VOICE APHRODISIAC: Muse
Romance content gagal. Typo! Beware! BL! ||
MochiDingin
Hanya sebuah 'another version' dari cerita sebelumnya. Intinya ini hanya voice kink saya yang gaje banget. LOL
Yoongi memaksa untuk pulang, walau keadaannya saat itu cukup mabuk. Ia ingat harus menyelesaikan project tugas akhirnya. Masterpiece yang akan ia buat demi meluluskannya tahun ini.
Sialnya, ia harus tampil malam ini sebagai rapper demi pesta sang pemilik night club tempatnya selama ini tampil sebagai Min Suga, padahal ia seharusnya sedang berkutat di rumahnya bersama partitur-partitur miliknya.
Yoongi mencoba menyadarkan dirinya sendiri saat mengendarai mobil hitamnya. Namun naas, jalan licin sehabis hujan itu membuat mobilnya tergelincir dan membuat mobilnya meluncur hingga menabrak pohon bersama Yoongi yang ada di dalamnya.
.
.
.
Kecelakaan itu benar-benar merenggut semuanya. Semua milik seorang Min Yoongi di tahun terakhir masa kuliahnya.
Bukan. Kecelakaan itu memang tidak merenggut nyawa dirinya secara harfiah. Ini lebih kepada semua mimpi dan keinginannya untuk hidup di dunia telah mati bersama rusaknya sistem pendengarannya.
Ya. Mahasiswa jurusan musik Universitas Seoul yang di juluki si Genius Min telah kehilangan indra paling penting baginya.
Mungkin orang lain menganggapnya tak bersyukur karena dilihat dari manapun, Min Yoongi tidaklah tuli. Ia masih bisa mendengar. Namun, kemampuan telinganya tidaklah seperti sebelum si jenius itu mengalami kecelakaan.
Yoongi masihlah bisa berkomunikasi dengan orang lain, namun jika kondisi fisiknya itu sedang tidak bagus, telinganya akan sering sakit diikuti suara berdenging yang membuat kepalanya terasa pecah. Yang lebih parah, telinganya itu bisa saja mengeluarkan darah.
Dokter sudah mewanti-wanti Yoongi untuk menjaga kesehatannya sekaligus menghibdari tempat-tempat ramai yang mengancam sistem pendengarannya. Namun, Yoongi yang frustasi tetap saja bersikeras untuh memaksakan fungsi kerja telinganya.
Persetan. Ia hanya ingin mentelesaikan lagunya dan lulus dari jurusan musik dengan tetap menyandang apresiasi sebagai si jenius Min Yoingi. Alih-alih menyandang gelar si Tuli Beethoven-Min.
Tuan Min sudah meminta Yoongi untuk berhenti dari jurusan musik dan akan memasukkannya ke jurusan bisnis untuk membantunya dalam menjalankan perusahaan keluarga Min. Awalnya pemuda itu mengamuk.
Tentu saja ia marah besar. Musik adalah impian seumur hidupnya. Mimpinya. Alasan kenapa Yoongi masih hidup sampai sekarang adalah karena musik.
Tapi saat melihat sang ibu menangis melihat kekacauan yang ia timbulkan, Yoongi tunduk. Ia akan melakukan apapun yang ayahnya minta dengan syarat, Yoongi akan tinggal di apartemennya sendiri. Pemuda itu sadar diri ia sangat kacau dan temperamental. Yoongi hanya ingin menutupi keadaannya dari sang ibu.
Maka Yoongi memulai dunia barunya sebagai asisten menejer pemasaran di perusahaan Tuan Min sekaligus mengikuti kuliah di jurusan bisnis.
Yoongi melonggarkan dasinya dan melangkah ke koridor sepi diujung lantai tempat ruangannya berada. Lima tahun terlewati dan Yoongi kini telah diangkat menjadi menejer pemasaran dibawah koordinator langsung sang kakak, yang menggantikan Tuan Min sebagai CEO perusahaan.
Yoongi kembali menyandang gelar si jenius di bagian pemasaran dan membuatnya naik pangkat. Kemampuannya bersilat lidah yang terlatih sebagai anggota rapper underground dulu ia gunakan untuk memikat klien perusahaan.
Hidup Yoongi memang tidak buruk hanya saja masih ada kekosongan di sudut hati Min Yoongi.
Yoongi memilih menyandarkan tubuhnya di tembok atap perusahaan Min. Terima kasih kepada sang sahabat, Kim Seokjin yang mendesain taman mini diatas perusahaannya setahun lalu, jadi Yoongi bisa menenangkan pikirannya yang bercabang.
Yoongi mengambil rokoknya yang ketiga untuk hari ini. Beberapa proposal kerjasama yang harus ia periksa ulang memenuhi mejanya. Membaca semua hal itu membuatnya stres dan memulai kebiasaan metokoknya semasa kuliah.
Baru saja Yoongi akan menyalakan rokoknya, Yoongi mendengar sayup-sayup seseorang tengah bernyanyi.
nan ne samsaek goyangi
neol mannareo on
Love me now
Touch me now
Yoongi menjatuhkan rokoknya dan menoleh ke asal suara. Seorang pemuda berambut pirang terlihat berjongkok dan menggunting tanaman liar yang mengganggu di pot bunga hydrangea.
Jantung Yoongi berpacu kencang ketika tangannya yang gemetar menyentuh telinga kirinya. Ini sudah terlalu lama sejak terakhir kali Yoongi mendengar suara seindah ini tanpa menyakiti telinganya. Yoongi bahkan nyaris tak pernah menyentuh piano kesayangannya lagi sejak insiden yang membuatnya kehilangan impiannya itu.
Just let me love you
Just let me love you
ujuga cheoeum saenggyeonasseul ttaebuteo
modeun geon jeonghaejin geoyeosseo
Just let me love you
Yoongi tanpa sadar berjalan mendekati pemuda yang memakai seragam office boy kantornya itu. Pemuda itu terlihat menemukan seekor kucing yang kini ia elus lembut. Sesekali pemuda itu mengecup hidup basah si kucing, mengundang kekeh dari pemuda Min.
Dia manis sekali.
Pemuda itu mendongak terkejut dan sontak melepas si kucing begitu Yoongi memandangnya penasaran. Posisi pemuda itu yang sedang berjongkok membuat tubuh Yoongi terlihat menjulang diatasnya. Pemuda ber-name tag Park Jimin itu terlihat ketakutan saat tahu salah satu atasannya memergokinya sedang bermain dengan kucing liar. Kali ini gaji Jimin pasti di potong.
"Saat jam kerjamu selesai, kau jangan pulang dulu. Aku ingin bicara..."
Yoongi berbalik meninggalkan sang office boy yang kembali dilanda kebingungan pasca perintah sang atasan yang termasuk aneh.
Jimin tahu Min Yoongi si menejer marketing di perusahaan Min memang bukanlah orang yang suka bergaul. Yoongi benar-benar beda dengan sang kakak yang menjabat sebagai CEO di perusahaan itu kecuali marga dan gen pucat keluarga Min. Sisanya Jimin tidak yakin Tuan dan Nyonya Min yang ramah itu punya anak sedingin Min Yoongi.
Tapi Jimin tidak punya hak mengurusi keluarga orang lain sedangkan hidupnya saja tidak ada yang mengurus lagi pasca neneknya di Busan meninggal. Jimin hanya bertahan seorang diri di dunia yang cukup kejam ini karena kedua orang tuanya sudah lama meninggal.
Jimin menatap jam dinding di ruang tunggu yang berada di lantai dimana bagian marketing berada. Ini sudah jam tujuh malam dan Min Yoongi masih berkutat di ruangannya padahal semua staf kantor sudah pulang kecuali beberapa yang lembur dan petugas jaga malam.
Jimin menyentuh perutnya yang keroncongan. Hari ini ia hanya makan roti sisa rapat bagian perencanaan. Keuangannya bulan ini cukup buruk mengingat ia belum membayar uang sewa kamar kontrakannya.
"Kau sudah lama menunggu?"
Jimin terkejut dan langsung mendongak ketika Yoongi sudah ada di depannya. Dasinya sudah ia lepas dan tiga kancing kemejanya sudah ia lepas, menampilkan sekilas dada putih milik salah satu keturunan keluarga Min.
"I-iya, Tuan Yoongi... A-anda ingin membicarakan apa?"
"Ikut aku."
Yoongi berjalan pelan menuju lift diikuti si bocah pirang yang semakin berpikir berat. Sumpah Jimin takut jika ia dipecat dari perusahaan Min. Ia tak akan bisa bertahan jika hanya mengandalkan peerjaannya mengantar susu di pagi hari jika ia dipecat dari perusahaan.
Yoongi menyuruh Jimin memasuki mobilnya dan membawanya ke apartemennya. Yoongi meletakan beberapa makanan yang ia beli ditengah perjalan menuju apartemennya diatas meja.
Yoongi berbalik menatap pemuda pirang yang kini berdiri kaku di depan pintu apartemennya karena terkesima melihat interior ruangan itu.
"Duduk dan makanlah dulu. Aku akan membersihkan diri sebentar."
Yoongi memasuki kamarnya dan menutupnya. Jimin yang sudah sembuh dari rasa kagumnya akan apartemen Yoongi, langsung menyerang bungkusan yang tadi dibawa atasannya. Terserah, Jimin sudah tidak peduli jika nanti bosnya itu akan memecat atau membunuhnya sekalian karena mengacak-acak dapurnya. Jimin sudah kepalang lapar untuk berpikir.
Jimin langsung menyerang beberapa kimbap dan kimchi, beberapa tumisan sayur dan daging juga ia pisahkan untuk Yoongi. Atasannya itu keluar dengan kaos hitam dan celana pendek abu-abu saat Jimin menyerang kimbapnya yang ketiga. Jimin langsung membeku di meja makan dan tak berani menelan makanannya.
Yoongi mendengus menatap bocah pirang yang membeku dengan mulut menggembung berisi makanan.
"Telan makananmu. Tampangmu seperti tupai dengan kacang di mulutnya."
Jimin refleks menelan makanannya. Barusan atasannya itu mencoba bercanda? Ia harus tertawa atau bagaimana?
Yoongi duduk menghadap Jimin dan mulai makan. Jimin tidak berani makan dengan berisik di depan Yoongi. Disamping itu tidaklah sopan, Jimin pernah mendengar jika atasannya itu mempunyai gangguan di telinganya. Katakan saja telinganya jadi cukup sensitif dengan suara bising, mengingat kantor dan apartemennya memiliki lapisan kedap suara.
Jimin memberi catatan hati. Ia tidak boleh melakukan hal-hal bodoh di tempat ini, atau ia akan berakhir sebagai mangsa dari Min Yoongi.
Baru saja Jimin selesai mendoktrin dirinya, ponselnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Lagu dari rapper kesukaannya Agust D mengalun kencang karena Jimin menyetel volumenya ke tingkat maksimal.
Yoongi bersumpah jika dia tidak mati tersedak saat ini, mungkin ia akan mati akibat kepalanya yang terasa mau pecah dan denging kencang ditelinganya.
"MATIKAN BENDA SIALAN ITU!"
Jimin kaget dan meraba saku celananya. Pemuda itu mematikan sambungan telpon dari pemilik kamar kontrakannya yang pasti hanya ingin menagih biaya sewa. Jimin panik melihat atasannya itu meremas sisi kepalanya dengan kuat.
"Tu-tuan!"
Yoongi nyaris jatuh dari kursinya namun Jimin dengan sigap menahan tubuh itu. Yoongi bernapas putus-putus.
"Tuan, apa perlu ke rumah sakit? Tuan Yoongi? Apa anda punya obat pereda sakit? A-aku akan mengambilkannya..."
Yoongi meremas bahu Jimin membuat pemuda itu berhenti mengoceh.
"bernyanyilah... nyanyikan lagu yang tadi siang kau nyanyikan..."
"uh? be-bernyanyi? Ta-tapi Tuanㅡ"
"tolong bernyanyi saja, Park Jimin!"
Yoongi mendesis saat pening dikepalanya tidak kunjung hilang. Jimin meneguk ludahnya dan berdiri tegap. Entah sejak kapan tangannya digenggam kuat oleh sang atasan, membuat kedua pipi si pemuda pirang memerah.
i modeun geon uyeoni anya
geunyang geunyang naye neukkimeuro
Yoong meraba kedua telinga bergantian berusaha melepas alat bantu dengar kecil yang dari tadi tak disadari Jimin, dengan salah satu tangan yang masih menggenggam tangan pemuda itu.
on sesangi eojewan dalla
geunyang geunyang neoye gippeumeuro
Yoongi bernapas pelan dengan punggung tangan Jimin yang ia arahkan dan ia tempelkan di dahinya. Jimin tidak keberatan. Ia hanya ingin membantu atasannya itu. Jujur saja pemuda itu sedikit bingung, namun di lubuk hatinya, Jimin begitu bahagia Min Yoongi membutuhkannya.
Jimin sebenarnya menaruh hari pada sang menejer jenius itu sejak awal Jimin bekerja sebagai office boy.
Saat itu Jimin yang baru diangkat sebagai office boy sedang menyiapkan snack dan minuman rapat. Hanya Yoongi satu-satunya diruangan itu yang mengucapkan terima kasih padanya saat Jimin menaruh botol air di depannya.
Jimin bahkan ingat memekik senang di kamar mandi kantor. Namun Jimin tidak ingin menggantung harapannya terlalu tinggi karena bagaimanapun juga status mereka berbeda jauh.
seolleneun mankeum mani duryeowo
unmyeongi uril jakku jiltuhaeseo
neomankeum nado mani museowo
When you see me
When you touch me
Jimin sedikit mengernyit ketika genggaman tangannya mengurai dan merasakan kulit kenyal lembut dalam sentuhannya. Yoongi seolah tak sadar telah membuat Jimin menyentuh pipinya yang pucat.
Jimin tersenyum. Pemuda pirang itu mulai berani mengelus permukaan wajah sang atasan yang masih duduk didepannya dengan mata terpejam.
Ketika nyanyian Jimin selesai, Yoongi menenggelamkan wajahnya di perut Jimin dan membawa tangan si pemuda pirang memeluk lehernya. Jimin tentu saja bingung dengan wajah memerah malu. Ini seperti adegan romantis drama tengah hari yang ia tonton bersama rekan-rekan sesama office boy dan office girl lain di pantry kantor.
Keheningan menyelimuti apartemen Yoongi beberapa saat sebelum sang pemilik memecah kesunyian.
"suaramu indah..."
"terima kasih, Tuan Yoongi"
Yoongi mendongak menatap pemuda yang lebihmuda dua tahun darinya itu. Yoongi hanya takut bagaimana respon pemuda ini jika ia mengutarakan pertanyaan yang sejak siang tadi ia pikirkan dengan keras.
Jimin menelengkan kepalanya bingung. Bisa ia lihat atasannya itu tengah berpikir keras. Matanya yang sekelam malam terlihat khawatir.
"ada apa Tuan Yoongi? Apa telinga anda masih sakit?"
Yoongi masih menyelami mata kecoklatan milik Jimin. Mata itu biasanya terlihat menakjubkan saat Jimin tertawa disela-sela candaannya dengan staf lain. Dan entah sejak kapan pandangan Yoongi selalu mengikuti keberadaan Jimin di sekitarnya. Hanya saja kali ini Yoongi benar-benar membutuhkan Jimin.
Yoongi menghela napas. Kenapa ia jadi gugup begini bersama Jimin?
Yoongi mengatur napasnya sebelum berkata,
"Jimin, bersediakah kau menjadi Muse-ku?"
민윤기& 박지민
Jimin memandang Yoongi yang berdiri disebelah produser bernama Kim Namjoon. Yoongi terlihat sibuk berdiskusi mengabaikan atensi Jimin yang berada di dalam studio kedap suara.
Ini sudah sebulan ketika Yoongi bertanya pada Jimin apakah pemuda itu bersedia menjadi Muse-nya. Jimin awalnya bingung, namun pandangan mata Yoongi yang tulus memohon padanya membuat pemuda yang kini bersurai merah muda itu mengangguk.
Jimin juga terkejut ketika keesokan harinya Yoongi mengenalkan Jimin pada anggota keluarganya. Nyonya Min langsung memeluk Jimin sambil menangis dan mengelus surainya lembut.
"Jimin, terima kasih karena sudah bertemu dengan Yoongi... Eomma minta tolong jaga Yoongi..."
Nyonya Min memaksa Jimin memanggilnya eomma ketika Yoongi menceritakan latar belakang Jimin dan mengatakan mereka akan tinggal bersama di apartemennya.
Jimin tidak keberatan memanggil Nyonya Min eomma, hanya saja Jimin merasa tidak pantas untuk tinggal bersama Min Yoongi. Jimin sudah berusaha menolak. Ia masih punya kamar kontrakannya, namun Yoongi meyakinkan Jimin jika ia membutuhkan Jimin disampingnya dan dia tak akan membiarkan Muse-nya itu sendirian.
Jimin tentu saja menangis haru. Ia cukup kesepian sejak neneknya meninggal dan kehidupan keras di Seoul terkadang membuatnya lelah. Dan ketika sosok Yoongi menawarkan kehangatan seorang anggota keluarga Min, Jimin rasanya harus banyak-banyak berterima kasih pada Tuhan.
Jimin mulai beradaptasi saat tinggal bersama Yoongi. Min Yoongi bahkan dengan baik hati membayar tunggakan kamar kontrakannya. Sebagai balas budi, Jimin melakukan semua pekerjaan rumah sebelum ia berangkat bekerja padahal Yoongi sudah melarangnya. Jimin bukanlah pembantu di rumahnya. Yoongi juga sudah meminta Jimin untuk berhenti sebagai office boy namun pemuda itu menolak. Ia masuk kesana karena usahanya walau hanya sebagai tamatan sekolah menengah atas, jadi Jimin meminta Yoongi untuk menghargai usahanya itu.
Yoongi mulai melanjutkan masterpiece-nya yang tertunda saat kecelakaan merenggut fungsi sempurna dari pendengarannya. Berkat nyanyian Jimin, Yoongi menemukan gairah hidupnya kembali.
Namun keadaan ternyata tak sebaik yang Yoongi pikir. Jimin berteriak panik ketika melihat Yoongi terjatuh di depan piano miliknya saat sehabis pemuda itu mandi. Yoongi merintih dan memegangi telinganya yang mengalirkan darah. Alat bantu dengar milik Yoongi sudah tergeletak di atas tuts piano.
Yoongi akhirnya dilarikan ke rumah sakit dengan Jimin yang menangis disampingnya. Jimin benar-benar takut melihat Yoongi yang tersiksa seperti itu.
Ternyata Yoongi memaksakan diri mencoba bermain piano tanpa alat bantu dengarnya. Awalnya Yoongi bermain pada nada lembut namun ia merasa masih kurang dan nekat bermain pada nada-nada tinggi hingga membuat telinganya cedera.
Dokter mengatakan Yoongi bisa saja mengembalikan fungsi pendengaranya delapan puluh persen jika ia mengikuti terapi. Namun sudah sejak lama Yoongi mengabaikan saran dokternya karena ia terlalu putus asa.
Jimin membujuk Yoongi dan berakhir dengan pertengkaran hebat. Amarah Yoongi tersulut karena Jimin tanpa sengaja menyinggung keterbatasannya, membuat pemuda pucat itu mendorong keras Jimin hingga jatuh terduduk. Ketakutan Jimin membuat Yoongi terpukul. Ia lupa Jimin adalah orang baru dalam hidupnya. Muse-nya yang tanpa sadar telah memerangkap Yoongi dengan pesonanya.
Maka malam itu sesaat setelah mereka bertengkar, Yoongi memeluk Jimin dan meminta maaf pada akhirnya.
Yoongi tersenyum memandang Jimin yang terlihat cantik dengan rambut gulalinya dari samping Namjoon. Jimin yang mengetahui dirinya telah merenggut atensi Yoongi balas tersenyum dan memasang headphone di telinganya.
"Kau sudah siap Jimin?"
Yoongi bertanya pada Jimin melalui microphone intercom di luar studio.
"Ne, hyung... Ayo kita nyanyikan masterpiece-mu..."
"Jimin..."
Jimin menoleh dan memandang Yoongi dari balik kaca.
Saranghae...
Yoongi mengucapkannya tanpa menekan tombol on pada intercom. Jimin tersenyum hingga mata coklatnya membentuk bulan sabit yang selalu membuat Yoongi berdebar.
Nado hyung...
So far away 나에게도꿈이있다면
날아가는꿈이있다면
Don't fall away 나에게도꿈이있다면
날아가는꿈이있다면
So far away naegedo kkumi itdamyeon
naraganeun kkumi itdamyeon
Don't fall away naegedo kkumi itdamyeon
naraganeun kkumi itdamyeon
So far away if I have a dream
If I have a dream that flies away
Don't fall away if I have a dream
If I have a dream that flies away
Jimin menatap televisi yang menampilkan berita tentang konser tunggalnya di Gocheok Sky Dome di Minggu pagi. Dua tahun setelah rekaman masterpiece Yoongi dengan judul So Far Away, Jimin langsung melejit sebagai penyanyi pendatang baru bersama sang produser jenius Min Yoongi. Jimin bahkan mampu menggelar konser tunggal pertamanya di tempat sekelas Gocheok Sky Dome.
Jimin kini dikenal sebagai soloist yang berada di bawah naungan BigHit ent. bersama produser Min Yoongi dan produser lain sekaligus teman kuliah Yoongi, Kim Namjoon. Kondisi Yoongi yang masih belum bisa dikatakan pulih tidak membuat kejeniusannya berkurang. Setiap lagu-lagu Jimin yang ia produseri selalu all kill di setiap chart musik, seolah mereka memang ditakdirkan untuk saling melengkapi satu sama lain.
Jimin tersenyum dan berjalan ke arah kamar mereka berdua. Pemuda itu mendapati Yoongi masih bergelung dibawah selimut seperti biasa.
"Hyung, bagunlah... bukankah kau ada rapat dengan Namjoon hyung hari ini?"
Yoongi mengerling Jimin dari balik selimut dan memejamkan mata kembali.
"Sebentar lagi, aku masih mengantuk..."
Jimin menggelengkan-gelengkan kepala maklum. Yoongi memang bukanlah morning person dan ia selalu suka tidur larut karena berkutat dengan musiknya setiap malam. Jimin jadi tidak tega namun Namjoon akan marah-marah jika Yoongi malah ketiduran dan melewatkan rapat.
Jimin berjongkok di sebelah tempat tidur dan mengelus pipi pucat Yoongi.
"Ayolah hyung, kau tidak ingin Namjoon hyung menceramahimu lagi kan? Katamu kau benci dia yang cerewet, jadi bangunlah sekarang dan bersiap."
Yoongi berdecak kesal dan menarik Jimin ke balik selimut dengan cepat. Wajah Jimin langsung bertemu dengan dada polos Yoongi yang cukup bidang, membuat pemuda itu memerah malu.
"Aku akan menerima ceramah Namjoon nanti tapi sebelum itu... Kau harus memberiku energi hari ini, Min Jimin..."
Yoongi mencium Jimin dengan kasar hingga membuat pemuda itu mendesah. Jimin juga tak mau kalah dan membalasnya dengan lebih panas, membuat suara desahan mereka bergema di kamar mereka hingga beberapa jam kemudian.
The End
Notes:
Gimana sih caranya bikin adegan romantis hah?! Gimana sih bikin cerita yang feel karakternya tersalurkan tanpa aku lupa feelnya itu kayak apa?! (teriak diatas gunung) Sumpah aku ngerasa ini gak romantis. Terima kasih jika berkenan untuk dibaca...
Kalo emang jelek, hujat aja sudah ini T^T
