Sebenarnya apa yang terjadi?

Apakah ini masih bersangkutan atas peristiwa tadi malam?

Jadi benar apa yang dikatakan kakek?

Lalu,

Yunho?

X-Change

By : shinsungrin

Main Cast : Yunjae, Yoosu, OC

Genre : Romance

Terinspirasi dari sebuah komik "W Change" karya Matsuba Hiro

Cahaya matahari berpendar muram, tanda bahwa ia sudah mulai lelah menjalani hari ini. Dingin perlahan turun menyapu panas dari semua insan yang tengah berjuang mencari penghidupan. Waktu takkan menunggu bagi siapa saja yang berdiam diri. Pergerakan mengisi setiap ruas jalan di kota Tokyo yang sibuk. Ramai celotehan yang mengisi setiap ruang dalam bus sekolah yang mengantar Jaejoong pulang pun seolah berubah menjadi keheningan ala film horor. Fikirannya sibuk memikirkan kejadian tadi siang yang terus berulang dikepalanya layaknya kaset kusut. Pertanyaan demi pertanyaan muncul tanpa ada suatu jalan keluar yang pasti. Jaejoong seakan berjalan pada sebuah lingkaran yang akan berujung pada sebuah kata tanya 'apa?' lalu kemudian berubah menjadi "siapa" "kenapa" dan "bagaimana". Hal tersebut benar-benar membunuh waktunya dan membuatnya depresi.

Tak terasa Jaejoong sudah sampai dihalte tempatnya berhenti, ia berjalan keluar dari bus sekolah dan kembali menyusuri perjalanannya menuju rumah. Benaknya masih menduga kemungkinan yang tidak mungkin. Akar permasalahan dari semua ini adalah dirinya. Dirinya yang diketahui sebagai ketua Clan Yakuza. Jaejoong tidak mau mengakuinya, namun dilihat dari sudut pandang mana pun ia merupakan suksesor Clan Keluarga Kim. Ia menghela nafas panjang. Yoochun? Tidak mungkin, jika ia mau sudah dari dulu Yoochun membunuhnya. Tidak usah menyuruh pemana, Yoochun sendiri tahu kemampuan Jaejoong seperti apa. Sangat mudah baginya untuk membunuh Jaejoong dimana pun kapan pun. Junsu? Untuk apa Junsu membunuhnya? Mereka sama sama keluarga Kim. Jika Junsu ingin menjadi kepala Clan, kakek tak perlu membujuknya setiap kali ada kesempatan. Ia dan Junsu sama-sama tidak tertarik dengan kekuasaan. Dapat menyusup ke dalam zona Kim dan Park tanpa terendus niat jahatnya merupakan pekerjaan hebat. Kakek dan ayah Yoochun memiliki banyak informan diseluruh penjuru negeri. Tindakan kriminal yang dapat membahayakan nyawa keluarga Kim dan Park selalu bisa diredam sebelum terjadi. Namun kali ini lain, mereka pasti berhadapan dengan orang yang luar biasa 'licin'. Jaejoong pun tidak dapat menganggap remeh kejadian akhir-akhir ini. Nyawanya benar-benar terancam, beruntung hari ini ia bisa lolos dari maut.

Jaejoong memijat keningnya. Rileks. Hanya itu yang Jaejoong butuhkan saat ini. Pemandangan disekitarnya cukup membantu. Hamparan padang rumput dan suara aliran sungai cukup menjadi obat bagi fikirannya yang tegang. Jaejoong menghela nafas, dengan begitu ia bisa bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan yang diberikan kepadanya hari ini. Ketika sedang mengistirahatkan fikirannya sejenak, Jaejoong menangkap sebuah pemandangan yang tidak sesuai. Seseorang sedang dipukuli. Kejadian seperti ini memang sudah sering ia temui. Awalnya ia mengira itu hanyalah segerombolan preman setempat yang tengah memeras seseorang yang sedang sial. Namun, sebuah teriakan 'Junsu!' membuat tubuhnya terpaku.

Kerumunan mulai memecah, memberi gambaran pada Jaejoong bahwa tidak hanya satu orang yang tengah dipukuli disana. Beberapa orang preman menyeret sebuah tubuh kedalam mobil yang memang sudah menunggu mereka dan dua orang lagi masih melancarkan serangan terakhirnya kepada pemuda yang sudah tidak menunjukkan pergerakkannya lagi. Jaejoong mengamati pemuda yang tengah tidak sadarkan diri itu dari tempatnya berada dan menyadari bahwa seragam yang dikenakan pemuda itu sama dengan seragam yang dikenakannya saat ini. Tanpa fikir panjang Jaejoong berlari menuju tempat kejadian, sementara mobil yang ditumpangi para preman itu pergi menjauh.

Jaejoong mengutuk pelan, pemuda yang tengah tak sadarkan diri itu memang Junsu temannya dan preman yang menghajarnya itu pasti yakuza-yakuza yang mengincarnya. Keadaan Junsu benar-benar parah, wajahnya dipenuhi luka memar dan darah, seragam sekolahnya yang putih sudah dihiasi noda tanah dan darah. Jaejoong membalikkan tubuh Junsu untuk dapat melihat luka disekitar tubuhnya. Tidak ditemukan luka akibat benda tajam atau senjata api. Walaupun begitu, Jaejoong tidak bisa tinggal diam. Orang-orang Yakuza ini benar-benar ingin melihatnya menderita lahir dan batin.

Jaejoong mengeluarkan ponsel dari sakunya,

"Kakek akan menuju tempatmu.." sebelum Jaejoong mampu berkata-kata kakeknya seperti sudah lebih dulu mengetahui peristiwa yang terjadi.

Jaejoong menghela nafas, "Pastikan kakek membawa ambulan"

"Jangan pergi dari sana, terlalu berbahaya.. Kau tidak tahu siapa yang tengah kau hadapi"

"Aku tahu siapa yang aku hadapi, Kek" geram Jaejoong. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun, jika memang orang ini ingin 'bermain' dengannya, Jaejoong akan mengikutinya. Membuat orang-orang yang dicintainya seperti ini merupakan kejahatan yang tidak dapat diampuni. Jaejoong harus membalas itu semua.

"Jangan bertindak ceroboh-" peringatan kakeknya sudah tidak digubris oleh Jaejoong. Sambungan telepon sengaja diputus olehnya. Jaejoong mengeluarkan sapu tangannya, kemudian membersihkan luka Junsu dari kotoran yang mengotori wajahnya.

Junsu tidak sendirian, ia bersama seseorang saat peristiwa pemukulan ini terjadi. Jika firasat Jaejoong benar, orang yang diseret dan dibawa ke dalam mobil itu adalah Yoochun. Pelaku dari semua kejadian ini bukanlah orang dalam keluarga Kim ataupun keluarga Park. Ada keluarga Yakuza lain yang sama kuat dengan kedua keluarganya. Oleh karena itu, mereka tidak melancarkan serangan kepada keluarga Kim bertahun-tahun lalu ketika Jaejoong masih kecil. Mereka menunggu kesempatan yang tepat untuk menyerang atau keluarga itu baru saja tiba di Jepang dan ingin merebut wilayah kekuasaan milik kakeknya. Jaejoong menggeleng, pertanyaan kembali menghantuinya.

Ketika Jaejoong sudah menyimpulkan semua kejadian yang sudah dialaminya, handphone bergetar. Ia melihat ID penelponnya yang disembunyikan. Siapa pun yang menelponnya saat ini pasti mengetahui keadaan yang tengah ia alami.

"Halo" angkat Jaejoong.

"Aha! Tuan Muda Kim Jaejoong"

"Siapa kau?"

"Wah wah wah.. bukankah sangat tidak sopan menanyakan seseorang dengan nada yang tidak ramah?"

Jaejoong naik pitam, "Simpan ocehanmu, apa yang kau inginkan?"

"Huhuhu sangat to the point"

Jaejoong diam, giginya bergemeletuk menahan semua amarah yang ingin dia lampiaskan kepada orang yang menyebabkan semua masalah ini terjadi.

"Bagaimana kalau kita berbincang-bincang santai sambil minum teh, mungkin?"

"Itu pun jika kau tidak mau nyawa temanmu Park berakhir ditanganku.." lanjutnya.

Jaejoong terbelalak, jadi benar orang yang dibawa ke mobil adalah Yoochun. Ini sudah pasti jebakan dengan Yoochun sebagai umpannya. Jaejoong tahu dengan siapa ia bermain, keluarga Yakuza tidak akan berbelas kasih dengan siapa Jaejoong menuruti permintaannya, kemungkinan Yoochun akan dibunuh tidak akan hilang.

"Bunuhlah dia jika kau mau, aku tidak peduli" ucap Jaejoong dingin.

Orang itu tertawa, "Kejam sekali Tuan Muda Kim Jaejoong ini, sebagai hadiah dariku temanmu Park tidak akan sendirian"

"Apa maksudmu?"

"Hmm.. Kurasa temanmu Jung Yunho akan menemaninya.."

'Yunho?!' batin Jaejoong. Mendengar nama itu disebut jantungnya seakan berhenti berdetak. Mengapa mereka melibatkan Yunho? Apakah mereka tahu sejauh itu mengenai kehidupannya? "Dimana Yunho?"

"Huhuhu tidak sabar rupanya.. Sebentar lagi akan ada mobil yang menjemputmu, pastikan kau naik jika menginginkan jawaban.. Senang berkenalan denganmu Jaejoong"

Tak lama kemudian sambungan telepon terputus. Sejenak ia terdiam, dia sudah mengambil keputusan dan keputusannya adalah untuk terjebak dalam perangkap si bastard yang baru saja menelponnya. Jaejoong tidak dapat masuk begitu saja tanpa persiapan, walaupun beberapa menit ini tidak akan membantu persiapannya menjadi 50%. Ia butuh strategi yang dapat menyelamatkannya, bisa saja hal ini adalah hal terakhir yang ia lakukan. Jaejoong menghela nafas, kepalanya tertunduk. Sebuah senyuman miris menghiasi wajahnya. Apakah ini benar-benar akan menjadi hari terakhirnya?

Jaejoong mengambil ponselnya dan memeriksa kontak yang ada di phonebook nya.

Maybe this is time for me to say hi and goodbye in the same time

Everything didn't seems very well to me

But you gave me a sweet taste of friendship, eventhough we didn't

meet each other till the end

Thanks for your companion in this 4 years

Hero-Jaejoong

To : Artemis

Entah dari mana semua keberanian Jaejoong terkumpul untuk menghubungi nomor keramat itu. Ia menghela nafas, kemudian kembali mengetik.

Jika aku tidak kembali dalam waktu 2 jam,

JANGAN CARI AKU

Bilang pada Okaa-san aku mencintainya

Aku juga mencintaimu kek

To : Noisy-Grandpa

Benar-benar pesan singkat kematian, Jaejoong kemudian menyelipkan handphonenya ke saku Junsu. Di handphone itu sudah diberikan alat pelacak oleh kakek. Selanjutnya akan menjadi pertarungannya sendiri. Tak lama setelah itu, Jaejoong mendengar suara klakson sebuah mobil sedan hitam yang telah ada didepannya. Jelas itu bukan mobil kakek. Ia meregangkan ototnya dan menghirup udara sore ini. Dengan mantap Jaejoong berjalan menuju mobil itu.

Ia menoleh ke arah Junsu yang masih tergeletak dirumput, 'Please be safe, Junsu'

.

.

.

Sambutan tidak hangat telah diterima Jaejoong sesaat ia menginjakkan kakinya di mobil. Salah satu Yakuza hendak membiusnya, Jaejoong langsung menghentikannya.

"Kau yakin ingin membuatku tidur?" Ancam Jaejoong, berharap kalau paman-paman yang ada disekitar ini tahu kebiasaannya sehabis bangun tidur.

Yakuza tersebut tertawa, "Bukankah kau akan terlihat lebih manis jika kau tertidur?! hahahaha"

"Dia benar, Kim Jaejoong the sleeping dragon.. kau tidak tahu isunya?"

"Ya.. ya! Aku pernah dengar, dia hampir menghabisi nyawa satu Klannya sendiri jika ada yang mengusik tidurnya"

"Bahkan kudengar Tuan Muda pernah hampir dicelakai olehnya.."

Seketika mobil dipenuhi celotehan mengenai julukan Jaejoong yang bahkan empunya baru tahu saat itu juga. 'Sleeping Dragon?' Jaejoong ingin tertawa mendengar julukan norak macam itu. Tapi ia berusaha untuk tetap terlihat berbahaya didepan orang-orang ini.

"Baiklah, untuk kebaikan bersama.. Kami tidak jadi membiusmu, Kim"

Jaejoong bersyukur dalam hati. Hobinya memukuli orang setiap pagi akhirnya berguna untuk hari ini. lagi-lagi keberuntungan berada dipihaknya.

"Namun kami tidak bisa mengambil resiko, kami akan menutup matamu.."

"Pastikan kau jangan tertidur!"

Jaejoong menghela nafas, seraya sebuah kain hitam melilit matanya. Paman-paman disini lucu-lucu juga, mereka begitu ketakutan dengan Kim Jaejoong the Sleeping Dragon. Mungkin perjalanan ketempat musuh tidak akan menjadi seburuk itu. "Ya.. Ya.. Pastikan juga paman-paman mengajakku mengobrol" celetuk Jaejoong.

Seketika suasana hening, Jaejoong menghela nafas. "Kalian tidak mau aku bosan dan tertidur selama perjalanan kan?" tanya Jaejoong

Jaejoong yang tidak mengetahui keadaan sekelilingnya hanya bisa menebak bahwa paman-paman disekitarnya tengah saling adu pandang mencari solusi untuk permasalahan mereka bersama. Padahal belum tentu Jaejoong terbangun menjadi dirinya yang lain, karena akhir-akhir ini ia sudah tidak memiliki masalah dalam tidurnya. Namun Jaejoong tidak perlu memberitahukannya, ia sengaja membiarkan orang-orang disekitarnya berfikir bahwa dia berbahaya. Inilah strategi Kim Jaejoong, the sleeping dragon!

Setelah tidak ada tanggapan, Jaejoong memutuskan untuk berpura-pura menguap "Aku bosan.. bangunkan aku kalau sudah sampai ya! Oyasumi~"

"E-eh.. kau tidak boleh t-tidur!"

"Iya! Kami belom menanyaimu sesuatu.."

Jaejoong tertawa jahil, selamat menikmati perjalanan Tuan Muda Kim Jaejoong~

-TBC-

typo typo typo.. maaf T_T

thanks buat yang udah baca :DDD