunho hanya bisa menggaruk kepalanya yang bahkan tidak terasa gatal.

Jaejoong menyodorkan bekal makan siangnya yang tinggal separuh, "Aku sudah kenyang.." ucapnya.

"Kau yakin? Ini kan masih banyak.." tanya Yunho

"Sudah jangan banyak tanya, kau mau aku berubah fikiran?" ancam Jaejoong yang langsung ditanggapi dengan cepat oleh Yunho. Jaejoong tersenyum, "Maaf ya kalau rasanya agak aneh, Umma tak sempat buatkan aku bekal.."

"Serius? Ini buatanmu? Wah ini enak sekali Jaejoong-ah! Super duper enak! Dirumahku tak ada yang bisa masak seperti ini.." ucap Yunho disela-sela kunyahannya.

Jaejoong tersenyum lembut, begitukah? Batin Jaejoong.

"Kalau makan makanan seperti ini setiap hari aku bisa gemuk mendadak, wah.. kau benar-benar hebat Jaejoongie, aku jadi ingin menjadikanmu istriku"

Istri?! Entah kenapa kata-kata itu begitu sensitif di telinga Jaejoong apalagi Yunho yang mengatakannya. Seluruh aliran darahnya mungkin kini berpindah dari seluruh badan ke wajahnya. Untung saja Yunho sedang sibuk makan dan tidak memperhatikan wajahnya yang sudah bersemu dari tadi.

"Ka-kalau kau mau, aku bisa membuatkanmu bekal juga Yunho-ah" tawar Jaejoong dengan suara rendah.

"Benarkah?" tanya Yunho selesai menaruh kotak bekal Jaejoong yang sudah bersih.

Jaejoong mengangguk, "Daripada kau beli makanan instan, tak baik juga untuk kesehatan" ucapnya mencari alasan pendukung tindakannya.

Yunho tersenyum jahil, "Nanti nasinya dicetak bentuk hati ya? Telur dadarnya juga, lalu ditengahnya ada tulisan 'selamat makan Jung Yunho tersayaang~'"

"Lupakan! Aku tak akan jadi membawakanmu bekal!"

-END OF FLASHBACK-

Dan disinilah Tuan Muda kita Kim Jaejoong, terbangun lebih awal hanya untuk membuatkan dua buah bekal yang sudah berapa hari berlalu sejak kejadian itu, namun perasaan senang akan sebuah pujian yang dilontarkan Yunho masih lekat terngiang di benaknya. Bagaimana pun memasak adalah hobi paling normal yang akan dijalaninya dibanding menjadi ketua Clan dan mebantu kakek untuk berkelahi setiap hari. Memiliki banyak musuh membuat Jaejoong merinding, bukan karena takut. Hanya saja memiliki banyak musuh akan menjadi sangat melelahkan. Ia tidak mau tenaganya habis sia-sia untuk itu.

.

.

.

Jaejoong menatap lesu bangku kosong yang ada didepannya. Sebuah tas hitam terduduk menggantikan pemiliknya yang entah tengah membolos kemana. Ada yang tidak beres dengan Yunho hari ini, dan Jaejoong tau itu. Tidak biasanya seorang Yunho membolos, bahkan sampai istirahat siang berlangsung ia masih belum juga kembali. Ada apa dengan Yunho? Kenapa ia tidak juga kembali? Bagaimana nasib kotak bekal yang sudah Jaejoong buat untuknya dengan sepernuh hati?

Jaejoong menghela nafas, entah sudah berapa kali ia menghela nafas hari ini.

"Kau kenapa Jae?" tanya Yoochun yang tiba-tiba menghampiri Jaejoong

"Aku sedang tidak mood bicara.." keluh Jaejoong memendam wajahnya dibalik tangannya yang menyilang diatas meja.

Yoochun tersenyum mengerti akan sikap yang ditunjukkan Jaejoong, "Kalau kau khawatir, kenapa tidak coba meneleponnya saja?"

Inspirasi memang hadir dimana-mana. Namun kali ini perkataan Yoochun mengusir awan kelabu yang ada dikepala Jaejoong. Tidak terpikir sama sekali olehnya untuk menelepon Yunho.

"Thanks Yoochun!"

"Sama-sama, senang bisa membantu teman yang sedang jatuh cinta.." goda Yoochun yang langsung melenggang pergi dari kelas sebelum Jaejoong melemparnya dengan sepatu.

"YAH!" Sungut Jaejoong, "Aku tidak sedang jatuh cin.. ta" lanjutnya lagi pelan. Dia tidak sedang jatuh cinta, Cuma hanya sedikit khawatir. Wajar jika seorang teman mengkhawatirkan temannya sendiri, apalagi ia seorang teman dekat.

Jaejoong membuka ponselnya hanya untuk teringat bahwa ia tak memiliki nomor telepon Yunho sama sekali. Jaejoong kembali lesu, berteman dengan Yunho dalam waktu beberapa bulan membuatnya lupa untuk menanyakan nomor handphonenya. Apalagi Yunho menghabiskan hampir dari 80% waktu disekolah dan pulang sekolahnya bersama Jaejoong. Telepon dan SMS bukan sebuah hal yang penting lagi jika kau sudah menghabiskan seharian penuh bersama.

Suasana kelas yang semakin hening dan panas, membuat Jaejoong keluar dari kelas untuk mencari angin sejuk. Fikirannya masih sibuk mengelana ke tempat Yunho berada. Beberapa detik kemudian Jaejoong menyadari sesuatu, sejak pagi ia hanya memikirkan Yunho. Bayangan pria bermata musang itu sulit sekali dihapus dari fikirannya, siapa juga Jung Yunho yang berani-beraninya membuat dia khawatir seperti sekarang ini? Jaejoong menggeleng, ia tidak khawatir, ia hanya sebal terhadap tingkah laku Yunho yang seenaknya, pergi tanpa bilang padahal Jaejoong sudah memasakan bekal untuknya. Bukannya ingin pujian, namun Jaejoong bingung siapa yang akan menghabiskan bekal makanan itu kalau tidak Yunho? Padahal Jaejoong sudah sengaja memasakan makanan kesukaan miliknya. Namun apakah tujuan dari ini semua? Mendapat pujian atau sesuatu yang lain?

Memikirkan semua itu membuat Jaejoong mengalami komplikasi penyakit yang datang begitu saja. Kepala berdenyut, jantung berdebar dan perut mulas serta mual. Mungkin bertemu dengan Yunho memang menjadi obat terbaiknya. Yunho bagaikan sebuah narkoba yang sudah menjerat Jaejoong hidup didalamnya. Sekarang pemuda itu tiba-tiba menghilang, membuat Jaejoong sakau kalang kabut dibuatnya.

Jaejoong mengacak-acak rambutnya, frustasi. Sepertinya baru saja ia melihat bayangan Yunho berjalan di pinggir lapangan. Sebegitu inginnya kah dirinya bertemu Yunho?! Jaejoong mengucek matanya memastikan matanya tidak memainkan trick padanya. Itu benar Yunho, yang berjalan dipinggir lapangan itu memang Yunho. Dengan otomatis tubuh Jaejoong bergerak dengan sendirinya menghampiri sosok yang dikenalnya itu. Banyak pertanyaan yang tidak akan sungkan-sungkan ia tanyakan kepada flower boy itu.

"Yunho!"

Yunho menoleh mendengar namanya dipanggil. Sosok Jaejoong yang terengah merupakan pemandangan yang jarang terjadi. Ia tersenyum, Jaejoong membalas senyumannya dan berjalan mendekatinya.

"Ehm.. Hai?" ucap Yunho bingung harus memulai apa.

Jaejoong menjitak kepala Yunho, cukup keras. "Bu-" Jaejoong tak sempat menyelesaikan pembicaraannya karena Yunho menarik tubuhnya secara tiba-tiba. Alhasil, Jaejoong jatuh bebas dalam pelukan Yunho.

"YAH!" komplain Jaejoong tidak mau terlihat menikmati. Yunho sukses membuat jantungnya 'olahraga' dengan tindakannya yang instan itu.

Yunho tak bergeming, pandangannya terfokus pada satu sudut. Jaejoong mengikuti kemana arah pandangan Yunho berakhir, matanya terbelalak. Sebuah panah tertancap pada dinding tempat ia berdiri beberapa detik lalu. Dilihat dari letaknya, pemanah itu jelas mengincar kepala Jaejoong. Jika saja, Yunho tak menariknya tadi, mungkin Jaejoong sudah tinggal nama.

Tak banyak bicara, Yunho kembali pergi meninggalkan Jaejoong yang masih shock dengan kejadian beberapa menit lalu. Jaejoong pun hanya membiarkan punggung sahabatnya itu menjauh. Beberapa murid mulai berkerumun melihat apa yang sebenarnya terjadi, menanyakan Jaejoong apakah ia baik-baik saja. Jaejoong tak menjawab apa-apa, bingung. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah ini masih bersangkutan atas peristiwa tadi malam? Jadi benar apa yang dikatakan kakek? Lalu, Yunho?

-TBC-

Bersambung sampai tanggal 20 Jan

Mau keluar kota dulu nih cari inspirasi hehhe

doakan aku yaa ^^9

Thanks buat semua yang udah baca {}